Showing posts with label Renungan. Show all posts
Showing posts with label Renungan. Show all posts

Wednesday, January 15, 2020

Bagaimana Jika


Bagaimana jika saya memaksa masuk ke  SMA di luar kota meskipun Ibu melarang?

Bagaimana jika saya menerima tawaran perpanjangan kontrak dari perusahaan tambang dan bukannya memilih melanjutkan skripsi?




Bagaimana jika saya tidak menikah dengan pasangan saya sekarang,  atau bahkan saya memutuskan melajang hingga setidaknya sampai saya telah mengunjungi negara ke 20?

Bagaimana jika saya tidak memenuhi ajakan teman untuk menemani dia tes di bank yang akhirnya menjadi tempat saya bekerja sekarang?

Bagaimana jika saya tidak pernah melahirkan seorang anak pun?

Bagiamana jika saya bilang 'Jawa'  ketika kerususuhan Timor-timur berlangsung dan Ibu bertanya 'Kita mau mengungsi di Jawa atau Manado?'?

Bagaimana jika saya tidak menulis Manado waktu disuruh memilih kota di mana kita ingin ditempatkan setelah mengikuti pelatihan officer di salah satu bank tempat saya bekerja saat ini?

Bagaimana jika saya memutuskan untuk menerima hadiah langsung di Jakarta saat memenangkan kompetisi menulis cerpen Islami dan bukannya meminta adik saya yang mewakili?

Bagaimana jika saya tidak menukar kesempatan untuk pelatihan selling skill dengan teman saya karena belakangan saya agak takut naik pesawat?

Bagaimana jika saya memilih rentetan bagaimana jika di atas tapi tetap tidak merasa bahagia?

Bagaimana jika saya ternyata memutuskan menjalani rentetan bagaimana jika di atas tapi justru berharap dapat menjalani pilihan yang saya buat saat ini?


(gambar dari https://www.aangnovi.com/2018/12/bagaimana-jika-dan-jawabannya.html?m=1) 

Wednesday, January 1, 2020

I am Not Perfect but I am Enough

Gambar dari google


(Bukan kontemplasi apalagi rangkuman prestasi) 

Sebagai ibu yang mengajarkan toilet training yang lumayan terlambat,  membiarkan anak menonton youtube supaya saya bisa leyeh-leyeh,  memberi makan nugget hanya karena cooking is not my thing. Heheh. I am not perfect as a mother but i am enough. 

Terimakasih untuk diri saya sendiri yang masih bisa jadi teman ngobrol dan ketawa suami meski urusan masak lebih jago dia dan sebagai gantinya saya ambil alih tugas membersihkan toilet. Terimakasih karena berhasil melewati tahun-tahun ganjil pernikahan yang penuh drama menguras energi dengan baik.  Terimaksih pak suami untuk tidak melarikan diri dari saya😂. I relize i am not perfect as a wife but i am enough. 

Tetap menulis di sela-sela ke-mager-an dan burn out syndrom kemarin,  tetap gembira ke kantor meski penuh tantangan,  meski hasil dari 2 kegiatan tadi (nulis dan ngantor) tidak maksimal,  terimakasih karena sudah bertahan.  I am not perfect but i think i am enough. 

Terimakasih untuk papa mama handai taulan yang turut mewarnai hari-hari. Selamat tinggal 2019. I survived.😂😂  Semoga 2020 lebih banyak bahagia untuk kita semua. 

Tuesday, December 25, 2018

Tentang Hati Manusia yang Lebih Keras dari Karang



Musibah seolah-olah tak bosan menyapa negri ini.  Gempa Lombok Agustus 2018, gempa,  tsunami dan likuifaksi Palu September 2018 dan yang baru-baru saja terjadi yaitu tsunami di Selat Sunda 22 Desember 2018. Ini belum termasuk tragedi kecelakaan transportasi KM Sinar Bangun yang tenggelam di Danau Toba pada Juni 2018 dan pesawat Lion Air yang jatuh di Karawang pada bulan Oktober 2018.

Seluruh rangkaian peristiwa di atas memakan korban jiwa yang jumlahnya tak sedikit.  Bahkan bencana alam di Palu jumlahnya mencapai 2000-an jiwa.  Apa yang terjadi sebenarnya?  Apa yang coba Sang Penguasa Kehidupan sampaikan kepada kita?

credit


Masing-masing kita sudah seharusnya introspeksi diri. Bukankah ini peringatan dan juga sebuah teguran?  Nyaris tiap bulan ada musibah.  Yang menjadi korban tidak lebih buruk dari kita,  pun kita yang masih hidup belum tentu lebih baik dari mereka. 

Firman Allah: “ Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: “Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi? (Alankabut :2 )

Apakah ini ujian? Jika ya,  maka kita perlu mengecek kembali ke dalam diri.  Apakah kita sudah cukup baik di mata Tuhan?

“Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar, (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan,”Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un.” Mereka itulah yang mendapatkan keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Rabbnya, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk”. [al Baqarah/2:155-157]

Sebagai umat muslim sudah ada petunjuk yang jelas bagaimana menanggapi musibah ini. Mengucapkan innailaihi wa inna ilaihi roji'un,  bersabar,  serta percaya bahwa sesungghnya Allah memberikan cobaan sesuai dengan kesanggupan masing-masing manusia. Allah tidak pernah zalim,  Allah tidak pernah tidak adil.

Ketika terjadi bencana alam,  saya selalu teringat dengan diksi yang entah saya dengar atau saya ketahui dimana yaitu 'bukti hati manusia lebih keras dari karang adalah ketika Tuhan merasa perlu meletuskan gunung dan menggulung samudra hanya untuk menggetarkannya'.

Mungkin kita sudah terlena dengan kehidupan duniawi ataukah kita sudah acap berbuat onar padahal kewajiban kita adalah menjadi khalifah di muka bumi. Menjaga dan melestarikan bumi,  bukan berbuat yang sebaliknya.

Tanpa mengurangi rasa hormat dan duka yang mendalam pada seluruh korban bencana dan kecelakaan yang terjadi,  saya membuat tulisan ini tanpa bermaksud apa-apa melainkan hanya sebagai pengingat untuk saya pribadi dan syukur-syukur jika menjadai perantara introspeksi bagi orang lain.

Bertepatan dengan penghujung tahun,  hendaknya kita dapat menjadikan serangkaian peristiwa di atas bahan evaluasi serta titik awal proses berbenah kita menjadi pribadi yang lebih baik di tahun yang baru nanti,  untuk sesama manusia dan juga lingkungan hidup sebagai wujud bakti dan penghambaan kepada Penguasa Alam Semesta.

Monday, September 3, 2018

Belajar Mensyukuri Hal-hal Kecil

Saya mulai menyadari bahwa untuk bersyukur tak perlu menunggu momentum-momentum besar terjadi dalam hidup kita.  Tak perlu menunggu ketiban rejeki yang banyak.  Ingat,  rejeki sendiri itu tidak mesti berupa materi. 

Rasa syukur bisa mendatangkan kelapangan dan kebahagiaan.  Saya benar-benar mengalaminya. Rasa syukur membuat hati tak sempit,  menghindari iri dan dengki,  mengurangi rasa ingin bersungut-sungut. Rasa syukur menghadirkan atmosfer yang positif. 

Saya belajar mensyukuri hal-hal kecil di bawah ini :

1. Kesehatan

Hal ini adalah yang paling banyak kita abaikan keberadaannya.  Kita baru ngeh setelah diserang penyakit. Pernahkah kita merenungkan kesempatan-kesempatan,  impian-impian dan capaian apa saja yang terlewatkan jika kita tidak sehat?  Kalau saat ini kita masih sehat dan dapat beraktivitas normal,  maka syukurilah sebesar-besarnya. 

Sebuah blog dari hasil browsing-browsing random membuka mata saya tentang betapa penting arti sebuah kesehatan. 

Baca blognya di sini :



2. Pertemanan

Bergabung dalam komunitas,  dalam hal ini komunitas menulis,  memberikan dampak yang signifikan dalam hidup saya.  Dulu,  memiliki sebuah buku adalah impian yang seolah mustahil.  Sekarang,  setelah bergabung dalam beberapa komunitas menulis,  alhmadulillah saya sudah memiliki 9 buku antologi (4 di antaranya dalam proses terbit)  meski baru buku antologi saya benar-benar amaze dengan pencapaian saya.  

Bergabung dalam komunitas membuka bnayak pintu pertemanan sekaligus menyambung silaturrahmi.  Tuhan pun telah menjanjikan adanya rejeki pada tiap-tiap pintu silaturrahmi itu.  Saya benar-benar merasakannya.  Ada-ada saja rejeki yang dikasih dari pertemanan dalam komunitas menulis,  entah itu buku gratis,  sejumlah pulsa karena menang kuis atau give away,  sampai yang berupa uang  dengan nominal yang lumayan karena menang lomba nulis. 

Belum lagi yang tak terhitung manfaatnya seperti sharing dan tips-tips yang diperoleh. 

Baca :

Dalam dunia kerja pertemanan disebut juga jaringan atau link.  Makin banyak jaringan,  terlebih jika kita bekerja dalam bidang marketing,  akan sangat membantu dalam karir kita ke depannya. 

3. Kewarasan

Pernakah berpikir sekali saja bahwa kewarasan yang masih ada pada diri kita ini adalah hal yang sesungguhnya patut kita syukuri? 

Sering kan kita mendengar banyak orang bunuh diri karena depresi,  stres,  ataupun tekanan batin?  Pernahkah membayangkan bagaimana jika Tuhan mencabut kewarasan ini dari diri kita?  Pernahkah membayangkan akan jadi apa kita? Pernah lihat orang gila yang jalan-jalan keliling kompleks tidak jelas atau yang dipasung karena membahayakan?  Barangkali kita juga akan berakhir seperti itu. 

Syukurilah kita masih diberi kewarasan.  Syukurilah kita berada dalam support system yang baik sehingga membuat kewarasan kita tetap terjaga. 

Demikianlah 3 hal yang imateril dan terkesan sepele namun sesungguhnya sangat layak kita syukuri.  Kalau kamu?  Hari ini kamu bersyukur atas hal apa? 

Wednesday, July 26, 2017

Just Quit and Be Happy

Kalau kamu sudah lulus diterima di jurusan IPA, kamu sudah belajar sekeras temanmu belajar, tapi nilai fisika dan matematikamu tetap standar, mungkin kamu tidak cocok di kelas IPA, mungkin kelas IPA tidak cocok bagimu. Mungkin kamu akan sesuai di kelas Bahasa atau seni. Keluarlah, kamu tidak perlu menjalani kehidupan yang orang lain jalani.

1

Jika kamu sudah berpindah jurusan, lebih sedikit hitungan, tapi entah kenapa masih saja ogah-ogahan, keluarlah! Mungkin sistem pendidikan formal tidak cocok bagimu. Kamu tidak perlu menjalani kehidupan seperti yang orang lain jalani. Anak-anak Gen Halilintar tidak mengenyam pendidikan formal. Mereka home schooling dan si sulung mencapai omset 1 Milyar di umur 13 tahun. Kalau kamu? Umur 13 tahun ngapain?

Jika kamu sudah belajar sekuat tenaga sehingga mengorbankan waktu bersantaimu untuk bisa diterima di fakultas kedokteran ternama, lalu kamu gagal ujian dan teman sebangku di SMA yang kamu tahu kapasitas otaknya juga mirip-mirip kamu bisa lolos, beregembiralah, mungkin Teknik Pertambangan lebih cocok bagimu, atau acoounting, atau manajemen Bisnis. Kamu tidak perlu menjadi Dokter untuk berbahagia.

Kalau kamu sudah berada di jurusan yang kamu nyaman di dalamnya. Mata kuliahnya menyenangkan tapi passion mu tidak tersalurkan, emosimu seringkali tertahan, teori-teori dari pakarnya hanya masuk telinga kiri dan lolos di telinga kanan, keluarlah! Mungkin kuliah bukan jalan menuju kesuksesanmu. Mark Zuckerberg, Bill Gates, Hoeda Manis, adalah orang-orang yang memilih drop out dari kuliah dan sukses di bidangnya.


2


Jika kamu sudah lulus kuliah dan penuh percaya diri, melamar di perusahaan ternama dan diterima, lalu bekerja, lalu diberi target, lalu target itu tidak tercapai dan kamu jadi bulan-bulanan, padahal kamu sudah berusahan mati-matian plus lembur semalaman, keluarlah! Barangkali perusahaan itu tidak cocok bagimu, kamu tidak cocok bagi perusahaan itu, jangan menunda untuk berbahagia, kebahagiaanmu bukan bergantung pada perusahaan besar mana tempatmu bekerja sekarang. Mungkin kamu bisa menjadi pemimpin di perusahaan yang lebih kecil, atau kamu berpikir untuk membuka usaha sendiri. Kamu tidak perlu menjalani apa yang orang lain jalani!

Jika kamu sudah berpindah ke perusahaan yang lebih kecil, namun performamu tetap nihil, tidak perlu merasa kerdil, keluarlah! Barangkali bekerja di perusahaan yang mengejar profit bukan bidangmu, barangkali jiwa sosialmu begitu tinggi sehingga mengabdi lebih berarti, atau memulai usaha dan memberdayakan anak-anak jalanan dan warga miskin lebih kau sukai.

Jika kamu tidak betah berlama-lama basa-basi, enggan bersosialisasi macam sosilaita masa kini, namun sangat passionate terhadap tumbuh kembang anakmu, keluarlah! Keluarlah dari apapun yang sedang menghalangimu untuk berbahagia dan sambutlah uluran tangan-tangan kecil yang senantiasa menantimu pulang. Mungkin menjadi Ibu Rumah Tangga adalah yang terbaik bagimu. Tidak perlu ragu dan gentar mendengar celotehan kritikus dadakan yang hanya sibuk mengomentari hidupmu sementara hidupnya sendiri entahlan. Kamu tidak perlu menjalani yang tetanggamu ingin kamu jalani. Bangun pagi, berpakaian necis, ke kantor dengan kendaraan mewah, kembali ke rumah malam dan mengulangi rutinitas yang sama setiap hari.

3

Jika kamu saat ini masih lebih banyak merenung, tidak tahu akan melakukan apa, tidak tahu mau bagaimana menjalani hidup, kembalilah bersekolah! Atau piknik. Mungkin kamu kurang dididik atau kurang piknik. 

Tidak ada yang berhak mengomentari pilihan yang dibuat oleh seseorang. Meminjam istilah Mami Ubii, we are not in their shoes. Siapa kamu berhak mengomentari apa yang menjadi keputusan orang lain ketika kamu tidak berada dalam posisinya, tidak menghadapi apa yang tengah dia hadapi, tidak mengalami apa yang telah dia lalui. Kalau sekedar memberi saran atau pandanganmu terhadap pilihannya, boleh. Tapi ketika kamu mulai menghakimi, hentikanlah!

Deddy Corbuzier dalam reality shownya berkata kurang lebih seperti ini, "Untuk sukses kita tidak harus sekolah. Tapi sekolah adalah salah satu jalan menuju kesuksesan. Namun jika hanya bersekolah dan lantas mengharapkan kesuksesan, itu juga salah besar. Saya tidak memiliki kunci sukses, namun saya memiliki kunci kegagalan, yaitu ketika kita mulai menyerah."


Sumber Gambar :

1. www.pinterest.com
2. www.pinterest.com
3. www.justquitthing.com



Thursday, May 25, 2017

[Bukan] Warisan


Kebetulan saya lahir dari rahim ibu saya yang bukan penulis. Tapi beliau adalah seorang pembaca yang tangguh. Semua buku dibacanya. Termasuk diktat kuliah adik saya ketika dia jalan-jalan ke Bandung mengunjungi putra semata wayangnya itu. Perlu diketahui adik saya mengambil jurusan Teknik Fisika dan dapat dipastikan diktat kuliahnya bukanlah bacaan yang menarik 😁. Tapi demi membunuh waktu menunggu adik saya balik kos, Ibu pun membacanya. Seandainya saja saya lahir dari rahim seorang penulis apakah ada yang menjamin bahwa hari ini saya akan gemar menulis? Saya rasa tidak.

credit


Penulis tidak pernah dilahirkan. Dia diciptakan oleh lingkungan. Saya tumbuh dalam lingkungan keluarga yang sangat gila membaca. Untuk hal tersebut saya dan adik saya rela menyisihkan uang jajan kami demi dapat membeli komik di Gramedia yang harganya lumayan untuk kantong pelajar di masa itu.

Kemudia ketika saya mengetahui ada toko buku bekas di kota saya, maka saya langsung jatuh cinta pada toko tersebut. Pun ketika saya mengetahui ada suatu tempat bernama Kwitang di Jakarta sana yang menjual buku bekas dengan sistem kiloan. Waktu mendapat kesempatan ke Jakarta bersama keluarga, Ibu mengijinkan saya membawa koper kosong. Pulangnya penuh terisi buku bekas dari Kwitang.

Lingkungan inilah yang saya rasa sangat berkontribusi terhadap hobi saya. Saya belum berani menyebut menulis adalah profesi untuk saya, karena saya belum mengerjakannya secara profesional. Saya lebih senang menyebut menulis sebagai hobi, media relaksasi, 'me time'. Saya benar-benar sudah sangat bahagia hanya dengan memikirkan akan menulis sesuatu. Baru pikir saja sudah bikin bahagia loh!

Bapak BJ. Habibie, sepeninggalan istri tercinta menjadi begitu terpuruk. Ia lantas disarankan untuk menulis demi mengobati kesedihannya itu. Lihat apa yang dapat dihasilkan oleh sebuah tulisan dari seseorang yang mencinta? Insspirasi yang tidak berhenti. Tulisan yang kemudian menjadi buku itu menginspirasi begitu banyak orang. Ketika diangkat ke layar lebar, ribuan orang rela mengantri membeli tiket nontonnya. Lihatlah apa yang dapat dilakukan oleh sebuah tulisan ketika perkataan maupun ekspresi tidak cukup mewakili.

Memiliki hobi menulis bukanlah warisan. Jadi siapapun bisa mencoba tanpa perlu takut tidak kebagian warisan. Menjadi penulis tidak diturunkan secara genetis jadi siapapun bisa melakukannya.

Jika pun tidak ingin melakukannya tidak mengapa. Bahagia dapat diperoleh dengan banyak cara. Seperti suami saya yang jangankan bisa menulis, menamatkan satu cerpen saja tidak pernah, tapi sangat bahagia jika berenang atau nonton moto gp. Intinya, jangan menghalangi dirimu untuk berbahagia. 😁😁😁

(Tulisan ini untuk menjawab tantangan menulis dengan tema 'born to be writer')

#OneDayOnePost



Saturday, May 13, 2017

Untuk Rasa Kehilangan Lima Belas Tahun Lagi



Dear, Ahmad. Anak Ibu yang gendut. Ibu akan kehilangan kamu lima belas tahun lagi. Ibu akan kehilangan rasa kesal yang memuncak karena kamu membanting compact powder ibu dan isinya berceceran. Ibu akan kehilangan rasa lelah mengkuti langkah kecilmu yang tak pernah bisa diam.

Terimakasih gitarnya tante-tante yang baik hati.



Sesungguhnya Ibu menulis surat ini untuk menghibur diri Ibu sendiri lima belas tahun lagi saat usiamu tujuh belas dan kamu lebih sering menghabiskan waktu di luar rumah dibanding merecoki Ibu seperti yang biasa kamu lakukan sekarang.

Sesungguhnya Ibu akan merindukan menemani malam-malam melelahkan sepulang Ibu bekerja dan ternyata kamu masih ingin diajak main. Ibu akan sangat sangat merindukan hal itu meskipun saat ini Ibu lebih sering mengeluhkannya.

Masih akan adakah "sayang Ibu dulu baru Ibu kasih" nanti? Masih ada kah "cium kening, hidung dan mata Ibu dulu, baru Ibu buka biskuitnya"? 

Apakah kamu masih akan menyambut Ibu pulang kantor dengan antusias dan minta diputarin video favoritmu di youtube yang menampilkan jingle minuman botol itu? "Ibu, santai aja. Santai aja." Jingle itu kurang lebih seperti ini. 'Stres bikin pusing, bikin kelabakan. Mending dibawa santai aja.' 

Masikah kamu akan meminta Ibu memutar jingle itu saat ada seorang gadis yang lebih menyita perhatianmu? Mungkin kamu akan lebih memilih telponan dengan dia daripada menonton jingle itu bersama Ibu.

Tulisan ini Ibu buat untuk menghibur diri Ibu sendiri di masa lima belas tahun lagi ketika rumah tidak pernah berantakan dan barang-barang tidak perlu diletakkan di rak paling tinggi. 

Ketika itu kamu sudah tumbuh lebih tinggi dibanding Ibu dan tak pernah lagi bilang "Ibu dong..." Minta gendong. Ketika saat itu tiba kamu tidak pernah mungkin merengek minta Ibu bawa kamu jalan-jalan naik mobil-mobilanmu. Kamu tidak akan membuka paksa kelopak mata Ibu ketika kita berbaring di kasur dan Ibu tertidur duluan. "Ibu jangan bobo."

Ketika saat itu tiba Ibu akan merindukan hal-hal melelahkan yang kamu ciptakan saat ini.

Please, Ahmad ijinkan "sayang Ibu dulu" tetap ada, selebihnya tumbuhlah dewasa seperti yang seharusnya terjadi.


Note :
Tulisan ini dibuat untuk memenuhi tantangan One Day One Post dengan tema 'Kehilangan'

Friday, May 6, 2016

Surat Cinta Kartini untuk Yuyun

Jika Kartini masih hidup dan bukan sekedar tokoh fiktif karangan kompeni mungkin dia akan menulis satu bab sendiri surat yang mengisahkan tragedi Yuyun.

Yuyun itu wanita yang sedang menjemput pelita. Bayangkan, dia sedang dalam perjalanan pulang dari sekolah menuntut ilmu. Dihadang kawanan pemuda mabuk tuak yang kemudian bikin nyawa dia melayang.

Tentu saja Kartini akan dirundung sedih teramat sangat sebab satu lilin telah padam sehingga gelap semakin menjauh dari terang. Kasihan anak gadis yang diperjuangakan Kartini ini. Tak usah sekolah saja sekalian. Atau kalau mau sekolah yang home schooling sebab jalananpun telah menjadi antah berantah yang dihuni binatang jalang. 

Sayang, Kartini sudah tak ada sehingga konsep home schooling yang baru belakangan ini mencuat tidak terjangkau akal budinya. Mungkin jika Kartini masih hidup, ia akan menganjurkan para hawa menempuh pendidikan dengan konsep ini. Itu juga syukur-syukur kalau guru yang mengajar paham mana dosa mana pahala. Kalau tak paham bisa berakhir tragis juga seperti Yuyun. Lebih sadis lagi karena diperkosa di rumah sendiri. Namanya juga home schooling.

Mungkin kalau Kartini masih hidup ia akan menambahkan dalam suratnya beberapa detail. Seperti isi surat untuk nyonya Abendon tahun 1901 ini :

"Pergilah, laksanakan cita-citamu. Bekerjalah untuk hari depan. Bekerjalah untuk kebahagiaan beribu-ribu orang yang tertindas. Dibawah hukum yang tidak adil dan paham-paham palsu tentang mana yang baik dan mana yang jahat. Pergi! Pergilah! Berjuang dan menderitalah, tetapi bekerja untuk kepentingan yang abadi”. (Namun ingat jika bepergian beramai-ramailah. Membawa sanak saudara para tetangga agar kau terhindar dari fitnah, tipu muslihat dan ada yang bantu kau pecahkan kepala orang-orang yang isinya cuma nafsu hewani. Nanti jika mereka bermaksud jahat padamu di jalan)

Yang di dalam tanda kurung adalah detail yang kemungkinan akan ditambahkan oleh Kartini dalam suratnya.

Sunday, May 1, 2016

Jangan Pernah Mengkhianati Proses



Niat di awal tahun untuk gencar mengikuti lomba menulis belakangan memudar. Tenggelam dalam rutinitas dunia nyata membuat dunia fiksi mengabur.

Dikejar target mingguan, dihantui target bulanan, dipecut untuk memenuhi target akhir tahun. Bekerja keras. Sangat keras untuk membangun mimpi orang lain. Menjadi budak korporasi. Benar makna sebuah kalimat bijak. Jika kau tidak bekerja untuk membangun mimpi-mimpimu maka orang lain akan mempekerjakanmu untuk membangun mimpi-mimpi mereka.

Mimpi itu masih terpatri jelas dalam ingatan. Tidak hilang tidak pergi. Saya menahannya dengan segenap jiwa karena tahu raga terlalu rapuh untuk itu.

Mimpi itu sederhana. Sesedernaha pena yang menari-nari di atas kertas kosong. Semudah huruf yang berbaris merangkai kata. Kata yang saling sambung membentuk kalimat. Saya rindu tersesat dalam imajinasi.

Namun, apa daya. Imajinasi enggan bersahabat dengan logika. Apalagi logika yang digunakan untuk bekerja dalam dunia nyata. Logika dan imajinasi saya bertengkar hebat. Berebut memenangkan raga saya. Kalau jiwa tak perlu ditanya berpihak pada siapa.

Saya rindu ketika larut malam mata masih menyala. Pikiran mengalirkan ide yang mendesak-desak. Jemari lincah menari di atas keyboard. Sementara besoknya saya harus kembali ke dunia nyata. Ketika itu tak mengapa mata terantuk kantuk sebab rangkaian kata-kata telah menjelma prosa.

Saya telah mengkhianati proses saya. Proses berdamai dengan imajinasi. Namun pengkhianatan ini jenis pengkhianatan yang dapat dimaklumi sehingga mungkin masih termaafkan. Semoga.

Thursday, April 14, 2016

Self Promoting



Mencoba menulis opini. 

Bergabung dengan KBM (Komunitas Bisa Menulis) karena lihat pengumuman Cinta dalam Aksara yang diselenggarakan oleh Asma Nadia beserta Komunitas Bisa Menulis. Bertanya-tanya dalam hati, "komunitas apaan tuh?" Tapi toh tetap digoogling dan join. Untungnya diterima. Mungkin karena akun saya riil dan saya anak baik-baik. Terimakasih admin. 

Beberapa bulan jadi silent reader lalu berani posting suatu tulisan yang entah apa. Puisi bukan, prosa tidak juga. Iya, itu tepat ketika gerhana matahari.

Belakangan baru tahu komunitas ini pendirinya adalah Asma Nadia dan Isa Alamsyah. Kemana saja saya ya? Di komunitas ini juga saya bertemu dengan komunitas lain bernama One Day One Post yang digagas Bang Syaiha. Komunitas yang tidak kalah hebat, yang 'memaksa'' saya menulis setiap hari.

Belakangan, ketika membuka page KBM, ada beberapa postingan yang saling berbalas mengenai pentingnya self promoting dalam dunia kepenulisan. Apakah itu penting? Tentu saja! Tulisan yang sedang Anda baca saat ini juga bagian dari itu!

Saya ikut pula berkompetisi dalam lomba aksara terbesar se KBM raya yang diadakan Asma Nadia. Dag dig dug juga menanti pengumuman lomba. Pas pengumuman ke 4 nama saya tak kunjung muncul, namun Alhamdulillah judul tulisan saya ada. Artinya saya bukan termasuk ke dalam golongan orang-orang yang karyanya akan masuk dalam antologi "Cinta Laki-Laki Biasa" disandingkan dengan karya Asma Nadia yang akan difilmkan pula akhir tahun nanti. Wah!

Iri sama yang terpilih? Tentu saja lah! Merasa karyamu lebih baik? Iyalah, pastinya! Setiap orang akan merasa demikian. Lalu saya melihat kembali nama-nama yang lolos dan saya mulai manggut-manggut. Belum cukup, saya googling satu-satu pula nama-nama mereka lalu kemudian kembali manggut-manggut. Mereka sudah punya nama, mereka sudah menghasilkan banyak karya. Ibarat standardisasi ISO, mereka sudah lulus uji kelayakan EYD. Hampir dipastikan minim kesalahan dalam penulisan. Lalu isi cerita tidak perlulah dipertanyakan, mesin Google saja gampang menampilkan nama-nama mereka. Karya-karyanya sudah terbukti laku di pasaran

Kata pak Isa Alamsyah dari suatu video, penerbit juga melakukan bisnis, penerbit juga mencari profit. Jadi saya menanyakan kepada diri saya sendiri kira-kira akan lebih laku mana, antologi cerpen Asma Nadia yang disandingkan dengan nama saya ataukah dengan nama-nama yang di atas. Tidak perlu dijawab. Saya sudah tahu jawabannya.

Jadi mungkin salah satu kelemahan saya adalah saya belum punya nama, saya belum punya branding, belum ada yang mengenal saya sebagai seorang penulis. Maka dari itu pulalah saya sudah cukup puas ketika karha saya masuk kriteria kedua 'yang naskahnya layak, namun perlu perbaikan di sana-sini' saya anggap perbaikan di 'sana-sini'' juga termasuk meningkatkan nilai 'jual'' saya di pasaran. 

Oke baiklah!

Mulai sekarang mari kita bantu penerbit dengan meningkatkan nilai 'jual' kita. Berikutnya, orang lain sudah yakin dengan tulisan kita hanya dengan membaca nama, tak perlulah sampai paragraf awal. Semoga. :)

Tuesday, April 5, 2016

Say No To Comfort Zone


Pernah merasakan sangat nyaman berada pada suatu kondisi? Perasaan tentram yang cenderung kepada rasa malas? Biasanya, jika melakukan kegiatan yang sama berulang-ulang dalam jangka waktu yang lama kita cenderung merasa nyaman karena telah terbiasa. Itulah yang kemudian dikenal dengan istilah beken "Comfort Zone".

Gambar dari Google



Sebelum berbicara lebih jauh tentang mengapa comfort zone ini sebaiknya dihindari, mari saya beri sedikit analogi. Tidak ada air yang jernih dalam genangan. Tidak ada udara yang segar dalam ruang tertutup. Air yang jernih didapat dari aliran, udara yang bersih didapat dari sirkulasi. Semoga sudah paham ya analoginya. 

Nah, sekarang kita kembali ke comfort zone. Sebagian besar orang merasa betah berlama-lama pada comfort zone. Tidak sadarkah kita kondisi tersebutlah yang justru mematikan? Mematikan dalam pengertian yang paling lugas sekalipun. Comfort zone atau zona nyaman membuat kita enggan berimprovisasi, enggan bergerak, enggan berupaya, enggan mencari tahu lebih jauh. 

Di perusahaan saya, seorang karyawan yang sudah lebih dari 3 tahun berada pada posisi yang sama dan mengerjakan job desk yang sama dianjurkan untuk dirotasi, dimutasi atau dipromosi karena dianggap telah expert pada bidangnya dan dikhawatirkan akan  melakukan tindakan-tindakan yang merugikan perusahaan. Ya benar! Seorang karyawan yang berada di bidang kerja yang sama lebih dari 3 tahun dianggap telah sangat menguasai pekerjaannya, termasuk tricky-tricky untuk mangkir dari tanggubgjawabnya tersebut (karena sudah mengetahui dengan baik seluk beluk pekerjaannya).

Selain dianggap merugikan perusahaan, karyawan tersebut juga dianggap tidak ada usaha untuk melakukan pengembangan diri, keinginan belajar kecil, motivasi bekerja minim. Untuk itu penting menjaga seorang karyawan tidak terlalu lama berada di zona nyaman agar dia senantiasa bergerak, berkembang serta melakukan perbaikan-perbaikan.

Apa yang dilakukan oleh perusahaan saya,ada baiknya juga diterapkan rutinitas sehari-hari. Sejatinya manusia adalah makhluk pembelajar, maka apa sebutan untuk makhluk yang sudah berhenti belajar? 

Berada di zona nyaman boleh saja. Sudah kodrati jika kita cenderung menghindari hal-hal yang tidak mengenakkan. Namun berada di zona nyaman terlalu lama akan mengikis kepekaan kita perlahan-lahan. Tanpa disadari kita jauh tertinggal karena dunia terus berputar dan manusia lain terus bergerak. Jika terbuai pada zona nyaman, yakin saja kita pasti tertinggal.

Menghindari zona nyaman di kehidupan sehari-hari mudah saja. Terapkan target-target kecil yang harus dipatuhi seperti 1 minggu harus membaca 1 buah buku, 1 hari harus posting 1 tulisan, 1 bulan harus menyisihkan uang Rp. 500.000,- . Berikan diri kita reward jika berhasil mencapai target, berikan punishment jika kita tidak memenuhi target. Bulan depannya terapkan target baru yang lebih menantang. 

Dengan adanya target kita akan terus melakukan perbaikan, akan terus belajar, akan terus bergerak dan termotivasi. 

Jangan mau hidup di zona nyaman. Karena zona nyaman hanyalah fatamorgana yang membuat kita jadi malas.

Tuesday, March 8, 2016

Kubikel 1.5x1.5 meter.

Tempat itu hanya sebuah kubikel dengan ukuran tidak lebih dari 1,5 x 1,5 meter, tapi sudah cukup membuat setiap orang menghabiskan nyaris separuh usia produktif mereka di sana. Tidak sadarkah orang-orang itu ada tempat tak kalah sempitnya yang menanti mereka menghabiskan 2 kali, 3 kali, entah berapa kali usia mereka? Liang kubur. Hehehe.

Kubikel Kantor

Lacinya yang terbuka, barang-barang yang berserakan di atas dan di bawah meja adalah tanda-tanda kehidupan penghuninya, kehidupan yang hampa!

Ruangan itu (layakkah itu disebut ruangan?) hanya berukuran 1,5 x 1,5 meter tapi pemiliknya betah sekali di sana dan mengorbankan tempat seluas lapangan bola yang harusnya lebih sering mereka datangi untuk menemani anak bermain. Taman. 

Bagaimana mungkin tempat sesempit itu membuat betah, padahal ada tempat yang begitu lapang serta hangat menanti pulang? Rumah.

Kadang saya kurang paham bagaimana dunia bekerja saat ini. Masa muda, semangat, energi-energi positif terserap habis hingga tak berhingga di sela-sela kubikel, di sela-sela keyboard komputer, di sela-sela laci serta tumpukan dokumen sehingga membuat benda-benda itu terasa lebih hidup dibandingkan pemiliknya.

Lalu apa yang dibawa pemiliknya pulang ke rumah? Hanya seonggok daging tanpa energi positif lagi. Sebab energi positif itu sudah tertinggal di kubikel. Hanya menyisakan otak yang kekurangan oksigen, otot yang kekurangan oksigen dan juga jangan lupa kantung di bawah mata.

Bagai magnet, tempat bernama kubikel itu menarik segala yang di dekatnya, yang ada di luar gedung kantor sekalipun. Merayu-rayu untuk ditempati. 

"Aku adalah segala yang kau butuhkan untuk hidup di dunia ini," Kadang-kadang ketika malam merangkak larut dan kantor beranjak sunyi, kubikel itu seolah bernyawa dan menghadirkan suasana magis.

"Tak usah kau khawatirkan keluargamu, belikan saja kebahagiaan mereka dengan gaji dan bonusmu. Di masa sekarang ini tidak ada yang tidak bisa dibeli dengan uang."

Pegawai yang tinggal hingga larut malam mendekam dalam kubikel pastilah telah terbujuk rayunya. Pegawai itu akan meninggalkan kubikel dengan berat hati karena urusannya belum tuntas dan berharap pagi segera datang agar Ia bisa kembali berjumpa dengan kubikel 1,5x1,5 meter-nya itu.

Begitu seterusnya yang terjadi selama 1 putaran matahari, 2 kali,3 kali, hingga tanpa sadar telah 55 kali putaran matahari. Lama sekali. Namun dia tak sadar.

Kubikel yang tampak diam, kaku, tak bernyawa sesungguhnya mereka kejam, sadis, brutal. Mereka mengihsap apa saja yang ada di dekatnya. Termasuk kebahagiaan dan masa muda, tanpa menyisakan sedikitpun padamu.

Jauhilah kubikelmu sekarang juga. Atau kalau tidak sekarang, jauhilah kubikelmu sesegera mungkin! 

NB : Tulisan ini untuk menjawab tantangan ODOP minggu ke-2 yaitu deskripsi ruangan. Apakah sudah cukup deskriptif?

#OneDayOnePost

Friday, March 4, 2016

Perbuatan Jahat yang Terasa Ringan

Saya sudah dua hari tidak menulis. Ada yang menyadari? Syukurlah kalau tidak! Hehehe. Jika tidak menulis lima hari berturut-turut maka bisa dipastikan saya akan didepak dari perguruan One Day One Post.

Kenapa tidak menulis? Kalau mau bilang tidak mood saya bisa kena kutukan bang Syaiha. Oke, tunggu sebentar. Saya mau cari alasan yang kuat. Saya tidak menulis sebab dengan mengabaikan menulis hidup saya menjadi lebih ringan. Heheh. 

Pernahkah mendengar atau membaca nasehat Imam Gazali yang bunyinya :" apakah hal yang paling ringan di muka bumi ini? Yang paling ringan adalah meninggalkan solat." Jika digeneralisasi, maksud dari nasehat di atas adalah segala perbuatan baik pasti berat dilaksanakan.

Gambar dari sini


Seorang motivator bernama Remaja Tampubolon berkata "ciri-ciri perbuatan baik adalah terasa berat jika dikerjakan". Saya pikir, hal ini juga berlaku pada keadaan sebaliknya. So, jika kamu sedang melakukan sesuatu namun terasa sangat berat, itu adalah tanda kamu sedang melakukan perbuatan yang baik. 

Sedekah ataupun berderma itu berat tapi itu baik, menulis setiap hari dan berbagai itu berat (bagi saya) dan itu baik. Solat subuh tepat waktu itu berat tapi itu baik. Membaca Al-Quran (1 halaman saja) terasa berat padahal itu baik. Menikah (uhuk, jomblo jangan ngiri) itu berat namun itu baik.

Sebaliknya, bergosip berjam-jam, itu terasa ringan dan menyenangkan bukan? Apalagi membicarakan aib orang. Padahal itu tidak baik. Menyontek di kelas lebih ringan ketimbang harus belajar semalaman padahal itu tidak baik. Korupsi itu ringan-ringan saja dilakukan padahal timbangan dosanya berat karena mengambil yang bukan hak-nya.

Kenapa perbuatan baik itu berat? Salah seorang teman pernah berkata bahwa setan tidak akan pernah membiarkan kita melakukan hal yang baik. Untuk itu dia menghalang-halangi kita dalam kebaikan, sebaliknya setan senang menjerumuskan manusia ke dalam hal yang sia-sia dan tidak berguna maka dari itu dia membantu kita melakukan kejahatan.

 So, bisa disimpulkan, perbuatan jahat yang terasa ringan itu karena dibantu bala tentara setan. (Si setan misuh-misuh karena selalu dikambing hitamkan. Hahahah). Sesungguhnya setan itu bisa berasal dari golongan jin maupun manusia. So, jadilah manusia berakhlak manusia, bukan berakhlak setan. 

Ini adalah sebuah nasehat untuk diri sendiri yang kerap malas melakukan hal-hal baik karena merasa berat. 

#onedayonepost

Sunday, February 28, 2016

Menjadi Penulis : Sebuah Nasehat Tidak Penting.

Saya sudah mencintai dunia ini jauh-jauh hari. Sebabnya sejak kecil saya sudah mengakrabi segala jenis buku bacaan mulai dari komik Detective Conan hingga kumpulan cerpen Putu Wijaya. 

Ketika duduk di bangku SD, teman sebangku saya adalah seorang penulis ulung. Dia yang menularkan semangat menulis itu. Berbekal buku tulis dan pulpen tinta cair. Yup! Kami menulis di buku tulis hingga puluhan banyaknya dan saling memberi saran. Nama teman saya itu Gabriella. Ketika SMA saya dibelikan komputer oleh Ibu, saya toh tetap menulis di buku tulis. 

Sejarah lengkapnya perjalanan menulis saya bisa di lihat di sini.

Sebagai penulis amatir, saya sadar saya masih jauh dari kata 'bagus'. Saya juga belum menelurkan satu bukupun. 

Pencarian akan jati diri tulisan (genre) juga masih Dalam proses dan belum ketemu. Intinya, saya tidak ada apa-apanya dibanding penulis lain. Tapi saya adalah pembelajar yang baik, pembaca yang tangguh, dan pengambil resiko yang ulung. Yap, saya takkan gentar meski beberapa redaksi tabloid menolak cerpen saya. Hehehe.

Apakah cita-cita saya adalah penulis ketika kecil dulu? Tentu saja bukan! Cita-cita saya dulu adalah dokter. Lebih spesifik, dokter bedah. Apakah tercapai, tentu saja tidak. Hahahahahah. Menulis adalah passion saya. Cara saya melarikan diri dari rutinitas yang seolah mematikan krearivitas. Jika diapresiasi oleh orang lain adalah hal yang sangat luar biasa bagi saya, jika dimuat di tabloid ataupun memenangkan lomba, itu bonus. Bonus yang luar biasa.

Saat ini saya sedang tergila-gila dengan beberapa penulis. Dan saya cenderung -tanpa sadar-meniru genre penulis-penulis yang saya kagumi itu. Siapa saja mereka bisa dilihat di sini.

Saya percaya kepiawaian menulis itu bukan bakat sehingga tidak bisa diwarasi melalui gen, melainkan keterampilan, layaknya menyulam ataupun memasak. Practise makes perfect. Latihan membuatnya sempurna. Meskipun standar sempurna dalam dunia kepenulisan sangatlah ambigu di luar konteks masalah EYD maupun pemilihan diksi.

Bagi seseorang, suatu karya sastra dapat saja sangat indah, namun bagi saya biasa saja. Sungguh, ini hanya masalah selera. Untuk itulah, terus sajalah menulis dengan gayamu. Tidak usah muluk-muluk ingin meniru si A, si B. Masing-masing tulisan akan menemukan pembacanya sendiri. 

Karena menulis itu menjadi sempurna dengan latihan, maka menulislah dari sekarang. Tidak cukup hanya dengan berkata "saya ingin menjadi penulis" lalu belum menulis apapun. Ketika ditanya orang tulisan apa yang sudah dibuat kamu hanya bisa nyengir sambil garuk kepala yang tidak gatal "ini baru mau ditulis". Bahkan orang yang telah menulis banyak halpun belum bisa dikatakan penulis jika BELUM DIBACA oleh orang lain. Tidak usah muluk-muluk bisa menginspirasi orang lain. Dibaca saja dulu lah.

Maka, rumus saya, ketika ingin menjadi penulis, menulislah. Orang lain tidak perlu deklarasi diri. Yang mereka butuhkan adalah karya. Toh mereka tidak terlalu peduli siapa kamu, karena yang ingin mereka baca adalah tulisanmu. 

Apakah ada yang kecewa dan protes ketika mengetahui Tere Liye adalah seorang lelaki tulen? Tidak ada! Karena karya-karyanya sangat indah dan menginspirasi. Mengenai jenis kelamin sungguh tidak masalah. Apakah ada yang marah karena Illana Tan tidak menunjukkan jati diri sebenarnya? Tidak ada! Paling hanya mengundang sedikit penasaran karena penulis buku sekuel best seller itu masih misterius. 

Itulah bukti, bahwa industri ini tidak mementingkan siapa dirimu. Bodo amat tentang bagaimana rupamu, sepanjang tulisanmu dibaca, maka kamu layak disebut PENULIS. 

Selain hal-hal yang disebutkan di atas, yang juga mendorong saya untuk mencintai dunia ini, adalah seorang senior ketika kuliah dulu yang berkata "menulislah! Maka kau akan hidup lebih kama dibanding usiamu." Kalimat itu sangat membekas dalam otak saya, padahal yang menggeluarkan kalimat itu sudah lupa dia pernah berkata demikian.

Ya, menulislah! Sebab penulis adalah manusia abadi sepanjang masa. Tidak percaya? Lihat ulasan saya di sini.

Sekian tulisan (tidak terlalu) penting ini. Semoga dapat memberi manfaat meski sedikit.

Salam.

Friday, February 19, 2016

Ketika Takdir Tidak Begitu Baik padamu, Ayah

Garis-garis usia di wajah tuamu, Ayah, seperti ruas-ruas jalan yang menyimpan cerita. Di sana ada aku bayi yang tidak pernah berhenti menangis dan kau malah tersenyum merekam tingkahku dalam memorimu. Dalam hati kau berjanji besok kerja lebih keras lagi untuk beli mainan baru. 

Di satu garis lagi ada aku kanak-kanak yang selalu minta jalan-jalan dan bertanya ini itu. Kau tidak pernah lelah menggendongku di pundakmu dan menjawab tiap pertanyaan tidak penting dengan sabar. Di suatu garis lagi ada aku remaja yang terkadang membakang dan malas belajar hingga kau geram karena nilaiku kurang memuaskan. Tapi kau tetap tidak berhenti membanggakan. Ini anak gadisku yang tidak pernah bolos sekolah.

Tiap kerutan di wajahmu menandai usiaku, Ayah. Di sana ada aku yang kau hadiri wisudanya meski sambil berdiri karena tidak kebagian tempat duduk. Di sana ada aku yang kau tangisi pernikahannya karena setelah ijab kabul berarti kau melepasku pada lelaki lain yang belum juga kau yakini kesanggupannya merawatku.

Ayah, ketika takdir tidak begitu baik padamu maka ingatlah kau memiliki anak gadis yang sungguh mengagumi kedalaman ilmumu yang seperti sumur tidak berdasar. Ketika hidup agak kejam padamu maka ingatlah kau memiliki anak gadis yang mensyukuri segala harta benda yang telah kau belanjakan untuk mencukupi kebutuhanku hingga dewasa. Bahkan masih sering pula kau mengantarku pulang pergi ke kantor sedewasaku ini.

Aku sadar sebagai anak belum juga terbilang soleha. Aku tidak bisa menjanjikan mahkota emas di surga untuk kau kenakan, aku tidak menjanjikan menjemputmu di pintu surga. Justru aku mengharapkan keridhoanmu, Ayah. Cuma lantunan doa di tiap-tiap ujung sujudku yang kupanjatkan mengangkasa. Berharap usiamu masih panjang, kesehatanmu masih panjang,rejekimu masih panjang untuk menyaksikan peristiwa-peristiwa dalam hidupku selanjutnya, meski itu berarti menambah garis usia di wajahmu.

Ketika takdir tidak begitu baik padamu, Ayah. Maka ketahuilah bahwa segalanya baik-baik saja. 

#OneDayOnePost
#FebruariMembara
#HariKeLimaBelas

Monday, February 8, 2016

Benang Merah Kasus Margriet, Mirna dan Masington.


Sebelum membaca tulisan (tidak penting) ini lebih jauh, saya ingin menyampaikan bahwa tulisan ini adalah tantangan One Day One Post minggu ke 2 Februari, sekaligus (hanyalah) sebuah opini yang tercipta dari gagasan sederhana wanita sederhana (ceilehh) yang sedang mencoba melihat bagaimana dunia sekarang bekerja.

Ada benang merah dari ketiga kasus yang menjerat nama-nama pada judul artikel ini. Bukan hanya sekedar nama ketiganya berawalan dari huruf M, namun ketiganya adalah orang-orang yang mendadak terkenal, muncul di ranah publik dengan latar tema yang sama. Kasus kriminal. 2 orang diantaranya tersangka, sisanya adalah korban. 

Tentunya masih jelas dalam ingatan kita bagaimana seorang gadis kecil bernama Angeline ditentukan tewas terkubur di bawah kandang ayam di halaman rumahnya sendiri. Beberapa hari sebelumnya, Margriet, ibu angkat yang membesarkannya mengumumkan berita kehilangan Angeline. Ironisnya, setelah penemuan mayat itu, bukti-bukti (berdasarkan pemberitaan di media) menunjukkan bahwa Margriet lah yang justru pelaku pembunuhan sadis tersebut.  Publik gempar. ILC (Indonesian Lawyer Club) menyediakan episode khusus membahas kasus ini.

Selang beberapa bulan. Wanita muda yang baru saja melepas masa lajang, tewas usai menenggak kopi yang ternyata telah diracuni sianida di sebuah cafe elit. Mirna sukses meregang nyawa. Ironisnya diduga yang menabur racun adalah sahabatnya sendiri. Motif masih simpang siur, namun ILC kembali menyediakan satu episode khusus membahas kasus ini. Ya, tentu saja publik kembali gempar.

Lalu yang paling anyar, seorang politikus sebuah partai politik yang besar di negeri ini terjerat kasus penganiayaan terhadap asisten pribadi. Masington dituduh memukul asisten wanitanya karena si asisten membocorkan rahasia partai kepada partai lain. Lalu seterusnya saya kurang mengikuti perkembangan kasus ini karena saya kurang begitu suka dengan hal yang berbau politik.

Apa yang tejadi dengan dunia jaman sekarang? Kesalahan sebesar apa yang bisa dilakukan gadis sekecil Angeline sampai membuatnya harus mergang nyawa di tangan ibunya sendiri? Hati seperti apa yang dimiliki wanita yang sudah menghabiskan ribuan siang dan malam membesarkan anak hanya untuk kemudian dibunuh? Mungkin karena pengaruh hormon, atau naluri keibuan yang meningkat pasca melahirkan, saya selalu tersentuh kalau melihat atau membaca kasus-kasus penganiayaan anak. 

Demikian juga dengan kasus sianida Mirna. Persahabatan seperti apa yang sudah mereka jalin sehingga salah satunya merasa biasa saja membunuh yang lain. 

Yang terjadi di dunia saat ini adalah hilangnya rasa penghargaan terhadap sesama. Manusia membunuh manusia. Dalam agama yang saya anut itu dosa besar kedua. Mungkin manusia sekarang sudah tidak takut pada Tuhan lagi sehingga menganggap membunuh adalah hal biasa. Padahal Tuhan sendiri bilang "Barang siapa yang membunuh satu manusia, dia seperti membunuh seluruh umat manusia. Dan barang siapa yang memelihara kehidupan satu manusia, dia seperti memelihara seluruh umat manusia"

Hilangnya penghargaan terhadap nyawa manusia tidak serta merta muncul begitu saja. Menurut saya dia berakar dari hal-hal sepele. Diawali dengan pemakluman-pemakluman. "Tidak apalah dia mabuk, yang penting tidak mengganggu kita". Lalu pembiaran-pembiaran "Dia mabuk. Itu pilihannya. Yang penting kita nggak ikut-ikutan". Pemakluman dan pembiaran terhadap hal-hal sepele menggurus nilai-nilai kepedulian dalam diri kita, lebih sadisnya lagi bisa menghilangkan empathy. Lalu muncullah jargon-jargon. "Bukan urusan saya", "emang saya pikirin" Dan sebagainya itu. 

Pernahkah kita mencoba berpikir lebih jauh tentang orang mabuk yang kita biarkan saja itu karena menganggap tidak mengganggu kita? Pertama, dia telah menganiaya dirinya sendiri dengan mabuk-mabukan, kedua dia bisa saja tidak mengganggu kita tapi mungkin malah membunuh orang lain yang lewat karena sedang berada di bawah pengaruh minuman keras, ketiga memunculkan anggapan bahwa tindakannya(mabuk-mabukan itu) benar karena tidak ada yang-jangankan menegur-peduli pun enggan, keempat jadi contoh yang tidak baik untuk orang lain (terlebih anak-anak yang melihat).

Dalih Hak Asasi Manusia, demokrasi, bebas betindak dan berpendapat, sebenarnya adalah pisau bermata dua. Di jaman sekarang ini lebih banyak merugikan daripada manfaatnya. Ambil contoh kasus Masington yang merasa behak memukul asisten pribadinya karena diduga membocorkan rahasia partai. Eh,kamu siapa bang? Bapaknya? Suaminya? Seenaknya saja main pukul. Apakah kamu memikirkan bagaimana perasaan bapak dari wanita itu sebelum bertindak? Itu baru kasus pemukulan. Kalau pembunuhan? Maka tidak salah kalau Tuhan bilang membunuh satu nyawa seperti membunuh seluruh umat. Satu nyawa yang hilang namun yang merasakan dampaknya sangat luas, keluarga yang ditinggalkan, masyarakat di lingkungan sosialnya, keluarga pembunuhnya yang seumur hidup harus menanggung aib sebagai keluarga dari seorang pembunuh. Belum lagi kalau berandai-andai tentang potensi jumlah manusia yang mungkin lahir dari keturunan orang yang dibunuh itu. Bisa jadi sangat banyak hingga Tuhan berkata demikian.

Pemakluman dan pembiaran adalah awal dari kebinasan sesungguhnya. Sekarang, mengenai kasus nama Tuhan dicatut di produk panci dan alas kaki, lalu ada sebuah organisasi masyarakat yang memperkarakannya, lalu kamu justru mencaci organisasi itu dan bilang "berhentilah mengurusi hal-hal sepele" Itu pantas?. Harusnya kamu berkaca! Apa yang sudah kamu lakukan selama hidup di muka bumi selain bersikap egois dan mengurusi urusanmu sendiri? (Ini juga pertanyaan untuk saya pribadi).

Sesungguhnya hal-hal sepele yang tidak kita urusi akan meluas membentuk kerak yang kemudian menutup bagian kecil dalam tubuh kita yang bernama kalbu. 

Berhubung tulisan saya sudah mulai ngalor ngidul nggak jelas maka kita sudahi saja.

#OneDayOnePost
#FebruariMembara
#HariKeEnam

Thursday, January 24, 2013

Penulis Itu...

(Diambil dari Note FB tanggal 28 November 2010)

Penulis adalah orang tercerdas yang pernah hidup dari zaman Nabi Adam hingga detik saya menulis ini. Tak ikut mati saat kaum Luth dibinasakan, tak ikut tenggelam meski bahtera Nuh tak menyisakan ruang mengevakuasinya. Tak ikut karam bersama pasukan Firaun di laut merah. Penulis adalah orang-orang yang tangguh tak terhunus pedang-pedang tentara di Perang Salib,, tidak terbantai di bawah rezim biadab Hittler maupun pembantai umat Islam tersadis di Perang Salib yang entah kenapa belakangan malah menjadi fiksi memuakkan di balok-balok berakaca bernama Televisi..yah,, tak lain dan tak bukan adalah sang Drakula "Vladislav Draculea".



image was taken from http://adiwarnacenter.blogspot.com



Entah, mungkin seorang penulis telah melakukan perjanjian dengan Tuhan serupa nenek moyang iblis melakukannya. Bahwa mereka tak kan binasa hingga sangkakala ditiup dan gunung-gunung terbang serupa bulu. Namun berbeda dengan iblis yang kesemuanya sesat,, menjadi sesat ataupun tidak, bagi penulis, adalah perkara yang berada di tangannya sendiri. Setidaknya penulis jauh lebih beruntung dibandingkan iblis yang ditakdirkan sesat, namun tetap memiliki kesempatan hidup hingga sangkakala ditiup kelak.


Bagaimana tidak,, Tuhan Maha Bijaksana yang bermurah menjadikan penulis berumur sepanjang usia jagad. Kalau berumur pendek, lantas siaapa yang akan mengabadikan, tak perlu jauh-jauh ke belakang, peristiwa kemerdekaan misalnya. Atau kisah indah Tajmahal,, atau kisah mengagumkan kerajaan-kerajaan tersohor di Nusantara.Lalu Tuhan menjadikannya cerdas menyainigi Albert Einstein dan bapak kedokteran dunia Ibnu Sina, hingga mampu merangkai partikular-partikular beranama huruf menjadi suatu elemen dahsyat, yang dapat memepermainkan emosi bbahkan memprovokasi orang lain bernama tulisan.

Dalam sepak terjangnya, penulis adalah orang berkepribadian ganda, bahkan lebih unik dari Billy Milligan yang memiliki 24 karakter berbeda dalam dirinya. dalam suatu kesempatan seorang penulis bisa sangat fasih memerankan politisi, lalu guru, kadang-kadang dosen, dapat pula jadi mahasiswa, ataupun rakyat jelata. Jadi ilmuwan, dukun, mantri, engineer, konsultan, perawat, tukang gali kubur sekalipun dapat diperankan oleh seseorang yang berprofesi Penulis. kemampuan observasi seorang penulis tidaak perlu dipertanyaakan lagi. Orang paling adaptif di dunia ini?? oh,, tentu saja penulis!!

Penulis pun bisa membangkitkan orang yang sudah mati- dengan seizin Tuhan- serupa Isa, a.s dalam konteks yang berbeda. Saat kau membaca kisah menyentuh Hellen Keller, misalnya... Bagaikan melihat sendiri bagaimana Hellen Keller berjuang melawan segenap keterbatasan fisik nya bukan?? Bagaikan mendengar sendiri Hellen Keller yang telah berpuluh tahun meninggal menuturkan sendiri kisahnya. Sungguh sebuah sensasi yang sangat sulit di peroleh dari hasil karya lain, selaian karya seorang yang berprofesi Penulis.


Maka Tuhan membuat penulis berumur sepanjang jagad adalah sebuah wujud Kemaha Esaan-Nya. Kalau iblis dengan perjanjiannya, maka penulis dengan Tulisannya. Kalau Isa A.S menghidupkan orang yang telah meninggal dengan Mukjizat seijin Tuhannya, maka Penulis berkesempatan menghidupkan orang yang telah mati dengan meniupkan ruh pada tulisannya.


Pada akhirnya, mengutip kata bijak seorang teman sekaligus senior di kampus "Menulis membuat usia seseorang lebih panjang dari semestinya". Yah,, karena meski jasad sudah lumat dalam liang lahat, tulisan tetap akan hidup hingga akhir jagad.

Monday, January 21, 2013

Sebuah Penghiburan

(tulisan ini sudah lama mendekam dalam note fb.. saya angkat lagi kesini untuk jadi bahan renungan untuk diri sendiri ketika putus asa. Syukur-syukur bisa bermanfaat untuk orang lain)

Makassar, 9 Maret 2012

Saya baru membaca 24 halaman buku “Black Swan” yang pada sampulnya tertulis International Best Seller ketika menulis ini. Baru 24 halaman jadi yang saya dapat simpulkan adalah bahwa kejadian-kejadian yang ada di muka bumi ini tidak dapat diramalkan. Jadi siapapaun Anda yang sedang berkuliah dan mempelajari tentang Teori Probabilitas harusnya jangan terlalu percaya. Sebaliknya, yang harus kita lakukan adalah memanfaatkan ketidak pastian, karena ketidakpastian mutlak terjadi. Buku ini menganalogikan dengan fenomena black swan-angsa hitam. Sesuatu yang mustahil tapi ternyata terjadi.

Namun sekarang saya tidak hendak meresensi buku Black Swan. Yang akan saya lakukan adalah menulis sebuah penghiburan seperti judul note ini. penghiburan untuk diri sendiri, untuk yang membaca dan merasa mengalami hal yang sama, untuk yang tengah mengalami kegagalan atau kontra klimaks dalam hidupnya. (hehehhe,,, berat bahasanya ya..)
Saya sedang mengalami masa peralihan yang terberat kedua dalam hidup saya (yang pertama adalah peralihan dari usia remaja -19 tahun menuju ke usia dewasa- 20 tahun. Mental saya belum siap. Tapi fisiologis saya tidak mau kompromi. Saya juga tidak hendak membahas ini sekarang). Beralih dari masa kuliah ke dunia kerja adalah sesuatu yang sangat menyenangkan-seharusnya. Membayangkan bagaimana rasanya kita bisa menghasilkan usang sendiri. Mulai memikirkan rencana-rencana kehidupan sendiri. Menabung dan mencita-citakan untuk jalan-jalan ke luar negeri. Harusnya menyenangkan jika dari perkuliahan kita langsung memasuki dunia kerja. Tanpa singgah dulu di masa peralihan atau yang lebih lazim disebut masa tunggu, yaitu masa seorang fresh graduate menunggu untuk terserap di lapangan pekerjaan (pengecualian untuk yang memilih menjadi interpreneur dan yang ditakdirkan punya perusahaan warisan dari kakek buyutnya. Heheh)

Jadi berada di masa tunggu adalah sesuatu yang benar-benar menyakitkan. (kadang-kadang sebenarnya sangat menyenangkan saat bisa santai-santai berbaring di kasur sambil baca komik di hari senin J ). Berada di masa tunggu, itu berarti siap-siap mengalami banyak sekali penolakan dari perusahaan tempat kita melamar. Mulai dari penolakan yang dapat diterima dengan lapang dada karena kita menyadari bahwa kualifikasi kita belum memenuhi persyaratan perusahaan itu, hingga penolakan yang menyakitkan hati karena kadang-kadang kita berpikir “apa kurangnya saya sih? Saya bahkan bia menyamai performa staf Anda yang sudah bekerja 2 tahun disana kalau Anda menerima saya!!(agak sombong.. heheh). Namun sesungguhnya, rejeki itu rahasia langit. Dan parameter kesuksesan seseorang tidak hanya diukur dari seberapa sempurnannya IPK kita, seberapa banyaknya organisasi yang kita ikuti, seberapa bergengsinya kompetisi yang pernah kita menangi maupun seberapa fasihnya bahasa asing yang kita kuasai. Disamping semua itu, ada yang disebut faktor X (mungkin ini yang oleh Nassim disebut Black Swan dalam bukunya). Jadi, formulanya adalah seperti ini : kesemuanya yang sudah saya sebutkan sebelumnya di atas (IPK,Organisasi,bhs asing) + kesiapan + kesempatan + faktor X = KESUKSESAN. Apakah sesungguhnya faktor X itu? Ialah keberuntungan, Lucky, Fortune, Hoki, Takdir, atau apapun itu sebutannya.

Friday, January 18, 2013

Sejauh Apa Komitmen Membawamu?

Tulisan ini diambil dari note FB tanggal 26 Mei 2011 (saat saya masih 21 tahun pemirsah!! hahah)

Jangan heran dan protes kalo saya hendak membicarakan tentang KOMITMEN. Saya 21 tahun, dan berada di smester terakhir perkuliahan. Lantas?? ya tidak kenapa-kenapa.... hahaah.. pembicaraan dengan beberapa sahabat di sela-sela menemani mereka mengerjakan Skripshit alias Tugas Akhir (mereka mulai mengerjakan sementara saya hanya sekedar menemani tanpa semangat untuk memulai) seringkali menyerempet ke hal-hal yang berbau komitmen.

"saya mau kerja dulu baru nikah" salah seorang teman berujar. "merintis karir dan melampiaskan kebebesan"

"kalo dalam 2 tahun ini ada yang melamar, mungkin saya akan mempertimbangkan. Nikah sambil berkarir kayaknya bagus juga" teman yang lain menambahkan.

Kalau dalam kamus calon sarjana teknik industri seperti saya ini (cieeee) mungkin menikah ada diurutan kesekian setelah (tentu saja) menamatkan kuliah, kerja di salah satu perusahaan manufaktur, lanjut kuliah s2 (mungkin), merintis perusahaan sendiri untuk kemudian menjadi konsultan di dalamnya. such a perfect plan!!

Tapi, saya wanita... okeh.. dan sejauh ini wanita cenderung memikirkan mengenai 'menikah" itu lebih banyak daripada yang sering dilakukan oleh pria (tidak didukung bukti2 empiris sih.. hahah).Dan oleh sebab itu, hal ini menjadi penting dan sering kami bicarakan. Setinggi apapun impian seorang wanita, ia tidak akan melupakan kodratnya. saya jamin. Jadi, seharausnya pria-pria tidak perlu bersitegang dengan wanita hanya untuk memperdebatkan mengenai apakah baik wanita turut bekerja setelah mereka menikah. Atau apakah baik menyewa baby sitter untuk membantu mengurus anak. hey.. heyy.... wanita punya insting untuk melakukan semua itu dengan BAIK!!!

Namun,, mengenai komitmen ini. Sejauh apakah kamu dapat mempertahankannya? mengingat kenyataan untuk memilih menghabiskan sisa hidupmu dengan seseorang adalah tidak semudah membalikkan telapak tangan gajah (hahah). Menikah bukan berakhir di pesta meriah nan mewah yang kau rancang hingga sedetil2 nya. Menikah tidak hanya menyangkut gaun dan cicncin emas yang kemudian jadi identitas yang melekat di jarimu. Menikah adalah apa yang kau jalani setelah pesta itu usai. setelah kau mulai mengenakan cincin itu di jarimu (okkeeh.. saya mulai sok tau..haha).

Sekali lagi saya tanya, sejauh apa komitmen dapat membawamu saat kau tau pasanganmu infertil dan kalian tidak bisa memiliki keturunan, seperti yang saya baca di novel "Tes Pack", sejauh apa komitmen membawamu saat kau tau gaji suamimu pun tak cukup untuk membeli baju-baju pestamu seperti pada novel "cinta", sejauh apa komitmen membawamu saat kau tau suamimu menderita penyakit Alzhaimer dan kau setiap harinya hanya tinggal menghitung mundur sisa umurnya??

picture by istribawel.com


okeh..okeh.. itu hanya sekedar novel, fiksi yang dibalut sedemikian hiperbolis biar kau tidak bosan membacanya. tapi,,, bukankan ada sepenggal makna di dalamnya??

salah seoraqng pembaca ditanya mengenai sejauh apa komitmen dapat membwanya? maka dia menjawab dengan "sejauh komitmen itu bisa membawanya" Ngambang! tapi, yah.. cukup bisa diterima sebagai sebuah jawaban.

Karena saya seorang wanita dan juga seorang Muslim.. saya merujuk saja pada sebuah hadist (saya lupa diriwayatkan oleh siapa) "jika seorang Muslim meninggal, maka amalan pertama yang akan ditanyakan adalah Sholat"

"jika seoraang wanita Muslim meninggal, maka amalan yang pertama ditanyakan adalah Sholat, lalu pengabdiannya pada suami"

Wallahualam...

Oopps,,Saya teringat harus segera menyelesaikan proposal penelitian.. Maka kita tinggalkan mengenai komitmen ini sejenak. Toh sebagai calon sarjana teknik saya masih akan membangun perusahaan sendiri dan menjadi konsultan di dalamnya. hahahahaha


:D