Showing posts with label tentang tulis menulis. Show all posts
Showing posts with label tentang tulis menulis. Show all posts

Tuesday, July 10, 2018

Writer War (Tentang Penulis yang Menulis pada Genre yang Tidak Sealiaran Denganmu)


Pernah dengar istilah Mom War? Iya.  Itu loh,  perkelahian ibu-ibu yang memganggap diri paling benar hanya karena dia mendapati ibu lain tidak berbuat seperti yang dia lakukan. 

Saya senyum-senyum sendiri melihat status beberapa teman yang kesal dengan kelakuan ibu macam begini.  Hanya karena seorang ibu memilih melahirkan secara sesar bukan berarti derajatnya lebih rendah daripada ibu yang melahirkan secara normal bukan?  Stop judging! Kamu tidak berada di posisinya,  lalu mengapa kamu menjadi begitu kejam telah menjustifikasi pilihannya?

credit


Saya tidak sedang akan membahas ibu-ibu by the way.  Saya akan membahas bagaimana di zaman now ini saya masih saja mendapati penulis yang merasa seleranya lebih baik karena dia menyukai serta menempuh genre tertentu dibanding dengan penulis lain yang menyukai dan menempuh genre yang berbeda dengannya.

credit


Hanya karena seorang penulis berkiblat pada Ika Natassa bukan berarti dia lebih buruk dibandingkan kamu yang menganut Eka Kurniawan bukan?  Stop judging!  Hanya karena seseorang jatuh cinta pada Dylan bukan berarti dia memiliki selera yang lebih buruk daripada seorang fans fanatik Dea Anugrah kan?


Dunia sudah dipenuhi orang-orang jahat.  Janganlah menambah panjang daftar penjahat di muka bumi ini dengan menyiyiri selera orang lain.  Kamu tidak berada di posisinya,  kamu tidak tumbuh besar dalam lingkungan yang membesarkannya.  Lalu kenapa kamu berhak menilai seleranya lebih buruk daripada seleramu dan kenapa kamu yakin dia tidak layak disebut penulis kalau dia hanya berkarya di wattpad dan kamu menembus lini mayor?


Cita-cita menjadi penulis adalah hak setiap orang.  Kalau kamu belum bisa membantu,  janganlah mematahkan semangat orang lain untuk menggapai cita-citanya sesuai dengan pilihan dan apa yang membuatnya nyaman.

Semua hasil tulisan bertujuan untuk dibaca.  Perkara layak atau tidak layak itu kembali pada tataran selera.  So,  alangkah indahnya kalau kita saling bahu membahu menghidupkan semangat literasi di negara yang konon budaya membacanya sangat rendah ini.

Dan ingat,  layaknya jodoh, setiap tulisan akan berlabuh pada pembacanya masing-masing.

Monday, July 9, 2018

3 Langkah Mengembalikan Mood Menulismu



Sebagai seorang emak-emak yang selain hectic sama urusan rumah juga (sok)  sibuk di kantor,  saya selalu banyak excuse kalau harus menulis.

Sesungguhnya saya sangat mencintai dunia kepenulisan ini,  jadi kalau sudah berbulan-bulan tidak menulis rasanya ada yang hilang. Sejak dilanda morning sickness di awal tahun dengan frekuensi yang naudzubillah untuk kehamilan kedua saya (iya saya lagi hamil anak kedua😁) praktis semua mood yang berhubungan dengan dunia literasi menguap. 


credit


Selain morning sickness,  kepindahan saya ke unit baru di kantor sejak pertengahan tahun lalu,  di mana load pekerjaannya bertambah yang berdampak pada semakin larutnya jam pulang saya,  membuat saya benar-benar kehabisan energi untuk menulis.  Eh,  tapi sepertinya tahun lalu saya cukup produktif deh.  Pokoknya,  lihat saya banyak excuse kan?

Nah,  sesubuh ini saya jalan-jalan santai menelusuri beranda facebook dan cukup tercengang membaca beberapa status teman yang saya kenal di beberapa komunitas menulis,  yang sesungguhnya adalah penulis yang produktif, juga tengah dilanda sejenis writer's block ini.  Ini bisa disebut writer's block nggak sih?



Penyebab hilangnya mood menulis ini memang bisa karena berbagai alasan yang berbeda.  Kalau alasan saya sudah saya jembreng di atas kan ya.  Sekarang saya mau kasih langkah-langkah yang saya (coba)  tempuh untuk mengembalikan mood menulis ini.  Tidak.  Tidak.  Mood menulis saya belum benar-benar pulih,  tapi saya sedang mengusahakan untuk memulihkannya.  Doakan saya ya...🙏🙏


1.  Mulailah menulis tulisan yang ringan.

Dalam kasus saya,  saya mulai kembali dengan menulis apa pun yang terlintas dalam kepala ke dalam blog saya ini.  Yang ringan-ringan saja.  Kejadian yang dialami seharian kemarin,  pemikiran-pemikiran receh yang tiba-tiba melintas, apa saja.  Tuliskanlah!

Kalau kamu tidak punya blog dan tidak hobi ngeblog kamu bisa memulainya dengan menulis status di facebook.  Tuangkan pemikiranmu ke sana.  Iya.  Tulis aja.  Flash fiction,  cerita mini,  opini singkat.  Apa saja.

2. Cari lomba menulis yang deadlinenya sebentar lagi.

Ini sunggung bekerja pada kasus saya.  Salah satu motivasi menulis saya,  selain agar tulisan saya disukai dan sukur-sukur jika bisa bermanfaat untuk orang lain adalah uang,  hadiah,  reward,  you name it.  Hahaha.  Ketahuan banget kan orientasi saya.  Eh,  tapi sungguh,  ikutan lomba kemudian menang meski hadiahnya hanya pulsa 25.000 sungguh membuat saya gembira bukan kepalang dan membangkitkan semangat menulis saya dengan cukup signifikan.

3. Keep in touch dengan Teman yang Memiliki Hobi yang Sama.

Ketika mood menulis saya berada pada titik nadir,  otomatis mood berselancar di dunia maya saya pun raib entar ke mana.  Palingan sesekali saja saya ngintip beranda fb atau ig.  Sesekali saja baca komentar ataupun lihat upload - an foto yang lalu lalang,  sesekali saja tengok grup menulis di WAG hingga chat yang belum dibaca menyentuh 10.000.

Nah,  yang saya lakukan kemudian adalah menyapa teman dan sahabat-sahabat yang memiliki hobi yang sama itu.  Mengharapkan aura positif mereka menjangkiti saya.  Atau kalau mereka pun lagi nggak mood dengan dunia tulis menulis,  saya akan merasa tidak sendirian menghadapi masalah ini.  Kita bisa saling curhat apa kendalanya, untuk kemudian saling menyemangati. 

credit


Itu saja sih,  3 langkah mengembalikan mood menulis yang saya lakukan.  Saya tidak akan suruh kamu membaca dan menasihati bahwa kekakuanmu memainkan imajinasi saat ini adalah karena kurangnya bahan bacaan.  Tidak.  Sungguh.  Karena kalau saya,  ketika sedang nggak mood menulis,  maka membaca pun pasti ogah-ogahan.

Mungkin sebagai tambahan saran, saya akan suruh kamu window shopping di mall atau nonton tv sambil makan kacang Bali😆


Oke, sekian dan terimakasih.

Wednesday, October 4, 2017

Tentang Cinta Saya yang Dalam pada Tere Liye dan Eka Kurniawan.


Suatu ketika di akhir tahun 2015 saya melihat pengumuman sayembara menulis cerita anak islami yang diadakan oleh Pro U Media. Penerbit yang secara masif mengeluarkan buku-buku bacaan bernuansa religius. Dengan tidak ada maksud apapun selain ingin agar suatu saat nanti anak saya bisa saya dongengi dengan buku bacaan yang di dalamnya ada nama saya, sebut saja ini desakan naluri keibuan, maka saya disela-sela waktu antara pulang kantor yang larut dan jam tidur yang terasa tak pernah cukup,  mencoba untuk mengikuti sayembara itu. 


credit


Suami saya pesimis. Ia tahu saya hobi menulis dan sangat tergila-gila dengan buku bacaan,  tapi ini kompetisi tingkat nasional dan saya belum pernah menulis cerita anak sebelumnya,  yang Islami pula. Waktu itu dia menyuruh saya untuk tidur alih-alih menyelesaikan naskah saya. Dan saya memang tertidur dengan ponsel pintar dalam genggaman.  Aplikasi note terbuka. Naskah yang belum rampung. 

Awal tahun 2016 saya dinyatakan menjadi salah satu pemenang.  Hadiahnya bisa buat traktiran di Pizza Hut enam kali,  voucher belanja buku yang bukunya belum pula habis saya baca hingga saat ini,  belum lagi diundang untuk menerima penghargaan di acara Islamic Book Fair di Jakarta.  Tebak siapa yang menangis ketika membaca nama saya di pengumuman hasil lomba,  Juara 2 dari 2000 naskah yang masuk,  tak lain tak bukan suami saya.  Hahahah. 

Mengenai undangan menerima penghargaan itu saya tidak bisa pergi karena urusan pekerjaan yang cutinya ribet, jadi saya minta adik saya yang kebetulan saat itu kuliah di Bandung untuk mewakili.  

Tahun 2017 saat lebaran haji, adik saya satu-satunya itu mudik. Lalu kami bercengkrama dengan topik yang begitu random kemudian dia bercetus,  "Kemarin waktu terima penghargaannya Kak Na yang juara diundang sampai belakang panggung. Di sana ada Tere Liye dan Ustadz Salim A.  Fillah.  Mereka kasih Yono semangat untuk terus menulis. Mereka kira Yono yang menang lomba."  Lalu adik saya itu dengan entengnya tertawa terbahak-bahak. 

Apa?!  Ada Salim A.  Fillah dan Tere Liye? Saya bertanya apakah dia sempat foto bersama mereka? Adik saya menyahut ringan,  "Nggaklah.  Ngapain?"  Lalu saat itu ingin sekali saya jitak kepalanya. 

Saya jadi menyesal tidak berusaha datang ke acara tersebut.  Kalau datang saya akan minta foto bersama Tere Liye dan Ust. Salim.  Lalu itu pasti akan menjadi sesuatu yang dikemudian hari memicu semangat saya untuk terus menulis.  Karena saya mencintai tulisan-tulisan mereka. Pernah mencintai. 

Pernah suatu ketika saat SMA saya membeli buku berjudul "Nikmatnya Pacaran Setah Pernikahan"  yang ditulis oleh Ust.  Salim dan diterbitjan oleh Pro U Media.  Saya ingat sekali saking sukanya dengan buku itu saya sampai baca 2 kali.  Saya tidak tahu siapa itu Ust.  Salim dan saya tidak familiar dengan perusahaan penerbitan manapun. Bertahun-tahun kemudian saya memenangkan sayembara dari Pro U Media dan berkesempatan bertemu Ust.  Salim. Lihatlah bagaimana semesta telah memberi tanda. 

Saya pernah begitu mencintai buku-buku Tere Liye.  Suatu ketika saat pulang ke Manado di tengah libur semesteran dan adik saya kebetulan juga pulang, dia membawa koleksi Tere Liye dan saya ingat bagaimana saya jatuh cinta pada Sunset Bersama Rossie. 

Jauh sebelum itu saya dan adik saya adalah penggila komik Doraemon,  Conan,  One Piece,  Cerita Rakyat,  Cerita Nabi dan Rasul maupun dongeng-dongeng 1001 malam. 

Waktu SMP saya pembaca Mira W yang setia, takjub dengan Buya Hamka, terperangah dengan Sutan Takdir, mengoleksi Goosebumpsnya R.L Stine,  Trio Detektif,  Lima sekawan, serta menyicil membaca Harry Potter. 

SMA saya diwarnai dengan teenlit dan chicklit. Nama yang paling saya ingat adalah Ken Terate. 

Saat kuliah saya menghabiskan waktu dengan Andrea Hirata sama lamanya dengan rapat himpunan Teknik Mesin yang saya ikuti.  Tetralogi Twilight, Asma Nadia, Kang Abik juga bergantian nangkring di bawah bantal saya.  Saya terbiasa membaca sampai tertidur.  Kala itu sesekali membaca Ninit Yunita serta 5 CM. 

Saat mulai bekerja adik saya meracuni saya dengan biografi Muhammad-nya Tasaro GK.  Petani satu itu berhasil meramu buku biografi yang semestinya membosankan menjadi bacaan seasik Harry Potter.  Saya tidak bercanda dan saya terpukau. 

Saat kerja saya juga mulai membaca Ika Natassa dan jatuh cinta berulang kali karena merasa senasib. Ika Analis Kredit dan hobi menulis seperti saya.  Tapi dia bisa membagi waktunya dengan baik antara mencari prospekan dan menulis buku sementara saya mencari prospekan saja keteteran 😭😭.   Saya telah membaca seluruh buku Ika kecuali Underground yang diterbitkan indie.

Baca :

Balada Analis Kredit

Kemudian suatu ketika teman saya yang baik hati bernama Kunca memperkenalkan saya dengan Eka Kurniawan dan saya tergila-gila seketika.  Saya telah membaca seluruh buku Eka kecuali O dan Corat-coret di Toilet karena belum saya temukan keberadaannya di Gramedia Manado. Sesekali saya juga membaca kumpulan prosanya Dee Lestari. 

Tahapan kehidupan yang paling saya syukuri adalah masa kuliah karena di sanalah saya bertemu dengan suami saya yang tidak suka membaca dan lebih suka nonton Moto GP. Tahapan kehidupan yang paling saya sesali juga adalah masa kuliah karena tidak bergabung di UKM Sastra Unhas atau FLP ranting Unhas. Kenapa saya tidak gabung ya?  Itu masih menjadi misteri bagi saya hingga saat ini, karena kalau gabung barangkali saya akan mengenal Faisal Oddang secara personal dan bukannya lewat maha karya nya saja 😂. 

Mengenai Faisal Oddang yang kurang ajar banget prestasinya di dunia sastra ini juga adalah hasil ngobrol dengan Kunca yang sambil lalu bilang soal pertunjukan boneka apalah itu yang mementaskan salah satu cerpen yang ditulis mahasiswa Unhas. Judul cerpennya 'Di Tubuh Tara dalam Rahim Pohon' . Dari situlah kekepoan saya pada Oddang meningkat.  Saya membaca Puya ke Puya lalu merasakan cinta yang sama yang muncul ketika saya bersama Eka. Ihik. 

Untuk menebus rasa bersalah saya,  maka saya sekarang aktif bergabung dalam komunitas-komunitas menulis online. Sebut saja KBM,  LRF,  CK,  Poncer, ODOP. Dari yang genrenya POP,  realis, surealis,  sastra koran,  reliji,  fiksi mini. Semuanya saya babat saja.  Saya haus akan ilmu kepenulisan ini. 

Saking  banyaknya komunitas menulis yang saya ikuti,  saya mulai merasa terkadang perbedaan genre ini membuat para penulis saling terkotak-kotak.  Ada yang menganggap Tere Liye bukan sastrawan karena konon katanya yang dia tulis bukan sastra dan memandang sebelah mata kepada Andrea Hirata.  IKa Natassa kalau tidak salah pernah tersinggung karena genrenya yang metropop itu tak diakui dalam dunia kepenulisan oleh beberapa orang tapi toh dia adalah bintang tamu di MIWF.  Ada apa?  

Ketika berada dalam suatu komunitas menulis lalu orang-orang mulai berbicara buruk tentang Tere Liye,  maka saya sakit hati karena saya pernah mencintai Tere Liye sedalam cinta saya kepada Eka Kurniawan. Kalau sekarang saya tidak membaca Tere,  bukan berarti saya telah membencinya tapi lebih kepada kondisi yang sudah berubah saja.  Saya adalah Ibu satu anak.  Saya tidak suka lagi membaca hal-hal yang berbau cinta-cintaan antar lawan jenis seperti jaman kuliah dulu. Eka Kurniawan menghadirkan cerita yang lebih kompleks daripada sekedar cinta yang tak sampai;  seperti manusia yang bangkit dari kubur ataukah kemaluan yang tidak bisa tegak karena trauma 😂😂

Saya mencintai Buya Hamka sedalam cinta saya kepada Kang Abik.  Saya mencintai Ken Terate sedalam cinta saya pada Ika Natassa.  Saya gemar mengoleksi Eka Kurniawan seperti mengoleksi Raditya Dika. Saya pengagum Ust. Salim dengan kadar yang tak kurang daripada kekaguman saya pada Merry Riana. 

Waktu SMP dulu saya membaca Buya Hamka dan sekarang saya membaca Pidi Baiq apakah saya lantas mengalami kemunduran dalam hal selera?  Bagi saya tidak! Dan ketika anak saya besar nanti saya akan membebaskannya dalam memilih buku apa yang akan dibacanya seperti saya akan membebaskan dia dalam menentukan cita-citanya. 

Bagi saya menulis adalah perihal keberanian.  Berani menuangkan apa yang ada dalam isi kepala.  Dan saya menaruh rasa hormat yang sama pada semua penulis yang namanya tercetak pada sampul buku yang berjejer rapi di toko buku,  toko online, Wattpad atau pun toko loak. Yang namanya ada di koran,  tabloid atau pun majalah. Mereka semua adalah penulis baik dan buruknya,  kurang dan lebihnya. Mereka semua adalah manusia-manusia yang hati dan isi kepalanya bergejolak lalu tinta dan keyboardnya konsisten menari- nari. 

Maka kalau anak saya besar nanti lalu menanyakan rekomendasi buku yang sebaiknya dia baca, saya tinggal menunjukkan rak buku saya.  Di sana ada buku-buku koleksi Ibu dan Pamannya.  Dia bisa membaca yang mana saja sambil nonton Moto GP bersama Ayahnya, tanpa doktrin dan dogma sebaiknya membaca ini dan jangan baca anu. Semoga Valentino Rosi diberi umur panjang. Amin. 

Kantor,  jam istirahat. 

Sunday, July 30, 2017

Diserang Writer's Block? Lakukan 5 Hal Ini


Setiap penulis atau yang sedang meniti karir di dunia tulis menulis pasti tidak asing dengan istilah writer's block. Itu adalah kondisi di mana kamu tidak ada keinginan untuk menulis ataupun memiliki keinginan namun tidak tau mau menulis apa. Writer's block ini sebagaian besar muncul  sebagai manifestasi dari mood yang jelek ataupun susahnya membagi waktu dengan kegiatan lain.

credit


Gejala writer's block dapat berwujud kehabisan ide, sudah punya ide bingung eksekusinya bagaimana, sudah niat mantap mau eksekusi bingung kalimat pertamanya gimana, sudah punya kalimat pertama nendang konfliknya melempem, sudah punya konflik keren bingung endingnya mau diapain. 😄😅

Nah, berikut akan saya jembrengkan uraikan hal-hal yang (menurut pengalaman saya) dapat mengatasi writer's block.

1. Nonton Serial TV atau Drama

Drama India dan drama Turki berhasil menaikkan mood dan memberikan ide menulis untuk saya. Bayangkan! Ratusan episode dan penontonnya setia mengikuti. Itu kan wooww! Saya belajar bagaimana menciptakan konflik dari hal-hal yang sederhana, menciptakan karakter yang kuat and so on. Bagi yang kena Korean Wave, nonton drakor juga ampuh membangkitkan mood dan memunculkan ide menulis. Buat cowok yang tidak suka nonton drama boleh nonton film hollywood di youtube atau sekalian ke bioskop. 


2. Membaca Novel atau Kumpulan Cerpen

Kata suatu quote yang beredar di media sosial, kalau kamu sedang tidak ingin membaca, menulislah, kalau sedang tidak ingin menulis, membacalah. Seperti halnya menonton drama, membaca juga bisa memperbaiki mood dan memunculkan ide-ide untuk memulai kembali menulis. Tapi biasanya habis membaca saya seringkali terpengaruh gaya bahasa penulis yang saya baca tulisannya 😖.

dari WA saya sulit menemukan sumbernya



3. Makan Junk Food

Junk food bagi saya adalah obat pereda stres. Kalau stres hilang otomatis mood meningkat. Sesimpel itu sih. Haahha


4. Window Shopping

Sebagai perempuan yang kodratnya senang melihat yang indah-indah, saya punya hobby window shopping, ini hobby yang hemat karena hasrat melihat barang yang indah-indah tersalurkan dan uang tetap aman pada tempatnya karena saya tidak pernah tergoda untuk membeli. Saya hanya ingin lihat tanpa ada maksud memiliki. Aihhh....😅 Dan ini selalu ampuh membangkitkan mood saya. Kalau buat cowok mungkin dengan futsal atau main game kali ya...😁



5. Bergabung dengan Komunitas Menulis.

Saya pernah membahas tentang komunitas menulis itu di sini :

Buat yang Hobi Menulis

Kenapa bagi saya penting untuk bergabung dengan komunitas menulis? Karena kita jadi memiliki teman yang saling menyemangati ketika sedang dalam kondisi writer's block, teman sharing dan berbagi info-info perihal kepenulisan. Biasanya setelah sharing apalagi melihat teman lain akan menerbitkan buku saya langsung bersemangat kembali menulis. Kan nggak mau kalah!!!

Nah, saat ini saya tidak bergantung pada kegiatan tulis menulis untuk menghidupi diri saya, karena saya bergantung kepada Allah SWT melalui dompet suami 😆. Hahaha. Kidding, maksudnya saya tidak mendapatkan penghasilan utama melalui kegiatan menulis, biasanya saya menulis kalau sedang mood dan kalau ada deadline lomba ataupun deadline dari kelas menulis yang saya ikuti. Berhubung tidak bergantung pasa penghasilan menulis, biasanya kalau diserang writer's block saya selow saja. 

Tapi mungkin suatu saat nanti, jika saya harus menggantungkan diri pada penghasilan menulis, saya akan berjuang semampunya untuk lolos dari jeratan iblis bernama writer's block. 😁


#onedayonepost
#tantangankelasfiksi5

Sunday, June 4, 2017

Tips Efektif Menulis Novel di Bulan Ramadhan Ala Emak-enak Sok Sibuk

Ramadhan kali ini tiba-tiba saya ingin menulis novel. Gaya banget kan? Konsep dasar novel ini sebenarnya sudah melayang-layang dalam kepala sejak awal tahun (atau akhir tahun lalu ya? Lupa!) Tapi entah kenapa keinginan menulis itu baru mendesak belakangan ini.

Perlu diketahui bahwa saya sudah menghidari menulis novel sejak lama. Ada sepuluh tahun kali, dikarenakan tulisan yang tidak kelar-kelar. Saya mengencani cerpen dan tipe-tipe tulisan yang lebih pendek sebagai bahan pelarian. Saya suka tidak sabar menulis novel karena lama kelarnya banyak capeknya!😅😅😅

Nah, karena sekarang-sekarang ini keinginan menulis Novel itu menggebu-gebu, mana lagi puasa dan sibuk pula (sok banget!), saya melakukan langkah-langkah di bawah ini :

1. Tentukan judul yang tepat

Ini penting dan harus dilakukan. Judul dummy saja. Judul fixed nya nanti kalau naskah sudah kelar.

2. Tuliskan nama-nama tokoh dan karakternya.

Saya tidak melakukan ini ketika menulis cerpen dan merasa perlu melakukan ini saat menulis novel.



3. Visualisasikan gambar karakter.

Ini gila tapi ya, saya mencari di google dengan keyword 'cute girl' untuk mencari gambar yang kira-kira sesuai dengan karakter tokoh saya.

Gambar dari Google denga keyword 'cute girl'😅


4. Buat poin-poin penting yang akan dijabarkan dalam novel.

Sekali lagi saya tidak pernah melakukan ini ketika menulis. Saya percaya dengan kata-kata 'setiap cerita akan menemukan jalannya sendiri' namun kali ini saya melakukannya untuk mempertahankan alur tetap pada rel nya.



5. Estimasikan jumlah halaman.

Saya rencanakan novel saya nanti berjumlah 150 halaman a4 di mana masing-masing bab terdiri dari 10 halaman. 

6. Tentukan target.

Saya menargetkan diri saya untuk menulis sebanyak minimal 5 halaman/hari dan semoga Ramadhan ini draft novel saya bisa rampung.

7. Pastikan anak dan suami sudah bobo.

Saya hanya bisa menulis dalam keheningan. Jadi kalau ada anak kecil kesana kemari dan orang dewasa yang ajak ngomong saya benar-benar tidak bisa menulis. Saya banyak menulis di atas jam 10 malam atau selepas sahur.

Menulis novel di bulan Ramadhan akan membuat puasamu tidak terasa. Tentu saja dengan tidak mengabaikan amalan-amalan ibadah lainnya.

Selamat menulis dan berpuasa. 😘😘😘

Wednesday, May 10, 2017

Blog yang Tematik



Blog saya ini, sesuai namanya, isinya benar-benar random yang didominasi dengan curhatan tidak jelas khas perempuan dengan mood swing yang parah. 😁😁

Lalu suatu ketika saya ngobrol dengan seorang teman tentang proyek menulis kecil-kecilan. Menulis tentang pekerjaan saya di kantor dengan bahasa yang ringan sehingga dapat dibaca oleh orang yang awam sekalipun.

Tercetuslah sebuah ide untuk menambah 1 tag dalam blog saya yaitu Balada Analis Kredit (BAK).

Baca awal mula BAK di sini :

Nah, demi totalitas dalam menulis BAK ini saya memesan sticker lucu dengan harga Rp.350.000/pack di Mbak Nahla. 1 pack isinya 6 biji dan saya puas banget sama hasilnya.

Saya mulai buat postingan dengan tagging BAK dan share di grup WA One Day One Post serta facebook dan saya sama sekali tidak menyangka respon pembaca sangat positif.

Saat ini sudah ada 4 postingan dengan tag BAK dan keempat-empatnya mendatangkan jumlah view yang luar biasa selama empat hari ini.

Lihat yang di sisi kanan gambar mata menunjukkan jumlah view masing-masing postingan.

Dari gambar di atas, bisa dibandingkan jumlah view ke empat postingan teratas saya yang ke empat-empatnya memiliki konsep yang jelas, dengan postingan sebelumnya yang temanya random.


Saya ingin bilang jangan melemahkan kekuatan media sosial untuk mempromosikan tulisan kita. Postingan saya ini di share tidak lebih dari 10 kali  di facebook namun sudah memberikan damapak yang luar biasa. Jika saya bandingkan dengan postingan saya yanh plain, untuk jumlah view segitu saya butuh mungkin setahun mungkin lebih. Dan dalam empat hari, ke empat postingan saya itu masuk dalam jajaran popular post di blog saya mengalahkan postingan saya dari tahun 2013 ....hwaahhhhhh


Langsung masuk popular post hanya dalam 4 hari.


Selain menggunakan kekuatan media sosial, saya jadi berpikir apakah konsep yang memiliki tema seperti ini lebih banyak mendatangkan pembaca? Saya jadi berpikir untuk membuat blog saya menjadi tematik. Parenting kah? Food blog kah? Travel blog kah? Blog untuk menulis fiksi saja kah? Atau saya tetap menulis sesuai dengan apa yang ingin saya tulis saja kah? 

Bagaimana menurut pengalaman teman-teman?

Monday, April 17, 2017

Menembus Barikade Femina



Jadi, pagi ini di tengah tekanan target ekspansi di kantor  dan tekanan batin karena ditinggal suami ke luar kota 😅 saya mendapatkan sms dari FEMINA. Ulang sekali lagi! Saya dapat SMS dari FEMINA. Ya Allah! Rasanya pengen sujud syukur cium lantai. Tapi mendadak ingat saya sedang di kantor 😄.



Sms nya sih 'hanya' meminta konfirmasi perihal orisinalitas tulisan. Sms seperti itu mungkin hal biasa banget bagi penulis kaliber yang namanya sudah malang melintang di media, tapi bagi saya yang hanya butiran debu ini, itu adalah sesuatu yang bisa disebut ANUGERAH. Dan ini adalah Femina. Media yang menolak cerpen saya sekitar 5 tahun yang lalu dengan surat resmi. Bayangkan! Ditolak pakai surat resmi itu ternyata lebih sakit daripada digantung tanpa kabar. Sejak itu saya trauma!

Kemudian pada suatu ketika, seorang teman di FB membagikan postingan tentang Gado-Gado Femina (terimakasih mbak Intan Puspita Dee) lalu saya pikir, kenapa tidak? Jadilah saya coba kirim di bulan Februari. Setelah kirim saya baru mengetahui beberapa hal tentang Gado-Gado Femina, antara lain ternyata untuk judul usahakan dua suku kata saja. Punya saya tiga suku kata. Baru judul sudah gagal. Yo wesslah. Niatnya mau saya perbaiki dan kirim ulang karena hingga bulan April tak kunjung ada kabar. Eh ternyata... Tuhan baru menjawab doa saya sekarang melalui sebuah SMS dan disusul email konfirmasi pemuatan.

Yap, ini 'hanya' sebuah artikel Gado -Gado tapi saya sudah senang luar biasa karena itu artinya saya sudah bisa menembus barikade femina yang tebal berlapis-lapis dan berkali-kali penyaringan. 😅 (ini tabloid apa minyak goreng?) Meskipun melalui pintu samping. (Bagi saya pintu utamanya tetap cerpen atau cerbung).

Berikutnya saya kembali menyasar rubrik CERPEN. Oke, FEMINA, jangan tolak saya lagi, plisssss....😳

Thursday, January 12, 2017

Buat yang Hobi Menulis, Temukanlah Komunitasmu!


Gambar dari sini

Sore-sore.

Masih di kantor. 

Memanfaatkan fasilitas wi-fi kantor demi menulis blog tidak apa-apa kan ya? heheh.

Jadi, untuk mengejar ketertinggalan kaidah One Day One Post di mana seharusnya saya berkewajiban memposting 1 postingan setiap harinya, yang belakangan ini mulai susah diikuti ritmenya, maka saya bela-belain lah pulang sedikit lebih lama demi bisa kejar 1 postingan dulu.

Di postingan yang tak kalah random hari ini (namanya juga Memoar Random. Hoho) saya ingin menghimbau kepada seluruh penduduk bumi yang suka menulis untuk mencari komunitas yang dapat menunjang hobi tersebut. Ingat, menulis itu adalah hobi yang dapat menekan tingkat stres seseorang loh. Tidak percaya? Pernah mendengar, membaca atau menonton film Habibie-Ainun? Film itu adalah manifestasi buku yang ditulis oleh Pak B.J Habibie untuk mengatasi rasa dukanya sepeninggalan istri tercinta. Psikolog (atau psikiater atau dokter) Pak Habibie sendirilah yang menganjurkan beliau untuk me-realese ke-stres-an Pak Habibie dengan jalan menuangkan kenangan-kenangan tentang Ibu Ainun ke dalam sebuah tulisan.

Sekarang lihatlah apa yang bisa dihasilkan oleh orang yang tengah berduka cita melalui tulisan?

So, dapat disimpulkan, menulis itu bukanlah hobi sembarang hobi. :)

Nah, saya juga pernah mendengar kutipan seperti ini entah darimana "untuk menulis bisa dilakukan sendiri, untuk menjadi seorang penulis butuh orang lain". Saya mengartikan orang lain dalam hal ini adalah komunitas. Bayangkanlah betapa menyenangkannya jika kamu bisa berada di sekeliling orang-orang yang juga punya hobi sama denganmu. Saling support ketika jenuh, saling memberi informasi, saling memberi hadiah (jika kamu menang kuis yang diadakan oleh anggota lain dalam komunitasmu. Heheh)

Apa tujuan saya menulis? Dulu sih, untuk mendapat uang dan popularitas. Hahahah, greedy banget ya saya jadi orang. Ketika tulisanmu di muat di media cetak ataupun elektronik maka kamu akan mendapatkan keduanya. Iya, uang dan popularitas itu. Uang sebagai honor, popularitas sebagai credit yang akan semakin mengibarkan namamu dalam dunia kepenulisan. 

Kelak, jika karyamu terlalu sering muncul di media, maka editor tidak akan lagi memusingkan tema apa yang sedang kau angkat, tanda baca apa yang luput kau letakkan, kelebihan berapa karakter tulisanmu, melainkan akan langsung memuatnya dan senang ada penulis kaliber mengirimkan tulisan pada mereka. Ya, itu konsekuensi kalau bisa terkenal lewat tulisan. Dan itu kayaknya angan yang masih jauuuuuuuh sekali dari relaita saya saat ini. :P

Pada kesempatan kali ini saya ingin memberikan informasi tentang komunitas menulis yang saya ikuti. Dikarenakan keterbatasan waktu (saya memang sok sibuk) seluruh komunitas menulis yang saya ikuti adalah komunitas menulis online. Ada beberapa kelebihan dan kekurangan menjadi member pada komunitas menulis secara online, namun saya tidak hendak membahasnya sekarang. 

Nah, berikut adalah komunitas menulis yang saya ikuti :


1. KOMUNITAS BISA MENULIS (KBM)

Komunitas menulis yang didirikan oleh Asma Nadia dan Isa Alamsyah (suami). Berbasis facebook dengan anggota lebih dari 160.000 (wow!). Tahu Asma Nadia kan? apa? belum tahu? coba googling dari sekarang ya.



2. One Day One Post

Komunitas menulis yang mewajibkan anggotanya untuk memposting 1 tulisan setiap hari di blog. digagas oleh Bang Syaiha, seorang penulis, seorang guru, seorang ayah. Komunitas ini berbasis web dan Whatsapp.

Link web One Day One Post :http://onedayonepost.org/

Untuk gabung, colek Bang Syaiha di : http://www.bangsyaiha.com/


3. LovRinz and Friends

Komunitas menulis sekaligus penerbit berbasis fb. Didirikan oleh mbak Rina, pemilik penerbitan bernama LovRinz. LovRinz ini sendiri sudah mencetak buku-buku dengan berbagai tema.

   

4. Kumpulan Emak Blogger (KEB)

Komunitas yang menghimpun wanita-wanita di seluruh Indonesia tanpa batasan usia dan status dan suka menulis, untuk berkumpul dan berbagi menjadi lebih baik.

Ini sedikit penjelasan yang saya ambil dari blog resmi KEB :

"Kumpulan Emak Blogger  atau yang biasa disebut KEB adalah komunitas blogger perempuan Indonesia. Anggotanya terdiri dari ribuan blogger perempuan dari berbagai komunitas blogger Indonesia, baik yang berdomisili di dalam maupun di luar negeri"

WOW ! Sampai di luar negeri juga ternyata jangkauannya.

Link Kumpulan Emak Blogger : http://emak2blogger.com/


Sampai dengan ketika menulis ini saya baru mendapat approval melalui email untuk mengonfirmasi bahwa permintaan untuk join saya diterima. Tapi, masih ada beberapa langkah lagi yang saya lakukan untuk bisa resmi bergabung. 

Doakan saya bisa diterima yaaaa! 


Nah, itulah seluruh komunitas-komunitas menulis yang saya ikuti. Kalau kamu?


Monday, October 31, 2016

Sedang Ingin Membuat Novel

Saya sedang berpikir untuk membuat sebuah novel ringan yang manis (meski tulisan saya sebelum-sebelumnya tidak bisa dibilang berat). 

Cova -coba mulai buat paragraf per paragraf. Tanda baca saya berantakan, tapi akan saya edit seiring waktu. Mood saya lebih berantakan lagi. Belum pula membagi waktu antara kerjaan kantor, ical (suami saya) dan baby ahmad.

Tapi, biarlah saya mencoba. Meski mungkin proses ini memakan waktu lama. Hiksss..


Ini cuplikan novel yang sedang saya rencanakan.


Marry Me or You Die


Aku sedang menunjukkan grafik laba perusahaan kami yang menukik tajam di smester pertama ketika bunyi sepatu high heels terdengar tergesa-gesa menuju ruang meeting.

Pintu terbuka dengan kasar dan sepintas kulihat seorang wanita berambut panjang dengan blazer hitam dan dress merah selutut. Di belakangnya, satpam yang menjaga pintu masuk tergopoh-gopoh.

"Nona, anda ma..." kalimatnya belum selesai ketika secepat kilat wanita yang kutaksir usianya di penghujung angka dua puluh itu merogoh tas jinjingnya.

Memoriku belum pula selesai memindai wajah asing tersebut saat dari dalam tasnya ia mengambil dan menodongkan senjata ke arahku.

Sontak, jeritan histeris peserta meeting membahana.

Satpam kantor yang biasa kusapa dengan Bang Jul melongo dengan mulut membuka sempurna.

"Bapak Al Gibran Dirgantara," Suara perempuan itu, entah bertanya entah menggertak.

"I..iya, saya sendiri," Aku memutuskan untuk menjawab di tengah berbagai perasaan yang berkecemuk. Didominasi rasa penasaran akan siapa gerangan wanita yang menodongkan senjata padaku ini dibandingkan rasa takut kalau-kalau tangan lentik itu memutuskan menarik pelatuk.

"Jika ada yang coba-coba menghubungi polisi, maka Anda yang akan menanggung akibatnya!" Kali ini aku yakin dia menggertak.

Aku melirik ke arah Bang Jul dan membiri isyarat untuk tidak melakukan apapun.

Mau apa sebenarnya perempuan ini? Mau merampok bank rempatku bekerja? Harusnya dia melakukan itu di lantai satu, tempat nasabah bertransaksi di teller, bukannya di lantai lima. Di unit kredit.

"Aku Carissa Chairani. Semoga kau ingat siapa aku." Wanita itu berkata lagi. Baru kali ini ada penjahat yang memperkenalkan diri.

Memoriku memulangkan ingatanku pada kejadian satu bulan yang lalu, ketika aku mulai mendapat terror di telepon. Mulai dari mengajak bertemu hingga mengancam akan melakukan tindakan gila jika aku tidak menemuinya dan mengabulkan permintaannya.

Tentu saja semua telepon dan ajakan bertemu itu kuabaikan. Aku tidak mengenal wanita itu, aku tidak berniat mengenalnya dan aku tidak peduli siapa dia. Selain itu permintaannya sungguh tidak masuk akal. Dia meminta...

"Marry me, or you die with missery." Wanita yang bernam Carissa itu kembali membuka suara. Tangannya masih menggenggam pistol yang ditodongkan padaku.

🐾🐾🐾

"Al Gibran Dirgantara," aku mengeja namanya sambil meng 'googling' nama itu. Keluar beberapa hasil pencarian yang merujuk pada facebook dan linkedIn.

"Udah ketemu, Ris?" Lena membaringkan tubuhnya di sampingku. Menjejalkan kepalanya ke depan layar laptop. "Ih, cute juga ya orang ini."

"Apaan sih?!" Aku menjitak kepala Lena. Sahabat baik sekaligus rekan kerjaku di perusahaan. Ia interior designer. Aku arsitek.

"Kamu serius nih mau cari orang ini? Kamu yakin ini orang yang dimaksud Opa kamu?" Lena bertanya memburu.

"Aku serius. Tapi aku nggak yakin ini orangnya. Bisa saja ada banyak orang yang memiliki nama seperti ini di dunia,"

"Tapi tadi cuma satu kan hasil pencariannya di facebook. Eh, coba lihat di linkedIn. Dia kerja dimana sih?" Lena mengambil alih laptopku dan mulai mengutak-atik informasi seputar lelaki bernama Al Gibran Dirgantara. Lelaki yang disebutkan Opa dalam surat wasiatnya.

Hari ini 40 malam kematian Opa. Keluarga satu-satunya yang kumiliki sejak orang tua dan kakakku meninggal dalam sebuah kecelakaan mengenaskan 20 tahun yang lalu. Ayahku, pewaris tunggal perusahaan pengembang milik Opa. Ketika Ayah meninggal rupanya Opa mengganti seluruh isi surat wasiat. Pengacara keluarga kami membacakannya di minggu pertama setelah kematian Opa padaku.

"Seluruh kekayaan pribadi dan saham perusahaan milikku kuwariskan sepenuhnya tanpa terkecuali ke satu-satunya cucuku, Carissa Chairany' dengan satu syarat. Ia harus menikahi seorang pemuda bernama Al Gibran Dirgantara anak dari Haris Dirgantara, cucu dari Rasyid Umar Dirgantara," Om Beno, pengacara keluarga kami membacakan isi surat wasiat Opa, "Jika Carissa menikahi pemuda lain, maka ia hanya behak atas 1 unit rumah tipe 36 yang ada di perumahan Permata Jaya dan panti asuhan. Dia boleh memilih rumah yang mana.  Sedangkan seluruh aset dan saham atas namaku kuhibahkan ke badan amal negara dan pengelolaan sepenuhnya menjadi tanggung jawab badan amal tersebut."

Aku terkejut mengetahui isi surat wasiat Opa. Siapa Al Gibran Dirgantara? Kenapa Opa ingin aku menikahinya? 

"Eh, udah ketemu nih. Dia kerja di bank. Kebetulan aku punya teman yang kerja di bank ini juga. Aku telponin ya."

Aku mengangguk tanpa antusias.

" Halo, Win. Kamu masih kerja di tempat lama kan? Bagus. Kamu kenal sama Al Gibran Dirgantara nggak? Hah?!supervisor kamu?"

Aku mulai mendengar dengan antusias. "Tanyain nama bapaknya siapa," Aku berbisik.

"Tau nggak nama bapaknya siapa? Nggak kenapa-napa sih. Tolong cari tau dong nama bapak dan nama kakeknya. Hahaha. Nggak, aku nggak sedang bercanda. Mau aku prospek. Kali aja bisa kasih masuk penawaran desain interior ke bank kamu. Oke deh. Aku tunggu loh ya. Nggak lah! Aku nggak naksir. Kenal aja nggak. Hah? Udah punya tunangan? Udah prewed? Iya sih lumayan ganteng."

Aku memukul punggung Lena dan menatapnya dengan wajah 'nggak- usah-ngelantur-kemana-mana pembicaraannya-please!'

"Kenapa kamu protes?!" Lena berseru padaku setelah menutup ponselnya. "Ini penting. Kalau dia sudah punya tunangan, kecil kemungkinan kamu bisa merried sama dia kan?"

"Siapa bilang aku mau merried sama dia?" Bantahku.

"Oh, ya? Lalu? Bagaimana anak asuhmu. Siapa yang mau kasih makan dan biayai sekolah mereka. Gaji plus bonus plus hasil jual rumah tipe 36 tidak akan cukup bahkan hanya untuk uang makan sebulannya mereka. Beli susu gimana? Bayar uang sekolah gimana?"

Lena memarahiku seperti ibu memarahi anaknya. Aku bahkan nyaris lupa bagaimana rasanya dimarahi oleh ibu. Ibuku meninggal saat usiaku baru enam tahun.

Sesungguhnya aku tidak peduli seliruh kekayaan Opa mau dikemanakan olehnya. Jangankan rumah tipe 36, aku bahkan bisa hidup dengan membayar kos bulanan. Gajiku sebagai arsitek sudah lebih dari cukup untuk menghidupi diriku. Tapi tentu saja tidak cukup untuk membiayai panti asuhan keluarga yang di dalamnya tinggal 200-an anak dari yang  masih bayi merah hingga yang sudah lulus SMA.

Kenapa Opa begitu tega membiarkan ke-200 anak itu terlantar dengan surat wasiat yang tidak masuk akal. Aku tahu rasanya menjadi yatim piatu. Aku tidak mau, mereka yang yatim piatupun, harus merasakan hidup terlantar.

Lena mengusap air mata yang tidak terasa mengalir di pipiku.

"Aku tau kamu bukan perempuan tamak yang haus kekayaan, Ris. Tapi kamu harus berjuang suapaya 200 anak asuh mu itu bisa hidup."

Ponsel Lena kembali berbunyi. Ia menjawabnya dengan antusias, "gimana Win? Ooo, Nama bapaknya Haris. Nama kakeknya Rasyid. Mereka tinggal dimana sih? Hah? Di kota ini juga? Oke, thank you ya infonya. You are the best darling."

Lena kini menatap ke arahku. "Sekarang pilihan ada di tanganmu sepenuhnya, Carissa."

Aku mengangguk. Aku tahu kok Len, apa yang harus aku lakukan.

🐾🐾🐾

Tuesday, July 26, 2016

Padahal Aku Sudah Ingin Dinikahi Penulis

Padahal aku sudah ingin dinikahi saja oleh penulis.

Kala imajinasiku membumbung, ia sanggup menyambung, bukannya menambah gravitasi sehingga pikiran sulit melayang dan konsentrasi.

Kau tahu, aku tahu, bahwa kau bukan seorang penulis. Pembaca handal pun tidak. Lalu bagaimana aku bisa berbagi tentang halaman buku yang baru saja aku lewati.

Pergi ke toko buku pun kau lebih memilih menunggu di luar makan takoyaki.

Ah, padahal aku ingin dinikahi saja oleh seorang penulis. Yang kalau sedang serius pasti sangat manis. Bukan yang ketika mendengar ide cerita malah meringis.

Tapi kemudian aku sadar bahwa kau adalah setiap kata yang menghimpun paragraf, kau adalah koma pada kalimat-kalimat buntu, kau adalah spasi pada dialog tak berkesudahan.

Tapi kemudian aku sadar bahwa sebenarnya kau lebih suka bercerita. Kau bahkan sanggup menceritakan kisah malam ke 1002 padahal orang-orang pikir sudah tamat di malam ke 1001.

Lalu aku sadar kau pendongeng handal, meski satu-satunya buku yang kau tamati adalah buku motivasi karya Robert T Kiyosaki.

Lalu aku sadar kau adalah pencerita ulung yang tidak pernah kehabisan ide bercerita. Kau hanya tidak sanggup menuliskannya dalam kata-kata. 

Sejak dulu kau adalah setiap kata yang aku tulis. Sekarang dan seterusnya, isi kepalamu adalah apa yang aku tulis.

Kau ada sehingga aku tidak kehabisan cerita.

Monday, April 18, 2016

Golden Time



Kepindahan saya ke unit yang baru di kantor (awalnya saya berada di unit analisa kredit, saat ini dipindahkan ke unit pemasaran) dengan target penyaluran kredit yang tidak bisa dibilang sedikit membuat saya kesulitan memperoleh waktu yang tepat untuk menulis. Saya menyebutnya Golden Time.

Kabar baiknya, di unit yang baru ini saya jarang berada di kantor melainkan kesana kemari berjumpa dengan orang-orang baru untuk membina hubungan dan meyakinkan mereka bahwa produk perbankan di tempat saya bekerja adalah yang paling baik. Bertemu banyak orang adalah salah satu kesenangan saya. 

Dikejar target juga membuat saya kerap tidak sadar betapa waktu juga berlari di depan saya. Eh, tahu-tahu sudah jam pulang kantor. Tahu-tahu sudah weekend. Ini membuat saya menikmati pekerjaan tanpa sempat punya waktu untuk berkeluh kesah. Hehehe. Dulu di unit analisa, pekerjaan pun tak kalah banyak. Namun semuanya dilakukan di kantor. Rasa bosan pun seringkali melanda. Saya adalah orang yang extrovert, jadi kebutuhan bersosialisasi sangat tinggi. Hahhaha.

Kabar buruknya, sejak kepindahan di unit yang baru per 1 April 2016, saya kesulitan menemukan Golden Time. Pulang kantor paling cepat jam 7 malam. Lebih sering lewat jam 8. Sampai di rumah sudah sangat lelah, namun yang utama harus menghabiskan sisa-sisa hari dan tenaga bersama keluarga. Syukur-syukur jam segitu baby masih bangun. Jadi bisa main-main sebentar sambil menemani suami ngobrol. 

Nah, setelah baby dan suami tidur itulah Golden Time saya. Itu sekitar jam 11 malam sampai jam 2 dini hari. Karena kegiatan di kantor yang begitu padat, saya biasanya sudah tidak sadarkan diri ketika memasuki Golden Time. Bangun jam 5 subuh diikuti bangunnya si baby membuat waktu menulis makin sedikit saja. 

Jadi benar-benar, Golden Time saya sangat sulit dicapai. Namun, ketika bisa mencapainya, saya seringkali puas dengan apa yang telah saya tulis. Saya pernah membuat cerpen hanya dalam waktu 2 jam saja. Tapi pernah pula berminggu-minggu bahkan bulan. 

Ada 2 deadline menulis menanti di bulan ini dan saya belum menulis apapun. Salah satunya baru ditulis 1 halaman. Semoga saya bisa menyelesaikannya sesuai komitmen saya di awal tahun. Saya akan berusaha semaksimal mungkin dan berdoa semoga Allah menghadirkan lebih banyak Golden Time buat saya. Amin.

Tuesday, March 1, 2016

4 Hal yang Dapat Membuat Penulis Best Seller Gagal

Hari Sabtu kemarin kantor saya mengadakan seminar motivasi yang dibawakan secara menarik dan atraktif oleh seorang motivator bernama Remaja Tampubolon. Kalau googling namanya pasti akan banyak link merujuk ke beberapa judul buku. Ya, selain motivator, beliau adalah penulis buku dan juga merupakan mantan petinggi salah satu bank swasta. Saya tidak tahu (dan juga beliau tidak cerita) soal bagaimana kisahnya dari seorang pegawai bank bertransformasi menjadi seorang motivator dan juga penulis beberapa buku motivasi best seller.

Yang ingin saya sampaikan melalui tulisan ini adalah poin-poin penting materi motivasinya yang sepertinya dapat diterapkan dalam dunia kepenulisan. 

Kata Bang Jaja (sapaan akrab pak Remaja Tampubolon), ada 4 hal yang membuat kita tidak dapat melakukan perubahan, sehingga boro-boro dapat mencapai target, menyamai target sebelumnya pun akan sulit. 4 hal itu adalah marah, takut, hidup di masa lalu dan hidup di zona nyaman.

Tidak ada kesuksesan yang terulang dengan menggunakan strategi yang sama. Sederhananya, jika tahun ini kita sukses meraih suatu pencapaian dengan strategi A, tahun depan dapat dipastikan kita tidak akan lagi meraih kesuksesan yang sama jika menggunakan strategi A kembali. Sebabnya, tantangan lebih besar, pesaing lebih banyak, tuntutan lebih beragam. 

Yang dimaksud dalam seminar tersebut adalah mengenai kinerja pemasaran produk kantor saya. Namun, hal ini dapat diterapkan dalam dunia kepenulisan. Jika tahun ini kita telah menjual novel best seller dengan strategi tertentu yang kita miliki misalkan, riset yang mendalam, memiliki komunitas untuk pemasaran yang luas,ide cerita yang unik, penerbit yang bersahabat, kemudian novel kita meledak di pasaran. 

Tahun depan dengan strategi yang sama kita tidak akan mencapai kesuksesan yang sama sebab penulis novel dengan tema yang unik sudah lebih banyak, persaingan di penerbit semakin ketat, tuntutan pembaca semakin beragam. Bisa jadi tahun lalu novel dengan genre romance menjamur, namun tahun ini telah bergser ke genre science fiction.

Sekarang, saya ingin menguraikan sedikit (mungkin agak banyak ke 4 hal yang membuat kita tidak bisa berubah dan mungkin membuat penulis best seller tidak lagi menghasilkan karya yang spektakuler) yakni :

1. Rasa Marah

Rasa marah bersifat merusak. Dalam kepenulisan, rasa marah dapat ditimbulkan oleh banyak hal. Ide yang tak kunjung menyala, sudah punya ide mood nya terbang entah kemana, sudah punya mood nggak tau endingnya mau dibawa kemana. Akhirnya dead line lewat begitu saja. Segala hal itu membuat marah dan kesal. Kalau berlarut-larut tulisan bisa jauh dari kata selesai. Ketika menghadapi perasaan marah, berhentilah menulis! Membacalah, berceritalah dengan sahabat, jalan-jalanlah, makanlah. Lakukan kegiatan yang kita sukai.

2. Rasa Takut

Saya menafsirkannya sebagai rasa tidak percaya diri. Tidak percaya diri pada tulisan kita. Merasa tulisan kita jelek, tidak mutu, dangkal, kerdil, justru tidak akan menghasilkan apapun. Saya teringat status salah satu junior saya di kampus dulu yang hobi banget jalan-jalan pakai Air Asia (karena tiketnya sangat terjangkau bagi kantung mahasiswa) bahkan ketika ada insiden peswat Air Asia Surabaya-Singapur yang crash dia tidak takut dan tetap bersemangat browsing tiket murah. Ketika banyak yang menanyakan apakah dia tidak trauman naik Air Asia,dia update status "Fear gets you nothing".  Ketakutan tidak akan membawamu kemanapun. Ketakutan tidak akan memberimu apapun. 

So, beranilah! Percayalah pada tulisanmu. Bagaimana mau jadi penulis best seller jika mengirimkannya ke penerbitpun kamu masih malu.


3. Hidup di Masa Lalu

Kesalahan terbesar penulis best seller adalah larut dalam euforia kejayaan masa lalu. Sekali tulisannya berjaya di pasaran, dia tidak mau lagi belajar, tidak mau lagi menambah pengetahuan, enggan dikritik, enggan diberi saran. Merasa diri paling hebat. 

Sungguh, sekalipun tulisanmu adalah satu-satunya di dunia ini karena idenya begitu unik, lepaskanlah jubahmu, kosongkanlah gelasmu. Belajarlah lagi dan lagi, lebih dan lebih. Sejago apapun kami menulis, kamu tidak akan menang melawan perubahan. Jangan terlalu berlarut-larut menikmati kejayaan.


4. Hidup di Zona Nyaman.

Bang Syaiha, pendiri komunitas menulis One Day One Post pernah berpesan," Celakalah orang yang menulis hanya karena mood". Ya, itu 100% benar. Ide yang bermunculan, alur yang mengalir, diksi yang meletup-letup, genre yang dikuasai, mood yang mendukung adalah zona nyaman bagi seorang penulis. Tentu saja dengan keadaan seperti itu akan lahir karya yang spektakuler. Namun keadaan demikian sangat jarang terjadi. Ditambah tuntutan pembaca yang semakin beragam. Kalau mau jadi penulis, janganlah hanya hidup di zona nyaman. 

Penulis itu adalah orang yang tetap berkarya dikala ide sedang pas-pasan, genrenya tidak dikuasai (sebab dituntut mengikuti permintaan pembaca), alurnya maju mundur (cantik).

Jadi, janganlah takut memberikan target pada diri sendiri. Janganlah takut menantang diri sendiri. Kalau biasanya menulis romance yang merah muda, cobalah tulis romance thriller (bagaimana itu ya?) atau romance depresi, atau romance religi, atau misteri yang 180 derajat berbeda.

Demikianlah uraian singkat (apa?! Singkat?) mengenai 4 hal yang dapat membuat penulis (bahkan penulis best seller sekalipun) tidak berubah ke arah yang lebih baik.

Berikutnya ada 5 hal yang akan membantu penulis mencapai kesuksesannya. Apa sajakah itu? Nantikan ulasan saya di postingan berikutnya. 

#OneDayOnePost

Sunday, February 28, 2016

Menjadi Penulis : Sebuah Nasehat Tidak Penting.

Saya sudah mencintai dunia ini jauh-jauh hari. Sebabnya sejak kecil saya sudah mengakrabi segala jenis buku bacaan mulai dari komik Detective Conan hingga kumpulan cerpen Putu Wijaya. 

Ketika duduk di bangku SD, teman sebangku saya adalah seorang penulis ulung. Dia yang menularkan semangat menulis itu. Berbekal buku tulis dan pulpen tinta cair. Yup! Kami menulis di buku tulis hingga puluhan banyaknya dan saling memberi saran. Nama teman saya itu Gabriella. Ketika SMA saya dibelikan komputer oleh Ibu, saya toh tetap menulis di buku tulis. 

Sejarah lengkapnya perjalanan menulis saya bisa di lihat di sini.

Sebagai penulis amatir, saya sadar saya masih jauh dari kata 'bagus'. Saya juga belum menelurkan satu bukupun. 

Pencarian akan jati diri tulisan (genre) juga masih Dalam proses dan belum ketemu. Intinya, saya tidak ada apa-apanya dibanding penulis lain. Tapi saya adalah pembelajar yang baik, pembaca yang tangguh, dan pengambil resiko yang ulung. Yap, saya takkan gentar meski beberapa redaksi tabloid menolak cerpen saya. Hehehe.

Apakah cita-cita saya adalah penulis ketika kecil dulu? Tentu saja bukan! Cita-cita saya dulu adalah dokter. Lebih spesifik, dokter bedah. Apakah tercapai, tentu saja tidak. Hahahahahah. Menulis adalah passion saya. Cara saya melarikan diri dari rutinitas yang seolah mematikan krearivitas. Jika diapresiasi oleh orang lain adalah hal yang sangat luar biasa bagi saya, jika dimuat di tabloid ataupun memenangkan lomba, itu bonus. Bonus yang luar biasa.

Saat ini saya sedang tergila-gila dengan beberapa penulis. Dan saya cenderung -tanpa sadar-meniru genre penulis-penulis yang saya kagumi itu. Siapa saja mereka bisa dilihat di sini.

Saya percaya kepiawaian menulis itu bukan bakat sehingga tidak bisa diwarasi melalui gen, melainkan keterampilan, layaknya menyulam ataupun memasak. Practise makes perfect. Latihan membuatnya sempurna. Meskipun standar sempurna dalam dunia kepenulisan sangatlah ambigu di luar konteks masalah EYD maupun pemilihan diksi.

Bagi seseorang, suatu karya sastra dapat saja sangat indah, namun bagi saya biasa saja. Sungguh, ini hanya masalah selera. Untuk itulah, terus sajalah menulis dengan gayamu. Tidak usah muluk-muluk ingin meniru si A, si B. Masing-masing tulisan akan menemukan pembacanya sendiri. 

Karena menulis itu menjadi sempurna dengan latihan, maka menulislah dari sekarang. Tidak cukup hanya dengan berkata "saya ingin menjadi penulis" lalu belum menulis apapun. Ketika ditanya orang tulisan apa yang sudah dibuat kamu hanya bisa nyengir sambil garuk kepala yang tidak gatal "ini baru mau ditulis". Bahkan orang yang telah menulis banyak halpun belum bisa dikatakan penulis jika BELUM DIBACA oleh orang lain. Tidak usah muluk-muluk bisa menginspirasi orang lain. Dibaca saja dulu lah.

Maka, rumus saya, ketika ingin menjadi penulis, menulislah. Orang lain tidak perlu deklarasi diri. Yang mereka butuhkan adalah karya. Toh mereka tidak terlalu peduli siapa kamu, karena yang ingin mereka baca adalah tulisanmu. 

Apakah ada yang kecewa dan protes ketika mengetahui Tere Liye adalah seorang lelaki tulen? Tidak ada! Karena karya-karyanya sangat indah dan menginspirasi. Mengenai jenis kelamin sungguh tidak masalah. Apakah ada yang marah karena Illana Tan tidak menunjukkan jati diri sebenarnya? Tidak ada! Paling hanya mengundang sedikit penasaran karena penulis buku sekuel best seller itu masih misterius. 

Itulah bukti, bahwa industri ini tidak mementingkan siapa dirimu. Bodo amat tentang bagaimana rupamu, sepanjang tulisanmu dibaca, maka kamu layak disebut PENULIS. 

Selain hal-hal yang disebutkan di atas, yang juga mendorong saya untuk mencintai dunia ini, adalah seorang senior ketika kuliah dulu yang berkata "menulislah! Maka kau akan hidup lebih kama dibanding usiamu." Kalimat itu sangat membekas dalam otak saya, padahal yang menggeluarkan kalimat itu sudah lupa dia pernah berkata demikian.

Ya, menulislah! Sebab penulis adalah manusia abadi sepanjang masa. Tidak percaya? Lihat ulasan saya di sini.

Sekian tulisan (tidak terlalu) penting ini. Semoga dapat memberi manfaat meski sedikit.

Salam.

Saturday, February 13, 2016

Next Target : A.A Navis Award 2016


Saya sudah pernah bilang kan kalau saya lagi getol-getolnya berburu lomba menulis? Eh, belum pernah bilang ya? Sudah deh perasaan!

Setelah terseok-seok dengan sastra hijau seperti yang saya posting di SINI, yang menyebabkan saya jadi lumayan down dan enek baca apapun,heheh,maka target saya selanjutnya adalah lomba AA Navis Award (target dapat berubah sewaktu-waktu tergantung event apa yang terdekat).

Nah, soal A.A Navis Award selanjutnya dapat dicari di Google. Banyak sekali informasi yang merujuk ke event ini. 

A.A Navis sendiri adalah seorang penulis yang karyanya tak lekang oleh waktu. Dialah empunya cerpen "Robohnya Surau Kami" jujur saja saya baru belakangan ini baca cerpen tersebut. Tapi, rasa-rasanya judul cerpen itu sangat familiar di telinga sejak dulu.

Event ini sendiri menurut saya sangat unik. Diselenggarakan oleh 3 institusi berbeda yakni sebuah universitas di Indonesia, sebuah Universitas di Australia dan sebuah penerbit dalam negri.

Event ini bukan hanya memperlombakan cerpen, namun juga novel. Bagi tulisan terbaik Dan terpilih akan akan diberi hadiah, diterbitkan dan yang lebih istimewanya lagi diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris untuk dikonsumsi oleh masyarakat international (itulah sebabnya salah satu stakeholder event ini adalah universitas di Australia).

Anda tertarik mengikuti tantangan ini? Saya juga. Dan saya telah mempersiapkan diri dengan mulai membaca karya-karya A.A Navis sejak sekarang supaya memiliki gambaran bagaimana kriteria tulisan yang diinginkan. Oh, ya deadlinenya masih lama. Kalau tidak salah sekitar bulan Mei, jadi persiapannya masih bisa dimatangkan lagi.

Keep writing!

#OneDayOnePost
#FebruariMembara
#HariKeSepuluh

Wednesday, February 10, 2016

Cerita Anak Dan Genre Tulisan yang Random


Sepertinya konsep Mestakung (semesta mendukung) benar-benar sedang terjadi pada saya. Saya sangat percaya dengan teori-teori tentang alam raya yang seolah memiliki "echo" dan dapat memantulkan kembali segala afirmasi yang kita ciptakan dalam pikiran. Bukankah Tuhan juga telah berkata "Aku adalah seperti persangkaan hambaku"? Jadi ya, berpikirlah yang positif terus, bercita-citalah yang tinggi(selagi gratis ini), dan berdoalah tanpa tanggung-tanggung (yang banyak dan WAH sekalian).

Di tahun 2016 saya ingin punya resolusi biar hidup tidak lempeng seperti tahun - tahun sebelumnya. Awalnya, resolusi saya adalah punya bisnis sendiri dan membuka salon muslimah adalah target saya. Namun dikarenakan membutuhkan modal yang besar (Dan orang-orang yang awalnya mau sharing modal tampak tidak ada pergerakan) saya mengubah resolusi ke plan b yaitu mulai aktif menulis dan memproduksi karya.

Soal menulis ini sebenarnya adalah resolusi 2014. Menerbitkan kumpulan cerpen. Duet sama sahabat yang kebetulan juga suka menulis. Eh, makin kesini kami sibuk masing-masing sehingga kumcer pun terbengkalai. Saya sudah buat beberapa cerpen. Terlalu sedikit jika harus jadi kumcer. Terlalu sayang jika cuma di kirim ke tabloid atau redaksi surat kabar. Selain itu saya tidak punya waktu (gaya banget) untuk mencarikan majalah atau tabloid yang cocok untuk masing-masing cerpen saya. (Saya memang menulis dengan beberapa tema. Ada romance, thriller, keluarga.)

Terus. Mau saya apakan dong ceepen-cerpen yang sudah terlanjur dibuat dari tahun 2014 ini? Tiba-tiba di akhir tahun 2015 kemarin sebuah ide terlintas dalam kepala. Bagaimana kalau diikutkan lomba saja? Sejak saat itulah saya aktif berburu lomba dan event kepenulisan.

Berpikir kalau berjuang sendiri nggak enak jadilah saya juga bergabung dengan "komunitas bisa menulis" di fb. Berharap dengan bergabung bersama komunitas yang se-visi, minimal saya bisa belajar dari pengalaman-pengalaman anggotanya. Dari sana jugalah saya mengenal komunitas One Day One Post. Senang banget!

Hobi dadakan berburu lomba menulis itu akhirnya mengantarkan saya menemukan sebuah info tentang penerbit Pro-U media yang sedang mengadakan lomba cerpen anak islami. Aihh, bukan genre saya banget. Tapi entah kenapa saya ikuti juga. Ide tulisannya saya konsepin di hape dulu. Pulang kantor saya ketik di laptop. Alhamdulillah dua hari kemudian saya kirimkan cerpen pertama ke Pro U Media. Judulnya "Amir Dan Sekeranjang Buah Pir".

Berpikir menulis cerita anak sangat mudah. Konflik tidak perlu dibuat kompleks. Bahasa dan diksinya yang sederhana saja. Kan yang baca anak-anak. Kalau susah-susah nanti pesannya malah nggak sampai. Akhirnya cerpen kedua lahir juga. Judulnya " Si Kecil Aqsa dari Tanah Gaza" saya kirimkan ke Pro U Media juga.

Alhamdulillah yang nyangkut di hati juri "Amir dan Sekeranjang Buah Pir" juara dua dari 2036 naskah yang diterima.

Saya berniat menarik naskah Si Kecil Aqsa dari Tanah Gaza agar bisa mencari rumah lain yang mau mengadopsi (mempublikasikannya) tapi pas ditelpon sama panitia diberitahukan bahwa seluruh naskah yang masuk adalah hak panitia. Berarti nggak bisa ditarik lagi. Ya sudah lah kalau begitu.

Intinya, untuk yang masih pemula jangan dulu pilih-pilih genre tulisan. Hajar aja semuanya. Insya Allah seiring berjalannya waktu kita semakin mengenal tulisan kita dan bisa tahu kita ini sebenarnya lebih sesuai menulis genre yang mana.

Semoga semesta terus mendukung dan saya terus konsisten berkarya.

(Bahasa saya ko' jadi aneh begini ya. Heheh#Abaikan)

#OneDayOnePost
#FebruariMembara
#HariKeDelapan

Tuesday, February 9, 2016

Terseok-seok Menulis Sastra Hijau


Hari ini entah kenapa sangat malas baca apapun,menulis apapun, pokoknya semua hal yang berbau literasi saya malas! Sebabnya adalah, sudah hampir semingguan ini saya dihadapkan pada tulisan yang harus segera saya selesaikan karena deadline nya tanggal 12 Februari. 

Tulisan itu dalam rangka mengikuti event "green pen award 2016". Yang harus ditulis adalah cerpen bertema lingkungan. Jadilah dari beberapa minggu lalu saya searching soal bagaimana cerpen bertema lingkungan itu. Ternyata itu adalah genre tersendiri dari karya sastra. Namanya sastra hijau. Di beberapa negara maju seperti America sastra hijau sudah lebih dulu dipopulerkan. Istilahnya adalah ecocritsm. Mengkritik isu-isu lingkungan lewat sastra. Kenapa lewat sastra? Sebab lewat sastra pesan dapat tersampaikan tanpa terkesan menggurui.

Demikianlah teori singkat soal sastra hijau. Setelah mengetahuinya latar belakang lahirnya sebuah genre baru Dalam karya sastra itu, lalu kemudian saya ingin melihat contoh riil nya. Namun, dicari berhari-hari, saya belum juga menemukan prosa yang bisa dikategorikan sebagai sastra hijau. Jadilah saya meraba-raba untuk menulis Kali ini.

Beberapa minggu belakangan ini saya sudah banyak melakukan riset untuk persiapan mengikuti event yang diadakan perhutani tersebut. Begitu banyak data yang telah saya kumpulkan,dengan materi yang cukup berat. Giliran dituliskan saya mendapati tulisan saya sangat ringan, nyaris tidak berbobot. Bahkan ketia suami saya, yang notabene tidak suka membaca pun bisa menilai tulisan ini sangat cetek. 

Huffft..saya kecewa. Namun untuk mengedit ataupun mengubah kontennya sudah sangat terlambat. Deadlinenya tanggal 12 cap pos!  Jadinya ya...saya memutuskan untuk tetap mengirimkannya saja besok. Kalaupun tidak menarik perhatian juri, anggap saja lagi mengisi absen di event tersebut. Tahun depan saya akan kembali dengan persiapan yang lebih matang serta tulisan yang lebih baik. Semangat! :)))

#OneDayOnePost
#FebruariMembara
#HariKeTujuh