Showing posts with label Daily Talk. Show all posts
Showing posts with label Daily Talk. Show all posts

Monday, January 28, 2019

Hiday : Teman Belajar dan Bergibah


Clue : baca judul di atas sambil mendendangkan jingle majalah Bobo dong.

Hah?  Kamu gak tau majalah Bobo?  Yang jingle-nya kayak gini Bobo : Teman Bermain dan Belajar. B-O-B-O BOBO.

Kalau masih gak tau,  yakin masa kecilmu sudah bahagia? πŸ˜‚πŸ˜‚

Hiday itu nama beken dari sahabat dunia maya saya yang bernama lengkap Nur Hidayati. Saya biasa panggil dia Mbak Hiday.  Kadang panggil dia Mak Hiday.  Kok di dunia maya?  Lah iya,  wong kami belum pernah ketemu.  Kok bisa?  Iya bisa soalnya Mbak Hiday tinggalnya di Tuban,  saya tinggalnya di Manado.  Saya kalau jalan-jalan paling banter ke Jakarta,  Mbak Hiday kalau jalan-jalan ke Leiden,  cuy! Jadi,  kami sampai sekarang tidak pernah bertemu. 



Meski belum pernah bersua di dunia nyata,  itu tidak menjadikan kami minim interaksi. Justeru sebaliknya.  Kami sudah kayak soulmate. Soalnya selain lovable dan gibah-able (bukan gampang digibahin ya,  tapi gampang diajak menggibah barengπŸ˜‚),  Mbak Hiday ini adalah orang yang luas wawasannya, cerdas,  on fire 24 jam, lifetime learner suka dengan dunia tulis menulis seperti saya dan lebih dari semua itu,  dia adalah seorang emak-emak.

Kami makhluk sejenis,  jenis emak-emak,  jenis paling sporadis sekaligus anarkis di muka bumi. Gak percaya?  Setelah cuma kami yang boleh belok kanan sein kiri,  kamu mau bukti bagaimana lagi sih? πŸ˜‚




Kalau kamu berwawasan luas dan suka menulis,  itu biasa.  Tapi kalau kamu emak-emak,  berwawasan luas dan suka menulis,  itu adalah hal yang sangat luar biasa bagi saya.  Kenapa?  Karena menjadi emak-emak saja sudah rempong bagi waktu,  ini ditambah berwawasan luas dan suka menulis pula.  Di situlah awal mula saya mengagumi sosok bersahaja bernama Mbak Hiday. 

Awal mula perkenalan kami adalah di salah satu grup menulis berbasis blog dan WA bernama One Day One Post.  Saat itu Mbak Hiday mengirimkan saya pesan yang persisnya saya lupa tapi kurang lebih adalah meminta saya untuk mengomentari cerpen dia.  Dalam hati ketika itu adalah waduh,  kok ini orang ujug-ujug minta saya komentarin cerpen ya?  Emang dia gak tau siapa saya?  Justru karena saya bukan siapa-siapa malah jadi keki.  

Tapi mengingat embel-embel kata pengantar yang dia pakai pada saat pertama kali meminta saya membaca cerpennya,  maka saya gak tega buat menolak.  Kalian mau tau apa kalimat yang ketika itu Mbak Hiday sampaikan kepada saya dan hingga saat ini saya tidak lupa? Mbak Hiday bilang,  "Saya adalah pembelajar yang cepat."

Yup!  Di kemudian hari,  setelah ratusan purnama persahabatan kami (agak lebay sihπŸ˜‚),  saya yang lebih banyak belajar dari Mbak Hiday.  Tentang ketekunan,  kerja keras,  kemauan,  pantang menyerah,  keyakinan. Saya belajar dan meneladani Mbak Hiday tentang bagaimana menjadi tidak hanya seorang perempuan yang auto-kodrat (istilah apa pula ini?) sebagai istri dan ibu,  tapi juga bagaimana mengupayakan pencapai-pencapaian dalam hidupmu.  


Mbak Hiday telah menginjakkan kaki di banyak negara di Asia Tenggara maupun Eropa lewat ketekunan dan passion menulisnya.  Hal inilah yang membuat saya enggan jauh-jauh dari dia, karena seperti kata pepatah 'berteman dengan penjual parfum akan kecipratan wanginya'  saya berharap juga akan kecipratan sekelumit wawasannya dan kegigihannya. 


Mbak Hiday,  Ustadzah Oki dan negara-negara Eropa yang dikunjungi


Mbak Hiday,  seperti yang saya sebut di atas,  adalah lifetime learner.  Ia adalah pembelajar sejati lewat bagaimana ia memperoleh beasiswa LPDP untuk pascasarjana-nya yang kemudian membuat ia kembali berpacu mencari beasiswa S3.  Semangat itu sesungguhnya menular,  kebaikan juga. Jadi,  fix saya gak akan jauh-jauh dari Mbak Hiday. πŸ˜‚

Salah satu buku yang ditulis oleh Mbak Hiday


Lalu,  di tengah-tengah kesibukan kami sebagai emak dan pembelajar (dalam hal ini literasi)  kami pun tak lepas dari kebiasaan jamak kaum perempuan,  yaitu bergibah.  Eits,  tunggu dulu!  Gosip kami di sini adalah gosip yang berfaedah.  Emang ada?  Ada dong! Nih,  saya bagikan skrinsyut-an asli pergosipan kami😁


Racun beasiswa yang coba ditularkan Mbak Hiday

Bagi-bagi ebook adalah jenis pergibahan yang berfaedah πŸ˜‚

Mengingat ber-gibah itu makin ramai makin sip,  maka kami membentuk komunitas pergosipan,  eh komunitas sastra dengan syarat menjadi anggota yang nomor satu adalah 'emak-emak'  πŸ˜‚

Menggosipi Eka Kurniawan


Setelah berperan sebagai istri,  ibu,  beasiswa hunter,  penulis,  editor,  tidak juga menghabiskan energinya,  mak satu ini juga membuka Taman Baca Mandiri dan menjadikan rumahnya sebagai tempat belajar literasi di lingkungan sekitarnya. 




Telah hadir di tengah-tengah masyarakat Tuban (setelah bolak-balik empunya galau sampai bikin voting nama buat TBM πŸ˜‚)  TBM Sanggar Caraka. 



Para tamu di Sanggar Caraka


Pokoknya pertemanan kami ini adalah pertemanan yang sehat dan saya bangga berada dalam circle pertemanan yang sama dengan Mbak Hiday.

Tetap menginspirasi orang-orang pada umumnya dan wanita-wanita pada khususnya, ya Mbak.

Akhir kata,  kapan kita bertemu untuk bergosip secara face to face sambil ngopi-ngopi di kaki Eifell? πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜˜



(Tulisan ini diikutsertakan dalam Giveaway Hiday dan Sahabat)




Catatan :

Semua GIF dari https://giphy.com/
Semua gambar dari ig Mvak Hiday


Jangan lupa follow ig Mbak Hiday :


Dan juga ig saya (gapapa ya,  promo tipis-tipis πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ’‹) 


Thursday, December 27, 2018

Ketika Belum Berjodoh dengan Orhan Pamuk

Libur tanggal 25 kemarin,  ketika bocil-bocil bobo siang saya memaksa suami menemani ke Gramedia. Rencananya saya pengen cari buku Orhan Pamuk atau pilihan kedua adalah buku Jonas Jonasson yang direkomedasikan oleh Mbak Gita. 

Pas mencari di komputer pencarian Gramedia eh,  rata-rata buku Orhan Pamuk dan Jonas Jonasson kosong. Judul yang saya cari nggak ada.  Giliran judul lain stoknya tinggal 1 dan kata mas-mas customer service biasanya kalau stok tinggal 1 susah dicari.  Dia menyuruh temannya 2 orang untuk mencari tapi mereka tidak menemukan.

Saya yang skeptis dengan teknik mencari mereka yang berkali-kali menanyakan apa judulnya dan bagaimana gambar covernya padahal sudah dikasih tahu akhirnya menyusuri satu demi satu rak di bagian fiksi. Dan ternyata memang tidak ada pemirsah.  Entah mungkin nyasar ke bagian kategori lain,  atau stoknya sudah jelek dan diretur.  Tapi saya kecewa berat karena tidak menemukan buku yang saya cari. 

Dan Gramedia ini adalah salah dua toko buku di Manado dan merupakan yang terbesar.  Can you imagine? Jadi kalau tidak ada di sana dimana lagi adek harus mencari.. Hiks..hiks..


Tapi kekcewaan saya tidak bertahan lama.  Biarlah kali ini belum berjodoh dengan karya sastra penulis peraih nobel dari Turki itu karena saya menemukan 2 buku penulis penerima nobel sastra dari Amerika dan Jepang. Yup!  Haruki Murakami dan Ernest Hemingway. 



Lebih membahagiakan lagi, harga 2 buku itu sangat terjangkau.  Untuk buku Murakami Rp. 99.000,- dan buku Hemingway Rp.  54.000,-.  Buku Hemingway malah dapat bonus  buku saku proses kreatif dan dunia lain Hemingway. Tiba-tiba saja kubahagia... πŸ˜†

Buku saku Hemingway langsung saya baca dalam sekali duduk dan sangat terperangah dengan sepak terjang Hemingway di luar karir kepenulisannya.  Mulai dari pernah menjadi wasit pertandingan tinju hingga di rawat di rumah sakit karena gangguan mental. 


Kamu penasaran? Saya akan mengulas tentang Hemingway pada perkenalan pertama kami (ini buku Hemingway pertama yang saya baca)  di postingan berikutnya. 

Kalau kamu lagi baca buku apa? 

Friday, December 21, 2018

Peran Perempuan di Era Industri 4.0



Pada sebuah percakapan ringan di WAG sastra yang mana seluruh anggotanya perempuan penjunjung feminism namun tetap soleha dan rajin beribadah (insya Allah amin πŸ˜‚)  terjadi percakapan yang cukup seru.

Btw,  background ke 5 anggota grup ini beragam.  Full time mom dengan kesibukan berdagang online dan menulis,  working mom yang awalnya guru tapi sekarang lagi fokus kejar beasiswa s3,  lalu saya.

credit


Yang menyamakan kami adalah kami sama-sama emak rempong dimana semua hal dikomentari tanpa ada habisnya. Jadi WAG sastra ini hanya kedok untuk menyembunyikan hasrat rumpi kami. πŸ˜…

Oke  pembicaraan pagi itu diawali dengan salah 1 anggota grup yang share sebuah link esai dari mojok.co berisi curahan hati fulltime mom yang kerap dipandang sebelah mata.  Duh,  bahasan ini memang gak ada habis-habisnya,  ya.  Mom war istilahnya.  Perang argumen tentang lebih baik mana bekerja atau di rumah?  Menyusui atau formula?  Pakai nanny atau day care? Begitu terus sampai Priyanka Chopra melahirkan.  Udah hamil belum sih doi? πŸ˜…

Padahal ya,  kita sebagai sesama emak-emak harusnya bersatu padu untuk mengkritisi harga sembako yang kok kayaknya makin mahal sementara UMR naiknya dikit-dikit πŸ˜…

Untungnya kami semua bersepakat dengan apa kata Dian Sastro bahwa menjadi fulltime mom atawa working mom,  perempuan harus berpendidikan.  Selain berpendidikan, perempuan harus mampu berdaya,  bebas berekspresi dan berhak melakukan passionya,  tentu saja dengan tetap seiring sejalan bersama ridho pak suami. 

Realitanya saat ini,  tidak sedikit juga lelaki yang setelah menikah istrinya di kekepin dalam sangkar emas (ceileh sangkar emas)  lebih sadisnya lagi dilarang berinteraksi boro- boro bersosialisasi dengan ibu-ibu PKK.  Duhai pak suami,  tidak sadar kah kau bahwa istrimu itu juga makhluk sosial?

Banyak kasus juga yang setelah berumah tangga,  istrinya dilarang bekerja.  Katanya kerja itu kewajiban suami,  istri itu kewajibannya rawat anak dan membereskan rumah.  Hey,  merawat anak dan membereskan rumah itu kewajiban bersama.  Enak aja situ yang berantakin sini doang yang beresin.

Menjadi full time mom ataupun working mom itu pilihan. Pilihan wanita itu sendiri tanpa ada paksaan dari pihak manapun (idealnya). Tidak ada yang lebih baik, pun tak ada yang lebih buruk.  Yang salah adalah penghakiman yang harus perempuan-perempuan ini tanggung. 

Fulltime mom dihakimi tidak mandiri karena apa-apa minta pak suami. Working mom dihakimi tidak mulia dan kejam karena meninggalkan anak demi sebongkah duit pembeli lisptik (eh),  belum lagi suaminya ikutan dihakimi sebagai suami tak bertanggungjawab membiarkan istri bekerja.  Gak tau diri nikahin anak orang gak mau nafkahin malah disuruh cari duit sendiri.

Padahal kebutuhan perempuan bekerja itu tak melulu soal finansial.  Ya, meski tak sedikit yang tetap memilih bekerja untuk bantu-bantu suami mencari nafkah.  Tapi banyak juga yang bekerja dengan tujuan lain; aktualisasi diri,  eksistensi,  mereduksi stres (ada loh perempuan yang justru stresnya ketika menghadapi perkara domestik),  panggilan nurani. 

Lalu,  lelaki dengan ke-patriarki-an dan egonya melarang sang istri bekerja plus menghakimi wanita lain di luar sana yang bekerja, saya pengen tanya, jika seluruh wanita memang tidak boleh bekerja di luar dan hanya boleh mengurus anak,  apakah bapak bersedia kalau istri bapak melahirkan yang lahirin bidan cowok?  Nanti kalau vaginanya istri anda perlu dijahit,  yang jahit bidan cowok. 

Lalu,  misalkan amit-amit ada sesuatu di payudara istri bapak yang terhormat kemudian membutuhkan prosedur medis,  apakah bapak nyaman yang meriksa fisik payudara istri anda,  dokter cowok?

Sungguh tak ada yang salah dengan tenaga medis cowok ini karena mereka telah disumpah dan tak mungkin macam-macam sama pasien sendiri.  Tapi,  kembalikan kepada diri bapak-bapak suami sekalian,  apakah bapak nyaman?

Selain tenaga medis,  banyak profesi-profesi lain yang di kemudian hari lebih baik diampu oleh seorang wanita. Nah,  di era industri 4.0 ini lebih-lebih lagi.

Apa sih industri 4.0 itu?  Singkat kata,  ditilik dari wikipedia,  industri 4.0 adalah industri yang serba otomatis.  Dirancang agar pekerjaan fisik manusia direduksi hingga sekecil mungkin.  Ketika bekerja tak lagi butuh kekuatan fisik,  maka di sanalah wanita yang lembut fisik (dan hatinya) bisa terlibat dan justru lebih dibutuhkan.

Berdasarkan penelitian,  wanita lebih teliti dibanding pria.  Kemampuan manajerial seorang wanita juga lebih unggul dibanding pria.




Dilansir dari majalah Parenting, penulis Kristin Kane mengungkapkan bahwa ketika anak-anak sedang belajar mengenal huruf dan menulis, serabut saraf dalam otak anak perempuan lebih cepat tumbuh sehingga bisa menulis dengan lebih teliti dan rapi dibandingkan anak laki-laki.

Wanita dianggap sebagai sosok yang mampu mendengarkan, menyelesaikan masalah dan multitasking dengan lebih baik. Menurut ahli manajemen Jay Forte, wanita adalah penghubung yang lebih baik karena mereka lebih cerdik untuk membangkitkan semangat dari para bawahannya.

Hal di atas tentu sejalan dengan kebutuhan industri 4.0 yang serba otomasi. Dibutuhkan ketelitian dan kemampuan mengorganisir yang mumpuni untuk tetap membuat sistem produksi di suatu pabrik berjalan sesuai scedhule, bukan? 

Tabik.

Monday, December 17, 2018

Living in Tiny House : Gaya Hidup Baru Masyarakat Milenial


Pada sebuah artikel disebutkan bahwa terdapat pergeseran gaya hidup dan profesi masyarakat muda di tahun 2000-an jika dibandingkan dengan tahun 1900-an. Masyarakat muda yang dimaksud adalah warga yang berada di angkatan kerja atau yang sedang dalam masa produktif.  Itu kira-kira usia 20 tahun hingga akhir 40 tahun.

Dulu, katakanlah,  orang tua kita,  semasa muda jika ditanya apa cita-citanya maka akan menyebut guru,  polisi,  PNS.  Sekarang,  generasi milenial kalau ditanya apa cita-cita mereka mungkin akan menyebutkan profesi yang dulunya belum ada.  Content creator,  food blogger   beauty vlogger,  desain grafis,  wedding organizer,  dlsb. Untuk itu,  kadang-kadang para generasi milenial ini kerap berbenturan dengan orang tua mereka karena perbedaan mindset.  Orang tua mereka menganggap bekerja di bidang-bidang kreatif itu tidak bisa menghasilkan pendapatan yang secure untuk menghidupi diri,  terlebih jika sudah ingin berumah tangga. Kalau bukan PNS gak kerja,  kalau bukan karyawan gak kerja. 

Selain masalah pekerjaan,  pergeseran gaya hidup juga terlihat pada pencapaian-pencapaian individu. Pencapaian orang tua kita jaman dulu adalah bisa memiliki rumah yang nyaman,  kendaraan yang bisa memboyong seluruh anggota keluarga,  sedikit investasi di hari tua dengan beli tanah dan beberapa gram emas. Sementara,  pencapaian generasi milenial itu sudah gak melulu soal materi.  Berlomba-lomba menginjakkan kaki di sebanyak-banyaknya negara di benua Eropa,  memiliki 1 juta subscriber,  membuka cafe atau barber shop kekinian.

Memiliki rumah dan kendaraan bukan lagi tolak ukur seseorang sudah settle down.  Bahkan ada yang cita-citanya tinggal di dalam mobil van dan keliling dunia selagi muda.  Kalian bisa menemukan gambaran gaya hidup seperti ini di instagram dengan mengetik hashtag (#) living on wheels misalnya.  

Model investasi generasi milenial pun berubah. Bit coin,  reksadana,  saham,  apalagi? Melihat pilihan gaya hidup generasi milenial saat ini membuat kita dengan mudah menyimpulkan mereka didominasi oleh orang-orang kreatif, highly risk taker,  tahu caranya menikmati hidup,  berjiwa bebas,  berprinsip dan gak mau ribet. 

Karena saat ini saya sedang bekerja di salah satu BUMN,  sedikit banyak saya mengetahui bahwa turn over pegawai di beberapa perusahaan BUMN sejenis sangat tinggi. Ini mendukung teori saya di atas,  bahwa generasi milenial cenderung berjiwa bebas dan tidak ingin dikekang.  Beberapa di antara mereka bekerja di sektor-sektor pekerjaan yang umum hanya untuk mengumpulkan modal untuk kemudian memulai bisnis sesuai passion mereka.  Yang lainnya bekerja hanya untuk membiayai hobi, misalkan untuk travelling, untuk membeli kamera yang sophisticated, untuk membeli koleksi gundam? 

Sejalan dengan ciri lain generasi milenial yang gak mau ribet,  saya juga menemukan suatu tren baru yang sedang digandrungi yaitu tinggal di dalam sebuah rumah mini (tiny house).  Kalian juga dapat menemukannya dengan mudah di instagram dengan mengetik hashtag (#)  tiny house.  Rumah ini terbuat dari material kayu dengan ukuran yang tidak lebih besar dari container.  Karena ukurannya yang mini maka furniture di dalamnya juga dimodifikasi sehingga bisa muat di dalam tapi tetap nyaman digunakan oleh penghuninya.  Furniture yang digunakan sebagian besar build in.  









(klik pada gambar untuk mendapatkan tampilan yang lebih jelas)

Melihat model-model rumah tiny house saya jadi pengen punya 1. Tinggal di container sejujurnya bukanlah pengalaman yang baru bagi saya.  Dulu,  ketika masih kuliah,  saya pernah magang di suatu perusahaan tambang asing,  dimana kami mahasiswa maganya diberi tempat tinggal berupa container. 1 container dihuni oleh 2 orang.  Jangan skeptis ketika mengetahui kami tinggal di container karena sesungguhnya di dalam container itu dilengkapi dengan spring bed,  kulkas,  jaringan wifi,  shower dengan air panas dan dingin. 

Di dalam rumah container.  1 container terdiri dari 2 kamar dan 1 kamar mandi. 

Rumah container berjejer di belakang kami


Saya belum menemukan orang yang tinggal di rumah mini di Indonesia. Mungkin karena harga properti di Indonesia masih terjangkau kali ya. Sudah gitu pajak bumi bangunan juga gak seberapa.  Mungkin tren tinggal di rumah mini di luar negeri itu juga salah 1 faktornya adalah tingginya harga sewa properti.  Mau beli kok ya mahal. Belum lagi bayar pajaknya.  Mending duitnya dipake buat travelling atau beli koleksi action figure (yeahh, typical millenial). 

Apapun alasannya,  saya pengen punya 1 rumah kayak begini,  ya Allah. 

Sunday, December 9, 2018

2019 dan Resolusi yang Lebih Realistis

Ada yang sudah mulai menyiapkan resolusi 2019? Biasanya resolusi 2019 adalah menyelesaikan resolusi 2018 yang belum terlaksana yang mana adalah resolusi 2017 yang belum direalisasikan semuanya.  Gitu aja terus sampai Nick Jonas kawin dengan Priyanka Chopra. Eh,  udah ya? 

credit



Terakhir kali saya membuat resolusi adalah di tahun 2014 itu.

Ini adalah sum up nya beserta penjelasan pencapaiannya di akhir 2018 ini :

1. Menerbitkan tulisan (termasuk di dalamnya menyelesaikan 'stiletto project')

Stiletto project masih teronggok di folder yang berdebu. Tapi sejak menuliskan resolusi itu saya sudah memiliki 5 buku antoli.  Yeah... Not bad. Jadi bisa dikatakan terealisasi apa nggak ini ya?



2. Punya anak

Yes.  Ini jelas terealisasi.  Saya bahkan sudah punya 2 anak di tahun 2018 ini



3. Punya pekerjaan yang lebih 'manusiawi'

Nope!  Saya masih bekerja di tempat yang sama dan jam kerja saya masih tidak' manusiawi' juga .  But always try to enjoy

4. Tinggal serumah sama suami
  
Yash. Ini sudah terlaksana.


5. Jalan-jalan ke luar negeri
  
Belum woy! Tapi belakangan saya pengen banget ke Turki.  Ini gara-gara teracuni sama drama Turki yang tayang subuh-subuh.


Btw,  ada cara gratis ke Turki yaitu ikut Summer School. 


6. Punya usaha sendiri.

Ngg..belum terlaksana. Pernah coba jual tiket pesawat online tapi terbengkalai .  Oke berarti belum terlaksana.

7. Kembali ikut mentoring

Belum terlaksana guys.  

8. Les bahasa asing

Belajar bahasa asing sendiri di Youtube apa termasuk?  Lagi belajar bahasa Turki nih.  oke.  Gak termasuk.  Baiklah

9. Berat badan 50 kg. :P

Long way to go.  Berat badan saya sekarang 66 kg. 

Dari 9 resolusi 2014, di tahun 2018 baru 2 yang benar-benar terealisasi.  Apa-apaan ini? 

Mengingat sedikitnya resolusi yang dibuat  4 tahun lalu dapat terlaksana maka saya mencova evaluasi diri.  Apakah saya kurang gigih dan konsisten?  Ataukah resolusi saya yang kurang realistis?  Oke, kemungkinan kedua yang paling mungkin.  Gak realistis kau!

Makanya saya akan mencoba membuat resolusi yang lebih realistis dan lebih detail saat ini. Resolusinya 5 aja.

1.Agama

- Melaksanakan minimal 2 solat di awal waktu dalam sehari. Solatnya terserah mau solat yang mana.
-mengaji minimal 3 halaman tiap minggu
-solat duha minimal 5 kali dalam seminggu.
-tahajud minimal 3 kali dalam seminggu. 

2.Kesehatan

- Mengganti nasi dengan karbo kompleks lainnya minimal 2 hari dalam seminggu.  Harinya terserah.

3. Pengembangan diri

-Menamatkan nonton video belajar bahasa Turki di Youtube maksimal selesai bulan Maret 2019
-Menyelesaikan essai Turkish Summer School maksimal Februari 2019 dalam bahasa Indo
-Essai Turkish Summer School englishnya maksimal Juli 2019

4. Hobi

-Menulis minimal 1 cerpen/bulan
-Menulis minimal 1 postingan baru di blog/minggu

5. Keluarga

- Pulang kantor maksimal jam 8 malam 3 kali dalam seminggu.  Harinya terserah. Untuk bisa quality time sama anak.
- Target ajarin Ahmad bisa baca huruf maksimal bulan April 2019.

Mungkin itu saja kali ya.  Sebenarnya masih banyak keinginan lain semisal mau punya usaha sendiri seperti resolusi 2014.  Mau tinggal di rumah sendiri. Tapi hal-hal seperti itu kurang realistis dengan kondisi saya sekarang.  Dan target saya semua yang saya tulis di atas bisa terealisasi di tahun 2019,  jangan sebisanya tidak muluk-muluk. Mari berdoa bersama-sama.

Oh,  ya untuk motivasi saya akan menerapkan reward dan punishment jika ada yang terlanggar.  Saya masih memikirkan bentuk reward dan punishmentnya.  I'll let you know kalau sudah kepikiran 

Kalau kamu?  Apa resolusi 2019 mu?

Thursday, December 6, 2018

Me Time Sejenak untuk Kewarasan yang Lebih Lama



Sebenarnya ini bukan blog parenting sama sekali.  Hahah.  Tapi kenapa belakangan ini saya posting hal-hal yang berbau ke-emak-emak-an ya?  Mungkin hal itu tidak terlepas dari situasi yang saya alami saat ini. Memiliki 2 anak balita.  MEMILIKI 2 ANAK BALITA.  

Dulu sebelum menikah,  saat masih jadi perawan ting-ting, saya selalu bercita-cita ingin punya banyak anak.  Saya bukan pecinta anak kecil sih,  tapi saya juga bukan yang anti atau benci dekat anak kecil,  tapi membayangkan memiliki banyak anak dengan lelaki yang kamu cintai kan sungguh so sweet ya.  

5 tahun,  15 kilogram dan 2 anak kemudian saya segera ke dokter kandungan dan memasang KB spiral yang jangka waktunya 5 tahun.  Pengennya sih yang jangka waktu 30 tahun sekalian sebenarnya tapi yang ditawarin dokter hanya itu jadi ya sudah lah..πŸ˜…

credit



Percayalah ini wahai gadis-gadis perawan, memiliki anak tidak seindah yang kamu bayangkan.  Eh,  apakah saya saja yang merasa demikian?  Secara,  pas anak pertama saya kena baby blues,  lalu yang kedua saya overwhelmed. Memiliki anak kedua ini saya benar-benar kewalahan.  Kewalahannya justru ketika harus menangani si kakak.  Drama toilet training,  tingkah si kakak yang rada-rada hiperaktif and so on.  And so on.




Saya pernah sampai pada titik di mana saya tiba-tiba sangat memahami pilihan seorang wanita yang pernah saya baca kisahnya sekilas (lupa baca dimana)  yang ingin menghabiskan hidupnya hanya bersama anjing peliharaan. Tidak ada pernikahan dan drama rumah tangga yang mengikuti pun tak ada anak-anak dan segala kekacauan yang mungkin bisa mereka ciptakan. 

Setelah memiliki pikiran di atas saya langsung me-WA salah 1 sahabat untuk tanya tutorial cara rukiyah mandiri.  Saya tau saya kelewatan dan terkesan tak mensyukuri segala nikmat yang orang lain mungkin panjatkan dalam tiap-tiap doanya; Memiki anak,  memiliki keluarga. 

Btw,  setelah rukiyah mandiri itu saya lumayan sabar sih dalam mengarungi hari-hari dengan 2 balita iniπŸ˜‚πŸ˜‚

Sekitar 2 bulan pasca melahirkan saya sama sekali tidak bergairah melakukan aktivitas apapun. Baru belakangan ini saya semangat lagi buat nulis dan ngeblog. Dengan memiliki 2 balita saya hampir tak punya waktu untuk diri sendiri.  Nonton youtube atau lihat-lihat story ig tanpa terusik kelakuan 2 bocah itu sungguh adalah kemewahan. 

Anak saya yang pertama memiliki jam tidur yang sangat amazing dia bangun jam 7 atau jam 8-an di pagi hari.  Jarang tidur siang,  kalaupun tidur siang cuma sejaman.  Tidur malamnya jam 11. Dengan jam tidur dia yang sangat sebentar bisa ditebak kan kapan saya bisa punya waktu untuk diri sendiri?  Kalau si adik malah lebih asik.  Bangunnya cuma kalau lapar atau buang air saja. Habis dinenenin bobo lagi.  Nah,  pas adiknya bobo,  emaknya ini kan pengen leyeh-leyeh sambil nonton youtube. Tapi mana bisa hal itu terlaksana saudara-saudara sekalian kalau ada anak kecil 3 tahun yang berlompatan di kasur,  membongkar piring yang telah ditata diraknya,  memporak-porandakan seisi kamar?πŸ˜‘




Mengingat saya butuh me time untuk mempertahankan kewarasan,  maka saya menyiasati dengan bangun di dini hari.  Jam 3 s.d jam 6 akhirnya menjadi waktu favorit saya untuk melakukan hal yang saya sukai.  Nonton drama Turki (di SCTV ada drama Turki yang main jam 03.30 WITA, btw)  yang mana gara-gara drama itu saya jadi searching-searching tentang Turki dan belajar bahasanya lewat YouTube,  mengedit tulisan,  mengirimkan tulisan,  membaca percakapan grup,  membalas chattingan,  membaca cerpen,  dll,  dll yang tidak bisa saya lakukan di jam lain. 

Kadang-kadang di sela-sela kepenatan dan pertanyaan-pertanyaan kenapa begini kenapa begitu,  kenapa saya terjebak dalam rumah berasama 2 anak kecil sementara ada adik kelas yang sudah keliling 47 negara karena dapat beasiswa ke luar negri?  Kenapa saya hanya mengganti diaper saja setiap hari di mana ada teman yang kerja di salah satu pertambangan emas terbesar di dunia?  Mendapat beasiswa di luar negri dan bekerja di pertambangan adalah salah dua mimpi saya.  Dan karena saya adalah orang yang sangat ambisius maka bukan sekali dua kali saya berpikir harusnya saya juga bisa seperti mereka dan bukannya memunguti pup dan mengepel pipis si Kakak selama proses toilet training dia. 

Lalu saya segera rukiyah mandiri lagi untuk mengusir segala pikiran buruk itu.  Saya sekarang sulit membedakan mana pikiran saya dan mana pikiran yang dibisikkan setan dalam kepala saya. 

Pernah tidak kalian merasa demikian?  Kalau pernah,  itu tanda-tanda kalian kekurangan Me Time πŸ˜†πŸ˜†

Setelah menemukan jam yang kondusif untuk Me Time itu saya lebih waras di pagi harinya meskipun agak ngantuk di siang hari.  Me Time dini hari juga memberikan kesempatan saya berdialog dengan Sang Pencipta,  memohon petunjuk dan kekuatan.  Me Time dini hari memberikan banyak inspirasi.  Sebulan lalu saya telah menulis 3 cerpen. Itu angka yang fantastis untuk saya yang menulis hanya karena mood saja.  

Dan syukur Alhamdulillah saya memiliki suami yang pengertian. Karena bangun jam 3 subuh kadang-kadang saya sangat ngantuk di pagi hari.  Nah,  kalau saya tidur maka Pak Suami lah yang memasak. Thx Hon,  untuk dukungannya dalam mempertahankan kewarasan saya. Sesungguhnya saya adalah ibu dan istri yang jauh dari sempurna tapi saya terberkati dengan memiliki suami sepertimu. 😍😍

Kalau kamu,  jam berapa waktu Me Time mu dan apa yang kamu lakukan saat Me Time? 

Sunday, November 11, 2018

Rahmawati Kekeyi Putri Cantikka dan Stigma yang Berhasil dipatahkan

Ayo acung tangan yang ketagihan nonton vlognya Kekeyi,  beauty vlogger yang lagi fenomenal karena tutorial 25k make up challenge,  dimana doi menggantikan beauty blender dengan balon!


Nonton vlog Kekeyi di sini

Saya baru nonton mungkin sekitaran 4 sampai 5 video dari seluruh video yang sudah diuploanya (ada 39 video),  tapi sebagai emak-emak update yang lagi leyeh-leyeh menikmati cuti melahirkan saya lumayan sering menonton Kekeyi di TV.  Gimana nggak,  wong dia muncul di beberapa talk show kesayangan kok (Rumpi,  Hitam Putih dan Brownis) πŸ˜‚πŸ˜‚ ketahuan banget tontonan gue..

Btw,  saya akan nyicil nonton ke 39 videonya di sela-sela jam menyusui dan memandikan Al ataupun di sela-sela jam menyuapi Kakak Ahmad.  Saya janji Kekey, saya adalah salah 1 big fan kamu soalnyaπŸ˜‚πŸ˜‚

Beauty Vlogger sendiri sebelumnya adalah sekumpulan wanita syantik yang gemar bikin review tentang produk skin care atau bikin video tutorial make up dengan dengan berbagai tema.  Make up kondangan,  make up wisuda,  make up Lebaran,  cam macam lah.  Syarat tidak tertulis yang mutlak dimiliki seorang beauty vlogger adalah CANTIK,  bahkan ketika mereka tanpa make up sekalipun. Bikin iri dan bikin pengen beli racun-racun yang habis direview mereka.  Setiap habis nonton review produk pasti tergoda beli dengan harapan wajah bisa secantik mereka.  Hufttt... 

Nah,  Kekeyi,  sebagai seorang beauty vlogger telah mematahkan stigma yang terbentuk di kalangan masyarakat selama ini.  Dia unik,  dia memiliki standar cantik yang berbeda dengan standar yang diciptakan selama ini. Dia berkemauan keras,  dia persisten,  dia pantang menyerah. 

Banyak pelajaran yang dapat diambil dari kemauan keras Kekeyi.  Ketika dia tidak punya kamera pro untuk syuting,  dia pakai kamera hp seadanya.  Ketika dia tidak punya lighting,  dia pakai senter.  Ketika dia tidak punya beauty blender,  dia menciptakan DIY beauty blender yaitu balon ulang tahun. πŸ˜‚πŸ˜‚

Semua orang lalu bertanya,  kenapa dia begitu percaya diri untik tampil depan kamera dan mengupload keseluruhan proses make overnya saat semua standar yang harus dimiliki seorang beauty vlogger tidak ada di dia.  Ternyata pengalaman hidup yang membuatnya demikian tough.  Dulunya dia kerap dibully oleh teman-teman SMA dengan cercaan khas body shaming; pendek,  jelek,  gendut.  Benar-benar ya!

Memang, terkadang kita butuh suatu peristiwa yang tragis untuk dapat bangkit dari keterpurukan.  Kekeyi berangkat dari peristiwa pembulian untuk kemudian berani tampil percaya diri menjadi beaty vlogger dengan jumlah peningkatan subscriber tercepat.  Sehari yang lalu saya tengok baru 160K subscriber tadi subuh sudah 200K. Dan hanya bermodalkan make up-make up serta peralatan seadanya yang murah-murah. 

Berarti,  kita butuh suatu peristiwa tragis sebagai momentum kebangkitan?  Tentu saja tidak. Bersyukurlah karena kita cukup belajar dari pengalaman hidup orang lain. Kalau kita merasa hidup lempeng-lempeng aja,  bersyukurlah karena kita tidak pernah mengalami dibully sampai nangis-nangis di toilet seperti Kekeyi.  

Pelajaran lain yang dapat diambil dari fenomena Kekeyi adalah berkemauan keras.  Tidak down karena cemoohan.  Kalau kita ibu rumah tangga,  singkirkanlah pikiran bahwa ibu rumah tangga sudah kodratnya mengabdi hanya pada urusan dapur,  kasur dan anak turunan.  Tidak!  Ketika menikah wanita kerap kehilangan jati diri karena berbagai label dan standar yang disematkan padanya.  Harus 24 jam non stop buat anak,  harus 24 jam non stop di rumah,  harus saklek mengikuti perkataan suami tanpa ada kesempatan berdiskusi dan menjadi diri sendiri.  Itulah kenapa wanita,  terlebih yang telah berumah tangga,  rentan terhadap stres.  Ketika tidak bisa mencapai standar orang lain dia stres,  ketika anak sakit dia terpuruk dan menyalahkan diri,  ketika anak lambat menyerap pelajaran sekolah rasa bersalahnya menggunung.  Memang,  semua hal yang terjadi pada anak adalah tanggungjawab orang tua,  tapi perlu diingat, anak  adalah individu yang terpisah.  Dia bukan robot yang didesain dengan bahasa program yang kita inginkan. Jangan menggunakan standar orang lain,  jangan membeo pada stigma yang terbentuk di masyarakat.  Buatlah standar kebahagiaanmu sendiri.  Patahkanlah stigma yang sudah ada. 

Hal ini tentu saja bukan hanya terjadi pada ibu rumah tangga.  Ibu bekerja pun kerap dibayang-bayangi label dan stigma. Ibu bekerja bukanlah ibu yang sepenuhnya,  ibu bekerja tak punya hati karena menitipkan anak pada pengasuh,  ibu bekerja seenaknya saja memberi sufor tanpa mempertimbangkan keutamaan ASI.  And so on.  Tanpa pernah orang lain menyadari bahwa mungkin sebagian besar penghasilan keluarga masih ditopang oleh ibu pekerja,  bahwa mungkin dia setengah mati pumping ASI tapi hasilnya tak memuaskan. 

Kadang kita begitu sibuk memenuhi standar yang dibuat orang lain dan begitu sibuk mengikuti stigma yang telah terbentuk di masyarakat hingga lupa pada potensi diri,  mengubur dalam-dalam cita-cita yang pernah ada,  lebih parahnya lagi jika lupa bagaimana caranya bahagia. 

Bagi Kekeyi,  make up adalah sumber kebahagiaannya,  sedangkan menjadi beauty blogger bisa jadi adalah target atau passion atau katakanlah cita-citanya.  Maka dia mengusahakan segala source, daya dan upaya untuk mencapainya meski banyak yang mencemooh. 

Kalau kamu ibu rumah tangga yang telah mengubur dalam-dalam passionmu,  maka mulai sekarang kerjakanlah,  usahakanlah di tengah keterbatasan tanpa harus melalaikan kewajiban.  

Kalau kamu ibu bekerja yang selalu merasa bersalah menyerahkan perawatan anak pada pengasuh,  maka hapuskanlah pikiran-pikiran seperti itu.  Berbahagialah karena kamu dapat bekerja dan dapat mempekerjakan orang lain untuk urusan domestikmu.  Mungkin saja orang itu tidak punya keahlian lain selain perkara domestik, sehingga sangat bersyukur dapat bekerja padamu. 

Intinya sih.. Berbahagialah sebagai apapun kita sekarang.  😁

Monday, September 10, 2018

Hail to the Full Time Mom


Hidup ibu rumah tangga!  Rasanya saya pengen meneriakkan itu sebagai wujud kekaguman dan kebanggaan saya pada setiap ibu rumah tangga (IRT)  yang dengan sadar dan bahagia menjalani perannya. 

Yang memandang sebelah mata profesi IRT ini,  sini saya colok dulu mata yang memandang sebelah itu.  Yang mencibir profesi IRT,  sini saya ulek dulu bibir yang mencibir itu.  Eh,  saya gak lagi becanda ya. Lagi sensi aja sih πŸ˜…πŸ˜…

Jadi ya,  sekaranga saya sedang memasuki masa cuti bersalin untuk kehamilan kedua saya. Ini hari pertama dan saya sudah sangat kewalahan menghadapi tingkah polah Ahmad yang berumur 3.5 tahun,  sudah itu harus masak,  sudah itu harus rapihin kamar.  Untuk cuci baju,  setrika dan membersihkan ruangan lain dalam rumah selain kamar alhamdulillah ada yang membantu.  Dan karena saya masih tinggal di rumah orang tua saya,  alhamdulillah juga Ibu saya sering bantu handle Ahmad.  Tapi,  begitu saja saya sungguh sangat kewalahan. Tuhan... Tolong...

Saya sampai browsing-browsing cara mengatasi kelelahan mengurus 2 anak balita.  Bentar lagi saya mau browsing pengalaman-pengalaman orang yang mengurus 2 anak balita supaya saya tidak merasa sendiri di muka bumi ini... 😩

Lalu saya jadi membayangkan menjadi teman saya, Femmy,  yang saat ini full time mom,  punya 3 anak,  2 di antaranya balita tapi masih saja doyan baking,  hobi masak,  sekarang-sekarang ini keranjingan ngeblog juga. How does she do all of those tings? 

Baca blog Femmy



Lalu saya juga jadi membayangkan bagaimana menjadi Ibu saya yang full time mom,  mengurus saya dan adik yang hanya terpaut 5 tahun,  gak pake pembantu (hanya ponakan yang tinggal di rumah dan bantu-bantu sepulang kerja)  dan jaga warung pula (jadi Ibuku itu punya warung.  Sampai sekarang juga). 

Pinterest

Kemudian saya lanjut membayangkan bagaimana menjadi nenek-nenek saya yang punya lebih dari 3 anak ( nenek dari Bapak punya 5 anak,  nenek dari Ibu punya 7 anak),  nenek-nenek saya itu kerjanya freelance (yang 1 jualan sayur di pasar,  yang 1 nya tukang kredit 😁) tapi tetap mampu menghandle keluarga. Lah,  saya ini di suruh masak nasi goreng sama Pak suami pas weekend aja masih disertai sungut-sungut.  Betapa saya jauh dari solehah πŸ˜…

Baca :


Kalau di kantor,  meski pekerjaan dan target menekan dan bikin emosi meledak-ledak,  tapi masih saja kan tetap ada waktu buat santai-santai sambil sosmed-an atau gibah.  Ya  seenggaknya pas jam makan siang.  

Kalau pulang kantor cepat masih bisa curi-curi hang out sama teman-teman kantor meski frekuensinya tidak sesering waktu masih single. 

Waktu cuti melahirkan pertama mungkin saya tidak merasa terlalu lelah karena waktu itu masih belum punya anak.  Jadi kalau mislanya sudah capek mengerjakan pekerjaan rumah tangga tinggal bobo. Lah ini?  Sayur baru kelar dipetik Ahmad pup. Pupnya tembus.  Terpaksa sayur dilepas,  cebokin Ahmad dulu,  ngepel lantai dulu,  lanjut masak sayur.  Makanan sudah jadi,  mau makan Ahmad rewel minta bikin susu sambil tiduran karena sudah masuk jam bobo siangnya.  Tangan udah pegel gosok-gosok punggungnya (kebiasaan Ahmad sebelum bobo harus digosok-gosok punggungnya)  eh,  bocah gak bobo-bobo. Jam 2 siang baru bobo.  Emaknya kemudian dihadapkan pada pilihan sulit.  Makan dulu apa mandi dulu ya?  Secara badan sudah mau naga.  Eh,  apa tidur sekalian?  Pinggang yang menopang perut buncit sudah mau lepas.  Ah... Sungguh dilema. Saya lebih yakin kalau memutuskan permohonan kredit layak atau tidak untuk dilanjutkan hingga komite sama bos-bos dibanding memutuskan mau tidur,  mandi atau makan duluπŸ˜₯😡

Baca :



Ini baru kondisi punya 1 anak.  Bagaimana kalau 2 ya Allah. 

Sungguh saya sangat kagum sama IRT di manapun dan bagaimanapun perjuangan yang tengah dihadapi. Semoga full time mom maupun working mom di manapun berada senantiasa diberi kekuatan oleh yang Maha Kuasa.  Amin... 😘

Sunday, September 2, 2018

Menikah Muda : Yay or Nay



Nay!  😁

Saya menikah di usia 23 tahun.  Itu termasuk nikah muda apa nggak ya?  Patokannya usia berapa sih dikatakan nikah muda itu?  

Baca : 


Bulan September ini saya akan merayakan anniversary pernikahan yang ke 5. Orang bilang itu adalah titik krusial kedua dalam sebuah rumah tangga (setelah tahun ke 3).  Oh em ji.  

Bulan September ini juga saya tengah menantikan kehadiran buah hati saya yang kedua,  dan di bulan September ini juga saya tiba-tiba ingin ikutan writing marathon bertajuk '30 Days September to Rembember' di salah satu komunitas menulis saya 'One Day One Post' . Jadi ya kali ini mau bahas serba-serbi tentang dunia pernikahan. 😁 Boleh kan ya?  Boleh dong! 

Kenapa saya langsung bilang no untuk menikah muda? Apakah saya termasuk golongan orang-orang yang anti terhadap campaign nikah muda?  Tentu saja tidak!  Bagaimanapun juga menikah lebih baik dibanding pacaran.  Apalagi pacaran yang berujung putusπŸ˜‚

Dalam postingan ini saya tidak hendak membahas perkara nikah muda dari sudut pandang agama ataupun medis.  Saya bahasnya dari sudut pandang finansial dan mental. 

Baca :


Saya bilang tidak untuk menikah muda jika kamu masih dalam kondisi di bawah ini :


1. Kalau kamu laki-laki dan belum berpenghasilan. 

Ya iyalah,  mau dikasih makan apa anak orang? Kasih makan cinta?  Emang cinta bisa buat beli telur dan beras yang harganya makin lama makin melambung? 

Selain itu menikah  juga butuh biaya,  sesederhana apapun acara yang akan kamu gelar nanti.  Mau sekedar syukuran atau resepsi mewah,  semua butuh biaya. Mau minta ortu?  Hey,  malu hey!  Kecuali kalau ortu sukarela buat bantu ya.  Ini lain soal. 


2. Kalau kamu perempuan dan sedang menempuh pendidikan. 

Pendidikan yang saya maksud adalah di semua jenjang.  Kalau kamu saat ini sedang kuliah S1 atau S2 lalu ada yang ngajakin nikah,  mending tunggu selesai kuliah dulu.  Karena sesungguhnya kehidupan setelah pernikahan itu tidak sesederhana yang kamu bayangkan.  Kamu sudah memiliki tanggungjawab kepada suami,  terlebih jika langsung punya anak. 

Merawat anak tidak pernah mudah soalnya ini anak manusia bukan anak kucing yang bisa kamu tinggal pergi-pergi. Daripada kuliah keteteran,  mending kamu tunda menikahnya sampai wisuda.  Kecuali kalau kamu sudah mantap memilih menikah dibanding kuliah loh ya. Jika sudah menjadi pilihan,  tidak boleh ada penyesalan kalau habis nikah kuliah gak kelar. 

Walaupun pada kenyataannya ada juga yang bisa membagi waktu antara pendidikan dan keluarga,  meskipun itu jumlahnya sangat sedikit,  saya tetap menyarankan kamu untuk menuntaskan pendidikan hingga selesai dulu. Ingat,  perempuan harus berpendidikan untuk bekal mengasuh anak-anak dan bekal buat diri sendiri.  

Beberapa sahabat wanita saya yang ingin melanjutkan pendidikan S2 harus rela menunggu beberapa tahun hingga anak-anak mandiri baru mulai apply S2 lagi. 


3. Jika Kamu (Laki/Perempuan)  Belum Siap Secara Mental. 

Menikah itu menyatukan dua orang yang berbeda untuk tidur satu ranjang.  Which is dari buka mata sampai mau tutup mata lagi di malam hari kamu akan melihat wajah yang sama.  Lo lagi.  Lo lagi.  Bosan gak sih?  Hahahah.  Sudah lo lagi lo lagi,  eh lo nya nyebelin.  Mau bilang kita break dulu soalnya lagi bosan dan kamunya nyebelin,  eits gak bisa,  soalnya ini nikah my darling,  bukan pacar-pacaran ala Dilan dan Milea lagi. 

Ini nikah,  di mana paling banter kalau kamu lagi sebel sama suamimu hal yang dapat kamu lakukan adalah ngambek seharian dan mogok masak 😁

Belum lagi kalau sanak saudara dan handai taulan ikut nimbrung dalam mengatur masalah rumah tangga.  Ini berlaku kalau kamu habis nikah masih tinggal di pondok mertua indah (including me)  😁.  Mau menyatukan dua isi kepala yang berbeda saja ribet,  apalagi lebih dari dua kepala? 

Pokoknya pikirkan baik-baik lagi. Jangan keburu nafsu dan keburu pertanyaan klise kapan nikah sehingga kamu gegabah dalam mengambil keputusan.  Solah istikharah kalau yang muslim. Menikah bukan perlombaan mengenai siapa yang duluan. Menikah adalah sebuah keputusan maha penting dan proses belajar yang gak selesai-selesai.  Kalau 3 poin dasar di atas sudah bisa terpenuhi, maka jangan ragu untuk menikah.  

Menikahlah sepanjang ada yang ngajakin 😁😁

Friday, July 13, 2018

Financial Planning ala Mak Emak (sok) Eksis



Sebagai siapa pun kamu sekarang -anak muda gaul,  emak-emak eksis,  single happy,  happy family-  sebaiknya kamu sudah mulai mempertimbangkan untuk membenahi finansialmu.  Saya berami ngomong begini bukan berarti karena finansial saya sudah tertata dengan baik,  ya. Tapi ini justru sebagai self remainder dan bahan belajar bersama-sama. 😁


credit


Jadi,  mari kita mulai membahas alokasi gaji,  pendapatan,  pemasukan,  atau apapun itu sebutannya yang kamu dapatkan tiap bulan. Kata Bapak Rudiyanto,  Direktur PT. PANIN dalam blognya,  bagilah penghasilanmu menadi 4 bagian dengan rasio 10:20:30:40.


Rasio tersebut akan saya jabarkan secara singkat di bawah ini ya...


10% untuk dana kebaikan. 

Kita menyebutnya bersedekah,  beramal,  berderma.  Ingat, ada hak orang lain di dalam penghasilanmu.  Jangan perhitungan mengeluarkan dana kebaikan ini,  biar Yang Di Atas juga nggak perhitungan sama kamu. 😁


Oh ya,  dana kebaikan ini bisa juga untuk memberi kepada orang tua,  sanak famili yang membutuhkan,  dsb.


20% untuk untuk dana darurat,  investasi serta asuransi.

Dalam menyisihkan dana darurat ada banyak teori yang bisa kamu peroleh dengan mudah di Google dan menyesuaikan dengan kondisi kamu.  Ada yang menyebut nominal dana darurat itu minimal 4x biaya hidup bulanan,  ada yang bilang 6x dan jumlahnya bisa saja lebih banyak seiring dengan jumlah tanggungan keluarga.

Apa sebenarnya dana darurat itu dan apa fungsinya?  Dana darurat adalah dana yang akan berguna ketika kamu mendadak tidak lagi memperoleh penghasilan karena suatu hal,  misalkan sakit,  kecelakaan yang menyebabkan tidak bisa beraktivitas,  di PHK,  perusahaanmu pailit,  bisnismu bangkrut dsb. 


credit

Dana darurat itulah yang akan menopang hidupmu untuk sementara waktu hingga kamu memperoleh penghasilan kembali.  Pakar ekonomi menyarankan untuk memisahkan alokasi dana darurat ini di rekening atau simpanan tersendiri sehingga tidak tercampur dengan dana yang akan digunakan untuk hal lain.
Kalau untuk asuransi,  dalam hal ini saya mengalokasikan untuk asuransi kesehatan.  Jaman sekarang,  tidak sulit untuk memilih asuransi kesehatan.  Pilih aja BPJS.  Dengan menyisihkan Rp. 70.000,-/ bulan kamu sudah dapat fasilitas BPJS kelas 1 dengan pelayanan yang prima (di rumah sakit-rumah sakit tertentu).

Meski banyak juga testimoni negatif tentang pelayanan BPJS ini di beberapa rumah sakit,  tidak sedikit pula rumah sakit yang pelayanannya bagus kok. Kalau kamu tinggal di Manado,  saya sangat rekomendasikan RS. Advent jika kamu menggunakan BPJS.  Udah banyak testimoni positif yang saya dengar.  Sila cari rumah sakit yang ramah BPJS di daerah tempat tinggalmu ya. Ada yang belum ikut BPJS?  Segera daftar lah.. Insya Allah lebih banyak manfaatnya.

Dalam hal investasi,  nggak perlu yang ribet seperti menanam saham,  reksadana,  obligasi dan sebagainya apalagi kalau kamu adalah jenis orang yang malas ribet dan malas pantau-pantau pergerakan saham dan tidak hobi nonton berita ekonomiπŸ˜…
Investasi juga nggak mesti mahal dengan beli tanah atau properti.  Investasi bisa sesimpel membuka tabungan berjangka di bank untuk penididikan anak atau biaya renovasi rumah,  atau yang dilakukan nenek saya,  membeli emas. 

Sesungguhnya instrumen investasi beraneka ragam.  Ada plus minus.  Ada high return,  low return,  high risk,  low risk.  Kamu bisa pilih sesuai dengan karaktermu,  budget,  dan tujuan investasimu.
Dalam postingan lain saya akan mencoba menjabarkan salah satu instrumen investasi yang menurut saya paling pas buat kamu yang ingin berinvestasi tapi tetap hemat.  Ialah tabungan emas.  Pernah dengar?  Semoga saya nggak malas ya membahas ini nanti πŸ˜€


30% cicilan produktif.

Saya sangat menyarankan,  jika nanti kamu memutuskan untuk mulai mengambil kredit di bank,  pertama-pertama,  ambillah cicilan rumah terlebih dahulu,  sebelum cicilan kendaraan.  Karena apa?  Karena rumah nilainya terus naik  sedangkan kendaraan nilainya pasti menurun. Umur ekonomis kendaraan itu 5 tahun. Setelah 5 tahun dia akan lebih menjadi beban.  Entah karena biaya perbaikan,  ganti spare part dan sebagainya.

Sebagai gantinya,  kamu bisa menggunakan kendaraan umum atau ojek online.  Lebih hemat dan lebih ramah lingkungan πŸ˜€πŸ˜€


40% untuk kebutuhan hidup.

Nah,  ini nggak perlu dijelaskan ya.  Kalau ada yang bertanya-tanya,  lalu dana untuk hura-hura atau untuk pengembangan diri masuk mana?  Bisa saja kamu masukkan dalam 40% ini atau di porsi 20% di atas.  Pengembangan diri bisa dikategorikan investasi juga loh... 😁

Oke,  sekian dulu penjabaran finansial planning ala-ala.  Prinsip 10,20,30,40 ini hanyalah salah satu metode mempermudah merencankan keuangan. Banyak metode lain,  yang menerapkan rasio yang berbeda dapat kamu temukan di google.  Pilihlah yang sesuai dengan kondisimu.  Intinya,  rajin-rajinlah menabung dan milikilah BPJS sekarang juga! πŸ˜†