Showing posts with label Mommy's diary. Show all posts
Showing posts with label Mommy's diary. Show all posts

Sunday, December 30, 2018

Ibu : Perkataannya Adalah Sabda





"Masa' sudah mau  umur 5 tahun nggak bisa baca waktu? Ayo coba lagi!" Suara ibu menggelegar di sore hari yang agak mendung dan dingin di Aileu, sebuah kota kecil di Provisnsi Timor-Timur (selanjutnya provinsi ini akan menjadi sebuah negara).

Aileu begitu dingin hingga bisa meluruhkan butiran-butiran es batu saat musim penghujan.  Butiran es batu itu berisik sekali jika berjatuhan di atas atap rumah kontrakan kami yang berlapis seng. Namun,  sore dingin itu mendadak terasa gerah.

Ketika itu tangan Ibu yang lembut namun tegas bagai baja memutar kembali skrup jam dinding membuat jarumnya terbaca 16.20. Tapi saat itu aku masih terlalu kecil untuk membaca 16.20 tersebut,  sehingga membuatku berpikir keras dan menjadikan Ibu kian tak sabar.

Tapi, memang umumnya usia  berapa anak-anak mulai bisa membaca waktu?

Usia 1 tahun

Di lain hari Ibu membelikan sebuah poster berisi nama-nama presiden seluruh dunia. Dengan otak anak umur 5 tahun pun aku disuruhnya menghafal. Hah? Apa pula ini? Apakah penting aku tahu siapa yang memimpin negara apa di belahan dunia yang entah dimana?

Namun hal yang paling kubenci dari Ibu di usia 5 tahun itu adalah dia selalu sewot menyuruh sikat gigi tepat di saat mataku mulai berat dan tubuhku kaku enggan bergerak.

Usia 5 Tahun


"Sisa-sisa makanan kalo menempel di gigi nanti bisa sakit. Ayo cepat!" Ah, cerewet sekali dia.

"Tidak boleh minum es terlalu banyak!"

"Tidak boleh jajan sembarangan!"

"Menyebrang lihat kanan-kiri!"


"Nggak usah kuliah kedokteran!" serunya tegas tak terbantah.

"Tapi kenapa?" Aku di kelas 2 SMP beradu mulut dengannya di suatu siang di pesisir kota Manado yang panas. Bukankah seharusnya aku bisa menjadi apapun, bahkan membentuk sebuah grup musik seperti Jasmine Elektrik kalau aku mau?

Ibu hanya diam menandakan pernyataannya barusan adalah bak hukum adat, petuah leluhur yang tak boleh dipertanyakan musababnya.

Aku benci dengan kalimat-kalimat Ibu yang bernada seru, karena pasti minim penjelasan. Kalau dia berbaik hati menjelaskan, pasti sangat panjang, membuatmu menyesal telah memaksanya menjelaskan.

Namun itu bertahun-tahun lalu dengan otak anak-anak dan remajaku yang entah kenapa Ibu sangat tahu bahwa aku belum bisa menerima semua penjelasannya.

Bertahun-tahun setelahnya, aku jadi tahu membaca waktu itu penting, menghafal itu baik untuk melatih otak, menggosok gigi itu wajib dan karenanya aku menyesal telah membantah sebab gigiku banyak yang rusak belakangan, bahkan saat usiaku 28 tahun kini.

Minum es itu tidak boleh banyak-banyak karena sekarang aku punya amandel yang sangat besar dan belum cukup berani untuk dioperasi. Tidak boleh jajan sembarangan sebab banyak zat pengawet dan pewarna yang kini adalah salah satu pemicu kanker.

Perintah untuk melihat kanan - kiri sebelum menyebrang yang jarang kuindahkan membuatku tertabrak motor 2 kali saat kelas 1 SD dan yang kedua itu membuatku trauma, tidak berani menyebrang sendiri sampai kelas 6 SD.

"Ya nggak usah jadi doker. Lha wong lihat buaya makan zebra di Discovery Channel aja kamu nangis dan bilang Tuhan jahat, malah mau jadi dokter ahli bedah yang potong-potong mayat. Itu daging ikan  aja nggak tega kamu potong,  to?" ujar ibu sambil lalu yang kubalas dengan cengiran di usia sekitar 18 tahun saat sedang berkuliah di Fakultas Teknik di salah satu universitas negri di Makassar.

Ibu, kini perkataanmu adalah sabda tak terbantah. Perkataanmu adalah tangan Tuhan yang bekerja atas takdirku. Bagaimana kau bisa begitu tahu tentang diriku yang sekarang bahkan jauh sebelum aku menjadi seperti yang sekarang?

Apakah itu karena kita berdua begitu dekat dan aku bahkan pernah berada di dalam tubuhmu, memakan dari saripati darahmu, meminum air susumu, lalu kini menjadi yang kau prioritaskan dalam hidupmu? Atas semua itu, maka memang wajar kalau kata-katamu adalah sabda dan marahmu adalah bala.  Sungguh, seperti penggalan lirik lagu Jasmine Elektrik,  kasih sayang Ibu tak terbantahkan waktu. 

"Malas masak nih. Kita makan di luar aja ya. Mau makan dimana?" tanya Ibu suatu kali dan segera kujawab,  "Bakmi Singapur." sebelum ia mendahului dengan menyebut 'bakso di pasar' untuk pengganti makan malam. Ayah pun segera mengeluarkan mobil dari garasi. Jangan sampai wanita lembut bertangan Tuhan itu berubah pikiran, karena dunia pun bisa berubah kalau ia menginginkannya berubah untukmu.

(Seharusnya menulis ini di tanggal 22 Desember. Selamat Hari Ibu)





#JasmineElektrikCeritaIBU

Thursday, December 6, 2018

Me Time Sejenak untuk Kewarasan yang Lebih Lama



Sebenarnya ini bukan blog parenting sama sekali.  Hahah.  Tapi kenapa belakangan ini saya posting hal-hal yang berbau ke-emak-emak-an ya?  Mungkin hal itu tidak terlepas dari situasi yang saya alami saat ini. Memiliki 2 anak balita.  MEMILIKI 2 ANAK BALITA.  

Dulu sebelum menikah,  saat masih jadi perawan ting-ting, saya selalu bercita-cita ingin punya banyak anak.  Saya bukan pecinta anak kecil sih,  tapi saya juga bukan yang anti atau benci dekat anak kecil,  tapi membayangkan memiliki banyak anak dengan lelaki yang kamu cintai kan sungguh so sweet ya.  

5 tahun,  15 kilogram dan 2 anak kemudian saya segera ke dokter kandungan dan memasang KB spiral yang jangka waktunya 5 tahun.  Pengennya sih yang jangka waktu 30 tahun sekalian sebenarnya tapi yang ditawarin dokter hanya itu jadi ya sudah lah..πŸ˜…

credit



Percayalah ini wahai gadis-gadis perawan, memiliki anak tidak seindah yang kamu bayangkan.  Eh,  apakah saya saja yang merasa demikian?  Secara,  pas anak pertama saya kena baby blues,  lalu yang kedua saya overwhelmed. Memiliki anak kedua ini saya benar-benar kewalahan.  Kewalahannya justru ketika harus menangani si kakak.  Drama toilet training,  tingkah si kakak yang rada-rada hiperaktif and so on.  And so on.




Saya pernah sampai pada titik di mana saya tiba-tiba sangat memahami pilihan seorang wanita yang pernah saya baca kisahnya sekilas (lupa baca dimana)  yang ingin menghabiskan hidupnya hanya bersama anjing peliharaan. Tidak ada pernikahan dan drama rumah tangga yang mengikuti pun tak ada anak-anak dan segala kekacauan yang mungkin bisa mereka ciptakan. 

Setelah memiliki pikiran di atas saya langsung me-WA salah 1 sahabat untuk tanya tutorial cara rukiyah mandiri.  Saya tau saya kelewatan dan terkesan tak mensyukuri segala nikmat yang orang lain mungkin panjatkan dalam tiap-tiap doanya; Memiki anak,  memiliki keluarga. 

Btw,  setelah rukiyah mandiri itu saya lumayan sabar sih dalam mengarungi hari-hari dengan 2 balita iniπŸ˜‚πŸ˜‚

Sekitar 2 bulan pasca melahirkan saya sama sekali tidak bergairah melakukan aktivitas apapun. Baru belakangan ini saya semangat lagi buat nulis dan ngeblog. Dengan memiliki 2 balita saya hampir tak punya waktu untuk diri sendiri.  Nonton youtube atau lihat-lihat story ig tanpa terusik kelakuan 2 bocah itu sungguh adalah kemewahan. 

Anak saya yang pertama memiliki jam tidur yang sangat amazing dia bangun jam 7 atau jam 8-an di pagi hari.  Jarang tidur siang,  kalaupun tidur siang cuma sejaman.  Tidur malamnya jam 11. Dengan jam tidur dia yang sangat sebentar bisa ditebak kan kapan saya bisa punya waktu untuk diri sendiri?  Kalau si adik malah lebih asik.  Bangunnya cuma kalau lapar atau buang air saja. Habis dinenenin bobo lagi.  Nah,  pas adiknya bobo,  emaknya ini kan pengen leyeh-leyeh sambil nonton youtube. Tapi mana bisa hal itu terlaksana saudara-saudara sekalian kalau ada anak kecil 3 tahun yang berlompatan di kasur,  membongkar piring yang telah ditata diraknya,  memporak-porandakan seisi kamar?πŸ˜‘




Mengingat saya butuh me time untuk mempertahankan kewarasan,  maka saya menyiasati dengan bangun di dini hari.  Jam 3 s.d jam 6 akhirnya menjadi waktu favorit saya untuk melakukan hal yang saya sukai.  Nonton drama Turki (di SCTV ada drama Turki yang main jam 03.30 WITA, btw)  yang mana gara-gara drama itu saya jadi searching-searching tentang Turki dan belajar bahasanya lewat YouTube,  mengedit tulisan,  mengirimkan tulisan,  membaca percakapan grup,  membalas chattingan,  membaca cerpen,  dll,  dll yang tidak bisa saya lakukan di jam lain. 

Kadang-kadang di sela-sela kepenatan dan pertanyaan-pertanyaan kenapa begini kenapa begitu,  kenapa saya terjebak dalam rumah berasama 2 anak kecil sementara ada adik kelas yang sudah keliling 47 negara karena dapat beasiswa ke luar negri?  Kenapa saya hanya mengganti diaper saja setiap hari di mana ada teman yang kerja di salah satu pertambangan emas terbesar di dunia?  Mendapat beasiswa di luar negri dan bekerja di pertambangan adalah salah dua mimpi saya.  Dan karena saya adalah orang yang sangat ambisius maka bukan sekali dua kali saya berpikir harusnya saya juga bisa seperti mereka dan bukannya memunguti pup dan mengepel pipis si Kakak selama proses toilet training dia. 

Lalu saya segera rukiyah mandiri lagi untuk mengusir segala pikiran buruk itu.  Saya sekarang sulit membedakan mana pikiran saya dan mana pikiran yang dibisikkan setan dalam kepala saya. 

Pernah tidak kalian merasa demikian?  Kalau pernah,  itu tanda-tanda kalian kekurangan Me Time πŸ˜†πŸ˜†

Setelah menemukan jam yang kondusif untuk Me Time itu saya lebih waras di pagi harinya meskipun agak ngantuk di siang hari.  Me Time dini hari juga memberikan kesempatan saya berdialog dengan Sang Pencipta,  memohon petunjuk dan kekuatan.  Me Time dini hari memberikan banyak inspirasi.  Sebulan lalu saya telah menulis 3 cerpen. Itu angka yang fantastis untuk saya yang menulis hanya karena mood saja.  

Dan syukur Alhamdulillah saya memiliki suami yang pengertian. Karena bangun jam 3 subuh kadang-kadang saya sangat ngantuk di pagi hari.  Nah,  kalau saya tidur maka Pak Suami lah yang memasak. Thx Hon,  untuk dukungannya dalam mempertahankan kewarasan saya. Sesungguhnya saya adalah ibu dan istri yang jauh dari sempurna tapi saya terberkati dengan memiliki suami sepertimu. 😍😍

Kalau kamu,  jam berapa waktu Me Time mu dan apa yang kamu lakukan saat Me Time? 

Sunday, September 23, 2018

Less Drama Pasca Persalinan Kedua



Alhamdulillah saya telah melahirkan anak kedua saya pada hari Sabtu tanggal 15 September 2018 dengan proses bersalin normal sehingga 2 hari pasca melahirkan sudah bisa jalan-jalan ke KFC sama kakak Ahmad.  KFC nya di samping Siloam. 

Oh,  ya saya melahirkan ke dua ini di RS Siloam Manado di mana waktu pertama lahiran di RSIA Permata Bunda Manado.  Bagi yang tinggal di Manado dan sekitarnya,  insya Allah saya akan buat perbandingan pelayanan bersalin antara RS Siloam dan RSIA Permata Bunda pada postingan berikutnya. 




Pada postingan kali ini saya hendak merayakan segala hal yang saya rasakan saat ini.  Punya bayi kedua,  penyembuhan jahitan pasca melahirkan yang alhamdulillah baik,  mood yang terjaga, stamina yang terkondisi. 

Saya amaze pada diri saya sendiri yang telah melalui semua proses ini tanpa banyak drama seperti pada pasca persalinan pertama.  Pasca melahirkan Kakak Ahmad saya terserang baby blues yang cukup parah. Padahal proses persalinannya sendiri saya rasa lebih mudah waktu persalinan pertama.  Di mana saya pendarahan jam 12 malam tanpa kontraksi, merasakan kontraksi hebat jam 3 subuh dan Kakak Ahmad lahir jam 04.30.

Nah,  untuk Alham (oh ya nama anak kedua saya Alham😁),  kontraksinya terasa mulai tanggal 14 malam.  Udah keluar flek.  Flek makin banyak di tanggal 15 subuh lalu pada jam 6 meluncur ke RS masih pembukaan 1. Jam 9 dicek masih bukaan 2. Suster yang jaga santai-santai dong ya.  Bahkan dokter kandunganku masih sempat praktek di RS lain dulu karena pikir mereka saya lahirannya palingan sore menjelang malam. 

Tak dinyana. Jam 12 siang sakit makin intens.  Saya minta suster periksa bukaan saya tapi susternya suruh saya sabar dan tunggu dokter periksa jam 2. Lalu dengan menahan sakit dan kesal saya bilang,  saya sudah gak tahan, dan sepertinya sudah ada yang ngalir-ngalir.  Suami saya datang gantian sama Ibu saya yang jaga sejak subuh.  Pas datang masih saya suruh beli susu dulu soalnya belum ada makanan yang masuk dalam tubuh kecuali air putih sejak semalam. 

Pas suami balik beli susu,  susternya suruh suami saya buat persiapkan seluruh perlengkapan bayi (baju,  celana,  diaper etc),  suami bingung dong ya karena setahu dia lahirannya diprediksi sore.  

Saya masih sempat dengar suami bertanya bingung apakah sudah mau lahiran?  Dan dijawab dengan tergesa-gesa oleh suster jaga bahwa ya,  sebentar lagi saya lahiran karena bukaan saya sudah lengkap.  

Tak berapa lama dokter datang.  Saya melalui proses mengedan yang cukup menyakitkan.  Mengedan dalam berbagai posisi pula.  Miring dan terlentang.  Posisi Alham di kandungan masih tinggi sementara napas saya pendek.  Dokter menambahkan cairan induksi lewat infus.  Waktu persalinan pertama saya juga ditambah induksi. Akhirnya jam 12.45 WITA Alham lahir ke duni dengan berat yang bikin dokter kandungan saya geleng-geleng.  "Ibu makan apa sih?"  ceritanya waktu konsultasi 1 minggu sebelumnya berat janin sudah 3200 gr dan dokter sudah menyuruh saya makan sekedarnya saja hanya untuk menghilangkan lapar.  Jangan lebih.  Nanti berat debay besar.  Eh,  pas lahiran beratnya 3612 gr. Padahal saya makan nasi aja kok.. πŸ˜…πŸ˜…





Bagian yang paling menakjubkan dari selurih proses ini adalah,  saya alhamdulillah tidak mengalami baby blues.  Saya menangani anak kedua saya ini full sendiri mulai dari memandikan,  menjemur, merawat tali pusarnya, meninabobokan,  tanpa bantuan ibu saya.  Ibu saya handle kakak Ahmad aja kalau saya lagi rempong. 

Ibu saya sampai terheran-heran,  bisa kamu mandikan bayi?  Secara waktu Ahmad benar-benar full dimandiin sama Ibu saya tiap hari. πŸ˜†

Alhamdulillah ASI juga lancar meski sampai hari ke 3 masih ditambah sufor 60ml per harinya.  Pokoknya semua seolah dimudahkan setelah saya melaui masa kehamilan yang cukup berat.  Ya,  berat karena kehamilan kedua begitu mendadak.  Suami sih sudah pengen tambah anak tapi secara mental saya belum siap.  Ahmad masih kecil.  Setidaknya menurut saya dia masih kecil dan belum siap dengan konsep berbagi. Hal ini awalnya membuat saya justru bersedih dengan kehamilan itu.  Morning sickness saya lebih parah.  Beberapa kali terserang flu (padahal waktu hamil Ahmad gak pernah sakit). 

Semoga kehadiran Alham menjadi ilham buat saya seperti makna namanya.  Menjadi ilham untuk berubah ke arah yang lebih baik,  baik sebagai ibu,  maupun sebagai istri.  Amin. 

Monday, September 10, 2018

Hail to the Full Time Mom


Hidup ibu rumah tangga!  Rasanya saya pengen meneriakkan itu sebagai wujud kekaguman dan kebanggaan saya pada setiap ibu rumah tangga (IRT)  yang dengan sadar dan bahagia menjalani perannya. 

Yang memandang sebelah mata profesi IRT ini,  sini saya colok dulu mata yang memandang sebelah itu.  Yang mencibir profesi IRT,  sini saya ulek dulu bibir yang mencibir itu.  Eh,  saya gak lagi becanda ya. Lagi sensi aja sih πŸ˜…πŸ˜…

Jadi ya,  sekaranga saya sedang memasuki masa cuti bersalin untuk kehamilan kedua saya. Ini hari pertama dan saya sudah sangat kewalahan menghadapi tingkah polah Ahmad yang berumur 3.5 tahun,  sudah itu harus masak,  sudah itu harus rapihin kamar.  Untuk cuci baju,  setrika dan membersihkan ruangan lain dalam rumah selain kamar alhamdulillah ada yang membantu.  Dan karena saya masih tinggal di rumah orang tua saya,  alhamdulillah juga Ibu saya sering bantu handle Ahmad.  Tapi,  begitu saja saya sungguh sangat kewalahan. Tuhan... Tolong...

Saya sampai browsing-browsing cara mengatasi kelelahan mengurus 2 anak balita.  Bentar lagi saya mau browsing pengalaman-pengalaman orang yang mengurus 2 anak balita supaya saya tidak merasa sendiri di muka bumi ini... 😩

Lalu saya jadi membayangkan menjadi teman saya, Femmy,  yang saat ini full time mom,  punya 3 anak,  2 di antaranya balita tapi masih saja doyan baking,  hobi masak,  sekarang-sekarang ini keranjingan ngeblog juga. How does she do all of those tings? 

Baca blog Femmy



Lalu saya juga jadi membayangkan bagaimana menjadi Ibu saya yang full time mom,  mengurus saya dan adik yang hanya terpaut 5 tahun,  gak pake pembantu (hanya ponakan yang tinggal di rumah dan bantu-bantu sepulang kerja)  dan jaga warung pula (jadi Ibuku itu punya warung.  Sampai sekarang juga). 

Pinterest

Kemudian saya lanjut membayangkan bagaimana menjadi nenek-nenek saya yang punya lebih dari 3 anak ( nenek dari Bapak punya 5 anak,  nenek dari Ibu punya 7 anak),  nenek-nenek saya itu kerjanya freelance (yang 1 jualan sayur di pasar,  yang 1 nya tukang kredit 😁) tapi tetap mampu menghandle keluarga. Lah,  saya ini di suruh masak nasi goreng sama Pak suami pas weekend aja masih disertai sungut-sungut.  Betapa saya jauh dari solehah πŸ˜…

Baca :


Kalau di kantor,  meski pekerjaan dan target menekan dan bikin emosi meledak-ledak,  tapi masih saja kan tetap ada waktu buat santai-santai sambil sosmed-an atau gibah.  Ya  seenggaknya pas jam makan siang.  

Kalau pulang kantor cepat masih bisa curi-curi hang out sama teman-teman kantor meski frekuensinya tidak sesering waktu masih single. 

Waktu cuti melahirkan pertama mungkin saya tidak merasa terlalu lelah karena waktu itu masih belum punya anak.  Jadi kalau mislanya sudah capek mengerjakan pekerjaan rumah tangga tinggal bobo. Lah ini?  Sayur baru kelar dipetik Ahmad pup. Pupnya tembus.  Terpaksa sayur dilepas,  cebokin Ahmad dulu,  ngepel lantai dulu,  lanjut masak sayur.  Makanan sudah jadi,  mau makan Ahmad rewel minta bikin susu sambil tiduran karena sudah masuk jam bobo siangnya.  Tangan udah pegel gosok-gosok punggungnya (kebiasaan Ahmad sebelum bobo harus digosok-gosok punggungnya)  eh,  bocah gak bobo-bobo. Jam 2 siang baru bobo.  Emaknya kemudian dihadapkan pada pilihan sulit.  Makan dulu apa mandi dulu ya?  Secara badan sudah mau naga.  Eh,  apa tidur sekalian?  Pinggang yang menopang perut buncit sudah mau lepas.  Ah... Sungguh dilema. Saya lebih yakin kalau memutuskan permohonan kredit layak atau tidak untuk dilanjutkan hingga komite sama bos-bos dibanding memutuskan mau tidur,  mandi atau makan duluπŸ˜₯😡

Baca :



Ini baru kondisi punya 1 anak.  Bagaimana kalau 2 ya Allah. 

Sungguh saya sangat kagum sama IRT di manapun dan bagaimanapun perjuangan yang tengah dihadapi. Semoga full time mom maupun working mom di manapun berada senantiasa diberi kekuatan oleh yang Maha Kuasa.  Amin... 😘

Sunday, April 1, 2018

Being Mom is Never Easy


Tolong dikasih tahu kalau grammar saya untuk judul di atas eror ya.. Hehhe.

Gambar dari sini


Menjadi ibu tak pernah mudah. Hamil itu susah. Dealing with morning sickness,  moonlight sickness,  all day long sickness. Kalau seorang ibu tidak mengalami kesulitan saat hamil,  maka dia bisa jadi mengalami kesulitan ketika melahirkan.  Sesar ataupun normal sami mawon sakitnya!  

Kalau seorang ibu tidak melewati kesulitan saat melahirkan,  dia bisa jadi mengalami hal-hal sulit pasca melahirkan.  Baby blues,  post partum depresion,  niple confusion syndrom.  You name it.  Jika dia tidak mengalami kesulitan pasca melahirkan,  sudah dipastikan ada saat-saat seprang ibu merasa lelah merawat anaknya. Hei,  seorang ibu itu juga manusia,  bukan malaikat,  meski di telapak kakinya ada surga.  Makanya sekali-kali belikan ibu Everbest biar kesana kemari gak cuma pakai swallow. Hek. 😁

Kehamilan dan proses melahirkan anak pertama saya sangat mudah.  Ical bilang saya kayak induk kucing.  Ke pojokon, bersin sebentar langsung brojol.  Saya pun dibuat terheran-heran. Melahirkan gampang gini kok ada yang bilang sakit?  Lalu datanglah fase pasca melahirkan.  Baby blues menghampiri,  tiap tengah malam saya terjaga dan menangis.  Sialnya,  saya belum paham baby blues itu apa,  jadi makin menderita.  

Kehamilan kedua ini saya mengalami moonlight sickness yang parah. Moonlight karena mual-mualnya datang ketika menjelang bulan muncul 😝 (udah macam manusia serigala aja saya nih...) Kalau sudah dilanda moonlight sickness saya bisa (maaf)  muntah mengeluarkan seluruh isi perut dari pagi sampai berasa seluruh organ dalam juga ikut keluar.  Sensasinya tidak bisa dibahasakan.  

Celakanya lagi saya jadi tidak berselera makan.  Hampir semua jenis makanan terlebih nasi.  Baru membayangkan sudah mengundang rasa mual,  apalagi mencecap. Saya sangat putus asa.  Ya,  Tuhan... Jika salah satu organ yang paling saya syukuri keberadaannya karena bisa mengecap rasa (baca : lidah) ini sudah tidak berfungsi lagi,  untuk apa saya hidup? (Oke ini lebay)πŸ˜πŸ˜€

Rasa lelah berkepanjangan mendampingi moonlight sickness saya.  Tidak mood melakukan aktivitas. Tidak mood menulis,  muak dengan buku-buku. Maunya tidur sepanjang hari atau nonton CSI sambil leyeh-leyeh.  Malas kerja tapi tetap pengen digaji (hahah). Ketika bangun tidur pun badan malah sakit semua.  Argghhh!!! 

So,  hargai dan sayangilah Ibumu.  Kata sepupu saya,  "Bahagiakanlah orang tuamu selagi mereka masih ada,  karena kamu tidak akan pernah bisa membayangkan bagaimana rasa sakitnya ketika mereka tak ada." 😭😭

Jadi,  apa yang kamu rasakan ketika hamil?? 

Tuesday, November 14, 2017

Acceptance


Apakah akan ada relevansi antara judul dengan isi tulisan saya nanti?  Entahlah,  tapi ingin sekali menuliskan acceptance itu sebagai judul πŸ˜€πŸ˜€




Saya sudah ingin menulis ini beberapa hari yang lalu.  Tapi,  yah begitulah....

Jadi ini adalah sebuah perubahan yang terjadi dalam diri saya. Saya tidak berubah jadi sailor moon atau spiderwomen dalam hal ini. Perubahan saya sederhana sekali dan cenderung tidak tampak. Saya hanya berubah menjadi lebih tenang dalam menghandle emosi saya.

Saya percaya energi, apapun bentuknya,  positif maupun negatif akan menular. Saya juga percaya seorang anak dapat merasakan energi yang memancar dari tubuh ibunya. Itulah mengapa kalau makemak lagi galau biasanya anaknnya rewel.  Anak rewel mak tambah galau.  Mak makin galau anak makin rewel.  Jadi efek bola pingpong yang tidak akan ada selesainya.  Yang ada Mak sama Anak capek sendiri dimangsa oleh energi negatif.

Sebelum ini saya menghadapi Ahmad,  anak lelaki saya yang berumur 2.5 tahun dengan energi negatif yang meluap-luap. Ketika jam pulang kantor tiba saya sudah lelah duluan memikirkan harus menghadapi Ahmad dengan keaktifan khas anak kecil yang serasa tak pernah ada capeknya. Kalau pulang kantor dia sudah tidur rasanya saya lega banget.

Begitupun saat bangun di pagi hari.  Berkejaran dengan waktu untuk tiba di kantor on time sementara keperluan Ahmad lumayan banyak yang harus diurusin. Akibat kurang bisa menghandle emosi,  saya kerap mencubit Ahmad kalau dia mulai bertingkah kelewatan.

Baca :


Saya selalu merasa lelah.  Ibu macam apa saya ini sebenarnya.  Banyak mengeluh dibanding bersyukurnya?

Lalu kemudian suatu hari,  saya mulai merasa ada jarak yang begitu renggang antara saya dan Ahmad.  Tiap kali bilang "Sayang Ibu dulu"  Ahmad terang-terangan menolak.  Kalau saya yang nyosor cium,  dia akan mengelap pipinya.  Duh,  sakit banget hati hayati.  Terlebih kalau Ayahnya yang minta cium Ahmad mau-mau aja.  Hiks.. Hiks..

Lalu saya berpikir tentang konsep energi menular ini.  Saya coba menata hati saya beberapa jenak sebelum pulang kantor. Saya tanamkan dalam pikiran saya bahwa saya rindu dan ingin bermain-main dengan Ahmad sepulang kantor.

Saya pulangkan memori saya yang merekam ekspresi serta tingkah polah lucunya.  Kemudian saya berjanji untuk tidak akan memarahi,  membentak apalagi mencubit jika dia melakukan kesalahan-kesalahan.  Sebisa mungkin saya harus menahan diri.

Alhamdulillah,  ketika sudah mulai menata hati,  saya bisa menghadapi Ahmad dengan lebih tenang.  Kalau dia main air sampai tumpah membasahi lantai saya akan mengepel lantai itu sambil ngomong dalam hati 'lumayan keringatan malam-malam ngepel.  Hitung-hitung olahraga'.  Kalau dia minta ditemani main lempar tangkap saya juga akan berpikir "lumayan nih olahraga." Saya mencoba untuk tetap bersikap positif.
Saya selalu meladeni Ahmad dengan segala gerak gerik gesitnya hingga tak jarang saya yang ketiduran duluan lalu dia akan menyusul tidur di samping saya atau akan ke kamar Omanya. 

Di pagi haripun demikian. Jika biasanya saya ngomel-ngomel sambil memohon agar Oma saja yang mandikan Ahmad,  sekarang saya berusaha memandikan dia. Sambil sekalian saya juga mandi. Saya menanamkan dalam pikiran saya bahwa mandi bersama ini bisa jadi salah satu sarana bonding.

Belum terhitung sebulan saya melakukan perubahan kecil ini namun dampaknya begitu nyata terlihat.  Ahmad sudah biasa menyium saya ketika saya minta.  Ahmad akan menyodorkan pipi tembemnya dengan sukarela tanpa perlu saya sosor. Kadang-kadang dia lebih memilih saya dibanding Ayah atau Omanya. 

Saya ingin terus berada dalam atmosfer yang seperti ini. Ujung-ujungnya acceptance - penerimaan ini memang harus benar-benar dijalani. Ketika belum menikah dulu saya bisa saja main kesana kemari.  Balik kos untuk tidur saja.  Bermalas-malasan dan bangun pagi kalau ada kelas saja.  Dulu waktu belum punya anak saya mungkin bisa kencan sama suami kemanapun jam berapapun tanpa kepikiran ada yang ditinggalkan di rumah,  ataupun kalau Ahmad dibawa, kepikiran kalau kemalaman bisa masuk angin.

Penerimaan demi penerimaan akan membuat kita lebih ikhlas menjalani peran sebagai istri atau pun ibu,  atau apapun peran yang sedang kita lakoni saat ini.  Ketika sudah ikhlas maka energi positif akan memancar dari diri kita dan percayalah bahwa hal itu bisa sangat mempengaruhi lingkungan kita.

Cmiwwww πŸ˜€πŸ˜€πŸ˜€

Sunday, July 16, 2017

Susu Formula Murah : Yay or Nay



First of all, i have to tell one thing to you, people. Don't blame me! Don't bully me. I know i'm not a good mom, you know my name, but you don't know my story.....

Stop! 

Saya tidak akan bikin postingan curhat ala-ala ABG umur 18 tahun yang lagi viral. Hahahah πŸ˜‚ 

Di postingan kali ini saya ingin membahas soal susu formula yang selama ini mendampingi tumbuh kembang Ahmad. 

Tapi sebelum itu saya ingin berpesan kepada seluruh wanita di muka bumi ini yang notabene adalah seorang Ibu, calon ibu, calon istri, bahwa ASI adalah makanan bayi terbaik sepanjang masa. Sangat banyak keistimewaan ASI yang tidak bisa digantikan oleh susu formula (sufor) termahal sekalipun. (Mudah-mudahan saya bisa membahas keistimewaan ASI di postingan lain). Meskipun demikian, setiap Ibu memiliki kondisi berbeda-beda yang menyebabkan proses meng-ASI-hi ini menjadi tidak optimal. Untuk itulah saya berpesan, tolong jangan menghakimi apalagi mem-bully ibu-ibu meskipun kami suka ngomel-ngomel, suka moody, suka sein kiri padahal mau belok kanan. Plis, jangan bully kami hanya karena kami memberikan susu formula untuk anak kami. πŸ˜…

Nah, jadi kondisi saya adalah Ahmad bingung puting, istilah kerennya nipple confusion syndrom di usia sekitar 2 bulan sehingga proses memberikan ASI ini sangat melelahkan karena saya harus memompa ASI terlebih dahulu sebelum dituangkan ke botol susu dan dikasih ke Ahmad. Percayalah, menyusui anak langsung dari payudara saja melelahkan apalagi kalau harus pakai proses pumping terlebih dahulu. 

Jam tidur saya benar-benar kacau balau karena harus mengatur jadwal begadang memerah susu dan begadang memberi Ahmad susu pake botol dot. Kalau yang bayinya tidak bingung puting kan tinggal buka daster langsung nemplok. Bisa sambil bobo-bobo cantik ala Syahrini. Kalau saya harus sterilize alat pompa asi dulu, memerah dulu, nyetok asi dulu, sterilize botol, baru deh bisa kasih susu Ahmad. Melelahkan!

Stok ASIP pertama


Mama saya lihat saya serempong itu menganjurkan untuk memberikan Ahmad sufor saja tapi saya keukeh! Tidak ada AIMI (Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia) di Manado. Halo AIMI, kapan buka cabang di Manado? Saya mau daftar jadi pengurus. Heheh. Tidak ada klinik laktasi, tidak ada dokter yang merangkap conselor ASI yang dapat menjadi tempat curhat dan mendampingi saya melewati masa-masa suram ketika Ahmad menolak menyusu langsung dari payudara. Percayalah, saat itu lebih sakit daripada ketika diputusin pacar. 😭😭😭. (Btw, saya tidak update lagi soal ini sejak tahun 2015. Kalau sekarang sudah ada AIMI, klinik laktasi atau conselor ASI di Manado let me know ya....)

Produksi ASI saya melimpah dan pengetahuan tentang pentingnya memberi ASI lumayan (thanks to om Google) jadi saya bersikeras tetap memberi Ahmad ASI. Badan saya turun 8kg dari berat sebelum hamil. Bayangpun!

Namun akhirnya saya menyerah ketika masa cuti 3 bulan habis dan saya harus kembali masuk kantor. Awalnya saya bisa pumping 2x di kantor, namun semakin ke sini, semakin tidak ada waktu untuk pumping di kantor dan produksi ASI pun menurun. 

Singkat cerita, di usia Ahmad 3 bulan, saya menyerah kepada susu formula. Ini adalah satu-satunya jalan memberikan asupan gizi pada Ahmad karena dia belum bisa makan nasi padang πŸ˜‚πŸ˜‚.

Mulailah saya mencari kandidat susu formula yang akan saya berikan pada Ahmad. Buat anak, pastilah orangtua akan memberikan yang terbaik. Untuk itu saya langsung membelikan 1 kaleng susu formula termahal. Dikasih minum pertama kali langsung wajah dan tubuh Ahmad bengkak serta memerah. Seperti habis keracunan makanan. Bawa periksa ke dokter dan didiagnosa alergi. Ahmad ini memang sejak lahir terdiagnosa memiliki riwayat alergi. Oleh DSA diberikan susu formula anti alergi yang baunya kurang enak dan harganya bikin kantong jebol. 😭😭

Karena baunya yang kurang enak, Ahmad tidak mau minum sama sekali. Saya genjot pumping ASI lagi karena kalau ASI perah Ahmad mau minum dan tidak alergi. 

Beranjak dari merk susu pertama saya beralih ke merk susu ke dua yang harganya lumayan murah. Hasilnya, Ahmad diare. Orang bilang pilih susu formula itu sama seperti memilih bedak. Cocok-cocokkan. Jadi jika satu merk susu formula cocok di anak A belum tentu akan cocok di anak B. Begitupun sebaliknya.

Bingung mau beli susu merk apalagi, ART saya nyeletuk. "SGM saja. Tidak bikin diare." SGM? Dalam hati, Oh My God. Ini sufor paling murah kan ya? Karena paling murah jadi tidak yakin memberikan susu itu kepada Ahmad. Apakah kandungan gizinya sama? Apakah bagus? Apakah cocok? Apakah ini? Apakah itu? Dan apakah yang lain-lain datang bertubi-tubi.

Akhirnya, saya googling tentang cara memilih susu formula. Kesimpulannya, setiap merk susu formula memiliki kandungan yang hampir sama. Kalau ada embel-embel plus zinc artinya ada tambahan zat besi, plus AHA DHA juga artinya ada tambahan zat tersebut, intinya ASI tetap yang paling baik dan paling komplit. πŸ˜†

Berbekal ilmu dari google saya memberanikan diri membeli SGM. Eh, ternyata Alhamdulillah cocok! Sekarang Ahmad sudah minum yang untuk usia 1-3 tahun. Tidak berani ganti ke merk lain takutnya menyebabkan hal-hal yang tidak terduga lagi.

Fyi, SGM ini sufor paling murah dan kandungannya kurang lebih sama lah dengan sufor lain. Tentunya sufor mahal memiliki komposisi agak berbeda yang membuatnya menjadi sedikit mahal, tapi over all, kebutuhan gizi Ahmad terpenuhi dengan susu ini. Dan ketika ibu-ibu lain mengeluhkan harga susu yang melangit, saya Alhamdulillah tidak. Hahah. Pengertian banget sih kamu, Nak.

Gambar dari Google


Bayangkan, harga 1 kotak besar ini Rp.74.000,- kemarin sempat ada promo beli 2 gratis tas ransel anak. Seru kan?! Hahah.

By the way, ini bukan iklan ya. Saya tidak dibayar oleh siapapun untuk menuliskan postingan ini. Saya hanya ingin berbagi dengan Ibu-ibu lain di luar sana yang masih memiliki stigma bahwa sufor murah itu tidak berkualitas. Kalau orang tuanya mampu dan anaknya cocok, belikanlah yang termahal dan terbaik, namun jika anak justru tidak cocok jangan ragu untuk mencoba yang lebih murah. Siapa tahu cocok kan? 

Jadi, saya YES untuk susu formula murah. Tapi ingat, ASI tetap yang terbaik ya Mommy.....😘😘😘

Monday, July 10, 2017

Travelling Bersama Balita : Yay or Nay!



Kalau saya nay! Saya dan Ical sudah sepakat untuk mengatakan TIDAK jika harus travelling bersama balita 2 tahun saya yang bernama Ahmad. Hm, kesepakatan itu baru muncul 2 minggu belakangan ini sih...πŸ˜‚πŸ˜‚



Bukannya saya tidak suka travelling, saya adalah seorang traveller sejati. Baca ini kalau tidak percaya πŸ˜†πŸ˜†:


Tapi begitu hamil dan melahirkan, rasa-rasanya sangat rempong membawa bayi ataupun balita bepergian jauh. Untuk itu saya angkat 8 jempol (pinjam jempol kaki dan tangan suami) untuk Raffi Ahmad. Loh? Iya! Saya lihat di infotainemnt Raffi Ahmad sering mambawa Rafatar travelling hingga ke luar negri. Saluuuttt. Lalu Ical bilang "Raffi Ahmad travelling bawa baby sitter makanya tidak rempong." Kemudian saya manggut-manggut.

Baru saja 2 hari yang lalu saya tiba kembali di Manado sepulangnya dari libur Lebaran 2 Minggu di kampung halaman Ical di Pinrang. Setelah tiba di Manado saya tidur nyaris 14 jam karena badan ini rasanya  remuk semua.

Dengan Lebaran saya tahun ini di Pinrang berarti Ahmad sudah 3 kali diajak berpergian. Pertama ketika usianya 4 bulan. Saat itu saya didampingi Mama sehingga masih bisa menghandle segala keperluan Ahmad meskipun ketika itu saya sangat rempong karena harus membawa perlengkapan pompa ASI plus cooler box plus botol-botol ASI nya karena Ahmad bingung puting dan tidak mau menyusu langsung di payudara.

Kali kedua membawa Ahmad pulang kampung adalah ketika dia berusia 1 tahun lebih beberapa bulan. 5 hari di kampung Ical dan Ahmad diare. Mungkin karena kelelahan menempuh perjalanan lumayan jauh (1.5 jam pesawat dan 4 jam darat) ditambah ketika harus berkunjung ke rumah buyut yang memakan waktu 8 jam perjalanan.

Ical belum kapok nih ceritanya bawa Ahmad pulang kampung, padahal saya sudah nangis-nangis bombay menceritakan kerempongan saya. Kali ketiga membawa Ahmad mudik adalah yang terjadi 2 minggu lalu. Perginya bareng Ical. Ahmad tenang di pesawat. Dan karena dia sudah 2 tahun, dia sudah dapat kursi sendiri. Alhamdulillah. 

Sampai di kampung, semua masih under controll. 2 hari kemudia Ahmad batuk pilek (batpil). Hari ketiga batuknya tambah parah plus sesak nafas. Dari bayi kalau batpil Ahamd pasti sesak nafas. Ada riwayat alergi sehingga kalau batpil pasti harus di nebulizer. Tapi sudah nyaris beberpa bulan ini setiap batpil tidak pernah di nebu lagi. Eh, tiba-tiba di Pinrang dia harus di Nebu. Mana nebulatornya tidak saya bawa pula. Akhirnya dengan menempuh perjalanan 45 menit kami berhasil menemukan Nebu di rumah sakit kota kabupaten. 😭😭😭 Malamnya Ical pertama kali seumur hidup merasakan begadang boboin Ahmad. Setelah itu dia bertaubat dan memaklumi kerempongan saya ketika harus  membawa Ahmad bepergian jauh πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚.

Belum selesai sampai di situ. Hari ke 5 batpilnya membaik, eh berganti diare. Diarenya lumayan parah sampai pupnya cair kayak pipis. Kasihan. Ditambah kondisi saya drop karena ketularan batpil. Mana Ahmad sering tantrum dan tidak mau dimomong sama orang lain kecuali saya atau Ical. Di sanalah tingkat pertaubatan Ical bertambah. Ical sadar Ahmad agak rempong dibawa perjalanan jauh, pertama dia tidak mau dimomong sama orang lain sehingga Ayah Ibu nya ini bisa kehabisan energi, kalau di Manado dia mau dimomong sama Oma Opa ataupun Adi, orang yang bantu-bantu kerjanya Ical di Manado.

Kedua Ahmad butuh waktu penyesuaian dengan lingkungan baru. Ponakannya Ical banyak banget sehingga Ahmad kaget. Orang di Manado dia cuma seorang diri anak kecil di rumah. Ketiga, ketika Ahmad stres dan tantrum sama lingkungan baru kondisinya drop dan gampang terserang penyakit.

Ical bilang, "Ini terakhir kali bawa Ahmad kalau mudik atau ke luar kota. Nanti kita bawa lagi kalau dia sudah TK." Alhamdulillah...... Saya langsung sujud dalam hati. Eh? 

Permasalahan Ical sudah berhenti sampai di situ tapi saya belum. Ketika akan balik Manado, Ical masih ada beberapa hal yang harus di selesaikan di Pinrang jadinya saya yang akan pulang sendiri bersama Ahmad. Oh My God! Saya tidak bisa membayangkan membawa balita yang lagi rewel karena kondisi kesehatannya belum membaik sendirian di pesawat. Saya ngamuk-ngamuk tapi kerjaan Ical di Pinrang tidak bisa ditinggal sementara saya juga harus sudah mulai masuk kantor Senin nanti.

Dengan kekuatan bulan saya memantapkan niat. Sampai dalam pesawat Ahmad mulai bertingkah, dari nangis-nangis tidak mau pakai seat belt dan mau berdiri ketika pesawat take off hingga tidak mau dicebok ketika dia pup. πŸ˜…

Walhasil pramugari mengalah membiarkan Ahmad tidak pakai seat belt karena penumpang di sekitar tempat duduk saya sudah protes Ahmad nangis kejer. Padahal waktu pergi mau dipakekan seatbelt sama Ical πŸ˜₯.

Nah, soal Ahmad pup dan tidak mau diangkat ke kamar mandi ini saya malu luar biasa karena pas berdiri dan menggendong Ahmad paksa, penumpang-penumpang hingga ke beberapa kursi belakang saya pada tutup hidung dan memandang saya sinis. Hahaha. Sorry, bau ya Pak Bu ? πŸ˜†πŸ˜†

Pokoknya saya sudah kayak gembel di dalam maskapai nomor wahid di Indonesia itu. Jilbab berantakan, muka berantakan, Ahmad juga sudah cemong sama makanan dan ingus. Hahahah. Kontras sama penumpang lain yang pakaiannya cetar dan parlente. Bodo amat! Saya juga bayar tau! (Padahal kebetulan saja pilih Garuda karena harganya cuma beda 100rb lebih dari Lion dan citilink ketika itu πŸ˜…πŸ˜…)

Intinya saya sih NO untuk bawa balita bepergian karena kasihan anaknya jadi sakit, kasihan juga orang tuanya yang tidak bisa memaksimalkan Quality Time ketika liburan. Liburan yang dalam kota saja dulu untuk sementara. 😁

Saturday, May 13, 2017

Untuk Rasa Kehilangan Lima Belas Tahun Lagi



Dear, Ahmad. Anak Ibu yang gendut. Ibu akan kehilangan kamu lima belas tahun lagi. Ibu akan kehilangan rasa kesal yang memuncak karena kamu membanting compact powder ibu dan isinya berceceran. Ibu akan kehilangan rasa lelah mengkuti langkah kecilmu yang tak pernah bisa diam.

Terimakasih gitarnya tante-tante yang baik hati.



Sesungguhnya Ibu menulis surat ini untuk menghibur diri Ibu sendiri lima belas tahun lagi saat usiamu tujuh belas dan kamu lebih sering menghabiskan waktu di luar rumah dibanding merecoki Ibu seperti yang biasa kamu lakukan sekarang.

Sesungguhnya Ibu akan merindukan menemani malam-malam melelahkan sepulang Ibu bekerja dan ternyata kamu masih ingin diajak main. Ibu akan sangat sangat merindukan hal itu meskipun saat ini Ibu lebih sering mengeluhkannya.

Masih akan adakah "sayang Ibu dulu baru Ibu kasih" nanti? Masih ada kah "cium kening, hidung dan mata Ibu dulu, baru Ibu buka biskuitnya"? 

Apakah kamu masih akan menyambut Ibu pulang kantor dengan antusias dan minta diputarin video favoritmu di youtube yang menampilkan jingle minuman botol itu? "Ibu, santai aja. Santai aja." Jingle itu kurang lebih seperti ini. 'Stres bikin pusing, bikin kelabakan. Mending dibawa santai aja.' 

Masikah kamu akan meminta Ibu memutar jingle itu saat ada seorang gadis yang lebih menyita perhatianmu? Mungkin kamu akan lebih memilih telponan dengan dia daripada menonton jingle itu bersama Ibu.

Tulisan ini Ibu buat untuk menghibur diri Ibu sendiri di masa lima belas tahun lagi ketika rumah tidak pernah berantakan dan barang-barang tidak perlu diletakkan di rak paling tinggi. 

Ketika itu kamu sudah tumbuh lebih tinggi dibanding Ibu dan tak pernah lagi bilang "Ibu dong..." Minta gendong. Ketika saat itu tiba kamu tidak pernah mungkin merengek minta Ibu bawa kamu jalan-jalan naik mobil-mobilanmu. Kamu tidak akan membuka paksa kelopak mata Ibu ketika kita berbaring di kasur dan Ibu tertidur duluan. "Ibu jangan bobo."

Ketika saat itu tiba Ibu akan merindukan hal-hal melelahkan yang kamu ciptakan saat ini.

Please, Ahmad ijinkan "sayang Ibu dulu" tetap ada, selebihnya tumbuhlah dewasa seperti yang seharusnya terjadi.


Note :
Tulisan ini dibuat untuk memenuhi tantangan One Day One Post dengan tema 'Kehilangan'

Friday, February 3, 2017

Curhatan Mak Rempong : Anger Management



Belakangan ini saya lebih sering menghela nafas panjang dan menghembuskannya dengan keras.

Kelakuan Ahmad yang 2 bulan lagi berusia 2 tahun semakin menjadi-jadi. Kalau lagi ON ibu dan omanya ini harus keluarkan ekstra tenaga dan perbanyak stok sabar. Ada-ada saja kelakuannya yang bikin darah putih naik ke kapala.

Namanya juga anak-anak. Ya memang seperti itu. Iya sih. Saya maklum. Tapi kadang-kadang saya tidak bisa mengendalikan amarah. Contohnya adalah kejadian di suatu Senin yang hectic di mana saya sedang ribet untuk persiapan ke kantor, suami lagi di luar kota, Mama lagi sibuk meladeni pembeli di warungnya (jadi Mamaku ini punya warung kecil di depan rumah yang di jam-jam menjelang anak sekolah masuk pasti diserbu pembeli), orang yang ngasuh Ahmad belum datang (pengasuh Ahmad ini punya drama tidak kalah seru juga yang sukses bikin darah tinggi kumat). Jadilah Ahmad dibiarkan mondar-mandir di kamar. Bongkar buku-buku saya, ambil lotion dan dipencet sehingga isinya tumpah, ambil lipstik, ambil parfum dan tidak bisa dilarang. Disitulah puncak kekesalan saya. Saya menggendongnya dan mengeluarkannya dari kamar dengan agak kasar. Membanting pintu hingga menutup tepat di hadapannya. Kemudian kembali ke kamar dan membanting jam dinding yang tadi dimainkan Ahmad hingga kacanya berhamburan di lantai kamar.

Kadang-kadang saya berada pada fase di mana saya inging membanting sesuatu. Saya pernah baca, di Jepang ada tempat terapi emosi di mana kamu disediakan ruangan berisi barang pecah belah dan kamu bisa membanting barang-barang di sana sepuasmu. Tentu saja dengan membayar. Rasa-rasanya meskipun bayar mahal saya ingin coba tempat itu. 

Huffft...

Ini saya bukan mengeluh ya. Tapi daritadi mengeluh terus. Oke, ini memang keluhan saya. Kadang-kadang saya berpikir apa yang salah dalam diri saya. Setelah melakukan semua itu saya seringnya merasa bersalah sama Ahmad. πŸ˜₯

Maafkan ibu ya, Nak.

Mungkin saya perlu memanage emosi saya yang meluap-luap ini.

Tadi pagi, karena cuti, dan pengasuh Ahmad yang tidak tahu diri minta cuti juga, saya yang menyuapi Ahmad makan pagi. Seperti biasa bocah itu berlari kesana kemari. Manjat-manjat motornya Opa. Kalau berhasil disuap kadang-kadang makanannya dilepeh. Emosi saya memuncak. Saya sedang flu, my periode has just came, di mana di hari pertama kedua pasti nyeri. Dan si bocah itu banyak tingkah. Jadilah, tangan saya ini mencubit pinggangnya. (Semoga tidak ada komnas perlindungan anak yang membaca blog saya😁😁). Sekali lagi, saya merasa bersalah. But i just cant handle my self. 

Oh, ya. Beban target di kantor saya semakin gila. I've already discuss about resign with the hubby and he agreed. Mamaku tidak setuju, tapi please Mom, Mama tidak tahu apa yang dialami anak perempuan semata wayangmu ini. 

Kalau tidak capai target, tentu saja akan dimarahi, dan usulan Mama untuk cuek saja ketika dimarahi bukanlah usulan yang tepat. Saya bukan tipikal orang yang bisa cuek saja ketika saya dimarahi karena dianggap tidak kompeten melakukan suatu pekerjaan. I better leave it. Barangkali tekanan yang tanpa sadar mengganggu kestabilan jiwa saya itulah penyebab saya tidak bisa mengendalikan emosi saya di rumah. Yah, tolong dicatat bahwa emosi saya lebih cepat terpancing kalau di rumah dibanding di kantor.

Saya jadi merasa bersalah dan percayalah bahwa tekanan batin yang bercampur rasa bersalah adalah kombinasi perasaan yang sama sekali tidak ingin kamu rasakan. Saya menghabiskan seluruh energy positif saya di kantor selama nyaris 12 jam, dan ketika pulang saya hanya membawa sekeranjang emosi dan kemarahan yang butuh disalurkan.

Huffft...

Rasanya baru bulan lalu saya menjadi pribadi yabg positif menjalani kehidupan saya. Tapi bulan ini seolah semuanya kembali ke titik nol. Mungkin gara-gara saya lagi datang bulan jadi tulisan ini terasa begitu tinggi tensinya.

Oh, ya saya lagi cuti tapi sama sekali tidak produktif menulis. Mood saya terjun bebas dan mengurus Ahmad menguras energy saya.

Angkat topi buat full time Mom. You are the riil hero. 

Eh, saya pernah baca soal working mom yang menyatakan bahwa kantor adalah Me Time yang paling menyenangkan. Hmm, ada benarnya juga. Tapi kok kesannya jadi mengesampingkan anak dan keluarga ya? Saya tidak ingin seperti itu.

Saya akan coba memanage emosi saya dan mengulang-ulang dalam hati  dan pikira bahwa Ahmad adalah anak yang saya sangat harapkan kehadirannya selama penantian panjang nyaris setahun perkawinan. Allah memberikan anak laki-laki seperti keinginan saya, anak yang cerdas, lucu, aktif. Seharusnya saya leih sering mengulang-ulang hal itu dibandingkan mengeluhkan tingkah polahnya. 

Ahmad sehat dan di waktu-waktu lain sangat lahap makan. Untuk itulah dia aktif berlarian kesana kemari. Rasa ingin tahunya tinggi sehingga ingin menyentuh hampir semua benda di rumah dan di warung Mama.

Maafkan Ibu, sekali lagi yang suka cubit Ahmad. Percayalah, rasa sayang dan cinta ini jauh lebih besar daripada segala capek yang datang.

Oke, sebelum tulisan ini semakin menyimpang dari judul, saya sudahi saja. 

See ya.....

Saturday, January 7, 2017

Tumbuh Kembang Anak ; Jangan Dibanding-bandingkan.


Hari ini Baby Ahmad berusia 1 tahun  8 bulan lebih beberapa hari, apa saja yang sudah bisa Ahamd lakukan? Coba saya ingat-ingat dulu. Oke, mari saya jabarkan. 

Baby Ahmad

Di usia sekarang Ahmad sudah bisa :
1. Berhitung sampai 10.

2. Menyambung lagu. (Dalam hal ini adalah lagu yabg sering didengar.

3. Berjalan, berlari. 

4. Giginya sudah (kalau tidak salah) 12 biji.

5. Sudah tahu kegunaan beberapa benda.

6. Sudah tahu beberapa nama buah.

7. Sudah tahu 3 di antara rukun iman 😊. (Agama, Tuhan, Nabi dan Kitab).

8. Sudah bisa membedakan dan mengungkapkan rasa pahit, manis dan pedis.

9. Sudah tahu nama Ayah, Ibu, Opa, Oma.

10. Sudah tahu beberapa nama hewan dan menirukan suaranya.

Apalagi ya? 

Itu saja dulu beberapa yang terlintas di kepala. 

Saya menulis ini sebenarnya sebab beberapa waktu lalu saya membawa Ahmad ke kantor karena ada lembur di hari libur. Di sana ada teman saya yang jadinya baper karena anaknnya yang seusia Ahmad dirasa terlalu pendiam. Dia sampai berpikir akan membawa anaknya ke dokter anak untuk memeriksa tumbuh kembangnya.

Saya paham rasa khawatir teman saya itu. Saya juga sering ditimpa perasaan seperti itu dulu. Iya, dulu waktu awal-awal punya baby.

"Anaknya si ini sudah bisa begitu loh. Kok Ahmad belum?"

"Anaknya bu ini sudah tumbuh gigi, kok Ahmad belum?"

Rasanya jadi cemas dan khawatir sendiri. Apakah ada yang salah dengan Ahmad?

Lalu saya mencoba berpositif thinking karena sebelum ini telah begitu banyak membaca artikel tentang tumbuh kembang anak. Tentang ketidak bolehan kita membanding-bandingkan antara satu anak dan lainnya. Tiap anak berbeda. Antara kakak dan adikpun bisa berbeda.

Berikut akan saya sertakan ilustrasi tumbuh kembang anak yang saya dapat dari rumah sakit waktu lahiran Ahmad dulu. Ada banyak teori tentang tumbuh kembang anak sebenarnya di internet. Tapi dulu saya sering pakai yang di buku Ahmad biar gampang dan tidak perlu repot-repot browsing.






Nah, jika perkembangan anak kita sekarang jauh melenceng dari teori yang dipaparkan oleh ilustrasi di atas, bolehlah kita merasa khawatir dan segera menemui ahlinya.

Begitu ya, Mom (Tiba-tiba blog ini temanya jadi parenting πŸ˜…).

Thursday, January 5, 2017

Proud To Be Working Mom


Di tahun 2017 ini, eh saya bukan tipikal planner yang sedikit-sedikit harus merencanakan sesuatu. Saya lebih ke 'go with the flow'.

Jadi, di awal tahun 2017 ini saya tidak hendak membuat resolusi apa-apa karena bagi saya tidak ada bedanya antara mentari pagi di tahun 2016 atau tahun 2017 atau tahun 2009. Tidak ada beda purnama di tahun 2017, di tahun 2005, di tahun 2007 atau 14 purnama sekalipun, kecuali perihal Rangga yang datang lagi dalam kehidupan Cinta. (Sorry ngelantur 😁).



pic was taken from here

Di hari yang cerah dan mengawali tahun ini saya hanya ingin lebih banyak bersyukur dan lebih produktif. Rasa syukur saya berawal dari sebuah chit-chat by WA dengan teman, sahabat, partner in crime, whatever you may call, Kunca.

Baca pikiran-pikiran dia di : Crafter Gila 


Diawali dengan saya me-WA dia link blog saya, postingan pertama di tahun 2017.


Kunca : Apaan tuh? Resolusi 2017?

Sabrina : bukan, ini cerita mini aja sih.


Lalu Kunca membaca tulisan saya tersebut.

Lalu dia kembali WA

Kunca : Ada blog bagus soal anak yang berkebutuhan khusus. 

Baca blog bagsunya : Diari Mami Ubii


Ya, saya memang membuat cerita mini yang sedikit menyinggung tentang anak dengan kebutuhan khusus (special needs).


Baca cerita mini saya : Ini Pergantian Tahun, Ellena


Nah, cerita itu terinspirasi dari pengalaman nyata temannya teman saya.

Oke, kembali ke laptop. Jadinya saya mengubek-ubek blog yabg direkomendasikan itu dan ternyata saya tidak asing dengan penulis blognya. Dia adalah salah satu founder Rumah Ramah Rubella, tapi saya baru tahu kalau dia juga menulis blog.

Jadi, si mbak Gesi, pemilik blog itu adalah mother of two children di mana anak pertamanya adalah anak dengan spesial needs. Selengkapnya bisa baca sendiri ya. Intinya setelah saya membaca banyak artikel dari blog itu seharian penuh saya jadi addicted dan saya pasti follow dan saya berpikir seharusnya saya lebih bisa bersyukur daripada saat ini atas apa yang telah saya miliki.

Anak saya normal, aktif, lincah. Mama saya sangat membantu menjaga baby Ahmad ketika saya sedang di kantor. Saya bekerja di lingkungan yang sangat menyenangkan dengan teman-teman yang bisa diajak menggila meskipun beban target selalu di luar batas kewarasan.


Teman-teman kantor yang kerjanya 'cuma' Foto-Foto :p

Dan makan-makan :D


Setali tiga uang (eh, benar begini perumpamaannya?) Setelah mengubek-ubek blognya mbak Gesi, saya jadinya menemukan salah satu blog yang ditulis oleh seorang working mom yang recomanded banget untuk difollow.


Baca Blog Mbak Windi : Windi Land

Saya merasa sefrekuensi dengan mbak Wendi ini. Working Mom, pegawai bank, suka menulis. Ah, love at the first written pokoknya #eh.

Especially untuk artikel ini : Dear Rekan Kerja Maafkan Kami Para Working Mom


Nah, jadi kawan-kawan saya yang budiman. Di tahun 2016 saya menyadari saya terlalu banyak mengeluh. Selalu membanding-bandingkan keadaan saya dengan keadaan wanita lain.

Kenapa dia bisa menjalani profesi sebagai stay at home mom dan saya harus bekerja? Kenapa dia bisa bekerja di bidang yang dia sukai sementara saya tidak. Fyi, akuntansi bukan bidang yang saya sukai loh! Kenapa ibu-ibu lain bisa tidur 8 jam sehari saya tidak?

Pokoknya saya merasa HAK ASASI saya dirampas ketika sebagai manusia biasa saya tidak bisa tidur minimal 8 jam sehari. Saya memang hobi tidur sih. Heheh. Bagaimana bisa saya tidur 8 jam sehari kalau saya baru balik kantor minimal jam 7 malam, boboin ahmad, nonton india, tidur jam 11 bangun jam 5 pagi. Huffffttttt! Saya tidur maksimal 6 jam saja.

Tapi kemudian saya membaca blog mbak Gesi dan seketika saya merasa menjadi remahan rempeyek jika dibandingkan dengan emak satu itu. Saya mengeluh saya tidak bisa tidur dengan cukup sementara ada ibu lain yang berjuang dengan segala tekad daya dan upaya demi anak mereka yang special needs. Tidak pernah mengeluh. Ikhlas lahir batin. Mungkin mereka jarang tidur, mungkin beban pikiran mereka lebih berat, bisa jadi mereka mengikatkan ikat pinggang dan mata sekalian lebih kencang demi bisa membiaya obat dan terapi dibandingkan untuk shopping, travelling, jajan dsb..dsb...

Salah satu sosok wanita hebat yang juga diam-diam saya kagumi adalah pemimpin saya sendiri. Saya sebut dengan hormat, Ibu Tetty. So proud of you, bu. 😁

Jadi ceritanya, ibu pimpinan saya ini sedang menemani saya probing ke salah satu calon debitur dan entah kenapa tiba-tiba obrolan kami ketika itu (bersama dengan calon debitur yang kebetulan juga emak-emak  dengan 4 anak) menjurus ke membanding-bandingkan emak-emak generasi mereka, dengan emak-emak generasi saya.

Lalu bu bos bilang kurang lebih seperti ini:

Kalau sudah memilih menjadi working mom harus fighting. Saya juga dulu pernah merasakan merawat anak dari bayi. Punya anak yang sedikit berbeda sehingga butuh terapi, dan ketika itu sayapun tengah menghadapi masalah rumah tangga lainnya. Tapi toh saya bisa melalui. Jadi kalau keluhannya cuma bingung antara pekerjaan dan anak ya itu konsekuensi sebagai working mom.

Dan karena pada dasarnya ibu bos saya ini kalau ngomong memang sangat blak-blakan, saya jadi merasa tertohok sekaligus ber 'o' panjang dalam hati. Ternyata bu bos saya ini juga adalah seorang working mom dengan segala drama, dilema yang saya hadapi plus situasi-situasi lain yang saya tidak hadapi, tapi dia bisa lalui kenapa saya tidak?

Jadi ya, saya memutuskan untuk bangga menjadi working mom, selain karena cicilan KPR saya belum lunas (hehheh) saya senang bisa berkarya di tempat kerja. Bukan berarti saya menyepelekan Ibu Rumah Tangga. Jangan meremehkan ibu rumah tangga berdaster, karena kalau mereka sudah dandan, eh maksud saya sudah pegang gadget, apapun bisa jadi duit. Kayak teman SD saya yang cuma modal gadget sekarang dia kaya raya. Punya toko pula. Uwoow. Pengertian ibu bekerja dalam hal ini bukan berarti harus bekerja di kantor loh ya. Doing our own business juga itu sudah bisa disebut working mom.

Jadi intinya syukuri apa yang ada, hidup adalah anugerah.

😁😁😁😁😁😁😁😁😁😁😁😁😁😁😁😁😁😁😁😁😁😁😁😁😁😁😁😁😁😁😁😁😁😁😁😁😁😁😁😁

Wednesday, October 5, 2016

Balada Batita dan Emak-emak Rempong



Manado sendu, hujan jatuh titik-titik. 

Seperti biasa di hari biasa di pagi yang biasa. Terbangun dengan rasa kantuk yang masih menggelayut di mata. Terbangun karena batita berumur 1.5 tahun bikin rusuh depan kamar karena pup dan ribut minta dicebok. Kalau di hari kerja batitaku memang tidur malamnya sama Oma. Ah, thx to mama yang sangat pengertian. Regardless how old you are, you are still mommy's little girl. 



Bayangkan pengorbanan seorang mama, di hari tuanya yang masih rela mengurus cucu karena 'little girl' nya ini masih sok-sokan jadi wanita karir. Tenang mama, saya pun tidak mau selamanya harus bangun pagi meninggalkan anak untuk ke kantor. Doakan saya ya mama. Doakan saya untuk lebih percaya bahwa rejeki Allah bisa dijemput tanpa harus keluar rumah.


Aminnnn