Showing posts with label motivasi. Show all posts
Showing posts with label motivasi. Show all posts

Wednesday, January 1, 2020

I am Not Perfect but I am Enough

Gambar dari google


(Bukan kontemplasi apalagi rangkuman prestasi) 

Sebagai ibu yang mengajarkan toilet training yang lumayan terlambat,  membiarkan anak menonton youtube supaya saya bisa leyeh-leyeh,  memberi makan nugget hanya karena cooking is not my thing. Heheh. I am not perfect as a mother but i am enough. 

Terimakasih untuk diri saya sendiri yang masih bisa jadi teman ngobrol dan ketawa suami meski urusan masak lebih jago dia dan sebagai gantinya saya ambil alih tugas membersihkan toilet. Terimakasih karena berhasil melewati tahun-tahun ganjil pernikahan yang penuh drama menguras energi dengan baik.  Terimaksih pak suami untuk tidak melarikan diri dari sayaπŸ˜‚. I relize i am not perfect as a wife but i am enough. 

Tetap menulis di sela-sela ke-mager-an dan burn out syndrom kemarin,  tetap gembira ke kantor meski penuh tantangan,  meski hasil dari 2 kegiatan tadi (nulis dan ngantor) tidak maksimal,  terimakasih karena sudah bertahan.  I am not perfect but i think i am enough. 

Terimakasih untuk papa mama handai taulan yang turut mewarnai hari-hari. Selamat tinggal 2019. I survived.πŸ˜‚πŸ˜‚  Semoga 2020 lebih banyak bahagia untuk kita semua. 

Friday, December 21, 2018

Peran Perempuan di Era Industri 4.0



Pada sebuah percakapan ringan di WAG sastra yang mana seluruh anggotanya perempuan penjunjung feminism namun tetap soleha dan rajin beribadah (insya Allah amin πŸ˜‚)  terjadi percakapan yang cukup seru.

Btw,  background ke 5 anggota grup ini beragam.  Full time mom dengan kesibukan berdagang online dan menulis,  working mom yang awalnya guru tapi sekarang lagi fokus kejar beasiswa s3,  lalu saya.

credit


Yang menyamakan kami adalah kami sama-sama emak rempong dimana semua hal dikomentari tanpa ada habisnya. Jadi WAG sastra ini hanya kedok untuk menyembunyikan hasrat rumpi kami. πŸ˜…

Oke  pembicaraan pagi itu diawali dengan salah 1 anggota grup yang share sebuah link esai dari mojok.co berisi curahan hati fulltime mom yang kerap dipandang sebelah mata.  Duh,  bahasan ini memang gak ada habis-habisnya,  ya.  Mom war istilahnya.  Perang argumen tentang lebih baik mana bekerja atau di rumah?  Menyusui atau formula?  Pakai nanny atau day care? Begitu terus sampai Priyanka Chopra melahirkan.  Udah hamil belum sih doi? πŸ˜…

Padahal ya,  kita sebagai sesama emak-emak harusnya bersatu padu untuk mengkritisi harga sembako yang kok kayaknya makin mahal sementara UMR naiknya dikit-dikit πŸ˜…

Untungnya kami semua bersepakat dengan apa kata Dian Sastro bahwa menjadi fulltime mom atawa working mom,  perempuan harus berpendidikan.  Selain berpendidikan, perempuan harus mampu berdaya,  bebas berekspresi dan berhak melakukan passionya,  tentu saja dengan tetap seiring sejalan bersama ridho pak suami. 

Realitanya saat ini,  tidak sedikit juga lelaki yang setelah menikah istrinya di kekepin dalam sangkar emas (ceileh sangkar emas)  lebih sadisnya lagi dilarang berinteraksi boro- boro bersosialisasi dengan ibu-ibu PKK.  Duhai pak suami,  tidak sadar kah kau bahwa istrimu itu juga makhluk sosial?

Banyak kasus juga yang setelah berumah tangga,  istrinya dilarang bekerja.  Katanya kerja itu kewajiban suami,  istri itu kewajibannya rawat anak dan membereskan rumah.  Hey,  merawat anak dan membereskan rumah itu kewajiban bersama.  Enak aja situ yang berantakin sini doang yang beresin.

Menjadi full time mom ataupun working mom itu pilihan. Pilihan wanita itu sendiri tanpa ada paksaan dari pihak manapun (idealnya). Tidak ada yang lebih baik, pun tak ada yang lebih buruk.  Yang salah adalah penghakiman yang harus perempuan-perempuan ini tanggung. 

Fulltime mom dihakimi tidak mandiri karena apa-apa minta pak suami. Working mom dihakimi tidak mulia dan kejam karena meninggalkan anak demi sebongkah duit pembeli lisptik (eh),  belum lagi suaminya ikutan dihakimi sebagai suami tak bertanggungjawab membiarkan istri bekerja.  Gak tau diri nikahin anak orang gak mau nafkahin malah disuruh cari duit sendiri.

Padahal kebutuhan perempuan bekerja itu tak melulu soal finansial.  Ya, meski tak sedikit yang tetap memilih bekerja untuk bantu-bantu suami mencari nafkah.  Tapi banyak juga yang bekerja dengan tujuan lain; aktualisasi diri,  eksistensi,  mereduksi stres (ada loh perempuan yang justru stresnya ketika menghadapi perkara domestik),  panggilan nurani. 

Lalu,  lelaki dengan ke-patriarki-an dan egonya melarang sang istri bekerja plus menghakimi wanita lain di luar sana yang bekerja, saya pengen tanya, jika seluruh wanita memang tidak boleh bekerja di luar dan hanya boleh mengurus anak,  apakah bapak bersedia kalau istri bapak melahirkan yang lahirin bidan cowok?  Nanti kalau vaginanya istri anda perlu dijahit,  yang jahit bidan cowok. 

Lalu,  misalkan amit-amit ada sesuatu di payudara istri bapak yang terhormat kemudian membutuhkan prosedur medis,  apakah bapak nyaman yang meriksa fisik payudara istri anda,  dokter cowok?

Sungguh tak ada yang salah dengan tenaga medis cowok ini karena mereka telah disumpah dan tak mungkin macam-macam sama pasien sendiri.  Tapi,  kembalikan kepada diri bapak-bapak suami sekalian,  apakah bapak nyaman?

Selain tenaga medis,  banyak profesi-profesi lain yang di kemudian hari lebih baik diampu oleh seorang wanita. Nah,  di era industri 4.0 ini lebih-lebih lagi.

Apa sih industri 4.0 itu?  Singkat kata,  ditilik dari wikipedia,  industri 4.0 adalah industri yang serba otomatis.  Dirancang agar pekerjaan fisik manusia direduksi hingga sekecil mungkin.  Ketika bekerja tak lagi butuh kekuatan fisik,  maka di sanalah wanita yang lembut fisik (dan hatinya) bisa terlibat dan justru lebih dibutuhkan.

Berdasarkan penelitian,  wanita lebih teliti dibanding pria.  Kemampuan manajerial seorang wanita juga lebih unggul dibanding pria.




Dilansir dari majalah Parenting, penulis Kristin Kane mengungkapkan bahwa ketika anak-anak sedang belajar mengenal huruf dan menulis, serabut saraf dalam otak anak perempuan lebih cepat tumbuh sehingga bisa menulis dengan lebih teliti dan rapi dibandingkan anak laki-laki.

Wanita dianggap sebagai sosok yang mampu mendengarkan, menyelesaikan masalah dan multitasking dengan lebih baik. Menurut ahli manajemen Jay Forte, wanita adalah penghubung yang lebih baik karena mereka lebih cerdik untuk membangkitkan semangat dari para bawahannya.

Hal di atas tentu sejalan dengan kebutuhan industri 4.0 yang serba otomasi. Dibutuhkan ketelitian dan kemampuan mengorganisir yang mumpuni untuk tetap membuat sistem produksi di suatu pabrik berjalan sesuai scedhule, bukan? 

Tabik.

Thursday, December 20, 2018

Berterimakasih pada Diri Sendiri


Sebagai seseroang yang ambisius kadang-kadang saya merasa iri pada pencapaian orang lain.  Iri dalam hal yang positif kok.  Dia bisa kok saya nggak?  Dia bisa saya harus bisa.

Karena ambisi macam di atas,  ketika hal yang ditargetkan tidak tercapai maka saya sangat terpukul. Untunglah saya adalah seorang sanguins yang memiliki banyak stok kegembiraan bahkan hanya dengan memikirkan sensasi memakan snack ketika anak-anak tidur nanti,  seorang diri,  di pagi dini hari, tanpa distraksi. Bangun dini hari dan makan snack sambil nonton youtube adalah hal yang menggembirakan buat saya.



Karena mudah untuk kembali gembira maka saya akan dengan cepat melupakan kegalauan ketika tidak mencapai target tadi.

Saya pernah begitu keras pada diri saya ketika baru saja memiliki anak pertama 3,5 tahun yang lalu. Saya menargetkan menampung ASIP sekian sekian sebelum masuk kantor,  saya menargetkan pumping setiap 3 jam sekali,  saya menargetkan untuk tidak sufor sampai 6 bulan,  saya menolak semua tawaran jalan-jalan dari pak suami dan teman-teman hanya karena merasa bersalah meninggalkan anak bayi. Sekarang masih sih,  tapi ketika bisa memastikan anak bayi ada yang jaga dan stok asi perah cukup selama ditinggal maka saya akan mengiyakan semua ajakan hang out itu.

Karena begitu keras pada diri sendiri dan tak ada satu pun target yang bisa saya penuhi, saya kemudian lelah.  Terpuruk,  menyalahkan diri sendiri,  merasa bersalah,  merasa tak becus baik sebagai ibu,  istri maupun individu yang beridiri sendiri. Pernah merasa begitu gak sih? πŸ˜‚

Nah,  ketika punya anak kedua saya melunak.  Saya bahkan membuat list tentang kenapa saya seharusnya berterimakasih pada diri sendiri. Tubuh dan pikiran ini sudah lelah beraktvitas dan mengoptimalkan produktivitas.  Berterimakasih lah dan jangan mengeluh.

Di bawah ini adalah 10 hal (sebenarnya bisa lebih dari ini)  kenapa saya harus berterimakasih pada diri sendiri.

1.Terimakasih telah menulis dalam 5 buku antologi sejauh ini

2.Termakasih telah mengajarkan Ahmad Toilet Training

3.Terimakasih telah bertahan dalam pekerjaan penuh tekanan selama 6 tahun 8 bulan

4.Terimakasih telah menyusui Al tanpa lelah selama 2 bulan 25 hari dan tetap konsisten pumping ASI hingga saat ini usia Al 3 bulan 2 hari.

5.Terimakasih telah membuat 18 blogpost selama tahun 2018

6.Terimakasih saat ini sudah tahu cara membaca alfabet Turki.

7.Terimakasih sudah mempraktikkan beberapa resep masakan dan suami suka

8.Terimakasih sudah membuat puding susu dengan toping buah campur yang selalu ditunggu-tunggu oleh suami

9.Terimakasih sudah melahirkan anak kedua dan pulih dengan cepat dan tidak pakai baby blues

10.Terimakasih untuk mengikuti sampai tamat drama Turki yang tayang jam 03.30 subuh.


Ayo sayangi dirimu dan buat daftarnya juga. 😍

Sunday, December 9, 2018

2019 dan Resolusi yang Lebih Realistis

Ada yang sudah mulai menyiapkan resolusi 2019? Biasanya resolusi 2019 adalah menyelesaikan resolusi 2018 yang belum terlaksana yang mana adalah resolusi 2017 yang belum direalisasikan semuanya.  Gitu aja terus sampai Nick Jonas kawin dengan Priyanka Chopra. Eh,  udah ya? 

credit



Terakhir kali saya membuat resolusi adalah di tahun 2014 itu.

Ini adalah sum up nya beserta penjelasan pencapaiannya di akhir 2018 ini :

1. Menerbitkan tulisan (termasuk di dalamnya menyelesaikan 'stiletto project')

Stiletto project masih teronggok di folder yang berdebu. Tapi sejak menuliskan resolusi itu saya sudah memiliki 5 buku antoli.  Yeah... Not bad. Jadi bisa dikatakan terealisasi apa nggak ini ya?



2. Punya anak

Yes.  Ini jelas terealisasi.  Saya bahkan sudah punya 2 anak di tahun 2018 ini



3. Punya pekerjaan yang lebih 'manusiawi'

Nope!  Saya masih bekerja di tempat yang sama dan jam kerja saya masih tidak' manusiawi' juga .  But always try to enjoy

4. Tinggal serumah sama suami
  
Yash. Ini sudah terlaksana.


5. Jalan-jalan ke luar negeri
  
Belum woy! Tapi belakangan saya pengen banget ke Turki.  Ini gara-gara teracuni sama drama Turki yang tayang subuh-subuh.


Btw,  ada cara gratis ke Turki yaitu ikut Summer School. 


6. Punya usaha sendiri.

Ngg..belum terlaksana. Pernah coba jual tiket pesawat online tapi terbengkalai .  Oke berarti belum terlaksana.

7. Kembali ikut mentoring

Belum terlaksana guys.  

8. Les bahasa asing

Belajar bahasa asing sendiri di Youtube apa termasuk?  Lagi belajar bahasa Turki nih.  oke.  Gak termasuk.  Baiklah

9. Berat badan 50 kg. :P

Long way to go.  Berat badan saya sekarang 66 kg. 

Dari 9 resolusi 2014, di tahun 2018 baru 2 yang benar-benar terealisasi.  Apa-apaan ini? 

Mengingat sedikitnya resolusi yang dibuat  4 tahun lalu dapat terlaksana maka saya mencova evaluasi diri.  Apakah saya kurang gigih dan konsisten?  Ataukah resolusi saya yang kurang realistis?  Oke, kemungkinan kedua yang paling mungkin.  Gak realistis kau!

Makanya saya akan mencoba membuat resolusi yang lebih realistis dan lebih detail saat ini. Resolusinya 5 aja.

1.Agama

- Melaksanakan minimal 2 solat di awal waktu dalam sehari. Solatnya terserah mau solat yang mana.
-mengaji minimal 3 halaman tiap minggu
-solat duha minimal 5 kali dalam seminggu.
-tahajud minimal 3 kali dalam seminggu. 

2.Kesehatan

- Mengganti nasi dengan karbo kompleks lainnya minimal 2 hari dalam seminggu.  Harinya terserah.

3. Pengembangan diri

-Menamatkan nonton video belajar bahasa Turki di Youtube maksimal selesai bulan Maret 2019
-Menyelesaikan essai Turkish Summer School maksimal Februari 2019 dalam bahasa Indo
-Essai Turkish Summer School englishnya maksimal Juli 2019

4. Hobi

-Menulis minimal 1 cerpen/bulan
-Menulis minimal 1 postingan baru di blog/minggu

5. Keluarga

- Pulang kantor maksimal jam 8 malam 3 kali dalam seminggu.  Harinya terserah. Untuk bisa quality time sama anak.
- Target ajarin Ahmad bisa baca huruf maksimal bulan April 2019.

Mungkin itu saja kali ya.  Sebenarnya masih banyak keinginan lain semisal mau punya usaha sendiri seperti resolusi 2014.  Mau tinggal di rumah sendiri. Tapi hal-hal seperti itu kurang realistis dengan kondisi saya sekarang.  Dan target saya semua yang saya tulis di atas bisa terealisasi di tahun 2019,  jangan sebisanya tidak muluk-muluk. Mari berdoa bersama-sama.

Oh,  ya untuk motivasi saya akan menerapkan reward dan punishment jika ada yang terlanggar.  Saya masih memikirkan bentuk reward dan punishmentnya.  I'll let you know kalau sudah kepikiran 

Kalau kamu?  Apa resolusi 2019 mu?

Sunday, November 11, 2018

Rahmawati Kekeyi Putri Cantikka dan Stigma yang Berhasil dipatahkan

Ayo acung tangan yang ketagihan nonton vlognya Kekeyi,  beauty vlogger yang lagi fenomenal karena tutorial 25k make up challenge,  dimana doi menggantikan beauty blender dengan balon!


Nonton vlog Kekeyi di sini

Saya baru nonton mungkin sekitaran 4 sampai 5 video dari seluruh video yang sudah diuploanya (ada 39 video),  tapi sebagai emak-emak update yang lagi leyeh-leyeh menikmati cuti melahirkan saya lumayan sering menonton Kekeyi di TV.  Gimana nggak,  wong dia muncul di beberapa talk show kesayangan kok (Rumpi,  Hitam Putih dan Brownis) πŸ˜‚πŸ˜‚ ketahuan banget tontonan gue..

Btw,  saya akan nyicil nonton ke 39 videonya di sela-sela jam menyusui dan memandikan Al ataupun di sela-sela jam menyuapi Kakak Ahmad.  Saya janji Kekey, saya adalah salah 1 big fan kamu soalnyaπŸ˜‚πŸ˜‚

Beauty Vlogger sendiri sebelumnya adalah sekumpulan wanita syantik yang gemar bikin review tentang produk skin care atau bikin video tutorial make up dengan dengan berbagai tema.  Make up kondangan,  make up wisuda,  make up Lebaran,  cam macam lah.  Syarat tidak tertulis yang mutlak dimiliki seorang beauty vlogger adalah CANTIK,  bahkan ketika mereka tanpa make up sekalipun. Bikin iri dan bikin pengen beli racun-racun yang habis direview mereka.  Setiap habis nonton review produk pasti tergoda beli dengan harapan wajah bisa secantik mereka.  Hufttt... 

Nah,  Kekeyi,  sebagai seorang beauty vlogger telah mematahkan stigma yang terbentuk di kalangan masyarakat selama ini.  Dia unik,  dia memiliki standar cantik yang berbeda dengan standar yang diciptakan selama ini. Dia berkemauan keras,  dia persisten,  dia pantang menyerah. 

Banyak pelajaran yang dapat diambil dari kemauan keras Kekeyi.  Ketika dia tidak punya kamera pro untuk syuting,  dia pakai kamera hp seadanya.  Ketika dia tidak punya lighting,  dia pakai senter.  Ketika dia tidak punya beauty blender,  dia menciptakan DIY beauty blender yaitu balon ulang tahun. πŸ˜‚πŸ˜‚

Semua orang lalu bertanya,  kenapa dia begitu percaya diri untik tampil depan kamera dan mengupload keseluruhan proses make overnya saat semua standar yang harus dimiliki seorang beauty vlogger tidak ada di dia.  Ternyata pengalaman hidup yang membuatnya demikian tough.  Dulunya dia kerap dibully oleh teman-teman SMA dengan cercaan khas body shaming; pendek,  jelek,  gendut.  Benar-benar ya!

Memang, terkadang kita butuh suatu peristiwa yang tragis untuk dapat bangkit dari keterpurukan.  Kekeyi berangkat dari peristiwa pembulian untuk kemudian berani tampil percaya diri menjadi beaty vlogger dengan jumlah peningkatan subscriber tercepat.  Sehari yang lalu saya tengok baru 160K subscriber tadi subuh sudah 200K. Dan hanya bermodalkan make up-make up serta peralatan seadanya yang murah-murah. 

Berarti,  kita butuh suatu peristiwa tragis sebagai momentum kebangkitan?  Tentu saja tidak. Bersyukurlah karena kita cukup belajar dari pengalaman hidup orang lain. Kalau kita merasa hidup lempeng-lempeng aja,  bersyukurlah karena kita tidak pernah mengalami dibully sampai nangis-nangis di toilet seperti Kekeyi.  

Pelajaran lain yang dapat diambil dari fenomena Kekeyi adalah berkemauan keras.  Tidak down karena cemoohan.  Kalau kita ibu rumah tangga,  singkirkanlah pikiran bahwa ibu rumah tangga sudah kodratnya mengabdi hanya pada urusan dapur,  kasur dan anak turunan.  Tidak!  Ketika menikah wanita kerap kehilangan jati diri karena berbagai label dan standar yang disematkan padanya.  Harus 24 jam non stop buat anak,  harus 24 jam non stop di rumah,  harus saklek mengikuti perkataan suami tanpa ada kesempatan berdiskusi dan menjadi diri sendiri.  Itulah kenapa wanita,  terlebih yang telah berumah tangga,  rentan terhadap stres.  Ketika tidak bisa mencapai standar orang lain dia stres,  ketika anak sakit dia terpuruk dan menyalahkan diri,  ketika anak lambat menyerap pelajaran sekolah rasa bersalahnya menggunung.  Memang,  semua hal yang terjadi pada anak adalah tanggungjawab orang tua,  tapi perlu diingat, anak  adalah individu yang terpisah.  Dia bukan robot yang didesain dengan bahasa program yang kita inginkan. Jangan menggunakan standar orang lain,  jangan membeo pada stigma yang terbentuk di masyarakat.  Buatlah standar kebahagiaanmu sendiri.  Patahkanlah stigma yang sudah ada. 

Hal ini tentu saja bukan hanya terjadi pada ibu rumah tangga.  Ibu bekerja pun kerap dibayang-bayangi label dan stigma. Ibu bekerja bukanlah ibu yang sepenuhnya,  ibu bekerja tak punya hati karena menitipkan anak pada pengasuh,  ibu bekerja seenaknya saja memberi sufor tanpa mempertimbangkan keutamaan ASI.  And so on.  Tanpa pernah orang lain menyadari bahwa mungkin sebagian besar penghasilan keluarga masih ditopang oleh ibu pekerja,  bahwa mungkin dia setengah mati pumping ASI tapi hasilnya tak memuaskan. 

Kadang kita begitu sibuk memenuhi standar yang dibuat orang lain dan begitu sibuk mengikuti stigma yang telah terbentuk di masyarakat hingga lupa pada potensi diri,  mengubur dalam-dalam cita-cita yang pernah ada,  lebih parahnya lagi jika lupa bagaimana caranya bahagia. 

Bagi Kekeyi,  make up adalah sumber kebahagiaannya,  sedangkan menjadi beauty blogger bisa jadi adalah target atau passion atau katakanlah cita-citanya.  Maka dia mengusahakan segala source, daya dan upaya untuk mencapainya meski banyak yang mencemooh. 

Kalau kamu ibu rumah tangga yang telah mengubur dalam-dalam passionmu,  maka mulai sekarang kerjakanlah,  usahakanlah di tengah keterbatasan tanpa harus melalaikan kewajiban.  

Kalau kamu ibu bekerja yang selalu merasa bersalah menyerahkan perawatan anak pada pengasuh,  maka hapuskanlah pikiran-pikiran seperti itu.  Berbahagialah karena kamu dapat bekerja dan dapat mempekerjakan orang lain untuk urusan domestikmu.  Mungkin saja orang itu tidak punya keahlian lain selain perkara domestik, sehingga sangat bersyukur dapat bekerja padamu. 

Intinya sih.. Berbahagialah sebagai apapun kita sekarang.  😁

Sunday, September 2, 2018

Menikah Muda : Yay or Nay



Nay!  😁

Saya menikah di usia 23 tahun.  Itu termasuk nikah muda apa nggak ya?  Patokannya usia berapa sih dikatakan nikah muda itu?  

Baca : 


Bulan September ini saya akan merayakan anniversary pernikahan yang ke 5. Orang bilang itu adalah titik krusial kedua dalam sebuah rumah tangga (setelah tahun ke 3).  Oh em ji.  

Bulan September ini juga saya tengah menantikan kehadiran buah hati saya yang kedua,  dan di bulan September ini juga saya tiba-tiba ingin ikutan writing marathon bertajuk '30 Days September to Rembember' di salah satu komunitas menulis saya 'One Day One Post' . Jadi ya kali ini mau bahas serba-serbi tentang dunia pernikahan. 😁 Boleh kan ya?  Boleh dong! 

Kenapa saya langsung bilang no untuk menikah muda? Apakah saya termasuk golongan orang-orang yang anti terhadap campaign nikah muda?  Tentu saja tidak!  Bagaimanapun juga menikah lebih baik dibanding pacaran.  Apalagi pacaran yang berujung putusπŸ˜‚

Dalam postingan ini saya tidak hendak membahas perkara nikah muda dari sudut pandang agama ataupun medis.  Saya bahasnya dari sudut pandang finansial dan mental. 

Baca :


Saya bilang tidak untuk menikah muda jika kamu masih dalam kondisi di bawah ini :


1. Kalau kamu laki-laki dan belum berpenghasilan. 

Ya iyalah,  mau dikasih makan apa anak orang? Kasih makan cinta?  Emang cinta bisa buat beli telur dan beras yang harganya makin lama makin melambung? 

Selain itu menikah  juga butuh biaya,  sesederhana apapun acara yang akan kamu gelar nanti.  Mau sekedar syukuran atau resepsi mewah,  semua butuh biaya. Mau minta ortu?  Hey,  malu hey!  Kecuali kalau ortu sukarela buat bantu ya.  Ini lain soal. 


2. Kalau kamu perempuan dan sedang menempuh pendidikan. 

Pendidikan yang saya maksud adalah di semua jenjang.  Kalau kamu saat ini sedang kuliah S1 atau S2 lalu ada yang ngajakin nikah,  mending tunggu selesai kuliah dulu.  Karena sesungguhnya kehidupan setelah pernikahan itu tidak sesederhana yang kamu bayangkan.  Kamu sudah memiliki tanggungjawab kepada suami,  terlebih jika langsung punya anak. 

Merawat anak tidak pernah mudah soalnya ini anak manusia bukan anak kucing yang bisa kamu tinggal pergi-pergi. Daripada kuliah keteteran,  mending kamu tunda menikahnya sampai wisuda.  Kecuali kalau kamu sudah mantap memilih menikah dibanding kuliah loh ya. Jika sudah menjadi pilihan,  tidak boleh ada penyesalan kalau habis nikah kuliah gak kelar. 

Walaupun pada kenyataannya ada juga yang bisa membagi waktu antara pendidikan dan keluarga,  meskipun itu jumlahnya sangat sedikit,  saya tetap menyarankan kamu untuk menuntaskan pendidikan hingga selesai dulu. Ingat,  perempuan harus berpendidikan untuk bekal mengasuh anak-anak dan bekal buat diri sendiri.  

Beberapa sahabat wanita saya yang ingin melanjutkan pendidikan S2 harus rela menunggu beberapa tahun hingga anak-anak mandiri baru mulai apply S2 lagi. 


3. Jika Kamu (Laki/Perempuan)  Belum Siap Secara Mental. 

Menikah itu menyatukan dua orang yang berbeda untuk tidur satu ranjang.  Which is dari buka mata sampai mau tutup mata lagi di malam hari kamu akan melihat wajah yang sama.  Lo lagi.  Lo lagi.  Bosan gak sih?  Hahahah.  Sudah lo lagi lo lagi,  eh lo nya nyebelin.  Mau bilang kita break dulu soalnya lagi bosan dan kamunya nyebelin,  eits gak bisa,  soalnya ini nikah my darling,  bukan pacar-pacaran ala Dilan dan Milea lagi. 

Ini nikah,  di mana paling banter kalau kamu lagi sebel sama suamimu hal yang dapat kamu lakukan adalah ngambek seharian dan mogok masak 😁

Belum lagi kalau sanak saudara dan handai taulan ikut nimbrung dalam mengatur masalah rumah tangga.  Ini berlaku kalau kamu habis nikah masih tinggal di pondok mertua indah (including me)  😁.  Mau menyatukan dua isi kepala yang berbeda saja ribet,  apalagi lebih dari dua kepala? 

Pokoknya pikirkan baik-baik lagi. Jangan keburu nafsu dan keburu pertanyaan klise kapan nikah sehingga kamu gegabah dalam mengambil keputusan.  Solah istikharah kalau yang muslim. Menikah bukan perlombaan mengenai siapa yang duluan. Menikah adalah sebuah keputusan maha penting dan proses belajar yang gak selesai-selesai.  Kalau 3 poin dasar di atas sudah bisa terpenuhi, maka jangan ragu untuk menikah.  

Menikahlah sepanjang ada yang ngajakin 😁😁

Friday, July 13, 2018

Financial Planning ala Mak Emak (sok) Eksis



Sebagai siapa pun kamu sekarang -anak muda gaul,  emak-emak eksis,  single happy,  happy family-  sebaiknya kamu sudah mulai mempertimbangkan untuk membenahi finansialmu.  Saya berami ngomong begini bukan berarti karena finansial saya sudah tertata dengan baik,  ya. Tapi ini justru sebagai self remainder dan bahan belajar bersama-sama. 😁


credit


Jadi,  mari kita mulai membahas alokasi gaji,  pendapatan,  pemasukan,  atau apapun itu sebutannya yang kamu dapatkan tiap bulan. Kata Bapak Rudiyanto,  Direktur PT. PANIN dalam blognya,  bagilah penghasilanmu menadi 4 bagian dengan rasio 10:20:30:40.


Rasio tersebut akan saya jabarkan secara singkat di bawah ini ya...


10% untuk dana kebaikan. 

Kita menyebutnya bersedekah,  beramal,  berderma.  Ingat, ada hak orang lain di dalam penghasilanmu.  Jangan perhitungan mengeluarkan dana kebaikan ini,  biar Yang Di Atas juga nggak perhitungan sama kamu. 😁


Oh ya,  dana kebaikan ini bisa juga untuk memberi kepada orang tua,  sanak famili yang membutuhkan,  dsb.


20% untuk untuk dana darurat,  investasi serta asuransi.

Dalam menyisihkan dana darurat ada banyak teori yang bisa kamu peroleh dengan mudah di Google dan menyesuaikan dengan kondisi kamu.  Ada yang menyebut nominal dana darurat itu minimal 4x biaya hidup bulanan,  ada yang bilang 6x dan jumlahnya bisa saja lebih banyak seiring dengan jumlah tanggungan keluarga.

Apa sebenarnya dana darurat itu dan apa fungsinya?  Dana darurat adalah dana yang akan berguna ketika kamu mendadak tidak lagi memperoleh penghasilan karena suatu hal,  misalkan sakit,  kecelakaan yang menyebabkan tidak bisa beraktivitas,  di PHK,  perusahaanmu pailit,  bisnismu bangkrut dsb. 


credit

Dana darurat itulah yang akan menopang hidupmu untuk sementara waktu hingga kamu memperoleh penghasilan kembali.  Pakar ekonomi menyarankan untuk memisahkan alokasi dana darurat ini di rekening atau simpanan tersendiri sehingga tidak tercampur dengan dana yang akan digunakan untuk hal lain.
Kalau untuk asuransi,  dalam hal ini saya mengalokasikan untuk asuransi kesehatan.  Jaman sekarang,  tidak sulit untuk memilih asuransi kesehatan.  Pilih aja BPJS.  Dengan menyisihkan Rp. 70.000,-/ bulan kamu sudah dapat fasilitas BPJS kelas 1 dengan pelayanan yang prima (di rumah sakit-rumah sakit tertentu).

Meski banyak juga testimoni negatif tentang pelayanan BPJS ini di beberapa rumah sakit,  tidak sedikit pula rumah sakit yang pelayanannya bagus kok. Kalau kamu tinggal di Manado,  saya sangat rekomendasikan RS. Advent jika kamu menggunakan BPJS.  Udah banyak testimoni positif yang saya dengar.  Sila cari rumah sakit yang ramah BPJS di daerah tempat tinggalmu ya. Ada yang belum ikut BPJS?  Segera daftar lah.. Insya Allah lebih banyak manfaatnya.

Dalam hal investasi,  nggak perlu yang ribet seperti menanam saham,  reksadana,  obligasi dan sebagainya apalagi kalau kamu adalah jenis orang yang malas ribet dan malas pantau-pantau pergerakan saham dan tidak hobi nonton berita ekonomiπŸ˜…
Investasi juga nggak mesti mahal dengan beli tanah atau properti.  Investasi bisa sesimpel membuka tabungan berjangka di bank untuk penididikan anak atau biaya renovasi rumah,  atau yang dilakukan nenek saya,  membeli emas. 

Sesungguhnya instrumen investasi beraneka ragam.  Ada plus minus.  Ada high return,  low return,  high risk,  low risk.  Kamu bisa pilih sesuai dengan karaktermu,  budget,  dan tujuan investasimu.
Dalam postingan lain saya akan mencoba menjabarkan salah satu instrumen investasi yang menurut saya paling pas buat kamu yang ingin berinvestasi tapi tetap hemat.  Ialah tabungan emas.  Pernah dengar?  Semoga saya nggak malas ya membahas ini nanti πŸ˜€


30% cicilan produktif.

Saya sangat menyarankan,  jika nanti kamu memutuskan untuk mulai mengambil kredit di bank,  pertama-pertama,  ambillah cicilan rumah terlebih dahulu,  sebelum cicilan kendaraan.  Karena apa?  Karena rumah nilainya terus naik  sedangkan kendaraan nilainya pasti menurun. Umur ekonomis kendaraan itu 5 tahun. Setelah 5 tahun dia akan lebih menjadi beban.  Entah karena biaya perbaikan,  ganti spare part dan sebagainya.

Sebagai gantinya,  kamu bisa menggunakan kendaraan umum atau ojek online.  Lebih hemat dan lebih ramah lingkungan πŸ˜€πŸ˜€


40% untuk kebutuhan hidup.

Nah,  ini nggak perlu dijelaskan ya.  Kalau ada yang bertanya-tanya,  lalu dana untuk hura-hura atau untuk pengembangan diri masuk mana?  Bisa saja kamu masukkan dalam 40% ini atau di porsi 20% di atas.  Pengembangan diri bisa dikategorikan investasi juga loh... 😁

Oke,  sekian dulu penjabaran finansial planning ala-ala.  Prinsip 10,20,30,40 ini hanyalah salah satu metode mempermudah merencankan keuangan. Banyak metode lain,  yang menerapkan rasio yang berbeda dapat kamu temukan di google.  Pilihlah yang sesuai dengan kondisimu.  Intinya,  rajin-rajinlah menabung dan milikilah BPJS sekarang juga! πŸ˜†

Monday, July 9, 2018

3 Langkah Mengembalikan Mood Menulismu



Sebagai seorang emak-emak yang selain hectic sama urusan rumah juga (sok)  sibuk di kantor,  saya selalu banyak excuse kalau harus menulis.

Sesungguhnya saya sangat mencintai dunia kepenulisan ini,  jadi kalau sudah berbulan-bulan tidak menulis rasanya ada yang hilang. Sejak dilanda morning sickness di awal tahun dengan frekuensi yang naudzubillah untuk kehamilan kedua saya (iya saya lagi hamil anak kedua😁) praktis semua mood yang berhubungan dengan dunia literasi menguap. 


credit


Selain morning sickness,  kepindahan saya ke unit baru di kantor sejak pertengahan tahun lalu,  di mana load pekerjaannya bertambah yang berdampak pada semakin larutnya jam pulang saya,  membuat saya benar-benar kehabisan energi untuk menulis.  Eh,  tapi sepertinya tahun lalu saya cukup produktif deh.  Pokoknya,  lihat saya banyak excuse kan?

Nah,  sesubuh ini saya jalan-jalan santai menelusuri beranda facebook dan cukup tercengang membaca beberapa status teman yang saya kenal di beberapa komunitas menulis,  yang sesungguhnya adalah penulis yang produktif, juga tengah dilanda sejenis writer's block ini.  Ini bisa disebut writer's block nggak sih?



Penyebab hilangnya mood menulis ini memang bisa karena berbagai alasan yang berbeda.  Kalau alasan saya sudah saya jembreng di atas kan ya.  Sekarang saya mau kasih langkah-langkah yang saya (coba)  tempuh untuk mengembalikan mood menulis ini.  Tidak.  Tidak.  Mood menulis saya belum benar-benar pulih,  tapi saya sedang mengusahakan untuk memulihkannya.  Doakan saya ya...πŸ™πŸ™


1.  Mulailah menulis tulisan yang ringan.

Dalam kasus saya,  saya mulai kembali dengan menulis apa pun yang terlintas dalam kepala ke dalam blog saya ini.  Yang ringan-ringan saja.  Kejadian yang dialami seharian kemarin,  pemikiran-pemikiran receh yang tiba-tiba melintas, apa saja.  Tuliskanlah!

Kalau kamu tidak punya blog dan tidak hobi ngeblog kamu bisa memulainya dengan menulis status di facebook.  Tuangkan pemikiranmu ke sana.  Iya.  Tulis aja.  Flash fiction,  cerita mini,  opini singkat.  Apa saja.

2. Cari lomba menulis yang deadlinenya sebentar lagi.

Ini sunggung bekerja pada kasus saya.  Salah satu motivasi menulis saya,  selain agar tulisan saya disukai dan sukur-sukur jika bisa bermanfaat untuk orang lain adalah uang,  hadiah,  reward,  you name it.  Hahaha.  Ketahuan banget kan orientasi saya.  Eh,  tapi sungguh,  ikutan lomba kemudian menang meski hadiahnya hanya pulsa 25.000 sungguh membuat saya gembira bukan kepalang dan membangkitkan semangat menulis saya dengan cukup signifikan.

3. Keep in touch dengan Teman yang Memiliki Hobi yang Sama.

Ketika mood menulis saya berada pada titik nadir,  otomatis mood berselancar di dunia maya saya pun raib entar ke mana.  Palingan sesekali saja saya ngintip beranda fb atau ig.  Sesekali saja baca komentar ataupun lihat upload - an foto yang lalu lalang,  sesekali saja tengok grup menulis di WAG hingga chat yang belum dibaca menyentuh 10.000.

Nah,  yang saya lakukan kemudian adalah menyapa teman dan sahabat-sahabat yang memiliki hobi yang sama itu.  Mengharapkan aura positif mereka menjangkiti saya.  Atau kalau mereka pun lagi nggak mood dengan dunia tulis menulis,  saya akan merasa tidak sendirian menghadapi masalah ini.  Kita bisa saling curhat apa kendalanya, untuk kemudian saling menyemangati. 

credit


Itu saja sih,  3 langkah mengembalikan mood menulis yang saya lakukan.  Saya tidak akan suruh kamu membaca dan menasihati bahwa kekakuanmu memainkan imajinasi saat ini adalah karena kurangnya bahan bacaan.  Tidak.  Sungguh.  Karena kalau saya,  ketika sedang nggak mood menulis,  maka membaca pun pasti ogah-ogahan.

Mungkin sebagai tambahan saran, saya akan suruh kamu window shopping di mall atau nonton tv sambil makan kacang BaliπŸ˜†


Oke, sekian dan terimakasih.

Saturday, November 4, 2017

Ketika Si Pengeluh Insaf

Saya adalah orang yang pandai mengeluh. Ada-ada saja hal yang bisa jadi bahan keluhan. Keharusan bangun sepagi itu,  jalanan yang begini macet,  jam absen di setel menjadi lebih maju dan saya kerap terlambat beberapa detik,  tangga lantai satu ke lantai dua yang sepertinya didesain tidak ergonomis sehingga bikin sakit pinggang,  tata letak komputer di atas meja yang tidak pas.  Dan so on.  Tapi sepertinya daritadi keluhan saya seputar kantor πŸ˜‚


credit



Lalu ketika jam istirahat siang dan kebetulan saya makan di luar,  saya melihat ibu-ibu menggandeng anaknya yang berseragam sekolah berjalan santai di trotoar.  Barangkali dia habis menjemput anaknya lalu mereka berjalan-jalan dulu sebelum pulang ke rumah. Di mana letaknya keadilan saat ibu-ibu itu jalan santai sementara saya harus buru-buru membayar makan karena sebentar lagi jam satu? 

Saya adalah manusia yang pandai mengeluh lalu entah bagaimana awalnya hal itu terjadi hingga sekarang kalau mau mengeluh saya merasa sedikit malu.  Malu pada diri sendiri. Malu pada orang lain. Keisengan saya dan sikap sok akrab saya ternyata kadang-kadang membawa hal positif.  

Jadi, suatu ketika ada satpam baru di kantor yang kebetulan ditugaskan menjaga di lantai tempat saya bertugas. Masih muda, sepertinya seumuran. Saya dengan sikap sok akrab mulai tanya-tanya asalnya,  kerja di sini sejak kapan,  berapa gajinya.  Kurang ajar kan tanya-tanya gaji orang.  πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚

Entah karena Abang Satpamnya ini polos atau karena memang dasarnya baik hati dan jujur dia bilang bahwa dia satpam magang.  Baru kali itu kerja di kantor saya, kebetulan karena satpam seniornya pindah tugas.  Dan karena belum jadi karyawan tetap dia dibayar harian. Kalau tidak salah ingat dia menyebut angka Rp. 75.000,-/ hari. Saya cepat mengkalkulasi di kepala.  Rp. 75.000,- kali 20 hari kerja Rp. 1.500.000,- Itu dengan catatan kalau dia belum terganti dengan satpam tetap. 

Dia menceritakan itu dengan mata berbinar. Berulangkali mengucapkan sukur. Hal itulah yang sepertinya menjadi momentum dari kesadaran saya πŸ˜… (yang terlambat ini). 

Kita kerap berjalan sambil sibuk mendongak ke atas. Membanding-mebandingkan keadaan dengan orang lain yang lebih dari kita memang takkan ada habisnya.  Mengeluh itu pekerjaan yang sama mudahnya dengan melamun.  Gampang sekali dikerjakan. Tapi sedikit manfaatnya. Tapi,  hei,  sudahkah kamu menengok tukang sapu jalan yang harus bekerja sedemikian pagi untuk memungut sampah yang kau buang sembarangan? Sudahkah kamu menengok cleaning service yang mengepel lantai untuk kemudian kau injak lagi? Pernahkah kamu membayangkan sehari saja menjadi bapak-bapak tua yang menjajakan makan  siang di kantor?  Mereka semua itu melakukan pekerjaannya dengan ikhlas dan penuh kerelaan namun mengapa kamu tidak? 

Di atas sesungguhnya rentetan pertanyaan bagi diri saya yang pandai mengeluh. Bahkan Tuhan pun sudah berfirman, "Mintalah, maka akan kuberi." Kalau merasa lelah dan kesusahan sebaiknya kita kurangi keluhan dan perbanyak berdoa.  

Duh,  bijak banget tulisan saya. Sudah ah... 

Sunday, July 30, 2017

Diserang Writer's Block? Lakukan 5 Hal Ini


Setiap penulis atau yang sedang meniti karir di dunia tulis menulis pasti tidak asing dengan istilah writer's block. Itu adalah kondisi di mana kamu tidak ada keinginan untuk menulis ataupun memiliki keinginan namun tidak tau mau menulis apa. Writer's block ini sebagaian besar muncul  sebagai manifestasi dari mood yang jelek ataupun susahnya membagi waktu dengan kegiatan lain.

credit


Gejala writer's block dapat berwujud kehabisan ide, sudah punya ide bingung eksekusinya bagaimana, sudah niat mantap mau eksekusi bingung kalimat pertamanya gimana, sudah punya kalimat pertama nendang konfliknya melempem, sudah punya konflik keren bingung endingnya mau diapain. πŸ˜„πŸ˜…

Nah, berikut akan saya jembrengkan uraikan hal-hal yang (menurut pengalaman saya) dapat mengatasi writer's block.

1. Nonton Serial TV atau Drama

Drama India dan drama Turki berhasil menaikkan mood dan memberikan ide menulis untuk saya. Bayangkan! Ratusan episode dan penontonnya setia mengikuti. Itu kan wooww! Saya belajar bagaimana menciptakan konflik dari hal-hal yang sederhana, menciptakan karakter yang kuat and so on. Bagi yang kena Korean Wave, nonton drakor juga ampuh membangkitkan mood dan memunculkan ide menulis. Buat cowok yang tidak suka nonton drama boleh nonton film hollywood di youtube atau sekalian ke bioskop. 


2. Membaca Novel atau Kumpulan Cerpen

Kata suatu quote yang beredar di media sosial, kalau kamu sedang tidak ingin membaca, menulislah, kalau sedang tidak ingin menulis, membacalah. Seperti halnya menonton drama, membaca juga bisa memperbaiki mood dan memunculkan ide-ide untuk memulai kembali menulis. Tapi biasanya habis membaca saya seringkali terpengaruh gaya bahasa penulis yang saya baca tulisannya πŸ˜–.

dari WA saya sulit menemukan sumbernya



3. Makan Junk Food

Junk food bagi saya adalah obat pereda stres. Kalau stres hilang otomatis mood meningkat. Sesimpel itu sih. Haahha


4. Window Shopping

Sebagai perempuan yang kodratnya senang melihat yang indah-indah, saya punya hobby window shopping, ini hobby yang hemat karena hasrat melihat barang yang indah-indah tersalurkan dan uang tetap aman pada tempatnya karena saya tidak pernah tergoda untuk membeli. Saya hanya ingin lihat tanpa ada maksud memiliki. Aihhh....πŸ˜… Dan ini selalu ampuh membangkitkan mood saya. Kalau buat cowok mungkin dengan futsal atau main game kali ya...😁



5. Bergabung dengan Komunitas Menulis.

Saya pernah membahas tentang komunitas menulis itu di sini :

Buat yang Hobi Menulis

Kenapa bagi saya penting untuk bergabung dengan komunitas menulis? Karena kita jadi memiliki teman yang saling menyemangati ketika sedang dalam kondisi writer's block, teman sharing dan berbagi info-info perihal kepenulisan. Biasanya setelah sharing apalagi melihat teman lain akan menerbitkan buku saya langsung bersemangat kembali menulis. Kan nggak mau kalah!!!

Nah, saat ini saya tidak bergantung pada kegiatan tulis menulis untuk menghidupi diri saya, karena saya bergantung kepada Allah SWT melalui dompet suami πŸ˜†. Hahaha. Kidding, maksudnya saya tidak mendapatkan penghasilan utama melalui kegiatan menulis, biasanya saya menulis kalau sedang mood dan kalau ada deadline lomba ataupun deadline dari kelas menulis yang saya ikuti. Berhubung tidak bergantung pasa penghasilan menulis, biasanya kalau diserang writer's block saya selow saja. 

Tapi mungkin suatu saat nanti, jika saya harus menggantungkan diri pada penghasilan menulis, saya akan berjuang semampunya untuk lolos dari jeratan iblis bernama writer's block. 😁


#onedayonepost
#tantangankelasfiksi5

Wednesday, July 26, 2017

Just Quit and Be Happy

Kalau kamu sudah lulus diterima di jurusan IPA, kamu sudah belajar sekeras temanmu belajar, tapi nilai fisika dan matematikamu tetap standar, mungkin kamu tidak cocok di kelas IPA, mungkin kelas IPA tidak cocok bagimu. Mungkin kamu akan sesuai di kelas Bahasa atau seni. Keluarlah, kamu tidak perlu menjalani kehidupan yang orang lain jalani.

1

Jika kamu sudah berpindah jurusan, lebih sedikit hitungan, tapi entah kenapa masih saja ogah-ogahan, keluarlah! Mungkin sistem pendidikan formal tidak cocok bagimu. Kamu tidak perlu menjalani kehidupan seperti yang orang lain jalani. Anak-anak Gen Halilintar tidak mengenyam pendidikan formal. Mereka home schooling dan si sulung mencapai omset 1 Milyar di umur 13 tahun. Kalau kamu? Umur 13 tahun ngapain?

Jika kamu sudah belajar sekuat tenaga sehingga mengorbankan waktu bersantaimu untuk bisa diterima di fakultas kedokteran ternama, lalu kamu gagal ujian dan teman sebangku di SMA yang kamu tahu kapasitas otaknya juga mirip-mirip kamu bisa lolos, beregembiralah, mungkin Teknik Pertambangan lebih cocok bagimu, atau acoounting, atau manajemen Bisnis. Kamu tidak perlu menjadi Dokter untuk berbahagia.

Kalau kamu sudah berada di jurusan yang kamu nyaman di dalamnya. Mata kuliahnya menyenangkan tapi passion mu tidak tersalurkan, emosimu seringkali tertahan, teori-teori dari pakarnya hanya masuk telinga kiri dan lolos di telinga kanan, keluarlah! Mungkin kuliah bukan jalan menuju kesuksesanmu. Mark Zuckerberg, Bill Gates, Hoeda Manis, adalah orang-orang yang memilih drop out dari kuliah dan sukses di bidangnya.


2


Jika kamu sudah lulus kuliah dan penuh percaya diri, melamar di perusahaan ternama dan diterima, lalu bekerja, lalu diberi target, lalu target itu tidak tercapai dan kamu jadi bulan-bulanan, padahal kamu sudah berusahan mati-matian plus lembur semalaman, keluarlah! Barangkali perusahaan itu tidak cocok bagimu, kamu tidak cocok bagi perusahaan itu, jangan menunda untuk berbahagia, kebahagiaanmu bukan bergantung pada perusahaan besar mana tempatmu bekerja sekarang. Mungkin kamu bisa menjadi pemimpin di perusahaan yang lebih kecil, atau kamu berpikir untuk membuka usaha sendiri. Kamu tidak perlu menjalani apa yang orang lain jalani!

Jika kamu sudah berpindah ke perusahaan yang lebih kecil, namun performamu tetap nihil, tidak perlu merasa kerdil, keluarlah! Barangkali bekerja di perusahaan yang mengejar profit bukan bidangmu, barangkali jiwa sosialmu begitu tinggi sehingga mengabdi lebih berarti, atau memulai usaha dan memberdayakan anak-anak jalanan dan warga miskin lebih kau sukai.

Jika kamu tidak betah berlama-lama basa-basi, enggan bersosialisasi macam sosilaita masa kini, namun sangat passionate terhadap tumbuh kembang anakmu, keluarlah! Keluarlah dari apapun yang sedang menghalangimu untuk berbahagia dan sambutlah uluran tangan-tangan kecil yang senantiasa menantimu pulang. Mungkin menjadi Ibu Rumah Tangga adalah yang terbaik bagimu. Tidak perlu ragu dan gentar mendengar celotehan kritikus dadakan yang hanya sibuk mengomentari hidupmu sementara hidupnya sendiri entahlan. Kamu tidak perlu menjalani yang tetanggamu ingin kamu jalani. Bangun pagi, berpakaian necis, ke kantor dengan kendaraan mewah, kembali ke rumah malam dan mengulangi rutinitas yang sama setiap hari.

3

Jika kamu saat ini masih lebih banyak merenung, tidak tahu akan melakukan apa, tidak tahu mau bagaimana menjalani hidup, kembalilah bersekolah! Atau piknik. Mungkin kamu kurang dididik atau kurang piknik. 

Tidak ada yang berhak mengomentari pilihan yang dibuat oleh seseorang. Meminjam istilah Mami Ubii, we are not in their shoes. Siapa kamu berhak mengomentari apa yang menjadi keputusan orang lain ketika kamu tidak berada dalam posisinya, tidak menghadapi apa yang tengah dia hadapi, tidak mengalami apa yang telah dia lalui. Kalau sekedar memberi saran atau pandanganmu terhadap pilihannya, boleh. Tapi ketika kamu mulai menghakimi, hentikanlah!

Deddy Corbuzier dalam reality shownya berkata kurang lebih seperti ini, "Untuk sukses kita tidak harus sekolah. Tapi sekolah adalah salah satu jalan menuju kesuksesan. Namun jika hanya bersekolah dan lantas mengharapkan kesuksesan, itu juga salah besar. Saya tidak memiliki kunci sukses, namun saya memiliki kunci kegagalan, yaitu ketika kita mulai menyerah."


Sumber Gambar :

1. www.pinterest.com
2. www.pinterest.com
3. www.justquitthing.com



Sunday, June 4, 2017

My New Born Baby Has Just Delivered

Perjalanan kepenulisan saya yang masih awam ini tidak terlepas dari beberapa komunitas menulis di mana saya menjadi anggota di dalamnya.

Benar kata sebuah kalimat bijak 'untuk menulis kamu bisa melakukannya seorang diri, untuk menjadi penulis kamu butuh orang lain'. Orang lain dalam hal ini saya tafsirkan sebagai sebuah atau beberapa komunitas menulis.

Silahkan baca :

Pada tulisan itu saya menjelaskan komunitas-komunitas menulis tempat saya belajar. Belajar di sini jangan diartikan secara konvensional di mana ada guru, murid, bahan pembelajaran dan ruang kelas. Di masa sekarang ini belajar bisa dilakukan di mana-mana bahkan sambil kamu bobo siang sekalipun!

Ruang kelas saya adalah grup facebook dan grup whatsapp. Guru saya adalah teman-teman penulis lainnya. Materi pembelajaran saya adalah diskusi acak adul dengan mereka. 

Kenapa sebuah komunitas itu penting? Ya, penting untuk menjaga atmosfer sekelilingmu tetap positif. Hal itu terjadi pada saya. Saya akan kembali semangat menulis setelah berdiskusi panjang lebar meskipun yang dibahas jauh menyimpang dari kaidah-kaidah menulis πŸ˜„πŸ˜„. Saya akan semangat menulis ketika melihat teman lain berprestasi, seperti memenangkan lomba atau menerbitkan buku. Saya akan semangat menulis bahkan hanya ketika membaca tautan tulisan hasil karya teman.

Hal lain yang membuat komunitas menulis itu penting adalah kamu bisa mendapatkan informasi perihal lomba menulis, event-event menulis atau sekedar alamat media massa yang menerima karya tulis. Hebat kan?  Jangan meremehkan kekuatan komunitas, karena kalau sudah terlibat percakapan maka kamu akan lupa tugas dan tanggungjawab lain. Ini benar-benar gawat πŸ˜…πŸ˜….

Jadi, salah satu komunitas menulis tempat saya bergabung suatu ketika mengadakan event membuat fiksimini. Tidak dinyana, tulisan saya terpilih dan membuat saya menjadi salah satu dari 12 kontributor yang terlibat dalam proyek membuat antologi fiksimini.

Yep, this is how my new born baby looks alike.



Sebelum ini tulisan saya juga pernah dimuat dalam antologi Cerpen Anak Islami yang diselenggarakan oleh Pro U Media. 
  

Lihat di sini :


Thank you LovRinz. Love you to the sun and back. 😘😘

Monday, May 1, 2017

Matriks Prioritas

Tulisan kali ini agak berat, tapi saya jamin tidak seberat tulisan Gilang tentang Perang Dunia II di sini  πŸ˜‚πŸ˜‚.

Gambar dari sini


Tulisan ini juga sengaja saya buat khusus untuk teman saya. Halo teman saya... Semoga kamu suka dan terbantu dengan ulasan sederhana ini ya....😊😊😊

Ulasan ini juga dapat dipraktekkan pada kehidupan Ibu Rumah Tangga sekalipun. Sebenarnya bagaimana menetapkan prioritas bisa berlaku untuk semua aspek kehidupan kita. Namun kali ini saya hanya akan mengulas matriks prioritas dalam ruang lingkup pekerjaan saya saja.

Bekerja di sebuah perusahaan perbankan milik pemerintah membuat karyawan rentan mengalami stres akibat dari banyaknya tuntutan yang dibebankan kepadanya. Stres ini adalah suatu keniscayaan yang tidak bisa dihindari. Yang paling banyak menyebabkan stres (menurut saya)  adalah ketika merasa sudah bekerja sangat maksimal, mendedikasikan seluruh tenaga dan waktu yang kita miliki, namun jangankan menghargai, manajemen merasa kita belum kerja dengan baik. Rasanya seperti ingin ke monas dan liburan saja 😁😁.

Sebelum menyusun matriks prioritas kita harus tahu jenis-jenis pekerjaan yang merupakan tugas dan tanggubgjawab kita. Namanya tanggung jawab, besar ataupun kecil, sekarang atau nanti, tetap harus dilaksanakan. Tidak bisa tidak. Tapi ada yang bisa menunggu.

Nah, dalam menetapkan skala prioritas yang perlu kita tahu adalah alasan mengapa suatu kegiatan harus didahulukan dibandibgkan kegiatan lain. Saya langsung masuk kepada contoh biar aplikatif.

Tugas dan tanggung jawab saya di kantor :

1. Ekspansi kredit BCM (kredit di aras 1 Milyar) baru 

2. Ekspansi Kredit Usaha Rakyat (KUR-kredit di bawah 500juta)

3. Penagihan Pra NPL (kalau tidak bayar belum macet)

4. Penagihan NPL/Restruk (kalau tidak bayar atau tidak direstruk bisa macet)

5. Review Kredit (perpanjangan kredit yang sudah jatuh tempo)

Nah, itulah ke 5 tugas utama saya di kantor (selain tugas-tugas dadakan lainnya). Sekarang, kita masuk pada situasi-situasi ketika harus memilih mengerjakan yang mana lebih dahulu saat ke lima tugas utama itu datang bersamaan. Kalau tugas-tugas itu mendatangi saya secara bersamaan, maka yang saya lakukan adalah seperti matriks di bawah ini :

1. BCM Baru x Review BCM x KUR x penagihan Pra NPL = BCM Baru

2. BCM Baru x Review BCM x KUR x penagihan Pra NPL x penagihan NPL/Restruk = Penagihan NPL/Restruk

3. BCM Baru x Review BCM x KUR  = BCM Baru

4. Review BCM x KUR  = KUR

5. Review BCM x Penagihan Pra NPL = Penagihan Pra NPL

6. KUR x Penagihan Pra NPL = KUR

7. KUR  x Penagihan NPL/Restruk = Penagihan NPL/Restruk.


Sederhananya, saya akan mengurutkan tugas-tugas tersebut dari yang Top Urgent sampai yang tidak terlalu urgent namun tetap wajib dikerjakan:

1. Restruk / Penagihan NPL 
Ini top urgent. Waktu dan tenaga serta pikiran wajib di kerahkan ke tugas tersebut. Kita harus segera menemukan cara tersingkat dan terefisien dalam penyelesaiannya. Tidak bisa ditunda karena kalau sampai ada kredit macet, ekspansi berapapun tidak akan diperhitungkan.

2. Ekspansi BCM
Harus segera dilakukan karena ini menyangkut momentum yang tepat yang jarang akan terulang kembali. Ini menyangkut closing dan janji ke nasabah mengenai kepastian pencairan kredit mereka. Kalau kita sudah janji minggu depan, lantas molor, nasabah bisa kecewa dan parahnya bisa berubah pikiran.

3. Ekspansi KUR 
Ini juga terkait momentum. Namun karena jumlah penyaluran kredit yang tidak sebanyak ekspansi BCM, maka ini bisa dikesampingkan kalau ada number 1 and number 2 priority yang datang bersamaan.

4. Penagihan Pra NPL.
Ini tugas yang tak kalah penting namun bisa menunggu. Karena kalau toh tidak dilakukan nasabah itu tidak sampai jatuh ke macet.

5. Review BCM
Ini juga hal yang penting namun bisa menunggu ketika ada tugas lain yang datang. Review kredit berkaitan dengan nasabah eksisting. Bisanya nasabah eksisting cenderung loyal dan merasa rugi jika harus berpindah ke bank lain hanya karena kreditnya kita perpanjang sementara 1 bulan atau 3 bulan dulu berhubung harus menyelesaikan tugas urgent lainnya 😁😁😁.


Matriks ini biasanya hanya saya susun dalam kepala saja. Namun dengan menuliskannya semoga bisa lebih berguna untuk orang lain. Bukan berarti setelah menyusun matriks seperti ini lantas saya tidak stres lagi. Tapi setidaknya waktu 24 jam sehari bisa lebih efektif. 

Nah, demikian ulasan sederhana yang semoga dapat dipahami. Contoh matriks di atas bisa kalian ganti dengan tugas dan kegiatan masing-masing.

Keep smile and stay sane ya guys....😊😊😊😚.






Tuesday, April 25, 2017

Work Hard Play Harder


Belakangan ini saya sangat menyukai jargon seperti judul postingan ini. Yup, saya sangat suka main-main dan jalan-jalan. Alhamdulillah pekerjaan yang saya geluti selama ini,  sampai saat ini saya pernah bekerja di dua perusahaan yang bedanya bagai langit dan bumi, tidak menghalangi kegiatan saya untuk tetap bersenang-senang πŸ˜πŸ˜πŸ˜‚.

Danau Linow, Sulut.


Perusahaan pertama bernama PT. International Nickel Indonesia (PT. Inco - sekarang Vale Indonesia) yaitu perusahaan multinational yang core bisnisnya adalah pertambangan. Tenang, saya di sana bukan jadi kuli tambang. Kebetulan saya di bagian Contract Service and Administration. Gampangnya, itu departemen yang bikin tender kalau perusahaan lagi butuh sesuatu. Selama enam bulan saya bekerja di sana, saya pernah mengikuti tender pembuatan dam (bendungan) sampai tender pengadaan guru untuk sekolah bagi anak-anak karyawan yang special needs. 

Bersama Teman-Teman di PT. INCo


PT. Inco terletak di kab. Sorowako. 12 jam perjalanan darat atau 1 jam naik pesawat dari Makassar. Jauh dari mana-mana jadi jangan berharap saya bisa menghabiskan weekend dengan ke mall atau nonton. Nehi! Jadi, kalau weekend saya biasanya berenang atau kayak-ing. Phewww....😰

Salah Satu Kegiatan Saat Weekend


Perusahaan kedua, yang hingga saat ini saya masih terdaftar di sana, adalah perusahaan BUMN yang bergerak di bidang perbankan. Saya di sana sebagai, ganti-ganti sih, pernah relationship manager, pernah Credit Analyst, pernah Credit Risk Analyst, sekarang Analis Pemasaran Bisnis. Banyak kata 'analis' jangan berpikir kerjaaan saya lantas menganalisa angka-angka rumit. Tidak tidak! Saya  bekerja sebagai banker, bukan sedang ambil kuliah doktor matematika πŸ˜§πŸ˜….

Yang paling saya senangi dari pekerjaan saya yang sekarang adalah setiap saat saya berkesempatan menemui orang-orang yang baru, bertukar pengalaman membicarakan bisnis-bisnis nasabah, mengunjungi lokasi usaha nasabah. Pokoknya jalan-jalannya banyak!
Saat Kunjungan di Salah Satu Lokasi Usaha Nasabah di Pulau Tagulandang


Target di kantor saya ini bisa dibilang tidak waras kalau tidak ingin dibilang GILA! πŸ˜†πŸ˜†πŸ˜…Target itu bisa saja menyita seluruh waktu dan energimu, tapi jangan sampai target itu menyita kewarasanmu. So guys, please stay sane!!!πŸ˜†πŸ˜†

Cara untuk tetap waras bagi saya adalah dengan menulis dan bersenang-senang. Bahagialah meskipun target menghimpit dan flu melanda..πŸ˜ͺπŸ˜ͺ.

Jadi sekarang apapun pekerjaan yang sedang kau lakukan, berbahagialah! Jangan pusing dengan pekerjaanmu, karena itu lebih baik daripada pusing nggak ada kerjaan πŸ˜‚πŸ˜‚ (nggak nyambung!)

Tetap bekerja dan bermainlah. Work Hard Play Harder!