Showing posts with label Kata-kata. Show all posts
Showing posts with label Kata-kata. Show all posts

Sunday, October 2, 2016

Perkara Rindu


credit


Dear Pierre,

Dimana lagi aku bisa menjumpaimu selain lewat pena dan kertas yang beradu. Yang sudah-sudah pun begitu. Belum habis pula rindu sudah kau suguhi sedu yang membiru. Kuharap kau tidak lupa rencana-rencana pernikahan yang kita susun meskipun itu sudah lama berlalu. 

Pierre cintaku,

Aku tidak tahu apakah itu pisau atau peluru yang bersarang di dada kirimu. Sebab hanya kabar duka yang datang padaku kala itu. Apapun itu telah menanggalkan nyawamu.

Kalau bisa aku tidak ingin berhenti menangis, sebab hanya itu yang mengobati rindu. 

Pierre,

Mari kuantarkan kau mengingat kembali kisah perjumpaan kita. Kala itu Jendralmu yang berpidato gagah namun mataku tak mau lepas dari wajahmu yang tampan. Darah Prancis rupanya lebih tinggi viskositasnya di dalam tubuhmu. Meski begitu kecintaanmu pada negri ini aku rasa lebih dari siapapun.

Mari kuantarkan kembali ingatanmu pada makan malam romantis kita yang pertama dimana kau bercerita tentang orangtuamu yang menginginkan putranya menjadi dokter namun kau lebih memilih masuk militer. Kau bilang menjadi intelejen dan memata-matai Malaysia sangat menyenangkan. Kau sudah mencintai negri ini lebih dari apapun, Pierre.

Lalu ketika kau memutuskan mengaku sebagai Jendral Nasution yang berakhir merenggut nyawamu dan ragamu dari diriku, aku tahu kaupun telah lebih mencintai negri ini dibanding aku, tunanganmu.

Pierre,

Aku harap rindu masih menyapamu meski surat ini tak akan pernah kau baca lagi. Aku sedang memperhitungkan untuk kapan-kapan menziarahimu di tempat yang mereka sebut lubang buaya itu. 
Sementara, biar saja doa ini yang mengantar rindu yang menggebu padamu.

Pierre cintaku,

Membayangkan bagaimana ajalmu menjemput selalu membunuhku. Bagaimana bisa seseorang begitu tega merenggut anak dari orang tuanya, kakak dari adiknya, kekasih dari kecintaannya, calon suami dari tunangannya. 

Bagaimana bisa seorang manusia begitu tega menjejalkan jasad manusia lain begitu saja dalam satu lubang.

Oh, Pierre

Aku berharap semoga Negri ini memeperlakukanmu dengan layak, meski hanya kepada sisa-sisa tulang-belulangmu.


Salam rindu selalu,
Rukmini.


(Surat di atas hanya fiktif. Terinspirasi dari kisah cinta Pierre Thendean dan Rukmini yang LDR dan harus kandas karena Pierre terbunuh pada peristiwa G30SPKI kala melindungi Jendral Nasution)

Fakta :

1. Pierre Thendean keturunan Prancis
2. Orang tuanya menginginkan Pierre menjadi dokter.
3. Pierre sebagai ajudan Jendral memang tampan sehingga kemanapun Jendral pergi, Pierre yang menjadi pusat perhatian.
4. Pierre pernah menjadi intelejen untuk memata-matai Malaysia ketika Presiden Sukarno sedang gencar-gencarnya mencanangkan ganyang Malaysia.
5. Pierre terbunuh karena ketika itu mengaku sebagai Jendral Nasution

Tuesday, July 26, 2016

Padahal Aku Sudah Ingin Dinikahi Penulis

Padahal aku sudah ingin dinikahi saja oleh penulis.

Kala imajinasiku membumbung, ia sanggup menyambung, bukannya menambah gravitasi sehingga pikiran sulit melayang dan konsentrasi.

Kau tahu, aku tahu, bahwa kau bukan seorang penulis. Pembaca handal pun tidak. Lalu bagaimana aku bisa berbagi tentang halaman buku yang baru saja aku lewati.

Pergi ke toko buku pun kau lebih memilih menunggu di luar makan takoyaki.

Ah, padahal aku ingin dinikahi saja oleh seorang penulis. Yang kalau sedang serius pasti sangat manis. Bukan yang ketika mendengar ide cerita malah meringis.

Tapi kemudian aku sadar bahwa kau adalah setiap kata yang menghimpun paragraf, kau adalah koma pada kalimat-kalimat buntu, kau adalah spasi pada dialog tak berkesudahan.

Tapi kemudian aku sadar bahwa sebenarnya kau lebih suka bercerita. Kau bahkan sanggup menceritakan kisah malam ke 1002 padahal orang-orang pikir sudah tamat di malam ke 1001.

Lalu aku sadar kau pendongeng handal, meski satu-satunya buku yang kau tamati adalah buku motivasi karya Robert T Kiyosaki.

Lalu aku sadar kau adalah pencerita ulung yang tidak pernah kehabisan ide bercerita. Kau hanya tidak sanggup menuliskannya dalam kata-kata. 

Sejak dulu kau adalah setiap kata yang aku tulis. Sekarang dan seterusnya, isi kepalamu adalah apa yang aku tulis.

Kau ada sehingga aku tidak kehabisan cerita.

Monday, May 9, 2016

(Masih) Nyala Untuk Yuyun

Jika rasa bisa berwarna dan asa bisa berwujud, maka warnaku adalah lembayung dan asaku serupa payung. Mengembang riang menyambut penghujung hujan dan muasal bianglala tujuh gradasi. Indah.

40 hari sudah arwahku melayang-layang. Belum pulang ke nirwana sebab ada sekeping hati menahanku di labirin fana.
Ibu.

Sampai kapan kau tumpahkan air yang membentuk anakan sungai di pipimu itu? Tidak cukupkah pelita yang menyala dari ujung-ujung negri demi mengantarkan doa-doa yang dilangitkan padaku?

Ibu, maafkan putri kecilmu ini. Dalam keadaan mengenaskan meninggalkanmu. Ketika 14 tahun lalu kau menangis menyambut kedatanganku, haruskah ketika 14 tahun kemudian hatimu terkoyak mengantarkan jasadku yang lebam ke dalam lahat?

Rasaku berwarna lembayung. Tersesat menggantung antara surga dan pulang. 

Asaku berwujud tangkupan payung. Ada harap dan gumpal-gumpal doamu terselip. Sekaligus impian untukku di usia 25. Barangkali sukses dan menikah dengan pria yang juga berbakti padamu.

Barangkali memberikan cucu-cucu lucu yang menghibur hari tuamu.

Barangkali merawat tubuh tua ringkihmu atau sekedar menyuapi bubur di sore harimu.

Berhenti di situ saja. 
Kini aku tinggal seberkas nyawa tak berwujud. Bersama doamu aku ingin terbang. Bukan meninggalkanmu, hanya untuk pergi menunggumu di gerbang surga. 

Terimakasih ibu. 

Terimakasih untuk pelita-pelita yang dinyalakan mengantar kepergianku.

Maafkan aku, ibu.

Maafkan aku yang mati mengenaskan di usia baru empat belas.

Sehingga sedihmu tak berkesudahan.

Monday, February 29, 2016

Parade Puisi

Silahkan nikmati parade puisi berjudul : 

SURAT YANG BELUM TERBALAS sehingga RINDU MEMBIRU dalam MONOLOG HUJAN DI GARIS PANTAI INI.


Dear kamu....
Iya kamu, lelaki bermata senja yang selalu kulihat saat surya berwarna jingga... 
(Desi)

Aku berdiri digaris pantai ini.
Memandangi siluet-siluet manusia dan semesta yang tampak sama. 
(Septian)

Tangismu menderu dalam deras hujan. (Nindy)

Telahkah gerimisku memporandakan pagi? (Hidayati)

Dear kamu...ya, kamu..yang berulang kali aku sapa...namun tiada jawabnya.... 
(Desi)


Disini aku berdiri di garis pantai ini.
(Septian)

Mengiris pilu menguak angan. Memelukmu dalam dekapan sangat kuinginkan. 
(Nindy)

namun tak putus pongahmu seumpama dunia hendak tunduk di kepalanmu. (Hidayati)

Aku tertawa sendiri, tiap kali membaca surat yang tak pernah ada jawabnya..
(Desi)

Lihatlah ini tawaku membahana. 
(Hidayati)

Di sini di garis pantai ini.
Kunikmati peraduan bumi yang mulai diselimuti malam hari.
 (Septian)

Esok ku kan datang
Memelukmu seperti asamu
Yang kau titip pada angin malam
Yang kau bisikkan pada gerimis. 
(Nindy).

Indah bukan puisi di atas? Yang pasti bukan saya penciptanya. Bait-bait indah di atas adalah gabungan dari empat puisi dengan judul berbeda yang ditulis oleh empat orang yang berbebeda tapi memiliki satu kesamaan. Mereka berempat adalah anggota komunitas One Day One Post. Ya, nama di dalam tanda kurung di akhir setiap bait adalah nama pengarangnya.

Demi menjawab tantangan menulis tentang anggota ODOP, maka saya membuat parade puisi di atas untuk kita nikmati bersama tapa mengubah sedikitpun kata dalam puisi. Jadi originalitasnya masih terjaga. Heheh

Setelah menikmati bait-bait indah di atas, mari saya perkenalkan dengan para penulisnya.

Surat yang Belum Terbalas oleh Desi. Seorang tenaga kerja Indonesia yang saat ini sedang bekerja di Negri tetangga, Malaysia. Kesibukannya tidak membuat ia surut langkah dalam menulis. Selain kecintaan pada kesusateraan ia juga hobi travelling. Banyak tempat menarik yang telah Desi kunjungi. Penasaran? Silahkan klik  BLOG DESI.

Rindu Membiru oleh Nindyah atau yang lebih akrab disapa Nindy. Ibu dua anak yang juga seorang guru SD. Jadwalnya otomatis padat namun menulis selalu sempat. Bagaimana mengatur waktu supaya tepat? Kepoin kesehariannya di BLOG NINDY

 Monolog Hujan oleh Hidayati Nur. Seorang guru yang hobi menulis dan mengajar dengan metode-metode alternatif yang sangat aplikatif. Tergabung Dalam FLP Tuban. Puisi-puisinya telah terpampang di media cetak. Nikmati karya-karyanya di BLOG HIDAYATI


Di Garis Pantai Ini Oleh Muhammad Septian Wijaya. Mahasiswa Informatika yang hobi menulis. Meskipun tidak nyambung sama jurusannya namun tidak pernah menyerah dalam berkarya. Saat ini sedang merampungkan novel perdananya. Penasaran dengan cerita novel buatan mahasiswa informatika? Temukan bocorannya di BLOG SEPTIAN

Demikianlah.

Keep writing till the end.

#OneDayOnePost.
#TantanganArisanOdop

Tuesday, February 23, 2016

Puisi-kan Tantangan ODOP!

Tadi pagi brosing-browsing puisi Aan Mansyur. Tahukah kamu siapa dia? Ya! Dia yang puisinya akan digunakan dalam film fenomenal Ada Apa Dengan Cinta 2.

Tidak. Tidak. Tulisan ini tidak akan membahas tentang AADC 2 apalagi tentang puisi Aan Mansyur. Saya cuma ingin bilang, karena tadi pagi teracuni dengan keindahan puisi (ceilehh) jadinya malam ini ingin menulis puisi. Karena tantangan ODOP minggu ini adalah membuat artikel tentang ODOP, dan telah banyak anggota yang telah sukses melakukannya, maka saya akan membuat versi puisinya saja. Hehe.

Tentang
Rasa rasa
Yang tak terkatakan
Dengan bahasa apa saja

Juga tentang asa milikmu
Yang kau pendam
Tanpa kata
Tukiskanlah!

Tuliskanlah
Meski lelah
Atau kau jengah
Jangan pernah lagi menyerah.

Jangan!
Jangan berhenti
Tulis sesuka hati
Tidak ada yang peduli.

Ingat
Setiap saat
Haruslah kita giat
Membaca, mendengar, menulis mencatat.

Biasakan diri menjadi bijak
Pastikan tinggalkan jejak
Hidup sejenak
Kelak....

Dikenang di akhir hayat
Tentang ayat-ayat
Dalam kalimat 
Sarat...

One Day One Post
Jangan sampai lolos
Harus nge-post

Pastikan menulisnya tiap hari tanpa jeda
Atau kau diomeli Bang Syaiha
Dan penyesalanmu tak terkira
Harus nyetor kemudian
Hutang tulisan
Camkan!

Saya telah kehabisan kata-kata
Puisi yang tak berkesudahan
Sudahlah sudahi saja
Tidak tahan!
Pening.

(Sekian puisi saya yang tidak jelas. Semoga cukup menjawab tantangan ODOP)

#OneDayOnePost
#HariKeEnamBelas

Saturday, January 16, 2016

Dosa

Di suatu ketika, dimana mengingatmu adalah dosa.
Aku meyakini itu sebagai rayuan setan.

Pikiranku menjangkau di suatu ketika,
Kala kita hanya termangu menatap ruas-ruas jalan raya berdebu.
Aku lupa bagaimana kau membentuk senyummu saat itu.

Sekarang mengingatmu adalah dosa.
Sekaligus pengkhianatan terhadap benda mungil yang melingkari jari manis.
Karena bukan kau yang melingkarkannya di sana.



Terakadang setan marah padaku.
Padahal mengingatmu bukan idenya.
Tapi aku harus menyalahkan siapa atas memori yang tak berujung dan kerap membentuk siluetmu.

Mengingatmu adalah dosa.
Tapi memilkimu juga adalah keindahan yang tidak sanggup aku tanggung.

#OneDayOnePost
#HariKelima

Wednesday, January 13, 2016

Pupus


Kata yang pekat di ujung lidah.
Tak terbahasakan seperti sudah sudah.
Kita di bawah hujan menengadah.
Sama-sama tau tentang asa yang terdedah.

Tentang kita yang tak juga berkesudahan.
Atau tentang segala beda yang nyata di permukaan.
Beda yang tidak menyisakan alasan untuk disatukan.

Manado, 13 Januari 2016

#onedayonepost
#HariKetiga

Monday, October 6, 2014

Racun


Kata - kata yang memendek.
Bibir yang mengatup.
Hening yang membantu.
Ah, kadang aku merasa kau brengsek!

Aku hanya ingin membebaskan gagasan
Yang terbenam begitu jauh tanpa harapan.
Dan aku inginkan kau ada mengulas senyuman
Bukannya memandang sinis dengan tatap bosan.

Tahukah kau waktu tak pernah berhenti sedetikpun?
Baik waktuku dan waktumu.
Tapi masihkah kau berniat memberiku racun?
Racun hidup yang membuat otak dan sendiku kaku.

Bebaskan!
Bebaskan dirimu dari beban sehingga kau bisa membebaskanku!
Enyahkan!
Segala aral yang menghalau jalan ku, jalan mu!

Kadang kulelah berbaring tanpa tubuhmu di sampingku.
Kadang sempit menghimpit kala kedua bola matamu menghujam wajahku.
Kadang kubutuh spasi yang lebih panjang menikmati ketiadaanmu.
Tapi lebih sering kurapuh memikirkan ketidakhadiranmu.

Tapi bibir merahmu masih saja mengatup.
Kutahu hatimu bergemuruh.
Ada gelisah yang ingin kau bunuh.
Sendirian. Sebab memang aku tak mampu.

Selamatkan dulu dirimu.
Lalu raih tanganku sebelum aku tenggelam dalam kubangan racun yang sering kau hadirkan tanpa sepengetahuanku.


Manado, 06 oktober 2014.
3.14 WITA


Sunday, December 1, 2013

Titik.. Titik...

Titik..titik...titik...titik...


Saya mulai mencintai nukleus2 yang memadat mewujudkan rupamu..
Saya mulai mencintai refleksi cahaya di atas bayanganmu yang memantul di retinaku
saya mulai mencintai desiran hemoglobin yang mengaliri venamu..
Saya mulai mencintai frekuensi yang ditimbulkan getaran suaramu

titik...titik...titik...titik...


Sepertinya saya akan membenci waktu yang menghimpun detik menciptakan perbedaan dimensi antara kita.
sepertinya saya akan membenci jarak yang mewujudkan perbedaan atmosfer diantara kita.
Dan sepertinya saya akan membenci neuronmu kalau ia menghapus tentang kita dalam pita ingatanmu..

Tuhan,,ini layakkah??


(September, 2011)

(Many Things)

"tidak kamu rasakan kah perasaanku??" Ia bertanya. Spontan. Mengakhiri percakapan basa-basi kami sebelumnya. Tentang rutinitas, tentang pencapaian-pencapaian di hari sebelumnya.

Deretan warung makan bagaikan slide show berlalu di belakang kami. Aku mengikut saja saat dia bilang sedang ingin cari sarapan dan sedang tidak ingin menyantap menu yang biasanya. Pagi masih sejuk.

Ia masuk ke salah satu warung makan. Selalu warung yang berbeda dari sebelumnya. Sepertinya Ia tidak punya warung makan favorit.

"wahh.. Semuanya enak.. Saya jadi bingung. Kamu mau yang mana??"katanya bersemangat saat melihat menu.

Saya menunjuk ini dan itu lalu kami duduk di salah satu meja saling berhadapan. Ia refleks mengambil 2 gelas dan menuangkan air ke gelasku. Di lain waktu Ia pun sering refleks menyambar tentenganku, membiarkan kedua tanganku bebas tanpa beban.

"bagaimana makanannya??enak tidak??" itu juga menjadi pertanyaan rutinnya. Tidak pernah absen Ia bertanya seperti itu setiap kali aku kebetulan makan bersamanya.

"enak sekali" Ia menjawab sendiri pertanyaannya. "Sepertinya saya akan sering makan disini" tapi pada kenyataannya saya jarang mendapati dia makan di tempat yang sama berulangkali.

Seringkali ia memeperhatikan saya makan. Menyaksikan Setiap gerakan mengunyah yang saya lakukan lalu tersenyum sendiri menyimpulkan sesuatu dalam kepalanya. Sering juga Ia Menanyakan apakah saya masih menginginkan menu yang lain. Dan seringkali saya menjawabnya dengan gelengan.

"hahaha.. Ga usah jaim makan sama saya. Makan saja sebanyak-banyaknya!"seringkali ia mengejek.

Ia mengalihkan pandangan ke arah segelas teh panas pesanannya yang baru datang. Ia menyeruputnya sedikit.
"mantap. Kamu mau coba?" ia menyodorkan teh panas itu padaku. Aku meraihnya lalu kemudian menarik kembali tanganku seketika.

"panas sekali gelasnya!"
"makanya jangan dipegang. Ayo minum" ia menyuruhku minum dari gelas yang dipegangnya.
Aku menatapnya enggan. Tatapanku menghardiknya. Banyak orang disini bodoh. Dan mereka bisa saja melihat ke arah kita dan menyaksikan apa yang kita lakukan nanti.

Dia membalas tatapnaku dengan senyum jenaka. Lalu kenapa kalo ada orang yang memperhatikan?

Aku mengalah dan menyeruput teh dari gelas yang masih digenggamnya.

Harusnya dia tidak perlu bertanya apapun padaku. Harusnya dia tau bahwa aku tau semua yang dia lakukan, hal-hal kecil ini, bernilai banyak buatku.

Aku menjawab dengan senyum untuk pertanyaan yang dia lontarkan sebelum kami memasuki warung makan tadi.

(Juli, 2011)

No Matter

No matter it starts...

Ini tentang seragam putih abu-abu dan pemikiran masa peralihan remaja yang malang melintang. Seperti biasanya kami duduk tertib di bangku kelas namun pikiran melayang ke salah 1 warnet langganan membayangkan kapan bel pulang berbunyi dan kami bisa segera YM-an dan friendster-an. Kamu indah di masa itu...

No matter it ends..

Ini tentang ketegangan UAN dan euforia merayakan keberhasilan menaklukan SPMB..kamu dengan cita2 mu dan akupun demikian. Kita banyak berubah dan banyak berbeda di masa2 ini...

No matter it strats..

Ini adalah tahun kedua di bangku kuliah. Persamaan kita mulai terkikis dan semakin sedikit yang bisa kita bicarakan. Kadang2 hal2 kecil kita perdebatkan namun tiap pesan singkat yang disampaikan sinyal provider tidak mampu mengukuhkanmu.dan akupun begitu.

No matter it ends

gambar2 dalam bingkai di suatu tempat yang tak pernah kamu tau kecuali dari ceritaku mengantarkan kita pada ending dari sesuatu yang dulunya tidak pernah kubayangkan berakhir.kita sudah lelah dengan klimaks. Aku..

No matter it strats

lalu aku menemukan dia di balik kaca hitam menatapku yg tengah mamandang kosong salah satu gambar...

No matter it ends

aku memulai lagi setelah cukup lama limbung..

No matter it starts no matter it ends.

Mulai sekarang mungkin aku ingin menulis tentang dia saja...:)

(2 Oktober 2011)

Membekukan Waktu

04/06/2012

Lobi Wisma Raharja,Cilandak.

Jarum panjang melangkah pelan dan berhenti di angka sembilan berusaha mengimbangi langkah jarum pendek yang diam mematung di angka sebelas.
Tekstur dinding dan lantai lobi wisma yang serupa. Pecahan-pecahan batu, entah marmer entah pualam. Batu tidak pernah mengambil alih perhatianku sedikitpun.

Ada anak kecil berbaju merah di jaga baby sitter nya. Di depan sana pak Satpam sesekali memandang curiga mendapati saya duduk diam di satu titik tanpa beranjak sejak satu jam lalu. Dalam hati saya hanya membatin geli ‘ tenang pak, Saya tidak bawa bom dan tidak bermaksud jahat sama sekali’

Tadi pramu saji stand kopi bermerk Torabika menawarkan secangkir Cappucino padaku “silahkan kak kopinya. Ini ada choco granule nya silahkan di taburkan di atasnya. Gratis ko’ Kak”. Saya menerima dengan senyum yang sehangat kopi di cangkir kertas itu. ‘terimakasih’

Melejit jauh ke lantai 6. Ada kamu di sana. Di salah satu ruangan entah dimana. Saya tahu kamu sedang gelisah. Karena menghadapi kertas di mejamu kah? Atau karena tahu saya sedang menunggu di lobi wisma? Tenang saja. Saat kamu turun ke lobi kamu akan mendapatiku tetap pada titik ini. menunggumu...

Pusat gravitas.
Bumi yang mengedar pada matahari,galaksi yang mengedar pada black hole. Aku yang mengedar padamu.
Tidak kutemukan tempat yang sesejuk ini, tidak pernah kudapati hati setentram ini. mungkin kamu tidak merasakannya, atau kamu bahkan merasa kebalikannya. Tapi bagiku punggungmu yang berjalan mendahuluiku adalah tempat terkokoh untuk menopang, bagiku lengan yang keras itu tempat bersandar yang paling nyaman. Entah bagimu....

Masih menunggu...
Di satu titik yang kamu tau aku sama sekali tidak akan beranjak semilipun sebelum melihatmu. Melihat senyummu yang kadang mengejek jahil, mendengar suaramu yang berat dan serak. Mengindra seluruhnya yang ada pada dirimu.
Jarum panjang sudah membalap ke angka dua belas. 
Saya harap satu jam lagi segera usai..

BELENGGU

  Bayang-bayang inilah yang mengikat pikiran
Mengkontradiksi kenyataan.
Membias membentuk lengkung-lengkung kenangan.

Bayang-bayang inilah yang mengabur realitas
Berhimpit dengan garis nalar,
Merfleksi cahaya dan memantulkannya secara  terbalik di bidang cekung bernama harapan.
Pernah ada harapan di antara kita.
Menggantung di atmosfer kisah-kisah.
Pernah ada cerita-cerita usang terbingkai dalam memori-memori silam

Lepaskanlah belenggu ini..
Biar kita bebas tak terikat satu dan lainnya..
Biar kaki ini panjang-panjang melangkah
Jika boleh jauh...jauh dan berlawan arah.
Pernah ada cerita disini..
Kisah-kisah usang dalam memori yang sudah-sudah.

Uraikanlah buli-bulir belenggu ini biar kita lega
Lega menarik dalam-dalam oksigen dari atmosfer kita yang tak lagi sama.
Atmosfer kita yang pernah terlalu pekat oleh prinsip, realitas, kekakuan dimensi.
Atmosfer yang tunduk pada jurang jarak yang menganga.
Di sisi kanannya ada waktu, di sisi kirinya ada zona.
Mungkin kamu lelah..
Mungkin kita lelah..
Sudahi saja.


(14-09-2012)

Wednesday, November 27, 2013

Tentara Tuhan

Image by Google


Bagaimana saya hendak mengabarkan pada janji-janji masa lalu tentang pengkhianatan ini?

Bagaimana saya akan menyombongkan diri lagi pada jarak yang sekarang saya takluk dan menunduk padanya?

Ya, jarak yang menjadi niscaya terhadap perbedaan ruang dan waktu itu 

Kau tetap terindahh asal kau tau.

Kau memiliki segala refleksi humanitas khayalan-khayalan yang saya ingin melihatnya  nyata pada sesosok manusia.

Kau memiliki semangat yang membuncah-buncah mengalahkan lahar di gugusan merapi.

Maaf...aku tak bisa mematuhi gravitasi di bumi tempat kita pernah sama-sama berpijak dulu.

Aku lemah, mengulang sifat nenek moyangku Hawa yang dicengkram nafsu. Maka itu ia bersebutkan hawa nafsu.

Di ujung jalan cahaya yang kau titikan itu aku tahu dan yakin, sosok indah bidadari yang kau ingin refleksikan pada makhluk bernama manusia ada di sana.

Bidadari-bidadari surga.

Wanita yang bidadari pun iri padanya.

Aku memanjatkan doa bagimu demikian.

Biarlah waktu memudarkan janji-janji masa lalu itu.

Biarkan keterbatasan memori membuatnya usang.

Untukmu, tentara Tuhan.