Showing posts with label Jejak Bolang. Show all posts
Showing posts with label Jejak Bolang. Show all posts

Monday, December 17, 2018

Living in Tiny House : Gaya Hidup Baru Masyarakat Milenial


Pada sebuah artikel disebutkan bahwa terdapat pergeseran gaya hidup dan profesi masyarakat muda di tahun 2000-an jika dibandingkan dengan tahun 1900-an. Masyarakat muda yang dimaksud adalah warga yang berada di angkatan kerja atau yang sedang dalam masa produktif.  Itu kira-kira usia 20 tahun hingga akhir 40 tahun.

Dulu, katakanlah,  orang tua kita,  semasa muda jika ditanya apa cita-citanya maka akan menyebut guru,  polisi,  PNS.  Sekarang,  generasi milenial kalau ditanya apa cita-cita mereka mungkin akan menyebutkan profesi yang dulunya belum ada.  Content creator,  food blogger   beauty vlogger,  desain grafis,  wedding organizer,  dlsb. Untuk itu,  kadang-kadang para generasi milenial ini kerap berbenturan dengan orang tua mereka karena perbedaan mindset.  Orang tua mereka menganggap bekerja di bidang-bidang kreatif itu tidak bisa menghasilkan pendapatan yang secure untuk menghidupi diri,  terlebih jika sudah ingin berumah tangga. Kalau bukan PNS gak kerja,  kalau bukan karyawan gak kerja. 

Selain masalah pekerjaan,  pergeseran gaya hidup juga terlihat pada pencapaian-pencapaian individu. Pencapaian orang tua kita jaman dulu adalah bisa memiliki rumah yang nyaman,  kendaraan yang bisa memboyong seluruh anggota keluarga,  sedikit investasi di hari tua dengan beli tanah dan beberapa gram emas. Sementara,  pencapaian generasi milenial itu sudah gak melulu soal materi.  Berlomba-lomba menginjakkan kaki di sebanyak-banyaknya negara di benua Eropa,  memiliki 1 juta subscriber,  membuka cafe atau barber shop kekinian.

Memiliki rumah dan kendaraan bukan lagi tolak ukur seseorang sudah settle down.  Bahkan ada yang cita-citanya tinggal di dalam mobil van dan keliling dunia selagi muda.  Kalian bisa menemukan gambaran gaya hidup seperti ini di instagram dengan mengetik hashtag (#) living on wheels misalnya.  

Model investasi generasi milenial pun berubah. Bit coin,  reksadana,  saham,  apalagi? Melihat pilihan gaya hidup generasi milenial saat ini membuat kita dengan mudah menyimpulkan mereka didominasi oleh orang-orang kreatif, highly risk taker,  tahu caranya menikmati hidup,  berjiwa bebas,  berprinsip dan gak mau ribet. 

Karena saat ini saya sedang bekerja di salah satu BUMN,  sedikit banyak saya mengetahui bahwa turn over pegawai di beberapa perusahaan BUMN sejenis sangat tinggi. Ini mendukung teori saya di atas,  bahwa generasi milenial cenderung berjiwa bebas dan tidak ingin dikekang.  Beberapa di antara mereka bekerja di sektor-sektor pekerjaan yang umum hanya untuk mengumpulkan modal untuk kemudian memulai bisnis sesuai passion mereka.  Yang lainnya bekerja hanya untuk membiayai hobi, misalkan untuk travelling, untuk membeli kamera yang sophisticated, untuk membeli koleksi gundam? 

Sejalan dengan ciri lain generasi milenial yang gak mau ribet,  saya juga menemukan suatu tren baru yang sedang digandrungi yaitu tinggal di dalam sebuah rumah mini (tiny house).  Kalian juga dapat menemukannya dengan mudah di instagram dengan mengetik hashtag (#)  tiny house.  Rumah ini terbuat dari material kayu dengan ukuran yang tidak lebih besar dari container.  Karena ukurannya yang mini maka furniture di dalamnya juga dimodifikasi sehingga bisa muat di dalam tapi tetap nyaman digunakan oleh penghuninya.  Furniture yang digunakan sebagian besar build in.  









(klik pada gambar untuk mendapatkan tampilan yang lebih jelas)

Melihat model-model rumah tiny house saya jadi pengen punya 1. Tinggal di container sejujurnya bukanlah pengalaman yang baru bagi saya.  Dulu,  ketika masih kuliah,  saya pernah magang di suatu perusahaan tambang asing,  dimana kami mahasiswa maganya diberi tempat tinggal berupa container. 1 container dihuni oleh 2 orang.  Jangan skeptis ketika mengetahui kami tinggal di container karena sesungguhnya di dalam container itu dilengkapi dengan spring bed,  kulkas,  jaringan wifi,  shower dengan air panas dan dingin. 

Di dalam rumah container.  1 container terdiri dari 2 kamar dan 1 kamar mandi. 

Rumah container berjejer di belakang kami


Saya belum menemukan orang yang tinggal di rumah mini di Indonesia. Mungkin karena harga properti di Indonesia masih terjangkau kali ya. Sudah gitu pajak bumi bangunan juga gak seberapa.  Mungkin tren tinggal di rumah mini di luar negeri itu juga salah 1 faktornya adalah tingginya harga sewa properti.  Mau beli kok ya mahal. Belum lagi bayar pajaknya.  Mending duitnya dipake buat travelling atau beli koleksi action figure (yeahh, typical millenial). 

Apapun alasannya,  saya pengen punya 1 rumah kayak begini,  ya Allah. 

Friday, November 2, 2018

Bukit Doa : When in Doubt Climb The Hill



Since we have our 2nd born,  it is almost impossible for us having some journey or vocation.  My toddler (3,5yo) is so hyperactive, thanks God my husband's bussiness running great but that's make him busier than ever.  I am still having my maternity leave until December but all i do is just stick around the baby.


Even going for some window shopping to the near mall we couldn't make! 


Two weeks ago my mother in law came from Makassar with her relatives. They stayed in Manado for a week helping us prepared anything for our new born's aqiqah ceremony. 


In the end of their visit my husband decided to make some vocation. Brought his mother and the relatives too. When he asked about the place we should go,  i suggested Bukit Doa and Danau Linow.


Bukit Doa is located in Tomohon. It takes 45 mins to 60 mins to drive from Manado. To go to Tomohon city you can get public transportation from Manado.  But i wont suggest you to get public transportation to go to Bukit Doa.  Bukit Doa its self is not located at main road of Tomohon City while the public transportation just pass the main road so that you have to continue with 'ojek'. You better rent a car.  You can get the rental car arroun Taman Kesatuan  Bangsa or simply reach me via email (i will put my email below).

Picture was taken from here


Bukit Doa is really great destination in North Sulawesi. You should put it to your bucket list right after Bunaken and Lihaga Island. 




When Bunaken gives you under water view,  Lihaga delivers to you beautiful beach view, Bukit Doa will give you Mount Lokon view.  I couldn't shout my mouth up.  I keep yelling 'whooaaah... Whoaaahhh'. 

The are two ways go to the hill. First, You can walk through the stairway called Jalan Salib (Cross Road) .  You can enjoy the story about Jesus. There are many statues picturing the sacrifice of Jesus.

Picture was taken from here


Picture was taken from here


Picture was taken from here


Second,  you just simply drive to the hill and enjoy the scenery with only IDR 30K / pax include a cup of coffee or tea.

Enjoying the coffee




Inside Amphitheater




In front of chapel of mother mary


Chapel of mother mary


Boys talk


Mount Lokon view


Mount Lokon View



PS : 

reach me on ;
mail:  sabrina.lasama@yahoo.com
ig :sabrinalasama
fb : sabrina anggraeni lasama 

Tuesday, April 25, 2017

Work Hard Play Harder


Belakangan ini saya sangat menyukai jargon seperti judul postingan ini. Yup, saya sangat suka main-main dan jalan-jalan. Alhamdulillah pekerjaan yang saya geluti selama ini,  sampai saat ini saya pernah bekerja di dua perusahaan yang bedanya bagai langit dan bumi, tidak menghalangi kegiatan saya untuk tetap bersenang-senang 😁😁😂.

Danau Linow, Sulut.


Perusahaan pertama bernama PT. International Nickel Indonesia (PT. Inco - sekarang Vale Indonesia) yaitu perusahaan multinational yang core bisnisnya adalah pertambangan. Tenang, saya di sana bukan jadi kuli tambang. Kebetulan saya di bagian Contract Service and Administration. Gampangnya, itu departemen yang bikin tender kalau perusahaan lagi butuh sesuatu. Selama enam bulan saya bekerja di sana, saya pernah mengikuti tender pembuatan dam (bendungan) sampai tender pengadaan guru untuk sekolah bagi anak-anak karyawan yang special needs. 

Bersama Teman-Teman di PT. INCo


PT. Inco terletak di kab. Sorowako. 12 jam perjalanan darat atau 1 jam naik pesawat dari Makassar. Jauh dari mana-mana jadi jangan berharap saya bisa menghabiskan weekend dengan ke mall atau nonton. Nehi! Jadi, kalau weekend saya biasanya berenang atau kayak-ing. Phewww....😰

Salah Satu Kegiatan Saat Weekend


Perusahaan kedua, yang hingga saat ini saya masih terdaftar di sana, adalah perusahaan BUMN yang bergerak di bidang perbankan. Saya di sana sebagai, ganti-ganti sih, pernah relationship manager, pernah Credit Analyst, pernah Credit Risk Analyst, sekarang Analis Pemasaran Bisnis. Banyak kata 'analis' jangan berpikir kerjaaan saya lantas menganalisa angka-angka rumit. Tidak tidak! Saya  bekerja sebagai banker, bukan sedang ambil kuliah doktor matematika 😧😅.

Yang paling saya senangi dari pekerjaan saya yang sekarang adalah setiap saat saya berkesempatan menemui orang-orang yang baru, bertukar pengalaman membicarakan bisnis-bisnis nasabah, mengunjungi lokasi usaha nasabah. Pokoknya jalan-jalannya banyak!
Saat Kunjungan di Salah Satu Lokasi Usaha Nasabah di Pulau Tagulandang


Target di kantor saya ini bisa dibilang tidak waras kalau tidak ingin dibilang GILA! 😆😆😅Target itu bisa saja menyita seluruh waktu dan energimu, tapi jangan sampai target itu menyita kewarasanmu. So guys, please stay sane!!!😆😆

Cara untuk tetap waras bagi saya adalah dengan menulis dan bersenang-senang. Bahagialah meskipun target menghimpit dan flu melanda..😪😪.

Jadi sekarang apapun pekerjaan yang sedang kau lakukan, berbahagialah! Jangan pusing dengan pekerjaanmu, karena itu lebih baik daripada pusing nggak ada kerjaan 😂😂 (nggak nyambung!)

Tetap bekerja dan bermainlah. Work Hard Play Harder!

Wednesday, March 30, 2016

Perjalanan Menuju Kenangan (Part 2)

Saya sudah 'diramalkan' akan menikah dengan orang Bugis dari Pinrang 6 bulan sebelum bertemu dengan laki-laki yang saat ini jadi suami saya. Ketika itu saya sedang KKN di Kab.Pinrang Sul-Sel tempat kelahiran suami saya, sedangkan ketika itu suami saya KKN di Kab. Sidrap. Bayangkan! Kami KKN di waktu yang bersamaan. Tapi saat itu kami belum saling mengenal dikarenakan meski satu fakultas, kami beda jurusan. 

Di posko KKN saya, terdiri dari 10 orang (kalau tidak salah ingat) dari berbagai jurusan angkatan, dimana wanitanya hanya 2 dan sialnya saya angkatan paling bontot. Angkatan 2007 sementara yang lainnya 2006, 2005 dan 2004. 

Teman KKN saya yang juga wanita bernama Arni, angkatan 2006 geologi dan pintar banget masak. Sayangnya, dia jarang sekali berada di lokasi KKN karena saat itu juga sedang mengambil kuliah lapangan yang membuat dia harus sering bepergian.

Ketika Arni pergi, saya benar-benar habis di bully. Teman-teman KKN lain yang notabene senior tidak mau tahu atas ketidakmampuan saya memasak, pokoknya mau tidak mau, suka tidak suka saya harus masak plus cuci piring. Menderita lahir batin lah ketika KKN itu. Masakan saya yang asin, atau teh buatan saya yang kurang manis tidak membuat senior-senior itu kapok, malah makin gencar membuly saya. Rendaman pakaian saya disisipin baju-baju mereka yang mau tidak mau akhirnya saya cuci juga. Tiap hari telpon Mama nangis-nangis. Mama sampai bingung bagaimana membujuk saya. Hahahah. Kalau diingat-ingat lucu juga.

Giliran pergi jalan-jalan mereka tinggalkan saya di posko. Katanya harus ada yang jaga posko dan orang itu adalah saya. Di tengah pembully-an itulah ibu tuan rumah tempat kami KKN yang baik hati dan tidak sombong (sebut saja ibu KKN) yang membantu saya memasak. Suatu ketika dia membuat kue borongko. Ini kue khas Bugis, dibuat dari buah pisang dan santan yang dibungkus daun pisang kemudian dikukus.

Ibu KKN bilang begini "sini, belajar bikin borongko. Nanti suamimu orang Bugis, minta dibuatkan kamu tidak tau"

Saya terkejut dan menjawab "ih, ibu. Suami saya bukan orang Bugis! Suami saya orang Jawa nanti" ketika itu saya lagi suka sama teman SMA yang kebetulan orang Jawa. Hahahahahah.

Ketika hari terakhir KKN tiba, kami mengadakan acara perpisahan kecil-kecilan. Si Ibu KKN nangis sewaktu memeluk kami satu-satu. Ketika memeluk saya dia berkata "Datang kesini lagi ya" yang lantas saya tinpali dengan "iya bu, Insya Allah nanti sama suami saya ya"
Dalam hati saya "ngapain datang kesini lagi? Untuk urusan apa ke tempat terpencil jauh dari kota begini?"

Lima tahun kemudian, coba tebak saya datang ke rumah ibu KKN saya itu dengan siapa? Ya! Dengan suami saya! Coba tebak suami saya itu orang mana? Ya! Orang Bugis. Hahah. Takdir Allah itu unik ya..heheh

Rumah Tempat KKN saya

Baby Ahmad & Hubby

Ibu KKN yang Baik Hati

Tuesday, March 29, 2016

Perjalanan Menuju Kenangan (part 1)


Saya bertemu suami saya di pedalaman hutan belantara. Saya tidak bercanda. Bisa baca lebih detailnya di sini Ketika itu saya sedang mengikuti program kerjasama antara perusahaan  nickel terbesar kedua di dunia, Vale Indonesia (dulunya PT. Inco, Tbk) dan Universitas Hasanuddin tempat saya kuliah. Nama programnya Coops Inco.

Jadi pada program tersebut, mahasiswa dari berbagai jurusan di kampus saya, setelah mengikuti serangkaian seleksi, berhak bekerja dan digaji di Vale Inco. Ketika itu ada Coops Inco angkatan 14 terdiri dari 8 orang dari berbagai jurusan. Gaji kami ketika itu Rp.4 juta / bulan. Terbilang banyak di tahun 2011 untuk ukuran mahasiswa yang belum sarjana. Kami diberi kesempatan bekerja selama 6 bulan dan oleh karena itu kami cuti selama 1 semester.

Banyak pengalaman yang menurut saya mengesankan dalam hidup saya. Termasuk ketika mengikuti English Tour ke Kampung Inggris, Pare, Kediri dimana berangkatnya kami berombongan naik kapal dari Makassar ke Surabaya. Terombang-ambing di kelas ekonomi, tidak dapat tempat tidur seperti pengungsi. Heheh. Atau ketika saya nekat memecahkan celengan dan membeli tiket pesawat ke Jakarta, lanjut ke Bandung, lalu ke Semarang. Pulangnya nggak ada duit jadinyabtelpon mama memelas minta dikirimin duit beli tiket untuk pulang.

Namun kali ini saya ingin berbagi pengalaman berkesan bertemu laki-laki yang kemudian jadi suami saya di tengah hutan belantara itu. Selain dikarenakan tempatnya sangat indah, juga baru-baru ini ketika cuti saya dan suami berencana untuk mengunjungi tempat itu lagi. Jaraknya 8 jam dari rumah mertua di Kab.Pinrang, 12 jam dari Makassar. Tempatnya di Desa Sorowako, Kab. Luwu Timur.

Saya dan suami menginap di Desa Malili, di rumah neneknya. Berjarak 1 jam dari tujuan kami, ketika sudah menempuh perjalanan sejauh 10 km, baby Ahmad muntah-muntah. Penyebabnya memang setelah perjalanan darat 8 jam Ahmad kurang sehat, mungkin kelelahan. Suami bertanya, apakah akan melanjutkan perjalanan ke Sorowako? Saya bimbang. 

Sorowako sangat berkesan bagi saya karena itu tempat bertemu dengan suami. Ini seperti perjalanan menuju kenangan. Saya sudah membayangkan bertemu sahabat-sahabat selama bekerja di Vale, berfoto di Pantai Ide (sebenarnya ini danau bukan laut. Danau Matano-Danau terdalam di Asia Tenggara), berfoto di site pertambangan nickel terbesar kedua di dunia. Namun, sayapun memikirkan kondisi baby Ahmad. Sudah lemas karena muntah. Lalu saya memutuskan untuk berbalik pulang. Padahal jarak saya dan Sorowako hanya sekitar 45 menit lagi.

Suami kaget dengan keputusan saya "kalau pulang sekarang, tidak tahu kapan bisa kesini lagi"

"Kapan-kapan sajalah" balas saya sekenanya. "Kasihan Ahmad."

"Okelah. Begini seharusnya jadi orangtua. Harus mengalah demi anak"

Saya cuma tersenyum. Kecewa sih. Tapi sekarang tidak ada yang lebih berharga daripada baby Ahmad. Perjalanan kembali ke Kab. Pinrang saya berhasil meng-capture pemandangan senja yang lumayan indah. Ini saja ya oleh-oleh cuti saya. Heheh

Senja di Malili

Senja di Malili

Di rumah nenek

Baby Ahmad dan Ayahnya


Eh, sepertinya bagian pengalaman paling berkesan soal perkenalan dengan suami belum diceritakan ya...? Heheh, di postingan berikutnya ya.....

Tuesday, January 21, 2014

Hidup : Tentang Sebuah Perjalanan

Dulu saya adalah seorang traveller. Sejak lahir saya adalah traveller.

Saya tidak hendak bilang kalau sekarang saya bukan lagi traveller. Tapi entah kenapa rutinitas (sebagai banker di salah satu perbankan pemerintah) dan status sebagai istri dari seseorang membuat sisi traveller saya itu sedang berhibernasi.

Saya juga tidak hendak bilang kalau perubahan 'marital status' di KTP mu itu secara drastis juga akan merubah gaya hidupmu, tapi untuk kasus saya, si ganteng (suami saya) sangat khawatir kalau saya kemana-mana tanpa dia. Lebih khawatir daripada orangtua saya.

Hari ini, Berdasarkan saran kunca saya membaca sebuah thumbler milik Windy. Penulisnya adalah seorang traveller dan juga seorang editor. Kalian bisa baca tulisannya di sini. Intinya, dia sanggup mengorbankan apapun untuk impian-impian dan pencapaian pribadinya. Pesan yang saya dapat setelah membaca beberapa tulisannya adalah :

1. Kejar dan kerjakanlah mimpi-mimpimu. Karena kata windy mimpi tanpa aksi hanya menciptakan ilusi.

2. Kerjakan sekarang. Jangan urung karena takut. Sebab di masa datang, yang paling banyak kamu sesali adalah hal-hal yang TIDAK kamu kerjakan dibanding hal-hal yang kamu kerjakan.

Berangkat dari sebuah tumblr dan sedikit perbincangan dengan teman kantor di dalam mobil ketika sedang mengunjungi nasabah, maka jiwa travellerku sepertinya mulai terjaga dari hibernasi panjang. Mungkin saya tidak bisa segila Windy yang rela mengundurkan diri dari pekerjaannya jika permohonan cuti 35 hari tidak dikabulkan, atau mungkin saya juga belum seberani Windy yang telah melanglangbuana hingga ke pelosok-pelosok maroko dan seoul. Tapi setidaknya saya pernah melakukan perjalan 3 hari 2 malam Makassar-Jakarta-Bandung-Semarang-Jakarta-Manado dengan hanya berbekal duit 1,5 Juta dari hasil bongkar celengan semasa kuliah dulu.
Menyenangkan!


Foto dan catatan perjalanan 3 hari 2 malam


Kediri-Jogja-Bali (di lain kesempatan)

Memang benar, di lain kesempatan ketika masih berkuliah dulu saya juga pernah menghabiskan liburam semester ala backpacker (sambil belajar bahasa inggris) di kampung inggris-Pare, Kediri. Dilanjutkan dengan menyelinap ke Jogja dan menyebrang ke Bali.

Seperti yang saya katakan, sejak lahir saya sudah terbiasa berpindah-pindah dan melakukan perjalanan. Akan saya uraikan seperti ini :

1. Lahir di Lamongan,Jawa Timur.
2. Bersekolah sampai kelas 2 SD di Aileu Timor-Timur.
3.Bersekolah sampai kelas 4 SD di Dili, Timor-Timur.
4.Transit di Ambon saat menuju ke Manado tahun 1999.
5. Bersekolah sampai kelas 3 SMA di Manado.
6. Kuliah 4 tahun di Makassar.
7. KKN 2 bulan di Pinrang.
8. Magang 6 bulan di Sorowako.
9. Pelatihan 2 bulan di Jakarta.

Di antara perjalanan-perjalan hidup yang memang harus saya tempuh itu, saya pun bepergian ke tempat-tempat lain atas dasar sukarela (hahahah)
- Ke rumah nenek dan keluarga besar di gresik, nganjuk dan lamongan.

-Mengikuti kegiatan kemahasiswaan di Maros, Pangkep, Soppeng,Malino bahkan pulau Baranglompo sampai-sampai senior bosan liat muka saya. Mau bagaimana lagi? Saya hoby jalan. Dan dengan ikut kegiatan mahasiswa, perjalanan saya dibayarin alias gratis.

-Menghabiskan 3 idul adha berturut-turut di Pangkep, Palopo dan gowa serta Takalar.

-Perjalan 3 hari 2 malam Jakarta-Bandung-Semarang.

-Backpacker 2 Minggu Kediri-Jogja-Bali. Perginya naik kapal dari makassar. Baliknya naik pesawat  karna nggak tahan ombak. Hahahah

-Nyasar ke bogor sewaktu pelatihan di Jakarta.

Saya pernah kemana lagi? Sementara baru itu dulu yang saya ingat.

Semoga lain kali saya bisa melanglangbuana lebih jauh lagi. Bersama si ganteng tentu saja. :D

Nanti, ketika rutinitas saya adalah sebagai penulis bukannya banker.


Sunday, November 24, 2013

Night Touring : Kota Tua- Jakarta Kota



Foto-foto ini diambil antara bulan 11 atau bulan 12 tahun 2012 (ga pasti soalnya menggunakan 2 kamera. Kamera yang 1 date modif nya bulan 11 kamera yang lain date modifnya bulan 12. nah loooh)


Ketika itu saya sedang berada di Jakarta, tepatnya di Jakarta Kota demi mengikuti program pendidikan di salah satu perusahaan BUMN tempat saya bekerja sekarang.

Malam itu penat di kosan jadinya saya dan teman-teman sekosan plus dua teman cowo'(mereka sengaja di ajak untuk fotoin kitaa :D) punya ide untuk night touring menelursuri KOTA TUA yang hanya ditempuh dengan berjalan kaki dari kosan. Foto-foto berikut tidak terlalu menggambarkan kondisi Kota Tua itu sendiri yang sebenarnya sangat sangat eksotis, melainkan lebih menonjolkan kenarsisan saya dan teman-teman di depan kamera... -__-'. Tapi ya sudahlah... Cekidot saja  :D



Depan Kos bersiap tur (Saya, Hapsah, Ema)





Kota Tua di malam hari. Creepy, huh??


Peserta Tur lengkap minus 2 fotografer

Depan museum bank indonesia

Kota Tua

Kota Tua

Segala yang ada di kota tua, sangat tua dan unik.


Dan tiba-tiba peseta Tour bertambah banyak :D

Hello There (Stasiun Kota)

Tour ditutup dengan menonton pertunjukan wayang di tengah taman


Pulangnya mendorong pick up mogok (hahahah#kidding)



Okeh, sekian Night Touring penuh kenarsisan.. :D

*sorry untuk layout foto yang sooo messy.... saya tidak tau lagi bagaimana meng-editnya :(

caooooo ----









Thursday, April 18, 2013

Lihaga : Sepenggal Surga di Bumi Kawanua

Ngeblog Lagi....

Curi-curi waktu di sebelum OTS (On The Spot. Salah satu kegiatan wajib yang harus saya lakukan terkait dengan pekerjaan saya di salah satu BUMN ini).

Kali ini saya ingin memposting tentang perbolangan saya selanjutnya di Pulau Lihaga pada tanggal 12 Maret kemarin. 12 Maret itu tanggal merah, jadi kantor libur dan saya memutuskan untuk ikut rombongan Backpacker Manado jalan-jalan ke Lihaga. hehehhe.

Setelah liburan ke gunung seperti postingan saya sebelumnya, pulau adalah ide yang baguss!

Dimanakah Lihaga itu? Mari kita sama-sama lihat di peta.


Picture was taken from Google Map

Lihaga adalah sebuah pulau kecil di Minahasa Utara. Untuk mencapainya kita harus berkendara kurang lebih 2 jam dari Manado menuju Likupang. Dari Likupang barulah kita melanjutkan perjalanan dengan perahu motor menuju pulau Lihaga. Perjalanan dengan perahu motor ditempuh kurang lebih 1 jam.


Detik-detik sebelum keberangkatan dengan Kapal

Berhubung saat itu air laut sedang surut, jadi kami (saya dan rombongan backpacker) harus berjalan lumayan jauh dari garis pantai untuk mencapai kapal kami.

Bersama Hapsah di dalam perahu motor

Pulau Lihaga tampak di kejauhan


Inilah yang saya sebut sepenggal surga

Hapsah sangat excited saat akan merapat di pulau

Perahu motor kami bersandar.

This is it sodara-sodara :D

Welcome to the island