Wednesday, July 26, 2017

Just Quit and Be Happy

Kalau kamu sudah lulus diterima di jurusan IPA, kamu sudah belajar sekeras temanmu belajar, tapi nilai fisika dan matematikamu tetap standar, mungkin kamu tidak cocok di kelas IPA, mungkin kelas IPA tidak cocok bagimu. Mungkin kamu akan sesuai di kelas Bahasa atau seni. Keluarlah, kamu tidak perlu menjalani kehidupan yang orang lain jalani.

1

Jika kamu sudah berpindah jurusan, lebih sedikit hitungan, tapi entah kenapa masih saja ogah-ogahan, keluarlah! Mungkin sistem pendidikan formal tidak cocok bagimu. Kamu tidak perlu menjalani kehidupan seperti yang orang lain jalani. Anak-anak Gen Halilintar tidak mengenyam pendidikan formal. Mereka home schooling dan si sulung mencapai omset 1 Milyar di umur 13 tahun. Kalau kamu? Umur 13 tahun ngapain?

Jika kamu sudah belajar sekuat tenaga sehingga mengorbankan waktu bersantaimu untuk bisa diterima di fakultas kedokteran ternama, lalu kamu gagal ujian dan teman sebangku di SMA yang kamu tahu kapasitas otaknya juga mirip-mirip kamu bisa lolos, beregembiralah, mungkin Teknik Pertambangan lebih cocok bagimu, atau acoounting, atau manajemen Bisnis. Kamu tidak perlu menjadi Dokter untuk berbahagia.

Kalau kamu sudah berada di jurusan yang kamu nyaman di dalamnya. Mata kuliahnya menyenangkan tapi passion mu tidak tersalurkan, emosimu seringkali tertahan, teori-teori dari pakarnya hanya masuk telinga kiri dan lolos di telinga kanan, keluarlah! Mungkin kuliah bukan jalan menuju kesuksesanmu. Mark Zuckerberg, Bill Gates, Hoeda Manis, adalah orang-orang yang memilih drop out dari kuliah dan sukses di bidangnya.


2


Jika kamu sudah lulus kuliah dan penuh percaya diri, melamar di perusahaan ternama dan diterima, lalu bekerja, lalu diberi target, lalu target itu tidak tercapai dan kamu jadi bulan-bulanan, padahal kamu sudah berusahan mati-matian plus lembur semalaman, keluarlah! Barangkali perusahaan itu tidak cocok bagimu, kamu tidak cocok bagi perusahaan itu, jangan menunda untuk berbahagia, kebahagiaanmu bukan bergantung pada perusahaan besar mana tempatmu bekerja sekarang. Mungkin kamu bisa menjadi pemimpin di perusahaan yang lebih kecil, atau kamu berpikir untuk membuka usaha sendiri. Kamu tidak perlu menjalani apa yang orang lain jalani!

Jika kamu sudah berpindah ke perusahaan yang lebih kecil, namun performamu tetap nihil, tidak perlu merasa kerdil, keluarlah! Barangkali bekerja di perusahaan yang mengejar profit bukan bidangmu, barangkali jiwa sosialmu begitu tinggi sehingga mengabdi lebih berarti, atau memulai usaha dan memberdayakan anak-anak jalanan dan warga miskin lebih kau sukai.

Jika kamu tidak betah berlama-lama basa-basi, enggan bersosialisasi macam sosilaita masa kini, namun sangat passionate terhadap tumbuh kembang anakmu, keluarlah! Keluarlah dari apapun yang sedang menghalangimu untuk berbahagia dan sambutlah uluran tangan-tangan kecil yang senantiasa menantimu pulang. Mungkin menjadi Ibu Rumah Tangga adalah yang terbaik bagimu. Tidak perlu ragu dan gentar mendengar celotehan kritikus dadakan yang hanya sibuk mengomentari hidupmu sementara hidupnya sendiri entahlan. Kamu tidak perlu menjalani yang tetanggamu ingin kamu jalani. Bangun pagi, berpakaian necis, ke kantor dengan kendaraan mewah, kembali ke rumah malam dan mengulangi rutinitas yang sama setiap hari.

3

Jika kamu saat ini masih lebih banyak merenung, tidak tahu akan melakukan apa, tidak tahu mau bagaimana menjalani hidup, kembalilah bersekolah! Atau piknik. Mungkin kamu kurang dididik atau kurang piknik. 

Tidak ada yang berhak mengomentari pilihan yang dibuat oleh seseorang. Meminjam istilah Mami Ubii, we are not in their shoes. Siapa kamu berhak mengomentari apa yang menjadi keputusan orang lain ketika kamu tidak berada dalam posisinya, tidak menghadapi apa yang tengah dia hadapi, tidak mengalami apa yang telah dia lalui. Kalau sekedar memberi saran atau pandanganmu terhadap pilihannya, boleh. Tapi ketika kamu mulai menghakimi, hentikanlah!

Deddy Corbuzier dalam reality shownya berkata kurang lebih seperti ini, "Untuk sukses kita tidak harus sekolah. Tapi sekolah adalah salah satu jalan menuju kesuksesan. Namun jika hanya bersekolah dan lantas mengharapkan kesuksesan, itu juga salah besar. Saya tidak memiliki kunci sukses, namun saya memiliki kunci kegagalan, yaitu ketika kita mulai menyerah."


Sumber Gambar :

1. www.pinterest.com
2. www.pinterest.com
3. www.justquitthing.com



Thursday, July 20, 2017

Mengasihi dalam Perbedaan

Sebenarnya sudah lama saya ingin menulis ini. Sejak tahun lalu ketika isu-isu berbau SARA santer di mana-mana dan bikin suasana tidak enak. 

Lalu keinginan untuk menulis itu terlupakan, lalu tiba-tiba di suatu siang saya membaca salah satu post di blognya Mami Ubii dan merasa terinspirasi. Aktivitas per-blog-an saya belakangan ini memang berkiblat ke ibu muda kece yang satu itu.

Oh ya, ini postingan yang menginspirasi tersebut.


Nah, keadaan sekarang tampaknya sudah mulai cooling down, tidak ada berita-berita bernada sumbang lagi di tv-tv. Apa saya yang nggak update ya? Jujur saya jarang sekali nonton tv pasca Lebaran kemarin. Terakhir nonton Pesbuker karena banyak artis Indianya πŸ˜…πŸ˜…πŸ˜….

Eh, kembali ke laptop. 😁😁😁. Jadi, saya dibesarkan di lingkungan yang sangat heterogen. Saya pernah tinggal di Dili, Timor Leste dan tetangga sekompleks saya itu multi culture, multi religion, multimart, multi talenta dan multi-multi yang lain sebutin sajalah. Tetangga sebelah rumah saya adalah Nasrani, tetangga depan rumah beragama Hindu, dan kami hidup rukun, aman dan damai. 

Jadi kepada siapa saja yang ngomong Bhineka-bhinekaan belakangan ini, saya mau bilang kalau dari kecil dulu saya sudah mengaplikasikan yang namanya bhineka tunggal ika. Jadi lucu saja kalau sekarang saya lihat spanduk bhineka tunggal ika di beberapa tempat. Udah pada lupa pelajaran PPKN kali ya kalau sampai tidak mengindahkan lagi yang namanya Bhineka Tunggal Ika.

Selepas dari Dili, saya pindah ke kampung halaman Papa saya di Manado. Di Manado ini juga sangat heterogen. Masyarakatnya beraneka ragam latar belakang. Waktu SMA, di kelas saya yang siswanya 20 lebih itu yang Muslim cuma 5, sehingga kalau belajar agama kelas 1,2,3 digabung biar jumlahnya banyakan. Natalan, Lebaran dan Imlek sama ramainya. Ramai sama anak-anak kecil yang minta angpao πŸ˜…. Dan kami baik-baik saja.


Haloo Gengs😁



Beranjak kuliah dan saya menjadi anak rantau di Makassar. Berkebalikan dengan di Manado, di sana Muslimnya mayoritas. Sahabat cewek-cewek seangkatan ada 20 yang bukan Muslim 6 orang. Dan sekali lagi, kami baik-baik saja. Saling mengasihi dan begitu solid. Maklum, seangkatan 130 orang, 20 doang ceweknya, 110 cowok. Gimana nggak makin solid tuh? Kami butuh bersatu padu untuk gosipin cowok-cowok. Hahaha. 

Hai Sayangs...


Di lingkungan kerja yang sekarang juga sangat beragam. 

Cinta Manissss πŸ˜†


Di dalam Islam dikenal dengan istilah Habluminallah dan Habluminannas. Beribadah kepada Allah dan berbuat baik kepada sesama. Allah pun dalam kitab sucinya tidak membatasi berbuat baik ini harus kepada siapa. Berbuat baik lah kepada siapapun! Siapapun! Dengan catatan, ia tidak memerangimu, tidak pula memerangi agamamu.

Bergaullah dengan siapaun tanpa memandang perbedaan suku, ras, agama, jabatan atau embel-embel lainnya. Sebebas mungkin asal tidak menyerempet akidahmu. Contohnya begini, sesayang apapun saya sama teman Nasrani saya, saya tidak akan datang kalau diundang ibadah di gereja. Orang saya ibadahnya di mesjid. Kalau di undang kawinan atau ulang tahun saya mau 😁. Berlaku pula sebaliknya. Teman Hindu saya juga tentunya tidak akan mau kalau saya ajak pengajian di Mesjid, orang dia sembahyangnya di Pura.

Jadi pointnya adalah, bergaullah dengan siapa saja tapi tetap pada koridor masing-masing. Apalagi kalau sudah berbau-bau keyakinan, sebisa mungkin janganlah saling menyinggung. Ingat, keyakinan itu memihak. Masing-masing orang mengaggap keyakinan yang dia anut yang paling benar. Kalau tidak benar ngapain susah-susah masih menjalankan ritual ibadah agamanya? 

Itu baru soal Agama, belum lagi soal Ras, belum lagi soal Suku.

Intronya panjang banget padahal saya cuma ingin menceritakan tentang salah satu sahabat saya di antara sahabat lainnya, di mana kami begitu berbeda, tapi saya sangat menyayanginya. 

Halo Mama Ahong, jangan Geer ya kamu kalau baca ini πŸ˜†πŸ˜†.

Namanya Femmy. Orang Kendari. Teman kuliah saya di jurusan Teknik Mesin Unhas. Dia seorang Nasrani. Mungkin karena sama-sama cerewet, sama-sama hobi membaca dan menulis, jadinya kami nyambung. Saya sering nginap di kosannya. Ada hal-hal kecil yang bikin saya tersentuh ketika itu. Jadi, ceritanya di kosannya Femmy ini air hanya mengalir di jam-jam tertentu. Biasanya pagi-pagi banget.

Saya terharu ketika pertama kali menginap di kosannya dan saya bangun kira-kira jam 6-an untuk solat Subuh, yang mana ini kesiangan πŸ˜† dan Femmy bilang, "saya sudah tampungkan air untuk kamu wudhu. Kalau jam begini air sudah mati."

Saya terenyuh dan terharu. Tapi saya nggak pernah bilang sama dia. πŸ˜†. How kind you are, Fem...

Femmy bangun lebih pagi dari saya dan menampungkan air untuk saya pakai berwudhu. 😘😘

Pernah terjadi suatu kisah lagi. Jadi, Mukenah saya ketinggalan di kosannya Femmy, ketika beberapa hari kemudian saya datang Femmy bilang, "Eh, itu mukenahmu ketinggalan. Sudah saya cuci sekalian waktu saya cuci baju."

Dan lagi-lagi saya terharu. Tapi saya nggak bilang juga. πŸ˜„πŸ˜„


Sebalikanya, saya sering bertanya-tanya ketika kebetulan hari Minggu kami bersama dan dia tidak ke Gereja. "Tidak ibadah kamu?" Yang kadang-kadang hanya dijawab dengan cengiran karena ini anak emang rada-rada malas. Kalau lagi insyaf saja ke gerejanya. πŸ˜…

Singkat cerita, Femmy ini menikah dengan salah satu teman seangkatan kami. Chinese, Budha. Dan kemudian Femmy menetap di Makassar.  Nah, saya yang kebetulan ketika selesai kuliah masih jadi anak kos di Makassar sering banget numpang makan di rumah mereka. πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚. Suami istri ini baik banget. Waktu saya keselo dan tidak bisa jalan mereka datang ke kosan saya dan bawakan makanan. 😘 Halo kakak Iwank.  Makan yang banyak ya. Jangan ayam terus yang dikasih makan.πŸ˜†

Mengasihi orang yang berbeda dengan kita sebenarnya sudah dari jauh-jauh hari dicontohkan oleh Papa Mama saya. Ketika masih tinggal di Timor-Timur, entah bagaimana awal mula kisahnya, Mama memiliki seorang yang bisa dikatakan anak angkat. Pribumi Timor Leste. Nasrani. Bernama Petrus. Halo kak Pit 😊. 

Dia tinggal bersama keluarga saya cukup lama. Orang tua saya menyekolahkan dia hingga SMA dan sebagai gantinnya dia membantu pekerjaan rumah tangga sepulang sekolah. Adik saya bahkan tidak mau disuapi kecuali oleh Kak Pit sambil dikisahkan dongeng. 

Ketika keluarga saya pindah ke Manado kami lost contact. Hingga suatu hari sekitar 3 atau 4 tahun yang lalu Mama saya heboh karena entah darimana Kak Pit dapat nomor telpon Mama dan menghubunginya. Sekarang komunikasi kami tersambung lagi. Kak Pit tinggal di Flores dan sudah jadi PNS.

Libur Lebaran kemarin saya mengupayakan sebisa mungkin untuk bertemu dengan Femmy. Senang sekali berjumpa lagi setelah 4 tahun tidak ketemu. Terakhir ketemu waktu saya nikah dan dia datang dengan segala kerempongannya membawa Ahong yang masih balita.


Dari kiri ke kanan : Ahong, Saya, Femmy, Chicing

Sekarang Ahong sudah besar dan sudah punya adik bernama ching-ching serta calon adik lagi di dalam perut.

Sehat-sehat terus ya kamu dan keluarga. 😘😘😘

Oh, ya. Sekarang sepertinya sejarah terulang. Saya dan Ical 'mengadopsi' seorang gadis yang dibawa Ical dari Pinrang. Kami sudah berniat akan membiayai sekolah SMA nya berhubung dia berasal dari keluarga kurang mampu. Syukur Alhamdulillah Ahmad jadi punya teman main dan ada yang bantu-bantu saya beres-beres rumah πŸ˜„. Namanya Tina.

Awalnya, Tina ini sedih banget mau dibawa ke Manado. Secara di belum pernah sekalipun jauh dari orang tua. Tapi, Ical berhasil membujuknya dengan kalimat pamungkas, "Tina, di Manado sana gerejanya besar-besar dan bagus-bagus." Lalu kemudian dia mau ikut. πŸ˜†πŸ˜† Rupanya Tina orang yang sangat religius dan selama di Manado hingga detik ini hanya pernah sekali absen ke Gereja karena sakit perut πŸ˜„.

Sebenarnya masih banyak pengalaman hidup berdampingan dalam perbedaan yang ingin saya tulis. Tapi kok rasanya ini sudah terlalu panjang ya...

Diakhiri saja kalau begitu. Bubye...😘



PULANG



Lelaki paruh baya berbadan tegap berkulit coklat tua itu berjalan menantang matahari. Orang-orang di sepanjang pesisir yang dijumpainya mengernyitkan dahi hingga kedua alis mereka bertaut dan berdoa agar apa yang mereka pikirkan salah. Jika benar, ini suatu kemustahilan. Bagaimana mungkin orang yang sudah mati bangkit dan berjalan-jalan? Bagi yang tidak mengenalnya hanya akan memandang sejenak lalu membuang muka. Bagaimanapun lelaki itu memancarkan aura yang tidak bisa dihindari oleh tatapan mata siapa saja yang dilewatinya.

Ia berjalan dengan penuh percaya diri menuju sebuah rumah. Kepalan tangannya menggenggam erat sebuah tas jinjing yang besarnya cukup untuk memuat tiga pasang baju. Ia sudah mengukur akan tinggal selama tiga hari. Kawasan tepi laut sudah banyak berubah. Dulu orang-orang menyebutnya kampung nelayan, sekarang orang-orang menyebutnya boulevard karena pantai telah ditimbun dan jalan-jalan telah dilapisi aspal.

Tanpa ragu kakinya melangkah. 10 tahun tidak mengubah apapun kenangan tentang rumah itu kecuali terasnya kini berbatasan dengan aspal dan bukannya pasir pantai. Ia tersenyum pada seorang gadis yang ia tahu pasti umurnya 15 tahun.

“Mama ada di rumah?” tanyanya.

Emma, nama gadis itu, mengangguk. Alisnya mengerut demi memandang wajah pria asing di hadapannya. Ia baru saja akan memanggil Mamanya namun lelaki itu mendahului dan melangkah masuk. 

Ia mendapati seorang wanita paruh baya memunggungi pintu dapur dan menghadap wajan panas. Bunyi sesuatu digoreng meredam degup jantungnya. Ia memutuskan mendekat dan menyentuh pundak wanita tersebut.

“Sebentar lagi ikannya masak. Tunggu saja di meja makan. Kenapa jam begini sudah kembali? Apakah tidak ada ikan di pelelangan?” Suara yang masih sama. Intonasi yang masih sama. Seperti halnya laut yang tetap biru dan tidak berubah oleh reklamasi, 10 tahun juga tidak mengubah apapun pada diri wanita itu.

“Aku rindu makan ikan goreng buatanmu.” Lelaki kulit coklat itu menyahut.

Tangan si wanita menjadi kaku. Segala kegiatannya menggoreng ikan terhenti. Bahkan, rasanya ia ingin berhenti bernapas saat itu juga.

Secepat kilat punggungnya berbalik. Dan mata coklat yang menurun pada Emma itu menumbuk mata si lelaki. Bibirnya yang merah meski sedikit keriput membuka karena terkejut mendapati suaminya, yang harusnya sudah mati dalam kerusuhan 10 tahun yang lalu, berdiri tegap penuh hasrat seperti ingin melumatnya.


End

#tantangankelasfiksi4
#OneDayOnePost

Tuesday, July 18, 2017

Penting Nggak Penting Grup WA



Hingga detik ini saya telah bergabung dalam 17 grup WA. Beberapa di antaranya bergabung dengan keinginan sendiri, sisanya di add sama orang lain. Biasanya yang di-add ini adalah grup WA kantor yang sebenarnya kalau boleh saya tidak pengen gabung. Hahhaah. (Disambit keyboard).


Buat saya yang notabene gaptek dan bukan gadget freak, angka 17 ini adalah angka yang sangat fantastis. Orang lain mungkin bisa memiliki angka yang lebih dari itu. Tapi, bayangkan jika ke 17 grup ini aktif. Jumlah chattingannya bisa ribuan! Rekor tertinggi 4000-an unread chat. 😣😣







Saya adalah tipikal orang yang malas pegang hape. Kalau lagi di kendaraan saya lebih memilih tidur atau menikmati perjalanan. Kalau lagi makan, saya lebih menikmati makan dan chit chat daripada utak-atik hp. Kalau lagi kerja, nah baru deh saya pengen pegang hp. #disambit CPU. πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚

Tapi, pada kondisi sekarang di mana teknologi komunikasi berkembang begitu pesat, memiliki grup WA sepertinya adalah sebuah keharusan, terlepas dari kamu ikhlas atau tidak bergabung di dalamnya. 

Positifnya dari bergabung dalam suatu grup WA apalagi kalau isinya adalah teman-teman sejawat jaman kuliah atau jaman sekolah adalah sebuah anugrah. Tali silaturrahmi tetap terjaga, kondisi teman-teman bisa tetap update, bisa saling bertukar informasi remeh temeh maupun gosip murahan. πŸ˜†πŸ˜†. Grup WA yang isinya teman-teman se almamater benar-benar adalah media relaksasi maupun refreshing buat saya ketika penat menghadapi rutinitas. 

Di lain pihak, grup WA kantor kadang kala terasa seperti teror. Apalagi jika muncul chat di hari libur dan malam-malam pula. Saya pikir bekerja selama 12 jam, dari jam 8 sampai jam 8 lagi itu sudah cukup, tapi ternyata belum! Dengan adanya grup WA kok jadinya saya merasa bekerja selama 24 jam sehari, 7 hari seminggu, bagaimana tidak, di hari libur maupun di luar jam kantor pun tetap harus merespon tetek bengek perihal kerjaan jika ada permintaan data atau instruksi atasan. πŸ˜₯πŸ˜₯. Lelah adek, Bang...😫

Tapi bukan berarti grup WA kantor ini tidak ada manfaatnya. Tentulah sangat bermanfaat karena jadi lebih mudah dalam berkoordinasi maupun memastikan instruksi telah sampai pada sasaran. Bahkan meeting evaluasi kinerja pun tak jarang dilakukan via grup WA ini. Tapi mbok ya di hari libur itu, sebaiknya libur juga...πŸ˜…πŸ˜…πŸ˜†πŸ˜†. Tapi ya mau bagaimana lagi ya, namanya tuntutan pekerjaan...😭😭 (Curcol)

Tapi kalau grup WA kantor yang undercover, yang di dalamnya nggak ada bos-bos, asik saja auranya. Semua curhatan perihal kerjaan sampai joke-joke ngocol bisa tumpah ruah di grup WA ini. 

Satu lagi manfaat dari grup WA yang sangat saya rasakan, yaitu media belajar. Saya bergabung di salah satu komunitas menulis yang berbasis WA. Banyak sekali pelajaran dan ilmu yang saya peroleh dari grup tersebut, meskipun kadang kewalahan mengikuti chat dari grup beranggotakan lebih dari  100 orang itu. 

Jadi kesimpulannya, kemajuan teknologi, dalam hal ini teknologi komunikasi, memiliki 2 sisi mata uang. Bisa saja bermanfaat, bisa saja malah adalah sebuah pemborosan, boros waktu, boros energi, boros biaya. Jadi yah, tergantung bagaimana kita menyikapinya. Overall bagi saya, tergabung dalam grup WA itu penting dan lebih banyak manfaatnya.

Jadi, saya akan tetap ajeg bergabung di dalam 17 grup WA saya sampai dengan waktu yang tidak ditentukan 😁

Kalau kamu? Pernah coba hitung berapa grup WA-mu?

Sunday, July 16, 2017

Susu Formula Murah : Yay or Nay



First of all, i have to tell one thing to you, people. Don't blame me! Don't bully me. I know i'm not a good mom, you know my name, but you don't know my story.....

Stop! 

Saya tidak akan bikin postingan curhat ala-ala ABG umur 18 tahun yang lagi viral. Hahahah πŸ˜‚ 

Di postingan kali ini saya ingin membahas soal susu formula yang selama ini mendampingi tumbuh kembang Ahmad. 

Tapi sebelum itu saya ingin berpesan kepada seluruh wanita di muka bumi ini yang notabene adalah seorang Ibu, calon ibu, calon istri, bahwa ASI adalah makanan bayi terbaik sepanjang masa. Sangat banyak keistimewaan ASI yang tidak bisa digantikan oleh susu formula (sufor) termahal sekalipun. (Mudah-mudahan saya bisa membahas keistimewaan ASI di postingan lain). Meskipun demikian, setiap Ibu memiliki kondisi berbeda-beda yang menyebabkan proses meng-ASI-hi ini menjadi tidak optimal. Untuk itulah saya berpesan, tolong jangan menghakimi apalagi mem-bully ibu-ibu meskipun kami suka ngomel-ngomel, suka moody, suka sein kiri padahal mau belok kanan. Plis, jangan bully kami hanya karena kami memberikan susu formula untuk anak kami. πŸ˜…

Nah, jadi kondisi saya adalah Ahmad bingung puting, istilah kerennya nipple confusion syndrom di usia sekitar 2 bulan sehingga proses memberikan ASI ini sangat melelahkan karena saya harus memompa ASI terlebih dahulu sebelum dituangkan ke botol susu dan dikasih ke Ahmad. Percayalah, menyusui anak langsung dari payudara saja melelahkan apalagi kalau harus pakai proses pumping terlebih dahulu. 

Jam tidur saya benar-benar kacau balau karena harus mengatur jadwal begadang memerah susu dan begadang memberi Ahmad susu pake botol dot. Kalau yang bayinya tidak bingung puting kan tinggal buka daster langsung nemplok. Bisa sambil bobo-bobo cantik ala Syahrini. Kalau saya harus sterilize alat pompa asi dulu, memerah dulu, nyetok asi dulu, sterilize botol, baru deh bisa kasih susu Ahmad. Melelahkan!

Stok ASIP pertama


Mama saya lihat saya serempong itu menganjurkan untuk memberikan Ahmad sufor saja tapi saya keukeh! Tidak ada AIMI (Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia) di Manado. Halo AIMI, kapan buka cabang di Manado? Saya mau daftar jadi pengurus. Heheh. Tidak ada klinik laktasi, tidak ada dokter yang merangkap conselor ASI yang dapat menjadi tempat curhat dan mendampingi saya melewati masa-masa suram ketika Ahmad menolak menyusu langsung dari payudara. Percayalah, saat itu lebih sakit daripada ketika diputusin pacar. 😭😭😭. (Btw, saya tidak update lagi soal ini sejak tahun 2015. Kalau sekarang sudah ada AIMI, klinik laktasi atau conselor ASI di Manado let me know ya....)

Produksi ASI saya melimpah dan pengetahuan tentang pentingnya memberi ASI lumayan (thanks to om Google) jadi saya bersikeras tetap memberi Ahmad ASI. Badan saya turun 8kg dari berat sebelum hamil. Bayangpun!

Namun akhirnya saya menyerah ketika masa cuti 3 bulan habis dan saya harus kembali masuk kantor. Awalnya saya bisa pumping 2x di kantor, namun semakin ke sini, semakin tidak ada waktu untuk pumping di kantor dan produksi ASI pun menurun. 

Singkat cerita, di usia Ahmad 3 bulan, saya menyerah kepada susu formula. Ini adalah satu-satunya jalan memberikan asupan gizi pada Ahmad karena dia belum bisa makan nasi padang πŸ˜‚πŸ˜‚.

Mulailah saya mencari kandidat susu formula yang akan saya berikan pada Ahmad. Buat anak, pastilah orangtua akan memberikan yang terbaik. Untuk itu saya langsung membelikan 1 kaleng susu formula termahal. Dikasih minum pertama kali langsung wajah dan tubuh Ahmad bengkak serta memerah. Seperti habis keracunan makanan. Bawa periksa ke dokter dan didiagnosa alergi. Ahmad ini memang sejak lahir terdiagnosa memiliki riwayat alergi. Oleh DSA diberikan susu formula anti alergi yang baunya kurang enak dan harganya bikin kantong jebol. 😭😭

Karena baunya yang kurang enak, Ahmad tidak mau minum sama sekali. Saya genjot pumping ASI lagi karena kalau ASI perah Ahmad mau minum dan tidak alergi. 

Beranjak dari merk susu pertama saya beralih ke merk susu ke dua yang harganya lumayan murah. Hasilnya, Ahmad diare. Orang bilang pilih susu formula itu sama seperti memilih bedak. Cocok-cocokkan. Jadi jika satu merk susu formula cocok di anak A belum tentu akan cocok di anak B. Begitupun sebaliknya.

Bingung mau beli susu merk apalagi, ART saya nyeletuk. "SGM saja. Tidak bikin diare." SGM? Dalam hati, Oh My God. Ini sufor paling murah kan ya? Karena paling murah jadi tidak yakin memberikan susu itu kepada Ahmad. Apakah kandungan gizinya sama? Apakah bagus? Apakah cocok? Apakah ini? Apakah itu? Dan apakah yang lain-lain datang bertubi-tubi.

Akhirnya, saya googling tentang cara memilih susu formula. Kesimpulannya, setiap merk susu formula memiliki kandungan yang hampir sama. Kalau ada embel-embel plus zinc artinya ada tambahan zat besi, plus AHA DHA juga artinya ada tambahan zat tersebut, intinya ASI tetap yang paling baik dan paling komplit. πŸ˜†

Berbekal ilmu dari google saya memberanikan diri membeli SGM. Eh, ternyata Alhamdulillah cocok! Sekarang Ahmad sudah minum yang untuk usia 1-3 tahun. Tidak berani ganti ke merk lain takutnya menyebabkan hal-hal yang tidak terduga lagi.

Fyi, SGM ini sufor paling murah dan kandungannya kurang lebih sama lah dengan sufor lain. Tentunya sufor mahal memiliki komposisi agak berbeda yang membuatnya menjadi sedikit mahal, tapi over all, kebutuhan gizi Ahmad terpenuhi dengan susu ini. Dan ketika ibu-ibu lain mengeluhkan harga susu yang melangit, saya Alhamdulillah tidak. Hahah. Pengertian banget sih kamu, Nak.

Gambar dari Google


Bayangkan, harga 1 kotak besar ini Rp.74.000,- kemarin sempat ada promo beli 2 gratis tas ransel anak. Seru kan?! Hahah.

By the way, ini bukan iklan ya. Saya tidak dibayar oleh siapapun untuk menuliskan postingan ini. Saya hanya ingin berbagi dengan Ibu-ibu lain di luar sana yang masih memiliki stigma bahwa sufor murah itu tidak berkualitas. Kalau orang tuanya mampu dan anaknya cocok, belikanlah yang termahal dan terbaik, namun jika anak justru tidak cocok jangan ragu untuk mencoba yang lebih murah. Siapa tahu cocok kan? 

Jadi, saya YES untuk susu formula murah. Tapi ingat, ASI tetap yang terbaik ya Mommy.....😘😘😘

Saturday, July 15, 2017

Jeana dan Fakta Seekor Lalat



Setelah berhenti bekerja dan melahirkan anak pertama kami seminggu yang lalu, istriku memiliki kebiasaan yang aneh, yaitu mengamati lalat. Padahal seingatku, terakhir kali ia menamatkan pendidikan formalnya adalah di bidang Teknik Industri dan bukan Biologi.


“Lalat yang masuk ke rumah hari ini lebih banyak dari yang kemarin. Aku tidak tahu bagaimana cara mengusir mereka.” Jeana membuka pembicaraan mengenai lalat pertama kalinya pagi itu saat mengoleskan selai kacang pada roti bakarku.

“Hmm…” Aku hanya bergumam sambil terbenam dalam harian kota yang kubentangkan.

“Apakah memang selalu banyak lalat di rumah ini?”

“Usir saja mereka,” balasku, “ada semacam lem yang dapat di pasang untuk menjerat mereka.”

“Menjerat? Lalu membiarkan mereka mati tak berdaya menempel pada lem itu? Apakah kau tidak berpikir mungkin saja  mereka adalah induk lalat yang sedang mencari makan untuk diberikan kepada anak-anaknya?”

Aku melipat harianku dan menyambar roti di piring. “Apakah anak-anak lalat yang kau maksud adalah belatung?”

“Aku tidak tahu. Tapi mereka makhluk hidup.”

“Ya, tapi mereka sangat mengganngu. Usir saja atau pukul dengan sapu lidi! Astaga, aku tidak percaya sedang mendebatmu tentang perkara seremeh mengusir lalat.”

“Kau memang mulai mengaggap segala urusanku ini remeh, kan?” Suara Jeana terdengar parau. Tanda-tanda alam bahwa hatinya sedang terluka dan ia siap meledak beberapa detik lagi. 

“Maafkan aku.” Aku mencoba menenangkan keadaan sebelum pembicaraan kembali kepada lingkaran setan tentang apakah keputusan yang kami buat bahwa Jeana harus tinggal di rumah pasca melahirkan adalah benar.

Setahun menikah aku mulai mendambakan seorang anak, namun tahun keempat pernikahan barulah Jeana bisa positif hamil. Aku sudah mewanti-wantinya sejak awal kehamilan tentang melepas karir ketika bayi kami lahir nanti. Aku tidak melihat ada masalah ketika itu. Ia menyambut dengan antusias kelahiran Bima dan langsung mengajukan surat resign menyusul surat permohonan ijin cuti melahirkannya.

***

“Apa kau tahu bahwa lalat hanya memiliki dua mata namun setiap matanya memiliki empat ribu ribu lensa? Tapi anehnya pengelihatan lalat tidak begitu baik.” Jeana baru selesai menyusui Bima. Ia bergabung di meja makan denganku. Topik tentang lalat lagi. “Aku juga merasa pengelihatanku bermasalah. Mataku sudah lelah padahal baru membaca tiga lembar novel. Dulu aku bisa menamatkan satu novel sehari.”

“Kau lelah mengurusi Bima. Jangan terlalu memaksa dirimu. Istirahatlah selagi bisa.” Aku mecoba menjawab sediplomatis mungkin. Jeana sering menangis di dadaku ketika malam tiba dan ia harus terbangun menggantikan popok Bima atau menggendongnya semalaman ketika demam. Menangis tanpa alasan yang jelas.

“Apakah kau sudah membaca tautan yang aku kirimkan ke WA mu kemarin?” 

Aku menggeleng. “Tidak sempat. Coba katakan saja padaku apa isinya.”

Jeana mengembuskan nafas dengan keras menandakan dia kecewa. Dia hanya makan dua sendok sup dari mangkuknya sebelum beranjak. Aku mengamati tubuhnya yang kurus berdaster melenggang melewatiku ketika ia berjalan ke arah kamar kami. Aku tahu soal wanita yang kehilangan bobot tubuh ketika menyusui bayi, tapi aku tidak tahu soal kantung mata dan wajah kusam. Apakah itu juga efek menyusui bayi?

***
“Bangun! Bangun, Faiz!” Seru Jeana. Aku menebak ini tengah malam. Bima sedang menjerit dengan lengkingan khas.

“Ada apa?” tanyaku mengerjapkan mata. “demi Tuhan, Jean. Ini masih jam tiga subuh.”

“Ya dan aku belum tidur semenit pun karena Bima tidak bisa diletakkan di box bayinya. Begitu diletakkan dia menangis.”

“Apa dia baik-baik saja?”

“Sedikit rewel karena demam.”

“Oh….” Aku menyahut datar lalu bersiap tidur kembali.

“Hanya itu? Kau tidak berniat menbantuku menenangkan Bima sejam saja supaya aku bisa tidur?”

“Tapi aku harus bekerja besok. Ada meeting penting,” sanggahku.

“Ya! Segalanya tentangmu memang penting dan aku tidak! Pekerjaanmu penting, meetingmu penting, jam tidurmu penting sementara aku tidak, kan?!” Wajah Jeana memerah. “Karir yang sudah kukorbankan demi mengasuh Bima pun tidak sepenting satu jam dari tidurmu yang harus kau korbankan!”

“Ya, Tuhan. Ini lagi? Aku pikir ini sudah berkahir.”

 “Aku akan tidur di kamar tamu sejam saja untuk mengembalikan jiwaku yang sudah kau rampas!”

Malam itu Jeana tidur di kamar tamu meninggalkanku kebingungan mengatasi Bima. 

***

“Kalau kau membiarkan seekor lalat terperangkap di rumah selama tiga puluh hari ia akan mati dengan sendirinya. Aku pernah membaca artikel tentang itu.” Jeana dan pengetahuan baruku tentang fakta seekor lalat di siang hari di hari Minggu. Dua belas hari setelah insiden ia tidur di kamar tamu.

“Kenapa bisa?” Aku pura-pura ingin tahu padahal sebenarnya aku merasa apa pentingnya membahas tentang ini.

“Aku tidak tahu. Mungkin karena bingung harus melakukan apa,” sahutnya datar, “apakah kau sudah membaca tautan itu?”

“Tidak sempat. Kenapa kau tidak ceritakan saja padaku?”

Jeana hanya membisu. Kurang dari sebulan dan dia benar-benar telah berubah dari Jeana yang cantik penuh percaya diri dan ambisius yang selalu mengenakan pakaian dengan selera yang tinggi menjadi Jeana yang ringkih, berkantung mata dan memakai daster dengan noda khas di beberapa tempat. Apa yang sesungguhnya terjadi padanya? Apakah dia kelelahan mengurus rumah dan Bima seorang diri? Aku akan menanyakan pendapatnya tentang menyewa jasa baby sitter besok.

***

Aku pulang agak larut hari itu dan mendapati rumah masih dalam keadaan gelap sementara tangisan Bima menggema.

“Jeana? Kau di mana, Sayang?” Aku menyalakan saklar lampu dan menghampiri box bayi Bima. Tidak ada Jeana di dekatnya. Aku mencari ke dapur dan tidak mendapatinya di sana. Aku mencari ke kamar mandi tapi dia tidak ada. “Jeana!” Aku mulai panik memikirkan sudah berapa jam ia meninggalkan Bima menangis seperti ini.

“Jeana!” Aku berlari ke luar rumah berharap menemukannya sedang bergosip dengan tetangga, namun Jeana bukan tipe ibu-ibu kompleks penggosip. “Je….” Kalimatku terhenti begitu menemukan sosok Jeana sedang meringkuk di sudut pekarangan rumah kami di dekat tempat sampah.

“Jeana, apa yang kau lakukan?” Aku menghampirinya. Ia hanya berbaring saja di sana dengan wajah yang sama lusuh dengan dasternya. “Jeana?”

“Jeana sudah mati.” Ia bergumam. “Jeana sudah mati. Kau mengurungnya di rumah dan dia mati sia-sia seperti seekor lalat.”

***
Aku membuka tautan yang dikirimkan Jeana saat jam makan siang dan mendapati artikel tentang postpartum depression1 di sana. Diagnosa yang disampaikan oleh psikiater padaku tentang keadaan Jeana saat ini. Seolah ada dentuman sangat keras pada ulu hati saat aku menyadari dia sudah mencoba untuk meminta bantuanku sejak lama. 

-END-

Note :
Penyakit serius yang dapat terjadi di awal-awal bulan setelah melahirkan bayi. Dapat membuat seseorang merasa sedih, putus asa dan tidak berarti. Pada kasus khusus seorang wanita akan mengalami depresi berat, bertingkah laku aneh, berhaslusinasi dan membahayakan diri dan bayinya.


#tantangankelasfiksi1

Monday, July 10, 2017

Travelling Bersama Balita : Yay or Nay!



Kalau saya nay! Saya dan Ical sudah sepakat untuk mengatakan TIDAK jika harus travelling bersama balita 2 tahun saya yang bernama Ahmad. Hm, kesepakatan itu baru muncul 2 minggu belakangan ini sih...πŸ˜‚πŸ˜‚



Bukannya saya tidak suka travelling, saya adalah seorang traveller sejati. Baca ini kalau tidak percaya πŸ˜†πŸ˜†:


Tapi begitu hamil dan melahirkan, rasa-rasanya sangat rempong membawa bayi ataupun balita bepergian jauh. Untuk itu saya angkat 8 jempol (pinjam jempol kaki dan tangan suami) untuk Raffi Ahmad. Loh? Iya! Saya lihat di infotainemnt Raffi Ahmad sering mambawa Rafatar travelling hingga ke luar negri. Saluuuttt. Lalu Ical bilang "Raffi Ahmad travelling bawa baby sitter makanya tidak rempong." Kemudian saya manggut-manggut.

Baru saja 2 hari yang lalu saya tiba kembali di Manado sepulangnya dari libur Lebaran 2 Minggu di kampung halaman Ical di Pinrang. Setelah tiba di Manado saya tidur nyaris 14 jam karena badan ini rasanya  remuk semua.

Dengan Lebaran saya tahun ini di Pinrang berarti Ahmad sudah 3 kali diajak berpergian. Pertama ketika usianya 4 bulan. Saat itu saya didampingi Mama sehingga masih bisa menghandle segala keperluan Ahmad meskipun ketika itu saya sangat rempong karena harus membawa perlengkapan pompa ASI plus cooler box plus botol-botol ASI nya karena Ahmad bingung puting dan tidak mau menyusu langsung di payudara.

Kali kedua membawa Ahmad pulang kampung adalah ketika dia berusia 1 tahun lebih beberapa bulan. 5 hari di kampung Ical dan Ahmad diare. Mungkin karena kelelahan menempuh perjalanan lumayan jauh (1.5 jam pesawat dan 4 jam darat) ditambah ketika harus berkunjung ke rumah buyut yang memakan waktu 8 jam perjalanan.

Ical belum kapok nih ceritanya bawa Ahmad pulang kampung, padahal saya sudah nangis-nangis bombay menceritakan kerempongan saya. Kali ketiga membawa Ahmad mudik adalah yang terjadi 2 minggu lalu. Perginya bareng Ical. Ahmad tenang di pesawat. Dan karena dia sudah 2 tahun, dia sudah dapat kursi sendiri. Alhamdulillah. 

Sampai di kampung, semua masih under controll. 2 hari kemudia Ahmad batuk pilek (batpil). Hari ketiga batuknya tambah parah plus sesak nafas. Dari bayi kalau batpil Ahamd pasti sesak nafas. Ada riwayat alergi sehingga kalau batpil pasti harus di nebulizer. Tapi sudah nyaris beberpa bulan ini setiap batpil tidak pernah di nebu lagi. Eh, tiba-tiba di Pinrang dia harus di Nebu. Mana nebulatornya tidak saya bawa pula. Akhirnya dengan menempuh perjalanan 45 menit kami berhasil menemukan Nebu di rumah sakit kota kabupaten. 😭😭😭 Malamnya Ical pertama kali seumur hidup merasakan begadang boboin Ahmad. Setelah itu dia bertaubat dan memaklumi kerempongan saya ketika harus  membawa Ahmad bepergian jauh πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚.

Belum selesai sampai di situ. Hari ke 5 batpilnya membaik, eh berganti diare. Diarenya lumayan parah sampai pupnya cair kayak pipis. Kasihan. Ditambah kondisi saya drop karena ketularan batpil. Mana Ahmad sering tantrum dan tidak mau dimomong sama orang lain kecuali saya atau Ical. Di sanalah tingkat pertaubatan Ical bertambah. Ical sadar Ahmad agak rempong dibawa perjalanan jauh, pertama dia tidak mau dimomong sama orang lain sehingga Ayah Ibu nya ini bisa kehabisan energi, kalau di Manado dia mau dimomong sama Oma Opa ataupun Adi, orang yang bantu-bantu kerjanya Ical di Manado.

Kedua Ahmad butuh waktu penyesuaian dengan lingkungan baru. Ponakannya Ical banyak banget sehingga Ahmad kaget. Orang di Manado dia cuma seorang diri anak kecil di rumah. Ketiga, ketika Ahmad stres dan tantrum sama lingkungan baru kondisinya drop dan gampang terserang penyakit.

Ical bilang, "Ini terakhir kali bawa Ahmad kalau mudik atau ke luar kota. Nanti kita bawa lagi kalau dia sudah TK." Alhamdulillah...... Saya langsung sujud dalam hati. Eh? 

Permasalahan Ical sudah berhenti sampai di situ tapi saya belum. Ketika akan balik Manado, Ical masih ada beberapa hal yang harus di selesaikan di Pinrang jadinya saya yang akan pulang sendiri bersama Ahmad. Oh My God! Saya tidak bisa membayangkan membawa balita yang lagi rewel karena kondisi kesehatannya belum membaik sendirian di pesawat. Saya ngamuk-ngamuk tapi kerjaan Ical di Pinrang tidak bisa ditinggal sementara saya juga harus sudah mulai masuk kantor Senin nanti.

Dengan kekuatan bulan saya memantapkan niat. Sampai dalam pesawat Ahmad mulai bertingkah, dari nangis-nangis tidak mau pakai seat belt dan mau berdiri ketika pesawat take off hingga tidak mau dicebok ketika dia pup. πŸ˜…

Walhasil pramugari mengalah membiarkan Ahmad tidak pakai seat belt karena penumpang di sekitar tempat duduk saya sudah protes Ahmad nangis kejer. Padahal waktu pergi mau dipakekan seatbelt sama Ical πŸ˜₯.

Nah, soal Ahmad pup dan tidak mau diangkat ke kamar mandi ini saya malu luar biasa karena pas berdiri dan menggendong Ahmad paksa, penumpang-penumpang hingga ke beberapa kursi belakang saya pada tutup hidung dan memandang saya sinis. Hahaha. Sorry, bau ya Pak Bu ? πŸ˜†πŸ˜†

Pokoknya saya sudah kayak gembel di dalam maskapai nomor wahid di Indonesia itu. Jilbab berantakan, muka berantakan, Ahmad juga sudah cemong sama makanan dan ingus. Hahahah. Kontras sama penumpang lain yang pakaiannya cetar dan parlente. Bodo amat! Saya juga bayar tau! (Padahal kebetulan saja pilih Garuda karena harganya cuma beda 100rb lebih dari Lion dan citilink ketika itu πŸ˜…πŸ˜…)

Intinya saya sih NO untuk bawa balita bepergian karena kasihan anaknya jadi sakit, kasihan juga orang tuanya yang tidak bisa memaksimalkan Quality Time ketika liburan. Liburan yang dalam kota saja dulu untuk sementara. 😁