Saturday, September 16, 2017

Seni Meringkas

Semua orang menginginkan kesederhanaan dalam hidupnya. Sederhana dalam arti tidak ribet, riweh, belibet, kusut, crowded dan sinonim kata lain yang menggambarkan kesemerawutan. Marie Kondo dengan metode KonMarinya berungkali menekankan pentingnya untuk membuang barang-barang yang menyesakkan rumahmu dan hanya mengijinkan barang-barang yang menimbulkan persaan bahagia saja yang berada di sekitarmu. Dia menyebutnya 'sparks joy'. Kurang lebih dapat saya artikan sebagai barang-barang yang dengan hanya melihatnya saja dapat memancarkan kebahagiaan. 😍😍

Silahkan baca postingan sebelumnya :


Saya adalah tipikal orang yang tidak rapih, tapi ingat kata Marie, tidak ada orang yang tidak bisa rapih di bumi ini. Jadi saya optimis. Heheh. 

Di hari-hari kerja rutinitas saya setelah bangun tidur adalah mandi dan berdiri di depan meja rias. Sebenarnya saya pun bukan orang yang berangkat kerja dengan make up komplit. Ritual di depan meja rias itu adalah membersihkan wajah, memakai lotion wajah, memakai bedak, terakhir memakai lipstick. Tapi karena meja saya berantakan banget, saya kesulitan mencari barang-barang yang saya butuhkan. Ujung-ujungnya waktu saya lebih lama habis untuk mencari make up yang saya butuhkan dibanding mengaplikasikan make up itu di wajah. Kalau kebetulan bangun agak kesiangan, maka saya akan tergesa-gesa lalu stres sendiri.

Sebenarnya bangun tidur dan meihat meja rias berantakan itu sudah memicu stres. 

Begini penampakan meja rias saya





Nah, dengan menerapkan istilah 'sparks joy' maka saya mencoba untuk menyingkirkan benda-benda yang tidak saya butuhkan setiap hari. Sparks joy dalam kasus meja rias  saya bukanlah benda yang menimbulkan kebahagiaan, karena saya tidak pernah suka alat-alat make up, melainkan benda-benda yang saya butuhkan di keseharian saya. Jadi saya mulailah pilah pilih lagi. Blush on, mascara, eye liner, eye shadow yang tidak pernah saya pakai kecuali ketika saya ke pesta saja saya singkirkan. Obat-obatan, handsanitizer, krim-krim tidak jelas yang entah kenapa ada di meja rias saya singkirkan juga. Tidak dibuang, melainkan dipindah tempatnya dan akan digunakan ketika dibutuhkan saja.

Penampakan meja rias saya setelah KonMari.




Kelihatan tidak sih bedanya? πŸ˜…
Barang-barang yang awalnya menyesaki meja rias saya pindahkan ke lemari lain.

Jika kamu tengah membaca membaca Marie Kondo dan berniat total menerapkannya dalam hidupmu, maka kamu harus benar-bebar punya ilmu tega. Barang-barang dari masa lalu yang masih kamu simpan atas nama kenangan tidak memiliki tempat lagi dalam metode berbenah ini.


Ngapain ya saya masih simpan disket yang entah apa isinya dan rekaman kegiatan sewaktu SMA yang entah bagaimana cara putarnya ini ? Singkirkan!




Bayangkan! Saya masih menyimpan manual book dari token yang sekarang sudah tidak bisa berfungsi karena bank nya sudah beralih ke mobile banking. Halah...




Diktat-diktat ataupun materi seminar yang masih disimpan dibuang saja. Marie Kondo bilang buku-buku materi seminar itu pasti tidak akan pernah lagi dibuka di rumah jadi untuk apa dibiarkan menyesaki lemari atau meja. Musnahkan!

Jadi, hiduplah hanya bersama barang-barang yang menimbulkan kebahagiaan lagi kau butuhkan πŸ˜„

Sunday, September 10, 2017

Mereka Berkisah Tentang Lelaki Tua yang Berbaring di Atas Salju

Tatyana selalu menyukai salju, bahkan ketika suhu menurun drastis menyentuh minus 20 derajat. Tatyana akan merangsek di ketiakku dan membiarkan rambutnya menari-nari di wajahku, beberapa helai akan menggelitik lubang hidungku. Rambut Tatyana beraroma lily sejak pertama kali aku mengenalnya.



"Aku akan membuat api di tungku dan menaruhnya di samovar." Tatyana selalu bersemangat ketika salju mulai turun. Di awal pernikahan kami ia merayakannya dengan menyalakan tungku dan memastikan samovar kami tidak pernah kehabisan teh panas beraroma melati. Ia juga akan membuat kue jahe tula dengan resep yang diwariskan oleh neneknya. Rumah kami hangat bahkan saat di luar sana salju sudah menumpuk 16 inchi.

Ketika Moskow mengalami urbanisasi dan anak-anak tumbuh remaja, tungku kami berubah menjadi pengahangat ruangan yang praktis, tetapi Tatyana masih saja suka menelusup di ketiakku. 

"Aku tidak bisa menemukan kehangatan yang seperti ini, Sergey," ujarnya ketika aku mulai protes karena saat dia meringkuk di ketiakku maka praktis tidak ada lagi yang bisa aku lakukan selain membelai rambutnya.

Pernikahanku berumur 43 tahun saat Tatyana menyerah pada kanker. Sudah 3 kali musim dingin kulalui tanpanya. Tidak ada teh melati, tidak ada kue jahe tula, tidak ada aroma lily lagi. 

Aku sempat melihat ke arah termometer yang menunjukkan minus 10 derajat tadi pagi. Anak-anak kami sudah dewasa dan meninggalkan rumah. Mereka hanya akan datang beberapa kali dalam setahun. Di saat-saat seperti inilah kerinduanku pada Tatyana membucah. Di saat-saat salju turun seperti ini. 

Aku melihat kepingan salju meluruh satu-satu dari langit pekat. Kenangan tentang Tatyana yang berlarian mengejar Ivan untuk disuapi makanan berkelebat, kenangan saat Tatyana memeriksa kue jahe di oven dan Igor menggelayut di kakinya melintas, kenangan tentang air mata yang menderas dan membuat hidungnya merah, kenangan tentang perlengkapan minum teh kesayangannya yang kubanting hingga lantak di lantai. Ia memergoki perselingkuhanku dan aku marah.

Aku marah pada gadis berambut merah berpipi montok yang membuatku jatuh cinta sedemikian gila tapi tidak bisa membuat teh senikmat Tatyana, aku marah pada waktu-waktu di mana Tatyana mendiamkanku dan memunggungiku di tempat tidur, aku marah atas kesabarannya menghadapiku. Aku marah karena anak-anakku tetap melihatku sebagai ayah paling baik di muka bumi. Tatyana menggerogoti amarahnya seorang diri dan aku sibuk marah pada diriku sendiri.

Tentang tahun-tahun yang berlalu tanpa tubuh Tatyana yang menelusup ke ketiakku, tentang kebesaran hati yang memaafkan perselingkuhan, tentang kesempatan kedua yang ia berikan, tentang pilihannya untuk tetap bertahan dan menyelamatkan masa depan anak-anak kami dari perceraian orang tua mereka. 

Tahun-tahun yang tak pernah sama lagi dalam pernikahan kami. Aku dengannya seperti dua orang asing ketika berpapasan di ruang makan. Tatyana dengan jelas menunjukkan betapa ia bergidik saat tanganku tak sengaja menyenggol lengannya di dapur. Tapi sedetik saja ia bisa berubah. Seperti matahari yang melelehkan salju. Ia akan menghangat dan memeluk mesra tubuhku saat Igor dan Ivan telah bersiap di meja makan. 

Kalau ada yang bisa membuat Tatyana kembali seperti dulu, itu adalah kanker. Kanker yang menggerogoti tubuh rupanya juga telah melunakkan hatinya. Ia kembali menelusup di ketiakku saat musim dingin tiba setelah dokter memberinya vonis stadium 4.

"Aku tahu kanker ini cepat atau lambat akan membunuhku. Aku benci padamu, tapi aku tidak ingin mati tanpa mengingat bagaimana hangatnya tubuh suamiku." Aku diam dan membelai rambut Tatyana yang tetap menguarkan aroma lily meski telah berwarna seperti salju. Ia meninggal dalam dekapanku. Menyisakan lubang menganga di hatiku.

Tatyana dan salju adalah kehangatan yang pernah pergi. Aku merasakan musim dingin menahun saat Tatyana menghukumku. Aku memejamkan mata lalu lamat-lamat mendengar suara Ivan berteriak, "Ayah, apa yang kau lakukan dengan berbaring di atas salju seperti itu?"

Mereka sudah datang untuk merayakan tahun baru. Anak dan cucu kami.

Thursday, August 31, 2017

Aye Lwin dan Wajah Ibu

Aku mengusap air mata yang jatuh di pipi Ibu. Kulit coklatnya memantulkan cahaya jingga dari sang surya yang berpendar malas. Aku ingin bilang jangan menangis, tapi aku tidak tahu bagaimana cara membahasakannya. Anak umur tiga tahun belum bisa mengatakan itu.
"Sayangku, sayangku. Ibu menyayangimu, Nak." Ibu menyiumi ubun-ubunku. Rasanya geli tapi menyenangkan.

"Ayo pulang, Bu.  Aye haus. Mau minum."

Ibu tidak menjawab dan malah lebih kencang menangis. Ia menahanku agar tidak berdiri dari tempat persembunyian kami, di semak belukar, jauh di dalam hutan.

"Kita di sini dulu, Aye." Ibu berbisik.

"Di mana perempuan dan anaknya itu?!" Sayup-sayup aku mendengar suara orang berteriak. "Cepat cari dan bunuh!"

"Aye, dengarkan Ibu. Aye harus berdoa. Ibu sudah ajarkan doa untuk orang tua kan? Aye ingat kan? Ibu juga sudah ajarkan doa sapu jagad. Aye bisa baca?"

Aku mengangguk lalu merapal doa-doa yang diajarkan Ibu selepas solat hingga seseorang laki-laki menghampiri kami, "Ini dia! Mereka di sini!"

Laki-laki itu menyeret Ibu keluar. Aku mengekor sambil menangis, "Ibu!Ibu!"

Mereka menjambak rambut Ibu, menyulut api di tubuh Ibu seperti ketika mereka membuat rumah-rumah di kampung kami terbakar.

"Ibu!!!" Aku melengking seperti anjing. Bau daging hangus masuk ke dalam lubang hidungku.

Jangan sakiti Ibuku! Ia selalu menyuruhku membaca doa sapu jagad, mendoakan orang-orang di dunia masuk surga. Jangan bakar ibuku! Aku ingin beteriak, tapi anak 3 tahun tidak berbicara seperti itu.

"Siapa anak ini? Dari Bengali?" Salah satu dari mereka bertanya.

Aku ingin bilang namaku Aye Lwin dari Rakhine, tapi batang kayu orang itu lebih dulu menghantam kepalaku. Lalu yang kulihat hanya gelap dan wajah Ibu.

Wednesday, August 23, 2017

Metode KonMari untuk Membenahi Hidupmu yang Berantakan

Percaya tidak kalau semalam saya tidur jam 2 pagi? Kenapa tidur selarut itu? Tolong jangan ditanyakan karena itu bisa memancing emosi saya. Hahahah. Kidding. 

Jadi, saya sudah lama ingin membuat tulisan ini. Tulisan tentang Metode KonMari. Apa itu metode KonMari? Metode KonMari adalah metode merapikan rumah, kantor, kamar, apartement, whatever you may call yang berantakan (sayangnya belum ampuh untuk merapikan masa depan πŸ˜…πŸ˜…) yang dicetuskan oleh seorang wanita berkebangsaan Jepang bernama Marie Kondo. KonMari itu singkatan dari nama dia. Kemudian dia menyebut profesinya ini sebagai Konsultan Berbenah.

Hah? Beberes saja butuh metode macam bikin skripsi? Iya lah! Ngana pikir? Berbenah itu adalah seni. kalau habis berbenah lalu berantakan lagi berarti tabiatmu yang perlu dibenahi! Hahha πŸ˜…πŸ˜…. Aduh, makin ngelantur.

Jadi, singkat kata saya menemukan sebuah postingan yang menyinggung-nyinggung soal KonMari ini dan sangat antusias untuk membeli bukunya. Saya lupa linknya mana. Tapi jauh sebelum itu ternyata sohib saya yang seorang crafter mantan banker yang bernama Kunca itu juga pernah menulis tentang ini di blognya. 

Baca : 


Dewi Lestari pun pernah mengulas tentang KonMari.

Baca :


Konon, metode KonMari ini sudah mendunia sehingga dijadikan istilah dalam Bahasa Inggris.

"Girl, you have to kondonize your room."

"Rrr...maybe I should kondonize my office."

See, seperti istilah googling yang merujuk ke kegiatan mencari-cari lanjaran dari suatu ulasan (berat banget bahasanya...πŸ˜…), maka Kondonize ini merujuk ke kegiatan merapikan dengan menggunakan metode KonMari.

Kalau googling kata KonMari maka banyak sekali artikel dan video yang mengulas tentang ini. Nah, berhubung saya lebih suka baca buku daripada lihat videonya maka saya berusaha untuk memperoleh buku itu. Di Gramedia Manado tidak ada jadi saya suruh adik saya carikan di Bandung. Alhamdulillah di Toga Mas ada seharga Rp. 40 rb-an lupa persisnya berapa.



Saya baru baca buku ini 21 halaman dan sudah buru-buru ingin menerapkan metodenya karena hidup kamar saya berantakan sekali. Saya memang tipikal orang yang tidak rapi, tapi Marie Kondo bilang tidak ada orang yang tidak rapi. Kerpihan sudah seperti fitrah manusia. Jadi pada dasarnya setiap orang memiliki bibit-bibit kerapian dalam dirinya.

Sejauh 21 halaman buku yang saya baca itu, beberapa poin penting yang saya peroleh adalah :

1. Rapikan rumahmu secera keseluruhan, jangan perbagian-bagian. Misalnya, hari ini rapikan kamar, besok rapikan dapur. Jangan! Lakukan secara sekaligus.

2. Cara untuk berbenah secara sekaligus adalah dengan cara mengkategorikan barang berdasarkan jenisnya bukan berdasarkan tempatnya. Misalnya, kategori baju, kategori buku, kategori dokumen, dsb. Bukan berdasarkan tempat seperti kategori barang-barang di lemari baju, kategori barang-barang di rak buku. Jangan!

3. Mulai pisahkan barang-barang yang sudah dikategorikan. Mana yang masih menimbukkan kebahagiaan ketika dipandang, simpan! Mana yang membuatmu merasa jengah, singkirkan! Harus tega!

4. Rapikan barang yang sudah kamu pilah pilih, susun secara vertikal, dimulai dari gradasi warna gelap ke terang atau sebaliknya.

5. Jangan menimbun barang! Kenang-kenangan, oleh-oleh, hadiah yang tidak pernah digunakan bahkan masih rapih terbungkus di kemasannya, singkirkan! Harus tega.

6. Jangan menyimpan barang-barang sampahmu, yang tidak berguna tapi sayang di buang di rumah orang tua.


Baru 21 halaman banyak banget ya materinya? Hehe. Tidak kok! Sebenarnya di 21 halaman itu masih menbahas awal mula Marie Kondo menemukan metode berbenah yang ampuh, tapi sebelum membaca buku ini saya sudah terlanjur googling-googling. 

Btw, saya langsung mempraktekkan metode KonMari namun tidak persis sama mengikuti langkah-langkahnya.

Untuk kasus saya, saya hanya merapikan kamar saya dikarenakan  masih tinggal bersana orang tua dan tidak ingin beliau kaget kalau saya ke dapurnya lalu membuang segala kontainer plastik, tuperwer, rantang-rantang, gelas dan piring kaca yang jarang dipakai, cenderung dikoleksi, karena saya anggap itu tidak berguna. Nanti Mama saya shock. Jadi, saya hanya menerapkan metode itu di kamar saya.

Langkah pertama adalah pilah pilih barang kategori baju. Saya lupa membuat foto before afternya tapi seperti inilah hasilnya.


Satu kantong baju yang tidak menimbulkan kebahagiaan berhasil disingkirkan. Ahmad pun ikut bahagia emaknya beres-beres.

"Tumben, Mak. Lagi kesurupan ya?" Tanya Ahamd. ,πŸ˜…



Saya berhasil menata kumpulan jilbab secara vertikal dan berdasarkan gradasi warna.





Baju yang digantung juga dijejer berdasarkan gradasi warna.
Kurang lebih tampilan lemari sata setelah dibenahi seperti ini.
Apa? Masih berantakan? Kamu bisa bayangkan bagaimana kacaunya lemari saya sebelumnya...πŸ˜†πŸ˜†





Target operasi selanjutnya adalah meja rias yang berantakannya naudzubillah.




Kendala yang dihadapi selama merapikan barang kategori baju adalah kantongan yang berisi baju-baju yang bikin jengah itu saya serahkan ke Mama saya, "Ma, ini kasih orang ya."

Lalu oleh Mama saya dibongkar lagi dan sebagian besar diambilin lagi dan dimasukin lemarinya, "sayang kan dikasih orang. Ini bisa mama pake."

Dalam hati, 'mau dipake ke mana? Lagian ukurannya kekecilan semua."

Mitigasi risiko (gile bahasa gueeeh!) yang dilakukan agar barang-barang itu bebar-benar berhasil disingkirkan dan bukannya hanya berpindah ke lemari nyokap adalah, berikutnya harus langsung di kasih ke orang lain yang lebih membutuhkan seperti disumbang ke panti asuhan.

Di bagian belakang buku ini tertulis bahwa dengan memiliki buku tersebut kita seperti sedang mengikuti kursus berbenah jarak jauh bersama Marie Kondo. Di Jepang seseorang harus menunggu 3 bulan untuk dapat mengikuti kursusnya, bahkan sekarang Marie harus membuat daftar tunggu untuk daftar tunggu.

Saya akan membuat label khusus di blog saya yaitu #MetodeKonMari (just in case kalian ingin melanjutkan membaca pengalaman saya menerapkan metode KonMari dalam berbenah) yang berisi ulasan poin-poin penting yang saya temukan sepanjang membaca buku tersebut supaya kita sama-sama paham dan syukur-syukur bisa menerapkan metode ini untuk membenahi apapun milik kita yang sedang berantakan.

Akhir kata.... Ciayoooo!!! 😊😊😊


Sunday, August 13, 2017

Seorang Pria yang diletakkan Tuhan di Teras Rumah

Pinterest



Tidak ada yang lebih mencengangkan daripada bangun di pagi hari dan mendapati pria misterius tergeletak di depan teras rumahmu. Bahkan, Ocha, kucing blasteran persia yang sensitif terhadap bunyi-bunyian pun sepertinya tidak menyadari hal yang aneh karena pagi tadi ketika aku bangun ia masih bergelung di telapak kakiku dengan pulas.

Lelaki dengan tuxedo hitam itu kini menyeruput dari cangkir yang masih mengepul. Aku berbaik hati membuatkannya kopi karena ia tampak linglung dan letih. 

"Jadi, kau benar-benar diturunkan oleh Tuhan begitu saja di depan rumahku untuk menjadi suamiku?" Aku bertanya dengan hati-hati untuk yang ke sembilan belas kalinya. Ia mengangguk.

Aku beranjak dari beanbag dengan jengah dan memandang ke arah jam dinding yang menunjukkan pukul 07.00. Satu jam lagi aku harus tiba di kantor. Tapi tidak dengan laki-laki yang entah siapa ini masih berada dalam rumahku.

"Aku tidak percaya dongeng seperti itu lagi," gumamku. Aku dulu percaya kalau seorang bayi bisa saja tidak dilahirkan oleh Ibu, melainkan dibawa oleh seekor angsa berparuh besar. Angsa yang sama menjatuhkanku di pekarangan sebuah panti asuhan dua puluh lima tahun silam.

"Aku tidak butuh kau untuk percaya bagaimana caraku bisa ada di depan pintu rumahmu. Aku hanya butuh kau percaya bahwa aku adalah yang terbaik yang dikirimkan Tuhan untukmu," ia meyahut. Senyum tersungging di bibirnya yang merah.

Aku memasang ekspresi-siapa-kau-berani-berkata-seperti-itu-seakan-kau-tahu-segalanya-tentangku?

"Kau harus pergi ke kantor sekarang kan?" tanyanya lagi. "Pergilah dengan tenang. Aku akan di sini ketika kau pulang nanti."

Aku menghambur ke kamar mandi setelah menimbang bahwa ia tidak mungkin bisa diusir dari rumahku begitu saja. Aku akan bersiap ke kantor dan dalam perjalanan akan singgah di kantor polisi untuk mengadukan tentang orang asing yang menerobos masuk rumahku. Menerobos? Kan aku yang mempersilahkan dia masuk. Ah, pokoknya aku harus ke kantor polisi secepatnya.

Setelah itu, aku akan memberitahu Kenzou. Ia harus cepat melamarku karena bisa saja pria asing tadi nekad dan memaksaku menikahinya.


#tantangankelasfiksimateri10

Wednesday, August 9, 2017

Review Dwilogi ; Papua Pergi, Jakarta Menghilang

Tulisan ini dibuat dalam rangka memenuhi tugas ke 7 kelas fiksi One Day One Post. Pada tugas kali ini, setiap 'murid' diwajibkan mereview tulisan (dalam hal ini tulisan fiksi) 'murid' lain yang telah ditentukan oleh wali kelas. Nah, saya kebagian mereview tulisan Mbak Aara. Eh, mbak apa adek ya si Aara itu...πŸ˜…

Sebelum lanjut, boleh baca-baca pemikiran Aara di sini.


credit



Nah, Aara mengajukan sebuah cerita dwilogi (ceileh....πŸ˜†)dengan judul yang sangat menggugah rasa ingin tahu saya.





Membaca judulnya ekspektasi saya adalah sebuah cerpen dengan genre science fiction macam cerita Atlantis atau film 2012.

Membaca beberapa paragraf awal langsung sadar ternya ekspektasi saya meleset. Oh oke, ini semacam fabel. Aara menghidupkan benda-benda dan menjadikannya tokoh dalam dwiloginya. Tidak tanggung-tanggung  jadi tokoh utama adalah pulau-pulau di Nusantara.

Saya tidak tahu apa pertimbangan Aara sehingga yang menjadi tokoh utama adalah pulau Jawa dan Papua. Entah apakah keduanya terpisah begitu jauh secara geografis, perbedaan budaya yang begitu besar, pembangunan yang begitu jomplang.

Saat membaca Jakarta Menghilang, saya bisa menangkap jalan pikiran Aara. Ia menggambarkan penderitaan pulau Jawa yang selalu dilubangi tiang-tiang besi (analogi tiang pancang bangunan pencakar langit), terlebih di Jakarta. Penderitaan Jakarta yang begitu akut membuatnya memutuskan untuk memisahkan diri dari pulau Jawa dan menjadi pulau sendiri.

Namun ketika membaca Papua Menghilang, saya tidak bisa mengikuti jalan pikiran Aara. Kenapa Papua ingin pergi dari Ibu Pertiwi? Apakah ada kaitannya dengan iming-iming orang asing yang beberapa kali disebutkan dalam cerita?  Ketika membaca saya menduga-duga apakah Aara bermaksud menceritakan tentang gerakan papua merdeka yang ingin berpisah dari Nusantara? Ataukah ingin membahas tentang beberapa waktu setelah kemerdekaan di mana Papua Barat masih diduduki oleh penjajah yang konon kabarnya dikarenakan memiliki cadangan emas yang paling banyak di muka bumi? Ataukah Aara ingin menciptakan jalan ceritanya sendiri? Entahlah.

Dwilogi Aara cukup menghibur. Namun cara Aara bertutur sangat 'telling' not 'showing' . Saya seperti sedang mendengarkan dongeng pengantar tidur yang dibacakan oleh Ibu kepada anaknya.

Terdapat beberapa kata depan dan kata awalan 'di' yang tidak tepat. Antara lain 'diambil' yang Aara tulis 'di ambil'.

Hal lain yang mengganggu adalah, Aara menyebutkan bahwa Papua anak sulung dan mengulangnya dalam kaimat lain 'Papua, adik sulung...' mungkin Aara keliru menuliskan bungsu dengan sulung dalam beberapa kalimatnya.

Kesimpulan :

+ Judul menggugah
+ Ide  cerita sangat brilliant

- kurang showing, cenderung telling.
-EYD agak berantakan.
-eksekusi kurang mantap.

Tuesday, August 1, 2017

Sahabat Drakula


credit


"Ma, aku nggak mau masuk ke sekolah itu!" bantahku untuk yang kesekian kalinya, saat Mama menyinggung tentang sekolah baru yang akan menjadi sekolahku mulai besok.

"Bobby, itu sekolah yang baik untukmu. Sekolah itu terkenal dengan pendidikan budi pekertinya. Kau dan standar sopan santunmu cocok sekali untuk dididik di sana," argumen Mama.

"Aku baik-baik saja dengan sekolahku yang lama, Ma. Bisa-bisa aku jadi gila kalau Mama masukin aku ke sekolah macam itu." Nada suaraku mulai meninggi.

"Kamu itu harus...."

"Mama jangan pura-pura nggak tau deh!" Potongku tanpa memberikan Mama kesempatan untuk melanjutkan kalimatnya, "Kemarin kan kita sudah ke sana dan sekolah itu tidak seperti sekolah pada umumnya."

"Mama sudah putuskan. Suka atau tidak kamu tetap harus mengikuti keinginan Mama!"

Begitulah, aku tidak bisa menentang keinginan Mama. Mama tidak butuh pendapat dan masukan orang lain. Apa yang telah diputuskan dianggapanya paling tepat. Begitu juga dalam hal ini.

Setelah lulus SD, aku terpaksa ikut Mama pindah ke ke kota ini. Aku juga tetap harus mengikuti keinginan Mama untuk sekolah di SMP pilihannya.

"Sekolah ini nggak ada bagus-bagusnya," gerutuku keesokan harinya saat sedang melihat sekokah pilihan Mama untuk kedua kalinya, "Berkali-kali dilihatpun sekokah ini tetap aneh."

"Bobby, lihat sisi baiknya saja," bantah Mama sambil menutup pintu mobil, "Sekolah ini besar. Fasilitasnya pasti lengkap."

Aku mengembuskan napas dengan keras menandakan sikap protesku.

"Cobalah bersikap baik, Bobby. Kita harus menemui kepala sekolah."

Aku mencibir sambil mengikuti Mama memasuki gerbang sekolah baruku itu. Kenapa Mama tidak bisa merasakan keanehan di sekolah ini? Mama benar-benar tidak tahu, atau hanya pura-pura tidak tahu?

Sekokah baruku ini memang besar dan megah. Namun ada suatu kejanggalan. Sejak memasuki gerbang sekolah aku tidak melihat seorangpun di koridor ataupun di lapangan. Tak kudengar satupun suara murid-murid yang ribut, bercanda, atau tertawa. Seolah-olah di tengah sekolah yang besar ini hanya ada aku dan Mama.

"Oh, maaf. Di mana ruang kepala sekolah?" tanya Mama pada seorang guru yang kebetulan lewat di depan kami.

Guru itu menatap ke arah Mama agak lama, lalu berganti menatapku. Guru itu kemudian menunjuk sebuah ruangan di seberang lapangan tanpa bersuara sedikitpun.

"Terimakasih," sahut Mama sambil memandang ke arah ruangan yang ditunjuk.

Aku juga ikut memandang ke arah ruangan bercat merah darah itu. Pintu ruangannya tertutup rapat, begitu juga dengan tirai jendelanya. Dari dalam ruangan tampak seberkas cahaya. Mungkin cahaya lampu. Kenapa di pagi secerah ini harus menyalakan lampu?

Aku menoleh ke arah guru yang memberitahu letak ruangan kepala sekolah tadi, tapi aku begitu terkejut mendapati guru itu sudah tidak ada lagi di dekatku.

"Ma, guru yang tadi ke mana?" tanyaku cemas.

***Bersambung***


Hahah. Sorry morry dorry bagi yang sedang serius membaca ini dan tiba-tiba menemukan kata 'bersambung'. Saya bukannya ingin membuat penasaran, hanya saja saya capek ngetik. Hahaha πŸ˜†πŸ˜†πŸ˜†

Tulisan ini dibuat untuk memenuhi tugas kelas fiksi One Day One Post. Tugasnya adalah meniru gaya menulis penulis yang kita sukai, yang kita jadikan panutan, yang karenanya kita ingin menjadi penulis. Sekarang-sekarang ini begitu banyak nama penulis yang menginspirasi saya. Bisa dikatakan, saya adalah pelahap semua genre fiksi.

Namun, di awal-awal saya menyadari bahwa saya mencitai dunia kepenulisan ini adalah ketika saya berada di usia akhir-akhir SD menjelang SMP. Ketika itu, buku yang paling banyak saya koleksi adalah buku-buku Goosebumps-nya R.L Stine. Yang suka baca R.L Stine ayo ngacung! Berarti kita seumuran dan berarti masa kecil kita bahagia πŸ˜„πŸ˜„πŸ˜„.

Untuk mengenang jasa-jasa R.L Stine yang telah mewarnai masa abege saya, maka saya memilih untuk menuliskan kembali cerpen misteri yang pernah saya buat ketika SMP. Ya! Tulisan saya di atas adalah tulisan yang saya buat ketika saya menggilai R.L Stine. Tulisnya pakai pulpen di buku tulis, kadang nyempil di buku pelajaran. 

Maafkan tulisan saya yang cakar ayam ini


Saya senyum-senyum sendiri menyadari saya begitu produtif menulis (di buku tulis) ketika SMP dulu. Saya jadi malu karena sekarang banyakan ogah-ogahannya.

Btw, sudah mirip R.L Stine belum gaya saya bercerita? 😁


#onedayonepost
#tantangankelasfiksi6