Sunday, August 13, 2017

Seorang Pria yang diletakkan Tuhan di Teras Rumah

Pinterest



Tidak ada yang lebih mencengangkan daripada bangun di pagi hari dan mendapati pria misterius tergeletak di depan teras rumahmu. Bahkan, Ocha, kucing blasteran persia yang sensitif terhadap bunyi-bunyian pun sepertinya tidak menyadari hal yang aneh karena pagi tadi ketika aku bangun ia masih bergelung di telapak kakiku dengan pulas.

Lelaki dengan tuxedo hitam itu kini menyeruput dari cangkir yang masih mengepul. Aku berbaik hati membuatkannya kopi karena ia tampak linglung dan letih. 

"Jadi, kau benar-benar diturunkan oleh Tuhan begitu saja di depan rumahku untuk menjadi suamiku?" Aku bertanya dengan hati-hati untuk yang ke sembilan belas kalinya. Ia mengangguk.

Aku beranjak dari beanbag dengan jengah dan memandang ke arah jam dinding yang menunjukkan pukul 07.00. Satu jam lagi aku harus tiba di kantor. Tapi tidak dengan laki-laki yang entah siapa ini masih berada dalam rumahku.

"Aku tidak percaya dongeng seperti itu lagi," gumamku. Aku dulu percaya kalau seorang bayi bisa saja tidak dilahirkan oleh Ibu, melainkan dibawa oleh seekor angsa berparuh besar. Angsa yang sama menjatuhkanku di pekarangan sebuah panti asuhan dua puluh lima tahun silam.

"Aku tidak butuh kau untuk percaya bagaimana caraku bisa ada di depan pintu rumahmu. Aku hanya butuh kau percaya bahwa aku adalah yang terbaik yang dikirimkan Tuhan untukmu," ia meyahut. Senyum tersungging di bibirnya yang merah.

Aku memasang ekspresi-siapa-kau-berani-berkata-seperti-itu-seakan-kau-tahu-segalanya-tentangku?

"Kau harus pergi ke kantor sekarang kan?" tanyanya lagi. "Pergilah dengan tenang. Aku akan di sini ketika kau pulang nanti."

Aku menghambur ke kamar mandi setelah menimbang bahwa ia tidak mungkin bisa diusir dari rumahku begitu saja. Aku akan bersiap ke kantor dan dalam perjalanan akan singgah di kantor polisi untuk mengadukan tentang orang asing yang menerobos masuk rumahku. Menerobos? Kan aku yang mempersilahkan dia masuk. Ah, pokoknya aku harus ke kantor polisi secepatnya.

Setelah itu, aku akan memberitahu Kenzou. Ia harus cepat melamarku karena bisa saja pria asing tadi nekad dan memaksaku menikahinya.


#tantangankelasfiksimateri10

Wednesday, August 9, 2017

Review Dwilogi ; Papua Pergi, Jakarta Menghilang

Tulisan ini dibuat dalam rangka memenuhi tugas ke 7 kelas fiksi One Day One Post. Pada tugas kali ini, setiap 'murid' diwajibkan mereview tulisan (dalam hal ini tulisan fiksi) 'murid' lain yang telah ditentukan oleh wali kelas. Nah, saya kebagian mereview tulisan Mbak Aara. Eh, mbak apa adek ya si Aara itu...πŸ˜…

Sebelum lanjut, boleh baca-baca pemikiran Aara di sini.


credit



Nah, Aara mengajukan sebuah cerita dwilogi (ceileh....πŸ˜†)dengan judul yang sangat menggugah rasa ingin tahu saya.





Membaca judulnya ekspektasi saya adalah sebuah cerpen dengan genre science fiction macam cerita Atlantis atau film 2012.

Membaca beberapa paragraf awal langsung sadar ternya ekspektasi saya meleset. Oh oke, ini semacam fabel. Aara menghidupkan benda-benda dan menjadikannya tokoh dalam dwiloginya. Tidak tanggung-tanggung  jadi tokoh utama adalah pulau-pulau di Nusantara.

Saya tidak tahu apa pertimbangan Aara sehingga yang menjadi tokoh utama adalah pulau Jawa dan Papua. Entah apakah keduanya terpisah begitu jauh secara geografis, perbedaan budaya yang begitu besar, pembangunan yang begitu jomplang.

Saat membaca Jakarta Menghilang, saya bisa menangkap jalan pikiran Aara. Ia menggambarkan penderitaan pulau Jawa yang selalu dilubangi tiang-tiang besi (analogi tiang pancang bangunan pencakar langit), terlebih di Jakarta. Penderitaan Jakarta yang begitu akut membuatnya memutuskan untuk memisahkan diri dari pulau Jawa dan menjadi pulau sendiri.

Namun ketika membaca Papua Menghilang, saya tidak bisa mengikuti jalan pikiran Aara. Kenapa Papua ingin pergi dari Ibu Pertiwi? Apakah ada kaitannya dengan iming-iming orang asing yang beberapa kali disebutkan dalam cerita?  Ketika membaca saya menduga-duga apakah Aara bermaksud menceritakan tentang gerakan papua merdeka yang ingin berpisah dari Nusantara? Ataukah ingin membahas tentang beberapa waktu setelah kemerdekaan di mana Papua Barat masih diduduki oleh penjajah yang konon kabarnya dikarenakan memiliki cadangan emas yang paling banyak di muka bumi? Ataukah Aara ingin menciptakan jalan ceritanya sendiri? Entahlah.

Dwilogi Aara cukup menghibur. Namun cara Aara bertutur sangat 'telling' not 'showing' . Saya seperti sedang mendengarkan dongeng pengantar tidur yang dibacakan oleh Ibu kepada anaknya.

Terdapat beberapa kata depan dan kata awalan 'di' yang tidak tepat. Antara lain 'diambil' yang Aara tulis 'di ambil'.

Hal lain yang mengganggu adalah, Aara menyebutkan bahwa Papua anak sulung dan mengulangnya dalam kaimat lain 'Papua, adik sulung...' mungkin Aara keliru menuliskan bungsu dengan sulung dalam beberapa kalimatnya.

Kesimpulan :

+ Judul menggugah
+ Ide  cerita sangat brilliant

- kurang showing, cenderung telling.
-EYD agak berantakan.
-eksekusi kurang mantap.

Tuesday, August 1, 2017

Sahabat Drakula


credit


"Ma, aku nggak mau masuk ke sekolah itu!" bantahku untuk yang kesekian kalinya, saat Mama menyinggung tentang sekolah baru yang akan menjadi sekolahku mulai besok.

"Bobby, itu sekolah yang baik untukmu. Sekolah itu terkenal dengan pendidikan budi pekertinya. Kau dan standar sopan santunmu cocok sekali untuk dididik di sana," argumen Mama.

"Aku baik-baik saja dengan sekolahku yang lama, Ma. Bisa-bisa aku jadi gila kalau Mama masukin aku ke sekolah macam itu." Nada suaraku mulai meninggi.

"Kamu itu harus...."

"Mama jangan pura-pura nggak tau deh!" Potongku tanpa memberikan Mama kesempatan untuk melanjutkan kalimatnya, "Kemarin kan kita sudah ke sana dan sekolah itu tidak seperti sekolah pada umumnya."

"Mama sudah putuskan. Suka atau tidak kamu tetap harus mengikuti keinginan Mama!"

Begitulah, aku tidak bisa menentang keinginan Mama. Mama tidak butuh pendapat dan masukan orang lain. Apa yang telah diputuskan dianggapanya paling tepat. Begitu juga dalam hal ini.

Setelah lulus SD, aku terpaksa ikut Mama pindah ke ke kota ini. Aku juga tetap harus mengikuti keinginan Mama untuk sekolah di SMP pilihannya.

"Sekolah ini nggak ada bagus-bagusnya," gerutuku keesokan harinya saat sedang melihat sekokah pilihan Mama untuk kedua kalinya, "Berkali-kali dilihatpun sekokah ini tetap aneh."

"Bobby, lihat sisi baiknya saja," bantah Mama sambil menutup pintu mobil, "Sekolah ini besar. Fasilitasnya pasti lengkap."

Aku mengembuskan napas dengan keras menandakan sikap protesku.

"Cobalah bersikap baik, Bobby. Kita harus menemui kepala sekolah."

Aku mencibir sambil mengikuti Mama memasuki gerbang sekolah baruku itu. Kenapa Mama tidak bisa merasakan keanehan di sekolah ini? Mama benar-benar tidak tahu, atau hanya pura-pura tidak tahu?

Sekokah baruku ini memang besar dan megah. Namun ada suatu kejanggalan. Sejak memasuki gerbang sekolah aku tidak melihat seorangpun di koridor ataupun di lapangan. Tak kudengar satupun suara murid-murid yang ribut, bercanda, atau tertawa. Seolah-olah di tengah sekolah yang besar ini hanya ada aku dan Mama.

"Oh, maaf. Di mana ruang kepala sekolah?" tanya Mama pada seorang guru yang kebetulan lewat di depan kami.

Guru itu menatap ke arah Mama agak lama, lalu berganti menatapku. Guru itu kemudian menunjuk sebuah ruangan di seberang lapangan tanpa bersuara sedikitpun.

"Terimakasih," sahut Mama sambil memandang ke arah ruangan yang ditunjuk.

Aku juga ikut memandang ke arah ruangan bercat merah darah itu. Pintu ruangannya tertutup rapat, begitu juga dengan tirai jendelanya. Dari dalam ruangan tampak seberkas cahaya. Mungkin cahaya lampu. Kenapa di pagi secerah ini harus menyalakan lampu?

Aku menoleh ke arah guru yang memberitahu letak ruangan kepala sekolah tadi, tapi aku begitu terkejut mendapati guru itu sudah tidak ada lagi di dekatku.

"Ma, guru yang tadi ke mana?" tanyaku cemas.

***Bersambung***


Hahah. Sorry morry dorry bagi yang sedang serius membaca ini dan tiba-tiba menemukan kata 'bersambung'. Saya bukannya ingin membuat penasaran, hanya saja saya capek ngetik. Hahaha πŸ˜†πŸ˜†πŸ˜†

Tulisan ini dibuat untuk memenuhi tugas kelas fiksi One Day One Post. Tugasnya adalah meniru gaya menulis penulis yang kita sukai, yang kita jadikan panutan, yang karenanya kita ingin menjadi penulis. Sekarang-sekarang ini begitu banyak nama penulis yang menginspirasi saya. Bisa dikatakan, saya adalah pelahap semua genre fiksi.

Namun, di awal-awal saya menyadari bahwa saya mencitai dunia kepenulisan ini adalah ketika saya berada di usia akhir-akhir SD menjelang SMP. Ketika itu, buku yang paling banyak saya koleksi adalah buku-buku Goosebumps-nya R.L Stine. Yang suka baca R.L Stine ayo ngacung! Berarti kita seumuran dan berarti masa kecil kita bahagia πŸ˜„πŸ˜„πŸ˜„.

Untuk mengenang jasa-jasa R.L Stine yang telah mewarnai masa abege saya, maka saya memilih untuk menuliskan kembali cerpen misteri yang pernah saya buat ketika SMP. Ya! Tulisan saya di atas adalah tulisan yang saya buat ketika saya menggilai R.L Stine. Tulisnya pakai pulpen di buku tulis, kadang nyempil di buku pelajaran. 

Maafkan tulisan saya yang cakar ayam ini


Saya senyum-senyum sendiri menyadari saya begitu produtif menulis (di buku tulis) ketika SMP dulu. Saya jadi malu karena sekarang banyakan ogah-ogahannya.

Btw, sudah mirip R.L Stine belum gaya saya bercerita? 😁


#onedayonepost
#tantangankelasfiksi6



Sunday, July 30, 2017

Diserang Writer's Block? Lakukan 5 Hal Ini


Setiap penulis atau yang sedang meniti karir di dunia tulis menulis pasti tidak asing dengan istilah writer's block. Itu adalah kondisi di mana kamu tidak ada keinginan untuk menulis ataupun memiliki keinginan namun tidak tau mau menulis apa. Writer's block ini sebagaian besar muncul  sebagai manifestasi dari mood yang jelek ataupun susahnya membagi waktu dengan kegiatan lain.

credit


Gejala writer's block dapat berwujud kehabisan ide, sudah punya ide bingung eksekusinya bagaimana, sudah niat mantap mau eksekusi bingung kalimat pertamanya gimana, sudah punya kalimat pertama nendang konfliknya melempem, sudah punya konflik keren bingung endingnya mau diapain. πŸ˜„πŸ˜…

Nah, berikut akan saya jembrengkan uraikan hal-hal yang (menurut pengalaman saya) dapat mengatasi writer's block.

1. Nonton Serial TV atau Drama

Drama India dan drama Turki berhasil menaikkan mood dan memberikan ide menulis untuk saya. Bayangkan! Ratusan episode dan penontonnya setia mengikuti. Itu kan wooww! Saya belajar bagaimana menciptakan konflik dari hal-hal yang sederhana, menciptakan karakter yang kuat and so on. Bagi yang kena Korean Wave, nonton drakor juga ampuh membangkitkan mood dan memunculkan ide menulis. Buat cowok yang tidak suka nonton drama boleh nonton film hollywood di youtube atau sekalian ke bioskop. 


2. Membaca Novel atau Kumpulan Cerpen

Kata suatu quote yang beredar di media sosial, kalau kamu sedang tidak ingin membaca, menulislah, kalau sedang tidak ingin menulis, membacalah. Seperti halnya menonton drama, membaca juga bisa memperbaiki mood dan memunculkan ide-ide untuk memulai kembali menulis. Tapi biasanya habis membaca saya seringkali terpengaruh gaya bahasa penulis yang saya baca tulisannya πŸ˜–.

dari WA saya sulit menemukan sumbernya



3. Makan Junk Food

Junk food bagi saya adalah obat pereda stres. Kalau stres hilang otomatis mood meningkat. Sesimpel itu sih. Haahha


4. Window Shopping

Sebagai perempuan yang kodratnya senang melihat yang indah-indah, saya punya hobby window shopping, ini hobby yang hemat karena hasrat melihat barang yang indah-indah tersalurkan dan uang tetap aman pada tempatnya karena saya tidak pernah tergoda untuk membeli. Saya hanya ingin lihat tanpa ada maksud memiliki. Aihhh....πŸ˜… Dan ini selalu ampuh membangkitkan mood saya. Kalau buat cowok mungkin dengan futsal atau main game kali ya...😁



5. Bergabung dengan Komunitas Menulis.

Saya pernah membahas tentang komunitas menulis itu di sini :

Buat yang Hobi Menulis

Kenapa bagi saya penting untuk bergabung dengan komunitas menulis? Karena kita jadi memiliki teman yang saling menyemangati ketika sedang dalam kondisi writer's block, teman sharing dan berbagi info-info perihal kepenulisan. Biasanya setelah sharing apalagi melihat teman lain akan menerbitkan buku saya langsung bersemangat kembali menulis. Kan nggak mau kalah!!!

Nah, saat ini saya tidak bergantung pada kegiatan tulis menulis untuk menghidupi diri saya, karena saya bergantung kepada Allah SWT melalui dompet suami πŸ˜†. Hahaha. Kidding, maksudnya saya tidak mendapatkan penghasilan utama melalui kegiatan menulis, biasanya saya menulis kalau sedang mood dan kalau ada deadline lomba ataupun deadline dari kelas menulis yang saya ikuti. Berhubung tidak bergantung pasa penghasilan menulis, biasanya kalau diserang writer's block saya selow saja. 

Tapi mungkin suatu saat nanti, jika saya harus menggantungkan diri pada penghasilan menulis, saya akan berjuang semampunya untuk lolos dari jeratan iblis bernama writer's block. 😁


#onedayonepost
#tantangankelasfiksi5

Wednesday, July 26, 2017

Just Quit and Be Happy

Kalau kamu sudah lulus diterima di jurusan IPA, kamu sudah belajar sekeras temanmu belajar, tapi nilai fisika dan matematikamu tetap standar, mungkin kamu tidak cocok di kelas IPA, mungkin kelas IPA tidak cocok bagimu. Mungkin kamu akan sesuai di kelas Bahasa atau seni. Keluarlah, kamu tidak perlu menjalani kehidupan yang orang lain jalani.

1

Jika kamu sudah berpindah jurusan, lebih sedikit hitungan, tapi entah kenapa masih saja ogah-ogahan, keluarlah! Mungkin sistem pendidikan formal tidak cocok bagimu. Kamu tidak perlu menjalani kehidupan seperti yang orang lain jalani. Anak-anak Gen Halilintar tidak mengenyam pendidikan formal. Mereka home schooling dan si sulung mencapai omset 1 Milyar di umur 13 tahun. Kalau kamu? Umur 13 tahun ngapain?

Jika kamu sudah belajar sekuat tenaga sehingga mengorbankan waktu bersantaimu untuk bisa diterima di fakultas kedokteran ternama, lalu kamu gagal ujian dan teman sebangku di SMA yang kamu tahu kapasitas otaknya juga mirip-mirip kamu bisa lolos, beregembiralah, mungkin Teknik Pertambangan lebih cocok bagimu, atau acoounting, atau manajemen Bisnis. Kamu tidak perlu menjadi Dokter untuk berbahagia.

Kalau kamu sudah berada di jurusan yang kamu nyaman di dalamnya. Mata kuliahnya menyenangkan tapi passion mu tidak tersalurkan, emosimu seringkali tertahan, teori-teori dari pakarnya hanya masuk telinga kiri dan lolos di telinga kanan, keluarlah! Mungkin kuliah bukan jalan menuju kesuksesanmu. Mark Zuckerberg, Bill Gates, Hoeda Manis, adalah orang-orang yang memilih drop out dari kuliah dan sukses di bidangnya.


2


Jika kamu sudah lulus kuliah dan penuh percaya diri, melamar di perusahaan ternama dan diterima, lalu bekerja, lalu diberi target, lalu target itu tidak tercapai dan kamu jadi bulan-bulanan, padahal kamu sudah berusahan mati-matian plus lembur semalaman, keluarlah! Barangkali perusahaan itu tidak cocok bagimu, kamu tidak cocok bagi perusahaan itu, jangan menunda untuk berbahagia, kebahagiaanmu bukan bergantung pada perusahaan besar mana tempatmu bekerja sekarang. Mungkin kamu bisa menjadi pemimpin di perusahaan yang lebih kecil, atau kamu berpikir untuk membuka usaha sendiri. Kamu tidak perlu menjalani apa yang orang lain jalani!

Jika kamu sudah berpindah ke perusahaan yang lebih kecil, namun performamu tetap nihil, tidak perlu merasa kerdil, keluarlah! Barangkali bekerja di perusahaan yang mengejar profit bukan bidangmu, barangkali jiwa sosialmu begitu tinggi sehingga mengabdi lebih berarti, atau memulai usaha dan memberdayakan anak-anak jalanan dan warga miskin lebih kau sukai.

Jika kamu tidak betah berlama-lama basa-basi, enggan bersosialisasi macam sosilaita masa kini, namun sangat passionate terhadap tumbuh kembang anakmu, keluarlah! Keluarlah dari apapun yang sedang menghalangimu untuk berbahagia dan sambutlah uluran tangan-tangan kecil yang senantiasa menantimu pulang. Mungkin menjadi Ibu Rumah Tangga adalah yang terbaik bagimu. Tidak perlu ragu dan gentar mendengar celotehan kritikus dadakan yang hanya sibuk mengomentari hidupmu sementara hidupnya sendiri entahlan. Kamu tidak perlu menjalani yang tetanggamu ingin kamu jalani. Bangun pagi, berpakaian necis, ke kantor dengan kendaraan mewah, kembali ke rumah malam dan mengulangi rutinitas yang sama setiap hari.

3

Jika kamu saat ini masih lebih banyak merenung, tidak tahu akan melakukan apa, tidak tahu mau bagaimana menjalani hidup, kembalilah bersekolah! Atau piknik. Mungkin kamu kurang dididik atau kurang piknik. 

Tidak ada yang berhak mengomentari pilihan yang dibuat oleh seseorang. Meminjam istilah Mami Ubii, we are not in their shoes. Siapa kamu berhak mengomentari apa yang menjadi keputusan orang lain ketika kamu tidak berada dalam posisinya, tidak menghadapi apa yang tengah dia hadapi, tidak mengalami apa yang telah dia lalui. Kalau sekedar memberi saran atau pandanganmu terhadap pilihannya, boleh. Tapi ketika kamu mulai menghakimi, hentikanlah!

Deddy Corbuzier dalam reality shownya berkata kurang lebih seperti ini, "Untuk sukses kita tidak harus sekolah. Tapi sekolah adalah salah satu jalan menuju kesuksesan. Namun jika hanya bersekolah dan lantas mengharapkan kesuksesan, itu juga salah besar. Saya tidak memiliki kunci sukses, namun saya memiliki kunci kegagalan, yaitu ketika kita mulai menyerah."


Sumber Gambar :

1. www.pinterest.com
2. www.pinterest.com
3. www.justquitthing.com



Thursday, July 20, 2017

Mengasihi dalam Perbedaan

Sebenarnya sudah lama saya ingin menulis ini. Sejak tahun lalu ketika isu-isu berbau SARA santer di mana-mana dan bikin suasana tidak enak. 

Lalu keinginan untuk menulis itu terlupakan, lalu tiba-tiba di suatu siang saya membaca salah satu post di blognya Mami Ubii dan merasa terinspirasi. Aktivitas per-blog-an saya belakangan ini memang berkiblat ke ibu muda kece yang satu itu.

Oh ya, ini postingan yang menginspirasi tersebut.


Nah, keadaan sekarang tampaknya sudah mulai cooling down, tidak ada berita-berita bernada sumbang lagi di tv-tv. Apa saya yang nggak update ya? Jujur saya jarang sekali nonton tv pasca Lebaran kemarin. Terakhir nonton Pesbuker karena banyak artis Indianya πŸ˜…πŸ˜…πŸ˜….

Eh, kembali ke laptop. 😁😁😁. Jadi, saya dibesarkan di lingkungan yang sangat heterogen. Saya pernah tinggal di Dili, Timor Leste dan tetangga sekompleks saya itu multi culture, multi religion, multimart, multi talenta dan multi-multi yang lain sebutin sajalah. Tetangga sebelah rumah saya adalah Nasrani, tetangga depan rumah beragama Hindu, dan kami hidup rukun, aman dan damai. 

Jadi kepada siapa saja yang ngomong Bhineka-bhinekaan belakangan ini, saya mau bilang kalau dari kecil dulu saya sudah mengaplikasikan yang namanya bhineka tunggal ika. Jadi lucu saja kalau sekarang saya lihat spanduk bhineka tunggal ika di beberapa tempat. Udah pada lupa pelajaran PPKN kali ya kalau sampai tidak mengindahkan lagi yang namanya Bhineka Tunggal Ika.

Selepas dari Dili, saya pindah ke kampung halaman Papa saya di Manado. Di Manado ini juga sangat heterogen. Masyarakatnya beraneka ragam latar belakang. Waktu SMA, di kelas saya yang siswanya 20 lebih itu yang Muslim cuma 5, sehingga kalau belajar agama kelas 1,2,3 digabung biar jumlahnya banyakan. Natalan, Lebaran dan Imlek sama ramainya. Ramai sama anak-anak kecil yang minta angpao πŸ˜…. Dan kami baik-baik saja.


Haloo Gengs😁



Beranjak kuliah dan saya menjadi anak rantau di Makassar. Berkebalikan dengan di Manado, di sana Muslimnya mayoritas. Sahabat cewek-cewek seangkatan ada 20 yang bukan Muslim 6 orang. Dan sekali lagi, kami baik-baik saja. Saling mengasihi dan begitu solid. Maklum, seangkatan 130 orang, 20 doang ceweknya, 110 cowok. Gimana nggak makin solid tuh? Kami butuh bersatu padu untuk gosipin cowok-cowok. Hahaha. 

Hai Sayangs...


Di lingkungan kerja yang sekarang juga sangat beragam. 

Cinta Manissss πŸ˜†


Di dalam Islam dikenal dengan istilah Habluminallah dan Habluminannas. Beribadah kepada Allah dan berbuat baik kepada sesama. Allah pun dalam kitab sucinya tidak membatasi berbuat baik ini harus kepada siapa. Berbuat baik lah kepada siapapun! Siapapun! Dengan catatan, ia tidak memerangimu, tidak pula memerangi agamamu.

Bergaullah dengan siapaun tanpa memandang perbedaan suku, ras, agama, jabatan atau embel-embel lainnya. Sebebas mungkin asal tidak menyerempet akidahmu. Contohnya begini, sesayang apapun saya sama teman Nasrani saya, saya tidak akan datang kalau diundang ibadah di gereja. Orang saya ibadahnya di mesjid. Kalau di undang kawinan atau ulang tahun saya mau 😁. Berlaku pula sebaliknya. Teman Hindu saya juga tentunya tidak akan mau kalau saya ajak pengajian di Mesjid, orang dia sembahyangnya di Pura.

Jadi pointnya adalah, bergaullah dengan siapa saja tapi tetap pada koridor masing-masing. Apalagi kalau sudah berbau-bau keyakinan, sebisa mungkin janganlah saling menyinggung. Ingat, keyakinan itu memihak. Masing-masing orang mengaggap keyakinan yang dia anut yang paling benar. Kalau tidak benar ngapain susah-susah masih menjalankan ritual ibadah agamanya? 

Itu baru soal Agama, belum lagi soal Ras, belum lagi soal Suku.

Intronya panjang banget padahal saya cuma ingin menceritakan tentang salah satu sahabat saya di antara sahabat lainnya, di mana kami begitu berbeda, tapi saya sangat menyayanginya. 

Halo Mama Ahong, jangan Geer ya kamu kalau baca ini πŸ˜†πŸ˜†.

Namanya Femmy. Orang Kendari. Teman kuliah saya di jurusan Teknik Mesin Unhas. Dia seorang Nasrani. Mungkin karena sama-sama cerewet, sama-sama hobi membaca dan menulis, jadinya kami nyambung. Saya sering nginap di kosannya. Ada hal-hal kecil yang bikin saya tersentuh ketika itu. Jadi, ceritanya di kosannya Femmy ini air hanya mengalir di jam-jam tertentu. Biasanya pagi-pagi banget.

Saya terharu ketika pertama kali menginap di kosannya dan saya bangun kira-kira jam 6-an untuk solat Subuh, yang mana ini kesiangan πŸ˜† dan Femmy bilang, "saya sudah tampungkan air untuk kamu wudhu. Kalau jam begini air sudah mati."

Saya terenyuh dan terharu. Tapi saya nggak pernah bilang sama dia. πŸ˜†. How kind you are, Fem...

Femmy bangun lebih pagi dari saya dan menampungkan air untuk saya pakai berwudhu. 😘😘

Pernah terjadi suatu kisah lagi. Jadi, Mukenah saya ketinggalan di kosannya Femmy, ketika beberapa hari kemudian saya datang Femmy bilang, "Eh, itu mukenahmu ketinggalan. Sudah saya cuci sekalian waktu saya cuci baju."

Dan lagi-lagi saya terharu. Tapi saya nggak bilang juga. πŸ˜„πŸ˜„


Sebalikanya, saya sering bertanya-tanya ketika kebetulan hari Minggu kami bersama dan dia tidak ke Gereja. "Tidak ibadah kamu?" Yang kadang-kadang hanya dijawab dengan cengiran karena ini anak emang rada-rada malas. Kalau lagi insyaf saja ke gerejanya. πŸ˜…

Singkat cerita, Femmy ini menikah dengan salah satu teman seangkatan kami. Chinese, Budha. Dan kemudian Femmy menetap di Makassar.  Nah, saya yang kebetulan ketika selesai kuliah masih jadi anak kos di Makassar sering banget numpang makan di rumah mereka. πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚. Suami istri ini baik banget. Waktu saya keselo dan tidak bisa jalan mereka datang ke kosan saya dan bawakan makanan. 😘 Halo kakak Iwank.  Makan yang banyak ya. Jangan ayam terus yang dikasih makan.πŸ˜†

Mengasihi orang yang berbeda dengan kita sebenarnya sudah dari jauh-jauh hari dicontohkan oleh Papa Mama saya. Ketika masih tinggal di Timor-Timur, entah bagaimana awal mula kisahnya, Mama memiliki seorang yang bisa dikatakan anak angkat. Pribumi Timor Leste. Nasrani. Bernama Petrus. Halo kak Pit 😊. 

Dia tinggal bersama keluarga saya cukup lama. Orang tua saya menyekolahkan dia hingga SMA dan sebagai gantinnya dia membantu pekerjaan rumah tangga sepulang sekolah. Adik saya bahkan tidak mau disuapi kecuali oleh Kak Pit sambil dikisahkan dongeng. 

Ketika keluarga saya pindah ke Manado kami lost contact. Hingga suatu hari sekitar 3 atau 4 tahun yang lalu Mama saya heboh karena entah darimana Kak Pit dapat nomor telpon Mama dan menghubunginya. Sekarang komunikasi kami tersambung lagi. Kak Pit tinggal di Flores dan sudah jadi PNS.

Libur Lebaran kemarin saya mengupayakan sebisa mungkin untuk bertemu dengan Femmy. Senang sekali berjumpa lagi setelah 4 tahun tidak ketemu. Terakhir ketemu waktu saya nikah dan dia datang dengan segala kerempongannya membawa Ahong yang masih balita.


Dari kiri ke kanan : Ahong, Saya, Femmy, Chicing

Sekarang Ahong sudah besar dan sudah punya adik bernama ching-ching serta calon adik lagi di dalam perut.

Sehat-sehat terus ya kamu dan keluarga. 😘😘😘

Oh, ya. Sekarang sepertinya sejarah terulang. Saya dan Ical 'mengadopsi' seorang gadis yang dibawa Ical dari Pinrang. Kami sudah berniat akan membiayai sekolah SMA nya berhubung dia berasal dari keluarga kurang mampu. Syukur Alhamdulillah Ahmad jadi punya teman main dan ada yang bantu-bantu saya beres-beres rumah πŸ˜„. Namanya Tina.

Awalnya, Tina ini sedih banget mau dibawa ke Manado. Secara di belum pernah sekalipun jauh dari orang tua. Tapi, Ical berhasil membujuknya dengan kalimat pamungkas, "Tina, di Manado sana gerejanya besar-besar dan bagus-bagus." Lalu kemudian dia mau ikut. πŸ˜†πŸ˜† Rupanya Tina orang yang sangat religius dan selama di Manado hingga detik ini hanya pernah sekali absen ke Gereja karena sakit perut πŸ˜„.

Sebenarnya masih banyak pengalaman hidup berdampingan dalam perbedaan yang ingin saya tulis. Tapi kok rasanya ini sudah terlalu panjang ya...

Diakhiri saja kalau begitu. Bubye...😘



PULANG



Lelaki paruh baya berbadan tegap berkulit coklat tua itu berjalan menantang matahari. Orang-orang di sepanjang pesisir yang dijumpainya mengernyitkan dahi hingga kedua alis mereka bertaut dan berdoa agar apa yang mereka pikirkan salah. Jika benar, ini suatu kemustahilan. Bagaimana mungkin orang yang sudah mati bangkit dan berjalan-jalan? Bagi yang tidak mengenalnya hanya akan memandang sejenak lalu membuang muka. Bagaimanapun lelaki itu memancarkan aura yang tidak bisa dihindari oleh tatapan mata siapa saja yang dilewatinya.

Ia berjalan dengan penuh percaya diri menuju sebuah rumah. Kepalan tangannya menggenggam erat sebuah tas jinjing yang besarnya cukup untuk memuat tiga pasang baju. Ia sudah mengukur akan tinggal selama tiga hari. Kawasan tepi laut sudah banyak berubah. Dulu orang-orang menyebutnya kampung nelayan, sekarang orang-orang menyebutnya boulevard karena pantai telah ditimbun dan jalan-jalan telah dilapisi aspal.

Tanpa ragu kakinya melangkah. 10 tahun tidak mengubah apapun kenangan tentang rumah itu kecuali terasnya kini berbatasan dengan aspal dan bukannya pasir pantai. Ia tersenyum pada seorang gadis yang ia tahu pasti umurnya 15 tahun.

“Mama ada di rumah?” tanyanya.

Emma, nama gadis itu, mengangguk. Alisnya mengerut demi memandang wajah pria asing di hadapannya. Ia baru saja akan memanggil Mamanya namun lelaki itu mendahului dan melangkah masuk. 

Ia mendapati seorang wanita paruh baya memunggungi pintu dapur dan menghadap wajan panas. Bunyi sesuatu digoreng meredam degup jantungnya. Ia memutuskan mendekat dan menyentuh pundak wanita tersebut.

“Sebentar lagi ikannya masak. Tunggu saja di meja makan. Kenapa jam begini sudah kembali? Apakah tidak ada ikan di pelelangan?” Suara yang masih sama. Intonasi yang masih sama. Seperti halnya laut yang tetap biru dan tidak berubah oleh reklamasi, 10 tahun juga tidak mengubah apapun pada diri wanita itu.

“Aku rindu makan ikan goreng buatanmu.” Lelaki kulit coklat itu menyahut.

Tangan si wanita menjadi kaku. Segala kegiatannya menggoreng ikan terhenti. Bahkan, rasanya ia ingin berhenti bernapas saat itu juga.

Secepat kilat punggungnya berbalik. Dan mata coklat yang menurun pada Emma itu menumbuk mata si lelaki. Bibirnya yang merah meski sedikit keriput membuka karena terkejut mendapati suaminya, yang harusnya sudah mati dalam kerusuhan 10 tahun yang lalu, berdiri tegap penuh hasrat seperti ingin melumatnya.


End

#tantangankelasfiksi4
#OneDayOnePost