Showing posts with label MetodeKonMari. Show all posts
Showing posts with label MetodeKonMari. Show all posts

Saturday, August 11, 2018

Buku : Berbenah Tak Pernah Sesulit Ini

Tibalah kita pada bagian yang paling sulit dalam proses berbenah saya. Yaitu  membenahi barang-barang dengan kategori buku.  Iya buku.  Saya sangat mencintai jenis barang yang satu itu.  Saya memiliki begitu banyak buku.  Fiksi maupun non fiksi. 

Tahapan proses berbenah saya dapat dibaca di sini :

Membenahi Hidup

Seni Meringkas

Fokus


Saya mulai mengoleksi buku cerita rakyat,  cerita nabi dan komik ketika SD.  Kemudian buku-buku detektif,  kemudian serial ghoosebumps,  kemudian teenlit,  chicklit,  buku-buku sastra. Kecanduan saya kepada buku didukung oleh lingkungan rumah tempat saya tumbuh.  Ibu saya tidak bisa hidup tanpa majalah religi,  ayah saya tidak bisa hidup tanpa koran dan majalah Tempo,  adik saya tidak bisa hidup tanpa menambah koleksi komik serialnya. 




Berangkat dari keluarga yang sangat mencintai membaca membuat saya paling berat kalau harus menyingkirkan buku-buku,  sebaliknya paling ringan mengeluarkan uang untuk membeli buku,  dibanding beli barang jenis lain misalkan baju,  asesoris ataupun gadget.  

Saya tidak akan tergoda dengan gadget sebagus apapun,  saya tidak akan tergoda dengan baju semodis apapun,  tapi saya akan dengan senang hati mengorbankan waktu istirahat makan siang saya hanya untuk ke Gramedia dan membeli buku yang tiba-tiba ingin saya baca hanya karena penasaran dengan resensi atau ulasan yang saya baca di internet.  Tidak bisa menunggu.  Harus saat itu juga. 




Buku-buku saya,  meskipun tidak pernah saya singkirkan,  selalu saja berkurang jumlahnya.  Entah karena hilang,  entah karena dipinjam tidak kembali,  entah karena rusak dimakan rayap sehingga harus saya buang.

Marie Kondo dalam bukunya juga menceritakan,  bahwa klien-kliennya yang penggemar buku cenderung paling sulit untuk menyingkirkan barang yang satu ini.  Mereka pasti memiliki buku yang baru dibaca seperempat,  atau bahkan masih terbungkus rapi dalam plastik wrap.  Ketika Marie memerintahkan mereka untuk menyingkirkan buku-buku yang sekiranya sudah tidak diperlukan,  biasanya buku-buku yang masih dalam wrapping tidak disingkirkan.  Mereka selalu berdalih akan membacanya nanti.  Padahal 'nanti'  itu tak pernah ada.  Jika kau benar-benar menyukai buku itu  kau pasti akan langsung membacanya begitu membeli. 



Marie Kondo juga merupakan penggemar buku.  Ia telah melalui bertahun-tahun eksperimen dalam membenahi kategori barang jenis buku.  Ia pernah mencoba metode mencatat semua quote dari buku yang dia suka dalam catatan dan menyingkirkan buku itu demi mengurangi jumlah buku yang dimiliki.  Namun,  hal itu sangat melelahkan.  Cara lainnya,  Marie pernah mencoba metode merobek dan menyimpan halaman yang disukai saja lalu sisanya dibuang,  namun halaman tersebut pun tak pernah dibaca ulang.  

Semua cara di atas tidak pernah berhasil untuk mengurangi jumlah bukunya secara signifikan.  Bertahun kemudian ia menemukan sinyal-sinyal yang dapat kita gunakan untuk mempermudah menyingkirkan buku-buku koleksi kita.  Perhatikan semua koleksi bukumu.  Letakkan di lantai. Singkirkan buku itu ketika kamu merasakan 1 atau lebih kriteria di bawah ini:

1. Tidak membangkitkan kegembiraan ketika disentuh. Hanya disentuh,  tanpa kamu berusaha membacanya. 

2.Telah selesai dibaca dan sekiranya tidak akan dibaca lagi. 

3.Buku yang sudah berbulan-bulan belum selesai dibaca.  Kalau kamu benar-benar menyukainya,  kamu tentu akan lekas-lekas menyelesaikannya. 

4.Buku yang sudah lama dibeli tapi belum dibaca sama sekali. 

Jika kamu mendeteksi kriteria-kriteria di atas terhadap bukumu,  sudah saatnya kamu menyingkirkan buku tersebut. 

Kali pertama menjumpai sebuah buku adalah saat yang paling tepat untuk membacanya (the life changing magic of tidying up hal. 87)




By the way,  akhirnya saya berhasil menyingkirkan beberapa buku yang saya miliki. Semua buku milik saya membangkitkan kegembiraan, namun saya berusaha rasional dengan memilah berdasarkan kriteria 2, 3 dan 4 di atas. 

Buku-buku yang hendak saya keluarkan dari rak koleksi akan saya jual dengan harga murah.  Sudah saya posting di FB dan akan saya posting juga di blog setelah ini ya...

Oh,  ya setelah ini saya akan membagi pengalaman berebenah barang kategori kertas dan komono (pernak-pernik). 

Semoga berguna dan bermanfaat. 😘

Sunday, July 29, 2018

Fokus pada Apa yang Ingin Kamu Simpan (Bukan pada Apa yang Akan Kamu Buang)



Setelah cukup lama membiarkan buku KonMari begitu saja di rak buku tanpa berniat menyelesaikannya,  entah kenapa di tenga-tengah sedang membaca novel Crazy Rich Asians,  saya malah tergoda untuk menamatkan KonMari.




Saya pikir,  saya harus segera membenahi setidaknya kamar tidur saya sebelum kehamilan saya bertambah besar dan anak kedua saya lahir. 




Btw,  kalau ada yang belum familiar dengan buku KonMari yang saya maksud,  bisa cek postingan saya di sini :


Dan di sini :


Singkatnya  KonMari adalah salah satu metode berbenah yang dicetuskan oleh seorang wanita berkebangsaan Jepang bernama Marie Kondo.  Dia sudah terobsesi dengan seni berbenah ini sejak usia 5 tahun. Wow banget kan? Saya 5 tahun masih  terobsesi sama es mambo yang dijual di halaman SD. πŸ˜‚

Jadi,  Marie Kondo melalui tahapan demi tahapan hidupnya dengan membaca berbagai literatur tentang seni berbenah dan menyimpan barang.  Mulai dari teori singkirkan satu barang ketika membeli satu barang lainnya,  metode mengoptimalkan space di ruang sempit,  hingga metode menghitung jumlah baju ideal yang seharusnya seseorang miliki. 

Namun semua hal di atas itu tidak berhasil bagi dirinya hingga dia akhirnya menemukan suatu metode yang dia paparkan dengan sangat detail pada buku yang sedang saya baca ini. 

Dalam metode KonMari,  penting untuk mengikuti step by step dalam berbenah. KonMari menginstruksikan kita agar dapat membenahi barang dengan urutan sebagai berikut :

1. Pakaian
2. Buku
3.Kertas
4.Komono
5. Barang-barang bernilai sentimental

Yang dimaksud Komono adalah pernak-pernik kecil seperti asesoris,  perhiasan,  souvenir,  hadiah,  dsb. 

Dalam besaran kategori di atas,  juga terdapat sub kategori,  misalkan pakaian terdapat sub kategori atasan dan bawahan. Nah,  dengan semangat 45, tanpa menunggu menamatkan bukunya,  saya langsung mempraktekkan seni berbenah itu. 

Mata saya langsung nyalang menatap ke lemari.  Saya perlu membongkar lagi isinya.  Sebelum ini,  saya sudah pernah membongkar isi lemari saya dan menyingkirkan hampir sepertiga isinya. Tapi,  entah kenapa saya merasa perlu melakukannya sekali lagi hanya untuk memastikan bahwa tidak ada barang-barang yang tidak saya inginkan dan tidak saya butuhkan di dalamnya. 

Hasilnya,  saya berhasil menyingkirkan 3 buah pakaian yang sudah bertahun-tahun tidak pernah saya pakai namun masih saya simpan. Lumayan.  Btw,  pakaian itu saya kasih ke orang yang sekiranya masih mau.  Supaya tidak terkesan mubazir,  kamu bisa bikin garage sale,  menyumbang ke panti asuhan atau lembaga sosial lain yang sekiranya membutuhkan. 

Hal yang patut digarisbawahi dalam hal meyingkirikan barang-barang adalah :


1. Lakukan seorang diri. 

Jangan biarkan orang lain terlibat dalam proses berbenahmu,  terutama Ibu,  karena mereka hanya akan membuatmu semakin berat merelakan pakaian yang sebenarnya sudah tidak kamu butuhkan itu.  Biasanya seorang Ibu akan merasa sayang melihat tumpukan pakaian yang akan disingkirkan lalu mulai mengambil beberapa lembar dari sana dengan dalih masih layak dipakai.  Padahal kenyataannya,  pakaian itu pun takkan pernah dipakai ibumu dan malah menumpik di lemarinya. 

Saya sudah berulangkali mengalami hal ini,  jadi penting untuk menegaskan ke Ibumu bahwa pakai-pakaian itu sudah kamu niatkan akan kamu sumbangkan,  atau kamu berikan kepada orang lain. 


2. Jangan berikan kepada adik sebagai hadiah. 

Kata Marie Kondo,  begitu banyak kliennya yang tidak tega menyingkirkan pakaian mereka,  padahal mereka pun tak pernah menggunakannya,  sehingga menjadikan dalih untuk memberikan pakaian tersebut pada adiknya. Ini biasa terjadi pada klien perempuan yang memiliki adik perempuan.  Padahal si adik belum tentu memiliki selera yang sama dengan kakaknya,  sehingga yang terjadi adalah baju-baju tersebut kemudian hanya berakhir sebagai tumpukan di lemari sang adik. 

Hal ini tidak terjadi pada kasus saya karena adik saya laki-laki dan tidak tinggal satu kota dengan saya.  


3. Jangan mengalihfungsikan sebagai baju rumah. 

Ketika ada pakaian bagus yang kita beli dan ternyata hanya dipakai sekali ke pesta dan tidak pernah dipakai lagi karena mendadak kita tidak nyaman,  jangan sekali-sekali menunda untuk menyingkirkannya dengan dalih akan dikenakan sebagai baju rumah sebab sayang pakaian bagus sudah dibeli malah disingkirkan. 

Coba ingat-ingat lagi perasaan kita ketika membelinya.  Mungkin kita tertarik ketika pakaian tersebut terpajang indah di manekin toko,  atau tergantung sedemikian anggun di hanger mall.  Ketika telah membeli dan mengenakannya,  mendadak kita merasa tidak nyaman. Jangan pernah ragu untuk menyingkirkan pakaian tersebut karena sesungguhnya pakaian itu telah memenuhi fungsinya yakni menyenangkan hati kita ketika membeli. Tidak lebih.


Dalam buku KonMari selalu ditegaskan pentingnya untik fokus pada benda-benda yang ingin kita simpan.  Ia menyebutnya benda-benda yang membangkitkan kebahagiaan.  Dan bukannya fokus pada apa yang kita akan singkirkan. 

Marie Kondo selalu menginstruksikan untuk menyentuh setiap benda yang kita miliki lalu bertanya pada diri sendiri apakah benda ini membangkitkan kebahagiaan,  ataukah telah selesai memenuhi fungsinya sehingga lebih baik disingkirkan saja? 

Dalam hal pakaian tanyakan pada dirimu berulangkali,  apakah kamu benar-benar bahagia menyimpannya?  Jika kamu bahagia,  kenapa kamu tidak pernah menggunakannya? Pakaian yang sudah  2 tahun tidak pernah dikenakan lagi  harus disingkirkan saat itu juga.  Jangan membebani dirimu,  jangan pula membebani pakaian itu karena tidak bisa berfungsi sebagaimana mestinya untuk dikenakan dan justru malah hanya teronggok di sudut lemari. 

Saturday, September 16, 2017

Seni Meringkas

Semua orang menginginkan kesederhanaan dalam hidupnya. Sederhana dalam arti tidak ribet, riweh, belibet, kusut, crowded dan sinonim kata lain yang menggambarkan kesemerawutan. Marie Kondo dengan metode KonMarinya berungkali menekankan pentingnya untuk membuang barang-barang yang menyesakkan rumahmu dan hanya mengijinkan barang-barang yang menimbulkan persaan bahagia saja yang berada di sekitarmu. Dia menyebutnya 'sparks joy'. Kurang lebih dapat saya artikan sebagai barang-barang yang dengan hanya melihatnya saja dapat memancarkan kebahagiaan. 😍😍

Silahkan baca postingan sebelumnya :


Saya adalah tipikal orang yang tidak rapih, tapi ingat kata Marie, tidak ada orang yang tidak bisa rapih di bumi ini. Jadi saya optimis. Heheh. 

Di hari-hari kerja rutinitas saya setelah bangun tidur adalah mandi dan berdiri di depan meja rias. Sebenarnya saya pun bukan orang yang berangkat kerja dengan make up komplit. Ritual di depan meja rias itu adalah membersihkan wajah, memakai lotion wajah, memakai bedak, terakhir memakai lipstick. Tapi karena meja saya berantakan banget, saya kesulitan mencari barang-barang yang saya butuhkan. Ujung-ujungnya waktu saya lebih lama habis untuk mencari make up yang saya butuhkan dibanding mengaplikasikan make up itu di wajah. Kalau kebetulan bangun agak kesiangan, maka saya akan tergesa-gesa lalu stres sendiri.

Sebenarnya bangun tidur dan meihat meja rias berantakan itu sudah memicu stres. 

Begini penampakan meja rias saya





Nah, dengan menerapkan istilah 'sparks joy' maka saya mencoba untuk menyingkirkan benda-benda yang tidak saya butuhkan setiap hari. Sparks joy dalam kasus meja rias  saya bukanlah benda yang menimbulkan kebahagiaan, karena saya tidak pernah suka alat-alat make up, melainkan benda-benda yang saya butuhkan di keseharian saya. Jadi saya mulailah pilah pilih lagi. Blush on, mascara, eye liner, eye shadow yang tidak pernah saya pakai kecuali ketika saya ke pesta saja saya singkirkan. Obat-obatan, handsanitizer, krim-krim tidak jelas yang entah kenapa ada di meja rias saya singkirkan juga. Tidak dibuang, melainkan dipindah tempatnya dan akan digunakan ketika dibutuhkan saja.

Penampakan meja rias saya setelah KonMari.




Kelihatan tidak sih bedanya? πŸ˜…
Barang-barang yang awalnya menyesaki meja rias saya pindahkan ke lemari lain.

Jika kamu tengah membaca membaca Marie Kondo dan berniat total menerapkannya dalam hidupmu, maka kamu harus benar-bebar punya ilmu tega. Barang-barang dari masa lalu yang masih kamu simpan atas nama kenangan tidak memiliki tempat lagi dalam metode berbenah ini.


Ngapain ya saya masih simpan disket yang entah apa isinya dan rekaman kegiatan sewaktu SMA yang entah bagaimana cara putarnya ini ? Singkirkan!




Bayangkan! Saya masih menyimpan manual book dari token yang sekarang sudah tidak bisa berfungsi karena bank nya sudah beralih ke mobile banking. Halah...




Diktat-diktat ataupun materi seminar yang masih disimpan dibuang saja. Marie Kondo bilang buku-buku materi seminar itu pasti tidak akan pernah lagi dibuka di rumah jadi untuk apa dibiarkan menyesaki lemari atau meja. Musnahkan!

Jadi, hiduplah hanya bersama barang-barang yang menimbulkan kebahagiaan lagi kau butuhkan πŸ˜„

Wednesday, August 23, 2017

Metode KonMari untuk Membenahi Hidupmu yang Berantakan

Percaya tidak kalau semalam saya tidur jam 2 pagi? Kenapa tidur selarut itu? Tolong jangan ditanyakan karena itu bisa memancing emosi saya. Hahahah. Kidding. 

Jadi, saya sudah lama ingin membuat tulisan ini. Tulisan tentang Metode KonMari. Apa itu metode KonMari? Metode KonMari adalah metode merapikan rumah, kantor, kamar, apartement, whatever you may call yang berantakan (sayangnya belum ampuh untuk merapikan masa depan πŸ˜…πŸ˜…) yang dicetuskan oleh seorang wanita berkebangsaan Jepang bernama Marie Kondo. KonMari itu singkatan dari nama dia. Kemudian dia menyebut profesinya ini sebagai Konsultan Berbenah.

Hah? Beberes saja butuh metode macam bikin skripsi? Iya lah! Ngana pikir? Berbenah itu adalah seni. kalau habis berbenah lalu berantakan lagi berarti tabiatmu yang perlu dibenahi! Hahha πŸ˜…πŸ˜…. Aduh, makin ngelantur.

Jadi, singkat kata saya menemukan sebuah postingan yang menyinggung-nyinggung soal KonMari ini dan sangat antusias untuk membeli bukunya. Saya lupa linknya mana. Tapi jauh sebelum itu ternyata sohib saya yang seorang crafter mantan banker yang bernama Kunca itu juga pernah menulis tentang ini di blognya. 

Baca : 


Dewi Lestari pun pernah mengulas tentang KonMari.

Baca :


Konon, metode KonMari ini sudah mendunia sehingga dijadikan istilah dalam Bahasa Inggris.

"Girl, you have to kondonize your room."

"Rrr...maybe I should kondonize my office."

See, seperti istilah googling yang merujuk ke kegiatan mencari-cari lanjaran dari suatu ulasan (berat banget bahasanya...πŸ˜…), maka Kondonize ini merujuk ke kegiatan merapikan dengan menggunakan metode KonMari.

Kalau googling kata KonMari maka banyak sekali artikel dan video yang mengulas tentang ini. Nah, berhubung saya lebih suka baca buku daripada lihat videonya maka saya berusaha untuk memperoleh buku itu. Di Gramedia Manado tidak ada jadi saya suruh adik saya carikan di Bandung. Alhamdulillah di Toga Mas ada seharga Rp. 40 rb-an lupa persisnya berapa.



Saya baru baca buku ini 21 halaman dan sudah buru-buru ingin menerapkan metodenya karena hidup kamar saya berantakan sekali. Saya memang tipikal orang yang tidak rapi, tapi Marie Kondo bilang tidak ada orang yang tidak rapi. Kerpihan sudah seperti fitrah manusia. Jadi pada dasarnya setiap orang memiliki bibit-bibit kerapian dalam dirinya.

Sejauh 21 halaman buku yang saya baca itu, beberapa poin penting yang saya peroleh adalah :

1. Rapikan rumahmu secera keseluruhan, jangan perbagian-bagian. Misalnya, hari ini rapikan kamar, besok rapikan dapur. Jangan! Lakukan secara sekaligus.

2. Cara untuk berbenah secara sekaligus adalah dengan cara mengkategorikan barang berdasarkan jenisnya bukan berdasarkan tempatnya. Misalnya, kategori baju, kategori buku, kategori dokumen, dsb. Bukan berdasarkan tempat seperti kategori barang-barang di lemari baju, kategori barang-barang di rak buku. Jangan!

3. Mulai pisahkan barang-barang yang sudah dikategorikan. Mana yang masih menimbukkan kebahagiaan ketika dipandang, simpan! Mana yang membuatmu merasa jengah, singkirkan! Harus tega!

4. Rapikan barang yang sudah kamu pilah pilih, susun secara vertikal, dimulai dari gradasi warna gelap ke terang atau sebaliknya.

5. Jangan menimbun barang! Kenang-kenangan, oleh-oleh, hadiah yang tidak pernah digunakan bahkan masih rapih terbungkus di kemasannya, singkirkan! Harus tega.

6. Jangan menyimpan barang-barang sampahmu, yang tidak berguna tapi sayang di buang di rumah orang tua.


Baru 21 halaman banyak banget ya materinya? Hehe. Tidak kok! Sebenarnya di 21 halaman itu masih menbahas awal mula Marie Kondo menemukan metode berbenah yang ampuh, tapi sebelum membaca buku ini saya sudah terlanjur googling-googling. 

Btw, saya langsung mempraktekkan metode KonMari namun tidak persis sama mengikuti langkah-langkahnya.

Untuk kasus saya, saya hanya merapikan kamar saya dikarenakan  masih tinggal bersana orang tua dan tidak ingin beliau kaget kalau saya ke dapurnya lalu membuang segala kontainer plastik, tuperwer, rantang-rantang, gelas dan piring kaca yang jarang dipakai, cenderung dikoleksi, karena saya anggap itu tidak berguna. Nanti Mama saya shock. Jadi, saya hanya menerapkan metode itu di kamar saya.

Langkah pertama adalah pilah pilih barang kategori baju. Saya lupa membuat foto before afternya tapi seperti inilah hasilnya.


Satu kantong baju yang tidak menimbulkan kebahagiaan berhasil disingkirkan. Ahmad pun ikut bahagia emaknya beres-beres.

"Tumben, Mak. Lagi kesurupan ya?" Tanya Ahamd. ,πŸ˜…



Saya berhasil menata kumpulan jilbab secara vertikal dan berdasarkan gradasi warna.





Baju yang digantung juga dijejer berdasarkan gradasi warna.
Kurang lebih tampilan lemari sata setelah dibenahi seperti ini.
Apa? Masih berantakan? Kamu bisa bayangkan bagaimana kacaunya lemari saya sebelumnya...πŸ˜†πŸ˜†





Target operasi selanjutnya adalah meja rias yang berantakannya naudzubillah.




Kendala yang dihadapi selama merapikan barang kategori baju adalah kantongan yang berisi baju-baju yang bikin jengah itu saya serahkan ke Mama saya, "Ma, ini kasih orang ya."

Lalu oleh Mama saya dibongkar lagi dan sebagian besar diambilin lagi dan dimasukin lemarinya, "sayang kan dikasih orang. Ini bisa mama pake."

Dalam hati, 'mau dipake ke mana? Lagian ukurannya kekecilan semua."

Mitigasi risiko (gile bahasa gueeeh!) yang dilakukan agar barang-barang itu bebar-benar berhasil disingkirkan dan bukannya hanya berpindah ke lemari nyokap adalah, berikutnya harus langsung di kasih ke orang lain yang lebih membutuhkan seperti disumbang ke panti asuhan.

Di bagian belakang buku ini tertulis bahwa dengan memiliki buku tersebut kita seperti sedang mengikuti kursus berbenah jarak jauh bersama Marie Kondo. Di Jepang seseorang harus menunggu 3 bulan untuk dapat mengikuti kursusnya, bahkan sekarang Marie harus membuat daftar tunggu untuk daftar tunggu.

Saya akan membuat label khusus di blog saya yaitu #MetodeKonMari (just in case kalian ingin melanjutkan membaca pengalaman saya menerapkan metode KonMari dalam berbenah) yang berisi ulasan poin-poin penting yang saya temukan sepanjang membaca buku tersebut supaya kita sama-sama paham dan syukur-syukur bisa menerapkan metode ini untuk membenahi apapun milik kita yang sedang berantakan.

Akhir kata.... Ciayoooo!!! 😊😊😊