Monday, September 10, 2018

Hail to the Full Time Mom


Hidup ibu rumah tangga!  Rasanya saya pengen meneriakkan itu sebagai wujud kekaguman dan kebanggaan saya pada setiap ibu rumah tangga (IRT)  yang dengan sadar dan bahagia menjalani perannya. 

Yang memandang sebelah mata profesi IRT ini,  sini saya colok dulu mata yang memandang sebelah itu.  Yang mencibir profesi IRT,  sini saya ulek dulu bibir yang mencibir itu.  Eh,  saya gak lagi becanda ya. Lagi sensi aja sih πŸ˜…πŸ˜…

Jadi ya,  sekaranga saya sedang memasuki masa cuti bersalin untuk kehamilan kedua saya. Ini hari pertama dan saya sudah sangat kewalahan menghadapi tingkah polah Ahmad yang berumur 3.5 tahun,  sudah itu harus masak,  sudah itu harus rapihin kamar.  Untuk cuci baju,  setrika dan membersihkan ruangan lain dalam rumah selain kamar alhamdulillah ada yang membantu.  Dan karena saya masih tinggal di rumah orang tua saya,  alhamdulillah juga Ibu saya sering bantu handle Ahmad.  Tapi,  begitu saja saya sungguh sangat kewalahan. Tuhan... Tolong...

Saya sampai browsing-browsing cara mengatasi kelelahan mengurus 2 anak balita.  Bentar lagi saya mau browsing pengalaman-pengalaman orang yang mengurus 2 anak balita supaya saya tidak merasa sendiri di muka bumi ini... 😩

Lalu saya jadi membayangkan menjadi teman saya, Femmy,  yang saat ini full time mom,  punya 3 anak,  2 di antaranya balita tapi masih saja doyan baking,  hobi masak,  sekarang-sekarang ini keranjingan ngeblog juga. How does she do all of those tings? 

Baca blog Femmy



Lalu saya juga jadi membayangkan bagaimana menjadi Ibu saya yang full time mom,  mengurus saya dan adik yang hanya terpaut 5 tahun,  gak pake pembantu (hanya ponakan yang tinggal di rumah dan bantu-bantu sepulang kerja)  dan jaga warung pula (jadi Ibuku itu punya warung.  Sampai sekarang juga). 

Pinterest

Kemudian saya lanjut membayangkan bagaimana menjadi nenek-nenek saya yang punya lebih dari 3 anak ( nenek dari Bapak punya 5 anak,  nenek dari Ibu punya 7 anak),  nenek-nenek saya itu kerjanya freelance (yang 1 jualan sayur di pasar,  yang 1 nya tukang kredit 😁) tapi tetap mampu menghandle keluarga. Lah,  saya ini di suruh masak nasi goreng sama Pak suami pas weekend aja masih disertai sungut-sungut.  Betapa saya jauh dari solehah πŸ˜…

Baca :


Kalau di kantor,  meski pekerjaan dan target menekan dan bikin emosi meledak-ledak,  tapi masih saja kan tetap ada waktu buat santai-santai sambil sosmed-an atau gibah.  Ya  seenggaknya pas jam makan siang.  

Kalau pulang kantor cepat masih bisa curi-curi hang out sama teman-teman kantor meski frekuensinya tidak sesering waktu masih single. 

Waktu cuti melahirkan pertama mungkin saya tidak merasa terlalu lelah karena waktu itu masih belum punya anak.  Jadi kalau mislanya sudah capek mengerjakan pekerjaan rumah tangga tinggal bobo. Lah ini?  Sayur baru kelar dipetik Ahmad pup. Pupnya tembus.  Terpaksa sayur dilepas,  cebokin Ahmad dulu,  ngepel lantai dulu,  lanjut masak sayur.  Makanan sudah jadi,  mau makan Ahmad rewel minta bikin susu sambil tiduran karena sudah masuk jam bobo siangnya.  Tangan udah pegel gosok-gosok punggungnya (kebiasaan Ahmad sebelum bobo harus digosok-gosok punggungnya)  eh,  bocah gak bobo-bobo. Jam 2 siang baru bobo.  Emaknya kemudian dihadapkan pada pilihan sulit.  Makan dulu apa mandi dulu ya?  Secara badan sudah mau naga.  Eh,  apa tidur sekalian?  Pinggang yang menopang perut buncit sudah mau lepas.  Ah... Sungguh dilema. Saya lebih yakin kalau memutuskan permohonan kredit layak atau tidak untuk dilanjutkan hingga komite sama bos-bos dibanding memutuskan mau tidur,  mandi atau makan duluπŸ˜₯😡

Baca :



Ini baru kondisi punya 1 anak.  Bagaimana kalau 2 ya Allah. 

Sungguh saya sangat kagum sama IRT di manapun dan bagaimanapun perjuangan yang tengah dihadapi. Semoga full time mom maupun working mom di manapun berada senantiasa diberi kekuatan oleh yang Maha Kuasa.  Amin... 😘

Monday, September 3, 2018

Belajar Mensyukuri Hal-hal Kecil

Saya mulai menyadari bahwa untuk bersyukur tak perlu menunggu momentum-momentum besar terjadi dalam hidup kita.  Tak perlu menunggu ketiban rejeki yang banyak.  Ingat,  rejeki sendiri itu tidak mesti berupa materi. 

Rasa syukur bisa mendatangkan kelapangan dan kebahagiaan.  Saya benar-benar mengalaminya. Rasa syukur membuat hati tak sempit,  menghindari iri dan dengki,  mengurangi rasa ingin bersungut-sungut. Rasa syukur menghadirkan atmosfer yang positif. 

Saya belajar mensyukuri hal-hal kecil di bawah ini :

1. Kesehatan

Hal ini adalah yang paling banyak kita abaikan keberadaannya.  Kita baru ngeh setelah diserang penyakit. Pernahkah kita merenungkan kesempatan-kesempatan,  impian-impian dan capaian apa saja yang terlewatkan jika kita tidak sehat?  Kalau saat ini kita masih sehat dan dapat beraktivitas normal,  maka syukurilah sebesar-besarnya. 

Sebuah blog dari hasil browsing-browsing random membuka mata saya tentang betapa penting arti sebuah kesehatan. 

Baca blognya di sini :



2. Pertemanan

Bergabung dalam komunitas,  dalam hal ini komunitas menulis,  memberikan dampak yang signifikan dalam hidup saya.  Dulu,  memiliki sebuah buku adalah impian yang seolah mustahil.  Sekarang,  setelah bergabung dalam beberapa komunitas menulis,  alhmadulillah saya sudah memiliki 9 buku antologi (4 di antaranya dalam proses terbit)  meski baru buku antologi saya benar-benar amaze dengan pencapaian saya.  

Bergabung dalam komunitas membuka bnayak pintu pertemanan sekaligus menyambung silaturrahmi.  Tuhan pun telah menjanjikan adanya rejeki pada tiap-tiap pintu silaturrahmi itu.  Saya benar-benar merasakannya.  Ada-ada saja rejeki yang dikasih dari pertemanan dalam komunitas menulis,  entah itu buku gratis,  sejumlah pulsa karena menang kuis atau give away,  sampai yang berupa uang  dengan nominal yang lumayan karena menang lomba nulis. 

Belum lagi yang tak terhitung manfaatnya seperti sharing dan tips-tips yang diperoleh. 

Baca :

Dalam dunia kerja pertemanan disebut juga jaringan atau link.  Makin banyak jaringan,  terlebih jika kita bekerja dalam bidang marketing,  akan sangat membantu dalam karir kita ke depannya. 

3. Kewarasan

Pernakah berpikir sekali saja bahwa kewarasan yang masih ada pada diri kita ini adalah hal yang sesungguhnya patut kita syukuri? 

Sering kan kita mendengar banyak orang bunuh diri karena depresi,  stres,  ataupun tekanan batin?  Pernahkah membayangkan bagaimana jika Tuhan mencabut kewarasan ini dari diri kita?  Pernahkah membayangkan akan jadi apa kita? Pernah lihat orang gila yang jalan-jalan keliling kompleks tidak jelas atau yang dipasung karena membahayakan?  Barangkali kita juga akan berakhir seperti itu. 

Syukurilah kita masih diberi kewarasan.  Syukurilah kita berada dalam support system yang baik sehingga membuat kewarasan kita tetap terjaga. 

Demikianlah 3 hal yang imateril dan terkesan sepele namun sesungguhnya sangat layak kita syukuri.  Kalau kamu?  Hari ini kamu bersyukur atas hal apa? 

Sunday, September 2, 2018

Menikah Muda : Yay or Nay



Nay!  😁

Saya menikah di usia 23 tahun.  Itu termasuk nikah muda apa nggak ya?  Patokannya usia berapa sih dikatakan nikah muda itu?  

Baca : 


Bulan September ini saya akan merayakan anniversary pernikahan yang ke 5. Orang bilang itu adalah titik krusial kedua dalam sebuah rumah tangga (setelah tahun ke 3).  Oh em ji.  

Bulan September ini juga saya tengah menantikan kehadiran buah hati saya yang kedua,  dan di bulan September ini juga saya tiba-tiba ingin ikutan writing marathon bertajuk '30 Days September to Rembember' di salah satu komunitas menulis saya 'One Day One Post' . Jadi ya kali ini mau bahas serba-serbi tentang dunia pernikahan. 😁 Boleh kan ya?  Boleh dong! 

Kenapa saya langsung bilang no untuk menikah muda? Apakah saya termasuk golongan orang-orang yang anti terhadap campaign nikah muda?  Tentu saja tidak!  Bagaimanapun juga menikah lebih baik dibanding pacaran.  Apalagi pacaran yang berujung putusπŸ˜‚

Dalam postingan ini saya tidak hendak membahas perkara nikah muda dari sudut pandang agama ataupun medis.  Saya bahasnya dari sudut pandang finansial dan mental. 

Baca :


Saya bilang tidak untuk menikah muda jika kamu masih dalam kondisi di bawah ini :


1. Kalau kamu laki-laki dan belum berpenghasilan. 

Ya iyalah,  mau dikasih makan apa anak orang? Kasih makan cinta?  Emang cinta bisa buat beli telur dan beras yang harganya makin lama makin melambung? 

Selain itu menikah  juga butuh biaya,  sesederhana apapun acara yang akan kamu gelar nanti.  Mau sekedar syukuran atau resepsi mewah,  semua butuh biaya. Mau minta ortu?  Hey,  malu hey!  Kecuali kalau ortu sukarela buat bantu ya.  Ini lain soal. 


2. Kalau kamu perempuan dan sedang menempuh pendidikan. 

Pendidikan yang saya maksud adalah di semua jenjang.  Kalau kamu saat ini sedang kuliah S1 atau S2 lalu ada yang ngajakin nikah,  mending tunggu selesai kuliah dulu.  Karena sesungguhnya kehidupan setelah pernikahan itu tidak sesederhana yang kamu bayangkan.  Kamu sudah memiliki tanggungjawab kepada suami,  terlebih jika langsung punya anak. 

Merawat anak tidak pernah mudah soalnya ini anak manusia bukan anak kucing yang bisa kamu tinggal pergi-pergi. Daripada kuliah keteteran,  mending kamu tunda menikahnya sampai wisuda.  Kecuali kalau kamu sudah mantap memilih menikah dibanding kuliah loh ya. Jika sudah menjadi pilihan,  tidak boleh ada penyesalan kalau habis nikah kuliah gak kelar. 

Walaupun pada kenyataannya ada juga yang bisa membagi waktu antara pendidikan dan keluarga,  meskipun itu jumlahnya sangat sedikit,  saya tetap menyarankan kamu untuk menuntaskan pendidikan hingga selesai dulu. Ingat,  perempuan harus berpendidikan untuk bekal mengasuh anak-anak dan bekal buat diri sendiri.  

Beberapa sahabat wanita saya yang ingin melanjutkan pendidikan S2 harus rela menunggu beberapa tahun hingga anak-anak mandiri baru mulai apply S2 lagi. 


3. Jika Kamu (Laki/Perempuan)  Belum Siap Secara Mental. 

Menikah itu menyatukan dua orang yang berbeda untuk tidur satu ranjang.  Which is dari buka mata sampai mau tutup mata lagi di malam hari kamu akan melihat wajah yang sama.  Lo lagi.  Lo lagi.  Bosan gak sih?  Hahahah.  Sudah lo lagi lo lagi,  eh lo nya nyebelin.  Mau bilang kita break dulu soalnya lagi bosan dan kamunya nyebelin,  eits gak bisa,  soalnya ini nikah my darling,  bukan pacar-pacaran ala Dilan dan Milea lagi. 

Ini nikah,  di mana paling banter kalau kamu lagi sebel sama suamimu hal yang dapat kamu lakukan adalah ngambek seharian dan mogok masak 😁

Belum lagi kalau sanak saudara dan handai taulan ikut nimbrung dalam mengatur masalah rumah tangga.  Ini berlaku kalau kamu habis nikah masih tinggal di pondok mertua indah (including me)  😁.  Mau menyatukan dua isi kepala yang berbeda saja ribet,  apalagi lebih dari dua kepala? 

Pokoknya pikirkan baik-baik lagi. Jangan keburu nafsu dan keburu pertanyaan klise kapan nikah sehingga kamu gegabah dalam mengambil keputusan.  Solah istikharah kalau yang muslim. Menikah bukan perlombaan mengenai siapa yang duluan. Menikah adalah sebuah keputusan maha penting dan proses belajar yang gak selesai-selesai.  Kalau 3 poin dasar di atas sudah bisa terpenuhi, maka jangan ragu untuk menikah.  

Menikahlah sepanjang ada yang ngajakin 😁😁

Saturday, August 11, 2018

Buku : Berbenah Tak Pernah Sesulit Ini

Tibalah kita pada bagian yang paling sulit dalam proses berbenah saya. Yaitu  membenahi barang-barang dengan kategori buku.  Iya buku.  Saya sangat mencintai jenis barang yang satu itu.  Saya memiliki begitu banyak buku.  Fiksi maupun non fiksi. 

Tahapan proses berbenah saya dapat dibaca di sini :

Membenahi Hidup

Seni Meringkas

Fokus


Saya mulai mengoleksi buku cerita rakyat,  cerita nabi dan komik ketika SD.  Kemudian buku-buku detektif,  kemudian serial ghoosebumps,  kemudian teenlit,  chicklit,  buku-buku sastra. Kecanduan saya kepada buku didukung oleh lingkungan rumah tempat saya tumbuh.  Ibu saya tidak bisa hidup tanpa majalah religi,  ayah saya tidak bisa hidup tanpa koran dan majalah Tempo,  adik saya tidak bisa hidup tanpa menambah koleksi komik serialnya. 




Berangkat dari keluarga yang sangat mencintai membaca membuat saya paling berat kalau harus menyingkirkan buku-buku,  sebaliknya paling ringan mengeluarkan uang untuk membeli buku,  dibanding beli barang jenis lain misalkan baju,  asesoris ataupun gadget.  

Saya tidak akan tergoda dengan gadget sebagus apapun,  saya tidak akan tergoda dengan baju semodis apapun,  tapi saya akan dengan senang hati mengorbankan waktu istirahat makan siang saya hanya untuk ke Gramedia dan membeli buku yang tiba-tiba ingin saya baca hanya karena penasaran dengan resensi atau ulasan yang saya baca di internet.  Tidak bisa menunggu.  Harus saat itu juga. 




Buku-buku saya,  meskipun tidak pernah saya singkirkan,  selalu saja berkurang jumlahnya.  Entah karena hilang,  entah karena dipinjam tidak kembali,  entah karena rusak dimakan rayap sehingga harus saya buang.

Marie Kondo dalam bukunya juga menceritakan,  bahwa klien-kliennya yang penggemar buku cenderung paling sulit untuk menyingkirkan barang yang satu ini.  Mereka pasti memiliki buku yang baru dibaca seperempat,  atau bahkan masih terbungkus rapi dalam plastik wrap.  Ketika Marie memerintahkan mereka untuk menyingkirkan buku-buku yang sekiranya sudah tidak diperlukan,  biasanya buku-buku yang masih dalam wrapping tidak disingkirkan.  Mereka selalu berdalih akan membacanya nanti.  Padahal 'nanti'  itu tak pernah ada.  Jika kau benar-benar menyukai buku itu  kau pasti akan langsung membacanya begitu membeli. 



Marie Kondo juga merupakan penggemar buku.  Ia telah melalui bertahun-tahun eksperimen dalam membenahi kategori barang jenis buku.  Ia pernah mencoba metode mencatat semua quote dari buku yang dia suka dalam catatan dan menyingkirkan buku itu demi mengurangi jumlah buku yang dimiliki.  Namun,  hal itu sangat melelahkan.  Cara lainnya,  Marie pernah mencoba metode merobek dan menyimpan halaman yang disukai saja lalu sisanya dibuang,  namun halaman tersebut pun tak pernah dibaca ulang.  

Semua cara di atas tidak pernah berhasil untuk mengurangi jumlah bukunya secara signifikan.  Bertahun kemudian ia menemukan sinyal-sinyal yang dapat kita gunakan untuk mempermudah menyingkirkan buku-buku koleksi kita.  Perhatikan semua koleksi bukumu.  Letakkan di lantai. Singkirkan buku itu ketika kamu merasakan 1 atau lebih kriteria di bawah ini:

1. Tidak membangkitkan kegembiraan ketika disentuh. Hanya disentuh,  tanpa kamu berusaha membacanya. 

2.Telah selesai dibaca dan sekiranya tidak akan dibaca lagi. 

3.Buku yang sudah berbulan-bulan belum selesai dibaca.  Kalau kamu benar-benar menyukainya,  kamu tentu akan lekas-lekas menyelesaikannya. 

4.Buku yang sudah lama dibeli tapi belum dibaca sama sekali. 

Jika kamu mendeteksi kriteria-kriteria di atas terhadap bukumu,  sudah saatnya kamu menyingkirkan buku tersebut. 

Kali pertama menjumpai sebuah buku adalah saat yang paling tepat untuk membacanya (the life changing magic of tidying up hal. 87)




By the way,  akhirnya saya berhasil menyingkirkan beberapa buku yang saya miliki. Semua buku milik saya membangkitkan kegembiraan, namun saya berusaha rasional dengan memilah berdasarkan kriteria 2, 3 dan 4 di atas. 

Buku-buku yang hendak saya keluarkan dari rak koleksi akan saya jual dengan harga murah.  Sudah saya posting di FB dan akan saya posting juga di blog setelah ini ya...

Oh,  ya setelah ini saya akan membagi pengalaman berebenah barang kategori kertas dan komono (pernak-pernik). 

Semoga berguna dan bermanfaat. 😘

Sunday, July 29, 2018

Fokus pada Apa yang Ingin Kamu Simpan (Bukan pada Apa yang Akan Kamu Buang)



Setelah cukup lama membiarkan buku KonMari begitu saja di rak buku tanpa berniat menyelesaikannya,  entah kenapa di tenga-tengah sedang membaca novel Crazy Rich Asians,  saya malah tergoda untuk menamatkan KonMari.




Saya pikir,  saya harus segera membenahi setidaknya kamar tidur saya sebelum kehamilan saya bertambah besar dan anak kedua saya lahir. 




Btw,  kalau ada yang belum familiar dengan buku KonMari yang saya maksud,  bisa cek postingan saya di sini :


Dan di sini :


Singkatnya  KonMari adalah salah satu metode berbenah yang dicetuskan oleh seorang wanita berkebangsaan Jepang bernama Marie Kondo.  Dia sudah terobsesi dengan seni berbenah ini sejak usia 5 tahun. Wow banget kan? Saya 5 tahun masih  terobsesi sama es mambo yang dijual di halaman SD. πŸ˜‚

Jadi,  Marie Kondo melalui tahapan demi tahapan hidupnya dengan membaca berbagai literatur tentang seni berbenah dan menyimpan barang.  Mulai dari teori singkirkan satu barang ketika membeli satu barang lainnya,  metode mengoptimalkan space di ruang sempit,  hingga metode menghitung jumlah baju ideal yang seharusnya seseorang miliki. 

Namun semua hal di atas itu tidak berhasil bagi dirinya hingga dia akhirnya menemukan suatu metode yang dia paparkan dengan sangat detail pada buku yang sedang saya baca ini. 

Dalam metode KonMari,  penting untuk mengikuti step by step dalam berbenah. KonMari menginstruksikan kita agar dapat membenahi barang dengan urutan sebagai berikut :

1. Pakaian
2. Buku
3.Kertas
4.Komono
5. Barang-barang bernilai sentimental

Yang dimaksud Komono adalah pernak-pernik kecil seperti asesoris,  perhiasan,  souvenir,  hadiah,  dsb. 

Dalam besaran kategori di atas,  juga terdapat sub kategori,  misalkan pakaian terdapat sub kategori atasan dan bawahan. Nah,  dengan semangat 45, tanpa menunggu menamatkan bukunya,  saya langsung mempraktekkan seni berbenah itu. 

Mata saya langsung nyalang menatap ke lemari.  Saya perlu membongkar lagi isinya.  Sebelum ini,  saya sudah pernah membongkar isi lemari saya dan menyingkirkan hampir sepertiga isinya. Tapi,  entah kenapa saya merasa perlu melakukannya sekali lagi hanya untuk memastikan bahwa tidak ada barang-barang yang tidak saya inginkan dan tidak saya butuhkan di dalamnya. 

Hasilnya,  saya berhasil menyingkirkan 3 buah pakaian yang sudah bertahun-tahun tidak pernah saya pakai namun masih saya simpan. Lumayan.  Btw,  pakaian itu saya kasih ke orang yang sekiranya masih mau.  Supaya tidak terkesan mubazir,  kamu bisa bikin garage sale,  menyumbang ke panti asuhan atau lembaga sosial lain yang sekiranya membutuhkan. 

Hal yang patut digarisbawahi dalam hal meyingkirikan barang-barang adalah :


1. Lakukan seorang diri. 

Jangan biarkan orang lain terlibat dalam proses berbenahmu,  terutama Ibu,  karena mereka hanya akan membuatmu semakin berat merelakan pakaian yang sebenarnya sudah tidak kamu butuhkan itu.  Biasanya seorang Ibu akan merasa sayang melihat tumpukan pakaian yang akan disingkirkan lalu mulai mengambil beberapa lembar dari sana dengan dalih masih layak dipakai.  Padahal kenyataannya,  pakaian itu pun takkan pernah dipakai ibumu dan malah menumpik di lemarinya. 

Saya sudah berulangkali mengalami hal ini,  jadi penting untuk menegaskan ke Ibumu bahwa pakai-pakaian itu sudah kamu niatkan akan kamu sumbangkan,  atau kamu berikan kepada orang lain. 


2. Jangan berikan kepada adik sebagai hadiah. 

Kata Marie Kondo,  begitu banyak kliennya yang tidak tega menyingkirkan pakaian mereka,  padahal mereka pun tak pernah menggunakannya,  sehingga menjadikan dalih untuk memberikan pakaian tersebut pada adiknya. Ini biasa terjadi pada klien perempuan yang memiliki adik perempuan.  Padahal si adik belum tentu memiliki selera yang sama dengan kakaknya,  sehingga yang terjadi adalah baju-baju tersebut kemudian hanya berakhir sebagai tumpukan di lemari sang adik. 

Hal ini tidak terjadi pada kasus saya karena adik saya laki-laki dan tidak tinggal satu kota dengan saya.  


3. Jangan mengalihfungsikan sebagai baju rumah. 

Ketika ada pakaian bagus yang kita beli dan ternyata hanya dipakai sekali ke pesta dan tidak pernah dipakai lagi karena mendadak kita tidak nyaman,  jangan sekali-sekali menunda untuk menyingkirkannya dengan dalih akan dikenakan sebagai baju rumah sebab sayang pakaian bagus sudah dibeli malah disingkirkan. 

Coba ingat-ingat lagi perasaan kita ketika membelinya.  Mungkin kita tertarik ketika pakaian tersebut terpajang indah di manekin toko,  atau tergantung sedemikian anggun di hanger mall.  Ketika telah membeli dan mengenakannya,  mendadak kita merasa tidak nyaman. Jangan pernah ragu untuk menyingkirkan pakaian tersebut karena sesungguhnya pakaian itu telah memenuhi fungsinya yakni menyenangkan hati kita ketika membeli. Tidak lebih.


Dalam buku KonMari selalu ditegaskan pentingnya untik fokus pada benda-benda yang ingin kita simpan.  Ia menyebutnya benda-benda yang membangkitkan kebahagiaan.  Dan bukannya fokus pada apa yang kita akan singkirkan. 

Marie Kondo selalu menginstruksikan untuk menyentuh setiap benda yang kita miliki lalu bertanya pada diri sendiri apakah benda ini membangkitkan kebahagiaan,  ataukah telah selesai memenuhi fungsinya sehingga lebih baik disingkirkan saja? 

Dalam hal pakaian tanyakan pada dirimu berulangkali,  apakah kamu benar-benar bahagia menyimpannya?  Jika kamu bahagia,  kenapa kamu tidak pernah menggunakannya? Pakaian yang sudah  2 tahun tidak pernah dikenakan lagi  harus disingkirkan saat itu juga.  Jangan membebani dirimu,  jangan pula membebani pakaian itu karena tidak bisa berfungsi sebagaimana mestinya untuk dikenakan dan justru malah hanya teronggok di sudut lemari. 

Friday, July 13, 2018

Financial Planning ala Mak Emak (sok) Eksis



Sebagai siapa pun kamu sekarang -anak muda gaul,  emak-emak eksis,  single happy,  happy family-  sebaiknya kamu sudah mulai mempertimbangkan untuk membenahi finansialmu.  Saya berami ngomong begini bukan berarti karena finansial saya sudah tertata dengan baik,  ya. Tapi ini justru sebagai self remainder dan bahan belajar bersama-sama. 😁


credit


Jadi,  mari kita mulai membahas alokasi gaji,  pendapatan,  pemasukan,  atau apapun itu sebutannya yang kamu dapatkan tiap bulan. Kata Bapak Rudiyanto,  Direktur PT. PANIN dalam blognya,  bagilah penghasilanmu menadi 4 bagian dengan rasio 10:20:30:40.


Rasio tersebut akan saya jabarkan secara singkat di bawah ini ya...


10% untuk dana kebaikan. 

Kita menyebutnya bersedekah,  beramal,  berderma.  Ingat, ada hak orang lain di dalam penghasilanmu.  Jangan perhitungan mengeluarkan dana kebaikan ini,  biar Yang Di Atas juga nggak perhitungan sama kamu. 😁


Oh ya,  dana kebaikan ini bisa juga untuk memberi kepada orang tua,  sanak famili yang membutuhkan,  dsb.


20% untuk untuk dana darurat,  investasi serta asuransi.

Dalam menyisihkan dana darurat ada banyak teori yang bisa kamu peroleh dengan mudah di Google dan menyesuaikan dengan kondisi kamu.  Ada yang menyebut nominal dana darurat itu minimal 4x biaya hidup bulanan,  ada yang bilang 6x dan jumlahnya bisa saja lebih banyak seiring dengan jumlah tanggungan keluarga.

Apa sebenarnya dana darurat itu dan apa fungsinya?  Dana darurat adalah dana yang akan berguna ketika kamu mendadak tidak lagi memperoleh penghasilan karena suatu hal,  misalkan sakit,  kecelakaan yang menyebabkan tidak bisa beraktivitas,  di PHK,  perusahaanmu pailit,  bisnismu bangkrut dsb. 


credit

Dana darurat itulah yang akan menopang hidupmu untuk sementara waktu hingga kamu memperoleh penghasilan kembali.  Pakar ekonomi menyarankan untuk memisahkan alokasi dana darurat ini di rekening atau simpanan tersendiri sehingga tidak tercampur dengan dana yang akan digunakan untuk hal lain.
Kalau untuk asuransi,  dalam hal ini saya mengalokasikan untuk asuransi kesehatan.  Jaman sekarang,  tidak sulit untuk memilih asuransi kesehatan.  Pilih aja BPJS.  Dengan menyisihkan Rp. 70.000,-/ bulan kamu sudah dapat fasilitas BPJS kelas 1 dengan pelayanan yang prima (di rumah sakit-rumah sakit tertentu).

Meski banyak juga testimoni negatif tentang pelayanan BPJS ini di beberapa rumah sakit,  tidak sedikit pula rumah sakit yang pelayanannya bagus kok. Kalau kamu tinggal di Manado,  saya sangat rekomendasikan RS. Advent jika kamu menggunakan BPJS.  Udah banyak testimoni positif yang saya dengar.  Sila cari rumah sakit yang ramah BPJS di daerah tempat tinggalmu ya. Ada yang belum ikut BPJS?  Segera daftar lah.. Insya Allah lebih banyak manfaatnya.

Dalam hal investasi,  nggak perlu yang ribet seperti menanam saham,  reksadana,  obligasi dan sebagainya apalagi kalau kamu adalah jenis orang yang malas ribet dan malas pantau-pantau pergerakan saham dan tidak hobi nonton berita ekonomiπŸ˜…
Investasi juga nggak mesti mahal dengan beli tanah atau properti.  Investasi bisa sesimpel membuka tabungan berjangka di bank untuk penididikan anak atau biaya renovasi rumah,  atau yang dilakukan nenek saya,  membeli emas. 

Sesungguhnya instrumen investasi beraneka ragam.  Ada plus minus.  Ada high return,  low return,  high risk,  low risk.  Kamu bisa pilih sesuai dengan karaktermu,  budget,  dan tujuan investasimu.
Dalam postingan lain saya akan mencoba menjabarkan salah satu instrumen investasi yang menurut saya paling pas buat kamu yang ingin berinvestasi tapi tetap hemat.  Ialah tabungan emas.  Pernah dengar?  Semoga saya nggak malas ya membahas ini nanti πŸ˜€


30% cicilan produktif.

Saya sangat menyarankan,  jika nanti kamu memutuskan untuk mulai mengambil kredit di bank,  pertama-pertama,  ambillah cicilan rumah terlebih dahulu,  sebelum cicilan kendaraan.  Karena apa?  Karena rumah nilainya terus naik  sedangkan kendaraan nilainya pasti menurun. Umur ekonomis kendaraan itu 5 tahun. Setelah 5 tahun dia akan lebih menjadi beban.  Entah karena biaya perbaikan,  ganti spare part dan sebagainya.

Sebagai gantinya,  kamu bisa menggunakan kendaraan umum atau ojek online.  Lebih hemat dan lebih ramah lingkungan πŸ˜€πŸ˜€


40% untuk kebutuhan hidup.

Nah,  ini nggak perlu dijelaskan ya.  Kalau ada yang bertanya-tanya,  lalu dana untuk hura-hura atau untuk pengembangan diri masuk mana?  Bisa saja kamu masukkan dalam 40% ini atau di porsi 20% di atas.  Pengembangan diri bisa dikategorikan investasi juga loh... 😁

Oke,  sekian dulu penjabaran finansial planning ala-ala.  Prinsip 10,20,30,40 ini hanyalah salah satu metode mempermudah merencankan keuangan. Banyak metode lain,  yang menerapkan rasio yang berbeda dapat kamu temukan di google.  Pilihlah yang sesuai dengan kondisimu.  Intinya,  rajin-rajinlah menabung dan milikilah BPJS sekarang juga! πŸ˜†

Tuesday, July 10, 2018

Writer War (Tentang Penulis yang Menulis pada Genre yang Tidak Sealiaran Denganmu)


Pernah dengar istilah Mom War? Iya.  Itu loh,  perkelahian ibu-ibu yang memganggap diri paling benar hanya karena dia mendapati ibu lain tidak berbuat seperti yang dia lakukan. 

Saya senyum-senyum sendiri melihat status beberapa teman yang kesal dengan kelakuan ibu macam begini.  Hanya karena seorang ibu memilih melahirkan secara sesar bukan berarti derajatnya lebih rendah daripada ibu yang melahirkan secara normal bukan?  Stop judging! Kamu tidak berada di posisinya,  lalu mengapa kamu menjadi begitu kejam telah menjustifikasi pilihannya?

credit


Saya tidak sedang akan membahas ibu-ibu by the way.  Saya akan membahas bagaimana di zaman now ini saya masih saja mendapati penulis yang merasa seleranya lebih baik karena dia menyukai serta menempuh genre tertentu dibanding dengan penulis lain yang menyukai dan menempuh genre yang berbeda dengannya.

credit


Hanya karena seorang penulis berkiblat pada Ika Natassa bukan berarti dia lebih buruk dibandingkan kamu yang menganut Eka Kurniawan bukan?  Stop judging!  Hanya karena seseorang jatuh cinta pada Dylan bukan berarti dia memiliki selera yang lebih buruk daripada seorang fans fanatik Dea Anugrah kan?


Dunia sudah dipenuhi orang-orang jahat.  Janganlah menambah panjang daftar penjahat di muka bumi ini dengan menyiyiri selera orang lain.  Kamu tidak berada di posisinya,  kamu tidak tumbuh besar dalam lingkungan yang membesarkannya.  Lalu kenapa kamu berhak menilai seleranya lebih buruk daripada seleramu dan kenapa kamu yakin dia tidak layak disebut penulis kalau dia hanya berkarya di wattpad dan kamu menembus lini mayor?


Cita-cita menjadi penulis adalah hak setiap orang.  Kalau kamu belum bisa membantu,  janganlah mematahkan semangat orang lain untuk menggapai cita-citanya sesuai dengan pilihan dan apa yang membuatnya nyaman.

Semua hasil tulisan bertujuan untuk dibaca.  Perkara layak atau tidak layak itu kembali pada tataran selera.  So,  alangkah indahnya kalau kita saling bahu membahu menghidupkan semangat literasi di negara yang konon budaya membacanya sangat rendah ini.

Dan ingat,  layaknya jodoh, setiap tulisan akan berlabuh pada pembacanya masing-masing.