Wednesday, February 17, 2016

Letter to 30 Years Later

Sudah rabu dini hari dan kewajiban menulis untuk hari Selasa belum dilaksanakan. Bisa-bisa dikutuk sama bang Syaiha "Celakalah orang-orang yang menulis hanya ketika mood" aihhh mateeek!

Oke, tanggal 16 Februari kemarin suami saya ultah, jadi saya akan memberinya sebuah hadiah. Hadiahnya adalah surat untuknya di masa depan.



Dear, kamu tiga puluh tahun lagi. Ketika Tuhan masih memberimu umur panjang, maka saat ini tentunya kamu sudah menginjak usia 58 dan aku 55. Ketika Tuhan memberimu umur panjang hingga tiga puluh tahun lagi tentunya kamu saat ini sedang membaca tulisanku dan aku sedang duduk di hadapanmu sambil tersenyum. Rambut kita sudah sedikit memutih dan wajah kita sudah banyak kerutan.

Kalau Tuhan memberimu umur panjang, namun tidak untukku, maka doakanlah. Doakanlah aku sayang. Jika Tuhan memberiku umur panjang namun tidak untukmu, maka aku akan membacakan surat ini dengan perantara doa-doa yang dapat mengtuk pintu langit.

Tiga puluh tahun sudah berlalu. Anak-anak kita sudah tumbuh dewasa. Gagah seperti dirimu. Aku yakin itu. Tiga puluh tahun yang lalu saat ulang tahunmu yang ke 28 kamu sedang di Pinrang menemui ibumu sebab beliau merindui anak lelakinya yang sudah (baru) 4 bulan berada di Manado menemani anak dan istrinya. Tapi 4 bulan itu bilangan yang cukup lama sebab kamu tidak pernah meninggalkan ibumu selama itu.

Aku harap anak-anak kita tumbuh menjadi pemuda-pemuda sepertimu yang sangat dekat dan menyayangi orang tuanya.

Aku ingin mengucapkan termikasih banyak sudah 33 tahun menemaniku mengarungi kehidupan yang kadang sangat baik namun bisa pula sangat kejam. Namun kamu selalu mengajariku untuk menertawai kehidupan. Kamu tidak pernah sekalipun mengeluh dengan lelucon-leluconmu yang khas itu. Mungkin sedikit-sedikit haya mengeluh tentang lemak di perutku atau berat badanku yang merangkak naik. Tapi toh kamu tetap rajin memelukku dengan mesra walau di tempat-tempat umum sekalipun.

Terimakasih. Terimakasih untuk tidak pernah membanding-bandingkan aku dengan perempuan manapun. Terimakasih untuk diam dan mendengarkan ketika aku mengomel panjang lebar. Terimakasih untuk tidak menegur dengan kasar dan menyakitkan.

Terimakasih untuk anak-anak yang lucu dan menyenangkan.

Masih ingatkah kamu 35 tahun yang lalu kita pertama kali bertemu. Jauh di pelosok Sulawesi Selatan. Di perusahaan nikel terbesar kedua di dunia. Sorowako. 

Pertemuan yang biasa saja. Pertemanan yang biasa-biasa saja. Sebab saat itu kita sama-sama sedang menyukai orang lain. Tapi setahun kemudian kamu mendatangiku ke Jakarta, menemuiku yang sedang pelatihan dan mengantarku ke bandara ketika aku harus kembali ke Manado untuk mulai bertugas di salah satu bank plat merah. Setelah menikah kamu bilang itu adalah momen terberat dalam hidupmu. Melepas orang yang kamu sayang tanpa kepastian kapan bisa berjumpa lagi sebab kamupun harus mulai kerja di Kalimantan.

Karena itulah setelah perpisahan di bandara kamu datang lagi ke Manado. Bukan menemuiku tujuan utamamu. Tapi menemui ayahku. Ketika itu aku 23 dan kamu 25. Rasulullah menikah di usia 25. Begitu kalimatmu pada ayahku. Dan ayahku tentu saja sudah bisa menebak kemana arah pembicaraanmu. Maka pada tahun yang sama kita menikah.

Setelah menikah aku mendapati kamu adalah lelaki yang begitu sabar menghadapiku. Meskipun tidak sabar kalau menghadapi macet. Kamu adalah lelaki yang tidak pernah protes dengan masakanku yang seringnya tidak enak. Meski kemudian setelah makan kamu akan bilang. "Jangan masak ini lagi ya". Hehehe.

Kamu adalah lelaki yang sangat menyayangi keluarga. Betah di rumah, yang kemudian aku racuni dengan virus jalan-jalan. Di rumah terus  itu membosankan, sayang. Maka setiap hari setelah menjemputku dari kantor kamu akan bertanya " kita mau kemana?"

Kamu adalah lelaki yang sangat jenius dan kreatif, sehingga pagar rumah, yang terbuat dari besi itu, kamu sendiri yang membuat. Pintu kamar mandi kamupun yang membuat dan memasang, dinding rumah kamu sendiri yang mengecat. Bahkan ketika Mobil ayah rusak kamu pula yang perbaiki.

Terimakasih untuk stok cinta dan sabar yang seolah tidak pernah habis.

Terimakasih untuk memilih Dan menua bersamaku.

Semoga sisa umurnya berkah entah untuk berapa lama lagi. 

Terimakasih.

#OneDayOnePost
#FebruariMembara
#HariKeDuaBelas.

11 comments:

  1. Huwaaaa, pagi pagi dibikin baper. Aihh kapan bisa bikin surat gini? Hahha

    ReplyDelete
  2. Oh tidaaaakkkk....
    Seharusnya aku tidak membaca surat ini, huaaaaaa :'( #savejomblo :v

    ReplyDelete
  3. Jadi pengen bikin surat tandingan hihihi

    ReplyDelete
  4. Waaaa,,, jadi pengen punya suami, hihihi

    ReplyDelete
  5. Waaaa,,, jadi pengen punya suami, hihihi

    ReplyDelete
  6. mata ini berkaca-kaca mba membacanya....

    suaminya sangat penyabarm semoga langgeng dunia akhirat,tetap menjadi istri hebat...

    sy membayangkan kedua orang tuaku mebaca tulisan mba,Baper deh...

    oia orang bugis biasanya memang penyayang mba (hehe mentang2 orang bugis).



    salam,

    ReplyDelete
  7. mata ini berkaca-kaca mba membacanya....

    suaminya sangat penyabarm semoga langgeng dunia akhirat,tetap menjadi istri hebat...

    sy membayangkan kedua orang tuaku mebaca tulisan mba,Baper deh...

    oia orang bugis biasanya memang penyayang mba (hehe mentang2 orang bugis).



    salam,

    ReplyDelete