Saturday, February 27, 2016

Memori (Part 3)

Setengah jam yang lalu seorang lelaki tegap berkulit pekat mengetuk pintu rumah. Papa yang membukakan pintu untuknya. Ia mengaku sebagai polisi penjaga perbatasan. Ia menyebut namaku dan menyebut nama seseorang yang membuat adrenalinku terpacu.

"Saya ikut. Mari kita pergi sekarang." Tidak kupedulikan tatapan tajam mata Papa. Mata biru itulah yang diwarisi padaku. Rasanya langka memiliki kulit coklat dan mata biru ini secara bersamaan. Apakah ada orang lain di dunia ini selain aku dan Papaku yang pigmen warna dalam tubuhnya sangat kontras seperti ini?

"Ini sudah malam!" Hardik Papa "kau  jangan kelewatan."

"Saya pergi dengan seorang polisi. Apakah ada yang lebih aman dari itu?" Tanyaku rendah namun tajam.

Selain itu aku sudah 32 tahun. Untuk apalagi sebenarnya Papa memperlakukanku seolah-olah masih 17 tahun?

"Kau pergi menemui laki-laki itu!" Papa bersungut.

"Laki-laki itu datang jauh-jauh menemuiku. Lalu apa salahnya?" Sahutku kesal.

"Oke..oke.. Bagaimana kalau nona pergi besok pagi saja. Bersama saya. Benar kata Papa nona. Kalau malam agaknya cukup berbahaya." Polisi perbatasan mencoba melerai perdebatanku dengan Papa. Agaknya dia merasa tidak enak telah mendatangi kediaman tetua desa selarut ini.

"Berbahaya mana dengan tahun 1999?" Tanyaku gemas. "Lagipula, bapak pun tidak yakin sampai kapan laki-laki itu mau menunggu saya di sana."

"Tapi dari sini perjalanannya 6 jam," Polisi itu menyahut.

"Maka dari itu kita harus pergi sekarang agar bisa tiba dini hari."

Papa dan si Polisi tampaknya telah kehabisan kata. Setelah itu mereka membiarkanku menumpang kendaraan Polisi selama enam jam menuju tempat lelaki itu menungguku. Aku sudah tidak sabar.

Aku tiba saat matahari masih terlelap. Angin membawa hawa dingin menerpa barisan pohon cendana di daerah ini. Satu dua penjaja makanan kaki lima mulai berdatangan. Hal yang sangat lazim di tiap-tiap pintu perbatasan. Polisi yang menemani perjalananku menuju ke dalam pos untuk melapor.

Aku menghampiri salah satu lapak pedagang dan membeli dua cangkir kopi panas serta lima potong paung. 
"Ini, silahkan diminum," Aku menyodorkan secangkir kopi yang masih mengepul ke arah polisi-yang bahkan tidak kuketahui namanya itu-ketikaa ia keluar dari pos jaga dan menghampiriku.

"Terimakasih. Setelah ini biar saya panggilkan laki-laki itu di tempatnya menginap" katanya kemudian.

"Ah, tidak perlu terburu-buru. Tinggulah sampai matahari muncul," sahutku.

"Baiklah kalau nona bilang begitu," Polisi tegap berkulit pekat itu menyeruput dari gelas kopinya.

Aku menghirup napas dalam-dalam. Segar. Aku menikmati setiap detik penentian yang telah menemukan ujungnya. Lima belas tahun bukan penantian yang ringkas. Aku percaya suatu saat lelaki itu akan datang. Lima belas tahun yang lalu ia adalah lelaki yang tidak pernah mengingkari janjinya. Pastinya saat inipun demikian sehingga ia merasa perlu jauh-jauh menemuiku.

Lima belas tahun berlalu dan aku menjalani hidup dengan memendam rasa yang menyesakkan ini.

"Saya akan pergi menemui laki-laki itu." Polisi perbatasan itu menyadarkanku dari lamunan. Matahari tersipu-sipu di ufuk Timur. "Nona tunggu di sini saja,"

Polisi itu beranjak dan berjalan beberapa ratus meter sebelum menghilang ke dalam sebuah rumah. 

Adrenalin ku kembali berpacu. Kenapa hati ini tidak juga tenang padahal sebentar lagi akan menemui pemiliknya?

Di kejauhan tampak Polisi itu keluar dari sebuah rumah, di belakang nya di susul seorang lelaki timor paruh baya. Di belakangnya lagi... Deg! Seolah jantungku berhenti memompa darah.

Itu dia. Lelakiku. Lelaki yang membawa pergi hati dan begitu lancang telah mencurinya dariku selama lima belas tahun ini. Apa yang berubah dari dia? Tubuhnya bertambah tinggi. Rahangnya bertambah tegas. Matanya semakin tajam. Mata itu bergerak liar ke segala arah. Tampaknya ia belum menyadari keberadaanku. Ataukah dia lupa seperti apa rupaku. 

Aku beranjak menuju ke lapak tempatku memesan kopi tadi untuk membayar dan membeli 3 potong paung lagi. Aku segera membayar dengan beberapa sen dollar. Di sini rupiah dan dollar sama kuatnya. Sama-sama digunakan.

Ketika selesai bertransaksi, aku kembali mengalihkan pandangan ke arah lelaki itu. Di pandangan itulah mata kami saling bertumbuk. 

Adrenalinku semakin terpacu. Aku gugup sehingga nyaris menjatuhkan bungkusan paung dari genggamanku. Aku membisikkan namanya.

Matanya menatapku lekat-lekat. Aku tersenyum lalu berlari menghambur ke dalam pelukannya.

"Terimakasih sudah datang menemuiku"

#OneDayOnePost
#FebruariMembara

4 comments:

  1. Keren mba, endingnya mendadak. Kirain masih ada lanjutannya....

    ReplyDelete
    Replies
    1. Memang ceritanya belum selesai mbak nindy. Tapi belum terpikirkan bagaimana lanjutannya. Hehhe

      Delete