Sunday, December 1, 2013

Kaki Gunung Fuji

(Saduran Note FB Juli, 2011)


Saya dan Tya



Mimpi ini masih akan terus berlanjut. Dari sudut depan bangku SMA di sela-sela pelajaran Fisika yang menegangkan syaraf hingga (semoga akan berlanjut terus) ke Kaki Gunung Fuji di Jepang sana.

lagu Jzon Mraz yang mengalun dari handphone mengagetkanku dari niat berhibernasi di  hari sabtu ini. perkuliahan sudah selesai.skripsi?? oh... sungguh hal tersensitif yang tengah saya hadapi saat ini. Jobless.. there is really nothing to do. sebuah sms masuk.

Isi sms itu : "Na,, aku wisuda tanggal 16 nanti loh. tapi ga da duit buat bayarin tiket pesawat kamu kesini untuk hadir ke wisuda aku.. semuanya habis buat persiapan wisuda.hahah. kamu wisudanya kapan? tar aku ke makasar lah.. sekalian mau diajakin jalan-jalan ke trans studio"

haduhh... tentang ini lagi. sudah saya bilang sebelumnya bahwa saya agak sensitif bukan??tapi berhubung pengirim sms itu adalah sahabat baik saya.. maka saya ladeni. hahahah..

"bulan 12 Tya.Insya Allah. doakan saja.. iya.. nanti kamu datang ya..."balasku. nama sahabatku itu Santustya Karunika.

percakapan via sms berlanjut.. dari bahas soal habis kuliah mau kerja di mana, hingga kalo s2 mau lanjut dimana. dan guess what?? letupan-letupan semangat kembali membuncahi jantung saya. tidak lebih dari 2 tahun saya bersahabat dengan Tya sebelum akhirnya dia pindah ke bogor.. tapi gadis itu selalu bisa menghidupkan kembali semangat saya. Dia sahabat saya.. sekaligus saingan saya. dia saingan abadi saya. nilai-nilai saya tidak pernah melampaui dia saat SMA dulu. ranking saya selalu di bawah dia. semangat dia tak pernah surut seperti semangat saya yang kadang-kadang memudar menyesuaikan dengan mood. hahah... tapi satu hal yang saya suka dari dia.. dia punya banyak ide-ide gila... dan saya suka saat dia bersemangat mendengarkan ide-ide gila saya juga.

seperti di pagi tadi "ayo semangat Na.. kita S2 di jepang yukk. aku udah punya incaran profesor dari kyoto. syaratnya gampang ko'.. kamu hanya tinggal bikin research. kayaknya aku tertarik sama gempa"

nah..ini dia yang saya maksud itu. Dia pandai menyulut semangat saya setelah sekian minggu ini saya merasa sangat bosan dengan keadaan yang serba stagnan.

"eh.. btw... aku udah kerja loh.. di perusahaan konsultan. tapi nanti akuu cuti deh untuk hadiri wisuda kamu" lihat.. dia sudah kerja saja padahal baru mau diwisuda pekan depan.

dan pagi tiu juga saya pun berjanji untuk melampaui semua pencapaiannya. okeh. paling tidak menyamai lah.. Toh.. kami duduk di kelas yang sama saat SMA dulu. diajari materi yang sama oleh guru yang sama..dan kami sama-sama ada di kelas bahasa jepang waktu memilih ekstrakurikuler bahasa asing dulu..sama-sama kaku saat pertama menulis hiragana. sama-sama mengernyitkan kening saat menghafal bentuk kanji. dan masih memiliki mimpi yang sama hingga kini... ya..ya... tarnyata kami sama-sama sangat berharap bisa ke Jepang. hahah..

kalo ga punya cukup uang buat liburan kesana,, kenapa kita tidak membuat orang2 jepang saja yang membayari kita kesana??

"kalo riset kamu menarik. kamu bisa dapat besiswa buat lanjut sekolah disana loh.. dan jangan lupa pelajari kembali bahasa jepang. aku lagi belajar kanji loh sekarang" isi salah satu sms tya.

sekelebat potret-potret semasa SMA kami melintasi pikaranku. saat ngobrol ngalor ngidul sambil bisik-bisik saat pelajaran fisika, berkeringat dingin saat menyelesaikan soal2 kimia yang sebrek-abrek, sampai diusir dari kelas karena tidak bawa buku saat pelajaran matematika...hahahah

ohh.. dia ini juga lah yang menemani saya jadi backpacker dadakan waktu ke semarang tempo hari.

"sampai jumpa di kaki gunung Fuji Tya....." sms balasanku menutup percakapan penuh semangat pagi itu.

PEMIMPI : si Teman SD bernama Gabriella

(Saduran Note FB Desember, 2010)

Beranjak kelas 6 SD, saya mulai merasa ada yang tidak beres dengan otak saya. Dia bekerja terlalu aktif, Membuat saya kerap memilki ide-ide yang begitu liar. Saya adalah pengkhayal paling hebat . Bahkan saya telah mengkhayalkan tentang diri saya yang memakai jas putih,, melingkarkan stetoskop dengan anggun di leher sambil tersenyum pada pasien saat saya baru di kelas 6 SD. Saat kelas 2 SMP, saya beradu mulut dengan Ibu tentang cita-cita saya. Entah kenapa beliau saat itu kurang setuju terhadap cita-cita mulia menjadi seorang dokter. Maka saya menangis sejadi-jadinya dan tidak punya hasrat lagi ke sekolah. Kalau ada yang menggugat cita-cita menjadi dokter itu, maka saya akan sangat kecewa, sebab saya tidak memilki cita-cita lain selain dokter. Saya kehabisan ide memikirkan cita-cita lainnya.


Kalau saya sangat pandai berkhayal, maka saya memiliki teman sebangku yang begitu pandai menyalurkannya. Kalian harus berkenalan dengan Gabriella untuk tau betapa hebat Ia menjemput semua mimpi-mimpinya sejak SD!
Gabriella teman sebangku saya saat bersekolah di SDN 12 Manado, dari dialah saya belajar menulis. Mulai dari kisah buku harian pertamanya yang dia pamerkan pada saya suatu hari di sekolah. Sepulang sekolah, saya nekat ke pasar, yang arahnya berlawanan dengan arah rumah saya, membeli buku harian serupa. Bersama-sama kami mengisi lembar-demi lembarnya. Menuangkan ide-ide gila yang meluap, menuliskan keseharian kami yang menjadi tidak biasa karena tertuang dalam lembaran-lembaran buku harian, yang hingga saat usia saya 20, telah terkumpul tak kurang dari 10 buku harian! Saya senang mendapat teman sebangku yang mengalami kelainan otak seperti yang saya alami. Pemikiran anak SD kami terlalu liar, dan Gabriella mengajarkan saya bagaimana menyalurkannya. Tulislah!

“saya mau nulis cerita” kata Gabriella yakin.
Dan ia tak hanya sekedar bicara, Ia benar-benar melakukannya!! Mengandalkan sebuah buku tulis biasa dan polpen tinta cair kesayangannya, ia mulai menulis. Maka tak perlu dipertanyakan, saya adalah pembaca paling setianya.
Bosan hanya menjadi pembaca, maka saya pun mulai belajar menulis. Cerpen pertama saya berjudul “Tupai yang baik hati”. Penuh coretan cakar ayam khas anak SD, dan tip-ex disana-sini. Pembaca pertama saya adalah Ibu.
“bagus” gumam ibu membakar semangat saya untuk terus menulis.

Herannya, meskipun sudah dibelikan computer, saya tetap menulis cerita di buku tulis dengan polpen seperti yang dilakukan Gabriella. Dan saat saya berusia 17, rak buku tak lagi sanggup menampung berlembar-lembar cerpen maupun novel yang saya tuliskan semena-mena di atas buku tulis tanpa ada niat sama sekali untuk menerbitkannya.  Hahaha.

“saya mau nikah muda. Umur 20 tahun. Dengan pengusaha. Lalu jadi wanita carrier. Keren kan?” kata Gabriella lagi suatu kali.
Maka nikah muda juga seketika menjadi cita-cita saya. Meski saya belum memutuskan untuk menikah dengan laki-laki yang berprofesi sebagai apa.
Saya dan Gabriella melanjutkan ke SMP yang sama. Namun karena beda kelas kami jadi jarang bersama. Gabriella siswa berprestasi. Bahkan hingga saat SMA kami tak lagi 1 sekolah, saya masih kerap mendengar prestasinya. Sulit membayangkan ia masih menyimpan cita-cita nikah mudanya itu. Mungkin hanya bualan pikiran SD nya saja. Padahal jujur, itu tetap menjadi cita-cita saya.

Saat kuliah, Gabriella memutuskan untuk kuliah di salah satu perguruan tinggi swasta di Sulawesi Utara, dan saya merantau ke Makassar.  Menginjak tahun ke 3 kuliah, saat umurnya 21 tahun, saya mendengar ia telah menikah. Maski tidak sempat mengahadiri pernikahannya karena alasan jarak, saya tetap bersikeras meminta klarifikasinya via chatting.

“saya kan sudah bilang saya mau nikah muda” katanya sumringah di chatting saat itu.

Dan suaminya memang benar adalah pengusaha kaya pemilik salah satu perumahan di Manado. Gabriella sempat cuti kuliah saat hamil, namun Ia telah siap lagi melanjutkan kuliahnya kini, sambil merintis cita-cita lainnya di salah satu bisnis MLM terkemuka, yaitu menjadi wanita carrier. Mungkin juga ia masih rajin menulis cerita hingga kini.. Entah!  Gab.. salam cinta untukmu, semoga kita masih akan terus bermimpi dan berusaha mewujudkan mimpi-mimpi itu.  
Lalu, kalau Gabriella adalah penyalur mimpi yang hebat! Maka kalian juga perlu berkenalan dengan satu lagi sahabat sakit otak yang dapat mewujudkan khayalan kamu seketika. Sahabat kental di SMA.  My partner in crime. Pemilik nama yang tidak ada samanya di dunia ini. Santustya Karunika. Lain kisah untukmu sobat.


Titik.. Titik...

Titik..titik...titik...titik...


Saya mulai mencintai nukleus2 yang memadat mewujudkan rupamu..
Saya mulai mencintai refleksi cahaya di atas bayanganmu yang memantul di retinaku
saya mulai mencintai desiran hemoglobin yang mengaliri venamu..
Saya mulai mencintai frekuensi yang ditimbulkan getaran suaramu

titik...titik...titik...titik...


Sepertinya saya akan membenci waktu yang menghimpun detik menciptakan perbedaan dimensi antara kita.
sepertinya saya akan membenci jarak yang mewujudkan perbedaan atmosfer diantara kita.
Dan sepertinya saya akan membenci neuronmu kalau ia menghapus tentang kita dalam pita ingatanmu..

Tuhan,,ini layakkah??


(September, 2011)

(Many Things)

"tidak kamu rasakan kah perasaanku??" Ia bertanya. Spontan. Mengakhiri percakapan basa-basi kami sebelumnya. Tentang rutinitas, tentang pencapaian-pencapaian di hari sebelumnya.

Deretan warung makan bagaikan slide show berlalu di belakang kami. Aku mengikut saja saat dia bilang sedang ingin cari sarapan dan sedang tidak ingin menyantap menu yang biasanya. Pagi masih sejuk.

Ia masuk ke salah satu warung makan. Selalu warung yang berbeda dari sebelumnya. Sepertinya Ia tidak punya warung makan favorit.

"wahh.. Semuanya enak.. Saya jadi bingung. Kamu mau yang mana??"katanya bersemangat saat melihat menu.

Saya menunjuk ini dan itu lalu kami duduk di salah satu meja saling berhadapan. Ia refleks mengambil 2 gelas dan menuangkan air ke gelasku. Di lain waktu Ia pun sering refleks menyambar tentenganku, membiarkan kedua tanganku bebas tanpa beban.

"bagaimana makanannya??enak tidak??" itu juga menjadi pertanyaan rutinnya. Tidak pernah absen Ia bertanya seperti itu setiap kali aku kebetulan makan bersamanya.

"enak sekali" Ia menjawab sendiri pertanyaannya. "Sepertinya saya akan sering makan disini" tapi pada kenyataannya saya jarang mendapati dia makan di tempat yang sama berulangkali.

Seringkali ia memeperhatikan saya makan. Menyaksikan Setiap gerakan mengunyah yang saya lakukan lalu tersenyum sendiri menyimpulkan sesuatu dalam kepalanya. Sering juga Ia Menanyakan apakah saya masih menginginkan menu yang lain. Dan seringkali saya menjawabnya dengan gelengan.

"hahaha.. Ga usah jaim makan sama saya. Makan saja sebanyak-banyaknya!"seringkali ia mengejek.

Ia mengalihkan pandangan ke arah segelas teh panas pesanannya yang baru datang. Ia menyeruputnya sedikit.
"mantap. Kamu mau coba?" ia menyodorkan teh panas itu padaku. Aku meraihnya lalu kemudian menarik kembali tanganku seketika.

"panas sekali gelasnya!"
"makanya jangan dipegang. Ayo minum" ia menyuruhku minum dari gelas yang dipegangnya.
Aku menatapnya enggan. Tatapanku menghardiknya. Banyak orang disini bodoh. Dan mereka bisa saja melihat ke arah kita dan menyaksikan apa yang kita lakukan nanti.

Dia membalas tatapnaku dengan senyum jenaka. Lalu kenapa kalo ada orang yang memperhatikan?

Aku mengalah dan menyeruput teh dari gelas yang masih digenggamnya.

Harusnya dia tidak perlu bertanya apapun padaku. Harusnya dia tau bahwa aku tau semua yang dia lakukan, hal-hal kecil ini, bernilai banyak buatku.

Aku menjawab dengan senyum untuk pertanyaan yang dia lontarkan sebelum kami memasuki warung makan tadi.

(Juli, 2011)

No Matter

No matter it starts...

Ini tentang seragam putih abu-abu dan pemikiran masa peralihan remaja yang malang melintang. Seperti biasanya kami duduk tertib di bangku kelas namun pikiran melayang ke salah 1 warnet langganan membayangkan kapan bel pulang berbunyi dan kami bisa segera YM-an dan friendster-an. Kamu indah di masa itu...

No matter it ends..

Ini tentang ketegangan UAN dan euforia merayakan keberhasilan menaklukan SPMB..kamu dengan cita2 mu dan akupun demikian. Kita banyak berubah dan banyak berbeda di masa2 ini...

No matter it strats..

Ini adalah tahun kedua di bangku kuliah. Persamaan kita mulai terkikis dan semakin sedikit yang bisa kita bicarakan. Kadang2 hal2 kecil kita perdebatkan namun tiap pesan singkat yang disampaikan sinyal provider tidak mampu mengukuhkanmu.dan akupun begitu.

No matter it ends

gambar2 dalam bingkai di suatu tempat yang tak pernah kamu tau kecuali dari ceritaku mengantarkan kita pada ending dari sesuatu yang dulunya tidak pernah kubayangkan berakhir.kita sudah lelah dengan klimaks. Aku..

No matter it strats

lalu aku menemukan dia di balik kaca hitam menatapku yg tengah mamandang kosong salah satu gambar...

No matter it ends

aku memulai lagi setelah cukup lama limbung..

No matter it starts no matter it ends.

Mulai sekarang mungkin aku ingin menulis tentang dia saja...:)

(2 Oktober 2011)

Membekukan Waktu

04/06/2012

Lobi Wisma Raharja,Cilandak.

Jarum panjang melangkah pelan dan berhenti di angka sembilan berusaha mengimbangi langkah jarum pendek yang diam mematung di angka sebelas.
Tekstur dinding dan lantai lobi wisma yang serupa. Pecahan-pecahan batu, entah marmer entah pualam. Batu tidak pernah mengambil alih perhatianku sedikitpun.

Ada anak kecil berbaju merah di jaga baby sitter nya. Di depan sana pak Satpam sesekali memandang curiga mendapati saya duduk diam di satu titik tanpa beranjak sejak satu jam lalu. Dalam hati saya hanya membatin geli ‘ tenang pak, Saya tidak bawa bom dan tidak bermaksud jahat sama sekali’

Tadi pramu saji stand kopi bermerk Torabika menawarkan secangkir Cappucino padaku “silahkan kak kopinya. Ini ada choco granule nya silahkan di taburkan di atasnya. Gratis ko’ Kak”. Saya menerima dengan senyum yang sehangat kopi di cangkir kertas itu. ‘terimakasih’

Melejit jauh ke lantai 6. Ada kamu di sana. Di salah satu ruangan entah dimana. Saya tahu kamu sedang gelisah. Karena menghadapi kertas di mejamu kah? Atau karena tahu saya sedang menunggu di lobi wisma? Tenang saja. Saat kamu turun ke lobi kamu akan mendapatiku tetap pada titik ini. menunggumu...

Pusat gravitas.
Bumi yang mengedar pada matahari,galaksi yang mengedar pada black hole. Aku yang mengedar padamu.
Tidak kutemukan tempat yang sesejuk ini, tidak pernah kudapati hati setentram ini. mungkin kamu tidak merasakannya, atau kamu bahkan merasa kebalikannya. Tapi bagiku punggungmu yang berjalan mendahuluiku adalah tempat terkokoh untuk menopang, bagiku lengan yang keras itu tempat bersandar yang paling nyaman. Entah bagimu....

Masih menunggu...
Di satu titik yang kamu tau aku sama sekali tidak akan beranjak semilipun sebelum melihatmu. Melihat senyummu yang kadang mengejek jahil, mendengar suaramu yang berat dan serak. Mengindra seluruhnya yang ada pada dirimu.
Jarum panjang sudah membalap ke angka dua belas. 
Saya harap satu jam lagi segera usai..

BELENGGU

  Bayang-bayang inilah yang mengikat pikiran
Mengkontradiksi kenyataan.
Membias membentuk lengkung-lengkung kenangan.

Bayang-bayang inilah yang mengabur realitas
Berhimpit dengan garis nalar,
Merfleksi cahaya dan memantulkannya secara  terbalik di bidang cekung bernama harapan.
Pernah ada harapan di antara kita.
Menggantung di atmosfer kisah-kisah.
Pernah ada cerita-cerita usang terbingkai dalam memori-memori silam

Lepaskanlah belenggu ini..
Biar kita bebas tak terikat satu dan lainnya..
Biar kaki ini panjang-panjang melangkah
Jika boleh jauh...jauh dan berlawan arah.
Pernah ada cerita disini..
Kisah-kisah usang dalam memori yang sudah-sudah.

Uraikanlah buli-bulir belenggu ini biar kita lega
Lega menarik dalam-dalam oksigen dari atmosfer kita yang tak lagi sama.
Atmosfer kita yang pernah terlalu pekat oleh prinsip, realitas, kekakuan dimensi.
Atmosfer yang tunduk pada jurang jarak yang menganga.
Di sisi kanannya ada waktu, di sisi kirinya ada zona.
Mungkin kamu lelah..
Mungkin kita lelah..
Sudahi saja.


(14-09-2012)

Bang Toyyib : Kucing yang Jarang Pulang

Masih di hari minggu ceriaaa :D

Kali ini mau posting tentang kucing liar peliharaan saya di rumah. Yang dipelihara sejak lahir setelah ibu kandungnya dibuang (karena kebanyakan melahirkan di halaman rumah) Kesayangan mama papa.
Pemberian nama "bang Toyyib" adalah unsur  kesengajaan dikarenakan si kucing yang memang jarang di rumah. Hanya di rumah ketika lapar doang.

Masalahnya adalah, ketika lapar bang Toyyib cuma mau makan ikan, tidak mau nasi, tidak mau telur. Karena itu juga pengeluaran mama bertambah tiap bulannya.

Mama pernah menggertutu " Sebenarnya mama mau piara kucing itu supaya ada yang habisin makanan sisa, eh ini malah nambah pengeluaran" gahahhaha...



Ketika lapar, bang Toyyib pulang melalui jendela.


Ketika kenyang dia tidur seperti ini

Atau seperti ini

Juga Seperti ini.

Ya, berhubung sudah menjadi kesayanga, jadi tidak apa-apa kalau bang Toyyib jarang pulang. Sekalipun pulang kerjanya cuma tidur dan makan juga tak mengapa.. T__T.

The most handsome hubby in the world..

Hari minggu!!!!

Leye-leye sambil edit foto..hahahahha..

Kali ini foto bersama si handsome yang nun jauh di sana.

yah...mohon maaf lah untuk postingan yang kurang berbobot ini..wkwkkw :P




Udah..itu aja...

caoooo