Thursday, April 27, 2017

Ibu Memancing di Bulan



Gambar dari sini


Pernah suatu pagi perutku sangat sakit karena sejak semalam tidak makan. Ibu bilang sebentar lagi nasi masak. Kuhampiri panci alumunium dan membuka tutupnya. Di dalamnya dua buah kerakal mengering ditinggalkan air yang menguap. Aku menyadari sejak tiga jam yang lalu Ibu tidak menanak nasi, melainkan batu. 

Aku masih berumur lima tahun dan percaya batu bisa menjadi lunak jika direbus dengan air, "Tunggu tiga jam lagi Anjani," bisiknya.

Hari ini, Anjas, adikku yang berumur enam tahun meringis kesal. Sudah tiga hari kami hanya makan nasi putih tanpa lauk apapun. Malam ini ia ngambek dan tak sudi makan. 

Bapak kami belum juga kembali sejak terakhir kali pergi melaut. Ibu menolak kenyataan Bapak mati tenggelam dan memilih meyakini bahwa Bapak hanya sedang tersesat. Sejak saat itu tak ada ikan di bawah tudung saji kami. Sejak saat itu kami hanya makan nasi putih.

"Bapak belum dapat ikan, makanya belum pulang," sahut Ibu ketika Anjas menanyakan Bapak.

"Ibu bohong!"

"Ibu tidak bohong. Laut sudah kehabisan ikan, karena manusia terlalu sering makan ikan."

"Benarkah?" Anjas mulai termakan dongengan ibu. "Jadi, kita tak akan bisa makan ikan lagi selamanya?"

"Tentu saja bisa. Habiskan dulu nasimu setelah itu kita pergi memancing ikan."

Anjas dengan cekatan melahap habis nasi putih di atas piringnya sementara Ibu menyiapkan pancing dan kail cadangan milik Bapak.

Setelah nasi di piring Anjas tandas, Ibu membawanya ke halaman belakang rumah kami. Malam membentangkan purnama saat Ibu mengulur senar pancing. 

"Kita akan memancing di bulan.”

"Apakah di bulan ada ikan?"

"Ya. Laut di bulan masih melimpah ikan. Belum pernah ada yang memancing di sana."

Mata Anjas berbinar saat Ibu melemparkan kail yang mengait umpan jauh ke kegelapan malam,  persis seperti binar mataku ketika melihat Ibu menuangkan air ke dalam panci berisi batu dua belas tahun yang lalu.


Catatan :

Tulisan ini pernah diikutsertakan dalam event menulis LovRinz and Friends

Tuesday, April 25, 2017

Work Hard Play Harder


Belakangan ini saya sangat menyukai jargon seperti judul postingan ini. Yup, saya sangat suka main-main dan jalan-jalan. Alhamdulillah pekerjaan yang saya geluti selama ini,  sampai saat ini saya pernah bekerja di dua perusahaan yang bedanya bagai langit dan bumi, tidak menghalangi kegiatan saya untuk tetap bersenang-senang πŸ˜πŸ˜πŸ˜‚.

Danau Linow, Sulut.


Perusahaan pertama bernama PT. International Nickel Indonesia (PT. Inco - sekarang Vale Indonesia) yaitu perusahaan multinational yang core bisnisnya adalah pertambangan. Tenang, saya di sana bukan jadi kuli tambang. Kebetulan saya di bagian Contract Service and Administration. Gampangnya, itu departemen yang bikin tender kalau perusahaan lagi butuh sesuatu. Selama enam bulan saya bekerja di sana, saya pernah mengikuti tender pembuatan dam (bendungan) sampai tender pengadaan guru untuk sekolah bagi anak-anak karyawan yang special needs

Bersama Teman-Teman di PT. INCo


PT. Inco terletak di kab. Sorowako. 12 jam perjalanan darat atau 1 jam naik pesawat dari Makassar. Jauh dari mana-mana jadi jangan berharap saya bisa menghabiskan weekend dengan ke mall atau nonton. Nehi! Jadi, kalau weekend saya biasanya berenang atau kayak-ing. Phewww....😰

Salah Satu Kegiatan Saat Weekend


Perusahaan kedua, yang hingga saat ini saya masih terdaftar di sana, adalah perusahaan BUMN yang bergerak di bidang perbankan. Saya di sana sebagai, ganti-ganti sih, pernah relationship manager, pernah Credit Analyst, pernah Credit Risk Analyst, sekarang Analis Pemasaran Bisnis. Banyak kata 'analis' jangan berpikir kerjaaan saya lantas menganalisa angka-angka rumit. Tidak tidak! Saya  bekerja sebagai banker, bukan sedang ambil kuliah doktor matematika πŸ˜§πŸ˜….

Yang paling saya senangi dari pekerjaan saya yang sekarang adalah setiap saat saya berkesempatan menemui orang-orang yang baru, bertukar pengalaman membicarakan bisnis-bisnis nasabah, mengunjungi lokasi usaha nasabah. Pokoknya jalan-jalannya banyak!
Saat Kunjungan di Salah Satu Lokasi Usaha Nasabah di Pulau Tagulandang


Target di kantor saya ini bisa dibilang tidak waras kalau tidak ingin dibilang GILA! πŸ˜†πŸ˜†πŸ˜…Target itu bisa saja menyita seluruh waktu dan energimu, tapi jangan sampai target itu menyita kewarasanmu. So guys, please stay sane!!!πŸ˜†πŸ˜†

Cara untuk tetap waras bagi saya adalah dengan menulis dan bersenang-senang. Bahagialah meskipun target menghimpit dan flu melanda..πŸ˜ͺπŸ˜ͺ.

Jadi sekarang apapun pekerjaan yang sedang kau lakukan, berbahagialah! Jangan pusing dengan pekerjaanmu, karena itu lebih baik daripada pusing nggak ada kerjaan πŸ˜‚πŸ˜‚ (nggak nyambung!)

Tetap bekerja dan bermainlah. Work Hard Play Harder!

Belantara Hati



Gambar dari sini


Ada suatu tempat yang paling dalam di muka bumi ini. Jauh mengalahkan dalamnya Samudera Pasifik. Aku sering mengisahkan hal itu kepada Ana, anak gadisku, ketika dia menginjak usia tujuh belas tahun dan aku bisa mengajaknya berbicara sebagai seorang manusia dewasa.

Tempat terdalam itu adalah hati wanita dan yang paling rimba adalah hati ibunya. Aku menceritakan bagaimana hati itu ditutupi belukar yang rapat-rapat sedangkan sebuah kunci terperangkap di sana. 

"Kenapa Ayah harus mencari kunci itu?" Tanya Ana ketika pertama kali mendengar ceritaku.

"Karena itu kunci yang dapat membuka hati ibumu."

"Kenapa Ayah harus membuka hati Ibu?"

"Untuk membahagiakannya."

"Apakah sekarang Ibu tidak bahagia?"

Aku menjawab dengan senyum untuk pertanyaan Ana yang terakhir. Aku telah menyelami hati ibunya selama dua puluh tiga tahun pernikahan kami dan tak kutemukan kunci itu di sudut hati manapun. 

Aku mencintai ibunya di hari pertama kami dipertemukan dan setelah dua puluh tiga tahun akhirnya aku menyadari bahwa tidak satu haripun dia mencintaiku. Kunci itu rupanya telah dibawa pergi oleh laki-laki lain yang pernah sangat dicintainya sebelum perjodohan datang sebagai takdir yang menyatukan kami di pelaminan.

Setelah itu aku selalu berdoa di setiap usai sujudku semoga Tuhan menyatukan dia dengan lelaki yang dicintainya itu di surga nanti. Hatiku sakit saat mulutku menghaturkan doa itu namun demi Tuhan ia adalah istri yang sangat baik, sehingga aku merasa bersalah jika tidak mendoakan kebahagiaannya.

"Aku mencintai Ayah sejak lahir. Ayah cinta pertamaku," ujar Ana. Mata besar itu duplikasi ibunya.

Aku membelai rambut Ana dan pusara ibunya bergantian. Aku berjanji perjodohan tak akan pernah menjadi jalan hidup putriku kecuali dia menginginkannya.


Catatan :
Tulisan ini pernah diikut sertakan pada event menulis flashfiction yang diadakan oleh grup menulis LovRinz and Friends dan juara dua (kalau ga salah. Apa juara tiga ya? Sudah lupa!πŸ˜…πŸ˜…)

Thursday, April 20, 2017

Balada Analis Kredit



Jadi, pembicaraan saya dengan seorang teman sejawat di kantor kemarin membuat saya mandi pagi sambil senyum-senyum memikirkan sebuah proyek menulis kecil-kecilan yang diusulkan oleh teman saya itu.

"Ayo tulis tentang kehidupan kita sebagai analis kredit di bank. Ala-ala my stupid boss gitu."

Hmm, saya sudah memikirkan mau menulis seperti apa.

Saya akan menambahkan 1 tag pada blog saya dengan judul BAK (bukan Buang Air Kecil tapi Balada Analis Kredit πŸ˜…)

Dan tulisan tersebut akan saya posting tiap hari atau beberapa hari sekali tergantung mood. Nanti akan ada beberapa istilan perbankan yang mungkin akan muncul, tapi saya akan berusaha mengulasnya secara sederhana agar tujuan tulisan ini nanti tercapai. (Gaya banget!)

Saya juga berpikir untuk memesan sticker karakter guna mendukung proyek kecil-kecilan ini 😁.

Ya, begitulah....semoga hasilnya nanti memuaskan seperti ekspektasi saya, banyak yang terhibur dan bermanfaat.

Amin yang kencang!

Note : thanks to Frine yang sudah memberikan ide ini 😊😊😊

Monday, April 17, 2017

Menembus Barikade Femina



Jadi, pagi ini di tengah tekanan target ekspansi di kantor  dan tekanan batin karena ditinggal suami ke luar kota πŸ˜… saya mendapatkan sms dari FEMINA. Ulang sekali lagi! Saya dapat SMS dari FEMINA. Ya Allah! Rasanya pengen sujud syukur cium lantai. Tapi mendadak ingat saya sedang di kantor πŸ˜„.



Sms nya sih 'hanya' meminta konfirmasi perihal orisinalitas tulisan. Sms seperti itu mungkin hal biasa banget bagi penulis kaliber yang namanya sudah malang melintang di media, tapi bagi saya yang hanya butiran debu ini, itu adalah sesuatu yang bisa disebut ANUGERAH. Dan ini adalah Femina. Media yang menolak cerpen saya sekitar 5 tahun yang lalu dengan surat resmi. Bayangkan! Ditolak pakai surat resmi itu ternyata lebih sakit daripada digantung tanpa kabar. Sejak itu saya trauma!

Kemudian pada suatu ketika, seorang teman di FB membagikan postingan tentang Gado-Gado Femina (terimakasih mbak Intan Puspita Dee) lalu saya pikir, kenapa tidak? Jadilah saya coba kirim di bulan Februari. Setelah kirim saya baru mengetahui beberapa hal tentang Gado-Gado Femina, antara lain ternyata untuk judul usahakan dua suku kata saja. Punya saya tiga suku kata. Baru judul sudah gagal. Yo wesslah. Niatnya mau saya perbaiki dan kirim ulang karena hingga bulan April tak kunjung ada kabar. Eh ternyata... Tuhan baru menjawab doa saya sekarang melalui sebuah SMS dan disusul email konfirmasi pemuatan.

Yap, ini 'hanya' sebuah artikel Gado -Gado tapi saya sudah senang luar biasa karena itu artinya saya sudah bisa menembus barikade femina yang tebal berlapis-lapis dan berkali-kali penyaringan. πŸ˜… (ini tabloid apa minyak goreng?) Meskipun melalui pintu samping. (Bagi saya pintu utamanya tetap cerpen atau cerbung).

Berikutnya saya kembali menyasar rubrik CERPEN. Oke, FEMINA, jangan tolak saya lagi, plisssss....😳

Saturday, April 15, 2017

Hal-hal Berkesan dalam Hidup


Menurut saya, penting sekali untuk mengingat hal-hal tertentu dalam hidup. Sebuah peristiwa, sebuah pengalaman, sebuah tempat, sebuah nama. Namun, entah harus saya syukuri atau saya rutuki, kemampuan saya di bidang ini sangatlah payah. Saya benar-benar bisa melupakan sebuah peristiwa yang saya alami dengan beberapa orang. Jadi ketika orang tersebut menceritakannya kepada saya, saya cuma bisa senyum-senyum meringis sambil berusaha mengingat-ingat tapi hasilnya nihil.

Saya juga payah dalam mengingat nama dan wajah. Pernah suatu ketika seorang perempuan lewat depan rumah saya dan menyapa saya dengan begitu akrab, memegang tangan saya dan mulai menceritakan hal-hal yang tidak saya ingat, sebagai gantinya saya hanya tersenyum-senyum canggung sambil menerka siapa gerangan perempuan ini. Sampai dia pergi saya tidak berhasil mengingat apapun bahkan hanya namanya dan saya terlalu malu untuk menanyakannya. 😡😡😡


Sepertinya ada gangguan dengan memori episodik saya. Saya bahkan googling secara khusus tentang jenis-jenis amnesia dan Amnesia Lakunar sangat dekat dengan yang saya alami. 😱😱😱

Yang paling parah adalah, orang tua saya yang lebih hafal nama-nama teman dari SD, SMP dan SMA saya ketimbang saya. πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚. Jadi saat suatu ketika saya berpapasan dengan seseorang yang menyapa saya, biasanya orang tua saya yang nyeletuk, "Itu kan teman SD mu." , "Itu kan anaknya si itu," , "Itu kan yang tinggal di sana." Tapi jangan berharap saya ingat dan saya hanya akan ber "O" panjang saja.

Kadang-kadang hal ini terasa sangat mengganggu, apalagi kalau ada acara reunian. Duh!

Hal tentang gampang lupa ini juga berlaku dengan nama-nama guru. Jadi ketika saya berkumpul dengan teman-teman SMA misalnya, dan tiba-tiba pembicaraan flash back ke masa SMA dulu, dan mulai membiacarakan si guru itu, si guru anu, maka saya wassalam lah sudah. Hanya beberapa nama guru saja yang saya ingat, mungkin dua atau tiga.

Nah, anehnya ada hal-hal yang masih terang dalam ingatan meski sudah belasan tahun berlalu. Seperti potongan-potongan puzzle yang terserak. Misalnya saja nama teman sebangku saya ketika kelas 2 SD. Pribumi Timor Leste, namanya Terezina. Lalu guru bahasa indonesia saya di SD Timor-Timur (saya lupa namanya πŸ˜‘πŸ˜‘) tapi sangat saya ingat tentang pelajaran yang diajarkan beliau bahwa dalam satu kalimat hindari mengulang kata yang sama. Bahwa dalam satu kalimat sebaiknya tidak lebih dari 13 kata. Bahwa ketika saya memprotes caranya menuliskan kata 'Menado' dia katakan bahwa 'Menado' dan 'Manado' sama-sama dibenarkan.

Lalu guru bahasa Inggris saya di SD (namanya lupa) yang akan menerapkan sebuah metode pembelajaran unik jika kebetulan bahasa Inggris ada di jam terakhir. Jadi dia akan menyebutkan kata dalam bahasa Inggris, siapa murid yang bisa menyebutkan artinya dalam bahasa Indonesia boleh pulang. Yup, dapat ditebak sayalah yang pulang paling akhir, atau kedua terakhir karena bahasa Inggris saya payah sekali! Sejak saat itu saya bertekad untuk belajar Bahasa Inggris dengan baik.

Lalu guru mengaji saya di Timor-Timur, namanya Ibu Silmi (sebenarnya Silmi adalah nama anaknya) yang sebenarnya tidak berniat membuka taman pengajian namun karena tetangga sekompleks menobatkan dia sebagai wanita soleha yang layak jadi guru mengaji tersebab pakaiannya yang berjilbab dengan baik dan syari, maka beliaupun tidak menolak ketika harus mengajar anak-anak di kompleks untuk mengaji. Tidak minta bayaran sepeserpun, tapi para orang tua yang merasa berhutang budi tetap saja membayarnya secara sukarela tiap bulan. Uangnya beliau pakai untuk membeli meja-meja kecil untuk anak-anak, membeli buah-buahan yang dimakan bersama di sela-sela kegiatan mengaji. 

Saya tidak pernah tahu mengaji bisa semenyenangkan itu, ketikapun dia mengharuskan kami mengaji tambahan subuh-subuh di waktu-waktu kami libur sekolah. Sangat menyenangkan. Dia mengadakan kompetisi menghafal surat pendek dan asmaul husnah dan hadiahnya alat tulis lucu yang dibeli pakai bayaran sukarela dari orang tua. Dari dia saya mengenal tajwid, saya menghafal ayat kursi dan menghafal sebagian kecil asmaul husnah yang dinyanyikan dengan nada. Saya sangat berterimakaskh dimanapun Ibu Silmi berada setelah kerusuhan Timor Timur itu. πŸ˜„

Setelah saya pindah ke Manado, saya ingat dengan jelas peristiwa di mana saya diutus SD saya lomba pelajaran IPA dan ketika pertanyaan tentang apa ciri utama hewan mamalia maka saya menjawab dengan keyakinan penuh "Bertelinga!" Harusnya kan beranak ya. 😁😁 Dan saya diberi angka 50 sama jurinya πŸ˜….

Hal-hal kecil seperti rasa es mambo di sekolag SD saya di Timor-Timur, lapangan helikopter di seberang sekolah, bentuk kue keju favorit saya yang sering dibelikan Papa, saya memakannya dari bawah dan bagian kejunya terakhir. 😁 Saya ingat buku-buku tokoh inspiratif dunia yang saya pinjam dari Monica (teman SD saya) Hellen Keller, Wright Bersaudara. Aroma kue coklat menjelang Lebaran ketika masih kecil dan Mama masih sering membuat kue ketimbang membeli jadi seperti belakangan ini, gaya Kakek saya yang terkantuk-kantuk menonton film India dan saya mengintip dari lubang kunci karena saya tidak boleh ikut nonton karena itu jam tidur siang. Saya ingat semua itu dengan baik.

Mungkin hal-hal tersebut adalah hal-hal paling berkesan dan menyenangkan sehingga tetap ada dalam memori meskipun waktu sudah menjadikannya usang.

Saya pikir kenangan-kenangan seperti itu pantas untuk diingat dan kenangan-kenangan seperti itu yang paling banyak mengayakan jiwa saya.

Kalau kamu, apa kenanganmu yang paling berkesan?