Monday, February 29, 2016

Parade Puisi

Silahkan nikmati parade puisi berjudul : 

SURAT YANG BELUM TERBALAS sehingga RINDU MEMBIRU dalam MONOLOG HUJAN DI GARIS PANTAI INI.


Dear kamu....
Iya kamu, lelaki bermata senja yang selalu kulihat saat surya berwarna jingga... 
(Desi)

Aku berdiri digaris pantai ini.
Memandangi siluet-siluet manusia dan semesta yang tampak sama. 
(Septian)

Tangismu menderu dalam deras hujan. (Nindy)

Telahkah gerimisku memporandakan pagi? (Hidayati)

Dear kamu...ya, kamu..yang berulang kali aku sapa...namun tiada jawabnya.... 
(Desi)


Disini aku berdiri di garis pantai ini.
(Septian)

Mengiris pilu menguak angan. Memelukmu dalam dekapan sangat kuinginkan. 
(Nindy)

namun tak putus pongahmu seumpama dunia hendak tunduk di kepalanmu. (Hidayati)

Aku tertawa sendiri, tiap kali membaca surat yang tak pernah ada jawabnya..
(Desi)

Lihatlah ini tawaku membahana. 
(Hidayati)

Di sini di garis pantai ini.
Kunikmati peraduan bumi yang mulai diselimuti malam hari.
 (Septian)

Esok ku kan datang
Memelukmu seperti asamu
Yang kau titip pada angin malam
Yang kau bisikkan pada gerimis. 
(Nindy).

Indah bukan puisi di atas? Yang pasti bukan saya penciptanya. Bait-bait indah di atas adalah gabungan dari empat puisi dengan judul berbeda yang ditulis oleh empat orang yang berbebeda tapi memiliki satu kesamaan. Mereka berempat adalah anggota komunitas One Day One Post. Ya, nama di dalam tanda kurung di akhir setiap bait adalah nama pengarangnya.

Demi menjawab tantangan menulis tentang anggota ODOP, maka saya membuat parade puisi di atas untuk kita nikmati bersama tapa mengubah sedikitpun kata dalam puisi. Jadi originalitasnya masih terjaga. Heheh

Setelah menikmati bait-bait indah di atas, mari saya perkenalkan dengan para penulisnya.

Surat yang Belum Terbalas oleh Desi. Seorang tenaga kerja Indonesia yang saat ini sedang bekerja di Negri tetangga, Malaysia. Kesibukannya tidak membuat ia surut langkah dalam menulis. Selain kecintaan pada kesusateraan ia juga hobi travelling. Banyak tempat menarik yang telah Desi kunjungi. Penasaran? Silahkan klik  BLOG DESI.

Rindu Membiru oleh Nindyah atau yang lebih akrab disapa Nindy. Ibu dua anak yang juga seorang guru SD. Jadwalnya otomatis padat namun menulis selalu sempat. Bagaimana mengatur waktu supaya tepat? Kepoin kesehariannya di BLOG NINDY

 Monolog Hujan oleh Hidayati Nur. Seorang guru yang hobi menulis dan mengajar dengan metode-metode alternatif yang sangat aplikatif. Tergabung Dalam FLP Tuban. Puisi-puisinya telah terpampang di media cetak. Nikmati karya-karyanya di BLOG HIDAYATI


Di Garis Pantai Ini Oleh Muhammad Septian Wijaya. Mahasiswa Informatika yang hobi menulis. Meskipun tidak nyambung sama jurusannya namun tidak pernah menyerah dalam berkarya. Saat ini sedang merampungkan novel perdananya. Penasaran dengan cerita novel buatan mahasiswa informatika? Temukan bocorannya di BLOG SEPTIAN

Demikianlah.

Keep writing till the end.

#OneDayOnePost.
#TantanganArisanOdop

Sunday, February 28, 2016

Menjadi Penulis : Sebuah Nasehat Tidak Penting.

Saya sudah mencintai dunia ini jauh-jauh hari. Sebabnya sejak kecil saya sudah mengakrabi segala jenis buku bacaan mulai dari komik Detective Conan hingga kumpulan cerpen Putu Wijaya. 

Ketika duduk di bangku SD, teman sebangku saya adalah seorang penulis ulung. Dia yang menularkan semangat menulis itu. Berbekal buku tulis dan pulpen tinta cair. Yup! Kami menulis di buku tulis hingga puluhan banyaknya dan saling memberi saran. Nama teman saya itu Gabriella. Ketika SMA saya dibelikan komputer oleh Ibu, saya toh tetap menulis di buku tulis. 

Sejarah lengkapnya perjalanan menulis saya bisa di lihat di sini.

Sebagai penulis amatir, saya sadar saya masih jauh dari kata 'bagus'. Saya juga belum menelurkan satu bukupun. 

Pencarian akan jati diri tulisan (genre) juga masih Dalam proses dan belum ketemu. Intinya, saya tidak ada apa-apanya dibanding penulis lain. Tapi saya adalah pembelajar yang baik, pembaca yang tangguh, dan pengambil resiko yang ulung. Yap, saya takkan gentar meski beberapa redaksi tabloid menolak cerpen saya. Hehehe.

Apakah cita-cita saya adalah penulis ketika kecil dulu? Tentu saja bukan! Cita-cita saya dulu adalah dokter. Lebih spesifik, dokter bedah. Apakah tercapai, tentu saja tidak. Hahahahahah. Menulis adalah passion saya. Cara saya melarikan diri dari rutinitas yang seolah mematikan krearivitas. Jika diapresiasi oleh orang lain adalah hal yang sangat luar biasa bagi saya, jika dimuat di tabloid ataupun memenangkan lomba, itu bonus. Bonus yang luar biasa.

Saat ini saya sedang tergila-gila dengan beberapa penulis. Dan saya cenderung -tanpa sadar-meniru genre penulis-penulis yang saya kagumi itu. Siapa saja mereka bisa dilihat di sini.

Saya percaya kepiawaian menulis itu bukan bakat sehingga tidak bisa diwarasi melalui gen, melainkan keterampilan, layaknya menyulam ataupun memasak. Practise makes perfect. Latihan membuatnya sempurna. Meskipun standar sempurna dalam dunia kepenulisan sangatlah ambigu di luar konteks masalah EYD maupun pemilihan diksi.

Bagi seseorang, suatu karya sastra dapat saja sangat indah, namun bagi saya biasa saja. Sungguh, ini hanya masalah selera. Untuk itulah, terus sajalah menulis dengan gayamu. Tidak usah muluk-muluk ingin meniru si A, si B. Masing-masing tulisan akan menemukan pembacanya sendiri. 

Karena menulis itu menjadi sempurna dengan latihan, maka menulislah dari sekarang. Tidak cukup hanya dengan berkata "saya ingin menjadi penulis" lalu belum menulis apapun. Ketika ditanya orang tulisan apa yang sudah dibuat kamu hanya bisa nyengir sambil garuk kepala yang tidak gatal "ini baru mau ditulis". Bahkan orang yang telah menulis banyak halpun belum bisa dikatakan penulis jika BELUM DIBACA oleh orang lain. Tidak usah muluk-muluk bisa menginspirasi orang lain. Dibaca saja dulu lah.

Maka, rumus saya, ketika ingin menjadi penulis, menulislah. Orang lain tidak perlu deklarasi diri. Yang mereka butuhkan adalah karya. Toh mereka tidak terlalu peduli siapa kamu, karena yang ingin mereka baca adalah tulisanmu. 

Apakah ada yang kecewa dan protes ketika mengetahui Tere Liye adalah seorang lelaki tulen? Tidak ada! Karena karya-karyanya sangat indah dan menginspirasi. Mengenai jenis kelamin sungguh tidak masalah. Apakah ada yang marah karena Illana Tan tidak menunjukkan jati diri sebenarnya? Tidak ada! Paling hanya mengundang sedikit penasaran karena penulis buku sekuel best seller itu masih misterius. 

Itulah bukti, bahwa industri ini tidak mementingkan siapa dirimu. Bodo amat tentang bagaimana rupamu, sepanjang tulisanmu dibaca, maka kamu layak disebut PENULIS. 

Selain hal-hal yang disebutkan di atas, yang juga mendorong saya untuk mencintai dunia ini, adalah seorang senior ketika kuliah dulu yang berkata "menulislah! Maka kau akan hidup lebih kama dibanding usiamu." Kalimat itu sangat membekas dalam otak saya, padahal yang menggeluarkan kalimat itu sudah lupa dia pernah berkata demikian.

Ya, menulislah! Sebab penulis adalah manusia abadi sepanjang masa. Tidak percaya? Lihat ulasan saya di sini.

Sekian tulisan (tidak terlalu) penting ini. Semoga dapat memberi manfaat meski sedikit.

Salam.

Emak-emak VS Bocah SMP (Round 2)

Seorang anak SMP 14 tahun bernama Audrey ditunjuk jadi PJ arisan di OneDayOnePost dan dia misuh-misuh. Kata dia arisan ini urusan emak-emak. Baca keluhannya di sini.

Saya sudah kasih tahu kalau emak-emak itu sibuk. Urusannya banyak. Yang diurus banyak. Tapi tidak ada yang ngurusin si Emak. Jadi, apalah salahnya jika dia saja yang mengurusi arisan ini?

Terus dia ngeluh bahwa dia pun sibuk. Banyak peer, banyak ulangan, banyak try out. Hey, sini-sini Nak emak kasih tahu ya..tapi sungkem dulu *kasih tangan. Emak sudah sebesar ini kamu pikir habis dilahirkan langsung seperti ini? Emak juga melalui masa SD, melalui masa SMP, melalui ulangan dan try out yang banyak juga. Jadi kami ini sudah paham dengan seyakin-yakinnya kesibukan anak SMP itu tidak ada apa-apa nya dibanding kesibukan kami.

Nggak usah melawan deh, soal siapa yang lebih sibuk itu sudah pasti yang paling sibuk emak-emak. Buktinya ilmiah! Berdasarkan pengalaman seluruh emak di muka bumi. Lah anak SMP ngomong dirinya lebih sibuk berdasarkan apa coba? Dia baru merasakan jadi anak SMP, belum pernah merasakan jadi Emak. So, nggak apple to apple gitu lo cin..

Plus, sini deh. Saya kasih tahu susahnya jadi anak SMP di jaman saya. Itu tahun berapa ya? Sebentar saya pikir dulu. 2003. Kamu tahu di jaman itu ada apa? Ya! Belum ada apa-apa! Handphone adalah barang mewah, kartu perdana adalah barang mewah. Handphone nya segede gaban, murni communicator (baca:komuniketer-komunikasi dan senter) yang nggak bisa dipake untuk browsing tugas apalagi stalking gebetan. Nggak bisa! Soalnya waktu itu Mark Zuckerberg masih SMA. Belum kuliah di Harvard dan menemukan Fesbuk.

Warnetpun masih jarang dan kami, anak SMP di jaman itu tidak familiar dengan internet (eh, iya kan ya? Apa cuma saya saja?). Jadi hampir semua yang berhubungan sekolahan (dan gebetan) kami kerjain manual. Tugas ditulis tangan, sumber bacaannya cari di perpustakaan, flirting gebetan pakai surat, suratnya ditulis tangan, dikirim lewat merpati pos, eh lewat teman.

Belum ada selfi-selfian karena gejetnya belum tercipta, jadi satu-satunya foto yang kami punya hanya pas foto hitam putih yang ditempel di rapor. Fotonya itu lagi cemberut soalnya tukang fotonya nggak pakai aba-aba "satu..dua..tiga ...cheese" sebelum ceklekin tombol kamrenya. Kalau sekarang, ada camera 360 yang memeperindah segalanya.

So, kamipun telah melewati masa SMP. Sudah gitu masa SMP nya tidak semudah masa-masa SMP sekarang.

Jadi, sudah paham kan susahnya jadi MAHMUD (mamah muda) kece macam kami. Udah, nggak usah ngeyel! Nanti kami kutuk jadi ikan lele mau? Eh, masih ngeyel juga. Mau nggak masuk surga? Surga di telapal kaki kami loh ( jumawa).

#onedayonepost
#februariMembara.

Saturday, February 27, 2016

Memori (Part 3)

Setengah jam yang lalu seorang lelaki tegap berkulit pekat mengetuk pintu rumah. Papa yang membukakan pintu untuknya. Ia mengaku sebagai polisi penjaga perbatasan. Ia menyebut namaku dan menyebut nama seseorang yang membuat adrenalinku terpacu.

"Saya ikut. Mari kita pergi sekarang." Tidak kupedulikan tatapan tajam mata Papa. Mata biru itulah yang diwarisi padaku. Rasanya langka memiliki kulit coklat dan mata biru ini secara bersamaan. Apakah ada orang lain di dunia ini selain aku dan Papaku yang pigmen warna dalam tubuhnya sangat kontras seperti ini?

"Ini sudah malam!" Hardik Papa "kau  jangan kelewatan."

"Saya pergi dengan seorang polisi. Apakah ada yang lebih aman dari itu?" Tanyaku rendah namun tajam.

Selain itu aku sudah 32 tahun. Untuk apalagi sebenarnya Papa memperlakukanku seolah-olah masih 17 tahun?

"Kau pergi menemui laki-laki itu!" Papa bersungut.

"Laki-laki itu datang jauh-jauh menemuiku. Lalu apa salahnya?" Sahutku kesal.

"Oke..oke.. Bagaimana kalau nona pergi besok pagi saja. Bersama saya. Benar kata Papa nona. Kalau malam agaknya cukup berbahaya." Polisi perbatasan mencoba melerai perdebatanku dengan Papa. Agaknya dia merasa tidak enak telah mendatangi kediaman tetua desa selarut ini.

"Berbahaya mana dengan tahun 1999?" Tanyaku gemas. "Lagipula, bapak pun tidak yakin sampai kapan laki-laki itu mau menunggu saya di sana."

"Tapi dari sini perjalanannya 6 jam," Polisi itu menyahut.

"Maka dari itu kita harus pergi sekarang agar bisa tiba dini hari."

Papa dan si Polisi tampaknya telah kehabisan kata. Setelah itu mereka membiarkanku menumpang kendaraan Polisi selama enam jam menuju tempat lelaki itu menungguku. Aku sudah tidak sabar.

Aku tiba saat matahari masih terlelap. Angin membawa hawa dingin menerpa barisan pohon cendana di daerah ini. Satu dua penjaja makanan kaki lima mulai berdatangan. Hal yang sangat lazim di tiap-tiap pintu perbatasan. Polisi yang menemani perjalananku menuju ke dalam pos untuk melapor.

Aku menghampiri salah satu lapak pedagang dan membeli dua cangkir kopi panas serta lima potong paung. 
"Ini, silahkan diminum," Aku menyodorkan secangkir kopi yang masih mengepul ke arah polisi-yang bahkan tidak kuketahui namanya itu-ketikaa ia keluar dari pos jaga dan menghampiriku.

"Terimakasih. Setelah ini biar saya panggilkan laki-laki itu di tempatnya menginap" katanya kemudian.

"Ah, tidak perlu terburu-buru. Tinggulah sampai matahari muncul," sahutku.

"Baiklah kalau nona bilang begitu," Polisi tegap berkulit pekat itu menyeruput dari gelas kopinya.

Aku menghirup napas dalam-dalam. Segar. Aku menikmati setiap detik penentian yang telah menemukan ujungnya. Lima belas tahun bukan penantian yang ringkas. Aku percaya suatu saat lelaki itu akan datang. Lima belas tahun yang lalu ia adalah lelaki yang tidak pernah mengingkari janjinya. Pastinya saat inipun demikian sehingga ia merasa perlu jauh-jauh menemuiku.

Lima belas tahun berlalu dan aku menjalani hidup dengan memendam rasa yang menyesakkan ini.

"Saya akan pergi menemui laki-laki itu." Polisi perbatasan itu menyadarkanku dari lamunan. Matahari tersipu-sipu di ufuk Timur. "Nona tunggu di sini saja,"

Polisi itu beranjak dan berjalan beberapa ratus meter sebelum menghilang ke dalam sebuah rumah. 

Adrenalin ku kembali berpacu. Kenapa hati ini tidak juga tenang padahal sebentar lagi akan menemui pemiliknya?

Di kejauhan tampak Polisi itu keluar dari sebuah rumah, di belakang nya di susul seorang lelaki timor paruh baya. Di belakangnya lagi... Deg! Seolah jantungku berhenti memompa darah.

Itu dia. Lelakiku. Lelaki yang membawa pergi hati dan begitu lancang telah mencurinya dariku selama lima belas tahun ini. Apa yang berubah dari dia? Tubuhnya bertambah tinggi. Rahangnya bertambah tegas. Matanya semakin tajam. Mata itu bergerak liar ke segala arah. Tampaknya ia belum menyadari keberadaanku. Ataukah dia lupa seperti apa rupaku. 

Aku beranjak menuju ke lapak tempatku memesan kopi tadi untuk membayar dan membeli 3 potong paung lagi. Aku segera membayar dengan beberapa sen dollar. Di sini rupiah dan dollar sama kuatnya. Sama-sama digunakan.

Ketika selesai bertransaksi, aku kembali mengalihkan pandangan ke arah lelaki itu. Di pandangan itulah mata kami saling bertumbuk. 

Adrenalinku semakin terpacu. Aku gugup sehingga nyaris menjatuhkan bungkusan paung dari genggamanku. Aku membisikkan namanya.

Matanya menatapku lekat-lekat. Aku tersenyum lalu berlari menghambur ke dalam pelukannya.

"Terimakasih sudah datang menemuiku"

#OneDayOnePost
#FebruariMembara

Friday, February 26, 2016

Pulpen Hilang : Jadikanlah Ladang Ibadah :D

Di ODOP lagi heboh bahas pulpen. Nggak percaya? Lihat aja di Blog Bang Syaiha dan Blog Mbak Julia ini
 Ya, hal sekecil apapun bisa jadi bahan perbincangan hangat di komunitas One Day One Post. Kenapa pulpen dibahas karena sering bilang. Saya juga sering mengalaminya. Berapa lusin dibeli pun tetap akan hilang.

Bahkan, teman-teman di kantor sering bilang begini "Kalau taruh uang dan handphone di meja ditinggalin, percayalah ketika kita balik benda-benda itu masih di atas meja. Di posisi semula. Tapi kalau tinggalin pulpen dan kue, percayalah lengah sedikit pasti raib" 

Yap, di kantor saya, selain pulpen yang sering tiba-tiba hilang adalah makanan. Kalau pulpen masih bisa dicari kalau makanan jangan harap deh! Sudah di perut orang lain pasti.

Dan kalau kita bersungut-sungut, "siapa yang ambil kue saya?!" Hanya akan memperoleh jawaban "Makanya jangan ditinggalin di meja!.".

Lah siapa yang tinggalin? Orang cuma ditinggal ke toilet sebentar. Lagian di meja sendiri ini. Ya begitulah...

Nah, karena begitu seringnya kehilangan pulpen (dan juga kue) saya anggap saja itu ibadah biar ikhlas.

Gambar dari Google


'Awas aja lu di akhirat! Gue minta ganti pake pahala!' Hahahaa. Nggak sekejam ini juga sih.

Maksudnya, ketika pulpen kita diambil orang ikhlaskan sajalah meski jengkel. Selama pulpen itu dipake untuk kepentingan yang baik (kalau dipake buat colok mata orang itu adalah kepentingan yang tidak baik) maka Insya Allah pahala juga akan mengalir ke pemilik pulpen yang hilang. Yakinlah! Yakinlah! Heheh

#OneDayOnePost
#FebruariMembara

Thursday, February 25, 2016

Memori (Part 2)

"Terimakasih telah datang untukku" suara lembut wanita itu berbisik di telingaku. 

Tubuhnya masih dalam dekapanku. Menghentakkan memoriku ke lima belas tahun silam. Pantai Fatucama. Patung Kristus Raja. Wanita bermata sebiru laut Flores. Aku tidak tahu cinta pertama bisa sedasyat ini. Menghujam. Membekas.

Telepon genggam di kantung celanaku berdering. Aku menjauhkan tubuh wanita itu dari dariku, merogoh kantung celana, kemudian berjalan menjauh demi melihat nama yang tertera di layar ponselku.

Aku memberikan isyarat untuk menjawab telepon dan wanita itu mengangguk. Aku berbicara sekenanya pada orang di seberang telepon. Mataku tetap lekat pada wanita kulit coklat di bawah pohon cendana itu. Memerhatikannya membuat memoriku kembali mengelana. Lima belas tahun silam dan rasa yang kata ayahku hanya cinta monyet masih meyisakan lubang kelam di sana. Sialan!

"Kau masih ingat nama makanan ini? Kita sering beli di kantin sekolah dulu" Ujar wanita bermata biru itu begitu aku menutup telepon dan menghampirinya.

"Paung" Kami menyebut nama roti yang dipegangnya itu hampir bersamaan lalu tertawa terbahak. Masa SMA memang sulit dilupakan. Dan roti seperti bakpau namun tanpa isi itu mewarnai masa SMA kami.

"Apa yang kau lakukan lima belas tahun ini?" Tanyanya kemudian.

"Aku?" Sedikit kaget mendengar pertanyaannya. Haruskah kujawab aku menghabiskan lima belas tahun untuk melacak keberadaannya? "singkat cerita, aku menjadi kepala divisi eksplorasi di salah satu perusahaan tambang bijih besi"

Wanita itu mengangsurkan sepotong paung padaku. 

"Obrigado" Kataku sambil mengambil penganan khas tersebut dan langsung menggigitnya.

Dia tertawa. Senyumnya semanis dulu. Giginya serapih dulu. "Aku ingin dengar versi panjangnya" Katanya. "ya, di Kupang memang banyak tambang bijih besi. Jadi kau kesini karena ada urusan pekerjaan?"

"Begitulah. Perusahaanku mengekspor bijih besi NTT" Jawabku sekenanya. "lalu kau, apa yang kau lakukan lima belas tahun ini?"

"Menjalani hidup" Jawabnya singkat. "dan mencintaimu".

Aku tertegun mendengar jawabannya. Potongan paung yang terlanjur kugigit, mati-matian kutelan. 

Di ufuk timur fajar sudah sempurna merekah. Berkas sinarnya membuat kulit coklat wanita di sampingku ini berkilau. Pohon-pohon cendana tua sudah bangun dari tidur semalam. Dedaunannya bergemirisik menyambut angin pagi yang berlarian menerpa.

Tanpa kusadari tempat ini sudah ramai saja. Penjaja makanan ringan semakin banyak berdatangan.

"Siapa yang menelpon tadi?" Tanyanya lagi.

"A..apa?" Aku tergagap.

"Siapa yang telepon tadi? Apakah penting? Apakah kau harus segera pergi?" Tanyanya memburu.

Aku terdiam. Haruskah kukatakan yang menelpon adalah seorang wanita yang sebulan lagi aku akan aku nikahi? Seorang wanita yang bukan dirinya.

PS : 
 Paung : Penganan khas Timor-Timur. Bentuknya seperti bakpau namun tidak ada isi di tengahnya.

Obrigado : Ungkapan terimakasih. Digunakan di beberapa negara seperti Portugis, Brazil dan Timor-Timur

#OneDayOnePost
#FebruariMembara

Tuesday, February 23, 2016

Puisi-kan Tantangan ODOP!

Tadi pagi brosing-browsing puisi Aan Mansyur. Tahukah kamu siapa dia? Ya! Dia yang puisinya akan digunakan dalam film fenomenal Ada Apa Dengan Cinta 2.

Tidak. Tidak. Tulisan ini tidak akan membahas tentang AADC 2 apalagi tentang puisi Aan Mansyur. Saya cuma ingin bilang, karena tadi pagi teracuni dengan keindahan puisi (ceilehh) jadinya malam ini ingin menulis puisi. Karena tantangan ODOP minggu ini adalah membuat artikel tentang ODOP, dan telah banyak anggota yang telah sukses melakukannya, maka saya akan membuat versi puisinya saja. Hehe.

Tentang
Rasa rasa
Yang tak terkatakan
Dengan bahasa apa saja

Juga tentang asa milikmu
Yang kau pendam
Tanpa kata
Tukiskanlah!

Tuliskanlah
Meski lelah
Atau kau jengah
Jangan pernah lagi menyerah.

Jangan!
Jangan berhenti
Tulis sesuka hati
Tidak ada yang peduli.

Ingat
Setiap saat
Haruslah kita giat
Membaca, mendengar, menulis mencatat.

Biasakan diri menjadi bijak
Pastikan tinggalkan jejak
Hidup sejenak
Kelak....

Dikenang di akhir hayat
Tentang ayat-ayat
Dalam kalimat 
Sarat...

One Day One Post
Jangan sampai lolos
Harus nge-post

Pastikan menulisnya tiap hari tanpa jeda
Atau kau diomeli Bang Syaiha
Dan penyesalanmu tak terkira
Harus nyetor kemudian
Hutang tulisan
Camkan!

Saya telah kehabisan kata-kata
Puisi yang tak berkesudahan
Sudahlah sudahi saja
Tidak tahan!
Pening.

(Sekian puisi saya yang tidak jelas. Semoga cukup menjawab tantangan ODOP)

#OneDayOnePost
#HariKeEnamBelas

Friday, February 19, 2016

Ketika Takdir Tidak Begitu Baik padamu, Ayah

Garis-garis usia di wajah tuamu, Ayah, seperti ruas-ruas jalan yang menyimpan cerita. Di sana ada aku bayi yang tidak pernah berhenti menangis dan kau malah tersenyum merekam tingkahku dalam memorimu. Dalam hati kau berjanji besok kerja lebih keras lagi untuk beli mainan baru. 

Di satu garis lagi ada aku kanak-kanak yang selalu minta jalan-jalan dan bertanya ini itu. Kau tidak pernah lelah menggendongku di pundakmu dan menjawab tiap pertanyaan tidak penting dengan sabar. Di suatu garis lagi ada aku remaja yang terkadang membakang dan malas belajar hingga kau geram karena nilaiku kurang memuaskan. Tapi kau tetap tidak berhenti membanggakan. Ini anak gadisku yang tidak pernah bolos sekolah.

Tiap kerutan di wajahmu menandai usiaku, Ayah. Di sana ada aku yang kau hadiri wisudanya meski sambil berdiri karena tidak kebagian tempat duduk. Di sana ada aku yang kau tangisi pernikahannya karena setelah ijab kabul berarti kau melepasku pada lelaki lain yang belum juga kau yakini kesanggupannya merawatku.

Ayah, ketika takdir tidak begitu baik padamu maka ingatlah kau memiliki anak gadis yang sungguh mengagumi kedalaman ilmumu yang seperti sumur tidak berdasar. Ketika hidup agak kejam padamu maka ingatlah kau memiliki anak gadis yang mensyukuri segala harta benda yang telah kau belanjakan untuk mencukupi kebutuhanku hingga dewasa. Bahkan masih sering pula kau mengantarku pulang pergi ke kantor sedewasaku ini.

Aku sadar sebagai anak belum juga terbilang soleha. Aku tidak bisa menjanjikan mahkota emas di surga untuk kau kenakan, aku tidak menjanjikan menjemputmu di pintu surga. Justru aku mengharapkan keridhoanmu, Ayah. Cuma lantunan doa di tiap-tiap ujung sujudku yang kupanjatkan mengangkasa. Berharap usiamu masih panjang, kesehatanmu masih panjang,rejekimu masih panjang untuk menyaksikan peristiwa-peristiwa dalam hidupku selanjutnya, meski itu berarti menambah garis usia di wajahmu.

Ketika takdir tidak begitu baik padamu, Ayah. Maka ketahuilah bahwa segalanya baik-baik saja. 

#OneDayOnePost
#FebruariMembara
#HariKeLimaBelas

Thursday, February 18, 2016

Rumah Gelandangan


Setiap bertemu dengan gelandangan yang terlunta-lunta di jalan, wanita paruh baya tersebut akan menghampiri dan mengajaknya berbicara. Ekspresi wajah keriputnya akan beruah-ubah seiring dengan alur cerita. Ikut menangis ketika si gelandangan menceritakan kisah pilu,ikut tertawa ketika gelandangan tersebut menceritakan kisah konyol. Seringkali aku bertanya-tanya tentang apa yang bisa ditertawakan dari kehidupan menggelandang di jalan.

Lain halnya jika yang ditemuinya menggelandang adalah anak kecil. Sepanjang cerita wanita tersebut akan memeluk dan merangkul gelandangan kecil. Tidak peduli seberapa bau aroma tubuh si kecil, tidak peduli seberapa kotor kulitnya. Ia tetap akan memeluk hangat, penuh kasih sayang.

Setiap gelandangan yang ditemuinya di jalan berakhir sama. Dibawanya pulang ke rumah. Disuruhnya tinggal sampai kapanpun, sampai mereka memiliki tujuan mau kemana hingga rumah dua lantai ber cat putih tulang itupun penuh gelandangan. Mungkin sudah lebih dua puluh gelandangan menyesaki huniannya.

"Mami, kapan sih mami berhenti bawa gelandangan pulang? Rumah sudah sesak. Nindy bahkan harus berbagi kamar dengan 3 gelandangan!" Anak bungsunya suatu ketika protes. "Seperti sudah tidak ada privasi di rumah ini. Di setiap sudut rumah ada gelandangan!"

"Nindy!" Wanita itu berseru. "Jaga bicaramu. Kalau kamu begitu terus mending kamu saja yang angkat kaki dari rumah ini."

Ucapan itu akhirnya keluar juga. Menyebabkan mata bulat milik putri semata wayangnya berkaca-kaca. Kalimat yang sama lima tahun lalu telah pula membuat putra sulunya mengemas barang-barang ke dalam koper dan angkat kaki dari rumah mereka.

"Kamu tau, kalau Mami diusir dari panti, Mami pun akan kembali menggelandang," Wanita tua itu melanjutkan kalimatnya.

"Tapi ini bukan panti sosial, Mi!" Nindy menyela.

"Kamu tidak tau bagaimana kejamnya hidup di jalan. Kalau kamu tau kamu pun sakit hati jika diusir!"

"Terserah Mami. Nindy mau tinggal sama mas Nino aja!" Nindy meninggalkan kamar ibunya dan tampaknya setelah ini akan mengemasi pakaian dan minggat ke rumah si abang.

Wanita tua paruh baya tersebut ketika lahir telah dibuang oleh ibunya di depan emperan sebuah toko. Tubuh mungilnya kemudian ditemukan oleh sepasang gelandangan yang hidup nomaden di dalam gerobak. Bayi merah itulah yang tumbuh menjelma menjadi sosok gadis jelita. Kehidupan jalanan yang keras justru melembutkan hatinya.

Suatu ketika razia gelandangan membuatnya harus tinggal di panti. Ia seperti menemukan keluarga baru di sana. Ia mendedikasikan seluruh hidupnya untuk panti sosial tersebut. Ia tumbuh menjadi wanita cantik berhati malaikat. Menangis atas kepedihan orang lain. Tersenyum atas kebahagiaan orang lain.

"Apakah aku salah?" Wanita itu bertanya pelan menyadarkanku yang terjatuh dalam lamunan.

"Tidak, sayang," jawabku sambil beranjak dan memeluk tubuh tuanya.

Wanita tua itu adalah istriku. Dua puluh delapan tahun yang lalu aku menikahinya dan berjanji untuk tidak pernah lagi membuatnya harus tinggal di panti, terlebih menggelandang di jalan.

Pernikahan kami memberikan dya anak yang mewarisi kebaikan budinya. Aku merasa keluarga kecil kami sudah sempurna dan utuh. Namun tidak baginya. Ia tidak pernah merasakan keutuhan itu. Maka lima tahun lalu ia mulai mengumpulkan gelandangan dari jalanan untuk tinggal di rumah kami. Ia menjadikan rumah kami seperti panti sosial.

Gelandangan dan panti membuatnya merasa utuh.

#OneDayOnePost
#FebruariMembara
#HariKeEmpatBelas

Wednesday, February 17, 2016

Letter to 30 Years Later

Sudah rabu dini hari dan kewajiban menulis untuk hari Selasa belum dilaksanakan. Bisa-bisa dikutuk sama bang Syaiha "Celakalah orang-orang yang menulis hanya ketika mood" aihhh mateeek!

Oke, tanggal 16 Februari kemarin suami saya ultah, jadi saya akan memberinya sebuah hadiah. Hadiahnya adalah surat untuknya di masa depan.



Dear, kamu tiga puluh tahun lagi. Ketika Tuhan masih memberimu umur panjang, maka saat ini tentunya kamu sudah menginjak usia 58 dan aku 55. Ketika Tuhan memberimu umur panjang hingga tiga puluh tahun lagi tentunya kamu saat ini sedang membaca tulisanku dan aku sedang duduk di hadapanmu sambil tersenyum. Rambut kita sudah sedikit memutih dan wajah kita sudah banyak kerutan.

Kalau Tuhan memberimu umur panjang, namun tidak untukku, maka doakanlah. Doakanlah aku sayang. Jika Tuhan memberiku umur panjang namun tidak untukmu, maka aku akan membacakan surat ini dengan perantara doa-doa yang dapat mengtuk pintu langit.

Tiga puluh tahun sudah berlalu. Anak-anak kita sudah tumbuh dewasa. Gagah seperti dirimu. Aku yakin itu. Tiga puluh tahun yang lalu saat ulang tahunmu yang ke 28 kamu sedang di Pinrang menemui ibumu sebab beliau merindui anak lelakinya yang sudah (baru) 4 bulan berada di Manado menemani anak dan istrinya. Tapi 4 bulan itu bilangan yang cukup lama sebab kamu tidak pernah meninggalkan ibumu selama itu.

Aku harap anak-anak kita tumbuh menjadi pemuda-pemuda sepertimu yang sangat dekat dan menyayangi orang tuanya.

Aku ingin mengucapkan termikasih banyak sudah 33 tahun menemaniku mengarungi kehidupan yang kadang sangat baik namun bisa pula sangat kejam. Namun kamu selalu mengajariku untuk menertawai kehidupan. Kamu tidak pernah sekalipun mengeluh dengan lelucon-leluconmu yang khas itu. Mungkin sedikit-sedikit haya mengeluh tentang lemak di perutku atau berat badanku yang merangkak naik. Tapi toh kamu tetap rajin memelukku dengan mesra walau di tempat-tempat umum sekalipun.

Terimakasih. Terimakasih untuk tidak pernah membanding-bandingkan aku dengan perempuan manapun. Terimakasih untuk diam dan mendengarkan ketika aku mengomel panjang lebar. Terimakasih untuk tidak menegur dengan kasar dan menyakitkan.

Terimakasih untuk anak-anak yang lucu dan menyenangkan.

Masih ingatkah kamu 35 tahun yang lalu kita pertama kali bertemu. Jauh di pelosok Sulawesi Selatan. Di perusahaan nikel terbesar kedua di dunia. Sorowako. 

Pertemuan yang biasa saja. Pertemanan yang biasa-biasa saja. Sebab saat itu kita sama-sama sedang menyukai orang lain. Tapi setahun kemudian kamu mendatangiku ke Jakarta, menemuiku yang sedang pelatihan dan mengantarku ke bandara ketika aku harus kembali ke Manado untuk mulai bertugas di salah satu bank plat merah. Setelah menikah kamu bilang itu adalah momen terberat dalam hidupmu. Melepas orang yang kamu sayang tanpa kepastian kapan bisa berjumpa lagi sebab kamupun harus mulai kerja di Kalimantan.

Karena itulah setelah perpisahan di bandara kamu datang lagi ke Manado. Bukan menemuiku tujuan utamamu. Tapi menemui ayahku. Ketika itu aku 23 dan kamu 25. Rasulullah menikah di usia 25. Begitu kalimatmu pada ayahku. Dan ayahku tentu saja sudah bisa menebak kemana arah pembicaraanmu. Maka pada tahun yang sama kita menikah.

Setelah menikah aku mendapati kamu adalah lelaki yang begitu sabar menghadapiku. Meskipun tidak sabar kalau menghadapi macet. Kamu adalah lelaki yang tidak pernah protes dengan masakanku yang seringnya tidak enak. Meski kemudian setelah makan kamu akan bilang. "Jangan masak ini lagi ya". Hehehe.

Kamu adalah lelaki yang sangat menyayangi keluarga. Betah di rumah, yang kemudian aku racuni dengan virus jalan-jalan. Di rumah terus  itu membosankan, sayang. Maka setiap hari setelah menjemputku dari kantor kamu akan bertanya " kita mau kemana?"

Kamu adalah lelaki yang sangat jenius dan kreatif, sehingga pagar rumah, yang terbuat dari besi itu, kamu sendiri yang membuat. Pintu kamar mandi kamupun yang membuat dan memasang, dinding rumah kamu sendiri yang mengecat. Bahkan ketika Mobil ayah rusak kamu pula yang perbaiki.

Terimakasih untuk stok cinta dan sabar yang seolah tidak pernah habis.

Terimakasih untuk memilih Dan menua bersamaku.

Semoga sisa umurnya berkah entah untuk berapa lama lagi. 

Terimakasih.

#OneDayOnePost
#FebruariMembara
#HariKeDuaBelas.

Monday, February 15, 2016

Divorbia

Lima belas tahun. Lima belas tahun rupanya tidak cukup lama untuk membangun pondasi rumah tangga yang kita susun atas dasar cinta. Ah, aku lupa. Katamu cinta itu seperti es batu. Menggigit ketika dia baru dikeluarkan dari lemari es. Lalu menguap lenyap seiring waktu.

Tiga. Tiga buah hati rupanya belum cukup menahan hatimu tetap pada hatiku. Apakah kau lupa dulu selepas SMA, kau yang memintaku menjadi istrimu? Lihat ini cincin kawin ibumu yang kau lingkarkan di jariku sebagai mas kawin kita waktu itu. Masih aku kenakan.

Ah, sayangku. Kehilangan dan ditinggalkan hanya memiliki satu rasa. Getir. Kau masih ada. Namun cintamu tidak. Kau masih di sini. Namun hatimu tidak. Hal itu sudah cukup memberiku rasa getir. Maka dari itu kubiarkan saja kau mengemasi sisa barangmu dari rumah yang selama lima belas tahun menjadi tempat kita pulang. Katamu rumah ini untukku dan anak-anak saja.

Palu sudah diketuk tiga kali bulan lalu setelah upayamu meminta rujuk aku tampik. Hanya satu tuntutanmu yang aku setujui. Mengambil anak-anak ketika akhir pekan dan mengembalikan padaku ketika senin tiba.

Kau menangis. Aku tahu itu. Kau menangis setiap kali melihat bungsu kita yang baru berusia sepuluh bulan. Aku tahu kaupun kerap berbisik di telinganya meminta maaf. Aku juga. Maafkan bunda, malaikat kecil.

"Aku sangat kehilanganmu dan anak-anak" katamu suatu Senin ketika mengembalikan anak-anak padaku. 

Aku diam sambil meraih bungsu kita dari pelukanmu. Aku diam memendam aneka rasa yang bergumul dalam hatiku. Kau sudah bukan suamiku lagi, jadi untuk apa aku memperlihatkan kerapuhanku padamu? Mungkin penyesalanmu itu bisa kau simpan untuk kau ceritakan pada anak-anak kelak.

Katamu dulu seindah apapun sebuah kisah cinta, pasti memiliki akhir. Dan dulu kau begitu yakin ini akhir kisah kita. Kau yang berhenti mencintaiku, ketika aku masih mencintaimu dulu.

Setelah Senin itu, kau hanya mengantar anak-anak sampai di depan gang. Bungsu kau suruh sulung kita yang baru tiga belas tahun itu yang menggendong. Ketika aku membukakan pagar rumah dan menyambut kepulangan tiga malaikat kita, aku bisa melihatmu di ujung jalan itu memperhatikan kami. Memastikan anak-anak sampai kepada ibunya dengan selamat.

Terimakasih untuk lima belas tahun terindah yang pernah aku rasakan. Kau mengakhirinya dengan memberikan rasa sakit yang hingga kin masih aku tanggung.

Maafkan bunda, malaikat-malaikat kecil. Maafkan ayah dan bunda.

#OneDayOnePost
#FebruariMembara
#HariKeSebelas

PS : 
cerita ini terinspirasi dari kisah nyata. Dulu saya sangat mengagumi penulis buku "Nikah Dini Keren" bukunya sangat menginspirasi. Menceritakan tentang perjalanan hidup penulis melamar dan menikahi pujaan hatinya selepas SMA. Saking kagumnya saya sampai meng -add fb penulis dan istrinya itu. Belakangan saya tahu (dari timeline fb dia dan istri) bahwa mereka sudah bercerai. Saya terpukul mengetahuinya. Karena kisah di buku itu begitu sempurna. Dan sangat menginspirasi saya menikah muda. Heheh

Tentu saja saya tidak tahu apa penyebab perceraian mereka. Dan mereka termasuk orang yang paham agama sehingga tidak membeberkan prahara rumah tangga di mesdos. Penggambaran kisah di atas murni sudut pandang saya yang hanya sebatas menerka-nerka dari puisi-pusi yang dibuat si istri di FB nya.

Lalu dua hari yang lalu saya menemukan video ini di time line si istri (yang dibuat oleh mantan suaminya )dan saya tidak bisa membendung kesedihan saya lagi.

Check this video :

Saturday, February 13, 2016

Next Target : A.A Navis Award 2016


Saya sudah pernah bilang kan kalau saya lagi getol-getolnya berburu lomba menulis? Eh, belum pernah bilang ya? Sudah deh perasaan!

Setelah terseok-seok dengan sastra hijau seperti yang saya posting di SINI, yang menyebabkan saya jadi lumayan down dan enek baca apapun,heheh,maka target saya selanjutnya adalah lomba AA Navis Award (target dapat berubah sewaktu-waktu tergantung event apa yang terdekat).

Nah, soal A.A Navis Award selanjutnya dapat dicari di Google. Banyak sekali informasi yang merujuk ke event ini. 

A.A Navis sendiri adalah seorang penulis yang karyanya tak lekang oleh waktu. Dialah empunya cerpen "Robohnya Surau Kami" jujur saja saya baru belakangan ini baca cerpen tersebut. Tapi, rasa-rasanya judul cerpen itu sangat familiar di telinga sejak dulu.

Event ini sendiri menurut saya sangat unik. Diselenggarakan oleh 3 institusi berbeda yakni sebuah universitas di Indonesia, sebuah Universitas di Australia dan sebuah penerbit dalam negri.

Event ini bukan hanya memperlombakan cerpen, namun juga novel. Bagi tulisan terbaik Dan terpilih akan akan diberi hadiah, diterbitkan dan yang lebih istimewanya lagi diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris untuk dikonsumsi oleh masyarakat international (itulah sebabnya salah satu stakeholder event ini adalah universitas di Australia).

Anda tertarik mengikuti tantangan ini? Saya juga. Dan saya telah mempersiapkan diri dengan mulai membaca karya-karya A.A Navis sejak sekarang supaya memiliki gambaran bagaimana kriteria tulisan yang diinginkan. Oh, ya deadlinenya masih lama. Kalau tidak salah sekitar bulan Mei, jadi persiapannya masih bisa dimatangkan lagi.

Keep writing!

#OneDayOnePost
#FebruariMembara
#HariKeSepuluh

Thursday, February 11, 2016

Tidak Mood Nulis!

Apa yang harus saya tuliskan ketika tidak ada yang terlintas dalam pikiran? Benar-benar tidak ada yang ingin saya sampaikan. Atau sebenarnya ada tapi saya belum tahu. Atau saya sedang lupa?

Biasanya kalau sedang di kantor malah banyak ide berkeliaran. Maunya menulis. Giliran lagi santai jadi ogah-ogahan menulis. Soal menulis ini mungkin sudah mengalir dalam darah saya dan adik laki-laki saya satu-satunya. Saya yakin ini semua ada hubungannya dengan profesi bapak saya waktu muda dulu (sebenarnya kerja sambilannya dia sambil kuliah) yaitu karyawan Manado post dan profesi ibu saya (sambilan juga karena setelah menikah dia memilih jadi ibu rumah tangga sepenuhnya) sebagai editor di Manado Post. Jadi ketika itu Bapak saya yang cari berita ditulis, ibu saya yang edit-edit dan atur lay out nya di koran. Dari sanalah bibit -bibit cinta mereka bersemi. Aihhh..

Saya juga yakin sesungguhnya ibu saya sangat menggilai buku. Ketika sedang mengujungi adik saya di Bandung dan ditinggal masuk kuliah ibu saya merasa bosan di kos-kosan adik saya sendiri tanpa melakukan apapun. Jadilah diktat kuliah dibacanya. Ibu saya itu hanya lulusan SMA. Tahu tidak adik saya kuliah nya apa? Teknik Fisika. Jadi bagaiman ibu saya mengerti. Mendapati sang ibu membolak balik diktat kuliah keesokan harinya adik saya membawakan majalah kampus untuk beliau baca.

Kalau bapak saya jangan ditanya. Mulai koran sampai berita elektronik  dilahapnya semua. Sampai-sampai novel pertama saya dibuku tulis sekolah yang saya tulis pakai pulpen dibacanya juga. Kan saya malu!

Kalau sedang tidak mood menulis seperti ini, saya jadi teringat masa-masa SD saya bersama adik semata wayang. Kami rajin menabung karena tiap minggu ketagihan beli komik bekas di Toko loak. Komik bekas karena bisa dapat banyak dibanding kalau beli komik baru di Toko buku. Dari komik, kami beli cerita rakyat. Rasanya cerita rakyat 27 provinsi (waktu saya SD kalau tidak salah provinsi masih 27) lengkap semua. Setelah koleksi lengkap, kami beralih ke 25 cerita nabi. Setelah itu lengkap, bapak saya di kabari oleh temannya yang bekerja di perpustakaan kota manado bahwa ada buku bagus. Kisah kisah teladan mulai dari abu nawas sampai kisah sahabat nabi. Setiap ada seri terbaru yang masuk bapak saya selalu pinjam di perpustakaan kota tanpa mengembalikannya (jangan ditiru ya.hehe).

Lalu karya sastra pertama yang saya baca (sampai dua kali) adalah "Tenggelamnya Kapal Van Der Wijk" saya temukan bukunya di perpustakaan SMP saya. Karena jatuh cinta pada tulisan tersebut saya memutuskan menyimpan buku itu di rumah alias nggak dibalikin lagi (sekali lagi jangan ditiru.hahah).

Cerpen pertama saya berjudul Tupai yang Baik Hati dibaca oleh Ibu  dan beliau bilang bagus. Itu saya tulis ketika SD. Cerpen pertama saya yang masuk majalah sekolah judulnya "Kamu Cantik, Marrylin" sukses membuat saya dimusuhi oleh sahabat SMA saya, Marrylin, karena itu curhatannya dia semua.heheh

Cerpen pertama saya yang di muat di surat kabar lokal berjudul " Actio", Bikin gondok karena  koran lokal itu tidak memberi kabar ketika memuat cerpen saya itu. Sudah nggak dikabarin, nggak dapat honor pula. Hehe.

Cerpen pertama saya yang menembus tabloid nasional (tabloid Teen) berjudul cowok "Turtle Neck" diberi honor Rp.150.000. Senang sekali rasanya. Tahun 2005, uang segitu banyak kan untuk ukuran anak ingusan macam saya. 

Setelah itu saya vakum menulis. 
Lalu cerpen berikutnya yang dimuat di majalah nasional lahir. Tahun 2013. Itu ketika sudah bekerja  berjudul "Bukan Gadis Bugis" dimuat di majalah CHIC yang ketika itu foto covernya Taylor Swift yang mana adalah penyanyi favorite saya pakai banget! Senangnya dobel apalagi honornya lumayan buat traktir teman kantor. Hehe.

Hmmm,, apalagi ya.... Oh ya, suami saya tidak suka membaca. Jadi tidak pernah ada satupun cerpen saya yang dibacanya sampai habis. Sebagai gantinya dia minta diceritakan. Sejak saya kenal suami saya ini, satu-satunya buku yang seperti nya tuntas dia baca (selain diktat kuliahnya) hanya satu. Itu, yang judulnya Rich Dad Poor Dad (eh, betul kan begitu judulnya).

Hmm..apa lagi ya.. Saya benar-benar tidak tahu harus menulis apa.

#OneDayOnePost
#FebruariMembara
#HariKeSembilan

Wednesday, February 10, 2016

Cerita Anak Dan Genre Tulisan yang Random


Sepertinya konsep Mestakung (semesta mendukung) benar-benar sedang terjadi pada saya. Saya sangat percaya dengan teori-teori tentang alam raya yang seolah memiliki "echo" dan dapat memantulkan kembali segala afirmasi yang kita ciptakan dalam pikiran. Bukankah Tuhan juga telah berkata "Aku adalah seperti persangkaan hambaku"? Jadi ya, berpikirlah yang positif terus, bercita-citalah yang tinggi(selagi gratis ini), dan berdoalah tanpa tanggung-tanggung (yang banyak dan WAH sekalian).

Di tahun 2016 saya ingin punya resolusi biar hidup tidak lempeng seperti tahun - tahun sebelumnya. Awalnya, resolusi saya adalah punya bisnis sendiri dan membuka salon muslimah adalah target saya. Namun dikarenakan membutuhkan modal yang besar (Dan orang-orang yang awalnya mau sharing modal tampak tidak ada pergerakan) saya mengubah resolusi ke plan b yaitu mulai aktif menulis dan memproduksi karya.

Soal menulis ini sebenarnya adalah resolusi 2014. Menerbitkan kumpulan cerpen. Duet sama sahabat yang kebetulan juga suka menulis. Eh, makin kesini kami sibuk masing-masing sehingga kumcer pun terbengkalai. Saya sudah buat beberapa cerpen. Terlalu sedikit jika harus jadi kumcer. Terlalu sayang jika cuma di kirim ke tabloid atau redaksi surat kabar. Selain itu saya tidak punya waktu (gaya banget) untuk mencarikan majalah atau tabloid yang cocok untuk masing-masing cerpen saya. (Saya memang menulis dengan beberapa tema. Ada romance, thriller, keluarga.)

Terus. Mau saya apakan dong ceepen-cerpen yang sudah terlanjur dibuat dari tahun 2014 ini? Tiba-tiba di akhir tahun 2015 kemarin sebuah ide terlintas dalam kepala. Bagaimana kalau diikutkan lomba saja? Sejak saat itulah saya aktif berburu lomba dan event kepenulisan.

Berpikir kalau berjuang sendiri nggak enak jadilah saya juga bergabung dengan "komunitas bisa menulis" di fb. Berharap dengan bergabung bersama komunitas yang se-visi, minimal saya bisa belajar dari pengalaman-pengalaman anggotanya. Dari sana jugalah saya mengenal komunitas One Day One Post. Senang banget!

Hobi dadakan berburu lomba menulis itu akhirnya mengantarkan saya menemukan sebuah info tentang penerbit Pro-U media yang sedang mengadakan lomba cerpen anak islami. Aihh, bukan genre saya banget. Tapi entah kenapa saya ikuti juga. Ide tulisannya saya konsepin di hape dulu. Pulang kantor saya ketik di laptop. Alhamdulillah dua hari kemudian saya kirimkan cerpen pertama ke Pro U Media. Judulnya "Amir Dan Sekeranjang Buah Pir".

Berpikir menulis cerita anak sangat mudah. Konflik tidak perlu dibuat kompleks. Bahasa dan diksinya yang sederhana saja. Kan yang baca anak-anak. Kalau susah-susah nanti pesannya malah nggak sampai. Akhirnya cerpen kedua lahir juga. Judulnya " Si Kecil Aqsa dari Tanah Gaza" saya kirimkan ke Pro U Media juga.

Alhamdulillah yang nyangkut di hati juri "Amir dan Sekeranjang Buah Pir" juara dua dari 2036 naskah yang diterima.

Saya berniat menarik naskah Si Kecil Aqsa dari Tanah Gaza agar bisa mencari rumah lain yang mau mengadopsi (mempublikasikannya) tapi pas ditelpon sama panitia diberitahukan bahwa seluruh naskah yang masuk adalah hak panitia. Berarti nggak bisa ditarik lagi. Ya sudah lah kalau begitu.

Intinya, untuk yang masih pemula jangan dulu pilih-pilih genre tulisan. Hajar aja semuanya. Insya Allah seiring berjalannya waktu kita semakin mengenal tulisan kita dan bisa tahu kita ini sebenarnya lebih sesuai menulis genre yang mana.

Semoga semesta terus mendukung dan saya terus konsisten berkarya.

(Bahasa saya ko' jadi aneh begini ya. Heheh#Abaikan)

#OneDayOnePost
#FebruariMembara
#HariKeDelapan

Tuesday, February 9, 2016

Terseok-seok Menulis Sastra Hijau


Hari ini entah kenapa sangat malas baca apapun,menulis apapun, pokoknya semua hal yang berbau literasi saya malas! Sebabnya adalah, sudah hampir semingguan ini saya dihadapkan pada tulisan yang harus segera saya selesaikan karena deadline nya tanggal 12 Februari. 

Tulisan itu dalam rangka mengikuti event "green pen award 2016". Yang harus ditulis adalah cerpen bertema lingkungan. Jadilah dari beberapa minggu lalu saya searching soal bagaimana cerpen bertema lingkungan itu. Ternyata itu adalah genre tersendiri dari karya sastra. Namanya sastra hijau. Di beberapa negara maju seperti America sastra hijau sudah lebih dulu dipopulerkan. Istilahnya adalah ecocritsm. Mengkritik isu-isu lingkungan lewat sastra. Kenapa lewat sastra? Sebab lewat sastra pesan dapat tersampaikan tanpa terkesan menggurui.

Demikianlah teori singkat soal sastra hijau. Setelah mengetahuinya latar belakang lahirnya sebuah genre baru Dalam karya sastra itu, lalu kemudian saya ingin melihat contoh riil nya. Namun, dicari berhari-hari, saya belum juga menemukan prosa yang bisa dikategorikan sebagai sastra hijau. Jadilah saya meraba-raba untuk menulis Kali ini.

Beberapa minggu belakangan ini saya sudah banyak melakukan riset untuk persiapan mengikuti event yang diadakan perhutani tersebut. Begitu banyak data yang telah saya kumpulkan,dengan materi yang cukup berat. Giliran dituliskan saya mendapati tulisan saya sangat ringan, nyaris tidak berbobot. Bahkan ketia suami saya, yang notabene tidak suka membaca pun bisa menilai tulisan ini sangat cetek. 

Huffft..saya kecewa. Namun untuk mengedit ataupun mengubah kontennya sudah sangat terlambat. Deadlinenya tanggal 12 cap pos!  Jadinya ya...saya memutuskan untuk tetap mengirimkannya saja besok. Kalaupun tidak menarik perhatian juri, anggap saja lagi mengisi absen di event tersebut. Tahun depan saya akan kembali dengan persiapan yang lebih matang serta tulisan yang lebih baik. Semangat! :)))

#OneDayOnePost
#FebruariMembara
#HariKeTujuh

Monday, February 8, 2016

Benang Merah Kasus Margriet, Mirna dan Masington.


Sebelum membaca tulisan (tidak penting) ini lebih jauh, saya ingin menyampaikan bahwa tulisan ini adalah tantangan One Day One Post minggu ke 2 Februari, sekaligus (hanyalah) sebuah opini yang tercipta dari gagasan sederhana wanita sederhana (ceilehh) yang sedang mencoba melihat bagaimana dunia sekarang bekerja.

Ada benang merah dari ketiga kasus yang menjerat nama-nama pada judul artikel ini. Bukan hanya sekedar nama ketiganya berawalan dari huruf M, namun ketiganya adalah orang-orang yang mendadak terkenal, muncul di ranah publik dengan latar tema yang sama. Kasus kriminal. 2 orang diantaranya tersangka, sisanya adalah korban. 

Tentunya masih jelas dalam ingatan kita bagaimana seorang gadis kecil bernama Angeline ditentukan tewas terkubur di bawah kandang ayam di halaman rumahnya sendiri. Beberapa hari sebelumnya, Margriet, ibu angkat yang membesarkannya mengumumkan berita kehilangan Angeline. Ironisnya, setelah penemuan mayat itu, bukti-bukti (berdasarkan pemberitaan di media) menunjukkan bahwa Margriet lah yang justru pelaku pembunuhan sadis tersebut.  Publik gempar. ILC (Indonesian Lawyer Club) menyediakan episode khusus membahas kasus ini.

Selang beberapa bulan. Wanita muda yang baru saja melepas masa lajang, tewas usai menenggak kopi yang ternyata telah diracuni sianida di sebuah cafe elit. Mirna sukses meregang nyawa. Ironisnya diduga yang menabur racun adalah sahabatnya sendiri. Motif masih simpang siur, namun ILC kembali menyediakan satu episode khusus membahas kasus ini. Ya, tentu saja publik kembali gempar.

Lalu yang paling anyar, seorang politikus sebuah partai politik yang besar di negeri ini terjerat kasus penganiayaan terhadap asisten pribadi. Masington dituduh memukul asisten wanitanya karena si asisten membocorkan rahasia partai kepada partai lain. Lalu seterusnya saya kurang mengikuti perkembangan kasus ini karena saya kurang begitu suka dengan hal yang berbau politik.

Apa yang tejadi dengan dunia jaman sekarang? Kesalahan sebesar apa yang bisa dilakukan gadis sekecil Angeline sampai membuatnya harus mergang nyawa di tangan ibunya sendiri? Hati seperti apa yang dimiliki wanita yang sudah menghabiskan ribuan siang dan malam membesarkan anak hanya untuk kemudian dibunuh? Mungkin karena pengaruh hormon, atau naluri keibuan yang meningkat pasca melahirkan, saya selalu tersentuh kalau melihat atau membaca kasus-kasus penganiayaan anak. 

Demikian juga dengan kasus sianida Mirna. Persahabatan seperti apa yang sudah mereka jalin sehingga salah satunya merasa biasa saja membunuh yang lain. 

Yang terjadi di dunia saat ini adalah hilangnya rasa penghargaan terhadap sesama. Manusia membunuh manusia. Dalam agama yang saya anut itu dosa besar kedua. Mungkin manusia sekarang sudah tidak takut pada Tuhan lagi sehingga menganggap membunuh adalah hal biasa. Padahal Tuhan sendiri bilang "Barang siapa yang membunuh satu manusia, dia seperti membunuh seluruh umat manusia. Dan barang siapa yang memelihara kehidupan satu manusia, dia seperti memelihara seluruh umat manusia"

Hilangnya penghargaan terhadap nyawa manusia tidak serta merta muncul begitu saja. Menurut saya dia berakar dari hal-hal sepele. Diawali dengan pemakluman-pemakluman. "Tidak apalah dia mabuk, yang penting tidak mengganggu kita". Lalu pembiaran-pembiaran "Dia mabuk. Itu pilihannya. Yang penting kita nggak ikut-ikutan". Pemakluman dan pembiaran terhadap hal-hal sepele menggurus nilai-nilai kepedulian dalam diri kita, lebih sadisnya lagi bisa menghilangkan empathy. Lalu muncullah jargon-jargon. "Bukan urusan saya", "emang saya pikirin" Dan sebagainya itu. 

Pernahkah kita mencoba berpikir lebih jauh tentang orang mabuk yang kita biarkan saja itu karena menganggap tidak mengganggu kita? Pertama, dia telah menganiaya dirinya sendiri dengan mabuk-mabukan, kedua dia bisa saja tidak mengganggu kita tapi mungkin malah membunuh orang lain yang lewat karena sedang berada di bawah pengaruh minuman keras, ketiga memunculkan anggapan bahwa tindakannya(mabuk-mabukan itu) benar karena tidak ada yang-jangankan menegur-peduli pun enggan, keempat jadi contoh yang tidak baik untuk orang lain (terlebih anak-anak yang melihat).

Dalih Hak Asasi Manusia, demokrasi, bebas betindak dan berpendapat, sebenarnya adalah pisau bermata dua. Di jaman sekarang ini lebih banyak merugikan daripada manfaatnya. Ambil contoh kasus Masington yang merasa behak memukul asisten pribadinya karena diduga membocorkan rahasia partai. Eh,kamu siapa bang? Bapaknya? Suaminya? Seenaknya saja main pukul. Apakah kamu memikirkan bagaimana perasaan bapak dari wanita itu sebelum bertindak? Itu baru kasus pemukulan. Kalau pembunuhan? Maka tidak salah kalau Tuhan bilang membunuh satu nyawa seperti membunuh seluruh umat. Satu nyawa yang hilang namun yang merasakan dampaknya sangat luas, keluarga yang ditinggalkan, masyarakat di lingkungan sosialnya, keluarga pembunuhnya yang seumur hidup harus menanggung aib sebagai keluarga dari seorang pembunuh. Belum lagi kalau berandai-andai tentang potensi jumlah manusia yang mungkin lahir dari keturunan orang yang dibunuh itu. Bisa jadi sangat banyak hingga Tuhan berkata demikian.

Pemakluman dan pembiaran adalah awal dari kebinasan sesungguhnya. Sekarang, mengenai kasus nama Tuhan dicatut di produk panci dan alas kaki, lalu ada sebuah organisasi masyarakat yang memperkarakannya, lalu kamu justru mencaci organisasi itu dan bilang "berhentilah mengurusi hal-hal sepele" Itu pantas?. Harusnya kamu berkaca! Apa yang sudah kamu lakukan selama hidup di muka bumi selain bersikap egois dan mengurusi urusanmu sendiri? (Ini juga pertanyaan untuk saya pribadi).

Sesungguhnya hal-hal sepele yang tidak kita urusi akan meluas membentuk kerak yang kemudian menutup bagian kecil dalam tubuh kita yang bernama kalbu. 

Berhubung tulisan saya sudah mulai ngalor ngidul nggak jelas maka kita sudahi saja.

#OneDayOnePost
#FebruariMembara
#HariKeEnam

Friday, February 5, 2016

Memori

Apa yang tidak bisa dimiliki seorang istri dari suaminya? Masa depan, harta, waktu, bahkan sebagian wanita bangga memiliki nama belakang suami. Adakah yang tidak bisa dimiliki seorang istri dari suaminya?

Aku memandang lelaki tegap berahang kokoh di hadapanku ini. Retina matanya memantulkan wajahku, namun aku tahu hatinya tidak. 

"Jadi, kau masih mencintainya?" Tanyaku pelan namun tajam. Suaraku bergetar membendung air yang sedari tadi mendesak bola mataku.

Ia terdiam sejenak "Sudahlah, kita tidak usah bahas itu!"

"Apakah dulu kamu mencintainya?" Aku tetap memberondongnya dengan pertanyaan.

"Apakah itu penting? Ya, Tuhan. Kita sudah menikah! Apakah itu penting?"

"Ya, itu penting!" Aku merasakan seluruh syarafku menegang. Lelaki berahang kokoh ini tujuh belas hari yang lalu menjabat tangan ayahku sambil mengucapkan ijab kabul.

"Itu dulu" jawabnya pelan. Namun sudah cukup untuk menghentakkan seluruh kesadaranku. Rasanya tiba-tiba atmosfer bertambah pekat sehingga  membuatku gelagapan mencari oksigen.

"Lalu sekarang apakah kamu masih mencintainya ?" aku tetap memberanikan diri bertanya.

Dia terdiam. Dalam hati aku menyumpah serapah. "Jawab aku!" Teriakku. Suaraku meninggi. Didorong oleh segala rasa yang campur aduk di dalam benak.

Ia hanya menatapku lekat. Aku tidak bisa lagi mengartikan tatapannya. Tiba-tiba lelaki itu berubah menjadi sosok yang tidak aku kenal. Aku balas menatap ke dalam matanya. Berusaha masuk lebih dalam berharap bisa meneropong hatinya sekaligus. Lalu ketika dia mengangguk pelan aku seolah terhempas. Baru 10 menit pembicaraan ini namun rasanya nyawaku sudah tercabut dua kali.

Aku membanting piring yang berada di atas meja makan yang sedari tadi memberi jarak di antara kami. "Lalu kenapa kamu menyiksaku dengan pernikahan ini?!"

Aku kemudian beranjak tanpa menunggu jawabannya. Berjalan ke luar rumah dan meninggalkan pintu yang terbanting keras di belakangku. Air yang mendesak bola mata sudah tumpah.

Yang tidak bisa dimiliki seorang istri dari suaminya adalah masa lalu. Lalu ketika kini masa depannya juga sudah tidak bisa dimiliki, harus kuapakan pernikahan sialan ini?

Aku berlari menerobos gelap malam tanpa mendengar suara langkah yang menyusulku di belakang. Itu sudah cukup menegaskan bahwa dia memang tidak pernah menginginkanku.

#OneDayOnePost
#FebruariMembara
#HariKeLima

Thursday, February 4, 2016

Tips Menulis Cerpen (Ala-ala) -Finale

Daaaaan...sampailah kita kepada akhir daripada tips menulis cerpen ala-ala ini. Phiuuufff (lap keringat). 

Mari segera kita uraikan ke dalam 3 poin yang (semoga) singkat berikut ini :

7. Proof Reading.

Sejenis makanan ringan apa itu? Proof reading adalah membaca kembali ketika kita selesai menulis kan cerpen. Baca kembali saat itu juga. Lalu kemudian mintalah orang lain untuk membaca cerpen kita. Mintalah tanggapan orang yang kita percaya untuk membaca karya tersebut, lalu perbaikilah!

Ingat! Tidak semua saran dan kritik harus kita dengar dan lakukan. Bahkan ada saran dan kritik yang seharusnya kita abaikan saja. Bagaimana pun juga kitalah yang paling berhak tentabg mau diapakan karya kita ini. Kita lah yang menentukan ke "khas" an dari karya kita.

8. Tiriskan 3 Hari.

Kayak makanan saja nih pakai ditiriskan segala? Hehhehe. Maksudnya adalah diamkanlah tulisan tersebut selama kurang lebih tiga hari. Mulailah dengan tulisan yang baru. Tiga hari kemudian bacalah kembali. Edit seperlunya, atau bongkar semuanya tergantung selera. Apa tujuan kita mendiamkan tulisan kita selama 3 hari itu? Saya pernah baca sebuah artikel, tujuannya adalah agar kita lebih objektif dalam menilai karya kita sendiri.

9. Carilah Rumah yang Pas.

Maksudnya adalah rumah untuk karya kita. Laptop,komputer, ataupun tab hanyalah tempat karya kita lahir. Jangan biarkan dan jangan halangi hak setiap karya untuk menjadi besar. Kirimkanlah ke redaksi, penerbit, ikutkan lomba menulis. Biarlah karya itu bertemu dengan orang-orang yang baru, ditempa,dikritik,dicaci oleh orang-orang yang telah berpengalaman.

Kalau ditolak redaksi jangan kecewa, kalau kalah lomba jangan gentar. Tetap semangat menghasilkan karya yang baru dan kirimkan lagi. 

Btw, jangan lupa berdoa semoga karya kita bukan hanya sekedar perwujudan imajinasi belaka, namun juga dapat menyentuh hati banyak orang.

Ah...lega rasanya telah menuliskan tips-tips menulis cerpen. Terimakasih kepada yang setia membaca. 

Sebagai penutup saya ingin membagikan kutipan dari Lev Grossman "Jangan pernah mengikuti saran dari orang lain tentang menulis dengan serius".

#OneDayOnePost
#FebruariMembara
#HariKeEmpat

Wednesday, February 3, 2016

Tips Menulis Cerpen (Ala-ala) -part 4

Oke, mari kita melanjutkan membahas tips menulis cerpen ala-ala.

(Saya melirik ke arah jam yang tergantung di dinding kantor yang telah menunjukkan pukul 9 kurang 15 menit WITA. Saya harus menyelesaikan tulisan ini dalam 15 menit.)

5. Alur yang mengalir.

Setelah tips di Sini kita lanjutkan dengan membahas mengenai alur. Kita semua bebas memilih alur. Alur maju, alur mundur, alur maju mundur cantik..cantik..terserah! Sesuai feeling kita (saya percaya setiap penulis memiliki feeling yang kuat tentang mau dibawa kemana ceritanya).

Yang mau saya tegaskan adalah, buatlah alurmu mengalir secara natural. Buatlah setiap huruf dalam kata, setiap kata dalam kalimat menari lincah dan mendorong pembaca untuk terus membaca bukannya berhenti, atau membaca lompat-lompat karena kamu terlalu bertele-tele dengan hal yang (basa) basi.

Sekali lagi saya tegaskan, dalam cerpen tidak perlu memaparkan hal yang terlalu detail yang tidak ada hubungan, atau tidak memiliki kontribusi dalam cerita. Misalnya saja menyebutkan bahwa si A memiliki tahi lalat di bagian bawah mata sebelah kiri atau si B senang memakai sepatu merk C. Tidak perlu membahasah sedetail itu kecuali kalau hal-hal sepele tersebut memiliki kontribusi berarti pada cerpenmu.

Singkirkan hal-hal sepele. Buang kalimat basa-basi yang tidak perlu karena ingat, dalam menulis cerpen kamu dibatasi oleh jumlah halaman dan karakter huruf.


6. Ending yang Melibatkan Pembaca.

Dulu, sebelum seorang teman menceramahi saya tentang bagaimana membuat ending cerita, saya kerap membuat ending yang kata teman saya itu klise. Dan cenderung mudah ditebak. Lalu teman saya itu, menyarankan untuk membuat ending yang menggantung. Kata dia, dengan membuat akhir cerita yang menggantung kita turut melibatkan (Dan mempermainkan pikiran) pembaca dalam menentukan cerita kita. Biar saja pembaca yang melanjutkannya.

Saya mengikuti saran teman saya itu Dan saya lumayan puas dengan hasilnya. Nah, ini juga sebenarnya adalah cara jitu saya ketika sudah tidak tau lagi mau dibawa kemana cerita ini. Bikin saja ending yang menggantung. Hehhehe.

Sekian dulu tips menulis cerpen ala-ala kali ini karena jam sudah menunjukkan pukul 09.00. WITA dan saya harus segera kembali ke dunia nyata. 

#OneDayOnePost
#FebruariMembara
#Day3

Tuesday, February 2, 2016

Rutinitas yang Mematikan Kreativitas


Suatu ketika wakil pemimpin saya melakukan percobaan kepada saya.

"Sabrina, coba kamu tautkan jari-jari kedua tangamu. Jempol yang ada di atas jempol kiri atau kanan?"

Saya mengikuti instruksi Dan berseru "Kiri bu!"

"Nah, sekarang coba sedekapkan kedua lengan di dada. Yang menyembul keluar tangan apa?"

Saya kembali mengikuti instruksi dan bilang "Kanan bu!"

"Oh, kalau begitu otak kananmu yang lebih dominan. Kamu dinamis, cerewet, blak-blakan, tidak tahan pada rutinitas" ujar pemimpin saya itu.

"Benar bu!Ko' ibu tau?" Tanyaku takjub sama hasil analisanya yang benar sekali.

Ya, demikianlah. Saya memang sangat tidak suka kegiatan statis. Apalagi kalau kegiatan statis itu melibatkan angka-angka. Pening dan berkunang-kunang sudahlah kepala dan mata ini.

Tapi, dengan bekerja di salah satu bank plat merah di Manado, otomatis saya harus tahan duduk berlama-lama di kursi, menghadap komputer, melihat angka yang ratusan milyar nominalnya, membuat laporan keuangan lalu menganalisanya.

Kadang-kadang saja ketika kebetulan usaha nasabah saya, atau jaminan yang diserahkan berada di luar kota, saya kemudian beranjak dari kursi saya dan on the spot ke lokasi nasabah saya tersebut. Oh, ya saya bekerja sebagai analis kredit usaha di bank tersebut.

Seharian kemarin saya (dengan ogah-ogahan) membuat rekap transasksi usaha nasabah saya selama dua tahun berturut-turut. Nasabah yang sedang saya buatkan rekap usahanya itu bergerak di bidang jasa konstruksi jalan dan jembatan.

Arghh, membicarakan nya saja saya sudah pening. Otak kanan saya tidak tahan menghadapi ini berlama-lama. Ditambah saya kepikiran dengan lomba Green Pen Award 2016 yang mengharuskan menulis cerpen bertema Lingkungan. Deadlinenya tangal 12 Februari dan saya baru menuliskan 4 halaman absurd dan sama sekali belum menyinggung lingkungan.

Rasanya tidak professional, tapi seharian kemarin Yang ada Dalam pikiran saya adalah bagaimana bisa menyelesaikan cerpen Lingkungan itu tepat waktu.

Lalu kegiatan kemarin apa lagi ya? Ah, menggoda seorang teman yang baru pulang dari cuti menikah. Namanya Eni, menikah di usia 24 tahun lalu harus kembali berpisah dengan suaminya. Karena Eni kembali bertugas di Manado, sedangkan suaminya kerja di Jakarta. Hufttt..saya juga sudah pernah mengalami itu.

Kegiatan saya ko' kayaknya absurd begini ya? Hehehe.

Nah seringnya, kalau sudah berlama-lama melihat banyak angka saya akan meng-sms sahabat saya yang bernama kunca, yang 3 tahun lalu memilih resign dari kantor untuk mengejar impiannya bekerja pada bidang yang dia suka. Menjahit. Yang dia jahit adalah boneka berbahan flanel.

 Biasanya ini SMS saya ke kunca "Kun, rutinitas ini mematikan kreativitas saya. Ah, bosan banget rasanya!"

Lalu, balasan SMS kunca kurang lebih seperti ini "Ya, hitung-hitung nabung buat modal sebelum kamu hidup dari royalti menulis"

Hahahha. SMS -an itu terjadi bukan hanya sekali dua kali. Royalti menulis? Haduh, entah kapan itu!

Oh, ya..yang mau lihat-lihat hasil kreasi kunca bisa klik link Ini

Kemarin waktu nikah souvenir untuk wedding saya dibuatkan sama kunca semua.

Oke, demikianlah keseharian saya yang tidak menarik sama sekali!

#OneDayOnePost
#FebruariMembara
#HariKedua

Monday, February 1, 2016

Tips Menulis Cerpen (Ala-ala) part 3


Setelah tips-tips di postingan sebelumnya di sini lalu apa lagi ya? Ngg..coba saya ingat-ingat dulu..

Nah, mari kita lanjutkan pembahasannya. 

4. Pemilihan sudut pandang yang tepat dan konsisten.

Sudah tahu kan sudut pandang yang dimaksud di sini apa? Yup! Cara kita bertutur dalam sebuah cerpen. Apakah mau menggunakan sudut pandang orang pertama (aku,saya), sudut pandang orang ke tiga (dia,mereka), sudut pandang orang ke dua (kamu, kau)

Nah, khusus sudut pandang orang pertama dan ketiga ini juga terbagi dalam beberapa versi. Yakni, sudut pandang orang pertama pelaku utama, sudut pandang orang pertama pelaku sampingan, sudut pandang orang ketiga serba tahu, sudut pandang orang ketiga pengamat. Untuk definisi masing-masing lebih detail dapat dicari di mbah Google ya teman-teman. Heheh.

Dalam menulis cerpen yang umum dipakai adalah sudut pandang orang pertama dan orang ketiga, meskipun kadang-kadang saya kerap menjumpai ada yang menggunakan sudut pandang orang kedua. Menulis dengan sudut pandang orang kedua ini sangat susah secara teknis untuk dilakukan (oleh saya). Saya dan seorang teman  pernah menantang diri kami untuk menulis cerpen dengan sudut pandang orang ke dua dan hasilnya cerpen saya itu sukses ditolak majalah Femina. Hahah.

Kalau saya sendiri cenderung suka memakai sudut pandang orang pertama pelaku utama. Kenapa demikian? Ya, karena saya merasa bisa menyampaikan sesuatu yang ingin saya tuliskan dengan baik. Saya bisa menuliskan perasaan sedih yang mengharu biru, gembira yang gegap gempita, takut yang mencekam yang dialami oleh tokoh utama saya.

Kadang-kadang saya juga menulis dengan sudut pandang orang ke tiga. Namun jika menggunakan sudut pandang ini harus berhati-hati. Saya pernah membaca suatu ulasan tentang sudut pandang orang ketiga. Dalam praktiknya yang harus kita tuliskan adalah apa tampak terlihat, tidak seperti ketika menulis dengan sudut pandang orang pertama.

Akan saya jelaskan dengan contoh kasus agar lebih jelas (gaya banget!)

Case 1
Ia berjalan terburu-buru. Sesekali belari kecil. Jam di tangannya sudah menunjukkan 20 menit lewat dari jam 8. Tentu saja ujian sudah dimulai sejak tadi. Kali ini ia memutuskan untuk benar-benar berlari. Nafasnya tersengal Dan berat. Ia merasakan beban berton-ton menghimpit rongga dadanya.
(Tahu darimana orang yang berlari itu merasakan beban menghimpit dadanya? Memangnya kelihatan?)

Case 2
Ia berjalan terburu-buru. Sesekali belari kecil. Jam di tangannya sudah menunjukkan 20 menit lewat dari jam 8. Tentu saja ujian sudah dimulai sejak tadi. Kali ini ia memutuskan untuk benar-benar berlari. Nafasnya tersengal Dan berat tampak seolah seperti ada beban berton-ton menghimpit dadanya.

Cukup jelaskah perbedaan antara kedua studi kasus di atas? Dalam penggunaan sudut pandang orang ketiga yang harus kita tuliskan adalah yang tampak, atau yang seolah tampak pada tokoh di dalam cerita, bukan yang tokoh kita rasakan.

Lalu, bagaimana kita menentukan saat kapan harus menggunakan sudut pandang orang pertama atau ketiga. Hmm, sejauh ini saya mengandalkan feeling saja. Ada cerpen yang dipertengahan jalan saya rombak habis karena merasa pemilihan sudut pandangnya tidak tepat. Sejauh ini, sudut pandang orang pertama pelaku utama adalah favorite saya.

Lalu, ketika sudah memilih sudut pandang yang akan digunakan, konsistenlah hingga akhir cerita. Kecuali kalian memang berencana membuat cerpen dengan beberapa sudut pandang.

#OneDayOnePost
#FebruariMembara
#HariKeSaty