Friday, February 5, 2016

Memori

Apa yang tidak bisa dimiliki seorang istri dari suaminya? Masa depan, harta, waktu, bahkan sebagian wanita bangga memiliki nama belakang suami. Adakah yang tidak bisa dimiliki seorang istri dari suaminya?

Aku memandang lelaki tegap berahang kokoh di hadapanku ini. Retina matanya memantulkan wajahku, namun aku tahu hatinya tidak. 

"Jadi, kau masih mencintainya?" Tanyaku pelan namun tajam. Suaraku bergetar membendung air yang sedari tadi mendesak bola mataku.

Ia terdiam sejenak "Sudahlah, kita tidak usah bahas itu!"

"Apakah dulu kamu mencintainya?" Aku tetap memberondongnya dengan pertanyaan.

"Apakah itu penting? Ya, Tuhan. Kita sudah menikah! Apakah itu penting?"

"Ya, itu penting!" Aku merasakan seluruh syarafku menegang. Lelaki berahang kokoh ini tujuh belas hari yang lalu menjabat tangan ayahku sambil mengucapkan ijab kabul.

"Itu dulu" jawabnya pelan. Namun sudah cukup untuk menghentakkan seluruh kesadaranku. Rasanya tiba-tiba atmosfer bertambah pekat sehingga  membuatku gelagapan mencari oksigen.

"Lalu sekarang apakah kamu masih mencintainya ?" aku tetap memberanikan diri bertanya.

Dia terdiam. Dalam hati aku menyumpah serapah. "Jawab aku!" Teriakku. Suaraku meninggi. Didorong oleh segala rasa yang campur aduk di dalam benak.

Ia hanya menatapku lekat. Aku tidak bisa lagi mengartikan tatapannya. Tiba-tiba lelaki itu berubah menjadi sosok yang tidak aku kenal. Aku balas menatap ke dalam matanya. Berusaha masuk lebih dalam berharap bisa meneropong hatinya sekaligus. Lalu ketika dia mengangguk pelan aku seolah terhempas. Baru 10 menit pembicaraan ini namun rasanya nyawaku sudah tercabut dua kali.

Aku membanting piring yang berada di atas meja makan yang sedari tadi memberi jarak di antara kami. "Lalu kenapa kamu menyiksaku dengan pernikahan ini?!"

Aku kemudian beranjak tanpa menunggu jawabannya. Berjalan ke luar rumah dan meninggalkan pintu yang terbanting keras di belakangku. Air yang mendesak bola mata sudah tumpah.

Yang tidak bisa dimiliki seorang istri dari suaminya adalah masa lalu. Lalu ketika kini masa depannya juga sudah tidak bisa dimiliki, harus kuapakan pernikahan sialan ini?

Aku berlari menerobos gelap malam tanpa mendengar suara langkah yang menyusulku di belakang. Itu sudah cukup menegaskan bahwa dia memang tidak pernah menginginkanku.

#OneDayOnePost
#FebruariMembara
#HariKeLima

15 comments:

  1. Jadi, kau masih mencintainya?" Tanyaku pelan namun tajam. Suaraku bergetar membendung air yang sedari tadi mendesak bola mataku. *saya suka dialog ini mbk*

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terimakasih mbak wina. Ayo semangat menulis bersama..!

      Delete
  2. tanpa mendengar suara langkah yang menyusulku di belakang. Itu sudah cukup menegaskan bahwa dia memang tidak pernah menginginkanku

    ReplyDelete
    Replies
    1. Mbak rinaa. Terimakasih atas kunjungannya...

      Delete
  3. tanpa mendengar suara langkah yang menyusulku di belakang. Itu sudah cukup menegaskan bahwa dia memang tidak pernah menginginkanku

    ReplyDelete
  4. Konflik batin seperti ini, selalu menarik untuk disimak. Setiap adegan dibuat detail, wuhhh aku suka aku suka.
    Gue suka gaya lu kaka :v

    ReplyDelete
    Replies
    1. Saya juga suka cerpenmu yang ttg agen rahasia itu Nurul. Hahah

      Delete
  5. Kalau cuma sepenggal bikin penasaran..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Belum memikirkan utuhnya ini seperti APA mbak Ratih. Hahaha

      Delete
  6. Mb Sabrinaaaaa...lagi-lagi tulisan mb membuat Saya seakan-akan lagi brada disana..

    K.E.R.E.N

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terimakasih atas kunjungan mbak Helen....:))

      Delete
  7. Keren banget,, \ :D / saya suka tipe tulisannya mbak,,, Pendeskripsiannya pas baget, enak untuk dibaca... kayak potongan cerpen gitu... :D jempol deh buat mbak... salam dari Capsule-Man..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Heyy dafi...ini emang potongan cerpen dek. Potongan sisanya masih ngambaang alias belum kepikiran..

      Delete