Monday, February 8, 2016

Benang Merah Kasus Margriet, Mirna dan Masington.


Sebelum membaca tulisan (tidak penting) ini lebih jauh, saya ingin menyampaikan bahwa tulisan ini adalah tantangan One Day One Post minggu ke 2 Februari, sekaligus (hanyalah) sebuah opini yang tercipta dari gagasan sederhana wanita sederhana (ceilehh) yang sedang mencoba melihat bagaimana dunia sekarang bekerja.

Ada benang merah dari ketiga kasus yang menjerat nama-nama pada judul artikel ini. Bukan hanya sekedar nama ketiganya berawalan dari huruf M, namun ketiganya adalah orang-orang yang mendadak terkenal, muncul di ranah publik dengan latar tema yang sama. Kasus kriminal. 2 orang diantaranya tersangka, sisanya adalah korban. 

Tentunya masih jelas dalam ingatan kita bagaimana seorang gadis kecil bernama Angeline ditentukan tewas terkubur di bawah kandang ayam di halaman rumahnya sendiri. Beberapa hari sebelumnya, Margriet, ibu angkat yang membesarkannya mengumumkan berita kehilangan Angeline. Ironisnya, setelah penemuan mayat itu, bukti-bukti (berdasarkan pemberitaan di media) menunjukkan bahwa Margriet lah yang justru pelaku pembunuhan sadis tersebut.  Publik gempar. ILC (Indonesian Lawyer Club) menyediakan episode khusus membahas kasus ini.

Selang beberapa bulan. Wanita muda yang baru saja melepas masa lajang, tewas usai menenggak kopi yang ternyata telah diracuni sianida di sebuah cafe elit. Mirna sukses meregang nyawa. Ironisnya diduga yang menabur racun adalah sahabatnya sendiri. Motif masih simpang siur, namun ILC kembali menyediakan satu episode khusus membahas kasus ini. Ya, tentu saja publik kembali gempar.

Lalu yang paling anyar, seorang politikus sebuah partai politik yang besar di negeri ini terjerat kasus penganiayaan terhadap asisten pribadi. Masington dituduh memukul asisten wanitanya karena si asisten membocorkan rahasia partai kepada partai lain. Lalu seterusnya saya kurang mengikuti perkembangan kasus ini karena saya kurang begitu suka dengan hal yang berbau politik.

Apa yang tejadi dengan dunia jaman sekarang? Kesalahan sebesar apa yang bisa dilakukan gadis sekecil Angeline sampai membuatnya harus mergang nyawa di tangan ibunya sendiri? Hati seperti apa yang dimiliki wanita yang sudah menghabiskan ribuan siang dan malam membesarkan anak hanya untuk kemudian dibunuh? Mungkin karena pengaruh hormon, atau naluri keibuan yang meningkat pasca melahirkan, saya selalu tersentuh kalau melihat atau membaca kasus-kasus penganiayaan anak. 

Demikian juga dengan kasus sianida Mirna. Persahabatan seperti apa yang sudah mereka jalin sehingga salah satunya merasa biasa saja membunuh yang lain. 

Yang terjadi di dunia saat ini adalah hilangnya rasa penghargaan terhadap sesama. Manusia membunuh manusia. Dalam agama yang saya anut itu dosa besar kedua. Mungkin manusia sekarang sudah tidak takut pada Tuhan lagi sehingga menganggap membunuh adalah hal biasa. Padahal Tuhan sendiri bilang "Barang siapa yang membunuh satu manusia, dia seperti membunuh seluruh umat manusia. Dan barang siapa yang memelihara kehidupan satu manusia, dia seperti memelihara seluruh umat manusia"

Hilangnya penghargaan terhadap nyawa manusia tidak serta merta muncul begitu saja. Menurut saya dia berakar dari hal-hal sepele. Diawali dengan pemakluman-pemakluman. "Tidak apalah dia mabuk, yang penting tidak mengganggu kita". Lalu pembiaran-pembiaran "Dia mabuk. Itu pilihannya. Yang penting kita nggak ikut-ikutan". Pemakluman dan pembiaran terhadap hal-hal sepele menggurus nilai-nilai kepedulian dalam diri kita, lebih sadisnya lagi bisa menghilangkan empathy. Lalu muncullah jargon-jargon. "Bukan urusan saya", "emang saya pikirin" Dan sebagainya itu. 

Pernahkah kita mencoba berpikir lebih jauh tentang orang mabuk yang kita biarkan saja itu karena menganggap tidak mengganggu kita? Pertama, dia telah menganiaya dirinya sendiri dengan mabuk-mabukan, kedua dia bisa saja tidak mengganggu kita tapi mungkin malah membunuh orang lain yang lewat karena sedang berada di bawah pengaruh minuman keras, ketiga memunculkan anggapan bahwa tindakannya(mabuk-mabukan itu) benar karena tidak ada yang-jangankan menegur-peduli pun enggan, keempat jadi contoh yang tidak baik untuk orang lain (terlebih anak-anak yang melihat).

Dalih Hak Asasi Manusia, demokrasi, bebas betindak dan berpendapat, sebenarnya adalah pisau bermata dua. Di jaman sekarang ini lebih banyak merugikan daripada manfaatnya. Ambil contoh kasus Masington yang merasa behak memukul asisten pribadinya karena diduga membocorkan rahasia partai. Eh,kamu siapa bang? Bapaknya? Suaminya? Seenaknya saja main pukul. Apakah kamu memikirkan bagaimana perasaan bapak dari wanita itu sebelum bertindak? Itu baru kasus pemukulan. Kalau pembunuhan? Maka tidak salah kalau Tuhan bilang membunuh satu nyawa seperti membunuh seluruh umat. Satu nyawa yang hilang namun yang merasakan dampaknya sangat luas, keluarga yang ditinggalkan, masyarakat di lingkungan sosialnya, keluarga pembunuhnya yang seumur hidup harus menanggung aib sebagai keluarga dari seorang pembunuh. Belum lagi kalau berandai-andai tentang potensi jumlah manusia yang mungkin lahir dari keturunan orang yang dibunuh itu. Bisa jadi sangat banyak hingga Tuhan berkata demikian.

Pemakluman dan pembiaran adalah awal dari kebinasan sesungguhnya. Sekarang, mengenai kasus nama Tuhan dicatut di produk panci dan alas kaki, lalu ada sebuah organisasi masyarakat yang memperkarakannya, lalu kamu justru mencaci organisasi itu dan bilang "berhentilah mengurusi hal-hal sepele" Itu pantas?. Harusnya kamu berkaca! Apa yang sudah kamu lakukan selama hidup di muka bumi selain bersikap egois dan mengurusi urusanmu sendiri? (Ini juga pertanyaan untuk saya pribadi).

Sesungguhnya hal-hal sepele yang tidak kita urusi akan meluas membentuk kerak yang kemudian menutup bagian kecil dalam tubuh kita yang bernama kalbu. 

Berhubung tulisan saya sudah mulai ngalor ngidul nggak jelas maka kita sudahi saja.

#OneDayOnePost
#FebruariMembara
#HariKeEnam

8 comments:

  1. Bagus ulasannya..
    Semoga kita bisa menjadi orang yang lebih peduli..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Amiin bang... Semoga kita tidak berhenti peduli pada Lingkungan sekitar.

      Delete
  2. Menganggap sepele perilaku buruk di sekitar kita. Ya begitulah kondisi yang ada.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Benar kang sae... Perilaku itulah yang tanpa kita sadari menjadi bibit tindakan anarkis (menurut saya)

      Delete
  3. Duh baca tulisan ini jadi semakin minder, mba. Bisa ga ya saya menulis untuk tantangan pekan kedua Februari ini?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Pasti bisa mbak nindyah..semangat yaaa! :)

      Delete
  4. keren mbak Sabrina, Ini miknggu terberat dalam ODOP bagi saya heheehe serasa lagi ikut kmpetisi indonesian IDOL

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wooowww,, mas Septian pernah ikut Indonesian idol??

      Delete