Thursday, August 31, 2017

Aye Lwin dan Wajah Ibu

Aku mengusap air mata yang jatuh di pipi Ibu. Kulit coklatnya memantulkan cahaya jingga dari sang surya yang berpendar malas. Aku ingin bilang jangan menangis, tapi aku tidak tahu bagaimana cara membahasakannya. Anak umur tiga tahun belum bisa mengatakan itu.
"Sayangku, sayangku. Ibu menyayangimu, Nak." Ibu menyiumi ubun-ubunku. Rasanya geli tapi menyenangkan.

"Ayo pulang, Bu.  Aye haus. Mau minum."

Ibu tidak menjawab dan malah lebih kencang menangis. Ia menahanku agar tidak berdiri dari tempat persembunyian kami, di semak belukar, jauh di dalam hutan.

"Kita di sini dulu, Aye." Ibu berbisik.

"Di mana perempuan dan anaknya itu?!" Sayup-sayup aku mendengar suara orang berteriak. "Cepat cari dan bunuh!"

"Aye, dengarkan Ibu. Aye harus berdoa. Ibu sudah ajarkan doa untuk orang tua kan? Aye ingat kan? Ibu juga sudah ajarkan doa sapu jagad. Aye bisa baca?"

Aku mengangguk lalu merapal doa-doa yang diajarkan Ibu selepas solat hingga seseorang laki-laki menghampiri kami, "Ini dia! Mereka di sini!"

Laki-laki itu menyeret Ibu keluar. Aku mengekor sambil menangis, "Ibu!Ibu!"

Mereka menjambak rambut Ibu, menyulut api di tubuh Ibu seperti ketika mereka membuat rumah-rumah di kampung kami terbakar.

"Ibu!!!" Aku melengking seperti anjing. Bau daging hangus masuk ke dalam lubang hidungku.

Jangan sakiti Ibuku! Ia selalu menyuruhku membaca doa sapu jagad, mendoakan orang-orang di dunia masuk surga. Jangan bakar ibuku! Aku ingin beteriak, tapi anak 3 tahun tidak berbicara seperti itu.

"Siapa anak ini? Dari Bengali?" Salah satu dari mereka bertanya.



Aku ingin bilang namaku Aye Lwin dari Rakhine, tapi batang kayu orang itu lebih dulu menghantam kepalaku. Lalu yang kulihat hanya gelap dan wajah Ibu.

Wednesday, August 23, 2017

Metode KonMari untuk Membenahi Hidupmu yang Berantakan

Percaya tidak kalau semalam saya tidur jam 2 pagi? Kenapa tidur selarut itu? Tolong jangan ditanyakan karena itu bisa memancing emosi saya. Hahahah. Kidding. 

Jadi, saya sudah lama ingin membuat tulisan ini. Tulisan tentang Metode KonMari. Apa itu metode KonMari? Metode KonMari adalah metode merapikan rumah, kantor, kamar, apartement, whatever you may call yang berantakan (sayangnya belum ampuh untuk merapikan masa depan πŸ˜…πŸ˜…) yang dicetuskan oleh seorang wanita berkebangsaan Jepang bernama Marie Kondo. KonMari itu singkatan dari nama dia. Kemudian dia menyebut profesinya ini sebagai Konsultan Berbenah.

Hah? Beberes saja butuh metode macam bikin skripsi? Iya lah! Ngana pikir? Berbenah itu adalah seni. kalau habis berbenah lalu berantakan lagi berarti tabiatmu yang perlu dibenahi! Hahha πŸ˜…πŸ˜…. Aduh, makin ngelantur.

Jadi, singkat kata saya menemukan sebuah postingan yang menyinggung-nyinggung soal KonMari ini dan sangat antusias untuk membeli bukunya. Saya lupa linknya mana. Tapi jauh sebelum itu ternyata sohib saya yang seorang crafter mantan banker yang bernama Kunca itu juga pernah menulis tentang ini di blognya. 

Baca : 


Dewi Lestari pun pernah mengulas tentang KonMari.

Baca :


Konon, metode KonMari ini sudah mendunia sehingga dijadikan istilah dalam Bahasa Inggris.

"Girl, you have to kondonize your room."

"Rrr...maybe I should kondonize my office."

See, seperti istilah googling yang merujuk ke kegiatan mencari-cari lanjaran dari suatu ulasan (berat banget bahasanya...πŸ˜…), maka Kondonize ini merujuk ke kegiatan merapikan dengan menggunakan metode KonMari.

Kalau googling kata KonMari maka banyak sekali artikel dan video yang mengulas tentang ini. Nah, berhubung saya lebih suka baca buku daripada lihat videonya maka saya berusaha untuk memperoleh buku itu. Di Gramedia Manado tidak ada jadi saya suruh adik saya carikan di Bandung. Alhamdulillah di Toga Mas ada seharga Rp. 40 rb-an lupa persisnya berapa.



Saya baru baca buku ini 21 halaman dan sudah buru-buru ingin menerapkan metodenya karena hidup kamar saya berantakan sekali. Saya memang tipikal orang yang tidak rapi, tapi Marie Kondo bilang tidak ada orang yang tidak rapi. Kerpihan sudah seperti fitrah manusia. Jadi pada dasarnya setiap orang memiliki bibit-bibit kerapian dalam dirinya.

Sejauh 21 halaman buku yang saya baca itu, beberapa poin penting yang saya peroleh adalah :

1. Rapikan rumahmu secera keseluruhan, jangan perbagian-bagian. Misalnya, hari ini rapikan kamar, besok rapikan dapur. Jangan! Lakukan secara sekaligus.

2. Cara untuk berbenah secara sekaligus adalah dengan cara mengkategorikan barang berdasarkan jenisnya bukan berdasarkan tempatnya. Misalnya, kategori baju, kategori buku, kategori dokumen, dsb. Bukan berdasarkan tempat seperti kategori barang-barang di lemari baju, kategori barang-barang di rak buku. Jangan!

3. Mulai pisahkan barang-barang yang sudah dikategorikan. Mana yang masih menimbukkan kebahagiaan ketika dipandang, simpan! Mana yang membuatmu merasa jengah, singkirkan! Harus tega!

4. Rapikan barang yang sudah kamu pilah pilih, susun secara vertikal, dimulai dari gradasi warna gelap ke terang atau sebaliknya.

5. Jangan menimbun barang! Kenang-kenangan, oleh-oleh, hadiah yang tidak pernah digunakan bahkan masih rapih terbungkus di kemasannya, singkirkan! Harus tega.

6. Jangan menyimpan barang-barang sampahmu, yang tidak berguna tapi sayang di buang di rumah orang tua.


Baru 21 halaman banyak banget ya materinya? Hehe. Tidak kok! Sebenarnya di 21 halaman itu masih menbahas awal mula Marie Kondo menemukan metode berbenah yang ampuh, tapi sebelum membaca buku ini saya sudah terlanjur googling-googling. 

Btw, saya langsung mempraktekkan metode KonMari namun tidak persis sama mengikuti langkah-langkahnya.

Untuk kasus saya, saya hanya merapikan kamar saya dikarenakan  masih tinggal bersana orang tua dan tidak ingin beliau kaget kalau saya ke dapurnya lalu membuang segala kontainer plastik, tuperwer, rantang-rantang, gelas dan piring kaca yang jarang dipakai, cenderung dikoleksi, karena saya anggap itu tidak berguna. Nanti Mama saya shock. Jadi, saya hanya menerapkan metode itu di kamar saya.

Langkah pertama adalah pilah pilih barang kategori baju. Saya lupa membuat foto before afternya tapi seperti inilah hasilnya.


Satu kantong baju yang tidak menimbulkan kebahagiaan berhasil disingkirkan. Ahmad pun ikut bahagia emaknya beres-beres.

"Tumben, Mak. Lagi kesurupan ya?" Tanya Ahamd. ,πŸ˜…



Saya berhasil menata kumpulan jilbab secara vertikal dan berdasarkan gradasi warna.





Baju yang digantung juga dijejer berdasarkan gradasi warna.
Kurang lebih tampilan lemari sata setelah dibenahi seperti ini.
Apa? Masih berantakan? Kamu bisa bayangkan bagaimana kacaunya lemari saya sebelumnya...πŸ˜†πŸ˜†





Target operasi selanjutnya adalah meja rias yang berantakannya naudzubillah.




Kendala yang dihadapi selama merapikan barang kategori baju adalah kantongan yang berisi baju-baju yang bikin jengah itu saya serahkan ke Mama saya, "Ma, ini kasih orang ya."

Lalu oleh Mama saya dibongkar lagi dan sebagian besar diambilin lagi dan dimasukin lemarinya, "sayang kan dikasih orang. Ini bisa mama pake."

Dalam hati, 'mau dipake ke mana? Lagian ukurannya kekecilan semua."

Mitigasi risiko (gile bahasa gueeeh!) yang dilakukan agar barang-barang itu bebar-benar berhasil disingkirkan dan bukannya hanya berpindah ke lemari nyokap adalah, berikutnya harus langsung di kasih ke orang lain yang lebih membutuhkan seperti disumbang ke panti asuhan.

Di bagian belakang buku ini tertulis bahwa dengan memiliki buku tersebut kita seperti sedang mengikuti kursus berbenah jarak jauh bersama Marie Kondo. Di Jepang seseorang harus menunggu 3 bulan untuk dapat mengikuti kursusnya, bahkan sekarang Marie harus membuat daftar tunggu untuk daftar tunggu.

Saya akan membuat label khusus di blog saya yaitu #MetodeKonMari (just in case kalian ingin melanjutkan membaca pengalaman saya menerapkan metode KonMari dalam berbenah) yang berisi ulasan poin-poin penting yang saya temukan sepanjang membaca buku tersebut supaya kita sama-sama paham dan syukur-syukur bisa menerapkan metode ini untuk membenahi apapun milik kita yang sedang berantakan.

Akhir kata.... Ciayoooo!!! 😊😊😊


Sunday, August 13, 2017

Seorang Pria yang diletakkan Tuhan di Teras Rumah

Pinterest



Tidak ada yang lebih mencengangkan daripada bangun di pagi hari dan mendapati pria misterius tergeletak di depan teras rumahmu. Bahkan, Ocha, kucing blasteran persia yang sensitif terhadap bunyi-bunyian pun sepertinya tidak menyadari hal yang aneh karena pagi tadi ketika aku bangun ia masih bergelung di telapak kakiku dengan pulas.

Lelaki dengan tuxedo hitam itu kini menyeruput dari cangkir yang masih mengepul. Aku berbaik hati membuatkannya kopi karena ia tampak linglung dan letih. 

"Jadi, kau benar-benar diturunkan oleh Tuhan begitu saja di depan rumahku untuk menjadi suamiku?" Aku bertanya dengan hati-hati untuk yang ke sembilan belas kalinya. Ia mengangguk.

Aku beranjak dari beanbag dengan jengah dan memandang ke arah jam dinding yang menunjukkan pukul 07.00. Satu jam lagi aku harus tiba di kantor. Tapi tidak dengan laki-laki yang entah siapa ini masih berada dalam rumahku.

"Aku tidak percaya dongeng seperti itu lagi," gumamku. Aku dulu percaya kalau seorang bayi bisa saja tidak dilahirkan oleh Ibu, melainkan dibawa oleh seekor angsa berparuh besar. Angsa yang sama menjatuhkanku di pekarangan sebuah panti asuhan dua puluh lima tahun silam.

"Aku tidak butuh kau untuk percaya bagaimana caraku bisa ada di depan pintu rumahmu. Aku hanya butuh kau percaya bahwa aku adalah yang terbaik yang dikirimkan Tuhan untukmu," ia meyahut. Senyum tersungging di bibirnya yang merah.

Aku memasang ekspresi-siapa-kau-berani-berkata-seperti-itu-seakan-kau-tahu-segalanya-tentangku?

"Kau harus pergi ke kantor sekarang kan?" tanyanya lagi. "Pergilah dengan tenang. Aku akan di sini ketika kau pulang nanti."

Aku menghambur ke kamar mandi setelah menimbang bahwa ia tidak mungkin bisa diusir dari rumahku begitu saja. Aku akan bersiap ke kantor dan dalam perjalanan akan singgah di kantor polisi untuk mengadukan tentang orang asing yang menerobos masuk rumahku. Menerobos? Kan aku yang mempersilahkan dia masuk. Ah, pokoknya aku harus ke kantor polisi secepatnya.

Setelah itu, aku akan memberitahu Kenzou. Ia harus cepat melamarku karena bisa saja pria asing tadi nekad dan memaksaku menikahinya.


#tantangankelasfiksimateri10

Wednesday, August 9, 2017

Review Dwilogi ; Papua Pergi, Jakarta Menghilang

Tulisan ini dibuat dalam rangka memenuhi tugas ke 7 kelas fiksi One Day One Post. Pada tugas kali ini, setiap 'murid' diwajibkan mereview tulisan (dalam hal ini tulisan fiksi) 'murid' lain yang telah ditentukan oleh wali kelas. Nah, saya kebagian mereview tulisan Mbak Aara. Eh, mbak apa adek ya si Aara itu...πŸ˜…

Sebelum lanjut, boleh baca-baca pemikiran Aara di sini.


credit



Nah, Aara mengajukan sebuah cerita dwilogi (ceileh....πŸ˜†)dengan judul yang sangat menggugah rasa ingin tahu saya.





Membaca judulnya ekspektasi saya adalah sebuah cerpen dengan genre science fiction macam cerita Atlantis atau film 2012.

Membaca beberapa paragraf awal langsung sadar ternya ekspektasi saya meleset. Oh oke, ini semacam fabel. Aara menghidupkan benda-benda dan menjadikannya tokoh dalam dwiloginya. Tidak tanggung-tanggung  jadi tokoh utama adalah pulau-pulau di Nusantara.

Saya tidak tahu apa pertimbangan Aara sehingga yang menjadi tokoh utama adalah pulau Jawa dan Papua. Entah apakah keduanya terpisah begitu jauh secara geografis, perbedaan budaya yang begitu besar, pembangunan yang begitu jomplang.

Saat membaca Jakarta Menghilang, saya bisa menangkap jalan pikiran Aara. Ia menggambarkan penderitaan pulau Jawa yang selalu dilubangi tiang-tiang besi (analogi tiang pancang bangunan pencakar langit), terlebih di Jakarta. Penderitaan Jakarta yang begitu akut membuatnya memutuskan untuk memisahkan diri dari pulau Jawa dan menjadi pulau sendiri.

Namun ketika membaca Papua Menghilang, saya tidak bisa mengikuti jalan pikiran Aara. Kenapa Papua ingin pergi dari Ibu Pertiwi? Apakah ada kaitannya dengan iming-iming orang asing yang beberapa kali disebutkan dalam cerita?  Ketika membaca saya menduga-duga apakah Aara bermaksud menceritakan tentang gerakan papua merdeka yang ingin berpisah dari Nusantara? Ataukah ingin membahas tentang beberapa waktu setelah kemerdekaan di mana Papua Barat masih diduduki oleh penjajah yang konon kabarnya dikarenakan memiliki cadangan emas yang paling banyak di muka bumi? Ataukah Aara ingin menciptakan jalan ceritanya sendiri? Entahlah.

Dwilogi Aara cukup menghibur. Namun cara Aara bertutur sangat 'telling' not 'showing' . Saya seperti sedang mendengarkan dongeng pengantar tidur yang dibacakan oleh Ibu kepada anaknya.

Terdapat beberapa kata depan dan kata awalan 'di' yang tidak tepat. Antara lain 'diambil' yang Aara tulis 'di ambil'.

Hal lain yang mengganggu adalah, Aara menyebutkan bahwa Papua anak sulung dan mengulangnya dalam kaimat lain 'Papua, adik sulung...' mungkin Aara keliru menuliskan bungsu dengan sulung dalam beberapa kalimatnya.

Kesimpulan :

+ Judul menggugah
+ Ide  cerita sangat brilliant

- kurang showing, cenderung telling.
-EYD agak berantakan.
-eksekusi kurang mantap.

Tuesday, August 1, 2017

Sahabat Drakula


credit


"Ma, aku nggak mau masuk ke sekolah itu!" bantahku untuk yang kesekian kalinya, saat Mama menyinggung tentang sekolah baru yang akan menjadi sekolahku mulai besok.

"Bobby, itu sekolah yang baik untukmu. Sekolah itu terkenal dengan pendidikan budi pekertinya. Kau dan standar sopan santunmu cocok sekali untuk dididik di sana," argumen Mama.

"Aku baik-baik saja dengan sekolahku yang lama, Ma. Bisa-bisa aku jadi gila kalau Mama masukin aku ke sekolah macam itu." Nada suaraku mulai meninggi.

"Kamu itu harus...."

"Mama jangan pura-pura nggak tau deh!" Potongku tanpa memberikan Mama kesempatan untuk melanjutkan kalimatnya, "Kemarin kan kita sudah ke sana dan sekolah itu tidak seperti sekolah pada umumnya."

"Mama sudah putuskan. Suka atau tidak kamu tetap harus mengikuti keinginan Mama!"

Begitulah, aku tidak bisa menentang keinginan Mama. Mama tidak butuh pendapat dan masukan orang lain. Apa yang telah diputuskan dianggapanya paling tepat. Begitu juga dalam hal ini.

Setelah lulus SD, aku terpaksa ikut Mama pindah ke ke kota ini. Aku juga tetap harus mengikuti keinginan Mama untuk sekolah di SMP pilihannya.

"Sekolah ini nggak ada bagus-bagusnya," gerutuku keesokan harinya saat sedang melihat sekokah pilihan Mama untuk kedua kalinya, "Berkali-kali dilihatpun sekokah ini tetap aneh."

"Bobby, lihat sisi baiknya saja," bantah Mama sambil menutup pintu mobil, "Sekolah ini besar. Fasilitasnya pasti lengkap."

Aku mengembuskan napas dengan keras menandakan sikap protesku.

"Cobalah bersikap baik, Bobby. Kita harus menemui kepala sekolah."

Aku mencibir sambil mengikuti Mama memasuki gerbang sekolah baruku itu. Kenapa Mama tidak bisa merasakan keanehan di sekolah ini? Mama benar-benar tidak tahu, atau hanya pura-pura tidak tahu?

Sekokah baruku ini memang besar dan megah. Namun ada suatu kejanggalan. Sejak memasuki gerbang sekolah aku tidak melihat seorangpun di koridor ataupun di lapangan. Tak kudengar satupun suara murid-murid yang ribut, bercanda, atau tertawa. Seolah-olah di tengah sekolah yang besar ini hanya ada aku dan Mama.

"Oh, maaf. Di mana ruang kepala sekolah?" tanya Mama pada seorang guru yang kebetulan lewat di depan kami.

Guru itu menatap ke arah Mama agak lama, lalu berganti menatapku. Guru itu kemudian menunjuk sebuah ruangan di seberang lapangan tanpa bersuara sedikitpun.

"Terimakasih," sahut Mama sambil memandang ke arah ruangan yang ditunjuk.

Aku juga ikut memandang ke arah ruangan bercat merah darah itu. Pintu ruangannya tertutup rapat, begitu juga dengan tirai jendelanya. Dari dalam ruangan tampak seberkas cahaya. Mungkin cahaya lampu. Kenapa di pagi secerah ini harus menyalakan lampu?

Aku menoleh ke arah guru yang memberitahu letak ruangan kepala sekolah tadi, tapi aku begitu terkejut mendapati guru itu sudah tidak ada lagi di dekatku.

"Ma, guru yang tadi ke mana?" tanyaku cemas.

***Bersambung***


Hahah. Sorry morry dorry bagi yang sedang serius membaca ini dan tiba-tiba menemukan kata 'bersambung'. Saya bukannya ingin membuat penasaran, hanya saja saya capek ngetik. Hahaha πŸ˜†πŸ˜†πŸ˜†

Tulisan ini dibuat untuk memenuhi tugas kelas fiksi One Day One Post. Tugasnya adalah meniru gaya menulis penulis yang kita sukai, yang kita jadikan panutan, yang karenanya kita ingin menjadi penulis. Sekarang-sekarang ini begitu banyak nama penulis yang menginspirasi saya. Bisa dikatakan, saya adalah pelahap semua genre fiksi.

Namun, di awal-awal saya menyadari bahwa saya mencitai dunia kepenulisan ini adalah ketika saya berada di usia akhir-akhir SD menjelang SMP. Ketika itu, buku yang paling banyak saya koleksi adalah buku-buku Goosebumps-nya R.L Stine. Yang suka baca R.L Stine ayo ngacung! Berarti kita seumuran dan berarti masa kecil kita bahagia πŸ˜„πŸ˜„πŸ˜„.

Untuk mengenang jasa-jasa R.L Stine yang telah mewarnai masa abege saya, maka saya memilih untuk menuliskan kembali cerpen misteri yang pernah saya buat ketika SMP. Ya! Tulisan saya di atas adalah tulisan yang saya buat ketika saya menggilai R.L Stine. Tulisnya pakai pulpen di buku tulis, kadang nyempil di buku pelajaran. 

Maafkan tulisan saya yang cakar ayam ini


Saya senyum-senyum sendiri menyadari saya begitu produtif menulis (di buku tulis) ketika SMP dulu. Saya jadi malu karena sekarang banyakan ogah-ogahannya.

Btw, sudah mirip R.L Stine belum gaya saya bercerita? 😁


#onedayonepost
#tantangankelasfiksi6



Sunday, July 30, 2017

Diserang Writer's Block? Lakukan 5 Hal Ini


Setiap penulis atau yang sedang meniti karir di dunia tulis menulis pasti tidak asing dengan istilah writer's block. Itu adalah kondisi di mana kamu tidak ada keinginan untuk menulis ataupun memiliki keinginan namun tidak tau mau menulis apa. Writer's block ini sebagaian besar muncul  sebagai manifestasi dari mood yang jelek ataupun susahnya membagi waktu dengan kegiatan lain.

credit


Gejala writer's block dapat berwujud kehabisan ide, sudah punya ide bingung eksekusinya bagaimana, sudah niat mantap mau eksekusi bingung kalimat pertamanya gimana, sudah punya kalimat pertama nendang konfliknya melempem, sudah punya konflik keren bingung endingnya mau diapain. πŸ˜„πŸ˜…

Nah, berikut akan saya jembrengkan uraikan hal-hal yang (menurut pengalaman saya) dapat mengatasi writer's block.

1. Nonton Serial TV atau Drama

Drama India dan drama Turki berhasil menaikkan mood dan memberikan ide menulis untuk saya. Bayangkan! Ratusan episode dan penontonnya setia mengikuti. Itu kan wooww! Saya belajar bagaimana menciptakan konflik dari hal-hal yang sederhana, menciptakan karakter yang kuat and so on. Bagi yang kena Korean Wave, nonton drakor juga ampuh membangkitkan mood dan memunculkan ide menulis. Buat cowok yang tidak suka nonton drama boleh nonton film hollywood di youtube atau sekalian ke bioskop. 


2. Membaca Novel atau Kumpulan Cerpen

Kata suatu quote yang beredar di media sosial, kalau kamu sedang tidak ingin membaca, menulislah, kalau sedang tidak ingin menulis, membacalah. Seperti halnya menonton drama, membaca juga bisa memperbaiki mood dan memunculkan ide-ide untuk memulai kembali menulis. Tapi biasanya habis membaca saya seringkali terpengaruh gaya bahasa penulis yang saya baca tulisannya πŸ˜–.

dari WA saya sulit menemukan sumbernya



3. Makan Junk Food

Junk food bagi saya adalah obat pereda stres. Kalau stres hilang otomatis mood meningkat. Sesimpel itu sih. Haahha


4. Window Shopping

Sebagai perempuan yang kodratnya senang melihat yang indah-indah, saya punya hobby window shopping, ini hobby yang hemat karena hasrat melihat barang yang indah-indah tersalurkan dan uang tetap aman pada tempatnya karena saya tidak pernah tergoda untuk membeli. Saya hanya ingin lihat tanpa ada maksud memiliki. Aihhh....πŸ˜… Dan ini selalu ampuh membangkitkan mood saya. Kalau buat cowok mungkin dengan futsal atau main game kali ya...😁



5. Bergabung dengan Komunitas Menulis.

Saya pernah membahas tentang komunitas menulis itu di sini :

Buat yang Hobi Menulis

Kenapa bagi saya penting untuk bergabung dengan komunitas menulis? Karena kita jadi memiliki teman yang saling menyemangati ketika sedang dalam kondisi writer's block, teman sharing dan berbagi info-info perihal kepenulisan. Biasanya setelah sharing apalagi melihat teman lain akan menerbitkan buku saya langsung bersemangat kembali menulis. Kan nggak mau kalah!!!

Nah, saat ini saya tidak bergantung pada kegiatan tulis menulis untuk menghidupi diri saya, karena saya bergantung kepada Allah SWT melalui dompet suami πŸ˜†. Hahaha. Kidding, maksudnya saya tidak mendapatkan penghasilan utama melalui kegiatan menulis, biasanya saya menulis kalau sedang mood dan kalau ada deadline lomba ataupun deadline dari kelas menulis yang saya ikuti. Berhubung tidak bergantung pasa penghasilan menulis, biasanya kalau diserang writer's block saya selow saja. 

Tapi mungkin suatu saat nanti, jika saya harus menggantungkan diri pada penghasilan menulis, saya akan berjuang semampunya untuk lolos dari jeratan iblis bernama writer's block. 😁


#onedayonepost
#tantangankelasfiksi5

Wednesday, July 26, 2017

Just Quit and Be Happy

Kalau kamu sudah lulus diterima di jurusan IPA, kamu sudah belajar sekeras temanmu belajar, tapi nilai fisika dan matematikamu tetap standar, mungkin kamu tidak cocok di kelas IPA, mungkin kelas IPA tidak cocok bagimu. Mungkin kamu akan sesuai di kelas Bahasa atau seni. Keluarlah, kamu tidak perlu menjalani kehidupan yang orang lain jalani.

1

Jika kamu sudah berpindah jurusan, lebih sedikit hitungan, tapi entah kenapa masih saja ogah-ogahan, keluarlah! Mungkin sistem pendidikan formal tidak cocok bagimu. Kamu tidak perlu menjalani kehidupan seperti yang orang lain jalani. Anak-anak Gen Halilintar tidak mengenyam pendidikan formal. Mereka home schooling dan si sulung mencapai omset 1 Milyar di umur 13 tahun. Kalau kamu? Umur 13 tahun ngapain?

Jika kamu sudah belajar sekuat tenaga sehingga mengorbankan waktu bersantaimu untuk bisa diterima di fakultas kedokteran ternama, lalu kamu gagal ujian dan teman sebangku di SMA yang kamu tahu kapasitas otaknya juga mirip-mirip kamu bisa lolos, beregembiralah, mungkin Teknik Pertambangan lebih cocok bagimu, atau acoounting, atau manajemen Bisnis. Kamu tidak perlu menjadi Dokter untuk berbahagia.

Kalau kamu sudah berada di jurusan yang kamu nyaman di dalamnya. Mata kuliahnya menyenangkan tapi passion mu tidak tersalurkan, emosimu seringkali tertahan, teori-teori dari pakarnya hanya masuk telinga kiri dan lolos di telinga kanan, keluarlah! Mungkin kuliah bukan jalan menuju kesuksesanmu. Mark Zuckerberg, Bill Gates, Hoeda Manis, adalah orang-orang yang memilih drop out dari kuliah dan sukses di bidangnya.


2


Jika kamu sudah lulus kuliah dan penuh percaya diri, melamar di perusahaan ternama dan diterima, lalu bekerja, lalu diberi target, lalu target itu tidak tercapai dan kamu jadi bulan-bulanan, padahal kamu sudah berusahan mati-matian plus lembur semalaman, keluarlah! Barangkali perusahaan itu tidak cocok bagimu, kamu tidak cocok bagi perusahaan itu, jangan menunda untuk berbahagia, kebahagiaanmu bukan bergantung pada perusahaan besar mana tempatmu bekerja sekarang. Mungkin kamu bisa menjadi pemimpin di perusahaan yang lebih kecil, atau kamu berpikir untuk membuka usaha sendiri. Kamu tidak perlu menjalani apa yang orang lain jalani!

Jika kamu sudah berpindah ke perusahaan yang lebih kecil, namun performamu tetap nihil, tidak perlu merasa kerdil, keluarlah! Barangkali bekerja di perusahaan yang mengejar profit bukan bidangmu, barangkali jiwa sosialmu begitu tinggi sehingga mengabdi lebih berarti, atau memulai usaha dan memberdayakan anak-anak jalanan dan warga miskin lebih kau sukai.

Jika kamu tidak betah berlama-lama basa-basi, enggan bersosialisasi macam sosilaita masa kini, namun sangat passionate terhadap tumbuh kembang anakmu, keluarlah! Keluarlah dari apapun yang sedang menghalangimu untuk berbahagia dan sambutlah uluran tangan-tangan kecil yang senantiasa menantimu pulang. Mungkin menjadi Ibu Rumah Tangga adalah yang terbaik bagimu. Tidak perlu ragu dan gentar mendengar celotehan kritikus dadakan yang hanya sibuk mengomentari hidupmu sementara hidupnya sendiri entahlan. Kamu tidak perlu menjalani yang tetanggamu ingin kamu jalani. Bangun pagi, berpakaian necis, ke kantor dengan kendaraan mewah, kembali ke rumah malam dan mengulangi rutinitas yang sama setiap hari.

3

Jika kamu saat ini masih lebih banyak merenung, tidak tahu akan melakukan apa, tidak tahu mau bagaimana menjalani hidup, kembalilah bersekolah! Atau piknik. Mungkin kamu kurang dididik atau kurang piknik. 

Tidak ada yang berhak mengomentari pilihan yang dibuat oleh seseorang. Meminjam istilah Mami Ubii, we are not in their shoes. Siapa kamu berhak mengomentari apa yang menjadi keputusan orang lain ketika kamu tidak berada dalam posisinya, tidak menghadapi apa yang tengah dia hadapi, tidak mengalami apa yang telah dia lalui. Kalau sekedar memberi saran atau pandanganmu terhadap pilihannya, boleh. Tapi ketika kamu mulai menghakimi, hentikanlah!

Deddy Corbuzier dalam reality shownya berkata kurang lebih seperti ini, "Untuk sukses kita tidak harus sekolah. Tapi sekolah adalah salah satu jalan menuju kesuksesan. Namun jika hanya bersekolah dan lantas mengharapkan kesuksesan, itu juga salah besar. Saya tidak memiliki kunci sukses, namun saya memiliki kunci kegagalan, yaitu ketika kita mulai menyerah."


Sumber Gambar :

1. www.pinterest.com
2. www.pinterest.com
3. www.justquitthing.com