Saturday, August 20, 2016

Finding Gladio


Blog post ini dibuat dalam rangka mengikuti Kompetisi Menulis Cerpen #MyCupOfStory Diselenggarakan oleh GIORDANO dan Nulisbuku.com.


Percayalah, tidak ada yang dapat membawaku kembali ke tempat ini selain pekerjaan. Dan kenangan.

Kopi by Ignatius Dimas

Aku menghirup aroma kopi dari cangkir yang ada di hadapanku dan mengecapnya sedikit di ujung lidah untuk kemudian menggeleng kecewa pada gadis yang duduk dengan wajah antusias di hadapanku.

"Masih bukan? Yaahhh..." Gadis itu bernama Karin dan kini dia mendengus kecewa. Ini gelas kopi ke 33 di hari ke 11 ku di Manado.

"Aku mulai meragukan metode yang kita gunakan ini, Queen," gumamnya.

"Sejak awal ide ini memang gila. Mana mungkin menemukan seseorang hanya dengan mengandalkan  ingatan tentang rasa kopi yang pernah dia buat di masa lalu!" Gerutuku.

"Lah, kan kamu sendiri yang bilang kopi buatannya punya aroma khas yang tidak ditemukan pada kopi manapun," Karin masih mencoba membela diri padahal ‘3 coffee shops per night’ itu murni idenya.

Ada puluhan kedai kopi di Manado dan Karin lebih dari yakin dengan mendatangi tiga kedai kopi perhari-setelah jam kerja kami di perusahaan selesai-adalah langkah paling jitu menemukan Gladio.

"Jangan menyerah! Cewek kece pantang menyerah. Ayo kita balik hotel."

Aku hanya bisa merengut sebal sambil mengekor Karin dengan langkah gontai kembali ke hotel tempat kami menginap selama menjalankan tugas sebulan di Manado. Tentu saja kedatanganku dan Karin di Manado bukan dengan tujuan sekonyol mencari lelaki. Kami ditugaskan perusahaan tempat kami bekerja untuk meng    audit kantor cabang di kota nyiur melambai ini.

Selama hampir tiga tahun bekerja di salah satu Bank BUMN sebagai auditor selalu membuatku bersyukur karena dipercayakan menjelajahi beberapa kantor cabang di seluruh penjuru negri. Palembang, Semarang,  Samarinda, Makassar, Ambon, Manokwari. Tapi aku tidak pernah sekesal sekarang karena tidak boleh menolak ketika ditugaskan untuk mengaudit kantor cabang Manado.

"Jangan lupa, nanti kamu ziarah ke makam orang tuamu," pesan Opa sebelum aku berangkat. Sejak   menjadi yatim piatu Opa lah yang mengambil peran sebagai orang tuaku. Seminggu setelah musibah kebakaran yang menyebabkan kedua orang tuaku meninggal Opa membawaku untuk tinggal bersamanya di Jakarta.

Pernahkah kalian merasa benci terhadap sesuatu yang hanya dengan mendengar namanya saja kalian merasa sakit? Itulah yang terjadi setiap kali aku mendengar kata Manado. Hanya kenangan buruk yang membuatku tidak nyaman hadir melintas seperti slide show. Rasanya sesak mengingat bagaimana rumah tempatmu dibesarkan terbakar sementara orang tuamu ada di dalam.

Aku selamat karena malam itu sedang menginap di rumah teman untuk membahas soal ujian nasional SMA. Ketika kembali keesokan harinya rumahku tinggal puing reruntuhan sekaligus menyandang predikat baru sebagai anak yatim piatu.

Di lain pihak kadang-kadang perasaan sesak itu berbaur dengan aroma kopi. Adalah Galdio Mokoginta yang menghadirkan aroma itu ke dalam kenanganku.

Hari pertama di Manado aku mengajak Karin mengunjungi makam kedua orang tuaku. Letaknya tidak jauh dari pusat kota sehingga kami hanya perlu naik angkutan umum selama 20 menit.

Karin adalah sahabat baikku sejak kuliah di Jakarta. Best friend is sister God never Gave Us. Dia tahu semua tentangku termasuk masa laluku. Beruntung sekali karena kami diterima di perusahaan yang sama    bahkan di unit yang sama.

Hari kedua di Manado Karin memaksaku untuk mendatangi bekas rumahku dulu. Karin bilang kenangan buruk harus dilawan agar kita tidak merasa resah jika mengingatnya di kemudian hari. Bagiku kenangan buruk cukup dikubur dalam-dalam.

"Jadi, itu rumah Gladio?" tanya Karin ketika itu menunjuk rumah di seberang jalan.

Kami berdiri di atas puing-puing reruntuhan bekas terbakar. Tujuh tahun sudah berlalu namun di atas   tanah ini belum berdiri bangunan apapun.

"Queen, kamu tidak mau cari tahu kenapa tiba-tiba keluarga Gladio menghilang?" tanya Karin lagi.

Aku menggeleng pelan.

Di hari yang sama ketika rumahku terbakar, Gladio dan keluarganyapun pergi meninggalkan rumah mereka. Gladio pergi meninggalkanku tanpa berita setelah selama tujuh belas tahun ia selalu berjanji untuk bersama denganku. Janji masa lalu yang konyol sehingga aku memilih menguburnya dalam-dalam bersama kenangan  buruk lainnya.

Galdio Mokoginta adalah anak lelaki dengan aroma kopi yang menguar di sekelilingnya. Papanya penggila kopi Toraja dan hampir setiap sore mengundang Ayahku untuk minum kopi bersama.

Glad, aku biasa memanggilnya demikian, memiliki cita-cita yang unik. Ingin menjadi pemilik rumah kopi yang menyediakan berbagai cita rasa kopi nusantara. Mungkin ia juga menggilai kopi seperti ayahnya.

"Queen, tahu tidak kalau kopi Toraja itu juga disebut sebagai Queen of Coffee. Ini jenis kopi mahal yang hanya diminum oleh kalangan tertentu kalau di luar negri. Ekspor kopi Toraja itu ilegal kalau tidak melalui perusahaan Key Coffee di Amerika. Gila kan? Padahal kopi Toraja itu asli produk Indonesia loh," Gladio selalu bersemangat jika bercerita tentang kopi. Akupun selalu bersemangat menyimaknya sambil menghirup dalam-dalam aroma kopi dari cangkirku.

Di usia baru sembilan belas ia sudah sangat mahir membuat kopi.

"Kopi itu menyerap rasa alam sekitarnya. Kalau ketika diminum ada sedikit rasa buah, mungkin ketika tumbuh dulu ia ditanam dekat tanaman buah," ujar Glad suatu ketika di sore hari ketika aku memenuhi undangan minum kopinya. "Jika ada sedikit rasa pedas mungkin ditanam dekat tanaman cabe."

Aku tersenyum lalu menyesap cangkir kopi yang baru saja berpindah tangan dari genggaman Glad ke  tanganku.

"Hmmm, kopi ini aromanya unik. Rasanya tidak terlalu asam seperti kopi-kopi biasanya."

Gladio tersenyum,"oh, ya?"

Aku mengangguk bersemangat. Pikiranku yang awalnya disesaki dengan perkara ujian nasional langsung rileks seketika.

"Aromanya seperti tanah basah sehabis hujan," tambahku.

Senyum Gladio semakin mengembang.

"Ini kopi Toraja. Kesukaanku dan Papa. Di seduh dengan air panas tepat di derajat ke 95.       Hasilnya adalah kopi beraroma kenangan."

"Aroma kenangan?"

"Ya, kenangan akan kampung halaman semasa kecil dulu. Biji kopi ini berasal dari tanah kampung  halaman nenek. Di petik dan digiling di depan rumah nenek di Toraja sana."

Ibu Galdio berasal dari Toraja. Ayahnya orang Kotamubagu, Sulawesi Utara.

"Ngana mau kalau suatu saat pesiar ke rumah nenekku?"

Aku mengangguk antusias,"mau sekali!"

"Nanti, setelah kita berdua menikah. Honeymoon."

Aku yakin pipiku lansung merah ketika itu. Untuk menyamarkannya aku segera menyeruput dari cangkir kopiku hingga tandas. Lalu mengalihkan pandangan jauh-jauh melampaui bingkai jendela. Langit Manado     selalu indah. Biru membentang ketika siang, penuh gemintang ketika malam.

Galdio adalah anak lelaki yang tinggal di depan rumahku. Kami tumbuh besar bersama. Ia adalah objek untuk predikat baru dalam kamusku ketika itu. Cinta.

Di hari pertama begitu aku selesai unpacking barang bawaan di hotel Karin mengungkapkan teori ini, "Ada tiga alasan kenapa kamu harus cari Gladio," Karin mengacungkan tiga jarinya. "Pertama karena kebetulan kita lagi di Manado untuk waktu yang lumayan lama. Kedua karena dia adalah oase kebahagiaan di tengah lautan kesedihan masa lalumu. Ketiga biar kamu move on lalu kembali membuka hati untuk lelaki."

Aku hampir saja tersedak air minumku sendiri ketika mendengar ocehannya.

"Sudah 24 tahun dan belum ada lelaki yang bisa menembus benteng hatimu yang berlapis-lapis itu," ujar Karin lagi.

"Nggak usah lebay!" Bantahku sambil melempar handuk ke wajah Karin yang selalu tampak menyebalkan kalau mulai sok tahu.

Sehabis mengunjungi reruntuhan rumahku, Karin memaksa untuk mengetuk pintu rumah Gladio.

"Ayo kita cari dia. Siapa tahu dia ada di dalam," bisik Karin sesaat sebelum pintu rumah dibuka oleh   wanita paruh baya berpakaian modis yang kemudian memperkenalkan diri sebagai Tante Ani. Adik dari Mama Gladio.

"Mereka sudah lama tidak tinggal di sini," Tante Ani menjawab pertanyaan Karin.

Setelah dipersilahkan masuk kami duduk di sofa ruang tamu. Karin antusias menginterogasi Tante Ani sementara aku hanya takjub memandang sekeliling rumah. Demi Tuhan tidak ada satupun yang berubah dari rumah ini sejak terakhir kali aku kemari. Bahkan coffee grinder milik Ayah Gladio masih berada di posisi yang  sama dalam buffet di sudut ruangan.

Sofa yang aku duduki adalah sofa yang sama ketika tujuh tahun lalu aku dan Gladio perang bantal  seusai dia memggombal soal honeymoon ke Toraja.

"Papanya Glad di fitnah terlibat dalam korupsi. Sekarang di penjara. Waktu itu Mamanya Gladio tidak sanggup menahan malu atas gunjingan tetangga. Makanya mereka pindah ke Tondano dan tidak pernah kembali lagi ke Manado."

Aku menajamkan telinga. Tahun 2009, walikota Manado yang sedang menjabat terjerat kasus korupsi APBN bernilai milyaran. Beberapa pejabat yang berada di jajaran pemerintahannya satu persatu diciduk aparat. Papa Gladio adalah pejabat yang memangku posisi penting di pemerintahan kota ketika itu. Aku tidak tahu ia   terjerat kasus tersebut.

"Bagaimana kabar om Handy sekarang, tante? Sudah bebas kah?" Tanyaku.

"Belum. Masih 3 tahun lagi.

"Lalu dimana Gladio sekarang?" Giliran Karin bertanya.

"Gladio tidak pernah kembali ke rumah ini. Lima tahun yang lalu terakhir kali tante bertemu waktu acara wisudanya. Sekarang dia sibuk dengan bisnisnya. Jarang ada di Manado."

"Bisnis apa?" Suara Karin membuatku ingin membekap mulutnya yang cerewet.

"Rumah kopi. Dia punya beberapa rumah kopi di Manado dan sekitarnya."

Aku tertegun. Gladio telah mewujudkan mimpinya.

"Dimana rumah kopinya tante?" Masih suara Karin.

"Tante tidak begitu tahu. Ada beberapa. Tapi yang paling tante ingat ada di Tomohon. Dekat Danau  Linow."

Kejadian itulah yang membuatku mengikuti reacana gila Karin menelusuri satu demi satu rumah kopi  di Manado untuk mencari tahu keberadaan Gladio setelah Tante Ani mengaku tidak menyimpan lagi nomor HP Gladio maupun nomor HP Mama Gladio yang baru. Bahkan kepada keluarga dekatpun mereka tidak memberi  tahu alamat tempat tinggal sekarang. Awalnya dengan alasan untuk menghindari serbuan wartawan media lokal. Namun lebih dari itu mungkin mereka ingin membangun kehidupan yang baru di tempat yang tidak ada satu    orangpun mengenal mereka. Mengenal mereka sebagai keluarga terpidana korupsi.

Hari Jumat. Hari terakhirku di Manado sebelum akhirnya kembali lagi ke Jakarta. Diskusi audit di kantor cabang telah selesai  dilakukan sejak dua jam yang lalu. Aku mengasingkan diri ke musholah kantor di lantai 5 untuk sedikit melepas lelah. Selain itu, dari jendela lantai lima  bangunan ini pantai berlatar senja terlihat sempurna.

Tampak di kejauhan jembatan gantung Soekarno yang baru setahun lalu diresmikan berdiri kokoh.  Tiga hari yang lalu aku dan Karin menyempatkan berfoto di icon baru kota Manado itu. Berlatar tulisan ‘Mari jo pasiar ke Manado’.

"Queenara, besok ke Danau Linow yuk. Katanya ada rumah kopi enak di sana." Suara cempreng Karin membuyarkan lamunanku.

"Aku pikir kita sudah sepakat untuk menghentikan 3 coffeeshops per night ?” Gerutuku kesal.

"Geer banget sih!" Karin mebalas. "Aku tuh mau ke Linow untuk foto-foto di sini!" Ia menunjukkan    foto di Instagramnya yang melukiskan pemandangan danau dengan air berwarna gradasi hijau berpadu bentangan langit biru dan bangunan putih yang sepertinya cafe.

"Ini lagi hits di insta. Aku yakin kamu yang orang manadopun tidak tahu tempat ini" sambungnya, "Forget about Gladio. Sepertinya orang itu juga tidak mau ditemukan."


@@@

Danau Linow (dokumentas pribadi)



Yang membuat air Danau Linow tampak berwarna hijau adalah kandungan belerang. Pagi ini cerah   dan aku berhasil terbujuk dengan rayuan maut Karin untuk datang jauh-jauh ke Tomohon, satu jam dari manado demi memuaskan hasratnya ber-selifie ria di spot yang katanya lagi hits di instagram.

Sebuah café dua lantai dirancang menyerupai kapal seolah mengembang di atas Danau Linow. Ketika Karina sudah ada di lantai dasar restoran yang tingginya hampir sejajar dengan permukaan danau, jejeritan sambil jingkrak-jingkrak minta difoto dari berbagai angle, aku lebih memilih duduk di lantai dua restoran sambil      memandang seluas danau membentang. Menikmati alam yang begitu harmoni berpadu,menikmati hari-hari        terakhirku di Manado, menikmati aroma kopi yang memenuhi atmosfer café.

Tunggu dulu. Aku tercengang sambil sesekali menarik nafas agak dalam berharap aroma kopi dapat   terjaring sempurna masuk ke rongga hidungku. Ini aroma kenangan. Ini aroma khas yang menemani soreku bersama Glad.

Aku mencegat pelayan café yang baru saja melintas. Meminta menu.

“Ini wangi kopi apa? Aku ingin kopi ini.”

Pelayan café itu tersenyum lalu meletakkan buku menu di atas meja di hadapanku.

“Ini primadona kami,” ujar pemuda yang kutaksir usianya sebaya denganku itu. Jarinya menunjuk tulisan pada kolom minuman.

Queen of Coffee. Aku membaca menu yang ditunjuknya.

“Biji kopi pilihan. Kopi Toraja Arabica.  Ditanam dan diolah langsung dari Tana Toraja.”

Seketika jantungku berdegup dua kali lipat lebih cepat. Semua penjelasan pelayan café ini serasa familiar di telingaku.

“Apakah pemilik café ini bernama Glad? Gladio Mokoginta?"

Pelayan café itu mengangguk. Di Manado, nama seseorang akan diikuti dengan nama belakang berupa marga keluarga dari sebelah ayah. Mokoginta adalah marga Gladio. Jadi bisa dipastikan pemilik café ini adalah benar Glad, lelaki dari masa laluku.

“Dimana Glad sekarang? Bisa saya bertemu?”

“Oh, maaf, Bapak Glad sedang keluar kota.”

“Bisa saya minta nomor hape nya?” aku konsisten memburu.

"Maaf saya tidak bisa berikan. Bapak Glad tidak suka kalau nomornya diberikan ke orang asing.”

Rupanya Glad benar tidak ingin ditemukan. Meskipun sangat kecewa, aku tetap memesan secangkir Queen of Coffe dan selembar sticky note serta bolpoin.

Pelayan café itu kembali 15 menit kemudian. “Ini kopi Nona. Di seduh dengan air tepat di derajat ke- 95. Silahkan dinikmati.”

Aku tersenyum sambil meraih sticky note dan bolpoin yang kupesan. Aku tahu soal derajat 95 itu. Batinku.

“Ada lagi yang bisa saya bantu?” Pelayan itu belum beranjak.

Kapan ajak saya ke rumah nenek?

Aku menuliskan kalimat itu di sticky note. Awalnya aku ingin menyertakan nomor HP-ku tapi kemudian aku urung. Jika Glad tidak ingin ditemukan, maka aku tidak akan mencoba menemukannya. Jadi, aku hanya menambahkan ‘Queenara’ di ujung kalimat.

“Tolong berikan pada Gladio.”

Pelayan café itu mengangguk, “oh, ya jika Nona suka kopi ini bisa kembali lagi besok. Kami buka sampai hari Minggu.”

“Sayangnya besok saya sudah kembali ke Jakarta.”

“Wah, sayang sekali. Kopi ini selalu membuat orang kembali. Tapi jika masih ada waktu di Manado bisa mencicipi kopi kami di restoran Tude House di Kawasan Mega Mas.”

Aku sedikit tercengang. Pantas saja aku dan Karin tidak berhasil menemukan kopi khas Gladio di Manado meski sudah rutin mengunjungi 3 rumah kopi hampir setiap hari. Kami melewatkan Tude House karena itu restoran bukan rumah kopi.


@@@

Aku sengaja tidak membertitahu Karin soal kopi di Danau Linow.

“Rin, kamu mau makan nggak? Aku mau keluar nih cari makan.” Aku melirik jam di layar HP. 19.05 WITA.

“Nggak deh. Titip snack saja ya.”

Pesawatku besok jam 06.15 WITA. Ini benar-benar jadi malam terakhirku di Manado. Entah kapan lagi aku kembali ke kampung halamanku ini. Rasanya tidak ada alasan lagi kembali ke sini.

Tujuanku sekarang adalah Tude House. Aku ingin menikmati Queen of Coffee untuk yang terakhir kalinya sebelum pulang dan mungkin seperti yang Karin bilang berdamai dengan masa lalu. Selama ini aku membenci Glad karena dia tiba-tiba menghilang tanpa berita. Ketika menghilang itu seluruh media sosialnya dinonaktifkan. Nomor HP nya tidak bisa dihungungi.

Aku membencinya tanpa alasan yang jelas. Padahal dia punya alasan kenapa memilih untuk menghilang. Jika aku jadi dia mungkin aku akan melakukan hal yang sama.

Aku memilih tempat duduk outdoor agar lebih maksimal menikmati malam di Manado. Restoran Tude House sangat cozy dan berdiri menghadap pantai Boulevard. Dari tadi angin laut tidak pernah berhenti memainkan anak rambutku.

 Ketika waitrees datang aku sudah tahu akan memesan apa. Hanya secangkir kopi tanpa makanan  apapun.

Aroma kopi sudah menguar. Benar ini          aroma kopi dari masa lalu. Benar ini aroma       kopi yang selalu dihadirkan Glad menemani       sore-sore kami dulu. Aku menoleh ke kanan dan ke kiri mencari sumbernya dan  tidak menemukan seoranpun waitrees yang membawa   nampan dengan cangkir kopi di sekitarku. Mungkin ada pengunjung lain yang memesan kopi.

Wangi kopi itu semakin menyengat hidungku sebelum sebuah suara berat bergumam,       “jadi kapan kita ke kampung nenek?’

Aku menengadah menantang sesosok tubuh tinggi menjulang yang berdiri menghalangi pandanganku  ke lepas pantai. Kemeja putih lengan panjang yang digulung hingga siku, celana jins  biru berpadu sepatu casual dan senyum lebar. Gladio Mokoginta berdiri tepat di hadapanku.   Debur ombak yang dihantarkan dari samudera pasifik baru saja pecah di selah bebatuan menyisakan percikan air yang menjangkau ujung mejaku.

Aroma kopi Toraja berbaur dengan mint menusuk hidung. Aku menoleh ke kanan dan ke kiri sekali lagi untuk kemudian menyadari bahwa aroma ini berasal dari lelaki di hadapanku.

_Selesai_

Tulisan ini bisa tercipta juga tidak lepas dari hasil jalan-jalan ke :
- majalah.ottencoffee.co.id
- dewa-barista.blogspot.co.id
- specialtycoffee.co.id
- torajaparadise.com
- wikipedia
- dan juga Danau Linow


Wednesday, July 27, 2016

Foto Pernikahan Mamak

#Eventjodoh
#KBM


Kalau kalian ke rumahku di kampung, pada ruang tamu akan terlihat foto berbingkai kayu berukuran cukup besar sehingga eksperesi Mamak terlihat jelas di sana.

Itu foto pernikahan Mamak dan Bapak. Di atas pelaminan, di apit kakek nenekku. Pemandangan yang kontras adalah wajah sepasang pengantin. Mamak merengut hingga bibirnya mengerucut. Bapak di sampingnya tertawa dengan sumringah. Foto tersebut menyimpan begitu banyak nostalgia. Termasuk olok-olok dari paman dan tante menyoal wajah Mamak yang terlipat tujuh.

"Katanya tak sudi, belum satu tahun menikah sudah hamil." Paman, kakak Mamak, yang paling sering memulai topik ini jika di hari Lebaran keluarga besar terkumpul.

Lalu seisi rumah tertawa. Yang paling keras adalah tawa bapak. Suatu ketika aku pernah bertanya tentang ekspresi bapak di dalam foto itu.

"Bapak tidak bisa menahan tawa lihat eksperesi wajah Mamak kamu waktu itu, Ana."

Pernikahan Mamak dan Bapak adalah pernikahan yang diatur oleh keluarga besar. Usia Mamak masih sangat muda. 18 tahun. Usia Bapak 25.

Pernikahan yang diatur biasanya menimbulkan luka dan tidak menyisakan ruang bagi calon pasangan pengantin untuk bersuara.

"Mamakmu itu benci sekali sama Bapak. Iyalah, wong baru dikenalin minggu depannya langsung disuruh kawin," Bapak melanjutkan.

"Kalau Bapak sendiri?" Tanyaku. "Bagaimana perasaan Bapak ke Mamak?"

"Bapak sudah tergila-gila pada Mamakmu sejak pertama kali bertatap muka."

Begitulah Bapak. Lelaki humoris dimana tawa lebar tak pernah lepas dari wajahnya. Ketika aku kuliah di sebuah universitas di ibu kota, bapak yang paling sering mendatangi kosku. Ia begitu cepat akrab dengan teman-teman se-kos, sehingga kalau aku baru kembali dari kampung yang pertama kali ditanyakan oleh teman-teman selalu perihal bapak.

"Kapan bapakmu datang lagi, Ana?"

"Bapakmu lucu banget. Orangnya gaul."

Hari ini tiga tahun sejak meninggalnya Bapak. Hari ini 27 tahun sudah foto pernikahan Mamak digantung di ruang tamu. Hari ini, 7 hari lagi aku menikah. Pernikahan yang kujamin tidak akan dihadiri oleh keluarga besar Bapak dan Mamak sebab aku menikahi lelaki yang bukan pilihan mereka. Sebab aku menunda untuk menikah dengan alasan menyelesaikan S2.

"Ana..." Mamak menepuk pundakku. 

Sejak dimusuhi keluarga besar Mamaklah satu-satunya orang yang berpihak padaku. Merestuiku.

"Mak, Ana rindu Bapak," gumamku pelan.

"Kau pikir Mamak tidak?"

"Apakah keputusan Ana menikah ini salah? "

"Tidak, sayang. Mamak tidak pernah setuju tentang tradisi keluarga kita yang mengatur pernikahan. Pernikahan itu hak masing-masing individu. Mamak tidak akan membuat kamu merasakan apa yang Mamak rasakan dulu."

Aku terdiam mengusut air mata.

"Tapi Mamak selalu berdoa, agar lelakimu itu, minimal sebaik Bapak."

Aku kini terisak.

Begitulah bapak yang meninggalkan Mamak dengan banyak kenangan ke haribaan pencipta. Di pemkamannya, Mamak yang paling hebat bersedih. 

Orang-orang bilang, pernikahan itu media bertumbuhnya segala rasa dan asa. Demikianlah perasaan Mamak terhadap Bapak. 

Semoga perasaanku terhadap lelaki  yang nantinya akan mengimamiku pun demikian.

Manado,270716
#sabrina

(444 kata termasuk judul, tidak termasuk titimasa)

Tuesday, July 26, 2016

Padahal Aku Sudah Ingin Dinikahi Penulis

Padahal aku sudah ingin dinikahi saja oleh penulis.

Kala imajinasiku membumbung, ia sanggup menyambung, bukannya menambah gravitasi sehingga pikiran sulit melayang dan konsentrasi.

Kau tahu, aku tahu, bahwa kau bukan seorang penulis. Pembaca handal pun tidak. Lalu bagaimana aku bisa berbagi tentang halaman buku yang baru saja aku lewati.

Pergi ke toko buku pun kau lebih memilih menunggu di luar makan takoyaki.

Ah, padahal aku ingin dinikahi saja oleh seorang penulis. Yang kalau sedang serius pasti sangat manis. Bukan yang ketika mendengar ide cerita malah meringis.

Tapi kemudian aku sadar bahwa kau adalah setiap kata yang menghimpun paragraf, kau adalah koma pada kalimat-kalimat buntu, kau adalah spasi pada dialog tak berkesudahan.

Tapi kemudian aku sadar bahwa sebenarnya kau lebih suka bercerita. Kau bahkan sanggup menceritakan kisah malam ke 1002 padahal orang-orang pikir sudah tamat di malam ke 1001.

Lalu aku sadar kau pendongeng handal, meski satu-satunya buku yang kau tamati adalah buku motivasi karya Robert T Kiyosaki.

Lalu aku sadar kau adalah pencerita ulung yang tidak pernah kehabisan ide bercerita. Kau hanya tidak sanggup menuliskannya dalam kata-kata. 

Sejak dulu kau adalah setiap kata yang aku tulis. Sekarang dan seterusnya, isi kepalamu adalah apa yang aku tulis.

Kau ada sehingga aku tidak kehabisan cerita.

Saturday, July 23, 2016

Di Balik Gharqad Muda



Tangan mungilnya penuh dan begitu sibuk. Batu di kepalan tangan kanan. Kitab suci didekap di dada oleh tangan kiri. Dari tempatnya bersembunyi ia bisa melihat sol sepatu kokoh milik para tentara. Tentara berseragam yang dua hari lalu menyerbu gang-gang di kampungnya. Menembaki beberapa warga. Menjadikannya yatim piatu. Duka belum berlalu ketika taman bermainnya pun dibombardir. 

"Kenapa paman? Kenapa? Aku hanya bocah pengahafal kitab. Belum lah lagi 10 tahun," ia membatin. Tangannya gemetaran tapi hati mungilnya tidak gentar. Ia menghitung-hitung dengan cermat Lalu melompat dari tempat persembunyian. Hup! Tepat sasaran! Kerakal merobek pelipis salah satu tentara. Si tentara berteriak kesakitan. Teman-temannya Refleks menarik pelatuk. Dor! Dor! Dor! 

"Aku tidak takut paman! Aku tidak takut! Lihatlah namaku telah terukir di surga! Aku lah tentara Tuhan!" Teriak bocah itu sebelum peluru menembus tempurung kepalanya.

Wajah para tentara pias. Pucat seputih kertas. Khawatir jangan-jangan bocah ini membawa gerombolan temannya. Para penghafal kitab. Tidak mau ambil resiko, mereka lari tunggang langgang menuju ke balik pohon gharqad.

"Tampaknya kita perlu menanam lebih banyak gharqad karena para wanita di desa ini semakin banyak melahirkan bocah-bocah yang tidak takut mati!" Seru salah satu tentara yang adalah pemimpin mereka.

"Siap,sir! 1000 gharqad muda siap di tanam sebelum fajar" sahut anggotanya.

"Siapkan rudal pembantai massal. Target malam ini adalah pemukiman Chaos. Saya ingin laporannya,"sang pemimpin kembali memberi instruksi.

"Siap, sir. Pemukiman chaos memiliki jumlah penduduk sebanyak 325 jiwa. 170 di antaranya wanita. 53 diantaranya sedang mengandung," anak buahnya memberi laporan.

"Apa?! Bukankah dua tahun lalu penduduk pemukiman Chaos kurang dari 200 jiwa?" Sang pemimpin terkejut.

"Memang benar, Sir. Tapi tingkat lelahiran di pemukiman Chaos meningkat 3 kali lipat dalam dua tahun terakhir."

Sang pemimpin terkejut. Takut mulai merayapi lubuk hatinya namun ia berusaha menahan mimik wajah. Ia harus terlihat tetap tenang untuk menguatkan semangat para tentara yang ia pimpin.

Di ufuk barat matahari mulai terbenam. Hembusan angin senja menggoyangkan dahan-dahan gharqad membisikkan cerita turun temurun dari nenek moyang tentang suatu masa ketika tidak ada lagi yang bisa melindungi kecuali sebatang pohon.

Tuesday, May 24, 2016

Nyonya Besar

Dilihat dari bentuknya maka seluruh penduduk kota sepakat bahwa jenis kelamin pohon beringin tua di tengah alun-alun ini adalah perempuan. Bagiku, cabangnya yang rimbun di bagian atas sudah lebih dari cukup untuk menunjukkan bahwa pohon itu memang benar berjenis kelamin perempuan. Bukankah pikiran perempuan selalu lebih dari dua cabang? Karena posturnya yang tambun, pohon itu kerap dipanggil Nyonya Besar.

Nyonya Besar selalu membanggakan usianya yang hampir 20 dasawarsa. Tidak ada manusia yang mampu mengimbangi umurnya, maka ia akan murka jika ada manusia yang tidak menghormatinya.

"Aku jadi tambun begini karena menyerap begitu banyak air." Katanya suatu ketika. 

Aku sedang duduk-duduk di bawah naungannya ketika itu.

"Kau jadi berlemak begini karena suka memakan daging manusia." Seseorang membantah. "Terlebih yang perutnya buncit. Makanan favoritmu."

Nyonya besar tergelak hingga seluruh tubuhnya bergetar dan dedaunan rontok satu-satu dari kepalanya.

Seluruh penjuru kota paham tabiat si Nyonya Besar. Ia sangat penyayang dan welas asih seperti kebanyakan wanita pada umumnya. Ia pun memiliki naluri keibuan itu. Pada ranting rimbunnya tinggal berbagai jenis burung dan serangga. Ia gemar memberikan kehidupan bagi makhluk lain. Di lain pihak pun gemar memangsa manusia. Terutama manusia-manusia rakus yang punya niat jahat terhadapnya. Manusia rakus teridentifikasi dari perutnya yang buncit.

Aku memandang sekilas ke selusur akar yang jadi tempatku duduk membaca buku di sore itu. Tak jauh dari sana ada potongan kaki yang menyembul ke permukaan. Itu pasti kaki milik pria buncit yang dimakannya sore kemarin.

"Oops, itu sisa makanku. Belum tercerna semua."Nyonya besar menjawab rasa penasaranku diiikuti selusur akarnya yang menggeliat meremukkan potongan kaki tadi dan melesakkannya ke dalam tanah. 

Aku tertegun sejenak sebelum kembali menekuri bukuku.

Nyonya Besar Berbadan tambun. Perlu 10 orang dewasa saling merentangkan tangan melingkar untuk memeluknya. Dengan adanya dia alun-alun kota menjadi sangat rindang. Kontras dengan kondisi sekitar yang dipenuhi hutan beton dan menara-menara tinggi menjulang. Di kota ini, satu-satunya pohon yang tersisa hanyalah si Nyonya Besar. Kau bisa menjumpai pohon lain di kota sebelah. Kalau tidak salah ada dua. Si Tua Ketapang dan Si Jangkung Jati. Di kota sebelahnya kota sebelah ada juga Sam Si Samanea. Mereka semuanya gemar memberikan kehidupan bagi burung dan serangga, namun hanya si Nyonya Besar yang doyan memakan manusia buncit.

"Lama-lama kau akan ditebang kalau masih saja makan manusia." Lelaki itu kembali membuka suara menghentikan gelak tawa si Nyonya Besar.

"Sudah. Semuanya berakhir sama. Habis kusantap. Hahahahahah." Nyonya Besar menjawab santai.

Tubuh Nyonya Besar yang seukuran rentangan tangan 10 orang dewasa membuatnya menjadi incaran para manusia rakus untuk ditebang. Jika tempat Nyonya Besar berpijak itu dijadikan lahan parkir mol yang ada di depannya, maka akan sangat strategis bagi pengembangan mol tersebut.

"Lain kali mereka akan menggunakan alat yang lebih canggih untuk menebangmu, sehingga kau tidak punya waktu, jangankan untuk memakan mereka, meranggaspun tidak." Suara si lelaki tua. Ia beranjak.

"Oh, terimakasih sudah mengingatkan. Saat itu terjadi aku ingin kau membuat bahtera." Nyonya Besar menyahuti punggung lelaki tua.

Dedaunan berguguran dari tubuh Nyonya Besar. Menmbuat tanah menjadi seolah berlapis karpet hijau. 

"Ini bulan Desember. Belum waktunya kau meranggas, Nyonya." Gumamku pelan.

"Oh, dear. Maafkan aku. Ini bukan mauku. Bumi sudah semakin panas. Cuaca sudah berubah dengan cara yang paling ekstrim. Tidak ada lagi hujan di bulan Desember."Ujar Nyonya. "Aku perlu meranggas untuk menjaga kestabilan metabolismeku."

Aku mengangguk paham. Seperti halnya perempuan yang mengalami siklus menstruasi, Nyonya Besar juga punya siklus meranggas.

"Oh ya dear, aku juga ingin kau membuat bahtera yang cukup untuk memuat keluargamu."

"Kenapa dengan bahtera itu Nyonya?"

"Buatlah, hanya untuk berjaga-jaga."

"Baik, Nyonya," Ucapku sebelum beranjak.

"Kau manis sekali. Sini kukecup dulu."

Aku mengangsurkan tubuh mendekap Nyonya Besar. Tepat di  jidatnya ada lubang tempat burung hantu bersarang.

***

3 bulan setelah pelukan itu Nyonya Besar ditebang dengan buldozer oleh sekelompok manusia rakus berperut buncit.  3 hari berturut-turut turun hujan deras tanpa jeda. Bendungan di pinggir kota tak mampu menampung air bah. Pun, tak ada lagi akar-akar Nyonya Besar yang menahan laju air. 

Bahtera yang kubuat sudah siap kugunakan. Nanti jika air bah telah setinggi langit-langit. Sekarang baru setinggi gagang pintu.

Monday, May 9, 2016

(Masih) Nyala Untuk Yuyun

Jika rasa bisa berwarna dan asa bisa berwujud, maka warnaku adalah lembayung dan asaku serupa payung. Mengembang riang menyambut penghujung hujan dan muasal bianglala tujuh gradasi. Indah.

40 hari sudah arwahku melayang-layang. Belum pulang ke nirwana sebab ada sekeping hati menahanku di labirin fana.
Ibu.

Sampai kapan kau tumpahkan air yang membentuk anakan sungai di pipimu itu? Tidak cukupkah pelita yang menyala dari ujung-ujung negri demi mengantarkan doa-doa yang dilangitkan padaku?

Ibu, maafkan putri kecilmu ini. Dalam keadaan mengenaskan meninggalkanmu. Ketika 14 tahun lalu kau menangis menyambut kedatanganku, haruskah ketika 14 tahun kemudian hatimu terkoyak mengantarkan jasadku yang lebam ke dalam lahat?

Rasaku berwarna lembayung. Tersesat menggantung antara surga dan pulang. 

Asaku berwujud tangkupan payung. Ada harap dan gumpal-gumpal doamu terselip. Sekaligus impian untukku di usia 25. Barangkali sukses dan menikah dengan pria yang juga berbakti padamu.

Barangkali memberikan cucu-cucu lucu yang menghibur hari tuamu.

Barangkali merawat tubuh tua ringkihmu atau sekedar menyuapi bubur di sore harimu.

Berhenti di situ saja. 
Kini aku tinggal seberkas nyawa tak berwujud. Bersama doamu aku ingin terbang. Bukan meninggalkanmu, hanya untuk pergi menunggumu di gerbang surga. 

Terimakasih ibu. 

Terimakasih untuk pelita-pelita yang dinyalakan mengantar kepergianku.

Maafkan aku, ibu.

Maafkan aku yang mati mengenaskan di usia baru empat belas.

Sehingga sedihmu tak berkesudahan.

Friday, May 6, 2016

Surat Cinta Kartini untuk Yuyun

Jika Kartini masih hidup dan bukan sekedar tokoh fiktif karangan kompeni mungkin dia akan menulis satu bab sendiri surat yang mengisahkan tragedi Yuyun.

Yuyun itu wanita yang sedang menjemput pelita. Bayangkan, dia sedang dalam perjalanan pulang dari sekolah menuntut ilmu. Dihadang kawanan pemuda mabuk tuak yang kemudian bikin nyawa dia melayang.

Tentu saja Kartini akan dirundung sedih teramat sangat sebab satu lilin telah padam sehingga gelap semakin menjauh dari terang. Kasihan anak gadis yang diperjuangakan Kartini ini. Tak usah sekolah saja sekalian. Atau kalau mau sekolah yang home schooling sebab jalananpun telah menjadi antah berantah yang dihuni binatang jalang. 

Sayang, Kartini sudah tak ada sehingga konsep home schooling yang baru belakangan ini mencuat tidak terjangkau akal budinya. Mungkin jika Kartini masih hidup, ia akan menganjurkan para hawa menempuh pendidikan dengan konsep ini. Itu juga syukur-syukur kalau guru yang mengajar paham mana dosa mana pahala. Kalau tak paham bisa berakhir tragis juga seperti Yuyun. Lebih sadis lagi karena diperkosa di rumah sendiri. Namanya juga home schooling.

Mungkin kalau Kartini masih hidup ia akan menambahkan dalam suratnya beberapa detail. Seperti isi surat untuk nyonya Abendon tahun 1901 ini :

"Pergilah, laksanakan cita-citamu. Bekerjalah untuk hari depan. Bekerjalah untuk kebahagiaan beribu-ribu orang yang tertindas. Dibawah hukum yang tidak adil dan paham-paham palsu tentang mana yang baik dan mana yang jahat. Pergi! Pergilah! Berjuang dan menderitalah, tetapi bekerja untuk kepentingan yang abadi”. (Namun ingat jika bepergian beramai-ramailah. Membawa sanak saudara para tetangga agar kau terhindar dari fitnah, tipu muslihat dan ada yang bantu kau pecahkan kepala orang-orang yang isinya cuma nafsu hewani. Nanti jika mereka bermaksud jahat padamu di jalan)

Yang di dalam tanda kurung adalah detail yang kemungkinan akan ditambahkan oleh Kartini dalam suratnya.