Thursday, July 20, 2017

PULANG





Ia berjalan dengan penuh percaya diri menuju sebuah rumah. Kepalan tangannya menggenggam erat sebuah tas jinjing yang besarnya cukup untuk memuat tiga pasang baju. Ia sudah mengukur akan tinggal selama tiga hari. Kawasan tepi laut sudah banyak berubah. Dulu orang-orang menyebutnya kampung nelayan, sekarang orang-orang menyebutnya boulevard karena pantai telah ditimbun dan jalan-jalan telah dilapisi aspal.

Tanpa ragu kakinya melangkah. 10 tahun tidak mengubah apapun kenangan tentang rumah itu kecuali terasnya kini berbatasan dengan aspal dan bukannya pasir pantai. Ia tersenyum pada seorang gadis yang ia tahu pasti umurnya 15 tahun.

“Mama ada di rumah?” tanyanya.

Emma, nama gadis itu, mengangguk. Alisnya mengerut demi memandang wajah pria asing di hadapannya. Ia baru saja akan memanggil Mamanya namun lelaki itu mendahului dan melangkah masuk. 

Ia mendapati seorang wanita paruh baya memunggungi pintu dapur dan menghadap wajan panas. Bunyi sesuatu digoreng meredam degup jantungnya. Ia memutuskan mendekat dan menyentuh pundak wanita tersebut.

“Sebentar lagi ikannya masak. Tunggu saja di meja makan. Kenapa jam begini sudah kembali? Apakah tidak ada ikan di pelelangan?” Suara yang masih sama. Intonasi yang masih sama. Seperti halnya laut yang tetap biru dan tidak berubah oleh reklamasi, 10 tahun juga tidak mengubah apapun pada diri wanita itu.

“Aku rindu makan ikan goreng buatanmu.” Lelaki kulit coklat itu menyahut.

Tangan si wanita menjadi kaku. Segala kegiatannya menggoreng ikan terhenti. Bahkan, rasanya ia ingin berhenti bernapas saat itu juga.

Secepat kilat punggungnya berbalik. Dan mata coklat yang menurun pada Emma itu menumbuk mata si lelaki. Bibirnya yang merah meski sedikit keriput membuka karena terkejut mendapati suaminya, yang harusnya sudah mati dalam kerusuhan 10 tahun yang lalu, berdiri tegap penuh hasrat seperti ingin melumatnya.


End

#tantangankelasfiksi4
#OneDayOnePost

Tuesday, July 18, 2017

Penting Nggak Penting Grup WA



Hingga detik ini saya telah bergabung dalam 17 grup WA. Beberapa di antaranya bergabung dengan keinginan sendiri, sisanya di add sama orang lain. Biasanya yang di-add ini adalah grup WA kantor yang sebenarnya kalau boleh saya tidak pengen gabung. Hahhaah. (Disambit keyboard).


Buat saya yang notabene gaptek dan bukan gadget freak, angka 17 ini adalah angka yang sangat fantastis. Orang lain mungkin bisa memiliki angka yang lebih dari itu. Tapi, bayangkan jika ke 17 grup ini aktif. Jumlah chattingannya bisa ribuan! Rekor tertinggi 4000-an unread chat. 😣😣







Saya adalah tipikal orang yang malas pegang hape. Kalau lagi di kendaraan saya lebih memilih tidur atau menikmati perjalanan. Kalau lagi makan, saya lebih menikmati makan dan chit chat daripada utak-atik hp. Kalau lagi kerja, nah baru deh saya pengen pegang hp. #disambit CPU. πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚

Tapi, pada kondisi sekarang di mana teknologi komunikasi berkembang begitu pesat, memiliki grup WA sepertinya adalah sebuah keharusan, terlepas dari kamu ikhlas atau tidak bergabung di dalamnya. 

Positifnya dari bergabung dalam suatu grup WA apalagi kalau isinya adalah teman-teman sejawat jaman kuliah atau jaman sekolah adalah sebuah anugrah. Tali silaturrahmi tetap terjaga, kondisi teman-teman bisa tetap update, bisa saling bertukar informasi remeh temeh maupun gosip murahan. πŸ˜†πŸ˜†. Grup WA yang isinya teman-teman se almamater benar-benar adalah media relaksasi maupun refreshing buat saya ketika penat menghadapi rutinitas. 

Di lain pihak, grup WA kantor kadang kala terasa seperti teror. Apalagi jika muncul chat di hari libur dan malam-malam pula. Saya pikir bekerja selama 12 jam, dari jam 8 sampai jam 8 lagi itu sudah cukup, tapi ternyata belum! Dengan adanya grup WA kok jadinya saya merasa bekerja selama 24 jam sehari, 7 hari seminggu, bagaimana tidak, di hari libur maupun di luar jam kantor pun tetap harus merespon tetek bengek perihal kerjaan jika ada permintaan data atau instruksi atasan. πŸ˜₯πŸ˜₯. Lelah adek, Bang...😫

Tapi bukan berarti grup WA kantor ini tidak ada manfaatnya. Tentulah sangat bermanfaat karena jadi lebih mudah dalam berkoordinasi maupun memastikan instruksi telah sampai pada sasaran. Bahkan meeting evaluasi kinerja pun tak jarang dilakukan via grup WA ini. Tapi mbok ya di hari libur itu, sebaiknya libur juga...πŸ˜…πŸ˜…πŸ˜†πŸ˜†. Tapi ya mau bagaimana lagi ya, namanya tuntutan pekerjaan...😭😭 (Curcol)

Tapi kalau grup WA kantor yang undercover, yang di dalamnya nggak ada bos-bos, asik saja auranya. Semua curhatan perihal kerjaan sampai joke-joke ngocol bisa tumpah ruah di grup WA ini. 

Satu lagi manfaat dari grup WA yang sangat saya rasakan, yaitu media belajar. Saya bergabung di salah satu komunitas menulis yang berbasis WA. Banyak sekali pelajaran dan ilmu yang saya peroleh dari grup tersebut, meskipun kadang kewalahan mengikuti chat dari grup beranggotakan lebih dari  100 orang itu. 

Jadi kesimpulannya, kemajuan teknologi, dalam hal ini teknologi komunikasi, memiliki 2 sisi mata uang. Bisa saja bermanfaat, bisa saja malah adalah sebuah pemborosan, boros waktu, boros energi, boros biaya. Jadi yah, tergantung bagaimana kita menyikapinya. Overall bagi saya, tergabung dalam grup WA itu penting dan lebih banyak manfaatnya.

Jadi, saya akan tetap ajeg bergabung di dalam 17 grup WA saya sampai dengan waktu yang tidak ditentukan 😁

Kalau kamu? Pernah coba hitung berapa grup WA-mu?

Sunday, July 16, 2017

Susu Formula Murah : Yay or Nay



First of all, i have to tell one thing to you, people. Don't blame me! Don't bully me. I know i'm not a good mom, you know my name, but you don't know my story.....

Stop! 

Saya tidak akan bikin postingan curhat ala-ala ABG umur 18 tahun yang lagi viral. Hahahah πŸ˜‚ 

Di postingan kali ini saya ingin membahas soal susu formula yang selama ini mendampingi tumbuh kembang Ahmad. 

Tapi sebelum itu saya ingin berpesan kepada seluruh wanita di muka bumi ini yang notabene adalah seorang Ibu, calon ibu, calon istri, bahwa ASI adalah makanan bayi terbaik sepanjang masa. Sangat banyak keistimewaan ASI yang tidak bisa digantikan oleh susu formula (sufor) termahal sekalipun. (Mudah-mudahan saya bisa membahas keistimewaan ASI di postingan lain). Meskipun demikian, setiap Ibu memiliki kondisi berbeda-beda yang menyebabkan proses meng-ASI-hi ini menjadi tidak optimal. Untuk itulah saya berpesan, tolong jangan menghakimi apalagi mem-bully ibu-ibu meskipun kami suka ngomel-ngomel, suka moody, suka sein kiri padahal mau belok kanan. Plis, jangan bully kami hanya karena kami memberikan susu formula untuk anak kami. πŸ˜…

Nah, jadi kondisi saya adalah Ahmad bingung puting, istilah kerennya nipple confusion syndrom di usia sekitar 2 bulan sehingga proses memberikan ASI ini sangat melelahkan karena saya harus memompa ASI terlebih dahulu sebelum dituangkan ke botol susu dan dikasih ke Ahmad. Percayalah, menyusui anak langsung dari payudara saja melelahkan apalagi kalau harus pakai proses pumping terlebih dahulu. 

Jam tidur saya benar-benar kacau balau karena harus mengatur jadwal begadang memerah susu dan begadang memberi Ahmad susu pake botol dot. Kalau yang bayinya tidak bingung puting kan tinggal buka daster langsung nemplok. Bisa sambil bobo-bobo cantik ala Syahrini. Kalau saya harus sterilize alat pompa asi dulu, memerah dulu, nyetok asi dulu, sterilize botol, baru deh bisa kasih susu Ahmad. Melelahkan!

Stok ASIP pertama


Mama saya lihat saya serempong itu menganjurkan untuk memberikan Ahmad sufor saja tapi saya keukeh! Tidak ada AIMI (Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia) di Manado. Halo AIMI, kapan buka cabang di Manado? Saya mau daftar jadi pengurus. Heheh. Tidak ada klinik laktasi, tidak ada dokter yang merangkap conselor ASI yang dapat menjadi tempat curhat dan mendampingi saya melewati masa-masa suram ketika Ahmad menolak menyusu langsung dari payudara. Percayalah, saat itu lebih sakit daripada ketika diputusin pacar. 😭😭😭. (Btw, saya tidak update lagi soal ini sejak tahun 2015. Kalau sekarang sudah ada AIMI, klinik laktasi atau conselor ASI di Manado let me know ya....)

Produksi ASI saya melimpah dan pengetahuan tentang pentingnya memberi ASI lumayan (thanks to om Google) jadi saya bersikeras tetap memberi Ahmad ASI. Badan saya turun 8kg dari berat sebelum hamil. Bayangpun!

Namun akhirnya saya menyerah ketika masa cuti 3 bulan habis dan saya harus kembali masuk kantor. Awalnya saya bisa pumping 2x di kantor, namun semakin ke sini, semakin tidak ada waktu untuk pumping di kantor dan produksi ASI pun menurun. 

Singkat cerita, di usia Ahmad 3 bulan, saya menyerah kepada susu formula. Ini adalah satu-satunya jalan memberikan asupan gizi pada Ahmad karena dia belum bisa makan nasi padang πŸ˜‚πŸ˜‚.

Mulailah saya mencari kandidat susu formula yang akan saya berikan pada Ahmad. Buat anak, pastilah orangtua akan memberikan yang terbaik. Untuk itu saya langsung membelikan 1 kaleng susu formula termahal. Dikasih minum pertama kali langsung wajah dan tubuh Ahmad bengkak serta memerah. Seperti habis keracunan makanan. Bawa periksa ke dokter dan didiagnosa alergi. Ahmad ini memang sejak lahir terdiagnosa memiliki riwayat alergi. Oleh DSA diberikan susu formula anti alergi yang baunya kurang enak dan harganya bikin kantong jebol. 😭😭

Karena baunya yang kurang enak, Ahmad tidak mau minum sama sekali. Saya genjot pumping ASI lagi karena kalau ASI perah Ahmad mau minum dan tidak alergi. 

Beranjak dari merk susu pertama saya beralih ke merk susu ke dua yang harganya lumayan murah. Hasilnya, Ahmad diare. Orang bilang pilih susu formula itu sama seperti memilih bedak. Cocok-cocokkan. Jadi jika satu merk susu formula cocok di anak A belum tentu akan cocok di anak B. Begitupun sebaliknya.

Bingung mau beli susu merk apalagi, ART saya nyeletuk. "SGM saja. Tidak bikin diare." SGM? Dalam hati, Oh My God. Ini sufor paling murah kan ya? Karena paling murah jadi tidak yakin memberikan susu itu kepada Ahmad. Apakah kandungan gizinya sama? Apakah bagus? Apakah cocok? Apakah ini? Apakah itu? Dan apakah yang lain-lain datang bertubi-tubi.

Akhirnya, saya googling tentang cara memilih susu formula. Kesimpulannya, setiap merk susu formula memiliki kandungan yang hampir sama. Kalau ada embel-embel plus zinc artinya ada tambahan zat besi, plus AHA DHA juga artinya ada tambahan zat tersebut, intinya ASI tetap yang paling baik dan paling komplit. πŸ˜†

Berbekal ilmu dari google saya memberanikan diri membeli SGM. Eh, ternyata Alhamdulillah cocok! Sekarang Ahmad sudah minum yang untuk usia 1-3 tahun. Tidak berani ganti ke merk lain takutnya menyebabkan hal-hal yang tidak terduga lagi.

Fyi, SGM ini sufor paling murah dan kandungannya kurang lebih sama lah dengan sufor lain. Tentunya sufor mahal memiliki komposisi agak berbeda yang membuatnya menjadi sedikit mahal, tapi over all, kebutuhan gizi Ahmad terpenuhi dengan susu ini. Dan ketika ibu-ibu lain mengeluhkan harga susu yang melangit, saya Alhamdulillah tidak. Hahah. Pengertian banget sih kamu, Nak.

Gambar dari Google


Bayangkan, harga 1 kotak besar ini Rp.74.000,- kemarin sempat ada promo beli 2 gratis tas ransel anak. Seru kan?! Hahah.

By the way, ini bukan iklan ya. Saya tidak dibayar oleh siapapun untuk menuliskan postingan ini. Saya hanya ingin berbagi dengan Ibu-ibu lain di luar sana yang masih memiliki stigma bahwa sufor murah itu tidak berkualitas. Kalau orang tuanya mampu dan anaknya cocok, belikanlah yang termahal dan terbaik, namun jika anak justru tidak cocok jangan ragu untuk mencoba yang lebih murah. Siapa tahu cocok kan? 

Jadi, saya YES untuk susu formula murah. Tapi ingat, ASI tetap yang terbaik ya Mommy.....😘😘😘

Monday, July 10, 2017

Travelling Bersama Balita : Yay or Nay!



Kalau saya nay! Saya dan Ical sudah sepakat untuk mengatakan TIDAK jika harus travelling bersama balita 2 tahun saya yang bernama Ahmad. Hm, kesepakatan itu baru muncul 2 minggu belakangan ini sih...πŸ˜‚πŸ˜‚



Bukannya saya tidak suka travelling, saya adalah seorang traveller sejati. Baca ini kalau tidak percaya πŸ˜†πŸ˜†:


Tapi begitu hamil dan melahirkan, rasa-rasanya sangat rempong membawa bayi ataupun balita bepergian jauh. Untuk itu saya angkat 8 jempol (pinjam jempol kaki dan tangan suami) untuk Raffi Ahmad. Loh? Iya! Saya lihat di infotainemnt Raffi Ahmad sering mambawa Rafatar travelling hingga ke luar negri. Saluuuttt. Lalu Ical bilang "Raffi Ahmad travelling bawa baby sitter makanya tidak rempong." Kemudian saya manggut-manggut.

Baru saja 2 hari yang lalu saya tiba kembali di Manado sepulangnya dari libur Lebaran 2 Minggu di kampung halaman Ical di Pinrang. Setelah tiba di Manado saya tidur nyaris 14 jam karena badan ini rasanya  remuk semua.

Dengan Lebaran saya tahun ini di Pinrang berarti Ahmad sudah 3 kali diajak berpergian. Pertama ketika usianya 4 bulan. Saat itu saya didampingi Mama sehingga masih bisa menghandle segala keperluan Ahmad meskipun ketika itu saya sangat rempong karena harus membawa perlengkapan pompa ASI plus cooler box plus botol-botol ASI nya karena Ahmad bingung puting dan tidak mau menyusu langsung di payudara.

Kali kedua membawa Ahmad pulang kampung adalah ketika dia berusia 1 tahun lebih beberapa bulan. 5 hari di kampung Ical dan Ahmad diare. Mungkin karena kelelahan menempuh perjalanan lumayan jauh (1.5 jam pesawat dan 4 jam darat) ditambah ketika harus berkunjung ke rumah buyut yang memakan waktu 8 jam perjalanan.

Ical belum kapok nih ceritanya bawa Ahmad pulang kampung, padahal saya sudah nangis-nangis bombay menceritakan kerempongan saya. Kali ketiga membawa Ahmad mudik adalah yang terjadi 2 minggu lalu. Perginya bareng Ical. Ahmad tenang di pesawat. Dan karena dia sudah 2 tahun, dia sudah dapat kursi sendiri. Alhamdulillah. 

Sampai di kampung, semua masih under controll. 2 hari kemudia Ahmad batuk pilek (batpil). Hari ketiga batuknya tambah parah plus sesak nafas. Dari bayi kalau batpil Ahamd pasti sesak nafas. Ada riwayat alergi sehingga kalau batpil pasti harus di nebulizer. Tapi sudah nyaris beberpa bulan ini setiap batpil tidak pernah di nebu lagi. Eh, tiba-tiba di Pinrang dia harus di Nebu. Mana nebulatornya tidak saya bawa pula. Akhirnya dengan menempuh perjalanan 45 menit kami berhasil menemukan Nebu di rumah sakit kota kabupaten. 😭😭😭 Malamnya Ical pertama kali seumur hidup merasakan begadang boboin Ahmad. Setelah itu dia bertaubat dan memaklumi kerempongan saya ketika harus  membawa Ahmad bepergian jauh πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚.

Belum selesai sampai di situ. Hari ke 5 batpilnya membaik, eh berganti diare. Diarenya lumayan parah sampai pupnya cair kayak pipis. Kasihan. Ditambah kondisi saya drop karena ketularan batpil. Mana Ahmad sering tantrum dan tidak mau dimomong sama orang lain kecuali saya atau Ical. Di sanalah tingkat pertaubatan Ical bertambah. Ical sadar Ahmad agak rempong dibawa perjalanan jauh, pertama dia tidak mau dimomong sama orang lain sehingga Ayah Ibu nya ini bisa kehabisan energi, kalau di Manado dia mau dimomong sama Oma Opa ataupun Adi, orang yang bantu-bantu kerjanya Ical di Manado.

Kedua Ahmad butuh waktu penyesuaian dengan lingkungan baru. Ponakannya Ical banyak banget sehingga Ahmad kaget. Orang di Manado dia cuma seorang diri anak kecil di rumah. Ketiga, ketika Ahmad stres dan tantrum sama lingkungan baru kondisinya drop dan gampang terserang penyakit.

Ical bilang, "Ini terakhir kali bawa Ahmad kalau mudik atau ke luar kota. Nanti kita bawa lagi kalau dia sudah TK." Alhamdulillah...... Saya langsung sujud dalam hati. Eh? 

Permasalahan Ical sudah berhenti sampai di situ tapi saya belum. Ketika akan balik Manado, Ical masih ada beberapa hal yang harus di selesaikan di Pinrang jadinya saya yang akan pulang sendiri bersama Ahmad. Oh My God! Saya tidak bisa membayangkan membawa balita yang lagi rewel karena kondisi kesehatannya belum membaik sendirian di pesawat. Saya ngamuk-ngamuk tapi kerjaan Ical di Pinrang tidak bisa ditinggal sementara saya juga harus sudah mulai masuk kantor Senin nanti.

Dengan kekuatan bulan saya memantapkan niat. Sampai dalam pesawat Ahmad mulai bertingkah, dari nangis-nangis tidak mau pakai seat belt dan mau berdiri ketika pesawat take off hingga tidak mau dicebok ketika dia pup. πŸ˜…

Walhasil pramugari mengalah membiarkan Ahmad tidak pakai seat belt karena penumpang di sekitar tempat duduk saya sudah protes Ahmad nangis kejer. Padahal waktu pergi mau dipakekan seatbelt sama Ical πŸ˜₯.

Nah, soal Ahmad pup dan tidak mau diangkat ke kamar mandi ini saya malu luar biasa karena pas berdiri dan menggendong Ahmad paksa, penumpang-penumpang hingga ke beberapa kursi belakang saya pada tutup hidung dan memandang saya sinis. Hahaha. Sorry, bau ya Pak Bu ? πŸ˜†πŸ˜†

Pokoknya saya sudah kayak gembel di dalam maskapai nomor wahid di Indonesia itu. Jilbab berantakan, muka berantakan, Ahmad juga sudah cemong sama makanan dan ingus. Hahahah. Kontras sama penumpang lain yang pakaiannya cetar dan parlente. Bodo amat! Saya juga bayar tau! (Padahal kebetulan saja pilih Garuda karena harganya cuma beda 100rb lebih dari Lion dan citilink ketika itu πŸ˜…πŸ˜…)

Intinya saya sih NO untuk bawa balita bepergian karena kasihan anaknya jadi sakit, kasihan juga orang tuanya yang tidak bisa memaksimalkan Quality Time ketika liburan. Liburan yang dalam kota saja dulu untuk sementara. 😁

Wednesday, June 14, 2017

Some One You Call Husband


The other half but so much different.

Credit


I love reading he loves thinking,
Thinking every single thing;
How to earn more money, what to eat tonight, how to handle his brother.

I love writing he loves watching.  Watch some boring items; moto gp, news, colosal movie.

I eat everything, he doesn't eat many things; vegetable, fruit, some kind of fish.

I prefer walking, he always use vechicle.

I love travelling, he loves staying at home.

I face my challenge, he gives up some jobs.

So much difference between us. I call him husband.



Sunday, June 4, 2017

Tips Efektif Menulis Novel di Bulan Ramadhan Ala Emak-enak Sok Sibuk

Ramadhan kali ini tiba-tiba saya ingin menulis novel. Gaya banget kan? Konsep dasar novel ini sebenarnya sudah melayang-layang dalam kepala sejak awal tahun (atau akhir tahun lalu ya? Lupa!) Tapi entah kenapa keinginan menulis itu baru mendesak belakangan ini.

Perlu diketahui bahwa saya sudah menghidari menulis novel sejak lama. Ada sepuluh tahun kali, dikarenakan tulisan yang tidak kelar-kelar. Saya mengencani cerpen dan tipe-tipe tulisan yang lebih pendek sebagai bahan pelarian. Saya suka tidak sabar menulis novel karena lama kelarnya banyak capeknya!πŸ˜…πŸ˜…πŸ˜…

Nah, karena sekarang-sekarang ini keinginan menulis Novel itu menggebu-gebu, mana lagi puasa dan sibuk pula (sok banget!), saya melakukan langkah-langkah di bawah ini :

1. Tentukan judul yang tepat

Ini penting dan harus dilakukan. Judul dummy saja. Judul fixed nya nanti kalau naskah sudah kelar.

2. Tuliskan nama-nama tokoh dan karakternya.

Saya tidak melakukan ini ketika menulis cerpen dan merasa perlu melakukan ini saat menulis novel.



3. Visualisasikan gambar karakter.

Ini gila tapi ya, saya mencari di google dengan keyword 'cute girl' untuk mencari gambar yang kira-kira sesuai dengan karakter tokoh saya.

Gambar dari Google denga keyword 'cute girl'πŸ˜…


4. Buat poin-poin penting yang akan dijabarkan dalam novel.

Sekali lagi saya tidak pernah melakukan ini ketika menulis. Saya percaya dengan kata-kata 'setiap cerita akan menemukan jalannya sendiri' namun kali ini saya melakukannya untuk mempertahankan alur tetap pada rel nya.



5. Estimasikan jumlah halaman.

Saya rencanakan novel saya nanti berjumlah 150 halaman a4 di mana masing-masing bab terdiri dari 10 halaman. 

6. Tentukan target.

Saya menargetkan diri saya untuk menulis sebanyak minimal 5 halaman/hari dan semoga Ramadhan ini draft novel saya bisa rampung.

7. Pastikan anak dan suami sudah bobo.

Saya hanya bisa menulis dalam keheningan. Jadi kalau ada anak kecil kesana kemari dan orang dewasa yang ajak ngomong saya benar-benar tidak bisa menulis. Saya banyak menulis di atas jam 10 malam atau selepas sahur.

Menulis novel di bulan Ramadhan akan membuat puasamu tidak terasa. Tentu saja dengan tidak mengabaikan amalan-amalan ibadah lainnya.

Selamat menulis dan berpuasa. 😘😘😘

My New Born Baby Has Just Delivered

Perjalanan kepenulisan saya yang masih awam ini tidak terlepas dari beberapa komunitas menulis di mana saya menjadi anggota di dalamnya.

Benar kata sebuah kalimat bijak 'untuk menulis kamu bisa melakukannya seorang diri, untuk menjadi penulis kamu butuh orang lain'. Orang lain dalam hal ini saya tafsirkan sebagai sebuah atau beberapa komunitas menulis.

Silahkan baca :

Pada tulisan itu saya menjelaskan komunitas-komunitas menulis tempat saya belajar. Belajar di sini jangan diartikan secara konvensional di mana ada guru, murid, bahan pembelajaran dan ruang kelas. Di masa sekarang ini belajar bisa dilakukan di mana-mana bahkan sambil kamu bobo siang sekalipun!

Ruang kelas saya adalah grup facebook dan grup whatsapp. Guru saya adalah teman-teman penulis lainnya. Materi pembelajaran saya adalah diskusi acak adul dengan mereka. 

Kenapa sebuah komunitas itu penting? Ya, penting untuk menjaga atmosfer sekelilingmu tetap positif. Hal itu terjadi pada saya. Saya akan kembali semangat menulis setelah berdiskusi panjang lebar meskipun yang dibahas jauh menyimpang dari kaidah-kaidah menulis πŸ˜„πŸ˜„. Saya akan semangat menulis ketika melihat teman lain berprestasi, seperti memenangkan lomba atau menerbitkan buku. Saya akan semangat menulis bahkan hanya ketika membaca tautan tulisan hasil karya teman.

Hal lain yang membuat komunitas menulis itu penting adalah kamu bisa mendapatkan informasi perihal lomba menulis, event-event menulis atau sekedar alamat media massa yang menerima karya tulis. Hebat kan?  Jangan meremehkan kekuatan komunitas, karena kalau sudah terlibat percakapan maka kamu akan lupa tugas dan tanggungjawab lain. Ini benar-benar gawat πŸ˜…πŸ˜….

Jadi, salah satu komunitas menulis tempat saya bergabung suatu ketika mengadakan event membuat fiksimini. Tidak dinyana, tulisan saya terpilih dan membuat saya menjadi salah satu dari 12 kontributor yang terlibat dalam proyek membuat antologi fiksimini.

Yep, this is how my new born baby looks alike.



Sebelum ini tulisan saya juga pernah dimuat dalam antologi Cerpen Anak Islami yang diselenggarakan oleh Pro U Media. 
  

Lihat di sini :


Thank you LovRinz. Love you to the sun and back. 😘😘