Saturday, April 15, 2017

Hal-hal Berkesan dalam Hidup


Menurut saya, penting sekali untuk mengingat hal-hal tertentu dalam hidup. Sebuah peristiwa, sebuah pengalaman, sebuah tempat, sebuah nama. Namun, entah harus saya syukuri atau saya rutuki, kemampuan saya di bidang ini sangatlah payah. Saya benar-benar bisa melupakan sebuah peristiwa yang saya alami dengan beberapa orang. Jadi ketika orang tersebut menceritakannya kepada saya, saya cuma bisa senyum-senyum meringis sambil berusaha mengingat-ingat tapi hasilnya nihil.

Saya juga payah dalam mengingat nama dan wajah. Pernah suatu ketika seorang perempuan lewat depan rumah saya dan menyapa saya dengan begitu akrab, memegang tangan saya dan mulai menceritakan hal-hal yang tidak saya ingat, sebagai gantinya saya hanya tersenyum-senyum canggung sambil menerka siapa gerangan perempuan ini. Sampai dia pergi saya tidak berhasil mengingat apapun bahkan hanya namanya dan saya terlalu malu untuk menanyakannya. 😡😡😡


Sepertinya ada gangguan dengan memori episodik saya. Saya bahkan googling secara khusus tentang jenis-jenis amnesia dan Amnesia Lakunar sangat dekat dengan yang saya alami. 😱😱😱

Yang paling parah adalah, orang tua saya yang lebih hafal nama-nama teman dari SD, SMP dan SMA saya ketimbang saya. πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚. Jadi saat suatu ketika saya berpapasan dengan seseorang yang menyapa saya, biasanya orang tua saya yang nyeletuk, "Itu kan teman SD mu." , "Itu kan anaknya si itu," , "Itu kan yang tinggal di sana." Tapi jangan berharap saya ingat dan saya hanya akan ber "O" panjang saja.

Kadang-kadang hal ini terasa sangat mengganggu, apalagi kalau ada acara reunian. Duh!

Hal tentang gampang lupa ini juga berlaku dengan nama-nama guru. Jadi ketika saya berkumpul dengan teman-teman SMA misalnya, dan tiba-tiba pembicaraan flash back ke masa SMA dulu, dan mulai membiacarakan si guru itu, si guru anu, maka saya wassalam lah sudah. Hanya beberapa nama guru saja yang saya ingat, mungkin dua atau tiga.

Nah, anehnya ada hal-hal yang masih terang dalam ingatan meski sudah belasan tahun berlalu. Seperti potongan-potongan puzzle yang terserak. Misalnya saja nama teman sebangku saya ketika kelas 2 SD. Pribumi Timor Leste, namanya Terezina. Lalu guru bahasa indonesia saya di SD Timor-Timur (saya lupa namanya πŸ˜‘πŸ˜‘) tapi sangat saya ingat tentang pelajaran yang diajarkan beliau bahwa dalam satu kalimat hindari mengulang kata yang sama. Bahwa dalam satu kalimat sebaiknya tidak lebih dari 13 kata. Bahwa ketika saya memprotes caranya menuliskan kata 'Menado' dia katakan bahwa 'Menado' dan 'Manado' sama-sama dibenarkan.

Lalu guru bahasa Inggris saya di SD (namanya lupa) yang akan menerapkan sebuah metode pembelajaran unik jika kebetulan bahasa Inggris ada di jam terakhir. Jadi dia akan menyebutkan kata dalam bahasa Inggris, siapa murid yang bisa menyebutkan artinya dalam bahasa Indonesia boleh pulang. Yup, dapat ditebak sayalah yang pulang paling akhir, atau kedua terakhir karena bahasa Inggris saya payah sekali! Sejak saat itu saya bertekad untuk belajar Bahasa Inggris dengan baik.

Lalu guru mengaji saya di Timor-Timur, namanya Ibu Silmi (sebenarnya Silmi adalah nama anaknya) yang sebenarnya tidak berniat membuka taman pengajian namun karena tetangga sekompleks menobatkan dia sebagai wanita soleha yang layak jadi guru mengaji tersebab pakaiannya yang berjilbab dengan baik dan syari, maka beliaupun tidak menolak ketika harus mengajar anak-anak di kompleks untuk mengaji. Tidak minta bayaran sepeserpun, tapi para orang tua yang merasa berhutang budi tetap saja membayarnya secara sukarela tiap bulan. Uangnya beliau pakai untuk membeli meja-meja kecil untuk anak-anak, membeli buah-buahan yang dimakan bersama di sela-sela kegiatan mengaji. 

Saya tidak pernah tahu mengaji bisa semenyenangkan itu, ketikapun dia mengharuskan kami mengaji tambahan subuh-subuh di waktu-waktu kami libur sekolah. Sangat menyenangkan. Dia mengadakan kompetisi menghafal surat pendek dan asmaul husnah dan hadiahnya alat tulis lucu yang dibeli pakai bayaran sukarela dari orang tua. Dari dia saya mengenal tajwid, saya menghafal ayat kursi dan menghafal sebagian kecil asmaul husnah yang dinyanyikan dengan nada. Saya sangat berterimakaskh dimanapun Ibu Silmi berada setelah kerusuhan Timor Timur itu. πŸ˜„

Setelah saya pindah ke Manado, saya ingat dengan jelas peristiwa di mana saya diutus SD saya lomba pelajaran IPA dan ketika pertanyaan tentang apa ciri utama hewan mamalia maka saya menjawab dengan keyakinan penuh "Bertelinga!" Harusnya kan beranak ya. 😁😁 Dan saya diberi angka 50 sama jurinya πŸ˜….

Hal-hal kecil seperti rasa es mambo di sekolag SD saya di Timor-Timur, lapangan helikopter di seberang sekolah, bentuk kue keju favorit saya yang sering dibelikan Papa, saya memakannya dari bawah dan bagian kejunya terakhir. 😁 Saya ingat buku-buku tokoh inspiratif dunia yang saya pinjam dari Monica (teman SD saya) Hellen Keller, Wright Bersaudara. Aroma kue coklat menjelang Lebaran ketika masih kecil dan Mama masih sering membuat kue ketimbang membeli jadi seperti belakangan ini, gaya Kakek saya yang terkantuk-kantuk menonton film India dan saya mengintip dari lubang kunci karena saya tidak boleh ikut nonton karena itu jam tidur siang. Saya ingat semua itu dengan baik.

Mungkin hal-hal tersebut adalah hal-hal paling berkesan dan menyenangkan sehingga tetap ada dalam memori meskipun waktu sudah menjadikannya usang.

Saya pikir kenangan-kenangan seperti itu pantas untuk diingat dan kenangan-kenangan seperti itu yang paling banyak mengayakan jiwa saya.

Kalau kamu, apa kenanganmu yang paling berkesan?

0 comments:

Post a Comment