Sunday, December 1, 2013

PEMIMPI : si Teman SD bernama Gabriella

(Saduran Note FB Desember, 2010)

Beranjak kelas 6 SD, saya mulai merasa ada yang tidak beres dengan otak saya. Dia bekerja terlalu aktif, Membuat saya kerap memilki ide-ide yang begitu liar. Saya adalah pengkhayal paling hebat . Bahkan saya telah mengkhayalkan tentang diri saya yang memakai jas putih,, melingkarkan stetoskop dengan anggun di leher sambil tersenyum pada pasien saat saya baru di kelas 6 SD. Saat kelas 2 SMP, saya beradu mulut dengan Ibu tentang cita-cita saya. Entah kenapa beliau saat itu kurang setuju terhadap cita-cita mulia menjadi seorang dokter. Maka saya menangis sejadi-jadinya dan tidak punya hasrat lagi ke sekolah. Kalau ada yang menggugat cita-cita menjadi dokter itu, maka saya akan sangat kecewa, sebab saya tidak memilki cita-cita lain selain dokter. Saya kehabisan ide memikirkan cita-cita lainnya.


Kalau saya sangat pandai berkhayal, maka saya memiliki teman sebangku yang begitu pandai menyalurkannya. Kalian harus berkenalan dengan Gabriella untuk tau betapa hebat Ia menjemput semua mimpi-mimpinya sejak SD!
Gabriella teman sebangku saya saat bersekolah di SDN 12 Manado, dari dialah saya belajar menulis. Mulai dari kisah buku harian pertamanya yang dia pamerkan pada saya suatu hari di sekolah. Sepulang sekolah, saya nekat ke pasar, yang arahnya berlawanan dengan arah rumah saya, membeli buku harian serupa. Bersama-sama kami mengisi lembar-demi lembarnya. Menuangkan ide-ide gila yang meluap, menuliskan keseharian kami yang menjadi tidak biasa karena tertuang dalam lembaran-lembaran buku harian, yang hingga saat usia saya 20, telah terkumpul tak kurang dari 10 buku harian! Saya senang mendapat teman sebangku yang mengalami kelainan otak seperti yang saya alami. Pemikiran anak SD kami terlalu liar, dan Gabriella mengajarkan saya bagaimana menyalurkannya. Tulislah!

“saya mau nulis cerita” kata Gabriella yakin.
Dan ia tak hanya sekedar bicara, Ia benar-benar melakukannya!! Mengandalkan sebuah buku tulis biasa dan polpen tinta cair kesayangannya, ia mulai menulis. Maka tak perlu dipertanyakan, saya adalah pembaca paling setianya.
Bosan hanya menjadi pembaca, maka saya pun mulai belajar menulis. Cerpen pertama saya berjudul “Tupai yang baik hati”. Penuh coretan cakar ayam khas anak SD, dan tip-ex disana-sini. Pembaca pertama saya adalah Ibu.
“bagus” gumam ibu membakar semangat saya untuk terus menulis.

Herannya, meskipun sudah dibelikan computer, saya tetap menulis cerita di buku tulis dengan polpen seperti yang dilakukan Gabriella. Dan saat saya berusia 17, rak buku tak lagi sanggup menampung berlembar-lembar cerpen maupun novel yang saya tuliskan semena-mena di atas buku tulis tanpa ada niat sama sekali untuk menerbitkannya.  Hahaha.

“saya mau nikah muda. Umur 20 tahun. Dengan pengusaha. Lalu jadi wanita carrier. Keren kan?” kata Gabriella lagi suatu kali.
Maka nikah muda juga seketika menjadi cita-cita saya. Meski saya belum memutuskan untuk menikah dengan laki-laki yang berprofesi sebagai apa.
Saya dan Gabriella melanjutkan ke SMP yang sama. Namun karena beda kelas kami jadi jarang bersama. Gabriella siswa berprestasi. Bahkan hingga saat SMA kami tak lagi 1 sekolah, saya masih kerap mendengar prestasinya. Sulit membayangkan ia masih menyimpan cita-cita nikah mudanya itu. Mungkin hanya bualan pikiran SD nya saja. Padahal jujur, itu tetap menjadi cita-cita saya.

Saat kuliah, Gabriella memutuskan untuk kuliah di salah satu perguruan tinggi swasta di Sulawesi Utara, dan saya merantau ke Makassar.  Menginjak tahun ke 3 kuliah, saat umurnya 21 tahun, saya mendengar ia telah menikah. Maski tidak sempat mengahadiri pernikahannya karena alasan jarak, saya tetap bersikeras meminta klarifikasinya via chatting.

“saya kan sudah bilang saya mau nikah muda” katanya sumringah di chatting saat itu.

Dan suaminya memang benar adalah pengusaha kaya pemilik salah satu perumahan di Manado. Gabriella sempat cuti kuliah saat hamil, namun Ia telah siap lagi melanjutkan kuliahnya kini, sambil merintis cita-cita lainnya di salah satu bisnis MLM terkemuka, yaitu menjadi wanita carrier. Mungkin juga ia masih rajin menulis cerita hingga kini.. Entah!  Gab.. salam cinta untukmu, semoga kita masih akan terus bermimpi dan berusaha mewujudkan mimpi-mimpi itu.  
Lalu, kalau Gabriella adalah penyalur mimpi yang hebat! Maka kalian juga perlu berkenalan dengan satu lagi sahabat sakit otak yang dapat mewujudkan khayalan kamu seketika. Sahabat kental di SMA.  My partner in crime. Pemilik nama yang tidak ada samanya di dunia ini. Santustya Karunika. Lain kisah untukmu sobat.


0 comments:

Post a Comment