Thursday, July 20, 2017

PULANG



Lelaki paruh baya berbadan tegap berkulit coklat tua itu berjalan menantang matahari. Orang-orang di sepanjang pesisir yang dijumpainya mengernyitkan dahi hingga kedua alis mereka bertaut dan berdoa agar apa yang mereka pikirkan salah. Jika benar, ini suatu kemustahilan. Bagaimana mungkin orang yang sudah mati bangkit dan berjalan-jalan? Bagi yang tidak mengenalnya hanya akan memandang sejenak lalu membuang muka. Bagaimanapun lelaki itu memancarkan aura yang tidak bisa dihindari oleh tatapan mata siapa saja yang dilewatinya.

Ia berjalan dengan penuh percaya diri menuju sebuah rumah. Kepalan tangannya menggenggam erat sebuah tas jinjing yang besarnya cukup untuk memuat tiga pasang baju. Ia sudah mengukur akan tinggal selama tiga hari. Kawasan tepi laut sudah banyak berubah. Dulu orang-orang menyebutnya kampung nelayan, sekarang orang-orang menyebutnya boulevard karena pantai telah ditimbun dan jalan-jalan telah dilapisi aspal.

Tanpa ragu kakinya melangkah. 10 tahun tidak mengubah apapun kenangan tentang rumah itu kecuali terasnya kini berbatasan dengan aspal dan bukannya pasir pantai. Ia tersenyum pada seorang gadis yang ia tahu pasti umurnya 15 tahun.

“Mama ada di rumah?” tanyanya.

Emma, nama gadis itu, mengangguk. Alisnya mengerut demi memandang wajah pria asing di hadapannya. Ia baru saja akan memanggil Mamanya namun lelaki itu mendahului dan melangkah masuk. 

Ia mendapati seorang wanita paruh baya memunggungi pintu dapur dan menghadap wajan panas. Bunyi sesuatu digoreng meredam degup jantungnya. Ia memutuskan mendekat dan menyentuh pundak wanita tersebut.

“Sebentar lagi ikannya masak. Tunggu saja di meja makan. Kenapa jam begini sudah kembali? Apakah tidak ada ikan di pelelangan?” Suara yang masih sama. Intonasi yang masih sama. Seperti halnya laut yang tetap biru dan tidak berubah oleh reklamasi, 10 tahun juga tidak mengubah apapun pada diri wanita itu.

“Aku rindu makan ikan goreng buatanmu.” Lelaki kulit coklat itu menyahut.

Tangan si wanita menjadi kaku. Segala kegiatannya menggoreng ikan terhenti. Bahkan, rasanya ia ingin berhenti bernapas saat itu juga.

Secepat kilat punggungnya berbalik. Dan mata coklat yang menurun pada Emma itu menumbuk mata si lelaki. Bibirnya yang merah meski sedikit keriput membuka karena terkejut mendapati suaminya, yang harusnya sudah mati dalam kerusuhan 10 tahun yang lalu, berdiri tegap penuh hasrat seperti ingin melumatnya.


End

#tantangankelasfiksi4
#OneDayOnePost

20 comments:

  1. Replies
    1. Terimakasih sudsh mampir, Mbak..😁

      Delete
  2. Bikin bersambung dunk, mba :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ini sebenarnya buat cerpen eksperimental, tapi idenya mentok di sini e....hahha. nggak tau kelanjutannya bagemana,Mak...

      Delete
  3. Setuju.. ini keren dan sebaiknya dibikin bersambung..😁

    ReplyDelete
    Replies
    1. Saya akan bertapa untuk memikirkan kelanjutannya...

      #pasangikatkepalaπŸ˜†πŸ˜†

      Delete
  4. Allaaahhhh....inii kereeenn sekalii, KaakπŸ˜‡πŸ˜‡πŸ˜‡

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terimakasih sudah mampir Mbak Hikmah...😁

      Delete
  5. Replies
    1. Kamu juga keren, duhai anak muda yang telah menemukan ciri khas dalam menulis! Hahaha πŸ˜†

      Delete
  6. "Kompor Gas!" Kata Pakde Indro.
    Dua jempol untuk Mbk Sabrina.

    ReplyDelete
  7. Kamu juga kompor gas Mas Heru!!!!

    ReplyDelete
  8. Replies
    1. Makasih uncle...πŸ˜†πŸ˜†πŸ˜†

      Delete
  9. Keren euy ceritanyaaa...sukaa😍😍

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terimakasih atas kunjungannya mbak Tita. Mbak Tita juga keren!!!

      Delete
  10. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  11. Wow... Oke.. Bahkan aku bacanya sampai menikmati setiap kata yang ditulis.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Halo mbak April. Senang sekali dikunjungi...😘😘

      Delete