Tuesday, July 18, 2017

Penting Nggak Penting Grup WA



Hingga detik ini saya telah bergabung dalam 17 grup WA. Beberapa di antaranya bergabung dengan keinginan sendiri, sisanya di add sama orang lain. Biasanya yang di-add ini adalah grup WA kantor yang sebenarnya kalau boleh saya tidak pengen gabung. Hahhaah. (Disambit keyboard).


Buat saya yang notabene gaptek dan bukan gadget freak, angka 17 ini adalah angka yang sangat fantastis. Orang lain mungkin bisa memiliki angka yang lebih dari itu. Tapi, bayangkan jika ke 17 grup ini aktif. Jumlah chattingannya bisa ribuan! Rekor tertinggi 4000-an unread chat. 😣😣







Saya adalah tipikal orang yang malas pegang hape. Kalau lagi di kendaraan saya lebih memilih tidur atau menikmati perjalanan. Kalau lagi makan, saya lebih menikmati makan dan chit chat daripada utak-atik hp. Kalau lagi kerja, nah baru deh saya pengen pegang hp. #disambit CPU. πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚

Tapi, pada kondisi sekarang di mana teknologi komunikasi berkembang begitu pesat, memiliki grup WA sepertinya adalah sebuah keharusan, terlepas dari kamu ikhlas atau tidak bergabung di dalamnya. 

Positifnya dari bergabung dalam suatu grup WA apalagi kalau isinya adalah teman-teman sejawat jaman kuliah atau jaman sekolah adalah sebuah anugrah. Tali silaturrahmi tetap terjaga, kondisi teman-teman bisa tetap update, bisa saling bertukar informasi remeh temeh maupun gosip murahan. πŸ˜†πŸ˜†. Grup WA yang isinya teman-teman se almamater benar-benar adalah media relaksasi maupun refreshing buat saya ketika penat menghadapi rutinitas. 

Di lain pihak, grup WA kantor kadang kala terasa seperti teror. Apalagi jika muncul chat di hari libur dan malam-malam pula. Saya pikir bekerja selama 12 jam, dari jam 8 sampai jam 8 lagi itu sudah cukup, tapi ternyata belum! Dengan adanya grup WA kok jadinya saya merasa bekerja selama 24 jam sehari, 7 hari seminggu, bagaimana tidak, di hari libur maupun di luar jam kantor pun tetap harus merespon tetek bengek perihal kerjaan jika ada permintaan data atau instruksi atasan. πŸ˜₯πŸ˜₯. Lelah adek, Bang...😫

Tapi bukan berarti grup WA kantor ini tidak ada manfaatnya. Tentulah sangat bermanfaat karena jadi lebih mudah dalam berkoordinasi maupun memastikan instruksi telah sampai pada sasaran. Bahkan meeting evaluasi kinerja pun tak jarang dilakukan via grup WA ini. Tapi mbok ya di hari libur itu, sebaiknya libur juga...πŸ˜…πŸ˜…πŸ˜†πŸ˜†. Tapi ya mau bagaimana lagi ya, namanya tuntutan pekerjaan...😭😭 (Curcol)

Tapi kalau grup WA kantor yang undercover, yang di dalamnya nggak ada bos-bos, asik saja auranya. Semua curhatan perihal kerjaan sampai joke-joke ngocol bisa tumpah ruah di grup WA ini. 

Satu lagi manfaat dari grup WA yang sangat saya rasakan, yaitu media belajar. Saya bergabung di salah satu komunitas menulis yang berbasis WA. Banyak sekali pelajaran dan ilmu yang saya peroleh dari grup tersebut, meskipun kadang kewalahan mengikuti chat dari grup beranggotakan lebih dari  100 orang itu. 

Jadi kesimpulannya, kemajuan teknologi, dalam hal ini teknologi komunikasi, memiliki 2 sisi mata uang. Bisa saja bermanfaat, bisa saja malah adalah sebuah pemborosan, boros waktu, boros energi, boros biaya. Jadi yah, tergantung bagaimana kita menyikapinya. Overall bagi saya, tergabung dalam grup WA itu penting dan lebih banyak manfaatnya.

Jadi, saya akan tetap ajeg bergabung di dalam 17 grup WA saya sampai dengan waktu yang tidak ditentukan 😁

Kalau kamu? Pernah coba hitung berapa grup WA-mu?

0 comments:

Post a Comment