Sunday, November 13, 2016

Gadis dengan Saksofon

FlashFiction ini ditulis dalam rangka mengikuti sayembara menulis yang diadakan oleh Grup Menulis LovRinz and Friend

*
*

Gambar diambil dari ilustrasi buku Air Mata Shakespeare karya Ida Fitri


Sejak awal Tuhan tidak pernah bermaksud menciptakan Hawa. Begitulah yang kami tangkap. Andaikan Adam tidak terlalu banyak tuntutan, Hawa tidak perlu tercipta dan mereka tidak perlu terbuang ke bumi.

Adam hidup bergelimang segalanya di dalam tempat yang indahnya paripurna. Surga. Lihatlah akibat nafsunya, kini anak keturunannya terbuang, terseok-seok di muka bumi, digoda iblis yang durjana, tapi kalau mati nanti kembali mengharapkan surga. Sudah patut ada nama Hawa yang mendahului kata nafsu.

"Pras, coba kamu pikir lagi niatmu mempersunting gadis itu."

"Sudah, Ibu." Prasta menjawab singkat. Tak berniat goyah. Begitulah yang kami tangkap dari raut wajahnya.

"Orang tua gadis itu meminta mahar yang jumlahnya tidak masuk akal. Mereka ini mau menikahkan atau menjual anak sih?!" Wanita yang dipanggil ibu oleh Prasta berjalan mondar-mandir mengelilingi ruang makan sambil tangannya memijit kening. 

"Tabunganku dan hasil jual rumah ini akan mencukupi untuk membayar maharnya, Ibu." 

"Apa?! Kau mau jual rumah ini?" Ibu berhenti mondar-mandir, "Ibu tau ini rumahmu dan kau berhak melakukan apa saja pada rumah ini. Tapi lalu kau mau tinggal di mana?"

"Aku akan membeli rumah yang lebih kecil." Prasta menjawab. Tidak ada lagi ragu dalam wajahnya. Begitulah yang kami tangkap.

"Kau sudah buta karena cinta rupanya!"

Prasta diam. Rasanya kami ingin bilang kepada ibu bahwa Prasta bukan dibutakan cinta. Tetapi lebih tepatnya ia ditulikan cinta. Prasta tidak pernah melewatkan hari tanpa menonton video salah satu band jazz, dimana gadis itu memainkan saksofon. Kami baru tahu nama alat musik tiup itu saksofon. 

Gadis itu memang cantik dan caranya memainkan saksofon begitu merdu.

"Aku rela menjual segalanya untuk mempersuntingnya, Bu. Mengertilah." Keputusan Prasta tampaknya final.

Ya, ya begitulah. Sudah kodrati kaum Adam rela meninggalkan segalanya demi bisa memiliki Hawa. Nenek moyang mereka saja rela meninggalkan surga. Tidak peduli andaipun hanya bisa memakai dedaunan untuk menutupi kebodohan mereka. 

"Banyak semut!" Prasta mengibaskan lembaran roti di atas meja tempat koloni kami berkumpul sebelum memakannya. 

Kami terhempas ke udara. Aku menyesalkan tindakan Adam yang tidak puas dengan surga sehingga Tuhan murka dan melemparnya ke bumi. Karena ulahnya, sepasang nenek moyang kamipun harus turun ke bumi demi menemani Adam dan keturunannya.

0 comments:

Post a Comment