Sunday, October 2, 2016

Perkara Rindu



Dear Pierre,

Dimana lagi aku bisa menjumpaimu selain lewat pena dan kertas yang beradu. Yang sudah-sudah pun begitu. Belum habis pula rindu sudah kau suguhi sedu yang membiru. Kuharap kau tidak lupa rencana-rencana pernikahan yang kita susun meskipun itu sudah lama berlalu. 

Pierre cintaku,

Aku tidak tahu apakah itu pisau atau peluru yang bersarang di dada kirimu. Sebab hanya kabar duka yang datang padaku kala itu. Apapun itu telah menanggalkan nyawamu.

Kalau bisa aku tidak ingin berhenti menangis, sebab hanya itu yang mengobati rindu. 

Pierre,

Mari kuantarkan kau mengingat kembali kisah perjumpaan kita. Kala itu Jendralmu yang berpidato gagah namun mataku tak mau lepas dari wajahmu yang tampan. Darah Peancis rupanya lebih tinggi viskositasnya di dalam tubuhmu. Meski begitu kecintaanmu pada negri ini aku rasa lebih dari siapapun.

Mari kuantarkan kembali ingatanmu pada makan malam romantis kita yang pertama dimana kau bercerita tentang orangtuamu yang menginginkan putranya menjadi dokter namun kau lebih memilih masuk militer. Kau bilang menjadi intelejen dan memata-matai Malaysia sangat menyenangkan. Kau sudah mencintai negri ini lebih dari apapun, Pierre.

Lalu ketika kau memutuskan mengaku sebagai Jendral Nasution yang berakhir merenggut nyawamu dan ragamu dari diriku, aku tahu kaupun telah lebih mencintai negri ini dibanding aku, tunanganmu.

Pierre,

Aku harap rindu masih menyapamu meski surat ini tak akan pernah kau baca lagi. Aku sedang memperhitungkan untuk kapan-kapan menziarahimu di tempat yang mereka sebut lubang buaya itu. 
Sementara, biar saja doa ini yang mengantar rindu yang menggebu padamu.

Pierre cintaku,

Membayangkan bagaimana ajalmu menjemput selalu membunuhku. Bagaimana bisa seseorang begitu tega merenggut anak dari orang tuanya, kakak dari adiknya, kekasih dari kecintaannya, calon suami dari tunangannya. 

Bagaimana bisa seorang manusia begitu tega menjejalkan jasad manusia lain begitu saja dalam satu lubang.

Oh, Pierre

Aku berharap semoga Negri ini memeperlakukanmu dengan layak, meski hanya kepada sisa-sisa tulang-belulangmu.


Salam rindu selalu,
Rukmini.


(Surat di atas hanya fiktif. Terinspirasi dari kisah cinta Pierre Thendean dan Rukmini yang LDR dan harus kandas karena Pierre terbunuh pada peristiwa G30SPKI kala melindungi Jendral Nasution)

Fakta :

1. Pierre Thendean keturunan Prancis
2. Orang tuanya memang menginginkan Pierre menjadi dokter.
3. Pierre sebagai ajudan Jendral memang tampan sehingga kemanapun Jendral pergi, Pierre yang menjadi pusat perhatian.
4. Pierre pernah menjadi intelejen untuk memata-matai Malaysia ketika Presiden Sukarno sedang gencar-gencarnya mencanangjan ganyang Malaysia.
5. Pierre terbunuh karena ketika itu mengaku sebagai Jendral Nasution

#Sabrina

2 comments:

  1. Ih... ciamik mbak. Keren, diksimu menghipnotisku.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Jangan sampe terhipnotis mbak...nanti uya kuya datang..hahah

      Delete