Friday, August 16, 2013

Terakhirku Part 2

Tulisan ini dimuat di majalah An-Nida Online tanggal 14 Agustus di rubrik Cerpen Interaktif. (senangnya bisa menaklukkan Annida walau hanya dengan cerpen interaktif. Ini mengingat cerpen saya sebelumnya gagal menembus brikade Annida.Hahahah.hohoho)

Yang saya posting ini adalah  versi asli sebelum di edit sama An-nida.

Enjoyyy:)
                                                                                 ***

                                            
picture was taken from An-Nida Online


Kepalaku masih tengadah mencari jejak bintang di langit malam  ketika dua berkas sinar menyorot dari balik punggungku. Aku menoleh dan menyipitkan mata karena silau. Tiga detik kemudian berkas sinar itu padam, menyisakan sebuah sedan abu-abu pucat dan seorang pemuda yang keluar seraya membanting pintu mobil.


“Apa yang kau lakukan disini?”  Tanyanya sambil berjalan menghampiriku.


“Kau sendiri, apa yang kau lakukan disini?”


“Merenung” jawabnya singkat dan datar.


Sial. Tidak tahukah anak muda ini dia baru saja menggagalkan rencana yang sudah kupersiapkan matang-matang sejak tiga hari lalu? Batinku menggeram.


“Kau bisa memilih tebing lain untuk merenung. Kenapa harus disini? Aku minta kau tinggalkan aku sendirian!” Gertakku.


Anak muda itu rupanya tidak takut dengan gertakanku. Pun tidak takut dengan badanku yang hampir dua kali lebih besar dari badannya yang kurus dan ceking itu. Ia berjalan ke tepi tebing dan berdiri di sampingku. Matanya malah menyisir badanku yang besar berotot namun kemudian terhenti di sepanjang lengan kiriku yang ber-tato. Kini kuharap dia tahu dia sedang berhadapan dengan siapa.


“Setahun yang lalu aku sering kemari bersama Vega, mantan pacarku “ Bukannya takut dan pergi pemuda itu justru mulai berkisah. “Bintang-bintang terlihat lebih terang dari atas sini”


“Aku tidak peduli kau sering kesini atau tidak! Aku tidak peduli kau kemari dengan siapa!” Aku mulai kesal dan membentak-bentak. Aku merasa anak muda ini mengolokku. “Kalau kau tidak juga pergi sekarang, aku akan..”


“Membunuhku?” Ia menyela. “Lakukan saja. Toh sebentar lagi aku juga akan mati. Kalau tidak karena kau bunuh ya karena penyakit sialan ini”


Aku urung menggertak lagi demi mendengar kata-kata yang baru saja diucapkannya. Alih-alih mengumpat aku malah bertanya “Kau sakit?”


“Aku sedang dalam pelarian. Mungkin sebentar lagi orang-orang dari rumah sakit sadar aku tidak ada di ruangan dan mulai mencariku. Aku hanya ingin ke tempat ini untuk yang terkahir kalinya sebelum mereka menemukanku dan membawaku kembali”


Aku memperhatikan pemuda itu dengan lebih seksama. Usianya mungkin terpaut sepuluh tahun di bawahku tapi rongga matanya yang cekung dan rambutnya yang menipis membuatnya seolah-olah tampak seperti kakek-kakek enam puluh tahun.


“Oh, ini karena kemoterapi”Ia mengibaskan rambut sekenanya dengan jemari tangannya yang kurus-kurus seolah bisa membaca pikiranku. “Kanker otak”


Aku terdiam. Pemuda itu terdiam. Malam yang tadinya pekat perlahan mulai terang seiring dengan hembusan angin yang menyibakkan kumpulan awan yang sedari tadi menghalangi berkas-berkas cahaya bintang.


“Aku juga pernah berada dalam pelarian. Beberapa kali mencoba kabur dari penjara” Suaraku memecah kesunyian.


Pemuda itu malah tertawa, bukannya bergidik ngeri karena sedang berdiri di samping mantan narapidana sepertiku. “Orang sepertimu, aku tidak heran kau pernah di penjara”


Saat itu juga aku sudah akan mendaratkan bogem mentah kalau saja tidak mengingat pemuda ini sedang sekarat karena kanker otak. Kanker yang juga merenggut Bintang dariku.


“Vega selalu bilang tiap kali kami kemari, bahwa bintang-bintang membentuk gugusan yang bisa menuntun nelayan pulang kembali ke daratan saat mereka tersesat di laut”


“Apa yang terjadi pada mantan pacarmu itu? kalian putus dan kau ingin mengenangnya disini?” Tanyaku kesal membayangkan misiku malam ini mungkin saja akan berakhir dengan berdiri sampai pagi mendengarkan kisah cinta pemuda ini.


“Vega?” Ia berbalik menatapku. “Kami baik-baik saja. Aku meminangnya setahun lalu dan dua bulan lagi dia akan melahirkan anak pertama kami”


“Dia istri dan calon ibu yang sempurna untuk anak kami kelak” Pemuda itu kembali bertutur. Kali ini dengan suara yang agak parau. Jelas sekali ia berusaha keras menjaga agar emosinya tidak meluap. 

“Aku yakin dia akan baik-baik saja tanpaku.”


“Setiap hari aku hidup dengan harapan masih ada satu hari lagi yang Tuhan sediakan untukku. Satu hari lagi Tuhan. Lalu aku mulai mengharapkan Tuhan memberiku satu minggu, satu bulan, atau setidaknya sampai bayiku lahir. Lalu vonis itu datang. mereka bilang waktuku tidak lebih dari satu bulan lagi. 

Siapa mereka berhak memvonis umurku?”


Mata pemuda itu mencengkram mataku. Genangan air yang menggantung di pelupuknya tidak mengahalangi ketajaman sinar matanya menembus sukmaku. Mencabik-cabik batinku. Menyoyak-nyoyak jiwaku yang mati terkubur tiga hari lalu bersama jasad Bintang. Aku tidak percaya sorot setajam pisau bisa keluar dari mata sayu dan cekung itu. Seolah ia sedang menghakimiku atas perbuatan yang akan aku lakukan.


Siapa kau berhak memvonis umurmu?


Aku megalihkan pandangan segara dari sorotan tajam mata pemuda itu sebelum ia menghakimiku habis-habisan. Ia melanjutkan kembali kisahnya tentang bagaimana ia pertama kali bertemu Vega, tentang bagaimana Vega tetap setia mendampingi di tengah penyakitnya yang mengganas, tentang kesempatan-kesempatan yang seolah tidak Tuhan berikan kepadanya.


Sementara itu aku memilih mengedarkan pandangan ke sekelilingku dibanding harus menatap kembali mata pemuda itu. Tempat ini, tebing ini. Bukan pemuda itu saja yang punya banyak kenangan di sini. (Bersambung)
           

                                                                               ***
           
Kenapa ini Part 2 dan dimana part 1 nya lalu bagaimana part 3 nya? semua bisa saudara-saudara sekalian baca di annida-online.com 
           

2 comments:

  1. selalu jatuh cinta dengan tulisanmu, mbak...

    ReplyDelete
  2. selalu jatuh cinta dengan tulisanmu, mbak...

    ReplyDelete