Saturday, June 27, 2020

Memakan Zaitun Menjelang Kiamat


Memakan Zaitun Menjelang Kiamat

Cerpen Etgar Keret


Sebentar lagi dunia akan kiamat dan aku malah asyik memakan buah zaitun. Sebenarnya rencana awalku adalah makan pizza, tetapi saat aku pergi ke swalayan dan melihat deretan rak yang kosong, aku menyadari bahwa aku bahkan lupa membeli adonan pizza dan saus tomat. Aku berjalan ke arah kasir yang bertugas di jalur express untuk menanyakan apakah ada yang tersisa, ia adalah seorang wanita tua yang sedang berbicara melalui Skype dengan seseorang dalam bahasa Spanyol, ia menjawab tanpa menatap ke arahku. Dirinya tampak begitu terpuruk.

gambar dari sini


“Mereka telah memborong semuanya,” gumamnya, “yang tersisa hanya pembalut dan asinan.”

Satu-satunya yang tersisa di rak asinan adalah setoples asinan zaitun pedas yang kebetulan adalah kesukaanku.

Saat aku kembali ke meja kasir, wanita tua itu sedang menangis. “Dia tampak seperti sepotong roti yang hangat,” katanya, “cucu kecilku yang manis. Aku tidak akan pernah bisa melihatnya lagi, aku tidak akan bisa menciumnya, aku tidak akan bisa memeluk bayi kesayanganku lagi.”

Alih-alih menanggapi aku justru meletakkan toples asinan itu di meja kasir dan mengeluarkan uang lima puluh ribu dari kantung celana. “Oke,” kataku ketika menyadari wanita itu tidak menyerahkan struk belanjaanku, “Ambil saja kembaliannya.”

“Kembalian?” katanya sambil terisak, “sebentar lagi dunia kiamat dan kau malah memberikan uang kembalian kepadaku? Apa yang akan kulakukan dengan uang kembalian ini?”

Aku mengedikkan bahu. “Aku sangat menginginkan asinan ini. Jika lima puluh ribu tidak cukup aku akan membayar lebih banyak, berapapun harganya…”

“Sebuah pelukan,” dengan penuh deraian air mata wanita itu menyanggahku sambil merentangkan kedua lengannya, “bayar saja dengan sebuah pelukan.”

Aku sedang duduk di balkon rumahku saat ini, menonton televisi sambil memakan keju dan asinan zaitun. Susah sekali mengeluarkan televisi ini ke balkon, tapi di sinilah benda itu sekarang, lagipula tidak ada cara yang lebih baik untuk mengakhiri semua ini selain dengan langit berbintang dan telenovela Argentina yang jelek. Sudah episode 436 dan aku sama sekali tidak mengenali satu pun karakternya. Mereka sangat cantik, mereka sangat emosional, mereka saling meneriaki dalam bahasa Spanyol. Tidak ada teks terjemahan, sehingga sebenarnya sangat sulit memahami apa yang sedang mereka perdebatkan. Aku menutup mata dan kembali memikirkan kasir di swalayan itu. Saat kami berpelukan aku mencoba membuat tubuhku menjadi sekecil dan sehangat mungkin. Aku mencoba membuat tubuhku beraroma seperti bayi yang baru lahir. []

Diterjemahkan dari bahasa Ibrani oleh Jessica Cohen
Diterjemahkan dari Bahasa Inggris oleh Sabrina Lasama


Keret lahir di Ramat Gan, Israel pada tahun 1967. Ia adalah anak ketiga dari orang tua yang selamat dari Holocaust. Kedua orang tuanya berasal dari Polandia. Saat ini ia berdomisili di Tel Aviv bersama istrinya dan putra mereka. Ia adalah dosen di Ben-Gurion University of The Negev di Beer Sheva dan di Universitas Tel Aviv. Dia berkewarganegaraan ganda yaitu Israel dan Polandia.



5 comments:

  1. Bagus. Pngen baca versi Indonesia. Kira2 ada gk ya mb sab

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kumcer Etgar Keret ada yang sudah diterjemahkan ke Bahasa Indonesia, Mbak. The Seven Good Years

      Delete
    2. Itu bukan kumcer, tapi memoar, Sab 😁

      Delete
  2. Ulasan yang bagus dan inspiratif. Selamat malam, Mbak Sabrina.

    ReplyDelete