Thursday, June 25, 2020

SI PEMAKAN BATU


Cerpen Ben Loory/ Diterjemahkan oleh Sabrina Lasama

Pada suatu ketika tersebutlah seorang laki-laki yang memakan sebuah batu. Batu itu sendiri ukurannya kecil, tidak besar. Laki-laki itu menemukan batu tersebut di lapangan dan itu adalah batu yang indah – sangat indah – dan itulah bagaimana dia mengambil batu tersebut dan memakannya. Memakan batu juga sebenarnya bukan kebiasaaannya – laki-laki itu sendiri terkejut dengan apa yang sudah dia lakukan – tapi itulah kenyataannya, di suatu hari, ketika dia berbaring di tengah lapangan, terdapat sebuah batu – batu yang indah – dan dia kemudian memakannya.

Laki-laki itu merasa sangat bahagia setelah menelan batu tersebut. Dia merasa bahagia memiliki batu itu di dalam dirinya. Itu bukan sekadar sensasi fisik dari sebuah batu di dalam tubuh, melainkan ada sesuatu yang lain. Entah bagaimana laki-laki itu merasa batu tersebut membuatnya lebih baik dari sebelumnya. Entah bagaimana laki-laki itu merasa batu itu membuatnya lebih bergairah. Batu itu membuatnya lebih bersemangat, batu itu membuatnya lebih percaya diri, batu itu mengubahnya ke arah yang lebih baik.

gambar dari sini

Dan laki-laki itu sangat sangat bahagia dengan semua yang dia rasakan.

Kemudian laki-laki itu memberitahukan kepada istrinya

Apa yang kau lakukan? kata sang istri. Kau menelan sebuah batu.

Laki-laki itu menjelaskan kepada istrinya tentang apa yang dialami.

Itu gila, ucap istrinya. Kau beruntung tidak mati.

Itu hanya batu, balas lelaki itu. Hal itu tidak akan membunuhku.

Namun setelah itu, laki-laki tersebut menjadi cemas. Dia pusing tujuh keliling memikirkan batu itu. Apakah seharusnya aku tidak menelannya? Apakah hal itu berbahaya baginya? Dan, lebih dari itu, apakah batu itu benar-benar akan melukainya?

Laki-laki itu merasa harus menceritakan hal tersebut kepada orang orang lain, tapi dia takut teman-temannya justru akan menertawainya.
Oleh karenanya dia pergi ke kota dan berkeliling untuk kemudian mengetuk pintu seorang dokter. Seberapa besar batu itu? tanya sang dokter.
Lelaki itu mengangkat tangannya untuk menaksir ukuran batu.Segini, katanya. Sangat kecil.
Hmm, gumam sang dokter sambil mengerutkan kening
Maksud Anda, ‘hmm’? tanya lelaki tersebut. Apakah itu berbahaya?
Sebenarnya aku tidak bisa bilang bahwa itu berbahaya, jawab sang dokter. Tapi, Anda tahu, batu bisa bertumbuh.
Bertumbuh? tanya lelaki itu.

Dia tidak pernah mendengar hal itu sebelumnya.

Bertumbuh, tegas sang dokter. Saat Anda memakannya, itulah yang akan terjadi. Itulah mengapa aku pernah melihat seorang wanita dengan delapan puluh pon batu di dalam ususnya.

Lelaki itu sangat terkejut.

Itu sepertinya buruk sekali, kata lelaki itu.

Jadi, apa yang harus aku lakukan? tanyanya kemudian

Batu itu bisa saja dikeluarkan, ucap sang dokter.

Dikeluarkan? tanya lelaki tersebut. Maksud Anda operasi?

Apakah menurut Anda hal itu harus dilakukan? tanyanya lagi.

Tentu saja keputusan ada di tangan Anda, jawab sang dokter. Tapi secara pribadi, saya sangat menganjurkannya.

Laki-laki itu pulang ke rumah dan memikirkan hal tersebut. Dia menceritakan kepada isrinya tentang apa yang telah disampaikan sang dokter kepadanya.

Sejak awal seharusnya kau tidak memakan batu itu. Apa sebenarnya yang ada di pikiranmu? ucap sang istri.

Pada malam harinya, lelaki tersebut berbaring sambil terus memikirkan batu itu. Dia masih dapat merasakan batu itu di sana, di dalam dirinya. Dia masih bisa merasakan pancarakan kebaikan dari sana.

Aku tidak ingin kehilangan batu ini, gumamnya.

Waktu pun terus berlalu dan sang dokter menghubunginya.

Aku pikir aku akan membiarkan batu itu, kata lelaki tersebut.

Apakah Anda yakin? tanya sang dokter.

Sangat yakin, balas lelaki itu.

Baiklah, kata sang dokter, itu adalah keputusan yang sudah Anda ambil. Jika Anda berubah pikiran, hubungi aku kembali.

Baiklah, ucap lelaki itu.

Dan itulah yang terjadi.

Waktu terus berlalu. Lelaki tersebut merasa bahagia. Batu itu terasa baik-baik saja di dalam dirinya.
Namun, ada satu hal yang mengganggu lelaki itu : batu itu ternyata benar-benar bertumbuh. Perut lelaki itu menjadi semakin besar dan besar. Batu itu mulai tampak menonjol di permukaan perutnya.

Dan batu itu juga semakin berat, hingga lelaki itu kesulitan untuk berdiri.

Dan akhirnya, suatu hari, lelaki itu bahkan tidak bisa beranjak dari ranjangnya.

Jadi bagaimana? tanya sang istri. Kau hanya akan berbaring di tempat tidur?

Aku tidak bisa bergerak, kata lelaki itu. Apa yang kau harap aku lakukan?

Ini semua karena batu bodoh itu, kata sang istri. Kau harusnya mengeluarkan batu itu.

Aku tidak mau mengeluarkan batu ini, ucap lelaki tersebut. Ini adalah batuku, aku menelannya, batu ini membuatku bahagia.

Lalu kemudian rasa sakit mulai terasa. Batu itu terus bertumbuh semakin besar dan mendesak bagian dalam tubuh lelaki itu.

Kau harus melakukannya sekarang, ucap sang istri. Kau mengerti? Kau akan mati jika mempertahankan batu itu.

Lelaki itu tahu istrinya berkata benar. Dia bisa merasakan batu itu mengisi keseluruhan tubuhnya. Dia masih bisa merasakan kebaikan yang dipancarkan oleh batu itu di sana tapi kebaikan itu juga rasanya telah terkubur oleh rasa sakit dan ketakutannya.

Baiklah, kata lelaki itu. Pergi dan panggillah dokter itu.

Akhirnya, ucap sang istri lega.

Sang istri pun memanggil dokter tersebut.

Operasi itu berlangsung dengan susah payah. Dokter membutuhkan empat orang hanya untuk mengangkat batu itu. Mereka meletakkan batu itu di atas timbangan, tapi timbangan itu rusak sehingga berat batu tersebut tidak pernah diketahui.

Namun demikian, semua berjalan sesuai rencana. Mereka menjahit perut laki-laki itu. Dokter memberitahukan bahwa prosedur operasinya sukses, dan kemudian dia pergi merokok di beranda.

Waktu berlalu dan kondisi lelaki itu semakin membaik. Suatu hari dia terbangun dan merasa sehat. Dia menepuk perutnya dan beranjak dari tempat tidur, mengambil napas dan kemudian berjalan ke arah pintu.

Kau mau kemana? tanya sang istri.

Berjalan-jalan, jawab lelaki itu. Aku merasa sangat baik.

Lelaki itu berjalan ke luar rumah. Hari itu adalah hari yang cerah dan dia bisa merasakan kesejukan udara dan melihat gumpalan awan-awan dan mendengar kicauan burung-burung dan segalanya tampak sangat indah.

Namun sesaat kemudian, laki-laki itu mulai merasakan ada yang berbeda. Dia mulai merasakan ada yang salah dengan dirinya. Dia mengernyit dan mengernyit, mencoba menemukan apa yang terjadi, dan sesuatu seperti menghantam perasaannya – batu itu  – batu itu telah pergi! Itulah mengapa dia merasa sangat hampa. Ada lubang besar di dalam dirinya.

Lelaki itu menyapu keningnya, memicingkan mata, menggeliat.

Dan perasaan hampa itu semakin menjadi-jadi.

Dalam kepanikan lelaki itu berlari ke arah lapangan tempat dia menemukan batu tersebut beberapa waktu yang lalu. Dia melihat ke sekitar, melemparkan pandangannya, ke penjuru lapangan, ke manapun, menekuri tiap jengkal tanah, berputar-putar.

Batu yang lain akan membuatku merasa baik kembali, pikirnya. Batu lain akan menjadi apa yang aku butuhkan.

Tapi dia tampaknya tidak bisa menemukan batu yang serupa dengan miliknya tempo hari. Tidak ada satu pun yang menarik minatnya.

Oh, di sana ada banyak batu, tentu saja, tapi batu-batu itu tampak kusam dan dekil dan dipenuhi kotoran. Tidak ada satu pun yang tampak indah baginya.

Lelaki itu akhirnya menelan beberapa batu tapi tidak menimbulkan reaksi apa-apa.

Apa yang harus aku lakukan? tanya lelaki itu. Bagaimana aku bisa hidup seperti ini?

Dan dia pun tersentak, dan dia berhenti mencari dan berlari kencang.

Batuku! Di mana batuku? tanyanya.

Lelaki itu berlari dengan kalut menuju ke rumahnya.

Di mana batu itu? dia berteriak.

Batu apa? tanya sang istri.

Batu itu! teriaknya lagi. Batu itu! batu itu! batuku!

Oh, ucap sang istri. Itu di belakang. Batu itu sangat berat untuk dibawa sejauh ini.

Lelaki itu bergegas ke belakang. Di sanalah benda itu berada – batu itu! di salah satu sudut di halaman belakang rumahnya.

Lelaki itu berlari ke arah batu tersebut. Dia berlutut di sampingnya.

Dia memeluk batu itu dengan kedua lengannya.

Dia mengusap seluruh permukaan batu itu. Dia menggosokkan wajahnya di permukaan batu itu. Batu itu sangat besar untuk ditelan, tentu saja, tapi dia tetap memeluknya dengan erat, menekannya ke dada.

Oh batuku! katanya. Bagaimana bisa aku menjadi begitu bodoh? Dan bagaimana bisa saat ini aku merasa begitu hampa?

Dan kemudian lelaki itu mendengar sebuah suara, dan batu itu pun retak dan menganga.

Lelaki itu hanya bisa terperangah di depan mulut batu yang gelap dan lapar. []
Sumber :
Ben Loory (lahir tanggal 11 Juli 1971) adalah penulis cerpen berkebangsaan Amerika. Beberapa buku yang ditulis antara lain, Stories for Nighttime and Some for the Day (Penguin, 2011) dan Tales of Falling and Flying (Penguin, 2017). Dia juga menulis buku anak, The Baseball Player and the Walrus (Dial Books for Young Readers, 2015). Cerpen Loory sudah tersiar di beberapa media antara lain The New Yorker, Tin House, Electric Literature, and Fairy Tale Review, dan telah diperdengarkan pada This American Life and Selected Shorts. Loory berdomisili di Los Angeles dan mengajar kelas penulisan cerpen di UCLA Extension Writers’ Program.



No comments:

Post a Comment