Thursday, January 17, 2013

Bukan Gadis Bugis

(berawal dari keisengan) Cerpen Ini Pernah Dimuat di Majalah Chic Akhir Tahun 2012  tepatnya bulan Oktober edisi 127 kemaren.. :DD horray..horray..horas!!

Happy Reading :D ~


Disinilah aku sekarang. Di atas pete-pete1 kembali ke rumah. Aku sengaja memilih tempat duduk paling belakang. Di sampingku seorang wanita 40 tahuna-an sedari tadi berbicara di hanphone dengan volume yang aku yakin bisa membuat para pejalan kaki mendengarnya. Langit Makassar memerah saga. Pete-pete yang baru saja aku naiki perlahan berjalan setelah beberapa saat ngetem di depan lapangan Karebosi menunggu penumpang.
            Aku mengusap keringat yang membanjiri keningku. Makassar di musim panas adalah mimpi buruk. Biasanya sepulang kantor aku tidak perlu naik pete-pete untuk kembali ke kontrakanku yang terletak di bilangan Tamalanrea, sekitar 1 jam perjalanan dari kantorku. Farid dengan setia akan menjemputku dengan “si biru”-motor kesayangannya sejak kuliah, atau Xenia hitamnya.
            Berprofesi sebagai kontraktor tambang membuat Farid punya lebih banyak waktu senggang-Ia hanya sibuk disaat perusahaannya memenangkan tender eksplorasi- dibanding aku yang berprofesi sebagai Junior Project Engineer di salah satu perusahaan bahan makanan di Makassar, yang membuatku harus bekerja delapan sampai sepuluh jam sehari, Senin sampai Jumat kadang-kadang sampai Sabtu bila harus mengurusi gandum impor yang didatangkan dari luar negeri untuk bahan baku produksi di pabrik.
            Aku melirik jam tanganku sekilas. Pukul 17.20 saat pete-pete berhenti di depan Mesjid Al-Markas untuk menaikkan penumpang. Seorang bapak tua membawa Ayam dalam keranjang memilih duduk di sampingku.
            Tabe’ di’2” Ia menatapku sekilas. Mungkin dilihatnya aku agak risih dengan keberadaan ayamnya.
            “Silahkan Pak” sahutku cepat sambil tersenyum.
            Aku kembali melemparkan pandanganku ke luar jendela pete-pete. Lalu lintas Makassar agak padat di jam-jam pulang kantor seperti ini, kadang-kadang macet di beberapa titik.
            “Orang mana ki?” Bapak dengan ayamnya di sampingku bertanya.
            “Saya Pak? Dari Manado” Jawabku
            “Kerja di sini?”
            “Saya kuliah di UNHAS3. Selesai kuliah dapat kerja disini”
            “Siapa tahu jodohnya orang sini juga” Ibu 40 tahun di depanku ikut nimbrung. Ia baru saja mengakhiri percakapan di telpon genggamnya. “Sudah ki menikah atau belum kah?”
            “Belum Bu, saya belum menikah”
            “Nah, kalau sudah menikah nanti tidak usah bekerja. Urus suami sama anak. Bagaimana kah, Daeng4?” Ia berbicara lebih kepada bapak tua dengan ayam di sampingku. “Heran saya sama perempuan-perempuan jaman sekarang. Sudah tidak ada yang mau tinggal di rumah. Semua mau jadi wanita karir”
            Aku tersenyum menanggapi perkataan Ibu 40 tahun itu. Hal itu sejujurnya agak menggangguku.Hal ini jugalah yang kerap menjadi bahan pertengkaranku dengan Farid. Hubunganku dengan Farid sudah berjalan 4 tahun. Kami sama-sama berkuliah di UNHAS tapi kami baru dekat di tingkat akhir perkuliahan.
            “Kalau sudah menikah nanti kamu tidak usah bekerja. Saya ingin istriku di rumah urus anak dan suami.” katanya suatu hari. “Mami juga berharap menantunya seperti itu”. Farid menyebut Ibunya degan sebutan ‘Mami’.
            “Kenapa? Saya kuliah jauh-jauh kesini bukan untuk jadi ibu rumah tangga. Saya ingin bekerja, saya ingin meniti karir”
            “Sebenarnya buat apa kamu bekerja? Gaji saya sekarang lebih dari cukup. Usaha saya di Pinrang  besar dan maju”
            “Ini bukan soal gaji. Ini soal pencapaian. Ini soal penghargaan kepada diri sendiri” Sahutku.
            “Kenapa kita’5 tidak mengerti Ana?. Dimana tanggung jawabmu sebagai seorang istri dan Ibu kalau masih bekerja di kantor saat menikah nanti?Anak-anakmu siapa yang urus?”
            Saat itu aku terkejut. Tidak menyangka pikiran Farid sekolot itu. “Kita bisa pakai pembantu dan Baby Sitter kan? Banyak ko’ contoh wanita yang bekerja setelah menikah. Toh mereka bisa bagi waktunya dengan baik. Salah satunya tanteku”
            “Saya tidak percaya kamu bisa” Farid bergumam lebih kepada dirinya sendiri tanpa ia ketahui hal itu membuatku sangat kecewa dan mulai meragukan hubungan kami.
  
          
  Kami berbeda visi sejak awal. Farid benar-benar konvensional dalam hal ini. Ia menginginkan calon istri yang siap menjadi Ibu rumah tangga seutuhnya, mengurusi anak dan suami sehari-harinya, sementara aku tidak dibesarkan dalam keluarga yang mengharapkan seorang wanita hanya jadi pemeran figuran dalam sebuah rumah tangga.  
            Hampir semua wanita dalam keluarga Papa yang orang Manado bekerja. Begitupun kolega dari sebelah Mama. Sama sekali tidak ada masalah dengan wanita yang bekerja. Berbeda dengan keluarga besar Farid yang rata-rata para wanitanya menjadi ibu rumah tangga setelah menikah. Setia menunggu suami pulang di depan meja makan.
            “Kata teman dari Makassar, orang Makassar itu kalau cari istri kriterianya cuma satu. Pintar usrusin anak dan suami” Suatu ketika Mama  pernah berkata seperti itu. Ia bersikap netral terhadap hubunganku dengan Farid. “Memang kamu sanggup kalau menikah nanti cuma jadi ibu rumah tangga?Masak saja kamu tidak bisa.”
            “Farid orang Bugis Ma” bantahku.
            “Sama saja” balas Mama.
            “Sudah, cari yang lain jo” Papa ikut nimbrung setengah bercanda. “Papa mau carikan jo? Ngana6 mau yang rupa bagaimana? Dokter? Polisi?”
            Aku merengut sebal. Papa dan Mama tertawa merasa berhasil menjahiliku. Aku tahu mereka tidak bersungguh-sungguh dengan ucapan mereka barusan. Mereka sama sekali tidak mempermasalahkan hubunganku dengan Farid. Mereka berdua pun sudah pernah kupertemukan dengan Farid saat mereka jalan-jalan ke Makassar tempo hari dan mereka menyukai Farid. Siapa yang tidak suka dengan Farid? Berparas tampan, berperilaku sopan, berpendidikan dan telah mapan pula. Ia memiliki semua kriteria calon menantu idaman dalam dirinya.
            Farid adalah pemuda Bugis tulen. Ada embel-embel “Andi7” di depan namanya. Keluarga besarnya tinggal di kabupaten Pinrang. Tapi sebagian ada yang menetap di Makassar. Para lelaki di keluarga besarnya beristrikan seorang wanita Bugis dengan kriteria-kriteria yang disebut Mama tadi, pintar urus rumah tangga, urus suami dan juga pintar masak.
            Berbeda dengan sikap Mama yang netral terhadap hubungan kami, Mami Farid dan keluarga besarnya kurang menyetujui. Bukan sekali dua kali Farid dijodoh-jodohkan dengan gadis Bugis yang masih kolega dengannya. Meski berkali-kali Farid meyakinkan bahwa pendapatku salah, namun aku tetap yakin Mami dan keluarga besar Farid menginginkan ia beristrikan seorang wanita Bugis. Sejak itu aku mulai sadar, aku adalah perpaduan sempurna dari wanita yang sama sekali tidak diinginkan Maminya sebagai menantu. Aku bukan orang Bugis, tidak bisa masak, lebih dari itu aku tidak bersedia melepaskan karirku kalau suatu saat menikahi Farid nanti. Perfect!
            “Kiri depan, Pak!” seorang penumpang dekat pintu pete-pete setengah berteriak membuyarkan lamunanku. Pete-pete beregerak dan menepi.
            Udara Makassar yang berdebu dan penuh polusi membuatku bertambah gerah. Aku mengambil selembar kertas dari dalam tas kerjaku dan mulai mengipas-ngipas.
            “Kalau perempuan bekerja itu repot. Mana urus suami? Mana urus pekerjaan? Bisa –bisa suami dan anak-anak terlantar” Ibu 40 tahun di depanku masih berceloteh tentang betapa pentingnya seorang wanita diam di rumah dan tidak perlu bekerja di luar.
            Bapak dengan ayamnya di sampingku senyum-senyum. Aku mengipas lebih cepat. Benar-benar gerah. Bukan udara saja yang teras panas sekarang. Telingaku juga mulai panas.
            Puncak pertengkaranku dengan Farid terjadi Minggu lalu saat Aku dan Farid menemani keponakannya yang datang ke Makassar bermain di Timezone.
            Puang8 Farid, Rifai mau naik itu” Rifai menunjuk ke arah mainan mobil-mobilan. Farid menggedongnya menaiki mobil-mobilan yang Rifai maksud, menggesek kartu Timezone ke mesin mainannya dan seketika mobil mainan itu beregerak naik turun.
            “Jadi bagaimana Ana? Minggu depan kamu mau kan ikut saya ke Pinrang bertemu Mami?” Farid mengulangi pertanyaannya. “soalnya minggu depannya lagi saya ada proyek 3 bulan di Kendari”
            “Far, kamu kan tahu Mami tidak suka sama saya. Setiap ke Makassar dia tidak mau ketemu saya”
            “Justru itu, kalau Mami tidak mau ketemu kamu, kamu yang temui dia di Pinrang. Sudah saatnya kalian berdamai”
            “Saya tidak pernah merasa memusuhi Mami” Bantahku cepat. “Mami mu yang kayaknya memusuhi saya. Saya belum siap ketemu Mami kalau keadaannya masih seperti ini”
            “Kalau begitu kapan siapnya?” Tanya Farid tampak mulai kesal. “Atau jangan-jangan kamu tidak mau menikah dengan saya?”.
            “Bukan begitu Farid. Kamu tahu kan sejak awal kita sama-sama serius dengan hubungan ini. Tapi kalau Mami mu seperti ini..”
            “Jangan bingung soal Mami, dia tinggal diyakinkan saja. Kalau melihat kita serius, dia pasti menyetujui” kali ini Farid yang membantah.
            “Bukan Mami saja, tapi keluarga besarmu. Saya bukan orang Bugis, Farid” Seruku tertahan.
            “Ana, yang akan menikah itu saya dan kamu, bukan keluargaku. Jadi jangan terlalu diambil pusing” Farid berusaha menenangkanku. Semua yang berhubungan dengan keluarga besarnya membuatku tegang belakangan ini. “Saya sudah 26 tahun. Saya sudah tidak sabar ingin menikah. Dan satu-satunya wanita yang ingin saya nikahi cuma kamu. Bukan gadis Bugis manapun”
            “Saya tidak siap kalau harus meninggalkan karirku yang sekarang. Saya tidak bisa hanya jadi Ibu rumah tangga seperti maumu dan Mami. Saya sama sekali tidak punya gambaran mengenai kehidpuan yang seperti itu. Kita berbeda visi. Kita berbeda tujuan. Kita berbeda latar belakang” Aku mulai tidak bisa mengendalikan emosiku.
            Farid agak terkejut mendengar perkataanku. Ia terdiam cukup lama sebelum akhirnya menjawab. “Mengalah lah sedikit demi saya Ana. Kenapa kamu begitu keras kepala?”
            Gantian aku yang terkejut. “Saya keras kepala? Bukannya kamu yang egois? Membuat harga mati tentang syarat istri ideal buatmu. Kalau Saya tidak bisa seperti itu bagaimana? Jangan paksakan idealismu ke saya. Jangan paksakan saya menjadi apa yang kamu mau. Bukannya lebih gampang kalau kamu mencari wanita lain saja yang sesuai kriteriamu?”
            “Ana!” Farid benar-benar terkejut kali ini. Ia kehilangan kata-kata untuk diucapkan.
            Aku memilih untuk berbalik pergi dibanding menunggunya mengatakan sesuatu. Aku pikir inilah yang terbaik. Sudah saatnya semua ini diakhiri. Sudah saatnya kami berjalan sendiri-sendiri setelah sekian lama bertahan dengan satu alasan. Cinta. Mungkin saat kuliah dulu hal itu masih bisa menjadi toleransi. Namun kini, di saat segalanya lebih rasional, di saat kami sudah semakin dewasa, aku rasa inilah keputusan paling bijak.
            Saat itu Farid tidak mengejarku. Itu sudah menjadi alasan paling kuat untuk menghapus namanya dari kontak handphone ku, lalu perlahan-lahan dari kehidupanku.
            Maka di atas pete-pete lah aku sekarang berada. Sudah genap seminggu Farid tidak menghubungiku. Sudah genap seminggu aku kembali naik pete-pete untuk pergi dan pulang kantor. Mungkin hubunganku dengannya benar-benar telah berakhir.
            “Tidak juga!” Tandas Bapak dengan ayamnya di sampingku “Istriku dokter hewan. Sampai sekarang dia masih kerja juga”
            Aku menoleh ke arah Bapak itu mencoba menyimak pembicaraannya dengan Ibu 40 tahun di depanku.
            “Benarkah?” gumamku. Merasa mendapat pembelaan terhadap ocehan si Ibu.
            “Saya peternak ayam di kampung. Dulu istriku datang untuk kasih penyuluhan tentang vaksin. Sampai sekarang dia masih jadi dokter hewan, sekaligus ibu yang baik untuk lima orang anak saya dan nenek yang hebat untuk tiga orang cucu saya” Lanjut Bapak itu di susul dengan tawanya yang membuat si Ibu 40 tahun keki.
            “Iya kah? Tidak sibuk ji itu urus keluarga sambil kerja?” Si Ibu tampak tidak mau kalah.
            “Ya, kita sebagai suami harus mengerti ki juga toh. Kalau istri pulang malam saya yang masak buat anak-anak” sahut si Bapak.
            Edede..istri apa mi itu?” Si Ibu tampak mencibir.
            Bapak itu hanya membalas dengan senyum. Detik berikutnya Ia menoleh padaku “Semuanya bisa di atur. Iya kan?” Ia berbicara seolah-olah tahu dilema yang terjadi dalam hatiku. Aku mengangguk tanpa sadar.
            “Saya  duluan ya. Sudah sampai. Kiri depan Pak” Ia memberi kode kepada supir dan pete-pete pun menepi di tepi jalan di kawasan Panaikang.
            Sejak si Bapak dengan ayamnya turun, Ibu 40 tahun itu berhenti mengoceh hingga pete-pete menepi di salah satu gang di kawasan Tamalanrea dan aku pun turun. Rumah kontrakanku berjarak kurang lebih 200 meter dari jalan utama. Aku berjalan melintasi gang dan terkejut begitu mendapati Farid ada di sana. Bersandar di depan pagar rumahku sambil mengibas-ngibaskan tangannya mengusir nyamuk.
            “Lama sekali kamu pulang Ana. Saya di gigit nyamuk di luar sini” Ujar Farid. Ia berlagak seperti tidak ada apa-apa di antara kami.
            “Saya pusing Ana”
            “Pusing kenapa?” Tanyaku ketus.
            “Pusing memikirkan nasib bangsa ini tanpa kamu di sisiku” sahutnya membuatku seketika ingin tertawa. Dalam keadaan normal mungkin aku sudah tertawa terbahak-bahak.
            “Ayo ikut saya ke Pinrang besok. Saya akan memperkenalkan kamu sebagai calon istriku secara resmi ke Mami”.       
            Aku mengerutkan kening tanda tidak mengerti. Belum cukup jelaskah baginya setelah yang terjadi di Timezone minggu lalu?
            “Sekalian nanti kita sama-sama jelaskan ke Mami kalau calon mantunya ini wanita karir yang bekerja di salah satu perusahaan terbesar di Indonesia” lanjut Farid membuatku tersentak. “kalau kamu terlalu capek untuk masak saat pulang kerja nanti, saya yang akan masak, nanti kita bikin jadwal menyapu dan cuci baju juga.”
            Aku bingung mendengarnya. Aku tidak tahu apa yang terjadi pada Farid seminggu ini tapi menurutku itu lah opsi paling masuk akal selama empat tahun hubungan kami.
            “Bagaimana? Besok ikut saya ke Pinrang kan?”
            Aku mengangguk pasti. Tiba-tiba aku merasakan udara di sekitarku menjadi lebih sejuk. Semilir angin perlahan berhembus, mengusir udara panas kota Makassar dan kepenatan dalam pikiranku sekaligus.
***
Catatan :
1.    Sebutan untuk angkutan umum (Makassar)
2.    Permisi (Makassar)
3.    Universitas Hasanuddin
4.    Sebutan sopan untuk laki-laki (Makassar)
5.    Sebutan sopan untuk “Kamu” (Makassar)
6.    Kamu (Manado)
7.    Gelar kebangsawanan (Bugis)
8.    Sebutan sopan kepada yang lebih tua (Bugis)

No comments:

Post a Comment