Monday, February 29, 2016

Parade Puisi

Silahkan nikmati parade puisi berjudul : 

SURAT YANG BELUM TERBALAS sehingga RINDU MEMBIRU dalam MONOLOG HUJAN DI GARIS PANTAI INI.


Dear kamu....
Iya kamu, lelaki bermata senja yang selalu kulihat saat surya berwarna jingga... 
(Desi)

Aku berdiri digaris pantai ini.
Memandangi siluet-siluet manusia dan semesta yang tampak sama. 
(Septian)

Tangismu menderu dalam deras hujan. (Nindy)

Telahkah gerimisku memporandakan pagi? (Hidayati)

Dear kamu...ya, kamu..yang berulang kali aku sapa...namun tiada jawabnya.... 
(Desi)


Disini aku berdiri di garis pantai ini.
(Septian)

Mengiris pilu menguak angan. Memelukmu dalam dekapan sangat kuinginkan. 
(Nindy)

namun tak putus pongahmu seumpama dunia hendak tunduk di kepalanmu. (Hidayati)

Aku tertawa sendiri, tiap kali membaca surat yang tak pernah ada jawabnya..
(Desi)

Lihatlah ini tawaku membahana. 
(Hidayati)

Di sini di garis pantai ini.
Kunikmati peraduan bumi yang mulai diselimuti malam hari.
 (Septian)

Esok ku kan datang
Memelukmu seperti asamu
Yang kau titip pada angin malam
Yang kau bisikkan pada gerimis. 
(Nindy).

Indah bukan puisi di atas? Yang pasti bukan saya penciptanya. Bait-bait indah di atas adalah gabungan dari empat puisi dengan judul berbeda yang ditulis oleh empat orang yang berbebeda tapi memiliki satu kesamaan. Mereka berempat adalah anggota komunitas One Day One Post. Ya, nama di dalam tanda kurung di akhir setiap bait adalah nama pengarangnya.

Demi menjawab tantangan menulis tentang anggota ODOP, maka saya membuat parade puisi di atas untuk kita nikmati bersama tapa mengubah sedikitpun kata dalam puisi. Jadi originalitasnya masih terjaga. Heheh

Setelah menikmati bait-bait indah di atas, mari saya perkenalkan dengan para penulisnya.

Surat yang Belum Terbalas oleh Desi. Seorang tenaga kerja Indonesia yang saat ini sedang bekerja di Negri tetangga, Malaysia. Kesibukannya tidak membuat ia surut langkah dalam menulis. Selain kecintaan pada kesusateraan ia juga hobi travelling. Banyak tempat menarik yang telah Desi kunjungi. Penasaran? Silahkan klik  BLOG DESI.

Rindu Membiru oleh Nindyah atau yang lebih akrab disapa Nindy. Ibu dua anak yang juga seorang guru SD. Jadwalnya otomatis padat namun menulis selalu sempat. Bagaimana mengatur waktu supaya tepat? Kepoin kesehariannya di BLOG NINDY

 Monolog Hujan oleh Hidayati Nur. Seorang guru yang hobi menulis dan mengajar dengan metode-metode alternatif yang sangat aplikatif. Tergabung Dalam FLP Tuban. Puisi-puisinya telah terpampang di media cetak. Nikmati karya-karyanya di BLOG HIDAYATI


Di Garis Pantai Ini Oleh Muhammad Septian Wijaya. Mahasiswa Informatika yang hobi menulis. Meskipun tidak nyambung sama jurusannya namun tidak pernah menyerah dalam berkarya. Saat ini sedang merampungkan novel perdananya. Penasaran dengan cerita novel buatan mahasiswa informatika? Temukan bocorannya di BLOG SEPTIAN

Demikianlah.

Keep writing till the end.

#OneDayOnePost.
#TantanganArisanOdop

Sunday, February 28, 2016

Menjadi Penulis : Sebuah Nasehat Tidak Penting.

Saya sudah mencintai dunia ini jauh-jauh hari. Sebabnya sejak kecil saya sudah mengakrabi segala jenis buku bacaan mulai dari komik Detective Conan hingga kumpulan cerpen Putu Wijaya. 

Ketika duduk di bangku SD, teman sebangku saya adalah seorang penulis ulung. Dia yang menularkan semangat menulis itu. Berbekal buku tulis dan pulpen tinta cair. Yup! Kami menulis di buku tulis hingga puluhan banyaknya dan saling memberi saran. Nama teman saya itu Gabriella. Ketika SMA saya dibelikan komputer oleh Ibu, saya toh tetap menulis di buku tulis. 

Sejarah lengkapnya perjalanan menulis saya bisa di lihat di sini.

Sebagai penulis amatir, saya sadar saya masih jauh dari kata 'bagus'. Saya juga belum menelurkan satu bukupun. 

Pencarian akan jati diri tulisan (genre) juga masih Dalam proses dan belum ketemu. Intinya, saya tidak ada apa-apanya dibanding penulis lain. Tapi saya adalah pembelajar yang baik, pembaca yang tangguh, dan pengambil resiko yang ulung. Yap, saya takkan gentar meski beberapa redaksi tabloid menolak cerpen saya. Hehehe.

Apakah cita-cita saya adalah penulis ketika kecil dulu? Tentu saja bukan! Cita-cita saya dulu adalah dokter. Lebih spesifik, dokter bedah. Apakah tercapai, tentu saja tidak. Hahahahahah. Menulis adalah passion saya. Cara saya melarikan diri dari rutinitas yang seolah mematikan krearivitas. Jika diapresiasi oleh orang lain adalah hal yang sangat luar biasa bagi saya, jika dimuat di tabloid ataupun memenangkan lomba, itu bonus. Bonus yang luar biasa.

Saat ini saya sedang tergila-gila dengan beberapa penulis. Dan saya cenderung -tanpa sadar-meniru genre penulis-penulis yang saya kagumi itu. Siapa saja mereka bisa dilihat di sini.

Saya percaya kepiawaian menulis itu bukan bakat sehingga tidak bisa diwarasi melalui gen, melainkan keterampilan, layaknya menyulam ataupun memasak. Practise makes perfect. Latihan membuatnya sempurna. Meskipun standar sempurna dalam dunia kepenulisan sangatlah ambigu di luar konteks masalah EYD maupun pemilihan diksi.

Bagi seseorang, suatu karya sastra dapat saja sangat indah, namun bagi saya biasa saja. Sungguh, ini hanya masalah selera. Untuk itulah, terus sajalah menulis dengan gayamu. Tidak usah muluk-muluk ingin meniru si A, si B. Masing-masing tulisan akan menemukan pembacanya sendiri. 

Karena menulis itu menjadi sempurna dengan latihan, maka menulislah dari sekarang. Tidak cukup hanya dengan berkata "saya ingin menjadi penulis" lalu belum menulis apapun. Ketika ditanya orang tulisan apa yang sudah dibuat kamu hanya bisa nyengir sambil garuk kepala yang tidak gatal "ini baru mau ditulis". Bahkan orang yang telah menulis banyak halpun belum bisa dikatakan penulis jika BELUM DIBACA oleh orang lain. Tidak usah muluk-muluk bisa menginspirasi orang lain. Dibaca saja dulu lah.

Maka, rumus saya, ketika ingin menjadi penulis, menulislah. Orang lain tidak perlu deklarasi diri. Yang mereka butuhkan adalah karya. Toh mereka tidak terlalu peduli siapa kamu, karena yang ingin mereka baca adalah tulisanmu. 

Apakah ada yang kecewa dan protes ketika mengetahui Tere Liye adalah seorang lelaki tulen? Tidak ada! Karena karya-karyanya sangat indah dan menginspirasi. Mengenai jenis kelamin sungguh tidak masalah. Apakah ada yang marah karena Illana Tan tidak menunjukkan jati diri sebenarnya? Tidak ada! Paling hanya mengundang sedikit penasaran karena penulis buku sekuel best seller itu masih misterius. 

Itulah bukti, bahwa industri ini tidak mementingkan siapa dirimu. Bodo amat tentang bagaimana rupamu, sepanjang tulisanmu dibaca, maka kamu layak disebut PENULIS. 

Selain hal-hal yang disebutkan di atas, yang juga mendorong saya untuk mencintai dunia ini, adalah seorang senior ketika kuliah dulu yang berkata "menulislah! Maka kau akan hidup lebih kama dibanding usiamu." Kalimat itu sangat membekas dalam otak saya, padahal yang menggeluarkan kalimat itu sudah lupa dia pernah berkata demikian.

Ya, menulislah! Sebab penulis adalah manusia abadi sepanjang masa. Tidak percaya? Lihat ulasan saya di sini.

Sekian tulisan (tidak terlalu) penting ini. Semoga dapat memberi manfaat meski sedikit.

Salam.

Emak-emak VS Bocah SMP (Round 2)

Seorang anak SMP 14 tahun bernama Audrey ditunjuk jadi PJ arisan di OneDayOnePost dan dia misuh-misuh. Kata dia arisan ini urusan emak-emak. Baca keluhannya di sini.

Saya sudah kasih tahu kalau emak-emak itu sibuk. Urusannya banyak. Yang diurus banyak. Tapi tidak ada yang ngurusin si Emak. Jadi, apalah salahnya jika dia saja yang mengurusi arisan ini?

Terus dia ngeluh bahwa dia pun sibuk. Banyak peer, banyak ulangan, banyak try out. Hey, sini-sini Nak emak kasih tahu ya..tapi sungkem dulu *kasih tangan. Emak sudah sebesar ini kamu pikir habis dilahirkan langsung seperti ini? Emak juga melalui masa SD, melalui masa SMP, melalui ulangan dan try out yang banyak juga. Jadi kami ini sudah paham dengan seyakin-yakinnya kesibukan anak SMP itu tidak ada apa-apa nya dibanding kesibukan kami.

Nggak usah melawan deh, soal siapa yang lebih sibuk itu sudah pasti yang paling sibuk emak-emak. Buktinya ilmiah! Berdasarkan pengalaman seluruh emak di muka bumi. Lah anak SMP ngomong dirinya lebih sibuk berdasarkan apa coba? Dia baru merasakan jadi anak SMP, belum pernah merasakan jadi Emak. So, nggak apple to apple gitu lo cin..

Plus, sini deh. Saya kasih tahu susahnya jadi anak SMP di jaman saya. Itu tahun berapa ya? Sebentar saya pikir dulu. 2003. Kamu tahu di jaman itu ada apa? Ya! Belum ada apa-apa! Handphone adalah barang mewah, kartu perdana adalah barang mewah. Handphone nya segede gaban, murni communicator (baca:komuniketer-komunikasi dan senter) yang nggak bisa dipake untuk browsing tugas apalagi stalking gebetan. Nggak bisa! Soalnya waktu itu Mark Zuckerberg masih SMA. Belum kuliah di Harvard dan menemukan Fesbuk.

Warnetpun masih jarang dan kami, anak SMP di jaman itu tidak familiar dengan internet (eh, iya kan ya? Apa cuma saya saja?). Jadi hampir semua yang berhubungan sekolahan (dan gebetan) kami kerjain manual. Tugas ditulis tangan, sumber bacaannya cari di perpustakaan, flirting gebetan pakai surat, suratnya ditulis tangan, dikirim lewat merpati pos, eh lewat teman.

Belum ada selfi-selfian karena gejetnya belum tercipta, jadi satu-satunya foto yang kami punya hanya pas foto hitam putih yang ditempel di rapor. Fotonya itu lagi cemberut soalnya tukang fotonya nggak pakai aba-aba "satu..dua..tiga ...cheese" sebelum ceklekin tombol kamrenya. Kalau sekarang, ada camera 360 yang memeperindah segalanya.

So, kamipun telah melewati masa SMP. Sudah gitu masa SMP nya tidak semudah masa-masa SMP sekarang.

Jadi, sudah paham kan susahnya jadi MAHMUD (mamah muda) kece macam kami. Udah, nggak usah ngeyel! Nanti kami kutuk jadi ikan lele mau? Eh, masih ngeyel juga. Mau nggak masuk surga? Surga di telapal kaki kami loh ( jumawa).

#onedayonepost
#februariMembara.

Saturday, February 27, 2016

Memori (Part 3)

Setengah jam yang lalu seorang lelaki tegap berkulit pekat mengetuk pintu rumah. Papa yang membukakan pintu untuknya. Ia mengaku sebagai polisi penjaga perbatasan. Ia menyebut namaku dan menyebut nama seseorang yang membuat adrenalinku terpacu.

"Saya ikut. Mari kita pergi sekarang." Tidak kupedulikan tatapan tajam mata Papa. Mata biru itulah yang diwarisi padaku. Rasanya langka memiliki kulit coklat dan mata biru ini secara bersamaan. Apakah ada orang lain di dunia ini selain aku dan Papaku yang pigmen warna dalam tubuhnya sangat kontras seperti ini?

"Ini sudah malam!" Hardik Papa "kau  jangan kelewatan."

"Saya pergi dengan seorang polisi. Apakah ada yang lebih aman dari itu?" Tanyaku rendah namun tajam.

Selain itu aku sudah 32 tahun. Untuk apalagi sebenarnya Papa memperlakukanku seolah-olah masih 17 tahun?

"Kau pergi menemui laki-laki itu!" Papa bersungut.

"Laki-laki itu datang jauh-jauh menemuiku. Lalu apa salahnya?" Sahutku kesal.

"Oke..oke.. Bagaimana kalau nona pergi besok pagi saja. Bersama saya. Benar kata Papa nona. Kalau malam agaknya cukup berbahaya." Polisi perbatasan mencoba melerai perdebatanku dengan Papa. Agaknya dia merasa tidak enak telah mendatangi kediaman tetua desa selarut ini.

"Berbahaya mana dengan tahun 1999?" Tanyaku gemas. "Lagipula, bapak pun tidak yakin sampai kapan laki-laki itu mau menunggu saya di sana."

"Tapi dari sini perjalanannya 6 jam," Polisi itu menyahut.

"Maka dari itu kita harus pergi sekarang agar bisa tiba dini hari."

Papa dan si Polisi tampaknya telah kehabisan kata. Setelah itu mereka membiarkanku menumpang kendaraan Polisi selama enam jam menuju tempat lelaki itu menungguku. Aku sudah tidak sabar.

Aku tiba saat matahari masih terlelap. Angin membawa hawa dingin menerpa barisan pohon cendana di daerah ini. Satu dua penjaja makanan kaki lima mulai berdatangan. Hal yang sangat lazim di tiap-tiap pintu perbatasan. Polisi yang menemani perjalananku menuju ke dalam pos untuk melapor.

Aku menghampiri salah satu lapak pedagang dan membeli dua cangkir kopi panas serta lima potong paung. 
"Ini, silahkan diminum," Aku menyodorkan secangkir kopi yang masih mengepul ke arah polisi-yang bahkan tidak kuketahui namanya itu-ketikaa ia keluar dari pos jaga dan menghampiriku.

"Terimakasih. Setelah ini biar saya panggilkan laki-laki itu di tempatnya menginap" katanya kemudian.

"Ah, tidak perlu terburu-buru. Tinggulah sampai matahari muncul," sahutku.

"Baiklah kalau nona bilang begitu," Polisi tegap berkulit pekat itu menyeruput dari gelas kopinya.

Aku menghirup napas dalam-dalam. Segar. Aku menikmati setiap detik penentian yang telah menemukan ujungnya. Lima belas tahun bukan penantian yang ringkas. Aku percaya suatu saat lelaki itu akan datang. Lima belas tahun yang lalu ia adalah lelaki yang tidak pernah mengingkari janjinya. Pastinya saat inipun demikian sehingga ia merasa perlu jauh-jauh menemuiku.

Lima belas tahun berlalu dan aku menjalani hidup dengan memendam rasa yang menyesakkan ini.

"Saya akan pergi menemui laki-laki itu." Polisi perbatasan itu menyadarkanku dari lamunan. Matahari tersipu-sipu di ufuk Timur. "Nona tunggu di sini saja,"

Polisi itu beranjak dan berjalan beberapa ratus meter sebelum menghilang ke dalam sebuah rumah. 

Adrenalin ku kembali berpacu. Kenapa hati ini tidak juga tenang padahal sebentar lagi akan menemui pemiliknya?

Di kejauhan tampak Polisi itu keluar dari sebuah rumah, di belakang nya di susul seorang lelaki timor paruh baya. Di belakangnya lagi... Deg! Seolah jantungku berhenti memompa darah.

Itu dia. Lelakiku. Lelaki yang membawa pergi hati dan begitu lancang telah mencurinya dariku selama lima belas tahun ini. Apa yang berubah dari dia? Tubuhnya bertambah tinggi. Rahangnya bertambah tegas. Matanya semakin tajam. Mata itu bergerak liar ke segala arah. Tampaknya ia belum menyadari keberadaanku. Ataukah dia lupa seperti apa rupaku. 

Aku beranjak menuju ke lapak tempatku memesan kopi tadi untuk membayar dan membeli 3 potong paung lagi. Aku segera membayar dengan beberapa sen dollar. Di sini rupiah dan dollar sama kuatnya. Sama-sama digunakan.

Ketika selesai bertransaksi, aku kembali mengalihkan pandangan ke arah lelaki itu. Di pandangan itulah mata kami saling bertumbuk. 

Adrenalinku semakin terpacu. Aku gugup sehingga nyaris menjatuhkan bungkusan paung dari genggamanku. Aku membisikkan namanya.

Matanya menatapku lekat-lekat. Aku tersenyum lalu berlari menghambur ke dalam pelukannya.

"Terimakasih sudah datang menemuiku"

#OneDayOnePost
#FebruariMembara

Friday, February 26, 2016

Pulpen Hilang : Jadikanlah Ladang Ibadah :D

Di ODOP lagi heboh bahas pulpen. Nggak percaya? Lihat aja di Blog Bang Syaiha dan Blog Mbak Julia ini
 Ya, hal sekecil apapun bisa jadi bahan perbincangan hangat di komunitas One Day One Post. Kenapa pulpen dibahas karena sering bilang. Saya juga sering mengalaminya. Berapa lusin dibeli pun tetap akan hilang.

Bahkan, teman-teman di kantor sering bilang begini "Kalau taruh uang dan handphone di meja ditinggalin, percayalah ketika kita balik benda-benda itu masih di atas meja. Di posisi semula. Tapi kalau tinggalin pulpen dan kue, percayalah lengah sedikit pasti raib" 

Yap, di kantor saya, selain pulpen yang sering tiba-tiba hilang adalah makanan. Kalau pulpen masih bisa dicari kalau makanan jangan harap deh! Sudah di perut orang lain pasti.

Dan kalau kita bersungut-sungut, "siapa yang ambil kue saya?!" Hanya akan memperoleh jawaban "Makanya jangan ditinggalin di meja!.".

Lah siapa yang tinggalin? Orang cuma ditinggal ke toilet sebentar. Lagian di meja sendiri ini. Ya begitulah...

Nah, karena begitu seringnya kehilangan pulpen (dan juga kue) saya anggap saja itu ibadah biar ikhlas.

Gambar dari Google


'Awas aja lu di akhirat! Gue minta ganti pake pahala!' Hahahaa. Nggak sekejam ini juga sih.

Maksudnya, ketika pulpen kita diambil orang ikhlaskan sajalah meski jengkel. Selama pulpen itu dipake untuk kepentingan yang baik (kalau dipake buat colok mata orang itu adalah kepentingan yang tidak baik) maka Insya Allah pahala juga akan mengalir ke pemilik pulpen yang hilang. Yakinlah! Yakinlah! Heheh

#OneDayOnePost
#FebruariMembara

Thursday, February 25, 2016

Memori (Part 2)

"Terimakasih telah datang untukku" suara lembut wanita itu berbisik di telingaku. 

Tubuhnya masih dalam dekapanku. Menghentakkan memoriku ke lima belas tahun silam. Pantai Fatucama. Patung Kristus Raja. Wanita bermata sebiru laut Flores. Aku tidak tahu cinta pertama bisa sedasyat ini. Menghujam. Membekas.

Telepon genggam di kantung celanaku berdering. Aku menjauhkan tubuh wanita itu dari dariku, merogoh kantung celana, kemudian berjalan menjauh demi melihat nama yang tertera di layar ponselku.

Aku memberikan isyarat untuk menjawab telepon dan wanita itu mengangguk. Aku berbicara sekenanya pada orang di seberang telepon. Mataku tetap lekat pada wanita kulit coklat di bawah pohon cendana itu. Memerhatikannya membuat memoriku kembali mengelana. Lima belas tahun silam dan rasa yang kata ayahku hanya cinta monyet masih meyisakan lubang kelam di sana. Sialan!

"Kau masih ingat nama makanan ini? Kita sering beli di kantin sekolah dulu" Ujar wanita bermata biru itu begitu aku menutup telepon dan menghampirinya.

"Paung" Kami menyebut nama roti yang dipegangnya itu hampir bersamaan lalu tertawa terbahak. Masa SMA memang sulit dilupakan. Dan roti seperti bakpau namun tanpa isi itu mewarnai masa SMA kami.

"Apa yang kau lakukan lima belas tahun ini?" Tanyanya kemudian.

"Aku?" Sedikit kaget mendengar pertanyaannya. Haruskah kujawab aku menghabiskan lima belas tahun untuk melacak keberadaannya? "singkat cerita, aku menjadi kepala divisi eksplorasi di salah satu perusahaan tambang bijih besi"

Wanita itu mengangsurkan sepotong paung padaku. 

"Obrigado" Kataku sambil mengambil penganan khas tersebut dan langsung menggigitnya.

Dia tertawa. Senyumnya semanis dulu. Giginya serapih dulu. "Aku ingin dengar versi panjangnya" Katanya. "ya, di Kupang memang banyak tambang bijih besi. Jadi kau kesini karena ada urusan pekerjaan?"

"Begitulah. Perusahaanku mengekspor bijih besi NTT" Jawabku sekenanya. "lalu kau, apa yang kau lakukan lima belas tahun ini?"

"Menjalani hidup" Jawabnya singkat. "dan mencintaimu".

Aku tertegun mendengar jawabannya. Potongan paung yang terlanjur kugigit, mati-matian kutelan. 

Di ufuk timur fajar sudah sempurna merekah. Berkas sinarnya membuat kulit coklat wanita di sampingku ini berkilau. Pohon-pohon cendana tua sudah bangun dari tidur semalam. Dedaunannya bergemirisik menyambut angin pagi yang berlarian menerpa.

Tanpa kusadari tempat ini sudah ramai saja. Penjaja makanan ringan semakin banyak berdatangan.

"Siapa yang menelpon tadi?" Tanyanya lagi.

"A..apa?" Aku tergagap.

"Siapa yang telepon tadi? Apakah penting? Apakah kau harus segera pergi?" Tanyanya memburu.

Aku terdiam. Haruskah kukatakan yang menelpon adalah seorang wanita yang sebulan lagi aku akan aku nikahi? Seorang wanita yang bukan dirinya.

PS : 
 Paung : Penganan khas Timor-Timur. Bentuknya seperti bakpau namun tidak ada isi di tengahnya.

Obrigado : Ungkapan terimakasih. Digunakan di beberapa negara seperti Portugis, Brazil dan Timor-Timur

#OneDayOnePost
#FebruariMembara

Tuesday, February 23, 2016

Puisi-kan Tantangan ODOP!

Tadi pagi brosing-browsing puisi Aan Mansyur. Tahukah kamu siapa dia? Ya! Dia yang puisinya akan digunakan dalam film fenomenal Ada Apa Dengan Cinta 2.

Tidak. Tidak. Tulisan ini tidak akan membahas tentang AADC 2 apalagi tentang puisi Aan Mansyur. Saya cuma ingin bilang, karena tadi pagi teracuni dengan keindahan puisi (ceilehh) jadinya malam ini ingin menulis puisi. Karena tantangan ODOP minggu ini adalah membuat artikel tentang ODOP, dan telah banyak anggota yang telah sukses melakukannya, maka saya akan membuat versi puisinya saja. Hehe.

Tentang
Rasa rasa
Yang tak terkatakan
Dengan bahasa apa saja

Juga tentang asa milikmu
Yang kau pendam
Tanpa kata
Tukiskanlah!

Tuliskanlah
Meski lelah
Atau kau jengah
Jangan pernah lagi menyerah.

Jangan!
Jangan berhenti
Tulis sesuka hati
Tidak ada yang peduli.

Ingat
Setiap saat
Haruslah kita giat
Membaca, mendengar, menulis mencatat.

Biasakan diri menjadi bijak
Pastikan tinggalkan jejak
Hidup sejenak
Kelak....

Dikenang di akhir hayat
Tentang ayat-ayat
Dalam kalimat 
Sarat...

One Day One Post
Jangan sampai lolos
Harus nge-post

Pastikan menulisnya tiap hari tanpa jeda
Atau kau diomeli Bang Syaiha
Dan penyesalanmu tak terkira
Harus nyetor kemudian
Hutang tulisan
Camkan!

Saya telah kehabisan kata-kata
Puisi yang tak berkesudahan
Sudahlah sudahi saja
Tidak tahan!
Pening.

(Sekian puisi saya yang tidak jelas. Semoga cukup menjawab tantangan ODOP)

#OneDayOnePost
#HariKeEnamBelas