Sunday, January 8, 2017

Lebih Sehat di Tahun 2017


Saya masih belum bisa move on dari blog Mami Ubii. Blog apaan tuh? Boleh baca postingan saya di sini sebagai pengenalan.

Ternyata, mbak Gesi, pemilik blog tersebut juga memiliki blog lain yang tak kalah menarik untuk difollow. Dan isi dari blog itu sudah dibukukan oleh penerbit Stiletto dengan judul yang sama.


Saya sedih melihat foto-foto sesi terapi di mana Ubii (anak mbak Gesi yang special need) menangis meronta-ronta karena tidak nyaman dipakaikan segala alat-alat untuk membuat badannya lebih proporsional bagi anak seusianya. Terapi-terapi itu sesungguhnya untuk mengejar ketertinggalan tumbuh kembang Ubii yang memang jauh di belakang karena terinfeksi virus Rubella.

Saya yang bukan apa-apa-nya Ubii ini saja sedih, apalagi Mami Papinya yang tiap hari harus tega melihat Ubii menjalani sesi terapi, atau minum obat. Ah, pokoknya keluarga kecil itu membuat saya susah move on. Baper to the max.

Mbak Gesiii...You are so inspiring.
Mendirikan Rumah Ramah Rubella untuk mensosialisasikan bahaya virus TORCH ke lebih banyak wanita. 

Apa itu TORCH ? Kalian bisa googling untuk lebih jelasnya. Tapi ini saya berikan sedikit bocoran wikipedianya :

TORCH adalah istilah yang mengacu kepada infeksi yang disebabkan oleh (Toksoplasma, Rubella, Cytomegalovirus (CMV) dan Herpes simplex virus II (HSV-II)pada wanita hamil. TORCH merupakan singkatan dari Toxoplasma gondii (toxo), Rubella, Cyto Megalo Virus (CMV), Herpes Simplex Virus (HSV) and other diseases. Infeksi TORCH ini sering menimbulkan berbagai masalah kesuburan (fertilitas) baik pada wanita maupun pria sehingga menyebabkan sulit terjadinya kehamilan ataupun terjadinya keguguguran dini.

See?

Dari salah satu postingan Mbak Gesi, disebutkan bahwa TORCH sebenarnya tidak berbahaya jika diderita oleh wanita dewasa. Namun, ketika wanita itu hamil, TORCH bisa menjadi virus yang sangat ganas. Menyebabkan keguguran, kelainan bawaan pada bayi seperti; katarak, gangguan pendengaran, jantung bocor, kebutaan, gangguan motorik dan sebagainya. 

Untuk itu penting bagi wanita dewasa yang akan atau telah menikah, ataupun sedang merencakan kehamilan untuk memeriksakan TORCH nya. Biayanya memang lumayan mahal untuk sekali periksa di laboratorium, namun percayalah, itu tidak akan lebih mahal dibandingkan seluruh biaya yang akan keluar nanti ketika anak yang dikandung ternyata terdampak TORCH.

Saya jadi ingat, dulu waktu awal-awal kehamilan, saya pernah dianjurkan oleh dokter kandungan untuk memeriksa TORCH di Prodia. Namun saya abaikan karena sifatnya hanya anjuran dan bukan kewajiban. Untunglah baby Ahmad lahir dalam keadaan sehat walafiat. Insya Allah sampai seterusnya demikian.

Nah, pemeriksaan TORCH ini sendiri tentunya masih sangat asing di telinga para ibu-ibu hamil. Sosialisasi bahaya TORCH ini sendiri sangat jarang ditemui. Untuk itulah mbak Gesi dengan kesadaran tulus ingin berbagi, di tengah-tengah keribetannya mengurusi Ubii, mendirikan Rumah Ramah Rubella itu. 

Masih dari salah satu postingan Mbak Gesi, disebutkan bahwa segala pengobatan yang ditimbulkan karena inveksi virus TORCH ini tidak ditanggung asuransi (saya kurang paham maksudnya apakah ini BPJS atau asuransi apa. Tolong koreksi jika ada informasi lain). Sudah sadar kan betapa mahalnya kesehatan saat ini?

Jadi di tahun 2017 yang mumpung masih Januari ini, saya sudah memtuskan mau membuat resolusi apa. (Padahal baru kemarin tulis bahwa saya tidak suka membuat resolusi. Hahahah)

Inilah resolusi 2017 saya untuk menjadi lebih sehat :

1. Rajin cuci tangan sebelum menyentuh makanan dan Ahmad.

2. Memeriksakan gigi minimal 6 bulan sekali (sebelumnya setahun sekali saja sudah syukur. Heheh)

3. Mengurangi mengonsumsi junk food. (Maksimal 2 minggu sekali makan junk food)

4. Olahraga minimal 1 minggu sekali, minimal jalan santai keliling kampung.

5. Tidak lagi membaca sambil tidur (ini kayaknya susah 😭😭😭)

6. Memeriksakan TORCH.

7. Positive Thinking. Karena badan yabg sehat lahir dari pikiran yang sehat 😄😄

Stay Healthy, stay beauty 😁


(Postingan ini juga untuk menjawab tantangan #onedayonepost tentang resolusi di tahun 2017)

Saturday, January 7, 2017

Tumbuh Kembang Anak ; Jangan Dibanding-bandingkan.


Hari ini Baby Ahmad berusia 1 tahun  8 bulan lebih beberapa hari, apa saja yang sudah bisa Ahamd lakukan? Coba saya ingat-ingat dulu. Oke, mari saya jabarkan. 

Baby Ahmad

Di usia sekarang Ahmad sudah bisa :
1. Berhitung sampai 10.

2. Menyambung lagu. (Dalam hal ini adalah lagu yabg sering didengar.

3. Berjalan, berlari. 

4. Giginya sudah (kalau tidak salah) 12 biji.

5. Sudah tahu kegunaan beberapa benda.

6. Sudah tahu beberapa nama buah.

7. Sudah tahu 3 di antara rukun iman 😊. (Agama, Tuhan, Nabi dan Kitab).

8. Sudah bisa membedakan dan mengungkapkan rasa pahit, manis dan pedis.

9. Sudah tahu nama Ayah, Ibu, Opa, Oma.

10. Sudah tahu beberapa nama hewan dan menirukan suaranya.

Apalagi ya? 

Itu saja dulu beberapa yang terlintas di kepala. 

Saya menulis ini sebenarnya sebab beberapa waktu lalu saya membawa Ahmad ke kantor karena ada lembur di hari libur. Di sana ada teman saya yang jadinya baper karena anaknnya yang seusia Ahmad dirasa terlalu pendiam. Dia sampai berpikir akan membawa anaknya ke dokter anak untuk memeriksa tumbuh kembangnya.

Saya paham rasa khawatir teman saya itu. Saya juga sering ditimpa perasaan seperti itu dulu. Iya, dulu waktu awal-awal punya baby.

"Anaknya si ini sudah bisa begitu loh. Kok Ahmad belum?"

"Anaknya bu ini sudah tumbuh gigi, kok Ahmad belum?"

Rasanya jadi cemas dan khawatir sendiri. Apakah ada yang salah dengan Ahmad?

Lalu saya mencoba berpositif thinking karena sebelum ini telah begitu banyak membaca artikel tentang tumbuh kembang anak. Tentang ketidak bolehan kita membanding-bandingkan antara satu anak dan lainnya. Tiap anak berbeda. Antara kakak dan adikpun bisa berbeda.

Berikut akan saya sertakan ilustrasi tumbuh kembang anak yang saya dapat dari rumah sakit waktu lahiran Ahmad dulu. Ada banyak teori tentang tumbuh kembang anak sebenarnya di internet. Tapi dulu saya sering pakai yang di buku Ahmad biar gampang dan tidak perlu repot-repot browsing.






Nah, jika perkembangan anak kita sekarang jauh melenceng dari teori yang dipaparkan oleh ilustrasi di atas, bolehlah kita merasa khawatir dan segera menemui ahlinya.

Begitu ya, Mom (Tiba-tiba blog ini temanya jadi parenting 😅).

Thursday, January 5, 2017

Proud To Be Working Mom


Di tahun 2017 ini, eh saya bukan tipikal planner yang sedikit-sedikit harus merencanakan sesuatu. Saya lebih ke 'go with the flow'.

Jadi, di awal tahun 2017 ini saya tidak hendak membuat resolusi apa-apa karena bagi saya tidak ada bedanya antara mentari pagi di tahun 2016 atau tahun 2017 atau tahun 2009. Tidak ada beda purnama di tahun 2017, di tahun 2005, di tahun 2007 atau 14 purnama sekalipun, kecuali perihal Rangga yang datang lagi dalam kehidupan Cinta. (Sorry ngelantur 😁).



pic was taken from here

Di hari yang cerah dan mengawali tahun ini saya hanya ingin lebih banyak bersyukur dan lebih produktif. Rasa syukur saya berawal dari sebuah chit-chat by WA dengan teman, sahabat, partner in crime, whatever you may call, Kunca.

Baca pikiran-pikiran dia di : Crafter Gila 


Diawali dengan saya me-WA dia link blog saya, postingan pertama di tahun 2017.


Kunca : Apaan tuh? Resolusi 2017?

Sabrina : bukan, ini cerita mini aja sih.


Lalu Kunca membaca tulisan saya tersebut.

Lalu dia kembali WA

Kunca : Ada blog bagus soal anak yang berkebutuhan khusus. 

Baca blog bagsunya : Diari Mami Ubii


Ya, saya memang membuat cerita mini yang sedikit menyinggung tentang anak dengan kebutuhan khusus (special needs).


Baca cerita mini saya : Ini Pergantian Tahun, Ellena


Nah, cerita itu terinspirasi dari pengalaman nyata temannya teman saya.

Oke, kembali ke laptop. Jadinya saya mengubek-ubek blog yabg direkomendasikan itu dan ternyata saya tidak asing dengan penulis blognya. Dia adalah salah satu founder Rumah Ramah Rubella, tapi saya baru tahu kalau dia juga menulis blog.

Jadi, si mbak Gesi, pemilik blog itu adalah mother of two children di mana anak pertamanya adalah anak dengan spesial needs. Selengkapnya bisa baca sendiri ya. Intinya setelah saya membaca banyak artikel dari blog itu seharian penuh saya jadi addicted dan saya pasti follow dan saya berpikir seharusnya saya lebih bisa bersyukur daripada saat ini atas apa yang telah saya miliki.

Anak saya normal, aktif, lincah. Mama saya sangat membantu menjaga baby Ahmad ketika saya sedang di kantor. Saya bekerja di lingkungan yang sangat menyenangkan dengan teman-teman yang bisa diajak menggila meskipun beban target selalu di luar batas kewarasan.


Teman-teman kantor yang kerjanya 'cuma' Foto-Foto :p

Dan makan-makan :D


Setali tiga uang (eh, benar begini perumpamaannya?) Setelah mengubek-ubek blognya mbak Gesi, saya jadinya menemukan salah satu blog yang ditulis oleh seorang working mom yang recomanded banget untuk difollow.


Baca Blog Mbak Windi : Windi Land

Saya merasa sefrekuensi dengan mbak Wendi ini. Working Mom, pegawai bank, suka menulis. Ah, love at the first written pokoknya #eh.

Especially untuk artikel ini : Dear Rekan Kerja Maafkan Kami Para Working Mom


Nah, jadi kawan-kawan saya yang budiman. Di tahun 2016 saya menyadari saya terlalu banyak mengeluh. Selalu membanding-bandingkan keadaan saya dengan keadaan wanita lain.

Kenapa dia bisa menjalani profesi sebagai stay at home mom dan saya harus bekerja? Kenapa dia bisa bekerja di bidang yang dia sukai sementara saya tidak. Fyi, akuntansi bukan bidang yang saya sukai loh! Kenapa ibu-ibu lain bisa tidur 8 jam sehari saya tidak?

Pokoknya saya merasa HAK ASASI saya dirampas ketika sebagai manusia biasa saya tidak bisa tidur minimal 8 jam sehari. Saya memang hobi tidur sih. Heheh. Bagaimana bisa saya tidur 8 jam sehari kalau saya baru balik kantor minimal jam 7 malam, boboin ahmad, nonton india, tidur jam 11 bangun jam 5 pagi. Huffffttttt! Saya tidur maksimal 6 jam saja.

Tapi kemudian saya membaca blog mbak Gesi dan seketika saya merasa menjadi remahan rempeyek jika dibandingkan dengan emak satu itu. Saya mengeluh saya tidak bisa tidur dengan cukup sementara ada ibu lain yang berjuang dengan segala tekad daya dan upaya demi anak mereka yang special needs. Tidak pernah mengeluh. Ikhlas lahir batin. Mungkin mereka jarang tidur, mungkin beban pikiran mereka lebih berat, bisa jadi mereka mengikatkan ikat pinggang dan mata sekalian lebih kencang demi bisa membiaya obat dan terapi dibandingkan untuk shopping, travelling, jajan dsb..dsb...

Salah satu sosok wanita hebat yang juga diam-diam saya kagumi adalah pemimpin saya sendiri. Saya sebut dengan hormat, Ibu Tetty. So proud of you, bu. 😁

Jadi ceritanya, ibu pimpinan saya ini sedang menemani saya probing ke salah satu calon debitur dan entah kenapa tiba-tiba obrolan kami ketika itu (bersama dengan calon debitur yang kebetulan juga emak-emak  dengan 4 anak) menjurus ke membanding-bandingkan emak-emak generasi mereka, dengan emak-emak generasi saya.

Lalu bu bos bilang kurang lebih seperti ini:

Kalau sudah memilih menjadi working mom harus fighting. Saya juga dulu pernah merasakan merawat anak dari bayi. Punya anak yang sedikit berbeda sehingga butuh terapi, dan ketika itu sayapun tengah menghadapi masalah rumah tangga lainnya. Tapi toh saya bisa melalui. Jadi kalau keluhannya cuma bingung antara pekerjaan dan anak ya itu konsekuensi sebagai working mom.

Dan karena pada dasarnya ibu bos saya ini kalau ngomong memang sangat blak-blakan, saya jadi merasa tertohok sekaligus ber 'o' panjang dalam hati. Ternyata bu bos saya ini juga adalah seorang working mom dengan segala drama, dilema yang saya hadapi plus situasi-situasi lain yang saya tidak hadapi, tapi dia bisa lalui kenapa saya tidak?

Jadi ya, saya memutuskan untuk bangga menjadi working mom, selain karena cicilan KPR saya belum lunas (hehheh) saya senang bisa berkarya di tempat kerja. Bukan berarti saya menyepelekan Ibu Rumah Tangga. Jangan meremehkan ibu rumah tangga berdaster, karena kalau mereka sudah dandan, eh maksud saya sudah pegang gadget, apapun bisa jadi duit. Kayak teman SD saya yang cuma modal gadget sekarang dia kaya raya. Punya toko pula. Uwoow. Pengertian ibu bekerja dalam hal ini bukan berarti harus bekerja di kantor loh ya. Doing our own business juga itu sudah bisa disebut working mom.

Jadi intinya syukuri apa yang ada, hidup adalah anugerah.

😁😁😁😁😁😁😁😁😁😁😁😁😁😁😁😁😁😁😁😁😁😁😁😁😁😁😁😁😁😁😁😁😁😁😁😁😁😁😁😁

Wednesday, January 4, 2017

Ini Pergantian Tahun, Ellena.



Mungkin mama jatuh pingsan dan terbangun untuk kemudian jatuh pingsan lagi. Saat kali terakhir mama terbangun rumah tampak lengang. Kau sudah disemayamkan dan para kerabat sudah selesai berduka cita.


Pic. was Taken from here

Hati ibu mana yang sanggup menanggung penderitaan ini, Ellena? Melihat anak sendiri dalam balutan kain putih bernama kafan. Tidak ada lagi yang tersisa dari dirimu selain foto berpigura yang membingkai senyum lebarmu. Foto underwater ketika kau diving di segala penjuru dasar laut di Indonesia yang paling mendominasi. Disusul foto-foto Raffa dari saat umurnya masih satu hari hingga empat tahun saat ini. Disusul foto pernikahanmu. Mama lupa dulu kau pernah sebahagia itu.

"Mama, maafkan Raco,"

Pemuda itu lagi. Kau tahu Ellena? Dia sudah kembali. Dia yang menandu kerandamu kemarin. Pemuda yang bersamamu selama dua tahun kemudian memberi luka di tiga tahun berikutnya.

Raco berlutut dan menyentuh kaki Mama yang terkulai di sisi ranjang. Mama melihatnya dengan satu mata mama yang masih berfungsi. Dengan satu mata saja sebenarnya mama bisa melihat kesedihan yang tergantung di wajah yang kau kagumi ketampanannya itu.

"Untuk apa kau masih di sini?"

Mama ingin sekali mengusir Raco. Seperti yang telah dia lakukan padamu, Ellena. Tiga tahun yang lalu.

"Maafkan Raco, Mama. Kalau Mama mengijinkan Raco ingin membawa Raffa."

"Apa kau bilang?!" Mama tersentak dan refleks berdiri membuat Raco terjengkal dan terduduk di lantai, "Setelah tiga tahun dan kau ingin membawanya?"

Mama kehabisan kata untuk melanjutkan. Dari ambang pintu yang terbuka mama bisa melihat Raffa duduk di sofa. Dipangkuannya terdapat tablet yang kau belikan. Dia pasti sekarang sedang melihat gambar peta dunia.

Lelakimu ini ingin membawa Raffa. Apakah dia lupa dulu dia pernah mencampakkan anak itu? Disertai tuduhan-tuduhan bejat terhadapmu. Bagaimana mungkin anak dara mama semata wayang mengandung anak yang bukan dari suaminya? Bagaimana bisa Raco begitu buta mengenali mata sipit dan lesung pipi pada Raffa adalah duplikat dari dirinya? Bagaimana Mungkin orang yang kau pilih sebagai suami ini berlaku setega itu padamu hanya karena Raffa terlahir dengan membawa kelainan?

"Ini autisme, Mama. Bukan kelainan. Ini keunikan dari Tuhan. Raffa bisa saja belum bisa bercakap-cakap di usia empat tahun, tapi Raffa sudah hafal seluruh nama negara di dunia bahkan hanya dengan melihat bentuknya di peta. Bukankah ini keajaiban, Ma?"

Kalau benar keajaiban, kenapa ini lebih banyak menimbulkan luka dalam hidupmu, Nak?

"Kita akan membawa Raffa berkonsultasi pada ahlinya. Ellena sudah dikenalkan dengan spesialis tumbuh kembang anak terbaik di Singapura. Ellena sedang menabung. Doakan tabungannya cukup tahun depan."

Tahun yang kau maksud itu sudah tiba. Kau sudah memesan tiga tiket PP Singapura. Kau sudah mengambil cuti panjang di awal tahun. Kau sudah menyelami laut Maluku di sela-sela dinas luar kotamu.

Tiga hari yang lalu kau makan dengan lahap, membeli banyak baju untuk Mama dan Raffa. Lalu keesokan harinya kau pingsan. Hanya dua jam di rumah sakit kemudian kau pergi. Pecah pembuluh darah di otak adalah penyebabnya. 

Lalu orang-orang mulai berspekulasi tentang hobi diving kita. Hobi yang telah merenggut sebelah mata mama, katanya juga berkontribusi terhadap kematianmu. Orang-orang mulai membicarakan tentang bahaya terbang setelah menyelam. Orang-orang mulai sok tahu tentang tekanan dasar laut dan tekanan dalam pesawat. 

"Ijinkan saya membawa Raffa." Raco kembali memohon. 

"Tidak! Raffa bukan anakmu. Kau sudah mengatakan itu tiga tahun yang lalu saat menceraikan Ellena. Pergi saja kau sekarang sebelum kesabaranku habis!"

"Tapi, Ma..."

"Dan jangan panggil saya mama. Cepat pergi dan jangan pernah kembali lagi."

Mama berjalan menunjukkan Raco pintu keluar. Langit sudah gelap. Ini malam pergantian tahun, Ellena. Bukankah kau selalu suka kembang api?

"Ma, Raco minta maaf atas segala yang terjadi antara Raco dan Ellena."

"Saya sudah memaafkanmu. Tapi, tolonglah Raco, jangan pernah kembali lagi. Sampai kapanpun."

Mama saja sudah cukup untuk menanggung penderitaan yang dunia berikan padamu. Mama dan Raffa saja sudah cukup. Tidak perlu orang lain.

Raco berjalan di bawah gerimis hujan dan desingan kembang api. Mama harap dia pergi dari kehidupan Mama dan Raffa selama-lamanya, meskipun Mama tahu kamu selalu mengharapkannya pulang.

Ini malam pergantian tahun, Ellena. Seharusnya kau melihat bagaimana gerimis berpadu dengan letupan kembang api tahun ini.

Sunday, November 13, 2016

Tangan-Tangan Pendosa


Flashfiction ini dibuat dalam rangka mengikuti sayembara menulis flasgfiction yang diadakan oleh grup menulis LovRinz and Friend


Gambar dari ilustrasi buku Air Mata Shakespeare karya Ida Fitri


Ara menatap kubangan darah yang merembes dan membuat lantai kamar itu memerah. Ini pemuda ketiga belas yang ia patahkan tangannya dalam kurun waktu kurang dari empat puluh hari. Empat puluh hari saja waktunya.

Ini hari ketiga puluh sembilan. Ia tidak akan terburu-buru. Masih ada satu laki-laki lagi yang ingin ia temui. Ia tahu persis di mana laki-laki itu bisa dijumpai.

Ara mengayunkan langkahnya dengan ringan. Begitu ringan hingga ia merasa bisa terbang terbawa angin. Satu saja tujuannya. Ladang ilalang di belakang kuburan.

"A..ara? Kau kembali?" Pemuda itu sendirian. Ara bisa mencium bau tuak yang menyengat dari napasnya, "kau jauh lebih cantik dari terakhir kali kita bertemu."

Ara hanya tersenyum. Ia mendekat dan menggenggam jemari pemuda itu. Sang pemuda gigil. Tangan Ara begitu dingin.

"Ada apa? Kau mau kita bersenang-senang lagi seperti dulu?"

Ara mengangguk girang. Tangannya masih meremas-remas jemari si pemuda. Ingin rasanya Ara mematahkan jari-jemari itu namun yang ia lakukan hanya mengambil botol tuak dari tangan si pemuda lalu memecahkannya di atas batu.

"Hei! Kenapa kau pecahkan minumanku?" Pemuda itu tidak terima. Ia mengayunkan tangannya menampar Ara namun yang didapat hanya udara.

Sementara Ara menunduk dan menggapai salah satu pecahan beling dan dalam hitungan detik menghunuskan beling itu ke mata si pemuda.

"Argggggghh!" Teriakan pemuda itu menggema. Namun Ara tak peduli. 

Ia meraih lengan si pemuda kemudian memelintirnya hingga bunyi tulang patah meyakinkan Ara bahwa pemuda itu tidak akan lagi bisa menggunakan tangannya untuk menyentuh Ara, atau menyentuh perempuan manapun di muka bumi ini.

Setelah itu Ara berbalik pulang. Ia ingin menemui ibu dan mengatakan pada wanita tua itu untuk tidak menangisinya sebab ia kini sudah kembali.

Di ambang pintu Ara mematung. Ibu tampak murung. Mata tua itu sedih. Harusnya Ibu mengurangi kegiatan menangisnya sebab kini  Ara sudah kembali setelah empat puluh hari menghilang. Ara sudah ditemukan dari balik belukar di ladang ilalang belakang kuburan. 

Ibu kini tinggal membersihakan lebam dan jejak sperma yang mengering di sekujur tubuhnya. Lalu mengafaninya.

Gadis dengan Saksofon

FlashFiction ini ditulis dalam rangka mengikuti sayembara menulis yang diadakan oleh Grup Menulis LovRinz and Friend

*
*

Gambar diambil dari ilustrasi buku Air Mata Shakespeare karya Ida Fitri


Sejak awal Tuhan tidak pernah bermaksud menciptakan Hawa. Begitulah yang kami tangkap. Andaikan Adam tidak terlalu banyak tuntutan, Hawa tidak perlu tercipta dan mereka tidak perlu terbuang ke bumi.

Adam hidup bergelimang segalanya di dalam tempat yang indahnya paripurna. Surga. Lihatlah akibat nafsunya, kini anak keturunannya terbuang, terseok-seok di muka bumi, digoda iblis yang durjana, tapi kalau mati nanti kembali mengharapkan surga. Sudah patut ada nama Hawa yang mendahului kata nafsu.

"Pras, coba kamu pikir lagi niatmu mempersunting gadis itu."

"Sudah, Ibu." Prasta menjawab singkat. Tak berniat goyah. Begitulah yang kami tangkap dari raut wajahnya.

"Orang tua gadis itu meminta mahar yang jumlahnya tidak masuk akal. Mereka ini mau menikahkan atau menjual anak sih?!" Wanita yang dipanggil ibu oleh Prasta berjalan mondar-mandir mengelilingi ruang makan sambil tangannya memijit kening. 

"Tabunganku dan hasil jual rumah ini akan mencukupi untuk membayar maharnya, Ibu." 

"Apa?! Kau mau jual rumah ini?" Ibu berhenti mondar-mandir, "Ibu tau ini rumahmu dan kau berhak melakukan apa saja pada rumah ini. Tapi lalu kau mau tinggal di mana?"

"Aku akan membeli rumah yang lebih kecil." Prasta menjawab. Tidak ada lagi ragu dalam wajahnya. Begitulah yang kami tangkap.

"Kau sudah buta karena cinta rupanya!"

Prasta diam. Rasanya kami ingin bilang kepada ibu bahwa Prasta bukan dibutakan cinta. Tetapi lebih tepatnya ia ditulikan cinta. Prasta tidak pernah melewatkan hari tanpa menonton video salah satu band jazz, dimana gadis itu memainkan saksofon. Kami baru tahu nama alat musik tiup itu saksofon. 

Gadis itu memang cantik dan caranya memainkan saksofon begitu merdu.

"Aku rela menjual segalanya untuk mempersuntingnya, Bu. Mengertilah." Keputusan Prasta tampaknya final.

Ya, ya begitulah. Sudah kodrati kaum Adam rela meninggalkan segalanya demi bisa memiliki Hawa. Nenek moyang mereka saja rela meninggalkan surga. Tidak peduli andaipun hanya bisa memakai dedaunan untuk menutupi kebodohan mereka. 

"Banyak semut!" Prasta mengibaskan lembaran roti di atas meja tempat koloni kami berkumpul sebelum memakannya. 

Kami terhempas ke udara. Aku menyesalkan tindakan Adam yang tidak puas dengan surga sehingga Tuhan murka dan melemparnya ke bumi. Karena ulahnya, sepasang nenek moyang kamipun harus turun ke bumi demi menemani Adam dan keturunannya.

Dunia dalam Perahu


Jadi ceritanya, saya lagi ikut sayembara menulis Flash Fiction yang diadakan oleh grup menulis LovRinz and Friend dengan cara bercerita sesuai dengan gambar yang ditentukan. Gambar-fambar tersebut diambil dari buku karya mbak Ida Fitri berjudul Air Mata Shakespeare. Sepertinya itu kumpulan cerpen. Bagi yang berminat bisa langsung memesan di Penerbit LovRinz


Gambar dari Ilustrasi Buku Air Mata Shakespeare karya Ida Fitri


Berminggu-minggu aku coba meyakinkan istriku bahwa bumi tidak bulat seperti yang selama ini dia sangkakan.

Dunia sesungguhnya berbentuk cerukan seperti perahu. Pasangan dewa-dewi bersemayam di dalam sebuah ruang kendali dan berperan sebagai nahkoda yang mengarahkan ke mana perahu ini akan menuju.

"Dewa bersemayam di langit. Terakhir kali dewa turun ke bumi itu adalah Wisnu yang menitis kepada Rama." Istriku selalu bilang seperti itu setiap kali kuperingatkan.

Sepasang dewa-dewi sudah turun ke bumi dan tinggal di sebelah rumah kami. Itu adalah ruang kendali tempat mereka memutar roda kemudi untuk membawa perahu, yang ternyata adalah dunia, pergi sesuka hati mereka.

Aku harus meyakinkan istriku untuk pergi. Aku tidak mau hidupku dikendalikan oleh dewa-dewi. Firasatku mengatakan mereka akan menenggelamkan perahu ini hingga ke dasar. Begitu manusia kehabisan napas, mereka terbang kembali ke khayangan.

"Kau dengar suara itu? Mereka mencoba mencuci otak manusia. Lihat, tetangga-tetangga kita berbondong-bondong menuju ke balai kota. Pasti setelah ini akan ditenggelamkan."

"Sudahlah suamiku. Sebaiknya kau istirahat di kamar."

Aku menuruti perintah istriku. Tidak. Aku tidak akan tidur. Aku akan memeriksa jalan rahasia yang kutemukan beberapa hari yang lalu untuk meloloskan diri.

"Sayang!" Aku berseru memanggil istriku, "Ayo cepat kita pergi sebelum orang-orang menyadari kita tidak itut ke balai kota."

"Astaga! Apa yang akan kau lakukan?" Ia menjerit.

"Ayo kita lompat dari perahu ini. Kau bisa berenang kan?"

Istriku menggeleng.

"Kau tidak mau ikut aku? Kau lebih memilih mendengarkan kata dewa?!"

Istriku kembali menggeleng. Kini sambil berurai air mata.

Aku menyesali sikap istriku. Tapi kemudian aku ingat bahwa istri Nabi Nuh pun tak selamat dari bah karena mengabaikan perintah suaminya.

"Suamiku, menyingkirlah dari jendela!"

Itu kalimat terakhir istriku yang kudengar sebelum aku melompat keluar dari perahu. Setelah itu aku mencoba berenang namun kaki dan tanganku terasa sakit.

Orang-orang yang menuju balai kota mulai mengelilingku.

"Kasihan sekali dia. Depresi karena dikalahkan tetangga sendiri di pemilihan bupati."

"Kabarnya dia sampai jual seluruh harta untuk kampanye. Sekarang malah terlilit hutang."

"Dia kan suka 'black campaign'. Bilang-bilangin bupati terpilih koruptor.”

“Sebaiknya kita bergegas ke balai kota saja. Pelantikan bupati akan dimulai.”

Bisik-bisik masih berlanjut. Jeritan istriku terdengar semakin jauh.