Monday, January 11, 2016

Parakkang



--karena satu Dan lain hal tulisan ini saya halus untuk sementara waktu, dan akan diposting kembali begitu satu dan lain hal nya selesai.-- hehhehe

#OneDayOnePost#HariPertama

Tuesday, June 9, 2015

Lahiran yang selancar jalan tol (Alhamdulillah)

Hellooo happy n good people.. :D

Akhirnya sempat untuk menulis blog lagi (selama ini malas aja sih) heheh..

Dan akhirnya pecah telor untuk postingan di tahun 2015..yeyyyy!

Banyak hal yang terjadi yang membuat blog ini jadi tidak terurus (fuh..fuh...#niupin lawa lawa dan debu). Hal - hal tersebut adalah :

1. Kepindahan saya ke unit yang baru di kantor dengan pekerjaan yang low pressure tapi sangat administratif sehingga membuat saya jangankan nulis blog, makan siang saja kadang kadang tidak sempat sehingga harus makan di meja kerja. Unit baru ini selain pekerjaannya sangat administratif, SDM nya juga lagi kurang jadi pekerjaan memang sangat menumpuk.

2. Kehamilan yang makin besar sehingga membutuhkan waktu istirahat yang lebih banyak. Bayangin, saya biasanya pulang kantor jam 7 malam. Sampai di rumah makan dan bersih-bersih badan sudah jam 9 aja. Langsung tidur deh tuh karena besoknya harus bangun pagi untuk ngantor jam 7.30. Suami dianggurin lah pokoknya. Heheh. Weekend balas dendam tidur seharian.

3. Melahirkan. Inilah proaes kelahiran yang lancar jaya selancar jalan tol itu. Nanti akan saya ceritakan detail di bawah ya. Cuti ngantor 3 bulan mulai 1 april 2015 kemarin (saat ini masih cuti. Baru masuk tanggal 8 Juli nanti. Yayyy!)

4. Kena baby blues syndrom yang lumayan parah selama 2 minggu. Hikzz.

5. Baby kena flu (yang ternyata adalah baby noisy dan umum terjadi pada new born baby yang disebabkan karena sistem pernapasannya yang belum matang ) tapi ya si orang tua baru ini tetap mengiranya flu dan paniknya bukan main.

5. Dilanjutkan begadang yang bikin jiwa dan raga remuk redam karena baby bangun nyaris sejam sekali buat nyusu. Ini yang kemudian saya yakini sebagai fase growth spurt nya si baby setelah searching di internet.

6. Jam tidur baby mulai teratur, eh dia kena nipple confusion (bingung puting) ataukah kena nursing strike ( mogok menyusu langsung dari payudara) yang menyebabkan saya menjadi hancur sehancur-hancurnya karena berkali kali mengalami penolakan dari anak sendiri. Setiap saya sodorin payudara, biasanya dia langsung hap, ini dia memalingkan wajah sambil memandang jijik. Hiikkkkkkzzzzz...

7. Nah, 3 hari ini jam tidur baby mulai teratur. Malam hari dia deep sleep nya lebih panjang dan saya juga sudah mulai berkompromi dengan diri sendiri terkait penolakan baby untuk menyusu langsung dari saya. Jadilah saya tiap hari memompa asi untuk ditaruh di dot nya. (Sambil tetap mencoba relaktasi kembali).

Demikianlah kenapa saya jadinya menginggalkan blog ini setengah tahun lamanya demi mengurus baby dan belajar bagaimana menjadi ibu baru (suami pun tetap masih di cuekin dulu. Heheh).

Mungkin banyak istilah - istilah di atas yang bikin bingung karena memang tidak umum (tapi kalo ibu-ibu pasti tau). Nanti Insya Allah akan saya ceritakan di postingan lain terkait pengalaman-pengalaman saya yang berhubungan sama istilah-istilah di atas.

Oke, jadinya saya akan mulai menceritakan proses persalinan si baby.

Pada tanggal 20 April 2015, sore harinya saya kontrol ke dokter (karena memang jadwal kontrolnya). Di usg dan di raba dalam, ini maksudnya tangan si ibu dokter di masukin ke (maaf) vagina saya untuk mengetahui dimanakah dan bagaimanakah posisi baby saat ini. Dokter bilang masih jauh dari jalan lahir. Tapi tetap disuruh siap-siap. Kemungkinan lahiran bisa kapan saja karena usia kandungan sudah lebih dari 40 minggu. Persisnya lupa berapa minggu. Jadilah saya dibekali rujukan ke rumah sakit Permata Bunda.

Sepulang ke rumah saya masih sempat duduk ngumpul-ngumpul di teras sama Ical, papa dan mama ngobrol sampai jam 12 malam. Masuk kamar saya mulai melakukan ritual nungging yang dipercaya memperlancar persalinan hingga Ical masuk kamar dan bilang "Nin, itu celanamu ko' berdarah?".

Awalnya saya pikir Ical becanda. Tapi saya tetap lari ke toilet untuk lihat langsung dan memang ternyata sudah ada darah. Inikah tanda tanda persalinan? Mules? Mules sih tapi mules yang masih bisa ditahan makanya saya keukeuh belum mau ke RS. Nah ini berhubung sudah berdarah saya segera melapor ke Mama dan meluncurlah Saya, Ical dan Mama ke RS.

Sesampainya di RS, saya langsung di periksa sama bidan yang lagi jaga. "Baru bukaan satu setengah bu, istirahat saja di kamar dulu. Kalo mulesnya sudah lebih sering datang lagi ke sini (ruang tindakan) ya".

Dalam hatiku "mules yang lebih sering itu macam mana? Bedanya sama mules mau BAB apa?"

Tapi toh saya tetap menuruti perintah ibu bidan untuk ke kamar dan beristirahat. Sampai di kamar Mama langsung tidur di tempat tidur khusus penjaga, Ical tiduran di kursi panjang yang tersedia dalam kamar dan saya mencoba tiduran di ranjang pasien. Rasa mules muncul. Rasanya seperi mau BAB bercampur kram seperti mau menstruasi. Masih bisa di tahan.

Sejam kemudian rasa mules dan kramnya datang makin intens. Tapi masih bisa di tahan juga. Masih cerita-cerita sama Mama sambil dia pijit-pijitin punggung dan pinggang yang makin lama makin kaku.

Tepatnya jam 3 dini hari rasa mules sidah tidak bisa ditahan. Mama bangunkan ical dan kami bertiga segera menuju kamar tindakan. Saya masih bisa jalan sendiri ke kamar tindakan tersebut. Sesampainya di sana saya disuruh rebahan dan si bidan kembali periksa bukaan. Ini tangan si bidan merogoh-rogoh (maaf) vagina saya.

"Ko' baru kesini ?" Katanya sambil tangannya masih di dalam sana.

"Masih bisa ditahan ses, ini sudah tidak bisa tahan makanya kesini"

Si bidan mengintruksikan temannya untuk menelpon dokterku sementara ini perut mulesnya sudah tak tertahankan. Rasanya kayak apa sih? Saya mendeskripsikan rasanya itu seperi mau BAB dan kram menstruasi yang dipangkatkan 3. Seperti itulah.

Sembari menunggu si doker datang, Mama mengusap-usap perutku sambil menyuruh baca tasbih, para bidan dan suster bolak balik menginstruksikan untuk menarik nafas panjang biar si baby tidak kekurangan oksigen. Ical? Jangan tanya deh. Semakin keras teriakan saya semakin jauhlah dia dari kamar bersalin. Dia memang sudah menekankan dari jauh-jauh hari kalau saat melahirkan nanti tidak bisa menemani karena ga kuat lihat darah. Sigh. Payah yah.. yah, tapi positifnya adalah dia tidak perlu lah liat saya ngeden. Karena ketika ngeden kecantikan perempuan itu berkurang drastis. Heheh

Waktu rasanya lama sekali sementara perut makin mules. Saya sesekali menjerit pelan (gimaya ya itu menjerit pelan?) menahan mulesnya. Tibalah Mama yang panik karena si dokter tak kunjung datang. "Ini dokternya mana ses? Anak saya sudah kesakitan ini. Tidak bisa mulai melahirkan sekarang saja?"

Si bidannya menjawab "harus tunggu dokter bu"

Dalam hati "what???? Ini sudah mules banget. Rasanya pengen ngeden. Tapi dari tadi disuruh tarik nafas mulu. Belum ada instruksi buat ngeden"

"Suster, dokter sudah dimana?" Saya mulai ga sabaran.

Susternya jawab "ibu tenang saja. Jangan pikirkan dimana dokter, pikirkan saja sebentar lagi mau melahirkan. Tarik napas biar bayinya tidak kehabisan oksigen".

What??!!! Kalau tidak dalam keadaan baring setengah mengangkang mungkin saya sudah balik badan pergi dari sana.

Ga berapa lama dokterpun datang dengan ceria dan begitu segarnya sambil nyapa-nyapa para suster dan bidan.

"Waahh...Kartono nih" ujar bu dokter menyapa saya. Maksudnya karena anak yang akan saya lahirkan tepat di hari kartini itu kebetulan berjenis kelamin cowok.

Lalu tangan si dokter merogoh rogoh memeriksa bukaan. Melipat kaki saya. Menginstruksikan kedua tangan saya menggenggam kedua lutut dan bersiap untuk ngeden. Alhamdulillah akhirnya disuruh ngeden juga.

"Iya pintar. Kayak gitu bu. Bagus" dokternya muji-muji sambil diselingi ngobrol sama bidan dan suster yang menemani beliau.

2 kali ngeden saya berhenti. Dokter suruh ngeden lagi tapi si mules tak kunjung datang.

"Saya induksi saja ya bu biar cepat kontraksinya. Soalnya ini ketubannya sudah hijau. Harus cepat-cepat keluar dedeknya"

Dalam hati "apa kata dokter sajalah"

Jadilah tangan kiri saya dipasangi selang infus yang sudah diinjeksikan cairan perangsang bukaan. Tidak berapa lama si mules datang menyapa. Ngeden sekali, ngeden dua kali, saya lihat bu dokter ambil gunting, saya merasakan sesuatu di bawah sana digunting tapi tidak sakit sama sekali, lalu sekilas sosok mungil muncul disertai ucapan hamdalah dari Mama. Ical mana? Au ah...

Si baby segera berpindah tangan dari dokter ke suster. Babynya tidak nangis sempat bikin Mama khawatir. Tapi tindakan yang tepat (hidung dan mulut baby dirogoh rogoh selang untuk mengeluarkan cairan yang menyumbat saluran nafasnya) membuat baby beberapa menit kemudian terdengar tangisannya.

Si baby di timbang dan diukur. 3,54 kg, 4,8cm. Si baby dihandukin dan dikasih ke saya. Ceritanya saya sudah siap-siap nih unuk pemberian IMD (inisiasi menyusu dini) seperti yang sudah saya baca di artikel-artikel sangat besar manfaatnya terkait bonding antar ibu dan anak, eh taunya saya cuma disodorin buat cium sepersekian detik langsung baby dibawa lagi ke ruangan terpisah buat dipasangi oksigen karena kondisinya yang sempat menurun akibat keminum air ketuban yang teracuni meconium (baby stress menyebabkan dia BAB di katuban yang mengakibatkan seperti kata dokter, ketubanku berwarna hijau).

Oke, tak apalah tidak bisa IMD asal baby sehat selamat.

"Harusnya tadi makan es krim dulu sebelum lahiran biar beratnya pas 3,5 kg" dokterku nyeletuk.

"Ini anak pertama beratnya segini. Hati-hati bu kalo anak ke 2 beratnya di bawah 3kg bisa bisa-lahirannya tidak terasa sama sekali" salah satu suster nambahin.

Saya hanya senyum senyum meringis. Alhamdulillah. Meski bobot bayi tergolong besar saya bisa lahirkan dia secara nomal seperti yang sudah saya tekadkan bulat-bulat jauh hari sebelumnya. Itu juga bukan tanpa perjuangan. Pas usia kandungan 7 bulan saya disuruh diet karbohidrat karena pertumbuhan berat janin di atas normal sehingga dokter khawatir janin menjadi terlalu besar saat waktu lahiran nanti. Waktu itu janinku berat badannya bertambah 500gr tiap 2 minggu dimana pertambahan normal harusnya 200gr saja tiap 2 minggunya.

Oke, persalinan ini sangat lancar dan membahagiakan. Saya masuk kamar bersalin jam 03.00 WITA lahiran jam 04.30 WITA tanpa merasakan sakit yang signifikan. Tidak trauma lah untuk melahirkan lagi. Heheh.. eh, ada loh teman kantor yang sampai sekarang masih trauma melahirkan.

Sejauh ini semulus jalan tol bebas hambatan hingga proses jahit menjahit tiba. Karena persalinanku mengharuskan adanya penambahan jalan lahir berupa robekan maka yang robek itu harus dijahit kembali dan itu sakiiiiiit pake banget. Itu jahitnya tanpa dibius sodara-sodara. Bayangkan! Sakitnya paripurna pokoknya. Tapi so far semua itu berlalu juga.

Sejam setelah di jahit muncullah si Ical di kamar bersalin sambil nyengir-nyengir. "Itu anak mirip siapa ya? Tidak mirip saya".

Hadeuhhhh...

Nah, begitulah singkat cerita proses lahiranku. (Apah?!!! Singkat dari hongkong!!)

Heheh...thx for reading...


NB: Thx a lot to dr.Misje Angsu, SpOG, dr. Yanever Lam,Sp.A serta seluruh petuguas medis di RS. Permata Bunda Manado yang sangat ramah dan sangat membantu.


Monday, October 6, 2014

Racun


Kata - kata yang memendek.
Bibir yang mengatup.
Hening yang membantu.
Ah, kadang aku merasa kau brengsek!

Aku hanya ingin membebaskan gagasan
Yang terbenam begitu jauh tanpa harapan.
Dan aku inginkan kau ada mengulas senyuman
Bukannya memandang sinis dengan tatap bosan.

Tahukah kau waktu tak pernah berhenti sedetikpun?
Baik waktuku dan waktumu.
Tapi masihkah kau berniat memberiku racun?
Racun hidup yang membuat otak dan sendiku kaku.

Bebaskan!
Bebaskan dirimu dari beban sehingga kau bisa membebaskanku!
Enyahkan!
Segala aral yang menghalau jalan ku, jalan mu!

Kadang kulelah berbaring tanpa tubuhmu di sampingku.
Kadang sempit menghimpit kala kedua bola matamu menghujam wajahku.
Kadang kubutuh spasi yang lebih panjang menikmati ketiadaanmu.
Tapi lebih sering kurapuh memikirkan ketidakhadiranmu.

Tapi bibir merahmu masih saja mengatup.
Kutahu hatimu bergemuruh.
Ada gelisah yang ingin kau bunuh.
Sendirian. Sebab memang aku tak mampu.

Selamatkan dulu dirimu.
Lalu raih tanganku sebelum aku tenggelam dalam kubangan racun yang sering kau hadirkan tanpa sepengetahuanku.


Manado, 06 oktober 2014.
3.14 WITA


Tuesday, September 23, 2014

kehilangan Bang Toyyib dan Kehamilan 8 Minggu

Hello...

Sudah berapa abad saya ga nulis?
Ada yang merindukan saya?

Seperti judul postingan ini, yap! Kucing liar kesayangan saya dan mama saya "bang toyyib" raib entah kemana. Kejadiannya kayaknya sebelum bulan puasa. Sedih tak terkira. Airmata bercucuran. Tak pernah terbayangkan kehilangan bang toyyib bisa sesakit itu. Lama baru bisa move on.

Kepergian bang toyyib tetap menjadi misteri hingga kini, apakah dia membuntuti kucing betina dan akhirnya tersesat, ataukah ditabrak mobil, ataukah luka parah karena berkelahi di suatu tempat dan akhirnya mati? Apa jangan-jangan jadi santapan para pemburu daging kucing?#serius! Disekitar  kawasan rumah saya banyak yang suka makan daging kucing.

Tapi, di balik semua kesedihan itu saya akhirnya mendapat ganti bang toyyib. Seekor kucing persia berusia 7 bulan yang saya beli di salah satu online pet shop. Mengenai kucing gembul nan manja itu mungkin akan saya tuliskan di postingan tersendiri. Beserta foto - foto nya.

Dan karena saya mengetik ini di meja kantor saya, dimana bos saya sedang berkeliaran mondar-mandir mengontrol anak buahnya, maka saya akan mempersingkat saja.

Oke. What next? I'm pregnant! Yeyyy... bahagiakah? Entahlah. Sata muntah-muntah akut. Tidak nafsu makan apapun kecuali coklat dan es krim. Wajah berantakan karna timbul jerawat dan flek-flek. Saya harap segala morning sickness (maupun moonlight sickness) ini segera berlalu dan nafsu makan segera kembali. Hik..hik..

Ada update apa lagi?
Saya coba-coba daftar cpns di kemenkeu tapi karna ijazah asli ditahan kantor sementara untuk verifikasi berkas butuh ijazah asli, maka saya ga melanjutkan proses seleksi itu. Oke, gapapa. Berarti belum rejeki.

Dan... sekian saja lah...

Bubye..

Monday, June 2, 2014

Too Tired To Write

Hello reader,

Ini sudah bulan Juni 2014. Sangat tidak terasa. Waktu berlalu begitu cepat sejak postingan terakhir. Apa yang terjadi? banyak! sampai begitu lelah untuk dituliskan.

Drama rumah tangga#ceileh. Berjibaku dengan kantor dan seisinya. Jualan beras.
Untuk yang terahir saya benar-benar melakukannya. Itu bisnis suami sih tapi sayapun harus turut merintis demi terbebas dari perbudakan perusahaan. Kapan kaya kalau kerja di perusahaan terus?

Menulis bagaimana? tentu saja banyak ide beterbangan. Tapi sepertinya 24 jam sehari dan 7 hari seminggu tidak pernah cukup untuk disisihkan demi menulis.

Tapi saya tetap bertekad untuk menyelesaikan proyek menulis bersama Kunca yang kian hari kian terpending. Harus selesai demi menggapai nilai diri yang lebih baik. heheh.

Saya sangat lelah hari ini, karena minggu lalu meskipun banyak tanggal merah tapi tanggal merahnya di akhir bulan dimana setiap saya yang bekerja di unit kredit di salah satu bank pemerintah tetap musti menjalani lembur, bahkan ketika hari sabtu pun harus nagih ke luar kota meninggalkan suami sendirian di rumah (nggak sendirian juga sih, ada mama papa).

Too much to write. Too tired to write.

Tuesday, January 21, 2014

Hidup : Tentang Sebuah Perjalanan

Dulu saya adalah seorang traveller. Sejak lahir saya adalah traveller.

Saya tidak hendak bilang kalau sekarang saya bukan lagi traveller. Tapi entah kenapa rutinitas (sebagai banker di salah satu perbankan pemerintah) dan status sebagai istri dari seseorang membuat sisi traveller saya itu sedang berhibernasi.

Saya juga tidak hendak bilang kalau perubahan 'marital status' di KTP mu itu secara drastis juga akan merubah gaya hidupmu, tapi untuk kasus saya, si ganteng (suami saya) sangat khawatir kalau saya kemana-mana tanpa dia. Lebih khawatir daripada orangtua saya.

Hari ini, Berdasarkan saran kunca saya membaca sebuah thumbler milik Windy. Penulisnya adalah seorang traveller dan juga seorang editor. Kalian bisa baca tulisannya di sini. Intinya, dia sanggup mengorbankan apapun untuk impian-impian dan pencapaian pribadinya. Pesan yang saya dapat setelah membaca beberapa tulisannya adalah :

1. Kejar dan kerjakanlah mimpi-mimpimu. Karena kata windy mimpi tanpa aksi hanya menciptakan ilusi.

2. Kerjakan sekarang. Jangan urung karena takut. Sebab di masa datang, yang paling banyak kamu sesali adalah hal-hal yang TIDAK kamu kerjakan dibanding hal-hal yang kamu kerjakan.

Berangkat dari sebuah tumblr dan sedikit perbincangan dengan teman kantor di dalam mobil ketika sedang mengunjungi nasabah, maka jiwa travellerku sepertinya mulai terjaga dari hibernasi panjang. Mungkin saya tidak bisa segila Windy yang rela mengundurkan diri dari pekerjaannya jika permohonan cuti 35 hari tidak dikabulkan, atau mungkin saya juga belum seberani Windy yang telah melanglangbuana hingga ke pelosok-pelosok maroko dan seoul. Tapi setidaknya saya pernah melakukan perjalan 3 hari 2 malam Makassar-Jakarta-Bandung-Semarang-Jakarta-Manado dengan hanya berbekal duit 1,5 Juta dari hasil bongkar celengan semasa kuliah dulu.
Menyenangkan!


Foto dan catatan perjalanan 3 hari 2 malam


Kediri-Jogja-Bali (di lain kesempatan)

Memang benar, di lain kesempatan ketika masih berkuliah dulu saya juga pernah menghabiskan liburam semester ala backpacker (sambil belajar bahasa inggris) di kampung inggris-Pare, Kediri. Dilanjutkan dengan menyelinap ke Jogja dan menyebrang ke Bali.

Seperti yang saya katakan, sejak lahir saya sudah terbiasa berpindah-pindah dan melakukan perjalanan. Akan saya uraikan seperti ini :

1. Lahir di Lamongan,Jawa Timur.
2. Bersekolah sampai kelas 2 SD di Aileu Timor-Timur.
3.Bersekolah sampai kelas 4 SD di Dili, Timor-Timur.
4.Transit di Ambon saat menuju ke Manado tahun 1999.
5. Bersekolah sampai kelas 3 SMA di Manado.
6. Kuliah 4 tahun di Makassar.
7. KKN 2 bulan di Pinrang.
8. Magang 6 bulan di Sorowako.
9. Pelatihan 2 bulan di Jakarta.

Di antara perjalanan-perjalan hidup yang memang harus saya tempuh itu, saya pun bepergian ke tempat-tempat lain atas dasar sukarela (hahahah)
- Ke rumah nenek dan keluarga besar di gresik, nganjuk dan lamongan.

-Mengikuti kegiatan kemahasiswaan di Maros, Pangkep, Soppeng,Malino bahkan pulau Baranglompo sampai-sampai senior bosan liat muka saya. Mau bagaimana lagi? Saya hoby jalan. Dan dengan ikut kegiatan mahasiswa, perjalanan saya dibayarin alias gratis.

-Menghabiskan 3 idul adha berturut-turut di Pangkep, Palopo dan gowa serta Takalar.

-Perjalan 3 hari 2 malam Jakarta-Bandung-Semarang.

-Backpacker 2 Minggu Kediri-Jogja-Bali. Perginya naik kapal dari makassar. Baliknya naik pesawat  karna nggak tahan ombak. Hahahah

-Nyasar ke bogor sewaktu pelatihan di Jakarta.

Saya pernah kemana lagi? Sementara baru itu dulu yang saya ingat.

Semoga lain kali saya bisa melanglangbuana lebih jauh lagi. Bersama si ganteng tentu saja. :D

Nanti, ketika rutinitas saya adalah sebagai penulis bukannya banker.


Saturday, January 4, 2014

Resolusi 2014!

Sabtu. Hujan. Malas

Tidak terasa sudah tahun 2014. Kemana saja saya selama ini? tidak menghasilkan karya. Tidak berprestasi pula. Cenderung bermalas-malasan. Malas menulis, malas membaca, malas mengaji. heheheh.

Kemarin si ganteng (suami saya-red) ke Manado, tapi balik lagi ke Makassar sebelum tahun baru. Walhasil saya tahun baruannya di kasur sambil ngorok. Lagian emang masih jaman ya tahun baru bakar-bakar duit (baca : mainan petasan)? Mending duitnya di tabung buat naik haji. :D


Oh, ya. adik semata wayang saya liburan smester di Manado. Dia pulang dua hari lalu membawa stik keju kartika sari, kripik karuhun dan sebuah buku yang sedang saya berusaha lahap berjudul "Muhammad-Lelaki Penggenggam Hujan" yang nulis Tasaro GK. Saya rada-rada familiar deh sama namanya entah dimana. Tapi yang jelas bukunya amazing, fantastis, bombastis. Ini biografi nabi Muhammd yang dikemas sedemikian elok sehingga membacanya seperti membca novel fantasi Harry Potter. Yang lebih istimewa, Harry Potter hanya khayalan, yang ini nyata!

Yup! Tasaro sangat jenius mengemas biografi ini dalam bentuk novel. Semangat menulis saya yang mati suri membuncah seketika. Mungkin saya akan meresensinya kapan-kapan.


Selain daripada itu, Kunca sahabat saya juga merekomendasikan sebuah blog penulis yang lagi in sekarang. kata Kunca sih lagi hip, tapi ko' saya baru tau ya tentang dia. Kemana aja saya selama ini? inilah efek dari malas ngapa-ngapain selama ini. hufft..


Cekidot blognya Anggun-si penulis yang lagi in di www.mbakanggun.blogspot.com . Tanpa berpikir panjang saya langsung follow blog-nya. heheh

eh, lantas mana resolusi 2014 nya?

Oke.. Here we go :

1. Menerbitkan tulisan (termasuk di dalamnya menyelesaikan 'stiletto project')
2. Punya anak
3. Punya pekerjaan yang lebih 'manusiawi'
4. Tinggal serumah sama suami
5. Jalan-jalan ke luar negeri
6. Punya usaha sendiri.
7. Kembali ikut mentoring
8. Les bahasa asing
9. Berat badan 50 kg. :P

* diurut bukan berdasarkan prioritas. 

Yep, resolusinya terlalu umum dan tidak spesifik.

Haduh. Daripada sibuk berseolusi lebih baik langsung dijalani sebisanya saja. heheheh