Saturday, July 15, 2017

Jeana dan Fakta Seekor Lalat



Setelah berhenti bekerja dan melahirkan anak pertama kami seminggu yang lalu, istriku memiliki kebiasaan yang aneh, yaitu mengamati lalat. Padahal seingatku, terakhir kali ia menamatkan pendidikan formalnya adalah di bidang Teknik Industri dan bukan Biologi.


“Lalat yang masuk ke rumah hari ini lebih banyak dari yang kemarin. Aku tidak tahu bagaimana cara mengusir mereka.” Jeana membuka pembicaraan mengenai lalat pertama kalinya pagi itu saat mengoleskan selai kacang pada roti bakarku.

“Hmm…” Aku hanya bergumam sambil terbenam dalam harian kota yang kubentangkan.

“Apakah memang selalu banyak lalat di rumah ini?”

“Usir saja mereka,” balasku, “ada semacam lem yang dapat di pasang untuk menjerat mereka.”

“Menjerat? Lalu membiarkan mereka mati tak berdaya menempel pada lem itu? Apakah kau tidak berpikir mungkin saja  mereka adalah induk lalat yang sedang mencari makan untuk diberikan kepada anak-anaknya?”

Aku melipat harianku dan menyambar roti di piring. “Apakah anak-anak lalat yang kau maksud adalah belatung?”

“Aku tidak tahu. Tapi mereka makhluk hidup.”

“Ya, tapi mereka sangat mengganngu. Usir saja atau pukul dengan sapu lidi! Astaga, aku tidak percaya sedang mendebatmu tentang perkara seremeh mengusir lalat.”

“Kau memang mulai mengaggap segala urusanku ini remeh, kan?” Suara Jeana terdengar parau. Tanda-tanda alam bahwa hatinya sedang terluka dan ia siap meledak beberapa detik lagi. 

“Maafkan aku.” Aku mencoba menenangkan keadaan sebelum pembicaraan kembali kepada lingkaran setan tentang apakah keputusan yang kami buat bahwa Jeana harus tinggal di rumah pasca melahirkan adalah benar.

Setahun menikah aku mulai mendambakan seorang anak, namun tahun keempat pernikahan barulah Jeana bisa positif hamil. Aku sudah mewanti-wantinya sejak awal kehamilan tentang melepas karir ketika bayi kami lahir nanti. Aku tidak melihat ada masalah ketika itu. Ia menyambut dengan antusias kelahiran Bima dan langsung mengajukan surat resign menyusul surat permohonan ijin cuti melahirkannya.

***

“Apa kau tahu bahwa lalat hanya memiliki dua mata namun setiap matanya memiliki empat ribu ribu lensa? Tapi anehnya pengelihatan lalat tidak begitu baik.” Jeana baru selesai menyusui Bima. Ia bergabung di meja makan denganku. Topik tentang lalat lagi. “Aku juga merasa pengelihatanku bermasalah. Mataku sudah lelah padahal baru membaca tiga lembar novel. Dulu aku bisa menamatkan satu novel sehari.”

“Kau lelah mengurusi Bima. Jangan terlalu memaksa dirimu. Istirahatlah selagi bisa.” Aku mecoba menjawab sediplomatis mungkin. Jeana sering menangis di dadaku ketika malam tiba dan ia harus terbangun menggantikan popok Bima atau menggendongnya semalaman ketika demam. Menangis tanpa alasan yang jelas.

“Apakah kau sudah membaca tautan yang aku kirimkan ke WA mu kemarin?” 

Aku menggeleng. “Tidak sempat. Coba katakan saja padaku apa isinya.”

Jeana mengembuskan nafas dengan keras menandakan dia kecewa. Dia hanya makan dua sendok sup dari mangkuknya sebelum beranjak. Aku mengamati tubuhnya yang kurus berdaster melenggang melewatiku ketika ia berjalan ke arah kamar kami. Aku tahu soal wanita yang kehilangan bobot tubuh ketika menyusui bayi, tapi aku tidak tahu soal kantung mata dan wajah kusam. Apakah itu juga efek menyusui bayi?

***
“Bangun! Bangun, Faiz!” Seru Jeana. Aku menebak ini tengah malam. Bima sedang menjerit dengan lengkingan khas.

“Ada apa?” tanyaku mengerjapkan mata. “demi Tuhan, Jean. Ini masih jam tiga subuh.”

“Ya dan aku belum tidur semenit pun karena Bima tidak bisa diletakkan di box bayinya. Begitu diletakkan dia menangis.”

“Apa dia baik-baik saja?”

“Sedikit rewel karena demam.”

“Oh….” Aku menyahut datar lalu bersiap tidur kembali.

“Hanya itu? Kau tidak berniat menbantuku menenangkan Bima sejam saja supaya aku bisa tidur?”

“Tapi aku harus bekerja besok. Ada meeting penting,” sanggahku.

“Ya! Segalanya tentangmu memang penting dan aku tidak! Pekerjaanmu penting, meetingmu penting, jam tidurmu penting sementara aku tidak, kan?!” Wajah Jeana memerah. “Karir yang sudah kukorbankan demi mengasuh Bima pun tidak sepenting satu jam dari tidurmu yang harus kau korbankan!”

“Ya, Tuhan. Ini lagi? Aku pikir ini sudah berkahir.”

 “Aku akan tidur di kamar tamu sejam saja untuk mengembalikan jiwaku yang sudah kau rampas!”

Malam itu Jeana tidur di kamar tamu meninggalkanku kebingungan mengatasi Bima. 

***

“Kalau kau membiarkan seekor lalat terperangkap di rumah selama tiga puluh hari ia akan mati dengan sendirinya. Aku pernah membaca artikel tentang itu.” Jeana dan pengetahuan baruku tentang fakta seekor lalat di siang hari di hari Minggu. Dua belas hari setelah insiden ia tidur di kamar tamu.

“Kenapa bisa?” Aku pura-pura ingin tahu padahal sebenarnya aku merasa apa pentingnya membahas tentang ini.

“Aku tidak tahu. Mungkin karena bingung harus melakukan apa,” sahutnya datar, “apakah kau sudah membaca tautan itu?”

“Tidak sempat. Kenapa kau tidak ceritakan saja padaku?”

Jeana hanya membisu. Kurang dari sebulan dan dia benar-benar telah berubah dari Jeana yang cantik penuh percaya diri dan ambisius yang selalu mengenakan pakaian dengan selera yang tinggi menjadi Jeana yang ringkih, berkantung mata dan memakai daster dengan noda khas di beberapa tempat. Apa yang sesungguhnya terjadi padanya? Apakah dia kelelahan mengurus rumah dan Bima seorang diri? Aku akan menanyakan pendapatnya tentang menyewa jasa baby sitter besok.

***

Aku pulang agak larut hari itu dan mendapati rumah masih dalam keadaan gelap sementara tangisan Bima menggema.

“Jeana? Kau di mana, Sayang?” Aku menyalakan saklar lampu dan menghampiri box bayi Bima. Tidak ada Jeana di dekatnya. Aku mencari ke dapur dan tidak mendapatinya di sana. Aku mencari ke kamar mandi tapi dia tidak ada. “Jeana!” Aku mulai panik memikirkan sudah berapa jam ia meninggalkan Bima menangis seperti ini.

“Jeana!” Aku berlari ke luar rumah berharap menemukannya sedang bergosip dengan tetangga, namun Jeana bukan tipe ibu-ibu kompleks penggosip. “Je….” Kalimatku terhenti begitu menemukan sosok Jeana sedang meringkuk di sudut pekarangan rumah kami di dekat tempat sampah.

“Jeana, apa yang kau lakukan?” Aku menghampirinya. Ia hanya berbaring saja di sana dengan wajah yang sama lusuh dengan dasternya. “Jeana?”

“Jeana sudah mati.” Ia bergumam. “Jeana sudah mati. Kau mengurungnya di rumah dan dia mati sia-sia seperti seekor lalat.”

***
Aku membuka tautan yang dikirimkan Jeana saat jam makan siang dan mendapati artikel tentang postpartum depression1 di sana. Diagnosa yang disampaikan oleh psikiater padaku tentang keadaan Jeana saat ini. Seolah ada dentuman sangat keras pada ulu hati saat aku menyadari dia sudah mencoba untuk meminta bantuanku sejak lama. 

-END-

Note :
Penyakit serius yang dapat terjadi di awal-awal bulan setelah melahirkan bayi. Dapat membuat seseorang merasa sedih, putus asa dan tidak berarti. Pada kasus khusus seorang wanita akan mengalami depresi berat, bertingkah laku aneh, berhaslusinasi dan membahayakan diri dan bayinya.


#tantangankelasfiksi1

4 comments:

  1. Replies
    1. Makasih Mbak Rai...kamu masih bertapa di gua kah???? πŸ˜‚πŸ˜‚

      Delete
  2. Bagus sekali, mba. πŸ‘πŸ‘πŸ‘

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terimakasih sudah mampir mbak Rina..πŸ˜„

      Delete